CANTUMKAN SUMBERNYA JIKA MENGGUNAKAN GAMBAR ATAU ARTIKEL DARI BLOG INI - HORMATI HAK CIPTA ORANG LAIN.

23 Mei 2019

Resapan Kosa Kata Pada Makanan Khas Palembang

Keragaman makanan yang ada di Indonesia merupakan suatu anugerah tersendiri di mana lebih dari 5.300 makanan tradisional yang ada di Indonesia ini, Sayangnya, hingga kini hanya beberapa saja kuliner Indonesia yang menjadi ciri khas dan dikenal luas di mata internasional seperti rendang atau gado-gado.

Seperti di Palembang sendiri untuk makanan tradisional sendiri dari Pemrintah Kota Palembang secara persis jumlah belum terdata, tapi ada puluhan jenis yang nyaris punah dan jarang di temui seperti mentu, dadar jiwo, gandus, putu embun, bangkit, tapel, pare, lumpang, manam sahmin, kumbu kacang dan puluhan jenis lain. Makanan tersebut terkadang hanya disajikan saat acara formal, walaupun terkadang makanan tradisional ini ada tersaji saat bulan Romadhon di pasar-pasar bedug di kota Palembang.

Sungai musi yang banyak mengandung sumber makanan seperti ikan, dan  dari sinilah mulai banyak tercipta olahan makanan khas Palembang yang berbahan ikan. Pada masa Kesultanan Palembang, pempek disebut kelesan. Kelesan adalah panganan adat di dalam Rumah Limas yang mengandung sifat dan kegunaan tertentu. Dinamakan kelesan juga karena makanan ini dikeles atau tahan disimpan lama," ucap pemerhati sejarah Palembang, KMS H Andi Syarifuddin, dilansir dari KompasTravel pada Rabu (13/2/2019).

Menurut Andi, pempek akhirnya dijual komersial saat zaman kolonial. Uniknya, pempek mulanya dibuat oleh orang asli Palembang. Setelah dibuat pempek dioper ke orang China untuk dijual. Orang China di Palembang saat itu terkenal sebagai ahli dagang. Tercatat pada tahun 1916, pempek mulai dijajakan dengan penjual yang berjalan kaki dari kampung ke kampung, khususnya di kawasan keraton (Masjid Agung dan Masjid Lama Palembang).

Lantas dari mana nama pempek berasal, jika nama aslinya asalah kelesan? Ternyata, nama pempek berasal dari sebutan pembeli kepada penjual kelesan. "Empek adalah sebutan bagi orang China yang menjajakan kelesan. Para pembeli yang biasa membeli kelesan, dan rata-rata anak muda. sering memanggil penjual kelesan dengan kalimat, 'Pek, empek, mampir sini!'," cerita Andi. Akhirnya panggilan pempek lebih populer dari kelesan dan nama pempek bertahan sampai saat ini.

Penamaan makana tradisional seperti pempek, lakso, laksan, tekwan, burgo, celimpungan dan lain sebagainya tidak terkait dengan sejarah yang ada di kota Palembang ini, seperti penamaan "nasi minyak" yang lebih di kenal di kota ini ketimbang dengan nasi kebuli, nasi briyani, atau jenis nasi dari timur tengah lainnya.

Nasi minyak adalah masakan khas Sumatra Selatan berupa olahan nasi yang dimasak dengan minyak samin dan rempah-rempah khas Nusantara dan Timur-Tengah. Sekilas nasi minyak terlihat seperti nasi kebuli, hal ini dikarenakan nasi minyak merupakan masakan Palembang yang memang mendapat pengaruh dari Timur-Tengah tempat nasi kebuli itu berasal. Nasi minyak biasanya disajikan bersama pelbagai pelengkap, seperti daging malbi, sate pentol, ayam goreng, acar ketimun, kismis dan sambal nanas.

Begitu juga ragit yang merupakan asimilasi dari masakan timur tengah dan melayu, makanan seperti jala yang di kasih dengan kuah kari

Begitu juga tekwan yang berdasarkan catatan sejarah, tekwan merupakan hasil akulturasi budaya Palembang dan Tionghoa. Pada saat itu orang-orang Tionghoa sudah mulai banyak mendiami dan menetap di Palembang, yang kemudian mereka memperkenalkan makanan yang berbahan dasar ikan salah satunya sup dari olahan ikan . 

Lalu kemudian diadopsi oleh masyarakat kota Palembang untuk membuat makanan tersebut sesuai dengan cita rasa dan lidah masyarakat kota Palembang. Mereka mendambahkan kuah kaldu serupa dengan sup dan menambahkan bumbu khas daerah tersebut. Mengapa sampai dinamakan Tekwan?, ternyata hal ini masih rancu.

Ada yang bilang tekwan itu “berkotek samo kawan”, artinya makan tekwan sambil ngobrol sama teman-teman (seperti yang dikatakan Wikipedia). Lalu ada juga yang mengatakan , “Take One",  yang berasal dari bahasa Inggris yang artinya ambil satu, yang maksudnya di makan satu-satu jangan sekaligus, sama seperti makanan Laksan yang sebagian ada yang menginformasikan asal mula katanya sebagai "Lukcy-Son" atau anak laki-laki yang beruntung. Hal ini justru di rasa tidak benar di karenakan :
  1. Inggris hanya 3 tahun bercokol di Palembang dan berakhir pada tahun 1816 kekuasaan Inggris di kembalikan kepada hindia Belanda,  sedangkan makanan ini sudah ada melebih dari tahun kekuasaan Inggris.
  2. dan mungkin juga kata-kata ini hanya kata-kata "Guyonan" masyarakat Palembang pada masa kini.
  3. Dasar sejarah yang tidak ada menyatakan atas penamaan tersebut.
Seperti makanan Lakso yang jika di lihat dari susunan kata-katanya merupakan serapan dari bahasa Hokkian yang terdiri dari Lak = 6 dan Sa = 2, yang oleh orang Palembang sendiri di sebut dengan Lakso, begitu juga Lak San atau Bur Go ataupun tekwan sendiri. Sama seperti penyerapan kata-kata pada Bakso, bakmi, fuyunghai, kwetiaw. Meskipun di sini digunakan istilah bahasa Tionghoa, namun saya maksudkan tidak hanya Mandarin, namun juga untuk bahasa-bahasa daerah seperti bahasa Kanton, Hokkien, Hakka, dan lain-lain. Kosakata kuliner Tionghoa juga menunjukkan perjalanan sejarah dan budaya masyarakat Indonesia hidup berdampingan orang-orang Tionghoa. walaupun untuk penelusuran yang mendalam admin sendiri memiliki keterbatasan informasi dan literatur yang bisa menjadi dasar dari tulisan ini.

Sebenarnya masih sangat banyak sejarah yang perluh di ungkap atas berpengaruh dari penyerapan kosa kata-kata asing yang saat ini  ada di Nusantara khususnya kota Palembang ini, tinggal mau atau tidaknya kita demi pelurusan sejarah di kota ini.

