CANTUMKAN SUMBERNYA JIKA MENGGUNAKAN GAMBAR ATAU ARTIKEL DARI BLOG INI - HORMATI HAK CIPTA ORANG LAIN.

31 Mei 2019

Tradisi Ketupat Palembang

Foto : Google

Ketupat makanan atau hidangan berbahan dasar beras yang dibungkus dengan pembungkus terbuat dari anyaman daun kelapa muda (janur), atau kadang-kadang dari daun nipa ataupun daun yang lainnya. ( Wikipedia)

Di Palembang sendiri pada saat Lebaran Idul Fitri & Idul Adha banyak mulai di temui masakan ketupat, biasanya ketupat yang di masak 2 hari atau 1 hari sebelum lebaran  juga dalam jumlah yang tidak sedikit dengan tujuan ketupat dan lauk pauknya ini akan di bagikan ke keluarga terdekat dan juga di tetangga sekitar rumah kita pada malam hari raya dengan menggunakan rantang atau sangkek yang istlah di Palembang adalah "Nyicipi".

Sama seperti di daerah lain di Palembang ketupat juga menjadi makanan wajib selain pempek yang di sajikan dengan opor ayam, rendang daging sapi atau malbi di mana makanan ini bukan hanya untuk sajian keluarga tetapi juga untuk para tamu yang datang berkunjung ke kediaman kita.

Warga yang tengah menjemur ketupat di Kampung Yu Cing. Foto: abp/Urban Id.
Salah satu sentra tempat pembuatan ketupat yang ada di Palembang adalah di kawasan 3 Ulu, tepatnya lorong Saudagar Yu Ching yang berada di Kecamatan Seberang Ulu I Palembang, dikenal sebagai pusat kerajinan daun nipah. Hampir sebagian warga yang tinggal di kawasan ini memanfaatkan daun nipah sebagai mata pencahariannya, di mana pada saat bulan Romadhon ini banyak pengerajin daun nipah di kampung ini membuat juga ketupat selain kerajian dari daun nipah lainya.

Walaupun saat ini di Palembang ada juga ketupat yang di buat dari daun pandan yang banyak di minati masyarakat karena aroma harum nasi yang khas karena bungkus daun pandan  tersebut, walaupun  sedikit mahal yaitu berkisar di 10 ribu - 15 ribu per ikat isi 10 buah tergantung isi dan besar kecil ukuran.

Foto : Google
Ternyata setelah di telusuri berdasarkan sejarah tradisi ketupat diperkirakan berasal saat Islam masuk ke tanah Jawa. Dalam sejarah, Sunan Kalijaga adalah orang yang pertama kali memperkenalkannya pada masyarakat Jawa.

Beliau membudayakan dua kali Bakda, yaitu Bakda Lebaran dan Bakda Kupat. Bakda Kupat dimulai seminggu sesudah Lebaran.

Pada hari yang disebut Bakda Kupat tersebut, di tanah Jawa waktu itu hampir setiap rumah terlihat menganyam ketupat dari daun kelapa muda. Setelah sudah selesai dimasak, kupat tersebut diantarkan ke kerabat yang lebih tua, menjadi sebuah lambang kebersamaan.

Ketupat sendiri menurut para ahli memiliki beberapa arti, diantaranya adalah mencerminkan berbagai macam kesalahan manusia, dilihat dari rumitnya anyaman bungkus ketupat. Yang kedua, mencerminkan kebersihan dan kesucian hati setelah mohon ampun dari segala kesalahan, dilihat dari warna putih ketupat jika dibelah dua. Yang ketiga mencerminkan kesempurnaan, jika dilihat dari bentuk ketupat. Semua itu dihubungkan dengan kemenangan umat Muslim setelah sebulan lamanya berpuasa dan akhirnya menginjak hari yang fitri.

30 Mei 2019

Palembangs Tailleurs


Foto lawas Palembangs Tailleurs ( Penjahit Palembang) yang lokasi dan tahun pengambilannya tidak di ketahui, yang banyak beredar di dunia maya masih belum di ketahui lokasinya apakah foto ini di ambil di kota Palembang atau di daerah lainnya, karena ada yang memberi keterangan bahwa foto ini berlokasi di kawasan 10 ulu Palembang dengan alasan karena bentuk atap bangunan yang menyerupai atap rumah limas. Sebagian lagi beropini kalau foto ini di ambil di kawasan Bandung karena dulu di sana ada juga Palembangs Tailleurs ( Penjahit Palembang) tapi mereka juga di penuhi keraguan, semoga ada yang bisa mengungkap atas sejarah foto ini.



29 Mei 2019

Mudik Naik Kereta Api Tempo Dulu


Penjual asongan berjualan di dalam gerbong kereta Foto : Kaskus
Mudik menggunakan kereta api pada era tahun 1990 s.d tahun 2010 bisa di bilang merupakan masa yang mengharukan, di mana mode transpotasi kereta api ini benar-benar manjadi angkutan masal yang asal-asalan.

Saat itu mudik bagi kami adalah kembali ke daerah orang tua kami di kawasan tebing tinggi, kabupaten Lahat saat ini sudah menjadi kabupaten 4 lawang yang di resmikan sejak tanggal 20 April 2007.

Tradisi mudik sudah ada sebelum zaman Majapahit. Zaman dulu, mudik biasanya dilakukan menjelang musim panen. Kata Mudik, konon berakar dari bahasa Jawa ngoko (Jawa Kasar), mulih dilik yang berarti pulang sebentar. Pada masa sebelum kedatangan Bangsa Eropa, masih sedikit orang-orang Indonesia yang merantau. Hanya beberapa suku seperti Bugis, Makassar atau Padang yang dikenal sebagai perantau pada era sebelum abad XIX. Tak semua perantau akan mudik ke kampung halamannya jelang lebaran. Apalagi di masa prakolonial. 

Ticket Edmonson Kereta Api
Foto : Google
Salah satu moda transportasi yang bisa di pakai ke sana selain mobil adalah menggunakan kereta api, apalagi ibu kami merupakan bagian yang tidak bisa naik mobil untuk jarak jauh karena "mabuk perjalanan" yang selalu menemainya.

Saat itu ayah kami selalu menggunakan kereta api pada malam hari, dengan ticket "edmonson" di tangan kami duduk berhadapan ibu dan ayah duduk di satu dan bangku  kami ber 3 di bangku hadapannya, penumpang mulai sesak memenuhi gerbong kereta.

"Bongkol... Telok Asin (Telor Asin)...Bongkol... Telok Asin (Telor Asin)"  dari ujung rangkaian suaranya mulai terdengan, ini biasanya yang menjadi rengekan kami untuk minta di belikan bongkol dan telur asin.

