Guguk Kepandean






Pada mulanya wilayah pemukiman penduduk Kota Palembang di zaman Kesultanan berpusat kepada Keraton. Sedang pemukiman penduduk saat itu dibentuk menurut sistem struktur masyarakat tradisional setempat. Keseluruhan sistem atau lembaga ini, sebagaimana diutarakan Djohan Hanafiah, berada dalam satu lingkungan dan lokasi. Sistem ini dikenal dengan nama Guguk (gogok). Setiap Guguk biasanya mempunyai tugas, keahlian dan fungsinya tersendiri. Paling tidak ada 3 sektor menurut sifatnya, yaitu: Sektor Profesi (kedudukan/jabatan), Sektor Usaha, dan Sektor Fungsinya. Disetiap wilayah Guguk ini dipimpin oleh pemimpinnya, baik karena kedudukannya dia menjadi golongan bangsawan ataupun karena kebangsawanannyalah ia sebagai pemimpin.

Salahsatu guguk yang terpenting dan bersejarah adalah Kepandean. Kepandean berarti pandai besi, jadi lingkungan guguk Kepandean ini maksudnya ialah kampung yang dikaitkan dengan sektor usaha atau keahlian khusus dalam bidang kerajinan pandai besi. Orang yang mempunyai kepandaian atau keahlian dalam suatu pekerjaan tangan baik dengan alat atau bahan yang tertentu seperti batu, besi, kayu dan lainnya ini dalam istilah wong Palembang disebut 'tukang'.

Menurut naskah arsip lama, memang di Kesultanan Palembang dikenal banyak para tukang yang mempunyai keterampilan dan keahlian khusus, di antaranya seperti: 
- Tukang pembuat Payung, pengrajinnya ialah Masagus Basyar bin Mgs. Bawah bin Pangeran Cakra Wijaya bin Sultan Muhammad Mansur.
- Tukang Ukir, ialah Pangeran Nato Wikramo Mahjub bin Sultan Muhammad Bahauddin.
- Tukang Keris (empu), yaitu Kiagus Empu.
- Tukang Bangunan (arsitek), adalah Ki. Ranggo Wiro Sentiko.
- Tukang Rakit Api, dikerjakan oleh Raden Kijing.
- Pinakawan Sultan, yaitu Pangeran Wirakrama Gubir.
- Tukang Meriam, ialah Raden Keling bin R. Prabu Jaya.

Disamping membuat bermacam peralatan seperti pedang, parang, keris, lela, senapan, peluru dan lainnya, juga salahsatu hasil produksi di Guguk Kepandean yang sangat menonjol adalah pembuatan senjata meriam.

Guguk Kepandean terletak di wilayah lingkungan belakang keraton Palembang. Lokasinya membentang di antara Keraton Beringin Janggut dan Keraton Tengkuruk ataupun Keraton Kuto Besak (BKB) yang dikelilingi oleh Sungai Tengkuruk, Sungai Ketandan dan Sungai Kebon Duku. Oleh karena itu tempat ini dikenal pula dengan sebutan Kepandean Darat dan Kepandean Laut. Sekarang kawasan Kepandean ini masuk dalam lingkungan kampung 18 ilir.

Salah seorang pengrajin yang ahli dalam membuat senjata seperti meriam di masa Kesultanan Palembang Darussalam adalah Raden Keling. Beliau merupakan priyai, bangsawan kerabat kesultanan. Nama lengkapnya Raden Muhammad Keling bin Raden Prabu Jaya bin Pangeran Adipati Peninjauan bin Sultan Muhammad Mansur. Keahliannya dalam membuat meriam tidak diragukan lagi. Banyak sekali meriam lokal yang telah dihasilkannya dan ternyata menjadi senjata yang ampuh dan jitu dalam beberapa pertempuran mempertahankan kedaulatan Kesultanan Palembang. Ratusan meriam produknya telah diletakkan di benteng-benteng pertahanan dan Keraton Palembang. Salah satu inskripsi pada meriam tersebut bertuliskan dalam huruf Arab berbunyi:
"Alamat Raden Keling ibnu Raden Prabu Jaya fi Baladi Palembang Darussalam sanah 1225 (1811)."

Meriam Palembang ini bahannya terbuat dari besi ataupun tembaga. Biji besi sebagai bahan membuat meriam dan pelurunya di antaranya didatangkan langsung dari Belitung, di cor di guguk Kepandean, tempat sentral pembuatan persenjataan Kesultanan Palembang. Sedang bahan-bahan pembuat obat mesiu diambil dari daerah uluan terutama di Tebing Tinggi. Setidaknya ada tiga tipe kaliber atau ukuran meriam, yakni ukuran kecil, sedang, dan besar.

Selain itu, menurut Frieda Amran dalam tulisannya, di pertengahan abad ke-19 (masa kolonial), terdapat tukang pandai besi sekitar 155 orang. Komunitas mereka sebagian besar tinggal berdekatan di Kampung 18 ilir. Pengrajin-pengrajin besi ini biasanya membuat parang, beliong dan tengkuit (arit). Mereka juga membuat keris dan kampak. Seorang pandai besi biasanya dibantu oleh dua orang kenek, yang berganti-gantian menarik puputan. Waktu yang diperlukan untuk membuat 50 buah parang itu adalah selama 10 hari, sehingga dalam jangka sebulan dapat dihasilkan sebanyak f60,- perbulan. Dalam sejarahnya, sejak dulu wong Palembang sudah biasa membuat senjata api, senjata tersebut luar biasa kuatnya, namun cukup berat dan berkwalitas. Kunci gembok dan paku juga diproduksi di Guguk Kepandean ini, meskipun lama kelamaan pekerjaan para tukang pengrajin ini semakin sedikit.

*Rujukan: dikutib dari berbagai sumber.

Plg, 13/1/2019
Kms.H. Andi Syarifuddin

***disadur dari sebuah tulisan di laman facebook Ust. Kms. Andi Syarifuddin

0 komentar:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Search This Blog

Palembang Dalam Sketsa. Powered by Blogger.

Newsletter

Blog Archive

Komentar

Copyright © 2015 • Palembang Dalam Sketsa
Blogger Templates