Refrensi :
https://entrepreneur.bisnis.com/
https://www.kompasiana.com/
https://travel.kompas.com/
http://poestahadepok.blogspot.com/

22 Mei 2019

Jejak Jembatan "Lengkung" Belanda di Sumatera Selatan

Jembatan Ogan Kertapati Palembang
Jembatan ogan atau jembatan kertapati yang menjadi salah satu ikon kota Palembang sebagai benda bersejarah peninggalan Belanda, dimana memiliki rancangan yang unik dan khas, seperti di Sumatera Selatan Sendiri jembatan yang mirip dengan jembatan ogan ini ada di beberapa tempat dengan konstruksi dan bentuk yang sama seperti di Baturaja, OKU Induk yang terkenal dengan Jembatan ogannya dan di kawasan Lais, Sekayu jembatan yang membentang di atas sungai batanghari leko yang sering di sebut dengan jembatan Teluk Rotterdam.

Untuk kelancaran transportasi ke berbagai daerah di Sumatera Selatan saat itu pihak Belanda membangun jembatan-jembatan seperti jembatan yang tersebut di atas. Yang membedakan dengan jembatan ogan yang ada di kertapati adalah jumlah lengkungannya ada 2 buah sedangkan yang di Sekayu ataupun Baturaja lengkungannya hanya ada 1 buah.

Jembatan Ogan Baturaja

Jembatan yang membentang di Sungai Ogan Baturaja Oku Induk
Jembatan Ogan Baturaja ini menghubungkan wilayah yang ada disekitar Pasar Lama kearah wilayah sekitar Taman Kota Baturaja. Kehadiran jembatan Ogan I ini memang sudah ada pada Zaman Belanda, jadi memang sudah cukup tua namun masih cukup kokoh. Dahulu lalu lintas kendaraan di jembatan ini bisa dari dua arah yang berlawanan, tetapi sekarang ini tidak bisa lagi, hanya bisa dilalui dari arah Pasar Atas.

Karena dahulunya hanya jembatan Ogan Baturaja inilah yang menjadi akses jalan darat untuk menyeberang. Jalan yang ada diatas Jembatan Ogan ini termasuk Jalan Jenderal Ahmad Yani.Perubahan warna pada cat Jembatan ini sudah beberapa kali dilakukan renovasi dan perawatan dan terakhir kali warna yang di poles seperti gambar yang dimuat diatas,yaitu berwarna merah.

Jembatan Teluk I 
Jembatan Teluk Sekayu
Jembatan Teluk I atau yang disebut Jembatan Teluk Rotterdam merupakan jembatan yang melintasi sungai Batang Hari Leko, terletak di desa Teluk Kecamatan Lais Musi Banyuasin tepatnya tidak beberapa jauh dari jembatan Teluk II.

Entah kenapa jembatan di sekayu ini di namakan jembatan teluk rotterdam apakah peralatan yang dulu di pakai saat membangun menggunakan peralatan dari Rotterdam, Belanda atau juga walau secara bentuk jembatan teluk I mirip dengan motif jembatan yang ada di Rotterdam Belanda yaitu jembatan Van Brienenoord Bridge yang di resmikan tahun 1990 lebih muda di bandingkan dengan jembatan teluk I yang di bangun di era tahun 1930-an.

Jembatan yang panjangnya sekitar 140 Meter dengan lebar 4 Meter tersebut sejak sekitar tahun 2007 sudah tidak digunakan sebagai jembatan utama karena jembatan pengganti telah selesai dibangun. Jembatan yang sangat bersejarah ini kondisinya sudah sangat memprihatinkan karena sudah tidak dilakukan perawatan, pada bagian tengah jembatan sudah banyak lobang-lobang akibat endapan air, padahal jembatan ini merupakan salah satu tujuan wisata yang ada di Kecamatan Lais Musi Banyuasin. Hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya warga khususnya para pemuda-pemudi yang berkumpul di jembatan tersebut disaat liburan sekolah ataupun akhir pekan.

Hal Yang Unik Dari Jembatan Ini

Para remaja duduk di atas jembatan ogan kertapati

Sore hari di Jembatan Teluk Foto : Facebook
Jembatan yang rata-rata memiliki ketinggian sekitar 10 meter dari aspal dasar jembatan atau sekitar 30 meter dari sungai. menjadi unik karena banyak remaja yang menaiki lengkungan jembatan tersebut, baik itu di jembatan ogan Kertapati, jembatan teluk Sekayu ataupun jembatan ogan di Baturaja. Terutama di sore hari pada bulan Puasa sambil menunggu berbuka puasa.

Remaja Yang menaiki Jembatan
Ogan Baturaja
Foto : pasangmata.com
Mungkin karena di anggap tidak terlalu tinggi menjadikan tempat ini sebagai uji nyali, untuk naik ke atas lengkungan jembatan tersebut di butuhkan nyali yang cukup besar, karena kalau mental yang kurang berani bisa-bisa di setengah jalan kaki sudah tidak bisa bergerak dan yang celakanya lagi kalau terjatuh ke aspal atau masuk ke dalam sungai. Tetapi selama ini belum pernah terdengan kejadian anak remaja yang terjatuh dari atas lengkungan jembatan ini, baik yang di liput media massa atau elektronik.

Refrensi :
http://anangtamhar.blogspot.com/
https://situsbudaya.id/
Google

18 Mei 2019

Banyu Ledeng Palembang

Pengerjaan Pengolahan Air Minum 1925 Foto : Troppen Museum
Kantor Pelayanan PDAM 3 Ilir saat ini yang lebih di kenal
dengan nama penyaringan 
Perusahaan Air Bersih Kota Palembang di dirikan pada tahun 1929 oleh pemerintah Kolonial Belanda yang berlokasi di 3 ilir Palembang dengan nama Palembang Water Leading. Pendirian instalasi I selesai pada tahun 1933, setelah Indonesia merdeka perusahaan diambil alih oleh kota madya Palembang Seksi Teknik Air Bersih Dinas Pekerjaan Umum kota madya Palembang. Berdasarkan surat keputusan Walikota Madya Palembang pada tanggal 21 Agustus 1963 perusahaan Air Bersih tersebut menjadi perusahaan Air Bersih yang melaksanakan produksi dan administrasi. Pada tahun 1976 statusnya berubah menjadi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Musi berdasarkan Perda Kota madya Daerah Tingkat II Palembang Nomor: 1/Perda/Huk/1976 tanggal 3 April 1976 dan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sumatera Selatan Nomor: 20/KPTS/IV/1976 tanggal 11 Juni 1976. (Sumber : tirtamusi.com)

Tidak berbeda dengan pembangunan menara air yang ada di pusat kota atau yang lebih di kenal dengan nama wattertoren/ kantor leideng, Bangunan Kantor Ledeng sendiri memiliki beberapa tingkatan dimana tingkat pertama sejak jaman Belanda telah digunakan sebagai pusat pemerintahan Gemeente Palembang dan tingkat paling atas digunakan sebagai tempat penampungan air bersih atau ledeng untuk semua warga yang tinggal di Palembang saat itu terutama warga Belanda yang tinggal di sekitar Jalan Tasik saat ini dan Dempo yang lokasinya memang tak jauh dari menara Kantor Ledeng.
Secara spesifik Menara Air (Kantor Ledeng) memiliki tinggi 35 m dengan kapasitas air yang bisa ditampung mencapai 1.200 (kubik) dan luas menara yang terletak di jalan Merdeka ini adalah 250. Dengan mengandalkan gravitasi pendistribusian air bersih bisa menjangkau permukiman kolonial saat itu.