Penumpang yang tidak kebagian tempat duduk Foto : kaskus
Tak lama berselang penjual kacang rebus pun melintas, di susul lagi dengan tukang koran dan beberapa penjual makanan lainnya, terdengar juga ribut-ribut di sambungan kereta api ternyata ada penumpang yang membawa kambing yang di letakan di dalam toilet kereta.
Penumpang makin padat sebagian penumpang berdiri karena tidak kebagian tempat duduk, ada juga sebagian yang duduk di besi sandaran tangan di kursi penumpang, tidak semuanya yang berdiri adalah laki-laki ada juga ibu-ibu bahkan beserta anaknya tujuan mereka satu yaitu bisa kembali ke daerah kelahiran mereka walaupun dengan modal sedikit nekat yang penting hemat.

Tak lama berselang pengumuman dari stasiun bahwa keberangkatan kereta api sindang marga tujuan Lubuk Linggau akan segera di berangkatkan, para penjual dagangan dan pengamen pada berhamburan turun apalagi saat PPKA mulai mengangkat papan signal yang menandakan kereta akan segera berangkat.

Penumpang yang tidur di lantai kereta Foto : Kaskus
Jarak tempuh kereta api sindang marga saat itu ke stasiun tebing tinggi +/- 8 jam, biasanya pada pukul 3 atau 4 pagi keesokan harinya kami baru tiba di stasiun tebing tinggi dari stasiun kertapati, itupun kalau seandainya tidak ada kendala di perjalanan seperti rel yang anjlok ataupun kendala di mesin kereta.

Dengan jarak tempuh yang lumayan jauh membuat para penumpang yang tidak mendapatkan ticket atau penumpang "Tembak" ini pun mencari cara untuk beristirahat mereka tidur di lantai kereta tanpa memperdulikan penumpang yang lain, terkadang juga ada yang tidur di tempat injakan kaki penumpang sehingga membuat kesal penumpang yang duduk karena kakinya tidak bisa turun ke lantai.

Anak yang tidur di bawah kursi penumpang
Foto : kaskus
Saat singgah di stasiun Prabumulih mulai para pedagang berebut untuk masuk kedalam gerbong untuk menawarkan dagangannya. 

 "angin surgo..... angin surgo.... angin surgo " (baca : angin surga) , jualan apa lagi ini batin ku di dalam hati, ternyata setelah lewat adalah penjual kipas dari bambu seperti kipas untuk tukang sate, termasuk penjual karduspun ada untuk menjajakan kardusnya bagi penumpang yang tidak memiliki tempat duduk. 

Pengamen di dalam kereta Foto : Kaskus
Suasana di dalam kereta tidak ubahnya berada di tengah pasar ikan dari aroma yang beraneka bau, kesemerawutan penumpang yang terjadi, pedagang yang sibuk, termasuk pencopet yang berbaur menjadi pura-pura penumpang membuat kita harus extra waspada di dalam gerbong kereta. 

Saat itu kereta api merupakan angkutan masal yang tidak nyaman, sering terjadi penjualan kursi yang sama pada 2 orang yang berbeda sehingga menimbulkan ribut sampai perkelahian di atas kereta yang "notabene" merupakan kesalahan petugas penjualan ticket yang menerbitkan ticket tanpa koordinasi, adanya kipas angin yang sudah tidak berfungsi sehingga menyebabkan hawa di gerbong tersebut lumayan panas atau adanya bagasi penumpang  yang hilang saat mau turun ini juga menjadikan tingkat kenyamanan penggunaak kereta terutama bagi keluarga terus menurun. 

Satu lagi kendala di kereta saat itu yaitu jika mau ke toliet sepert masuk ke kancah perang, dengan bau yang semerbak dari berbagai aroma urine, sampai "ampas  manusia" yang masih ada karena tidak ada air untuk menyiram, Tau sendiri bagai mana menahan pipis atau  beol jika sampai 8 jam perjalanan.

Untunglah management kereta api saat ini sudah "mereformasi" total sistem angkutan penumpang ini saat di bawah kepemimpinan Bapak Ignasius Jonan, dari tahun 2009 .s.d tahun 2012 tangan dingin pak Jonan berhasil mengubah wajah perkereta apian Indonesia menjadi lebih "customer oriented" tanpa terlalu banyak prosedur, tanpa calo, tanpa adanya pedagang asongan, tanpa adanya orang yang tidur di lantai kereta, tanpa tukang copet.

Hal ini kami buktikan saat penulis berangkat bersama orang tua saat mudik kembali ke Tebing Tinggi, 4 lawang karena adanya keluarga yang meninggal pada Desember 2017 yang lalu, Setiap Gerbong di lengkapi dengan pendingin Udara, colokan listrik untuk melakukan "charge" terhadap Hp atau tablet, toilet pun sudah jauh kebersihannya di banding yang dulu, yang terutama saat ini tidak ada lagi penumpang yang tidak kebagian tempat duduk, terutama sejak di berlakukannya reservasi online jadi jumlah penumpang harus sama dengan jumlah kursi. Sehingga tingkat keamanan dan kenyamanan penumpang pun bertambah, jarak tempu stasiun kertapati ke stasiun Tebing Tinggi saat ini bisa di tempuh dalam waktu 6 jam 15 menit, lumayan menghemat waktu kan.

Walaupun seperti itu masih ada yang sama di dunia kereta api ini dari dulu ataupun sekarang saat pemeriksaan karcis oleh kondektur pasti membawa alat pembolong karcis (control nippers) yang selalu sama, termasuk saat menggunakan kereta api ekonomi merak rangkas bitung pun begitu, tapi begitulah keseruannya bunyi "klick" pada pembolong karcis tersebut pertanda kalau kereta ini masih terus berkomitment untuk berbenah.

Selamat mudik 1440 H / 2019 M
Majulah terus Kereta Api Indonesia


"Di dedikasikan untuk para pejuang kereta api yang tidak bisa libur lebaran saat penumpang libur mudik ke kampung halaman" 

28 Mei 2019

Percetakan Ebeling Tahun 1936 di Palembang

Potret kelompok pegawai di depan Gedung majalah Berita Palembangsch dan Toko Buku Ebeling, Palembang 1936
Foto : Troppen Museum
Setelah sebelumnya di bahas masalah percetakan meroe yang merupakan usaha salah satu percetakan yang ada di Palembang yang di dirikan oleh Kiagus Mohammad Adjir di era tahun 1920-an yang juga berupakan direktur Perusahaan Bumi Putra yang menerbitkan koran Pertja Selatan.

Pada masa selanjutnya percetakan berkembang pesat di Palembang Usaha percetakan tumbuh subur yang dijalankan baik oleh orang Melayu maupun para peranakan Arab seperti toko percetakan sayid Ali Al-masawa di kawasan pertokoan pasar 16 yang juga merupakan percetakan yang cukup di kenal pada masa itu.

