Langsung ke konten utama

Mudik Naik Kereta Api Tempo Dulu


Penjual asongan berjualan di dalam gerbong kereta Foto : Kaskus
Mudik menggunakan kereta api pada era tahun 1990 s.d tahun 2010 bisa di bilang merupakan masa yang mengharukan, di mana mode transpotasi kereta api ini benar-benar manjadi angkutan masal yang asal-asalan.

Saat itu mudik bagi kami adalah kembali ke daerah orang tua kami di kawasan tebing tinggi, kabupaten Lahat saat ini sudah menjadi kabupaten 4 lawang yang di resmikan sejak tanggal 20 April 2007.

Tradisi mudik sudah ada sebelum zaman Majapahit. Zaman dulu, mudik biasanya dilakukan menjelang musim panen. Kata Mudik, konon berakar dari bahasa Jawa ngoko (Jawa Kasar), mulih dilik yang berarti pulang sebentar. Pada masa sebelum kedatangan Bangsa Eropa, masih sedikit orang-orang Indonesia yang merantau. Hanya beberapa suku seperti Bugis, Makassar atau Padang yang dikenal sebagai perantau pada era sebelum abad XIX. Tak semua perantau akan mudik ke kampung halamannya jelang lebaran. Apalagi di masa prakolonial. 

Ticket Edmonson Kereta Api
Foto : Google
Salah satu moda transportasi yang bisa di pakai ke sana selain mobil adalah menggunakan kereta api, apalagi ibu kami merupakan bagian yang tidak bisa naik mobil untuk jarak jauh karena "mabuk perjalanan" yang selalu menemainya.

Saat itu ayah kami selalu menggunakan kereta api pada malam hari, dengan ticket "edmonson" di tangan kami duduk berhadapan ibu dan ayah duduk di satu dan bangku  kami ber 3 di bangku hadapannya, penumpang mulai sesak memenuhi gerbong kereta.

"Bongkol... Telok Asin (Telor Asin)...Bongkol... Telok Asin (Telor Asin)"  dari ujung rangkaian suaranya mulai terdengan, ini biasanya yang menjadi rengekan kami untuk minta di belikan bongkol dan telur asin.

Penumpang yang tidak kebagian tempat duduk Foto : kaskus
Tak lama berselang penjual kacang rebus pun melintas, di susul lagi dengan tukang koran dan beberapa penjual makanan lainnya, terdengar juga ribut-ribut di sambungan kereta api ternyata ada penumpang yang membawa kambing yang di letakan di dalam toilet kereta.
Penumpang makin padat sebagian penumpang berdiri karena tidak kebagian tempat duduk, ada juga sebagian yang duduk di besi sandaran tangan di kursi penumpang, tidak semuanya yang berdiri adalah laki-laki ada juga ibu-ibu bahkan beserta anaknya tujuan mereka satu yaitu bisa kembali ke daerah kelahiran mereka walaupun dengan modal sedikit nekat yang penting hemat.

Tak lama berselang pengumuman dari stasiun bahwa keberangkatan kereta api sindang marga tujuan Lubuk Linggau akan segera di berangkatkan, para penjual dagangan dan pengamen pada berhamburan turun apalagi saat PPKA mulai mengangkat papan signal yang menandakan kereta akan segera berangkat.

Penumpang yang tidur di lantai kereta Foto : Kaskus
Jarak tempuh kereta api sindang marga saat itu ke stasiun tebing tinggi +/- 8 jam, biasanya pada pukul 3 atau 4 pagi keesokan harinya kami baru tiba di stasiun tebing tinggi dari stasiun kertapati, itupun kalau seandainya tidak ada kendala di perjalanan seperti rel yang anjlok ataupun kendala di mesin kereta.

Dengan jarak tempuh yang lumayan jauh membuat para penumpang yang tidak mendapatkan ticket atau penumpang "Tembak" ini pun mencari cara untuk beristirahat mereka tidur di lantai kereta tanpa memperdulikan penumpang yang lain, terkadang juga ada yang tidur di tempat injakan kaki penumpang sehingga membuat kesal penumpang yang duduk karena kakinya tidak bisa turun ke lantai.