Perlahan, istilah waterleiding yang masih dipakai pada zaman Sukarnoc-pun berganti sebagai PAM (singkatan dari Perusahaan Air Minum).  Namun, istilah "air ledeng" masih ada dan bersanding dengan PAM. Orang-orang di Palembang sendiri menyebutnya sebagai  banyu ledeng (air ledeng). 

Bak Pengolahan Air Minum 1925 Foto : Troppen Museum

17 Mei 2019

De Javasche Bank Palembang

Kantor De Javasche Bank Palembang 1915-1925 Foto : Troppen Museum

Pegawai kantor De Javasche Bank Palembang 1915-1925
Foto : Troppen Museum
Kantor Bank Indonesia Palembang didirikan tanggal 20 September 1909 merupakan kantor cabang (Agentschap) ke-16 dari De Javasche Bank. Gagasan Pendirian timbul ketika Direjtur E.A. Zeilinga Azn melakukan perjalanan dinas ke kantor cabang Padang.

Ketika memasuki Kota Palembang, E.A.Zeilinga Azn melihat kenyataan bahwa kota ini merupakan kota yang ramai dengan aktivitas perdagangan serta kekayaan hasil tambang berupa minyak bumi. Sampai di Batavia hal tersebut dilaporkan kepada Direksi De Javasche Bank dan kemudian diputuskan membuka dengan resmi Kantor De Javasche Bank tanggal 20 September 1909. Pemimpin pertama adalah B.J Schadd (1909-1910).

Tulisan : Bi.go.id

15 Mei 2019

SMA Xaverius 1 Palembang

SMA Xaverius 1 Palembang era tahun 1951-1970 an
Foto : wongkitogaloe
1951-1961: Masa Kelahiran & Pengukiran Prestasi

Tepatnya tanggal 15 Juli 1951, setelah enam tahun bekerja di Palembang, seorang frater kelahiran Zieuwent, Belanda, L.F.J. Nienhuis mendirikan sekolah yang diberi nama SMA Xaverius. SMU Xaverius 1 yang sekarang memang berawal dari nama SMA Xaverius, didirikan dengan satu tujuan Pro Ecclesia et Patria (Demi Gereja dan Negara/Tanah Air). Proses pendidikan diselenggarakan berdasarkan konsep Pendidikan Nasional Pancasila. Atas hal tersebut SMU Xaverius 1 berasaskan agama Katolik (Tri-Pancawarsa SMA Xaverius, 1966:27)“Pada waktu itu terlalu banyak sekolah yang mesti diurus oleh Yayasan Xaverius, sedangkan tenaga tidak cukup. Syukurlah dalam banyak hal kami mendapat bantuan dari Kantor Inspeksi yang waktu itu dipimpin oleh Bapak Reni dan Bapak Sitohang. Dan Karena Fr. Plechelmo dan saya juga mengajar pada SMA dan SGA Negeri, maka ini memungkinkan adanya tenaga-tenaga guru negeri yang mengajar di sekolah kita. Namun tanpa adanya kesediaan Fr. Plechelmo untuk mengajar sebagian besar dari pelajaran Ilmu Pasti, saya kira SMA tidak bisa berdiri pada tahun 1951. Selain itu kami mendapat restu dari Bapak Uskup Mgr. Mekkelholt almarhum dan dari pimpinan para frater kami memperoleh izin untuk memulainya,”kenangL.F.J.Nienhuisalias Frater Monfort (25 Tahun SMA Xaverius 1 Palembang, 1976: 23). “Dalam bulan Juni 1951 ‘Keluarga Xaverius’ digembirakan dengan kelahiran seorang ‘anak’ baru yang diberikan nama kecil ‘SMA’, sedangkan nama keluarga tetap ‘Xaverius’. Walaupun ‘kelahiran’ itu sudah agak lama dicita-citakan dan direncanakan, perisiwa itu terjadi dengan cukup susah payah. Tempat tinggal sebenarnya belum ada, guru tetap belum ada, murid-murid cuma sedikit, bahkan buku-buku pun untuk SMA hampir tidak ada pada waktu itu. Namun demikian ada harapan juga bahwa ‘anak kecil’ itu dapat hidup dan berkembang, pertama, karena kelahirannya memenuhi suatu keinginan dan kebutuhan masyarakat, dan kedua, karena ‘anak’ itu lahir dalam suatu keluarga baik dan teratur, yang pasti akan berusaha sekuat tenaga untuk memajukannya,” tulis Mgr. J.H. Soudant SCJ (Op. cit., halaman 19).Yayasan Xaverius kemudian mengambil pertanggungjawaban terhadap sekolah tersebut dengan tidak melihat bahwa sekolah yang baru ini akan mengalami perkembangan yang hebat serta adanya kesulitan-kesulitan yang akan dialaminya sehubungan dengan berdirinya sekolah baru ini (Op. cit., halaman 23) Tujuan utama didirikannya sekolah tersebut adalah Pro Ecclisia et Patria (Demi Gereja dan Tanah Air), dalam arti untuk menampung putra-putri Indonesia beragama Katolik yang ingin melanjutkan pendidikannya ke SLTA. Hal tersebut bukan berarti SMA Xaverius tertutup bagi putra-putri Indonesia yang lain, melainkan tetap terbuka bagi seluruh orang tua yang mempercayakan putra-putrinya mendapatkan didikan di SMA Xaverius.Lokasi penyelenggaraan sekolah pada mulanya di sebuah gedung yang terletak di Jalan Talang Jawa Lama No. 4, di belakang Gereja Hati Kudus Lama (sekarang Kompleks Pastoran). Pada mulanya baru satu kelas.

