CANTUMKAN SUMBERNYA JIKA MENGGUNAKAN GAMBAR ATAU ARTIKEL DARI BLOG INI - HORMATI HAK CIPTA ORANG LAIN. MOHON MAAF....BLOG INI LAGI MENGALAMI GANGGUAN SAAT MIGRASI DARI HTTP KE HTPPS, SEBAGIAN GAMBAR MENJADI TIDAK BISA MUNCUL.

26 April 2019

Ziarah Kubro Hari Ke-1 Tahun 1440 H n/ 2019 M





Ziarah Kubro hari pertama ini Perjalanan dimulai dari Masjid Darul Muttaqien di Kuto menuju makam habib Aqil Bin Yahya dan Pemakaman Habib bin Syech Shahab dan berakhir di kawasan Kubah Syahab Jalan M Isa Palembang.

Palembang dalam sketsa, April 2019
Foto By : Palmbang Darusallam

16 April 2019

MATA UANG DPDP ( Dewan Pertahanan Daerah Palembang)



MATA UANG DPDP

Jenis Koleksi                : Numismatika
 1.   Nama Benda         : Mata uang Mandat DPDP
 2.   No. Inventaris        : 06.19.1
 3.   Ukuran                  : Panjang = 14,5 ; Lebar = 7,5
 4.   Nilai nomonal        : Rp. 1000 ( Seribu rupiah/ rupiah Jepang )
 5.   Asal didapat          : Palembang
 6.   Asal dibuat            : Palembang
 7.   Kondisi                 : Rusak
 8.   Tempat benda       : Gudang koleksi
 9.   Bahan                    : Kertas
 10. Deskripsi               :

            Mata uang ini berbentuk empat persegi panjang dengan warna dasar putih dan biru. Pada sisi muka (verso) di empat bagian sudut terdapat petak berisi nilai nominal 1000. sedangkan dibagian tengahnya tertera tulisan Mandat DPDP KAS NEGARA DAERAH PALEMBANG DIPERTINTAHKAN MEMBAYAR KEPADA YANG MEMEGANG MANDAT INI SEHARGA SERIBU RUPIAH (RUPIAH JEPANG). 

Selain itu, disebelah kanan terdapat sebuah DEWAN PERTAHANAN. Pada sisi belakag (recto) dibagian tengah tetera tulisan SERIBU RUPIAH. Sedangkan pada keempat sudutnya terdapat sebuah petak yang berisi nilai nominal 1000.

1. Apa yang dimaksud dengan mata uang Mandat DPDP?

                
Mata uang adalah alat penukar utama yang sah dan menjadi dasar pembayaran dalam kegiatan ekonomi (perdagangan) atau proses jual beli barang. Pada sekitar awal kemerdekaan Republik Indonesia atau revolusi fisik di Sumatera Selatan pernah beredar (berlaku) mata uang lokal antara tahun 1947-1949 dengan nilai nominal 1000 rupiah (rupiah Jepang) yang disebut mata uang DPDP (Dewan Pertahanan Daerah Palembang). Mata uang ini dicetak oleh Percetakan Meru Palembang.


2. Mengapa terjadi kelahiran mata uang Mandat PDPD?

              
Karena pasukan Belanda mengadakan blokade terdapat wilayah Sumatera Selatan, maka pintu keluar masuk untuk kegiatan ekonomi (perdagangan) menjadi tertutup. Pada masa revolusi fisik inilah hubungan antara daerah Sumatera Selatan dengan pemerintah pusat putus. Sehingga kehidupan sosial ekonomi masyarakat menjadi buruk dan kekurangan barang impor yang sebenarnya sangat dibutuhkan. Untuk menanggulangi masalah ini, maka pemerintah di daerah-daerah wilayah Indonesia, seperti yang terjadi di Sumatera Selatan mengadakan pencetakan mata uang sendiri, yang salah satunya adalah mata uang Mandat DPDP dengan nilai nominal 1000 rupiah. Mata uang ini berguna untuk menghidupkan kegiatan ekonomi (perdagangan) di masyarakat. Kejadian tersebut di atas, bersamaan waktunya dengan pergantian mata uang dari mata uang Jepang Dai Nippon Teikoku Seihu dengan mata uang ORI (Oeang Republik Indonesia).

3. Bagaimana situasi dan kondisi masyarakat pada saat beredar atau berlakunya mata uang mandat PDPD ?

Pada akhir pendudukan Jepang dan masa awal kemerdekaan Republik Indonesia keadaan ekonomi sangat kacau. Hiperinflasi menimpa negara RI. Sumber inflasi adalah beredarnya mata uang rupiah Jepang secara tidak terkendali. Jumlah ini kemudian bertambah ketika pasukan sekutu berhasil menduduki kota-kota besar di Indonesia dan menguasai bank-bank. Pemerintah tidak dapat menyatakan mata uang Jepang tidak berlaku. Hal ini deisebabkan negara sendiri belum memiliki mata uang sebagai penggantinya. Kas pemerintah kosong, pajak-pajak dan bea lainnya sangat berkurang, sebaliknya pengeluaran negara semakin bertambah. Untuk sementara waktu kebijaksanaan yang diambil pemerintah adalah mengeluarkan penetapan yang menyatakan berlakunya mata uang sebagai tanda pembayaran yang sah di wilayah RI, yakni ada tiga macam mata uang De Javansche Bank, mata uang pemerintah Hindia Belanda dan mata uang penduduk Jepang.