Anak yang tidur di bawah kursi penumpang
Foto : kaskus
Saat singgah di stasiun Prabumulih mulai para pedagang berebut untuk masuk kedalam gerbong untuk menawarkan dagangannya. 

 "angin surgo..... angin surgo.... angin surgo " (baca : angin surga) , jualan apa lagi ini batin ku di dalam hati, ternyata setelah lewat adalah penjual kipas dari bambu seperti kipas untuk tukang sate, termasuk penjual karduspun ada untuk menjajakan kardusnya bagi penumpang yang tidak memiliki tempat duduk. 

Pengamen di dalam kereta Foto : Kaskus
Suasana di dalam kereta tidak ubahnya berada di tengah pasar ikan dari aroma yang beraneka bau, kesemerawutan penumpang yang terjadi, pedagang yang sibuk, termasuk pencopet yang berbaur menjadi pura-pura penumpang membuat kita harus extra waspada di dalam gerbong kereta. 

Saat itu kereta api merupakan angkutan masal yang tidak nyaman, sering terjadi penjualan kursi yang sama pada 2 orang yang berbeda sehingga menimbulkan ribut sampai perkelahian di atas kereta yang "notabene" merupakan kesalahan petugas penjualan ticket yang menerbitkan ticket tanpa koordinasi, adanya kipas angin yang sudah tidak berfungsi sehingga menyebabkan hawa di gerbong tersebut lumayan panas atau adanya bagasi penumpang  yang hilang saat mau turun ini juga menjadikan tingkat kenyamanan penggunaak kereta terutama bagi keluarga terus menurun. 

Satu lagi kendala di kereta saat itu yaitu jika mau ke toliet sepert masuk ke kancah perang, dengan bau yang semerbak dari berbagai aroma urine, sampai "ampas  manusia" yang masih ada karena tidak ada air untuk menyiram, Tau sendiri bagai mana menahan pipis atau  beol jika sampai 8 jam perjalanan.

Untunglah management kereta api saat ini sudah "mereformasi" total sistem angkutan penumpang ini saat di bawah kepemimpinan Bapak Ignasius Jonan, dari tahun 2009 .s.d tahun 2012 tangan dingin pak Jonan berhasil mengubah wajah perkereta apian Indonesia menjadi lebih "customer oriented" tanpa terlalu banyak prosedur, tanpa calo, tanpa adanya pedagang asongan, tanpa adanya orang yang tidur di lantai kereta, tanpa tukang copet.

Hal ini kami buktikan saat penulis berangkat bersama orang tua saat mudik kembali ke Tebing Tinggi, 4 lawang karena adanya keluarga yang meninggal pada Desember 2017 yang lalu, Setiap Gerbong di lengkapi dengan pendingin Udara, colokan listrik untuk melakukan "charge" terhadap Hp atau tablet, toilet pun sudah jauh kebersihannya di banding yang dulu, yang terutama saat ini tidak ada lagi penumpang yang tidak kebagian tempat duduk, terutama sejak di berlakukannya reservasi online jadi jumlah penumpang harus sama dengan jumlah kursi. Sehingga tingkat keamanan dan kenyamanan penumpang pun bertambah, jarak tempu stasiun kertapati ke stasiun Tebing Tinggi saat ini bisa di tempuh dalam waktu 6 jam 15 menit, lumayan menghemat waktu kan.

Walaupun seperti itu masih ada yang sama di dunia kereta api ini dari dulu ataupun sekarang saat pemeriksaan karcis oleh kondektur pasti membawa alat pembolong karcis (control nippers) yang selalu sama, termasuk saat menggunakan kereta api ekonomi merak rangkas bitung pun begitu, tapi begitulah keseruannya bunyi "klick" pada pembolong karcis tersebut pertanda kalau kereta ini masih terus berkomitment untuk berbenah.

Selamat mudik 1440 H / 2019 M
Majulah terus Kereta Api Indonesia


"Di dedikasikan untuk para pejuang kereta api yang tidak bisa libur lebaran saat penumpang libur mudik ke kampung halaman" 

Komentar