“Demi sekolah baru ini juga, Pastor Gisbergen telah mengorbankan sebagian tempatnya untuk keperluan SMA. Prasarana yang kurang baik dari sekolah ini dapat diimbangi dengan adanya iklim yang baik dan kerjasama yang erat antara staf pengajar dan para siswa,” tulis kepala sekolah pertama SMA Xaverius dalam Kata Sambutan (Ibid.)Memang, jawaban untuk siapa pendiri SMA Xaverius , Frater L. F. J. Nienhuis bukanlah satu-satunya biarawan yang mendirikan, tetapi juga berkat kerja keras dan ide dari Pastor Wilhelmus Lorentius Cornelius Boeren yang menjadi pimpinan Yayasan Xaverius (Yayasan Xaverius berdiri sejak 05 Mei 1930, sesuai dengan bunyi akta notaris Christian Mathius menyebutkan : “Berlakunya badan hukum tersebut sejak tanggal 12 Juli 1929”.Mengapa dipilih nama Xaverius?Nilai-nilai yang mendasari pemilihan nama seorang Santo Pelindung, Fransiskus Xaverius, sebagai nama sekolah yang didirikan lebih didasarkan pada sisi yang mewarnai pribadinya selama ia berkarya sebagai misionaris sepanjang hidupnya. Santo Fransiskus Xaverius memiliki sikap dan karakter sebagai berikut:1. kedisiplinan, kegigihan, dan kecermatan, yang merupakan dasar umum suatu keberhasilan pendidikan;2. keteraturan dan pengawasan (evaluasi) ketat, yang lebih menjamin tercapainya keberhasilan pendidikan;3. metode humanis dalam proses yang mengarah pada pencapaian tujuan pendidikan “menjadikan manusia intelektual dan terpelajar yang bermoral dan humanis, memiliki kepekaan sosial yang tinggi dan bijaksana”.

Di sisi lain Fransiskus Xaverius memiliki motto “In te Domine, speravi non confundar in aeternum” (“Pada-Mu Tuhan, aku berlindung. Jangan sekali-kali aku mendapat malu”).Siapa yang mempunyai andil berjuang dalam memajukan SMA Xaverius ? Yang turut andil berjuang memajukan SMA Xaverius ada tiga komponen yaitu, pertama Yayasan Xaverius, kedua Pemerintah, dan ketiga masyarakat. Tentu saja yang dimaksud dengan keikutsertaan Yayasan memajukan SMA Xaverius di sini tidak hanya staf Yayasan Xaverius, tetapi para direktur SMA Xaverius, staf tata usaha dan secara khusus adalah bapak-ibu guru yang terjun secara langsung dengan sabar, tekun, dan bekerja keras dalam membimbing, mendidik, dan mengajar siswa-siswinya.Dalam perkembangan berikutnya lokasi sekolah berpindah dari yang semula berada di Jalan Talang Jawa Lama No. 4, ke gedung sendiri yang dibangun di daerah rawa. “Pengganti saya (J.H. Soudant-Red.)kemudian membangun gedung yang sekarang masih ada, suatu lembaga bagi anak-anak yang penuh bakat untuk menjadi manusia yang berguna bagi bangsa dan tanah air,” lanjut tulisan Frater Monfort (Ibid.) Lokasi gedung itu kemudian terkenal dengan nama Jalan Bangau 60, Palembang hingga sekarang. Perpindahan tempat belajar itu terjadi dalam pertengahan tahun ajaran 1952/1953.

Kondisi bangunan SMA Xaverius 1 Palembang Saat ini
Foto : http://www.smaxaverius1.sch.id
“Kondisi lingkungan saat itu belum seperti sekarang. Jalan menuju ke sekolah pun masih jalan setapak dan rumah permanen yang ada di sekitar waktu itu baru sampai daerah Rambang. Lorong Pagar Alam (sekarang Jalan Mayor Ruslan) sampai ke sekolah dan yang lain masih rawa,” kata Drs. F.S. Bandiman menceritakan sejarah sekolah secara singkat.Waktu itu kondisi masyarakat dan pemerintah belum seperti sekarang. Maka, untuk keperluan kegiatan belajar-mengajar pun masih banyak kekurangan sarana, termasuk kapur tulis. Salah seorang sumber mengatakan bahwa untuk memenuhi kebutuhan kapur pun Pastor J.H. Soudant SCJ harus memesan kiriman dari Negeri Kincir Angin, Belanda.Jumlah murid pada masa Frater L. F. J. Nienhuis yang memimpin ada sebanyak 32 siswa.

Mereka yang terdaftar sebagai murid perdana tersebut adalah :1. Charlotte Marie Sleebas2. Pieter Tan3. Norbertus Aloysius da Graca 4. David Eduardus Tif5. Johan Muda Siahaan6. Partomuan Siahaan7. Frans Tamba8. Zainal Abidin9. Max Karundeng10. Willy Karundeng11. R. Abdurrachman12. Ong Ek Wie13. Davy Hutabarat14. Picie Liem15. Sjaiful Azhar16. Salahat17. Soedjono18. Halimah Madian19. Ronald Hoop20. Noerhajati21. R. Machmud Badaruddin22. Talina Rivai23. A. Firdaus24. Sofian25. Suseno26. Subroto27. Dentiria Dawana Hutabarat28. Sindik Hutabarat29. Jenny Maro30. Fati Rusmiati31. Lucia Lim32. Agus KeruKetiga puluh dua orang siswa-siswi itu diasuh oleh: 1) L. F. J. Nienhuis (merangkap kepala sekolah);2) J. B. Dierselhuis;3) W. G. Lap;4) Rasjid;5) Sumartono;6) Tjioe Tjeng Hok;7) Toruan;8) Wentholt;9) Liefvoort H.V.D.;10) Bambang Utomo;11) J. H. Soudant.Berkat kerja sama yang erat antara pemerintah dengan Yayasan Xaverius maka tanggal 01 Juli 1952 SMA Xaverius mendapat subsidi dari pemerintah khususnya dari Menteri Pengajaran dan Kebudayaan. “Pada tahun yang kedua tiba-tiba tanpa disangka-sangka datanglah inspeksi dari Jakarta dan sekolah mendapat subsidi sehingga keuangannya menjadi lebih baik,” tutur Frater Montfort. (Ibid.).

Tahun 1953, Frater L. F. J. Nienhuis meninggalkan Palembang karena mendapat tugas baru di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur, untuk menjadi direktur SGA. Untuk menggantikan beliau dipilihlah seorang pastor kelahiran Heer, Belanda, 30 Maret 1922 bernama Joseph Hubertus Soudant, SCJ. Pastor ini memimpin SMA Xaverius tahun 1953 – 1956. Waktu itu beliau merangkap menjadi kepala sekolah SMEA Xaverius yang didirikan oleh Yayasan Xaverius, tanggal 1 September 1953. Dalam perkembangannya, SMEA Xaverius akhirnya dilebur ke dalam SMA Xaverius, tepatnya tanggal 1 Agustus 1955. Seluruh murid SMEA tersebut dimasukkan ke SMA bagian C. Oleh karena itu, mulai saat itu SMA Xaverius mempunyai dua jurusan, yaitu Bagian B (sekarang IPA) dan Bagian C (sekarang IPS). Bersamaan dengan peleburan SMEA Xaverius ke dalam SMA Xaverius, Yayasan Xaverius mendirikan SGA Xaverius dipimpin oleh Sr. M. Helena dan Bapak Sudarmadi. Tahun 1970 SGA tersebut ditutup.Di di sisi lain, untuk mewujudkan tujuan pendirian Yayasan Xaverius: “Mengembangkan cinta kepada sesama dan pendidikan”, maka pihak Yayasan menunjuk Pastor J. H. Soudant yang sudah berpengalaman di bidang pendidikan diberi tugas untuk memimpin anak-anak asrama di Asrama Rumah Yusuf, di Baturaja yang sudah berdiri sejak tahun 1948. Dengan demikian Pastor J. H. Soudant harus meninggalkan SMA Xaverius untuk mengemban tugas barunya.