Pada tahun 1920-an juga, warga Belanda ikut mendirikan percetakan dan penerbitan di Palembang. Percetakan itu bernama KA Ebeling dan berkantor di jalan tengkuruk, jalan yang kini bernama jalan Sudirman, di mana pada saat itu banyak dari bumi putra yang menjadi pengarang dan novel, sehingga novel tersebut menjadi "Booming" pada saat itu walapun akhirnya di larang oleh pemerintah kolonial Belanda karena tulisannya di anggap sebagai pencetus pergerakan di masyarakat.

Di rangkum dari berbagai sumber

26 Mei 2019

Palembang Banjir .... Itu Sih Dari Dulu

Banjir di Jalan Merdeka Tahun 1932 Tanpak Gedung Shell & Kantor ledeng
Foto : Kitlv.nl
Kota Palembang yang pernah di juluki venesia dari timur karena banyaknya aliran sungai yang mengaliri kota ini, semula Kota Palembang ini memiliki 316 aliran sungai sejak zaman kolonial. Namun, akibat adanya pembangunan pada zaman kolonial yang banyak melakukan penimbunan terhadap sungai yang menyebabkan banyak aliran sungai yang hilang, berdasarkan data pemerintah terhitung 221 aliran sungai yang hilan dan yang tersisa tinggal 95 aliran sungai lagi. 

Banjir di kawasan pasar 16 tahun 1932
Foto : Kitlv.nl
Seperti yang di lakukan pada tahun 1931 setelah selesai pembangunan "watter torren" /kantor walikota saat ini beberapa tahun berikutnya sungai kapuran yang terletak di bagian depan gedung tersebut di lakukan penimbunan untuk memperluas akses ke gedung, begitu juga saat penimbunan sungai tengkuruk pada tahun 1928 untuk membuka areal bisnis di kawasan tengkuruk tersebut, menambah panjang cerita atas hilangnya sungai di Palembang demi pembangunan.

Begitu juga pada zaman moderen ini  seperti  salah satu proyek besar pembasmian rawa-rawa yakni kawasan Jakabaring dan Gandus. Jakabaring terletak di Palembang Ulu, merupakan proyek reklamasi dipelopori Siti Hardijanti Rukmana dan Gubernur Sumsel Ramli Hasan Basri awal 1990-an.

Banjir di salah satu jalan perkampungan penduduk Palembang
Tahun 1932 Foto : kitlv.nl
Selama 10 tahun terakhir, wilayah rawa di Kalidoni dan Kenten juga disasar penimbunan untuk perumahan dan rumah toko. Tidaklah heran, berdasarkan catatan Walhi Sumsel (2014), luas rawa di Palembang sebelumnya sekitar 200 kilometer kini menjadi 50-an kilometer. 

Cerita yang pernah di dapat dari orang tua-tua dahulu mereka pernah bercerita kalau di era 1970-an jika ingin ke kawasan sungai Silaberanti dalam yang lebih di kenal dengan buyut dari sungai sekanak bisa menggunakan perahu ketek, ini bisa di bayangkan lebaran dari sungai tersebut jika perahu ketek bisa melaluinya, berbeda dengan saat ini yang lebar anak sungai setelah di lakukan pengedaman daerah aliran sungai hanya tersisa sekitar 5 sampai 6 meter saja. Apalagi yang belum di lakukan pengedaman masih banyak rumah penduduk yang berdiri justru di aliran anak sungai tersebut.

Kita cukup berbangga dengan pemerintah saat ini sudah mulai ada perhatian dengan aliran sungai yang ada di Palembang diantaranya Sungai Sekanak  yang saat ini sudah menjadi salah satu objek wisata atapun kawasan sungai di 12 ulu yang juga sudah di lakukan penataan dan pembuatan taman, sebagai salah satu antisipasi banjir di kota Palembang begitu juga dengan adanya 26 kolam retensi dan rumah pompa yang sebagian masih dalam proses pengerjaan.  tapi itu semua belum cukup untuk mengatasi biar Palembang bisa terbebas dari banjir perlu dukungan dari berbagai pihak. 

Reffrensi :
https://nasional.tempo.co/
https://www.mongabay.co.id/

23 Mei 2019

Resapan Kosa Kata Pada Makanan Khas Palembang

Keragaman makanan yang ada di Indonesia merupakan suatu anugerah tersendiri di mana lebih dari 5.300 makanan tradisional yang ada di Indonesia ini, Sayangnya, hingga kini hanya beberapa saja kuliner Indonesia yang menjadi ciri khas dan dikenal luas di mata internasional seperti rendang atau gado-gado.

Seperti di Palembang sendiri untuk makanan tradisional sendiri dari Pemrintah Kota Palembang secara persis jumlah belum terdata, tapi ada puluhan jenis yang nyaris punah dan jarang di temui seperti mentu, dadar jiwo, gandus, putu embun, bangkit, tapel, pare, lumpang, manam sahmin, kumbu kacang dan puluhan jenis lain. Makanan tersebut terkadang hanya disajikan saat acara formal, walaupun terkadang makanan tradisional ini ada tersaji saat bulan Romadhon di pasar-pasar bedug di kota Palembang.

Sungai musi yang banyak mengandung sumber makanan seperti ikan, dan  dari sinilah mulai banyak tercipta olahan makanan khas Palembang yang berbahan ikan. Pada masa Kesultanan Palembang, pempek disebut kelesan. Kelesan adalah panganan adat di dalam Rumah Limas yang mengandung sifat dan kegunaan tertentu. Dinamakan kelesan juga karena makanan ini dikeles atau tahan disimpan lama," ucap pemerhati sejarah Palembang, KMS H Andi Syarifuddin, dilansir dari KompasTravel pada Rabu (13/2/2019).

Menurut Andi, pempek akhirnya dijual komersial saat zaman kolonial. Uniknya, pempek mulanya dibuat oleh orang asli Palembang. Setelah dibuat pempek dioper ke orang China untuk dijual. Orang China di Palembang saat itu terkenal sebagai ahli dagang. Tercatat pada tahun 1916, pempek mulai dijajakan dengan penjual yang berjalan kaki dari kampung ke kampung, khususnya di kawasan keraton (Masjid Agung dan Masjid Lama Palembang).

Lantas dari mana nama pempek berasal, jika nama aslinya asalah kelesan? Ternyata, nama pempek berasal dari sebutan pembeli kepada penjual kelesan. "Empek adalah sebutan bagi orang China yang menjajakan kelesan. Para pembeli yang biasa membeli kelesan, dan rata-rata anak muda. sering memanggil penjual kelesan dengan kalimat, 'Pek, empek, mampir sini!'," cerita Andi. Akhirnya panggilan pempek lebih populer dari kelesan dan nama pempek bertahan sampai saat ini.

Penamaan makana tradisional seperti pempek, lakso, laksan, tekwan, burgo, celimpungan dan lain sebagainya tidak terkait dengan sejarah yang ada di kota Palembang ini, seperti penamaan "nasi minyak" yang lebih di kenal di kota ini ketimbang dengan nasi kebuli, nasi briyani, atau jenis nasi dari timur tengah lainnya.

