Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2019

Ziarah Kubro Palembang Tempo Dulu

Ziarah kubro yang berarti berziarah ke kubur secara bersama-sama. Ziarah kubro ini merupakan tradisi dari masyarakat Palembang, kegiatan mengunjungi makam para ulama dan pendiri Kesultanan Palembang Darussalam seminggu menjelang Ramadhan.

Pemerhati sejarah Palembang, Yudhi Syarofie, menuturkan, ziarah kubro pertama kali dilakukan oleh warga keturunan Arab, terutama asal Yaman yang diduga sudah tiba di Palembang sejak zaman Sriwijaya, sekitar abad ke-8. Ketika itu, mereka melakukan secara eksklusif, yakni hanya di lingkungan keluarga.
Tradisi itu mulai menjadi ritual bersama warga keturunan Arab dan pemimpin Palembang ketika masa Kesultanan Palembang Darussalam (1659-1823). ”Saat itu, terjadi akulturasi budaya Arab dan Palembang, seperti pawai diiringi prajurit berpakaian khas Melayu Palembang dan mengunjungi makam pendiri ataupun penguasa Palembang terdahulu,” tutur Yudhi.
Ziarah Kubro merupakan tradisi yang dilakukan sejak zaman Kesultanan Palembang Darussalam. Namun saat itu kegiatan…

Ziarah Kubro Hari Ke - 3 Tahun 1440 H / 2019 M

Ziarah Kubro Hari Ke - 2 Tahun 1440 H / 2019 M

Ziarah kubro hari ke 2 di kawasan seberang Ulu Palembang.

Foto : Ig majelis_maulidarbain

Penjual Roti Komplit "Jadul" Di Palembang

Walau tempat jualannya ada di lorong kecil tepatnya di pangkal masuk lorong penjahit Parman tidak jauh dari rumah makan martabak Har yang sudah terkenal itu, di jalan Jenderal Sudirman tapi pembeli pada rela antri untuk mendapatkan makanan "jadul" yang di sebut roti komplit penjual saat ini pun sudah generasi ke 2 yang sebelumnya orang tua mereka yang berjualan di sini, memang rasa tidak bisa di tipu dan sesuai dengan harga yang di bayar.
Untuk rotinya sendiri pernah saya posting pada tahun 2016 (  Roti Komplit Parman Palembang ), Sudah 3 tahun yang lalu tempat jualan ini tanpa ada perubahan sama sekali, tetapi di sisi kiri dan kanan nya banyak pedagang lain yang juga ikut berjualan di pedestarian ini, seperti pempek, model,bakso.
Dulu teringat ayah mengajak saya untuk membeli roti komplit disini untuk di makan bersama di rumah, sekarang saya mengajak adek juga untuk membeli roti dengan rasa yang sama, tekstur yang sama dan kualitas yang sama,
Roti Komplit, 26 April 2019 Pale…

Ziarah Kubro Hari Ke-1 Tahun 1440 H n/ 2019 M

Ziarah Kubro hari pertama ini Perjalanan dimulai dari Masjid Darul Muttaqien di Kuto menuju makam habib Aqil Bin Yahya dan Pemakaman Habib bin Syech Shahab dan berakhir di kawasan Kubah Syahab Jalan M Isa Palembang.
Palembang dalam sketsa, April 2019 Foto By : Palmbang Darusallam

Pedestarian Sudirman, Pilih ke Kiri atau Kanan ?

Setelah sebelumnya sudah melakukan eksplore pedestarian Sudirman di bagian kanan sejauh kurang lebih 400 M maka malam ini, kita lihat di bagian kiri, ternyata selama ini yang belum kami lihat bahwa di bagian kiri lebih banyak di khususkan untuk acara anak muda seperti band, lagu jazz ataupun lagu underground. 
Yang paling ramai dan jadi tongkrongan anak muda adalah musik hingar-bingar dengan aliran under ground, banyak penonton ikut mengangguk-anggukan kepalanya mengikuti lagu yang lebih saya anggap seperti menggerutu tersebut, walau begitu saya sendiri masih menyukai aliran lagu under ground seperti seringai, rotor band atau tengkorak band.
Di sisi kiri pedestarian Sudirman ini juga banyak terdapat permainan anak-anak seperti odong-odong ataupun mobil gowes berlampu di sisi ini, 







Pilpres & Pileg 2019

Kegiatan Pemilihan Presiden & Pemilihan Calon Legislatif untuk tahun 2019 di TPS 61 & 62 di Prumnas Talang Kelapa, Palembang.

MATA UANG DPDP ( Dewan Pertahanan Daerah Palembang)

MATA UANG DPDP

Jenis Koleksi                : Numismatika
 1.   Nama Benda         : Mata uang Mandat DPDP
 2.   No. Inventaris        : 06.19.1
 3.   Ukuran                  : Panjang = 14,5 ; Lebar = 7,5
 4.   Nilai nomonal        : Rp. 1000 ( Seribu rupiah/ rupiah Jepang )
 5.   Asal didapat          : Palembang
 6.   Asal dibuat            : Palembang
 7.   Kondisi                 : Rusak
 8.   Tempat benda       : Gudang koleksi
 9.   Bahan                    : Kertas
 10. Deskripsi               :