“Sekolah ini (SMA Xaverius) dimulai oleh kaum rohaniwan, yang selama 10 tahun memegang pimpinan. Tetapi sesudah itu pimpinan diserahkan kepada kaum awam, dan rasanya hasil pekerjaan mereka boleh dibanggakan. Hasil yang baik itu hanya mungkin, karena mereka bekerja dengan semangat dan dedikasi besar, dengan rasa tanggung jawab terhadap murid dan orang tua mereka, serta terhadap masyarakat pada umumnya. Sebenarnya ini hal biasa: seharusnya begitulah, karena setiap orang yang jujur dan menghargai diri seharusnya menjunjung tinggi profesinya dan berusaha sekuat tenaga untuk mencapai hasil semaksimal mungkin,” tulis Pastor J.H. Soudant SCJ (Op. cit., halaman 17) Dalam perkembangan sejarah pribadi, Pastor J.H. Soudant, SCJ kemudian mulai 29 Juni 1961 menjabat sebagai Uskup Agung Palembang. Monsinyur Soudant, demikianlah nama yang akrab di hati umat, akhirnya kembali ke negeri Belanda, juga sebagai imam, setelah demikian lama mendampingi umat di Palembang dan Sumatera Selatan. SMA Xaverius kemudian dipimpin oleh pastor lain, kelahiran Den Haag, Belanda, 11 Juli 1917 bernama Johanes Jacobus Maria Goeman SCJ.

Pemilihan Pastor J. J. M. Goeman SCJ sebagai Kepala Sekolah SMA Xaverius bukannya tanpa dasar. Pertimbangan historisnya, beliau telah berpengalaman sebagai rohaniwan di Palembang (tahun 1948-1951), Lahat dan Tanjung Enim (1949-1950), di Jakarta (1950-1951), bahkan pernah mendidik dan mengajar di SMA Kolese de Britto dan SMA St. Thomas di Yogyakarta (Juli 1952 – Agustus 1954). Selama Pastur J. J. M. Goeman SCJ. menjadi pimpinan SMA Xaverius tahun 1956-1961 banyak keberhasilan yang telah dicapai antara lain :1. Atas bimbingannya, para murid berhasil mendirikan wadah persatuan pelajar, tepatnya Kamis, 29 November 1956 dengan nama Ikatan Pelajar SMA Xaverius , yang kemudian bernama Perhimpunan Pelajar Sekolah Katolik (PPSK) SMA Xaverius 1 yang dalam perkembangannya menjadi OSIS/PPSK SMA Xaverius 1. Sekarang, sesuai dengan perubahan nama SMA menjadi SMU, nama berganti menjadi OSIS /PPSK SMU Xaverius 1.2.

Pendirian sebuah wadah untuk menampung gagasan kreativitas siswa secara tertulis, maka lahirlah GITA PELAJAR, terbit pertama bulan Januari 1957, dan setiap bulan sekali terbit. Dalam perkembangannya, media komunikasi siswa tersebut mengalami perubahan masa terbit. Sekarang hanya terbit empat kali per tahun. Di sisi lain majalah tersebut kemudian berganti nama menjadi GITA hingga sekarang.3. Disetujui gagasan para siswa untuk menetapkan lambang perhimpunan pelajar sekolah. Lalu diadakanlah sayembara merancang lambang tersebut. F.X. Mulyadi (sekarang sudah almarhum) keluar sebagai pemenangnya.

Karya cipta F.X. Mulyadi ini akhirnya menyejarah sebagai lambang OSIS/PPSK SMU Xaverius 1. Bahkan, makna lambang menjadi meluas, tak sekadar di SMU Xaverius 1 sebab sekarang dipakai juga oleh SMU Xaverius 3, 4, dan SMK Xaverius. (Baca: Obituari F.X. Mulyadi)4. SMA Xaverius berhasil membuka Bagian A, 1 Agustus 1959.5. Langkah demi langkah tergores dalam sejarah. Akhirnya tahun 1959, SMA Xaverius mempunyai tiga jurusan: Bagian A, B, dan C (sekarang jurusan IPA, IPS, dan Bahasa). Tugas Pastor J.J.M. Goeman SCJ sebagai kepala sekolah -waktu itu populer dengan istilah direktur-SMA Xaverius berakhir tanggal 30 November 1961. Kemudian beliau mendapatkan tugas sebagai Rektor Seminari St. Paulus sekaligus Rektor SMU Xaverius.

Sebagai gambaran, siswa (sekarang alumni) yang memilih jurusan Bagian A angkatan pertama antara lain :1. Arpan Zainuri, S.H. (Palembang)2. Drs. Blasius Mohammad. (pernah mengajar setahun, 1971, di SMA Xaverius)3. M. Amin Asari, B.A. (Kepala Kampung 9 Ilir)4. Frans Sutarno, S.H. (terkahir di Departemen Agama Palembang, almarhum)5. F. Penny Effendy, B.A. (guru PMP/PPKn pada SMU Xaverius 1, pensiun, sekarang menjadi Pengurus Harian YayasanKusuma Bangsa)6. F.X. Sucipto Rewa, B.A. (Wakil Kepala Sekolah SMA Negeri Muara Enim)7. Alfonsus Purbono Dewo, B.A. (guru Bahasa Indonesia di Lampung)Dalam kata sambutan Tripancawarsa SMA Xaverius (1966: 25) Pastor J.J.M. Goeman antara lain menulis, “Rasa syukur kepada Tuhan bahwa berkat segala kebaikan itu, selama lima belas tahun sekolah kita dapat melaksanakan tugasnya yang luhur, dan memenuhi cita-cita kebangsaan yang diharapkan, mendidik dan membimbing tunas-tunas muda Pancasilais sejati, yang mengabdi kepada Tuhan, Nusa, dan Bangsa.”

Sumber tulisan : http://www.smaxaverius1.sch.id

12 Mei 2019

Rumah Sakit Pelabuhan Saat Ini


Rumah Sakit Pelabuhan Palembang (RSP) Palembang terus berbenah untuk memberikan layanan terbaik bagi masyarakat. Salah satu upaya tersebut adalah dengan menaikkan standar layanan menjadi rumah sakit Kelas C dengan fasilitas yang akan di tambah yaitu seperti dengan membuka layanan hemodialisa, pengadaan CT Scan, ESWL, C-Arm, Endoskopi, Fluoroskopi, Panoramic, dan alat-alat canggih lainnya.