Nasi minyak adalah masakan khas Sumatra Selatan berupa olahan nasi yang dimasak dengan minyak samin dan rempah-rempah khas Nusantara dan Timur-Tengah. Sekilas nasi minyak terlihat seperti nasi kebuli, hal ini dikarenakan nasi minyak merupakan masakan Palembang yang memang mendapat pengaruh dari Timur-Tengah tempat nasi kebuli itu berasal. Nasi minyak biasanya disajikan bersama pelbagai pelengkap, seperti daging malbi, sate pentol, ayam goreng, acar ketimun, kismis dan sambal nanas.

Begitu juga ragit yang merupakan asimilasi dari masakan timur tengah dan melayu, makanan seperti jala yang di kasih dengan kuah kari

Begitu juga tekwan yang berdasarkan catatan sejarah, tekwan merupakan hasil akulturasi budaya Palembang dan Tionghoa. Pada saat itu orang-orang Tionghoa sudah mulai banyak mendiami dan menetap di Palembang, yang kemudian mereka memperkenalkan makanan yang berbahan dasar ikan salah satunya sup dari olahan ikan . 

Lalu kemudian diadopsi oleh masyarakat kota Palembang untuk membuat makanan tersebut sesuai dengan cita rasa dan lidah masyarakat kota Palembang. Mereka mendambahkan kuah kaldu serupa dengan sup dan menambahkan bumbu khas daerah tersebut. Mengapa sampai dinamakan Tekwan?, ternyata hal ini masih rancu.

Ada yang bilang tekwan itu “berkotek samo kawan”, artinya makan tekwan sambil ngobrol sama teman-teman (seperti yang dikatakan Wikipedia). Lalu ada juga yang mengatakan , “Take One",  yang berasal dari bahasa Inggris yang artinya ambil satu, yang maksudnya di makan satu-satu jangan sekaligus, sama seperti makanan Laksan yang sebagian ada yang menginformasikan asal mula katanya sebagai "Lukcy-Son" atau anak laki-laki yang beruntung. Hal ini justru di rasa tidak benar di karenakan :
  1. Inggris hanya 3 tahun bercokol di Palembang dan berakhir pada tahun 1816 kekuasaan Inggris di kembalikan kepada hindia Belanda,  sedangkan makanan ini sudah ada melebih dari tahun kekuasaan Inggris.
  2. dan mungkin juga kata-kata ini hanya kata-kata "Guyonan" masyarakat Palembang pada masa kini.
  3. Dasar sejarah yang tidak ada menyatakan atas penamaan tersebut.
Seperti makanan Lakso yang jika di lihat dari susunan kata-katanya merupakan serapan dari bahasa Hokkian yang terdiri dari Lak = 6 dan Sa = 2, yang oleh orang Palembang sendiri di sebut dengan Lakso, begitu juga Lak San atau Bur Go ataupun tekwan sendiri. Sama seperti penyerapan kata-kata pada Bakso, bakmi, fuyunghai, kwetiaw. Meskipun di sini digunakan istilah bahasa Tionghoa, namun saya maksudkan tidak hanya Mandarin, namun juga untuk bahasa-bahasa daerah seperti bahasa Kanton, Hokkien, Hakka, dan lain-lain. Kosakata kuliner Tionghoa juga menunjukkan perjalanan sejarah dan budaya masyarakat Indonesia hidup berdampingan orang-orang Tionghoa. walaupun untuk penelusuran yang mendalam admin sendiri memiliki keterbatasan informasi dan literatur yang bisa menjadi dasar dari tulisan ini.

Sebenarnya masih sangat banyak sejarah yang perluh di ungkap atas berpengaruh dari penyerapan kosa kata-kata asing yang saat ini  ada di Nusantara khususnya kota Palembang ini, tinggal mau atau tidaknya kita demi pelurusan sejarah di kota ini.

Refrensi :
https://entrepreneur.bisnis.com/
https://www.kompasiana.com/
https://travel.kompas.com/
http://poestahadepok.blogspot.com/

22 Mei 2019

Jejak Jembatan "Lengkung" Belanda di Sumatera Selatan

Jembatan Ogan Kertapati Palembang
Jembatan ogan atau jembatan kertapati yang menjadi salah satu ikon kota Palembang sebagai benda bersejarah peninggalan Belanda, dimana memiliki rancangan yang unik dan khas, seperti di Sumatera Selatan Sendiri jembatan yang mirip dengan jembatan ogan ini ada di beberapa tempat dengan konstruksi dan bentuk yang sama seperti di Baturaja, OKU Induk yang terkenal dengan Jembatan ogannya dan di kawasan Lais, Sekayu jembatan yang membentang di atas sungai batanghari leko yang sering di sebut dengan jembatan Teluk Rotterdam.

Untuk kelancaran transportasi ke berbagai daerah di Sumatera Selatan saat itu pihak Belanda membangun jembatan-jembatan seperti jembatan yang tersebut di atas. Yang membedakan dengan jembatan ogan yang ada di kertapati adalah jumlah lengkungannya ada 2 buah sedangkan yang di Sekayu ataupun Baturaja lengkungannya hanya ada 1 buah.

Jembatan Ogan Baturaja

Jembatan yang membentang di Sungai Ogan Baturaja Oku Induk
Jembatan Ogan Baturaja ini menghubungkan wilayah yang ada disekitar Pasar Lama kearah wilayah sekitar Taman Kota Baturaja. Kehadiran jembatan Ogan I ini memang sudah ada pada Zaman Belanda, jadi memang sudah cukup tua namun masih cukup kokoh. Dahulu lalu lintas kendaraan di jembatan ini bisa dari dua arah yang berlawanan, tetapi sekarang ini tidak bisa lagi, hanya bisa dilalui dari arah Pasar Atas.

Karena dahulunya hanya jembatan Ogan Baturaja inilah yang menjadi akses jalan darat untuk menyeberang. Jalan yang ada diatas Jembatan Ogan ini termasuk Jalan Jenderal Ahmad Yani.Perubahan warna pada cat Jembatan ini sudah beberapa kali dilakukan renovasi dan perawatan dan terakhir kali warna yang di poles seperti gambar yang dimuat diatas,yaitu berwarna merah.

Jembatan Teluk I 
Jembatan Teluk Sekayu
Jembatan Teluk I atau yang disebut Jembatan Teluk Rotterdam merupakan jembatan yang melintasi sungai Batang Hari Leko, terletak di desa Teluk Kecamatan Lais Musi Banyuasin tepatnya tidak beberapa jauh dari jembatan Teluk II.

