CANTUMKAN SUMBERNYA JIKA MENGGUNAKAN GAMBAR ATAU ARTIKEL DARI BLOG INI - HORMATI HAK CIPTA ORANG LAIN.

Pal 5 Palembang Tahun 1970

Leave a Comment
Pal 5 Tahun 1970 foto : FB Kiagus Muhammad Irfan Zen
Pal 5, seperti itulah kawasan ini di sebut dan sampai saat ini kebiasan masyarakat palembang menyebutnya dengan pal 5, kata-kata Pal berasar dari bahasa Belanda yaitu paal (Latin: palas ’bentuk panjang’), yakni tonggak penanda titik ruas jalan atau luas bidang lahan, seperti terlihat pada sepanjang jalan negara yang menghubungkan satu kota dengan kota lain. Tersurat informasi: sepuluh pal setara dengan 15 kilometer; atau satu pal sama dengan 1.500 meter sesuai ketetapan pemerintah waktu itu. Namun, konversi pal berbeda-beda: di Jawa 1 pal setara dengan 1.507 meter, di Sumatra 1.852 meter. Perbedaan ukuran itu diduga terkait dengan permainan jual-beli tanah seiring dengan berbiaknya perkebunan besar di kedua wilayah tersebut. Pal 5 atau Km 5 ini juga menunjukan bahwa jarak dari titik 0 Palembang yang terletak di air mancur depan Masjid Agung Palembang kurang lebih 5 Km.

Pada era pendudukan Jepang di Palembang pada tahun 1942-1945, kawasan ini merupakan basis pertahanan Jepang di mana dengan adanya bunker pertahanan tentara jepang di jalan AKBP. H Umar, , di mana kawasan ini adalah di anggap yang paling dekat dengan kota Palembang ataupun bandara talang betutu saat itu.

Kawasan Pal 5 saat ini ( 2017 )

Pada saat era 1970-an di mana pemerintah kota Palembang sedang giat-giatnya melakukan pembangunan salah satunya adalah dengan perbaikan dan pelebaran jalan-jalan di dalam kota Palembang yang di lebarkan sampai dengan 8 Meter dengan bantuan langsung dari pihak Pertamina pada saat itu.

Begitu juga kawasan Pal 5 ini juga terkena dari dampak pembangunan tersebut yang awalnya merupakan daerah yang berbatasan langsung dengan kabupaten Musi Banyuasin yang di tandai dengan Gapura, sehingga perluasan wilayah kotamadya Palembang di lakukan pada era 80-90an dengan di tandai di bangunya jalan di kawasan Sukarami, Maskarebet , Kebun bunga dan sebagai jalan induknya yaitu Jalan Sukarno Hatta.


Pada saat itu dukukan transportasi masih sangat terbatas hanya menggunakan bermerek jeep willys, Chevrolet,  Fiat, Austin, Dodge,Fargo, dan lain-lain sebagai penghubung ke tengah kota ataupun kawasan di seputaran pal 5 seperti lebong siarang, sukabangun dan tempat-tempat lainnya, di mana hanya 1-2 kali perhari angkutan ini berangkat ke kota ataupun kembali ke pal 5.

Saat ini kawasan ini sudah sangat maju dan berkembang dengan di dirikan nya pasar Pal 5 membuat jantung perekonomian terus bergerak, kemacetan yang sering terjadi baik pada pagi dan sore hari menjadi salah satu saksi bahwa kawasan ini ikut berperan dalam mengukir sejarah kota ini.

Palembang dalam sketsa, April 2019

Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

0 komentar:

Post a Comment