CANTUMKAN SUMBERNYA JIKA MENGGUNAKAN GAMBAR ATAU ARTIKEL DARI BLOG INI - HORMATI HAK CIPTA ORANG LAIN. MOHON MAAF....BLOG INI LAGI MENGALAMI GANGGUAN SAAT MIGRASI DARI HTTP KE HTPPS, SEBAGIAN GAMBAR MENJADI TIDAK BISA MUNCUL.

08 April 2019

Bagian Dalam Gedung Jacobson Van Den Berg

Gedung Jacobson Van Den Berg 2019
Tangga Masuk ke lantai 2


Gedung yang terletak di Palembang untuk pembelian karet dan kopi. Dengan menenmpati gedung di kawasan sekanak tepat beseberangan dengan Sekanak Jetty (BekangDam II/SWJ), yang kala itu menjadi sarana pendukung dalam distribusi barang-barang yang keluar masuk kota Palembang.

Sejarah dan kepopulerannya akhirnya mendorong pemerintah kota Palembang untuk melestarikan gedung Jacobson van den Berg, salah satunya melalui pengembangan kawasan Sekanak Kerihin yang dituangkan dalam Peraturan Walikota No. 16 tahun 2017, yang berisi aturan untuk melindungi berbagai bangunan yang ada diantara Sungai Sekanak dengan jalan Gede Ing Suro, salah satunya yang paling terawat dan populer adalah gedung Jacobson van den Berg.

Admin Sendiri bisa mengabadikan kondisi di dalam gedung ini saat di buka untuk umum saat acara Musi Coffee Culture 2019, di mana yang di pakai hanya lantai 2.

Ubin/Tegel lantai yang tidak berubah

Anak tangga yang tidak terlalu tinggi membawa kita ke lantai 2, di sambut dengan ubin / tegel lama sama seperti foto yang tampak pada foto di dalam kantor saat para pegawai kantor Jacobson Van den Berg & co sedang berkerja (Foto).

Lumayan luas juga untuk lantai 2 gedung Jacobson ini , yang di perguanakan untuk bagian kantor, sedeangkan di bagian bawah gedung ini sepertinya di gunakan untuk gudang komoditi seperi kopi dan karet, dan komoditi lainnya

Tanpak di sudut kanan tanpak seperti penjara dengan ukuran kurang lebih 3X 3 Meter yang merupakan tempat penyimpanan uang dan benda berharga dari gedung ini.

Mudah-mudahan ke depan bisa melihat secara penuh gedung ini yang merupakan salah satu cagar budaya di kota ini.

Lantai 2 gedung Jacobson van den Berg saat di gunakan oleh Musi Coffee Culture 2019, masih menampakan ke asliannya
termasuk flafond, walaupun ada sebagain jendela sudah di tutup dengan beton

Brankas di Gedung Jacobson Van den Berg di kuncinya tertulis "De Haas Rotterdam"
Lantai 2 Gedung Jacobson Van den Berg yang pernah menjadi kantor, 
Foto : Fornews.co saat festival Musi Coffee Culture 2019


Salah satu cagar budaya yang ada di kota Palembang
Video : Sriwijaya.tv

06 April 2019

Musi Coffe Culture 2019

Gerbang Masuk Musi Coffee Culture 2019


Pembukaan Hari Ke 1
Kegiatan yang di adakan di pelataran gedung Jacobson Van Den Berg yang berlangsung selama 2 hari yaitu pada tanggal 5-6 April 2019 , menampilkan kopi khas dari 6 kabupaten yang ada di Sumatera selatan yang merukan penghasil kopi robusta terbesar di Indonesia. 

Bukan hanya pencinta kopi saja, para petani, juga pelaku bisnis yang berkaitan dengan kopi ini turut andil dalam menyukseskan acara ini, stand-stand yang terpasang di sepanjang pelataran  Gedung Jacobson Van Den Berg, banyak kegiatan yang di laksanakan pada Musi Coffe Culture 2019 saat ini seperti pameran kopi sumsel termasuk seminar hulu dan hilir kopi sumsel, tubruk barista competition, lomba foto dan pameran foto tentang kopi.
Salah satu yang uniknya adalah dengan penggunaan lantai 2 dari gedung  Jacobson Van Den Berg yang selama ini sangat jarang di gunakan kecuali ada event-event tertentu seperti heritage walk dan lain-lain, di mana seakan-akan kita di bawa ke konsep tempo dulu dalam menyelami filosofi kopi sumsel.

Acara yang juga di dukung oleh pihak terakit seperti Badan ekonomi kreatif (bekraft), Dinas Pariwisata dan kebudayaan Sumatera Selatan, SCAI Pusat dan beberapa pihak terkait lainnya.

Lomba  Barista Tubruk Coffee Competition 
Foto-Foto peserta lom yang bertema kopi
Di balik stand Musi Coffee Cuture 2019


02 April 2019

Gado-Gado Palembang


Gado-gado (saladnya Indonesia), mungkin untuk kawasan dari 9 ilir sampai ke Dempo merupakan tempat terbanyak untuk penjual gado-gado yang admin rasa lumayan enak. Di dekat parkiran pasar kuto ada yg jual, di dekat lr. Jambu (tempat penjual durian) juga ada (Gado-Gado Tata satu group dengan yg di simpang dempo), di dekat simpang 3 Jl. Alygatmir ( Gado-Gado kang Husen), Di 9 ilir depan penggadaian juga ada (Gado-Gado Salim) dan terakhir di simpang dempo tepat di depan hotel Rio (Gado-Gado Tata). Ada 5 orang yang jualan dengan konsep yang sama.

Gado-Gado Salim 
Entah siapa yang terlebih dahulu menjual gado-gado di kawasan ini, dengan sayuran segarnya, kentalnya bumbu kacang yg menjadi "sauce" nya di tambah dengan lontong yang lumayan mengenyangkan untuk di santap. 

Dengan harga 13 ribu per porsi dan di tambah 1 porsi jika saus kacangnya di pisah, untuk gado-gado ini lumayan bisa bertahan lama jika yang tercampur kuahnya saja bisa tetap enak sampai sore, sedangkan kalau kuah yang di pisah bisa bertahan sampai keesokan hari nya.

Berbeda dengan pecal atau lotek, bahwa gado-gado ini lebih berwarna karena juga ada tahu, kentang dan juga tomat, sedangkan untuk rasa juga pas tidak berlebihan kencur seperti rasa khas pada lotek.

Jika ingin mencoba gado-gado ini lebih baik datang agak awal karena kalau sudah di jam makan siang antrinya lumayan lama, sedangkan sudah agak siang sedikit sudah kehabisan.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...