CANTUMKAN SUMBERNYA JIKA MENGGUNAKAN GAMBAR ATAU ARTIKEL DARI BLOG INI - HORMATI HAK CIPTA ORANG LAIN.

23 Mei 2019

Resapan Kosa Kata Pada Makanan Khas Palembang

Keragaman makanan yang ada di Indonesia merupakan suatu anugerah tersendiri di mana lebih dari 5.300 makanan tradisional yang ada di Indonesia ini, Sayangnya, hingga kini hanya beberapa saja kuliner Indonesia yang menjadi ciri khas dan dikenal luas di mata internasional seperti rendang atau gado-gado.

Seperti di Palembang sendiri untuk makanan tradisional sendiri dari Pemrintah Kota Palembang secara persis jumlah belum terdata, tapi ada puluhan jenis yang nyaris punah dan jarang di temui seperti mentu, dadar jiwo, gandus, putu embun, bangkit, tapel, pare, lumpang, manam sahmin, kumbu kacang dan puluhan jenis lain. Makanan tersebut terkadang hanya disajikan saat acara formal, walaupun terkadang makanan tradisional ini ada tersaji saat bulan Romadhon di pasar-pasar bedug di kota Palembang.

Sungai musi yang banyak mengandung sumber makanan seperti ikan, dan  dari sinilah mulai banyak tercipta olahan makanan khas Palembang yang berbahan ikan. Pada masa Kesultanan Palembang, pempek disebut kelesan. Kelesan adalah panganan adat di dalam Rumah Limas yang mengandung sifat dan kegunaan tertentu. Dinamakan kelesan juga karena makanan ini dikeles atau tahan disimpan lama," ucap pemerhati sejarah Palembang, KMS H Andi Syarifuddin, dilansir dari KompasTravel pada Rabu (13/2/2019).

Menurut Andi, pempek akhirnya dijual komersial saat zaman kolonial. Uniknya, pempek mulanya dibuat oleh orang asli Palembang. Setelah dibuat pempek dioper ke orang China untuk dijual. Orang China di Palembang saat itu terkenal sebagai ahli dagang. Tercatat pada tahun 1916, pempek mulai dijajakan dengan penjual yang berjalan kaki dari kampung ke kampung, khususnya di kawasan keraton (Masjid Agung dan Masjid Lama Palembang).

Lantas dari mana nama pempek berasal, jika nama aslinya asalah kelesan? Ternyata, nama pempek berasal dari sebutan pembeli kepada penjual kelesan. "Empek adalah sebutan bagi orang China yang menjajakan kelesan. Para pembeli yang biasa membeli kelesan, dan rata-rata anak muda. sering memanggil penjual kelesan dengan kalimat, 'Pek, empek, mampir sini!'," cerita Andi. Akhirnya panggilan pempek lebih populer dari kelesan dan nama pempek bertahan sampai saat ini.

Penamaan makana tradisional seperti pempek, lakso, laksan, tekwan, burgo, celimpungan dan lain sebagainya tidak terkait dengan sejarah yang ada di kota Palembang ini, seperti penamaan "nasi minyak" yang lebih di kenal di kota ini ketimbang dengan nasi kebuli, nasi briyani, atau jenis nasi dari timur tengah lainnya.

Nasi minyak adalah masakan khas Sumatra Selatan berupa olahan nasi yang dimasak dengan minyak samin dan rempah-rempah khas Nusantara dan Timur-Tengah. Sekilas nasi minyak terlihat seperti nasi kebuli, hal ini dikarenakan nasi minyak merupakan masakan Palembang yang memang mendapat pengaruh dari Timur-Tengah tempat nasi kebuli itu berasal. Nasi minyak biasanya disajikan bersama pelbagai pelengkap, seperti daging malbi, sate pentol, ayam goreng, acar ketimun, kismis dan sambal nanas.

Begitu juga ragit yang merupakan asimilasi dari masakan timur tengah dan melayu, makanan seperti jala yang di kasih dengan kuah kari

Begitu juga tekwan yang berdasarkan catatan sejarah, tekwan merupakan hasil akulturasi budaya Palembang dan Tionghoa. Pada saat itu orang-orang Tionghoa sudah mulai banyak mendiami dan menetap di Palembang, yang kemudian mereka memperkenalkan makanan yang berbahan dasar ikan salah satunya sup dari olahan ikan . 

Lalu kemudian diadopsi oleh masyarakat kota Palembang untuk membuat makanan tersebut sesuai dengan cita rasa dan lidah masyarakat kota Palembang. Mereka mendambahkan kuah kaldu serupa dengan sup dan menambahkan bumbu khas daerah tersebut. Mengapa sampai dinamakan Tekwan?, ternyata hal ini masih rancu.

Ada yang bilang tekwan itu “berkotek samo kawan”, artinya makan tekwan sambil ngobrol sama teman-teman (seperti yang dikatakan Wikipedia). Lalu ada juga yang mengatakan , “Take One",  yang berasal dari bahasa Inggris yang artinya ambil satu, yang maksudnya di makan satu-satu jangan sekaligus, sama seperti makanan Laksan yang sebagian ada yang menginformasikan asal mula katanya sebagai "Lukcy-Son" atau anak laki-laki yang beruntung. Hal ini justru di rasa tidak benar di karenakan :
  1. Inggris hanya 3 tahun bercokol di Palembang dan berakhir pada tahun 1816 kekuasaan Inggris di kembalikan kepada hindia Belanda,  sedangkan makanan ini sudah ada melebih dari tahun kekuasaan Inggris.
  2. dan mungkin juga kata-kata ini hanya kata-kata "Guyonan" masyarakat Palembang pada masa kini.
  3. Dasar sejarah yang tidak ada menyatakan atas penamaan tersebut.
Seperti makanan Lakso yang jika di lihat dari susunan kata-katanya merupakan serapan dari bahasa Hokkian yang terdiri dari Lak = 6 dan Sa = 2, yang oleh orang Palembang sendiri di sebut dengan Lakso, begitu juga Lak San atau Bur Go ataupun tekwan sendiri. Sama seperti penyerapan kata-kata pada Bakso, bakmi, fuyunghai, kwetiaw. Meskipun di sini digunakan istilah bahasa Tionghoa, namun saya maksudkan tidak hanya Mandarin, namun juga untuk bahasa-bahasa daerah seperti bahasa Kanton, Hokkien, Hakka, dan lain-lain. Kosakata kuliner Tionghoa juga menunjukkan perjalanan sejarah dan budaya masyarakat Indonesia hidup berdampingan orang-orang Tionghoa. walaupun untuk penelusuran yang mendalam admin sendiri memiliki keterbatasan informasi dan literatur yang bisa menjadi dasar dari tulisan ini.

Sebenarnya masih sangat banyak sejarah yang perluh di ungkap atas berpengaruh dari penyerapan kosa kata-kata asing yang saat ini  ada di Nusantara khususnya kota Palembang ini, tinggal mau atau tidaknya kita demi pelurusan sejarah di kota ini.

Refrensi :
https://entrepreneur.bisnis.com/
https://www.kompasiana.com/
https://travel.kompas.com/
http://poestahadepok.blogspot.com/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...