Entah kenapa jembatan di sekayu ini di namakan jembatan teluk rotterdam apakah peralatan yang dulu di pakai saat membangun menggunakan peralatan dari Rotterdam, Belanda atau juga walau secara bentuk jembatan teluk I mirip dengan motif jembatan yang ada di Rotterdam Belanda yaitu jembatan Van Brienenoord Bridge yang di resmikan tahun 1990 lebih muda di bandingkan dengan jembatan teluk I yang di bangun di era tahun 1930-an.

Jembatan yang panjangnya sekitar 140 Meter dengan lebar 4 Meter tersebut sejak sekitar tahun 2007 sudah tidak digunakan sebagai jembatan utama karena jembatan pengganti telah selesai dibangun. Jembatan yang sangat bersejarah ini kondisinya sudah sangat memprihatinkan karena sudah tidak dilakukan perawatan, pada bagian tengah jembatan sudah banyak lobang-lobang akibat endapan air, padahal jembatan ini merupakan salah satu tujuan wisata yang ada di Kecamatan Lais Musi Banyuasin. Hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya warga khususnya para pemuda-pemudi yang berkumpul di jembatan tersebut disaat liburan sekolah ataupun akhir pekan.

Hal Yang Unik Dari Jembatan Ini

Para remaja duduk di atas jembatan ogan kertapati

Sore hari di Jembatan Teluk Foto : Facebook
Jembatan yang rata-rata memiliki ketinggian sekitar 10 meter dari aspal dasar jembatan atau sekitar 30 meter dari sungai. menjadi unik karena banyak remaja yang menaiki lengkungan jembatan tersebut, baik itu di jembatan ogan Kertapati, jembatan teluk Sekayu ataupun jembatan ogan di Baturaja. Terutama di sore hari pada bulan Puasa sambil menunggu berbuka puasa.

Remaja Yang menaiki Jembatan
Ogan Baturaja
Foto : pasangmata.com
Mungkin karena di anggap tidak terlalu tinggi menjadikan tempat ini sebagai uji nyali, untuk naik ke atas lengkungan jembatan tersebut di butuhkan nyali yang cukup besar, karena kalau mental yang kurang berani bisa-bisa di setengah jalan kaki sudah tidak bisa bergerak dan yang celakanya lagi kalau terjatuh ke aspal atau masuk ke dalam sungai. Tetapi selama ini belum pernah terdengan kejadian anak remaja yang terjatuh dari atas lengkungan jembatan ini, baik yang di liput media massa atau elektronik.

Refrensi :
http://anangtamhar.blogspot.com/
https://situsbudaya.id/
Google

18 Mei 2019

Banyu Ledeng Palembang

Pengerjaan Pengolahan Air Minum 1925 Foto : Troppen Museum
Kantor Pelayanan PDAM 3 Ilir saat ini yang lebih di kenal
dengan nama penyaringan 
Perusahaan Air Bersih Kota Palembang di dirikan pada tahun 1929 oleh pemerintah Kolonial Belanda yang berlokasi di 3 ilir Palembang dengan nama Palembang Water Leading. Pendirian instalasi I selesai pada tahun 1933, setelah Indonesia merdeka perusahaan diambil alih oleh kota madya Palembang Seksi Teknik Air Bersih Dinas Pekerjaan Umum kota madya Palembang. Berdasarkan surat keputusan Walikota Madya Palembang pada tanggal 21 Agustus 1963 perusahaan Air Bersih tersebut menjadi perusahaan Air Bersih yang melaksanakan produksi dan administrasi. Pada tahun 1976 statusnya berubah menjadi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Musi berdasarkan Perda Kota madya Daerah Tingkat II Palembang Nomor: 1/Perda/Huk/1976 tanggal 3 April 1976 dan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sumatera Selatan Nomor: 20/KPTS/IV/1976 tanggal 11 Juni 1976. (Sumber : tirtamusi.com)

Tidak berbeda dengan pembangunan menara air yang ada di pusat kota atau yang lebih di kenal dengan nama wattertoren/ kantor leideng, Bangunan Kantor Ledeng sendiri memiliki beberapa tingkatan dimana tingkat pertama sejak jaman Belanda telah digunakan sebagai pusat pemerintahan Gemeente Palembang dan tingkat paling atas digunakan sebagai tempat penampungan air bersih atau ledeng untuk semua warga yang tinggal di Palembang saat itu terutama warga Belanda yang tinggal di sekitar Jalan Tasik saat ini dan Dempo yang lokasinya memang tak jauh dari menara Kantor Ledeng.
Secara spesifik Menara Air (Kantor Ledeng) memiliki tinggi 35 m dengan kapasitas air yang bisa ditampung mencapai 1.200 (kubik) dan luas menara yang terletak di jalan Merdeka ini adalah 250. Dengan mengandalkan gravitasi pendistribusian air bersih bisa menjangkau permukiman kolonial saat itu.

Perlahan, istilah waterleiding yang masih dipakai pada zaman Sukarnoc-pun berganti sebagai PAM (singkatan dari Perusahaan Air Minum).  Namun, istilah "air ledeng" masih ada dan bersanding dengan PAM. Orang-orang di Palembang sendiri menyebutnya sebagai  banyu ledeng (air ledeng). 

Bak Pengolahan Air Minum 1925 Foto : Troppen Museum

17 Mei 2019

De Javasche Bank Palembang

Kantor De Javasche Bank Palembang 1915-1925 Foto : Troppen Museum

Pegawai kantor De Javasche Bank Palembang 1915-1925
Foto : Troppen Museum
Kantor Bank Indonesia Palembang didirikan tanggal 20 September 1909 merupakan kantor cabang (Agentschap) ke-16 dari De Javasche Bank. Gagasan Pendirian timbul ketika Direjtur E.A. Zeilinga Azn melakukan perjalanan dinas ke kantor cabang Padang.

Ketika memasuki Kota Palembang, E.A.Zeilinga Azn melihat kenyataan bahwa kota ini merupakan kota yang ramai dengan aktivitas perdagangan serta kekayaan hasil tambang berupa minyak bumi. Sampai di Batavia hal tersebut dilaporkan kepada Direksi De Javasche Bank dan kemudian diputuskan membuka dengan resmi Kantor De Javasche Bank tanggal 20 September 1909. Pemimpin pertama adalah B.J Schadd (1909-1910).