            Mata uang ini berbentuk empat persegi panjang dengan warna dasar putih dan biru. Pada sisi muka (verso) di empat bagian sudut terdapat petak berisi nilai nominal 1000. sedangkan dibagian tengahnya tertera tulisan Mandat DPDP KAS NEGARA DAERAH PALEMBANG DIPERTINTAHKAN MEMBAYAR KEPADA YANG MEMEGANG MANDAT INI SEHARGA SERIBU RUPIAH (RUPIAH JEPANG). 
Selain itu, disebelah kanan terdapat sebuah DEWAN PERTAHANAN. Pada sisi belakag (recto) dibagian tengah tetera tulisan SERIBU RU…

Percetakan Meru Palembang

Pers Yang Merdeka
Surat kabar Pertja Selatan dicetak percetakan drukkerij Meroe di Seberang Ulu, sekarang Kelurahan 7 Ulu, Palembang. Pertja Selatan seolah terkubur tertimbun berbagai buku sejarah pers negeri ini.
Percetakan Meroe bertahan di tengah terpaan badai penguasa Kolonial Belanda dan pemerintahan Soekarno. Meroe dimatikan pelan-pelan di awal pemerintahan Presiden Soeharto, karena mencetak enam surat kabar yang kritis terhadap Orde Baru.
Pertja Selatan hadir di tengah bangkitnya kesadaran nasionalisme alam kolonial. Ia lahir dan didirikan untuk menyuarakan suara nasionalisme. Begitu catatan penting bekas perwira menengah tentara Mochtar Effendi, yang menghabiskan masa tuanya dengan menulis sejumlah buku, dalam kata pengantar buku Pers Perlawanan: Politik Wacana Antikolonial Pertja Selatan karya Basilius Triharyanto.
Basilius adalah putera kelahiran Ogan Komering Ulu (Sumsel), mendalami sejarah dan jurnalisme di Universitas Atmajaya Yogyakarta. Di akhir kuliahnya ia menulis te…

Pal 5 Palembang Tahun 1970

Pal 5, seperti itulah kawasan ini di sebut dan sampai saat ini kebiasan masyarakat palembang menyebutnya dengan pal 5, kata-kata Pal berasar dari bahasa Belanda yaitu paal (Latin: palas ’bentuk panjang’), yakni tonggak penanda titik ruas jalan atau luas bidang lahan, seperti terlihat pada sepanjang jalan negara yang menghubungkan satu kota dengan kota lain. Tersurat informasi: sepuluh pal setara dengan 15 kilometer; atau satu pal sama dengan 1.500 meter sesuai ketetapan pemerintah waktu itu. Namun, konversi pal berbeda-beda: di Jawa 1 pal setara dengan 1.507 meter, di Sumatra 1.852 meter. Perbedaan ukuran itu diduga terkait dengan permainan jual-beli tanah seiring dengan berbiaknya perkebunan besar di kedua wilayah tersebut. Pal 5 atau Km 5 ini juga menunjukan bahwa jarak dari titik 0 Palembang yang terletak di air mancur depan Masjid Agung Palembang kurang lebih 5 Km.

Pada era pendudukan Jepang di Palembang pada tahun 1942-1945, kawasan ini merupakan basis pertahanan Jepang di mana …

Akhir Perjalanan Bus Kota Sang "Raja Jalanan" Di Palembang

Pada awal tahun 1990-an Palembang di hebokan dengan mode transportasi baru yang mulai melintas di jalan-jalan protokol kota Palembang, selama ini masyarakat lebih mengenal angkot ( sebagian masyarakat menyebutnya taxi) sebagai angkutan publik, dan juga angkutan pinggiran seperti mobil ketek ataupun becak.
"Bis Kota" itulah sebutan yang paling akrab oleh masyarakat Palembang, angkutan publik yang bisa mengangkut banyak di bandingkan dengan angkot yang ada, untuk jumlah kursi bisa menampung 26 tempat duduk di tambah lagi penumpang yang berdiri. Dengan mengusung mesin Mitsubishi PS 120 membuat angkutan ini bisa berlari dengan gagah di aspal kota Palembang.
Pada awal beroperasinya bus kota ini menjadi primadona sebagai angkutan baru karena selain bisa mengangkut penumpang lebih banyak perjalananpun di rasa lebih cepat dan juga nyaman, Ticket karcis yang awalnya di terapkan hanya bertahan tidak lebih dari 6 bulan sejak di operasikan karena ticket tersebut harus di sediakan oleh pi…

Bagian Dalam Gedung Jacobson Van Den Berg

Gedung yang terletak di Palembang untuk pembelian karet dan kopi. Dengan menenmpati gedung di kawasan sekanak tepat beseberangan dengan Sekanak Jetty (BekangDam II/SWJ), yang kala itu menjadi sarana pendukung dalam distribusi barang-barang yang keluar masuk kota Palembang.
Sejarah dan kepopulerannya akhirnya mendorong pemerintah kota Palembang untuk melestarikan gedung Jacobson van den Berg, salah satunya melalui pengembangan kawasan Sekanak Kerihin yang dituangkan dalam Peraturan Walikota No. 16 tahun 2017, yang berisi aturan untuk melindungi berbagai bangunan yang ada diantara Sungai Sekanak dengan jalan Gede Ing Suro, salah satunya yang paling terawat dan populer adalah gedung Jacobson van den Berg.
Admin Sendiri bisa mengabadikan kondisi di dalam gedung ini saat di buka untuk umum saat acara Musi Coffee Culture 2019, di mana yang di pakai hanya lantai 2.

Anak tangga yang tidak terlalu tinggi membawa kita ke lantai 2, di sambut dengan ubin / tegel lama sama seperti foto yang tampak pa…