Langsung ke konten utama

Palembang Banjir .... Itu Sih Dari Dulu

Banjir di Jalan Merdeka Tahun 1932 Tanpak Gedung Shell & Kantor ledeng
Foto : Kitlv.nl
Kota Palembang yang pernah di juluki venesia dari timur karena banyaknya aliran sungai yang mengaliri kota ini, semula Kota Palembang ini memiliki 316 aliran sungai sejak zaman kolonial. Namun, akibat adanya pembangunan pada zaman kolonial yang banyak melakukan penimbunan terhadap sungai yang menyebabkan banyak aliran sungai yang hilang, berdasarkan data pemerintah terhitung 221 aliran sungai yang hilan dan yang tersisa tinggal 95 aliran sungai lagi. 

Banjir di kawasan pasar 16 tahun 1932
Foto : Kitlv.nl
Seperti yang di lakukan pada tahun 1931 setelah selesai pembangunan "watter torren" /kantor walikota saat ini beberapa tahun berikutnya sungai kapuran yang terletak di bagian depan gedung tersebut di lakukan penimbunan untuk memperluas akses ke gedung, begitu juga saat penimbunan sungai tengkuruk pada tahun 1928 untuk membuka areal bisnis di kawasan tengkuruk tersebut, menambah panjang cerita atas hilangnya sungai di Palembang demi pembangunan.

Begitu juga pada zaman moderen ini  seperti  salah satu proyek besar pembasmian rawa-rawa yakni kawasan Jakabaring dan Gandus. Jakabaring terletak di Palembang Ulu, merupakan proyek reklamasi dipelopori Siti Hardijanti Rukmana dan Gubernur Sumsel Ramli Hasan Basri awal 1990-an.

Banjir di salah satu jalan perkampungan penduduk Palembang
Tahun 1932 Foto : kitlv.nl
Selama 10 tahun terakhir, wilayah rawa di Kalidoni dan Kenten juga disasar penimbunan untuk perumahan dan rumah toko. Tidaklah heran, berdasarkan catatan Walhi Sumsel (2014), luas rawa di Palembang sebelumnya sekitar 200 kilometer kini menjadi 50-an kilometer. 

Cerita yang pernah di dapat dari orang tua-tua dahulu mereka pernah bercerita kalau di era 1970-an jika ingin ke kawasan sungai Silaberanti dalam yang lebih di kenal dengan buyut dari sungai sekanak bisa menggunakan perahu ketek, ini bisa di bayangkan lebaran dari sungai tersebut jika perahu ketek bisa melaluinya, berbeda dengan saat ini yang lebar anak sungai setelah di lakukan pengedaman daerah aliran sungai hanya tersisa sekitar 5 sampai 6 meter saja. Apalagi yang belum di lakukan pengedaman masih banyak rumah penduduk yang berdiri justru di aliran anak sungai tersebut.

Kita cukup berbangga dengan pemerintah saat ini sudah mulai ada perhatian dengan aliran sungai yang ada di Palembang diantaranya Sungai Sekanak  yang saat ini sudah menjadi salah satu objek wisata atapun kawasan sungai di 12 ulu yang juga sudah di lakukan penataan dan pembuatan taman, sebagai salah satu antisipasi banjir di kota Palembang begitu juga dengan adanya 26 kolam retensi dan rumah pompa yang sebagian masih dalam proses pengerjaan.  tapi itu semua belum cukup untuk mengatasi biar Palembang bisa terbebas dari banjir perlu dukungan dari berbagai pihak. 

Reffrensi :
https://nasional.tempo.co/
https://www.mongabay.co.id/

Komentar