Tulisan : Bi.go.id

15 Mei 2019

SMA Xaverius 1 Palembang

SMA Xaverius 1 Palembang era tahun 1951-1970 an
Foto : wongkitogaloe
1951-1961: Masa Kelahiran & Pengukiran Prestasi

Tepatnya tanggal 15 Juli 1951, setelah enam tahun bekerja di Palembang, seorang frater kelahiran Zieuwent, Belanda, L.F.J. Nienhuis mendirikan sekolah yang diberi nama SMA Xaverius. SMU Xaverius 1 yang sekarang memang berawal dari nama SMA Xaverius, didirikan dengan satu tujuan Pro Ecclesia et Patria (Demi Gereja dan Negara/Tanah Air). Proses pendidikan diselenggarakan berdasarkan konsep Pendidikan Nasional Pancasila. Atas hal tersebut SMU Xaverius 1 berasaskan agama Katolik (Tri-Pancawarsa SMA Xaverius, 1966:27)“Pada waktu itu terlalu banyak sekolah yang mesti diurus oleh Yayasan Xaverius, sedangkan tenaga tidak cukup. Syukurlah dalam banyak hal kami mendapat bantuan dari Kantor Inspeksi yang waktu itu dipimpin oleh Bapak Reni dan Bapak Sitohang. Dan Karena Fr. Plechelmo dan saya juga mengajar pada SMA dan SGA Negeri, maka ini memungkinkan adanya tenaga-tenaga guru negeri yang mengajar di sekolah kita. Namun tanpa adanya kesediaan Fr. Plechelmo untuk mengajar sebagian besar dari pelajaran Ilmu Pasti, saya kira SMA tidak bisa berdiri pada tahun 1951. Selain itu kami mendapat restu dari Bapak Uskup Mgr. Mekkelholt almarhum dan dari pimpinan para frater kami memperoleh izin untuk memulainya,”kenangL.F.J.Nienhuisalias Frater Monfort (25 Tahun SMA Xaverius 1 Palembang, 1976: 23). “Dalam bulan Juni 1951 ‘Keluarga Xaverius’ digembirakan dengan kelahiran seorang ‘anak’ baru yang diberikan nama kecil ‘SMA’, sedangkan nama keluarga tetap ‘Xaverius’. Walaupun ‘kelahiran’ itu sudah agak lama dicita-citakan dan direncanakan, perisiwa itu terjadi dengan cukup susah payah. Tempat tinggal sebenarnya belum ada, guru tetap belum ada, murid-murid cuma sedikit, bahkan buku-buku pun untuk SMA hampir tidak ada pada waktu itu. Namun demikian ada harapan juga bahwa ‘anak kecil’ itu dapat hidup dan berkembang, pertama, karena kelahirannya memenuhi suatu keinginan dan kebutuhan masyarakat, dan kedua, karena ‘anak’ itu lahir dalam suatu keluarga baik dan teratur, yang pasti akan berusaha sekuat tenaga untuk memajukannya,” tulis Mgr. J.H. Soudant SCJ (Op. cit., halaman 19).Yayasan Xaverius kemudian mengambil pertanggungjawaban terhadap sekolah tersebut dengan tidak melihat bahwa sekolah yang baru ini akan mengalami perkembangan yang hebat serta adanya kesulitan-kesulitan yang akan dialaminya sehubungan dengan berdirinya sekolah baru ini (Op. cit., halaman 23) Tujuan utama didirikannya sekolah tersebut adalah Pro Ecclisia et Patria (Demi Gereja dan Tanah Air), dalam arti untuk menampung putra-putri Indonesia beragama Katolik yang ingin melanjutkan pendidikannya ke SLTA. Hal tersebut bukan berarti SMA Xaverius tertutup bagi putra-putri Indonesia yang lain, melainkan tetap terbuka bagi seluruh orang tua yang mempercayakan putra-putrinya mendapatkan didikan di SMA Xaverius.Lokasi penyelenggaraan sekolah pada mulanya di sebuah gedung yang terletak di Jalan Talang Jawa Lama No. 4, di belakang Gereja Hati Kudus Lama (sekarang Kompleks Pastoran). Pada mulanya baru satu kelas.

“Demi sekolah baru ini juga, Pastor Gisbergen telah mengorbankan sebagian tempatnya untuk keperluan SMA. Prasarana yang kurang baik dari sekolah ini dapat diimbangi dengan adanya iklim yang baik dan kerjasama yang erat antara staf pengajar dan para siswa,” tulis kepala sekolah pertama SMA Xaverius dalam Kata Sambutan (Ibid.)Memang, jawaban untuk siapa pendiri SMA Xaverius , Frater L. F. J. Nienhuis bukanlah satu-satunya biarawan yang mendirikan, tetapi juga berkat kerja keras dan ide dari Pastor Wilhelmus Lorentius Cornelius Boeren yang menjadi pimpinan Yayasan Xaverius (Yayasan Xaverius berdiri sejak 05 Mei 1930, sesuai dengan bunyi akta notaris Christian Mathius menyebutkan : “Berlakunya badan hukum tersebut sejak tanggal 12 Juli 1929”.Mengapa dipilih nama Xaverius?Nilai-nilai yang mendasari pemilihan nama seorang Santo Pelindung, Fransiskus Xaverius, sebagai nama sekolah yang didirikan lebih didasarkan pada sisi yang mewarnai pribadinya selama ia berkarya sebagai misionaris sepanjang hidupnya. Santo Fransiskus Xaverius memiliki sikap dan karakter sebagai berikut:1. kedisiplinan, kegigihan, dan kecermatan, yang merupakan dasar umum suatu keberhasilan pendidikan;2. keteraturan dan pengawasan (evaluasi) ketat, yang lebih menjamin tercapainya keberhasilan pendidikan;3. metode humanis dalam proses yang mengarah pada pencapaian tujuan pendidikan “menjadikan manusia intelektual dan terpelajar yang bermoral dan humanis, memiliki kepekaan sosial yang tinggi dan bijaksana”.

Di sisi lain Fransiskus Xaverius memiliki motto “In te Domine, speravi non confundar in aeternum” (“Pada-Mu Tuhan, aku berlindung. Jangan sekali-kali aku mendapat malu”).Siapa yang mempunyai andil berjuang dalam memajukan SMA Xaverius ? Yang turut andil berjuang memajukan SMA Xaverius ada tiga komponen yaitu, pertama Yayasan Xaverius, kedua Pemerintah, dan ketiga masyarakat. Tentu saja yang dimaksud dengan keikutsertaan Yayasan memajukan SMA Xaverius di sini tidak hanya staf Yayasan Xaverius, tetapi para direktur SMA Xaverius, staf tata usaha dan secara khusus adalah bapak-ibu guru yang terjun secara langsung dengan sabar, tekun, dan bekerja keras dalam membimbing, mendidik, dan mengajar siswa-siswinya.Dalam perkembangan berikutnya lokasi sekolah berpindah dari yang semula berada di Jalan Talang Jawa Lama No. 4, ke gedung sendiri yang dibangun di daerah rawa. “Pengganti saya (J.H. Soudant-Red.)kemudian membangun gedung yang sekarang masih ada, suatu lembaga bagi anak-anak yang penuh bakat untuk menjadi manusia yang berguna bagi bangsa dan tanah air,” lanjut tulisan Frater Monfort (Ibid.) Lokasi gedung itu kemudian terkenal dengan nama Jalan Bangau 60, Palembang hingga sekarang. Perpindahan tempat belajar itu terjadi dalam pertengahan tahun ajaran 1952/1953.