11 Mei 2019

Mobilan Bambu & Kaleng Oli Esso

Mobil Bambu Foto : Google
Bagi yang pernah merasakan masa kecil era 80 & 90 an pasti mengenal apa yang namanya  mobil bambu, mobil sederhana yang di buat dari potongan bilah bambu yang di ikat menggunakan karet gelang, untuk ban nya sendiri menggunakan karet potongan sendal jepit yang sudah tidak terpakai, sedangkan hiasan di tengahnya di gunakan lah kaleng oli esso, atau kaleng susu anak atau juga kaleng bekas obat semprot nyamuk.

Kalau malam hari bisa di pasang lilin di dalam kaleng tersebut sehingga sorot lilin yang redup cukup menambah keceriaan bermain pada malam tersebut.

Oli Lawas spesialis untuk Vespa
Foto ; Google
Dengan menggunakan barang bekas yang sudah tidak terpakai, dulu mainan ini di buat sendiri secara beramai-ramai dengan teman-teman. dengan memanfaatkan potongan-potongan bilah bambu yang sudah di  di haluskan dan di bagi menjadi beberapa bagian, masing-masing bagian nanti di ikat dengan karet gelang, untuk bagian depan yang juga berfungsi sebagai pendorong di buat dari bilah bambu yang agak panjang untuk bagian slongsong roda biasa kami gunakan bekas pipa listrik atau pipa air, untuk rodanya sendiri menggunakan dari sandal karet bekas yang sudah tidak terpakai, satu lagi biar mobilan kita tambah menarik penampilannya adalah menggunakan karpet bekas yang di buat untuk karpet penahan percikan air.

kalau sudah selesai membuatnya biasanya kita bermain beramai-ramai karena di situlah letak keseruan di dalam permainan tempo dulu ini.

Permainan tempo dulu sangat jarang sekali yang namanya "membeli" karena memang saat itu untuk membeli mainan saja uangnya tidak ada, jalan satu-satunya adalah dengan mengasah sedikit bakat trampil.

10 Mei 2019

Warna-Warni Palembang Tempo Dulu

Pasar Lingkis / Pasar Cinde Tahun 1960-an
Jalan Tengkuruk Tahun 1950-an
De Javasche Bank, kemudian menjadi Bank Indonesia, Palembang 1955..
Majestic Bioskop (Pasar Raya JM ) Tahun 1955
Kapal Marie / Kapal Roda lambung di sungai musi 1900

Jembatan Ogan Kertapati Tahun 1950
Kantor Ledeng 

Gereja Siloam di Kambang Iwak Besak Tahun 1935
Hasil melakukan pemulasan warna hitam putih terhadap beberapa foto palembang tempo dulu

09 Mei 2019

Roma Motor Palembang

Roma motor Palembang

Bagi anak vespa siapa yang tidak kenal dengan " Roma Motor" salah satu toko sparepart dan bengkel vespa yang terkenal sejak era 1970-an, bagi pengemudi vespa bengkel ini merupakan salah satu pilihan untuk melakukan perbaikan ataupun sekedar service ringan pada tunggangannya.

Ko Aming , merupakan pemilik dari bengkel, di dalam bengkel ini pun banyak tersimpan vespa-vespa lawas dari berbagai jenis varian, begitu juga sparepart dan aksesoris lawas banyak tersedia di sini, jika di tanya kepada anak vespa Palembang tentang toko sparepart atau variasi yang paling lengkap pasti akan menunjuk ke roma motor ini, tetapi untuk harga harus merogoh kocek agak dalam karena harga yang di patok agak kurang bersahabat mungkin sesuai dengan kwalitas yang di tawarkan.

Pada tahun 2000-an anak Vespa Palembang jika mencari aksesoris yang unik pasti akan mencari ke roma motor ini, karena di bengkel ini banyak menyimpan saparepat ataupun aksesorin vespa keluaran tahun lawas yang menjadi incaran bagi kolektor ataupun scotteris yang membutuhkannya, apalagi saat itu model belanja online belum menjadi trend seperti saat ini.

Adalagi yang menjadi "brand mark" di bengkel ini adalah motor vespa super berwarna orange yang ada tulisan " Awas Ada Anjing !!!", dimana tulisan itu pernah admin sudah cukup lama nempel di vespa orange tersebut. Sehingga kalau berkunjung ke bengkel ini sering menjadi bahan candaan.

Banyak yang sudah datang mencoba menawar motor vespa yang ada di dalam bengkelnya ini tetapi semua pulang dengan tangan hampa entah tidak di jual atau memang harga yang begitu fantastis.

Pada tahun 2015 kegiatan di bengkel ini mulai sepi dan lebih banyak di tutup, hal ini juga di sebabkan karena persaingan bengkel yang semakin ramai, padahal roma motor ini juga mulai bermain di ranah motor Jepang, dari knalpot, ban dan sparepart lainnya yang mulai tampak terpajang di bengkelnya ini  yang mulai menggeser "space" dari sparepart vespa yang ada di bengkel tersebut. apalagi di tahun 2019 ini roma motor Palembang sudah tidak terdengan lagi gaung nya karena lebih banyak tutupnya ketimbang adanya kegiatan di bengkel tersebut.

Koh Aming pemilik Roma Motor Palembang

Bengkel Roma Motor di era tahun 1989 

Bengkel yang pernah berjaya pada zamannya

Tempat service di bagian dalam dekat tangga naik



Foto : Ig Piaggiopalembang

08 Mei 2019

Perkembang Dealer & Bengkel Vespa "Lawas" Di Palembang

Bengkel Vespa di kawasan Jl. Veteran ( Sumatera Motor ) era tahun 1970-an
Foto : Ig Piaggiopalembang

Vespa masuk ke Indonesia pada tahun 1960 melalui ATPM (Agen Tunggal Pemegang Merk) PT Danmotors Vespa Indonesia/DVI di Pulo Gadung Jakarta yang sekarang sudah tidak aktif lagi (sekarang dipegang oleh PT Sentra Kreasi Niaga/SKN sebagai dealer utama saja. Note: Bukan importir atau distributor eksklusif).

Sumatera motor saat ini
Foto  : Ig Piaggiopalembang
Walaupun pada sebelumnya vespa pada tahun 1950 sudah juga masuk ke Indonesia melalui jalur pemuka agama kristiani (Pastor) yang di tugaskan di penjuru Indonesia termasuk di Palembang, hal ini di buktikan masih banyak beredarnya vespa lansiran era 50-an yang masih mengaspal di kota Palembang ini.

Vespa saat itu mempunyai prestise yang sangat tinggi, terbukti dengan harga vespa saat itu setara dengan harga sebuah rumah tipe standar. Seiring dengan penetrasi Honda ke pasar dunia yang turut menggoyahkan berbagai merk motor, Indonesia ternyata tidak luput dari fenomena tersebut. Vespa menjadi salah satu merk sepeda motor yang ‘tergusur’ oleh motor Jepang, meski pada awalnya harga vespa Sprint saat itu bahkan sedikit lebih mahal daripada motor Honda CB 200 Twin Cakram yang saat itu merupakan motor Honda paling mahal.