Kondisi bangunan SMA Xaverius 1 Palembang Saat ini
Foto : http://www.smaxaverius1.sch.id
“Kondisi lingkungan saat itu belum seperti sekarang. Jalan menuju ke sekolah pun masih jalan setapak dan rumah permanen yang ada di sekitar waktu itu baru sampai daerah Rambang. Lorong Pagar Alam (sekarang Jalan Mayor Ruslan) sampai ke sekolah dan yang lain masih rawa,” kata Drs. F.S. Bandiman menceritakan sejarah sekolah secara singkat.Waktu itu kondisi masyarakat dan pemerintah belum seperti sekarang. Maka, untuk keperluan kegiatan belajar-mengajar pun masih banyak kekurangan sarana, termasuk kapur tulis. Salah seorang sumber mengatakan bahwa untuk memenuhi kebutuhan kapur pun Pastor J.H. Soudant SCJ harus memesan kiriman dari Negeri Kincir Angin, Belanda.Jumlah murid pada masa Frater L. F. J. Nienhuis yang memimpin ada sebanyak 32 siswa.

Mereka yang terdaftar sebagai murid perdana tersebut adalah :1. Charlotte Marie Sleebas2. Pieter Tan3. Norbertus Aloysius da Graca 4. David Eduardus Tif5. Johan Muda Siahaan6. Partomuan Siahaan7. Frans Tamba8. Zainal Abidin9. Max Karundeng10. Willy Karundeng11. R. Abdurrachman12. Ong Ek Wie13. Davy Hutabarat14. Picie Liem15. Sjaiful Azhar16. Salahat17. Soedjono18. Halimah Madian19. Ronald Hoop20. Noerhajati21. R. Machmud Badaruddin22. Talina Rivai23. A. Firdaus24. Sofian25. Suseno26. Subroto27. Dentiria Dawana Hutabarat28. Sindik Hutabarat29. Jenny Maro30. Fati Rusmiati31. Lucia Lim32. Agus KeruKetiga puluh dua orang siswa-siswi itu diasuh oleh: 1) L. F. J. Nienhuis (merangkap kepala sekolah);2) J. B. Dierselhuis;3) W. G. Lap;4) Rasjid;5) Sumartono;6) Tjioe Tjeng Hok;7) Toruan;8) Wentholt;9) Liefvoort H.V.D.;10) Bambang Utomo;11) J. H. Soudant.Berkat kerja sama yang erat antara pemerintah dengan Yayasan Xaverius maka tanggal 01 Juli 1952 SMA Xaverius mendapat subsidi dari pemerintah khususnya dari Menteri Pengajaran dan Kebudayaan. “Pada tahun yang kedua tiba-tiba tanpa disangka-sangka datanglah inspeksi dari Jakarta dan sekolah mendapat subsidi sehingga keuangannya menjadi lebih baik,” tutur Frater Montfort. (Ibid.).

Tahun 1953, Frater L. F. J. Nienhuis meninggalkan Palembang karena mendapat tugas baru di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur, untuk menjadi direktur SGA. Untuk menggantikan beliau dipilihlah seorang pastor kelahiran Heer, Belanda, 30 Maret 1922 bernama Joseph Hubertus Soudant, SCJ. Pastor ini memimpin SMA Xaverius tahun 1953 – 1956. Waktu itu beliau merangkap menjadi kepala sekolah SMEA Xaverius yang didirikan oleh Yayasan Xaverius, tanggal 1 September 1953. Dalam perkembangannya, SMEA Xaverius akhirnya dilebur ke dalam SMA Xaverius, tepatnya tanggal 1 Agustus 1955. Seluruh murid SMEA tersebut dimasukkan ke SMA bagian C. Oleh karena itu, mulai saat itu SMA Xaverius mempunyai dua jurusan, yaitu Bagian B (sekarang IPA) dan Bagian C (sekarang IPS). Bersamaan dengan peleburan SMEA Xaverius ke dalam SMA Xaverius, Yayasan Xaverius mendirikan SGA Xaverius dipimpin oleh Sr. M. Helena dan Bapak Sudarmadi. Tahun 1970 SGA tersebut ditutup.Di di sisi lain, untuk mewujudkan tujuan pendirian Yayasan Xaverius: “Mengembangkan cinta kepada sesama dan pendidikan”, maka pihak Yayasan menunjuk Pastor J. H. Soudant yang sudah berpengalaman di bidang pendidikan diberi tugas untuk memimpin anak-anak asrama di Asrama Rumah Yusuf, di Baturaja yang sudah berdiri sejak tahun 1948. Dengan demikian Pastor J. H. Soudant harus meninggalkan SMA Xaverius untuk mengemban tugas barunya.

“Sekolah ini (SMA Xaverius) dimulai oleh kaum rohaniwan, yang selama 10 tahun memegang pimpinan. Tetapi sesudah itu pimpinan diserahkan kepada kaum awam, dan rasanya hasil pekerjaan mereka boleh dibanggakan. Hasil yang baik itu hanya mungkin, karena mereka bekerja dengan semangat dan dedikasi besar, dengan rasa tanggung jawab terhadap murid dan orang tua mereka, serta terhadap masyarakat pada umumnya. Sebenarnya ini hal biasa: seharusnya begitulah, karena setiap orang yang jujur dan menghargai diri seharusnya menjunjung tinggi profesinya dan berusaha sekuat tenaga untuk mencapai hasil semaksimal mungkin,” tulis Pastor J.H. Soudant SCJ (Op. cit., halaman 17) Dalam perkembangan sejarah pribadi, Pastor J.H. Soudant, SCJ kemudian mulai 29 Juni 1961 menjabat sebagai Uskup Agung Palembang. Monsinyur Soudant, demikianlah nama yang akrab di hati umat, akhirnya kembali ke negeri Belanda, juga sebagai imam, setelah demikian lama mendampingi umat di Palembang dan Sumatera Selatan. SMA Xaverius kemudian dipimpin oleh pastor lain, kelahiran Den Haag, Belanda, 11 Juli 1917 bernama Johanes Jacobus Maria Goeman SCJ.

Pemilihan Pastor J. J. M. Goeman SCJ sebagai Kepala Sekolah SMA Xaverius bukannya tanpa dasar. Pertimbangan historisnya, beliau telah berpengalaman sebagai rohaniwan di Palembang (tahun 1948-1951), Lahat dan Tanjung Enim (1949-1950), di Jakarta (1950-1951), bahkan pernah mendidik dan mengajar di SMA Kolese de Britto dan SMA St. Thomas di Yogyakarta (Juli 1952 – Agustus 1954). Selama Pastur J. J. M. Goeman SCJ. menjadi pimpinan SMA Xaverius tahun 1956-1961 banyak keberhasilan yang telah dicapai antara lain :1. Atas bimbingannya, para murid berhasil mendirikan wadah persatuan pelajar, tepatnya Kamis, 29 November 1956 dengan nama Ikatan Pelajar SMA Xaverius , yang kemudian bernama Perhimpunan Pelajar Sekolah Katolik (PPSK) SMA Xaverius 1 yang dalam perkembangannya menjadi OSIS/PPSK SMA Xaverius 1. Sekarang, sesuai dengan perubahan nama SMA menjadi SMU, nama berganti menjadi OSIS /PPSK SMU Xaverius 1.2.

Pendirian sebuah wadah untuk menampung gagasan kreativitas siswa secara tertulis, maka lahirlah GITA PELAJAR, terbit pertama bulan Januari 1957, dan setiap bulan sekali terbit. Dalam perkembangannya, media komunikasi siswa tersebut mengalami perubahan masa terbit. Sekarang hanya terbit empat kali per tahun. Di sisi lain majalah tersebut kemudian berganti nama menjadi GITA hingga sekarang.3. Disetujui gagasan para siswa untuk menetapkan lambang perhimpunan pelajar sekolah. Lalu diadakanlah sayembara merancang lambang tersebut. F.X. Mulyadi (sekarang sudah almarhum) keluar sebagai pemenangnya.

Karya cipta F.X. Mulyadi ini akhirnya menyejarah sebagai lambang OSIS/PPSK SMU Xaverius 1. Bahkan, makna lambang menjadi meluas, tak sekadar di SMU Xaverius 1 sebab sekarang dipakai juga oleh SMU Xaverius 3, 4, dan SMK Xaverius. (Baca: Obituari F.X. Mulyadi)4. SMA Xaverius berhasil membuka Bagian A, 1 Agustus 1959.5. Langkah demi langkah tergores dalam sejarah. Akhirnya tahun 1959, SMA Xaverius mempunyai tiga jurusan: Bagian A, B, dan C (sekarang jurusan IPA, IPS, dan Bahasa). Tugas Pastor J.J.M. Goeman SCJ sebagai kepala sekolah -waktu itu populer dengan istilah direktur-SMA Xaverius berakhir tanggal 30 November 1961. Kemudian beliau mendapatkan tugas sebagai Rektor Seminari St. Paulus sekaligus Rektor SMU Xaverius.

Sebagai gambaran, siswa (sekarang alumni) yang memilih jurusan Bagian A angkatan pertama antara lain :1. Arpan Zainuri, S.H. (Palembang)2. Drs. Blasius Mohammad. (pernah mengajar setahun, 1971, di SMA Xaverius)3. M. Amin Asari, B.A. (Kepala Kampung 9 Ilir)4. Frans Sutarno, S.H. (terkahir di Departemen Agama Palembang, almarhum)5. F. Penny Effendy, B.A. (guru PMP/PPKn pada SMU Xaverius 1, pensiun, sekarang menjadi Pengurus Harian YayasanKusuma Bangsa)6. F.X. Sucipto Rewa, B.A. (Wakil Kepala Sekolah SMA Negeri Muara Enim)7. Alfonsus Purbono Dewo, B.A. (guru Bahasa Indonesia di Lampung)Dalam kata sambutan Tripancawarsa SMA Xaverius (1966: 25) Pastor J.J.M. Goeman antara lain menulis, “Rasa syukur kepada Tuhan bahwa berkat segala kebaikan itu, selama lima belas tahun sekolah kita dapat melaksanakan tugasnya yang luhur, dan memenuhi cita-cita kebangsaan yang diharapkan, mendidik dan membimbing tunas-tunas muda Pancasilais sejati, yang mengabdi kepada Tuhan, Nusa, dan Bangsa.”

Sumber tulisan : http://www.smaxaverius1.sch.id

12 Mei 2019

Rumah Sakit Pelabuhan Saat Ini


Rumah Sakit Pelabuhan Palembang (RSP) Palembang terus berbenah untuk memberikan layanan terbaik bagi masyarakat. Salah satu upaya tersebut adalah dengan menaikkan standar layanan menjadi rumah sakit Kelas C dengan fasilitas yang akan di tambah yaitu seperti dengan membuka layanan hemodialisa, pengadaan CT Scan, ESWL, C-Arm, Endoskopi, Fluoroskopi, Panoramic, dan alat-alat canggih lainnya.

11 Mei 2019

Mobilan Bambu & Kaleng Oli Esso

Mobil Bambu Foto : Google
Bagi yang pernah merasakan masa kecil era 80 & 90 an pasti mengenal apa yang namanya  mobil bambu, mobil sederhana yang di buat dari potongan bilah bambu yang di ikat menggunakan karet gelang, untuk ban nya sendiri menggunakan karet potongan sendal jepit yang sudah tidak terpakai, sedangkan hiasan di tengahnya di gunakan lah kaleng oli esso, atau kaleng susu anak atau juga kaleng bekas obat semprot nyamuk.

Kalau malam hari bisa di pasang lilin di dalam kaleng tersebut sehingga sorot lilin yang redup cukup menambah keceriaan bermain pada malam tersebut.

Oli Lawas spesialis untuk Vespa
Foto ; Google
Dengan menggunakan barang bekas yang sudah tidak terpakai, dulu mainan ini di buat sendiri secara beramai-ramai dengan teman-teman. dengan memanfaatkan potongan-potongan bilah bambu yang sudah di  di haluskan dan di bagi menjadi beberapa bagian, masing-masing bagian nanti di ikat dengan karet gelang, untuk bagian depan yang juga berfungsi sebagai pendorong di buat dari bilah bambu yang agak panjang untuk bagian slongsong roda biasa kami gunakan bekas pipa listrik atau pipa air, untuk rodanya sendiri menggunakan dari sandal karet bekas yang sudah tidak terpakai, satu lagi biar mobilan kita tambah menarik penampilannya adalah menggunakan karpet bekas yang di buat untuk karpet penahan percikan air.

kalau sudah selesai membuatnya biasanya kita bermain beramai-ramai karena di situlah letak keseruan di dalam permainan tempo dulu ini.

Permainan tempo dulu sangat jarang sekali yang namanya "membeli" karena memang saat itu untuk membeli mainan saja uangnya tidak ada, jalan satu-satunya adalah dengan mengasah sedikit bakat trampil.

10 Mei 2019

Warna-Warni Palembang Tempo Dulu

Pasar Lingkis / Pasar Cinde Tahun 1960-an
Jalan Tengkuruk Tahun 1950-an
De Javasche Bank, kemudian menjadi Bank Indonesia, Palembang 1955..
Majestic Bioskop (Pasar Raya JM ) Tahun 1955
Kapal Marie / Kapal Roda lambung di sungai musi 1900

Jembatan Ogan Kertapati Tahun 1950
Kantor Ledeng 

Gereja Siloam di Kambang Iwak Besak Tahun 1935
Hasil melakukan pemulasan warna hitam putih terhadap beberapa foto palembang tempo dulu
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...