Di Palembang sendiri pada era tahun 1960 s.d 1980-an  banyak dealer dealer vespa yang berdiri di kota ini yang mulai menjual produk vespa yang sangat variatif, seperti yang ada di kawasan sudirman yaitu Cahaya Motor yang cukup di kenal di kota ini sebagai salah satu dealer vespa dengan stiker C dan obornya, atau di kawasan Plaju dan juga di daerah 7 ulu juga terdapat dealer vespa selain berfungsi sebagai sentra penjualan dan sekaligus berfungsi sebagai bengkel service motor vespa dan pengadaan sparepart. Termasuk salah satunya di kawasan Jl. Veteran yaitu sumatra motor  dan roma motor juga merupakan bengkel dan dealer motor vespa yang ada di kota ini. 

dealer resmi vespa palembang exs Cahaya
 Motor yg skrg masih aktif walau hanya
menjual sparepart original vespa saja
Foto : Google
Walaupun sejak tahun  tahun 1985-an produk vespa yang melansir vespa exclusive dan exel , tidak mampu lagi bersaing dengan kekuatan motor Jepang yang makin banyak dan murah, kemudian image motor vespa pun turut menurun di karenakan banyaknya detail obat yang memakai motor ini sehingga orang melihat vespa ini sebagai "Motor detail obat", sehingga pada tahun 2004 merupakan masa suram dari dealer vespa yang ada di Palembang yang  menyebabkan sepinya pembeli dan penurunan omzet di setiap dealer sehingga satu persatu dealer tersebut tutup, bisa di sebut Cahaya motor merupakan dealer yang paling akhir mengakhiri usahanya sebagai dealer vespa di Palembang, dan pada 2005 beralih usaha menjadi bengkel vespa dengan nama Ampera Motor di Jl. Kebon  jahe atau di belakang trijasa yang belakangan ini hanya menjual suku cadang dari vespa saja.

Walaupun pada saat ini tahun 1996 Vespa sendiri sudah mengluarkan inovasi produk baru yaitu ET2/ET4  yang di harapkan bisa bersaing dengan produk Jepang yang sudah merajai pasaran kendaraan roda 2 yanga ada di kota Palembang, tetapi kendala di masyarakat adalah mahalnya  harga produk vespa matic ini .

Tapi motor lawas yang bermesin kanan ini memiliki tempat di hati setiap penggemarnya, tak heran jika uang bukan masalah bagi sang pemilik yang sudah terlanjur menekuni hobi dengan barang klasik yang satu ini, walau barang lawas tapi untuk perjalanan jarak jauh vespa masih tetap di atas, sudah banyak berita kalau vespa bisa melakukan  keliling Indonesia bahkan keliling dunia.

Untuk saat ini dealer vespa yang ada di Palembang terletak di Jl, AKBP Cek Agus (Golf) yaitu Piaggio Union Motor yang menjual motor vespa yang sudah menganut sistem matic.

Adapun bengkel yang menangai vespa lawas selain ampera motor, banyak di lakoni oleh anak-anak club yang memiliki kecintaan dengan vespa, seperti bengkel mas udin di Lr. Jambu yang merupakan anak vespa KBS (King's Blues Scooter), atau di kawasan Jl Basuki rahmat ada toyo motor spesialis las karbit untuk bodi motor vespa sama seperti di jalan masuk cinde, atau ada juga di samping flyover polda samping gedung penanaman modal daerah, atau di kawasan pajko ada bengkel vespa yang di gawangi oleh anak SOG Palembang, masih ada juga di jalan radial tepat di seberang transmart dan beberapa tempat lainnya di Palembang.

Untuk sparepart di Palembang sendiri sudah sangat susah mencari yang ori yang keluaran PT. Dan Motor, yang ada di pasaran paling-paling merk ricambi, Fitalia, Vesgio, buana motor dan lain-lain, sehingga itulah anak vespa biasanya mencari secara online untuk kebutuhan sparepart yang berkualitas baik.  Di Palembang sendiri untuk sparepart sendiri bisa di cari di Roma motor walaupun harga selangit, atau bisa di cari di sumatra motor, jakarta motor di kawasan ex Ciniplex pasar cinde, atau jayakarta motor di prumnas kenten, atau bisa di cari di penjual sparepart motor di jl. Jenderal Sudirman.

06 Mei 2019

Kereta Kencana di Kesultanan Palembang

Oleh: Pengamat Sejarah Kota Palembang, Kms.H. Andi Syarifuddin

Sebagaimana lazimnya adat istiadat tradisi yang telah berlaku di seluruh kerajaan di tanah air, bahkan dunia, sudah barang tentu memiliki serta memanfaatkan kuda dan keretanya sebagai alat transportasi tradisional tempo doeloe yang sangat penting dan menjadi andalan. Termasuk pula di Keraton Kesultanan Palembang.

Kuda merupakan binatang yang biasa dipelihara orang baik sebagai tunggangan, angkutan, atau penarik kendaraan dan sebagainya. Dengan berkuda semua urusan menjadi mudah dan ringan.

Kuda adalah salah satu dari puluhan spesies modern mamalia. Hewan ini sudah lama menjadi binatang peliharaan yang penting secara ekonomis dan historis, serta telah memegang peranan penting dalam pengangkutan orang dan barang selama ribuan tahun. Banyak sekali jenis-jenis kuda di belahan dunia, di antaranya: Kuda Arab, kuda Belgia, kuda Amerika, kuda Andalusia, kuda Zebra, kuda Asia, kuda Poni dan lainnya. Di indonesia juga dikenal beberapa jenis kuda yang memiliki postur rata-rata tingginya 1 – 1,35 meter, misalnya: kuda Sumbawa, kuda Flores, kuda Timor, kuda Lombok, kuda Bali, kuda Sumba, kuda Batak, kuda Sumatera dan lain-lain.

Singkatnya, kuda memainkan peran dan andil yang luas dalam kebudayaan manusia. Dalam berbagai kebudayaan, kuda dianggap sebagai simbol kebebasan, kecerdasan dan kekuatan, telah menjadi legenda dunia. Bahkan Rasulullah Saw pun sangat piawai mengendarai kuda, terutama disaat peperangan, beliau Saw menjadi panglima dan berada di barisan terdepan memimpin pasukan berkuda.

BP/IST Poto:
Sebuah lukisan yang menggambarkan keberangkatan Sultan Mahmud Badaruddin II bersama puteranya diasingkan ke Ternate pada tahun 1821, terlihat jelas Sultan Palembang dihantar menaiki kereta kuda yang kemudian dinaikkan ke kapal. Kereta kencana yang ditarik setidaknya oleh 2 ekor kuda atau lebih.

Hampir seluruh kerajaan atau keraton di Nusantara menggunakan kuda dan keretanya sebagai alat transportasi dan kendaraan perlengkapan pasukan perang. Termasuk juga Kesultanan Palembang. Dalam arsip catatan-catatan lama dan beberapa litetatur disebutkan tentang keberadaan kuda ini di Palembang.

Menurut pengamatan seorang orientalis Inggeris, W. Marsden (1771) yang pernah mengunjungi Palembang pada waktu itu, dalam buku “The History of Sumatra” menyatakan:

‘Kuda Sumatera memiliki perawakan kecil, tapi memiliki postur yang bagus dan kuat. Malahan penduduk pedalaman membawa hewan ini untuk dijual dalam keadaan setengah liar.’

Dimasa awal Kesultanan Palembang, di era Keraton Kuto Gawang Palembang Lamo, keberadaan kuda sudah ada. Menurut sejarahnya, dikatakan kuda Palembang ini berasal dari Arab (kuda Arab) sebagai hadiah. Dalam buku “Penemuan Hari Jadi Kota Palembang” (1972), diceritakan:

“Ketika Raja Palembang akan melangsungkan pernikahan cucu perempuannya dengan seorang Pangeran Jambi dalam tahun 1624, Palembang mendapatkan hadiah istimewa yang telah dijanjikan berupa seekor kuda Arab pilihan yang berusia sekitar 3 atau 4 tahun. Kuda tersebut didatangkan langsung dari tanah Arab, berlayar sekian lama mengarungi lautan melalui Gujarat dengan kapal milik seorang Senopati. Kuda Arab tersebut akhirnya tiba di Palembang dengan selamat”

Memang, kuda Arab dikenal salah satu jenis ras kuda unggulan yang berasal dari daerah Arab. Karena posturnya yang tinggi, ketahanan tubuh prima, kecerdasannya dan lincah, maka kuda Arab yang istimewa ini dipakai juga untuk berperang, selain dipelihara orang untuk berbagai keperluan.

Selain itu, menurut Djohan Hanafiah dalam bukunya “Kuto Besak”, pada tahun 1639 Gubernur Jenderal Hindia Belanda ada pula menghadiahkan kepada Raja Palembang waktu itu seekor kuda Persia (Arab).

Selanjutnya di era Keraton Beringin Janggut (1660-1737), dalam naskah Palembang, terdapat kereta kencana yang bernama Denayu Kencana, yang diambil dari nama cucu Sultan Suhunan Abdurrahman Candi Walang, yakni Puteri Denayu Kencana binti Pangeran Adipati bin Sultan Abdurrahaman Candi Walang.

Sedangkan di era Keraton Kuto Besak (1780-1823) terdapat pasukan berkuda yang terlatih. Menurut laporan Mayor William Thorn, seorang serdadu Kerajaan Inggris yang ikut dalam ekspedisi ke Palembang pada tahun 1812, dalam bukunya “Penaklukan Pulau Jawa”, ia melaporkan bahwa ketika pasukan Inggeris berhasil menduduki keraton Kesultanan Palembang, banyak sekali menyita dan merampas persenjataan di keraton Palembang, di antaranya senjata pasukan berkuda kesultanan di barat daya sungai sebanyak 23 pucuk senjata. Dari informasi ini, kita dapat mengetahui jumlah pasukan berkuda Kesultanan Palembang Darussalam setidaknya berjumlah 23 ekor kuda.

Pasukan berkuda dilatih khusus oleh Sultan Mahmud Badaruddin di lapangan belakang BKB di bagian arah barat daya. Di lokasi ini pula sebagai tempat pemeliharaan kuda serta istal-istalnya. Keraton Palembang memiliki pula sebuah kereta kencana. Selain perahu atau kapal yang sering digunakan sebagai sarana transfortasi sungai (laut), di daratan Sultan diantar dengan menggunakan kereta kencana untuk bepergian dan melakukan kegiatan-kegiatan kenegaraan.

Kereta Kencana merupakan kereta pusaka yang berharga bagi setiap keraton atau kerajaan (kencana = emas), sebagaimana adat tradisi keraton di Nusantara yang sudah terkenal, seperti kereta kencana keraton Jawa di Yogyakarta, atapun kereta kencana ‘Bugi’ kereta kencana Kerajaan Melayu Medan di awal abad ke-19.

Dalam sebuah lukisan yang menggambarkan keberangkatan Sultan Mahmud Badaruddin bersama puteranya diasingkan ke Ternate pada tahun 1821, terlihat jelas Sultan Palembang dihantar menaiki kereta kuda yang kemudian dinaikkan ke kapal. Kereta kencana yang ditarik setidaknya oleh 2 ekor kuda atau lebih.

BP/IST
Sado, Kereta Kuda di Palembang Tempo Dulu

Memang, kendati tipikal tanah daratan di Palembang dikelilingi banyak aliran sungai dan rawa-rawa waktu itu. Tercatat lebih dari 100 anak Sungai Musi mengalir di Kota Palembang. Kondisi alam ini membuat Palembang menjadi kota di atas pulau-pulau kecil yang dipisahkan oleh anak-anak sungai. Dan sebagai salah satu alat transportasi air pada saat itu adalah perahu atau kapal. Namun meskipun demikian, akses jalan-jalan darat yang menghubungkan antar kampung-kampung juga ada dan tersambung. Bahkan salah satu jalan yang terletak di pinggir Sungai Tengkuruk dapat dilalui hingga ke daerah-daerah. Setiap sungai mempunyai jembatan penghubung yang dapat dilalui kereta kuda dan lainnya. Lagi pula Keraton Palembang mempunyai alun-alun yang sangat luas dimana sebuah Masjid Agung dengan megah berdiri di atasnya

Terakhir, dimasa kolonial, kereta kencana Kesultanan Palembang disimpan di rumah Pangeran Bupati Astra Diningrat Pangeran Jaksa di Guguk Kepandean 18 ilir. Pada momen-momen tertentu kereta ini masih digunakan. Namun sayangnya rumah limas milik Pangeran Jaksa ini sekarang sudah tidak ada lagi, dan kereta kencananyapun gaib entah kemana, wallahu a’lam. Sedangkan sarana umum angkutan kereta kuda atau disebut ‘sado’ di Kota Palembang masih terlihat. Setelah jaman kemerdekaan, jenis angkutan sado inipun tidak terlihat lagi.

Karena sangat berarti dan monumentalnya kuda Palembang ini, sehingga pemerintahan Belanda mengabadikannya dengan membuat patung Kuda Liar dari perunggu dengan kedua kakinya ke atas, dipancangkan di tengah-tengah bagian muka rumah Residen dalam tahun 1834 (kini Museum SMB ll). Patung kuda liar ini seakan-akan mengisyaratkan simbol Kesultanan Palembang yang sulit dijinakkan dan dikendalikan. Sejak tahun 1930-an patung kuda liar ini tidak ada lagi.

Menurut RHM. Akib (RHAMA), rumah Residen tersebut dibangun Belanda di atas lokasi bekas Istana Keraton Tengkuruk, dan di halaman belakangnya terdapat istal-istal atau kandang kuda.

Sekarang ini, Pemerintah Kota Palembang menyediakan kembali kereta kuda yang dulu pernah ada sebagai sarana wisata, dan hal ini tentunya patut kita sambut dan diapresiasi dengan baik.

Sumber : Berita pagi
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...