Sebagai akibat inflasi yang paling menderita adalah petani, karena pada masa pendudukan Jepang, petani adalah produsen yang paling banyak menyimpan dan memiliki mata uang Jepang. Selain itu, situasi keuangan pemerintah yang sulit ini masih ditambah dengan dilakukannya blokade laut oleh Belanda. Blokade ini menutup pintu keluar masuk perdagangan RI. Tindakan blokade ini dimulai pada bulan Nopember tahun 1945. Akibat blokade ini barang –barang dagangan milki pemerintah RI 
tidak dapat diekspor. Sedangkan tujuan blokad Belanda adalah suatu usaha untuk mencekik RI  dengan senjata ekonomi. 

Akibat dari blokade yang terutama diharapkan Belanda adalah timbulnya keadaan sosial ekonomi yang buruk dan kekurangan bahan impor yang sangat dibutuhkan. Selama masa revolusi fisik kehidupan sosial ekonomi di daerah Sumatera Selatan tidak ada bedanya dengan daerah-daerah Indonesia yang lainnya yang mengalami blokade ketat dari Belanda, sehingga usaha-usaha perdagangan tidak memungkinkan adanya perdagangan, maka dengan terpaksa pemerintah RI yang ada di Palembang dipindahkan ke daerah pedalaman, yaitu Lubuklinggau. Rakyat memenuhi kebutuhannya dengan apa adanya. Pada masa itu merupakan kehidupan yang paling gawat bagi penduduk Palembang, sebab badan-badan kelaskaran yang memerlukan beras atau bahan pangan lainnya selalu mencegat dan merampas bahan pangan yang sedianya akan dipasarkan ke kota lewat sungai-sungai yang merupakan jalur lalu lintas utama waktu itu.

4. Dimana wilayah beredarnya mata uang Mandat DPDP?
           

Mata uang Mandat DPDP disebut juga mata uang lokal yang beredar di wilayah daratan Sumatera Selatan meliputi Kotamadia Palembang, kabupaten OKI, OKU, Muaraenim, Lahat dan Musirawas. Karena putusnya hubungan daerah Sumatera Selatan dengan pemerintah pusat, maka diedarkan mata uang Mandat DPDP ini. Pada saat itu pemerintah pusat sebenarnya sudah mempersiapkan pengganti mata uang Jepang Dai Nippon Teikoku yang tidak berlaku lagi dengan mata uang ORI (Oeang Republik Indonesia) yang akan berlaku diseluruh wilayah Indonesia.

        
5. Kapan mata uang Mandat DPDP beredar (berlaku) dan tidak berlaku lagi?

Mata uang Mandat DPDP mulai beredar pada saat daerah Sumatera Selatan putus hubungannya dengan pemerintah pusat, karenablokade Belanda. Untuk sementara waktu daerah Sumatera Selatan mencetak mata uang Mandat DPDP yang dibuat oleh Percetakkan Meru Palembang yang ditanda tangani pada tanggal 1 Agustus 1947. dengan dicetaknya mata uang ini maka secara otomatis Beredar dan berlaku sampai tahub 1949. Setelah terjadi Penyerahan Kedaulatan RI 27 Desember 1949 seluruh wilayah Indonesia bebas blokade Belanda, begitu pula dengan mata uang Mandat DPDP secara otomatis tidak berlaku lagi dan diganti dengan mata uang ORI.

Sumber bukalapak.com

14 April 2019

Percetakan Meru Palembang


Pers Yang Merdeka

Surat kabar Pertja Selatan dicetak percetakan drukkerij Meroe di Seberang Ulu, sekarang Kelurahan 7 Ulu, Palembang. Pertja Selatan seolah terkubur tertimbun berbagai buku sejarah pers negeri ini.

Percetakan Meroe bertahan di tengah terpaan badai penguasa Kolonial Belanda dan pemerintahan Soekarno. Meroe dimatikan pelan-pelan di awal pemerintahan Presiden Soeharto, karena mencetak enam surat kabar yang kritis terhadap Orde Baru.

Pertja Selatan hadir di tengah bangkitnya kesadaran nasionalisme alam kolonial. Ia lahir dan didirikan untuk menyuarakan suara nasionalisme. Begitu catatan penting bekas perwira menengah tentara Mochtar Effendi, yang menghabiskan masa tuanya dengan menulis sejumlah buku, dalam kata pengantar buku Pers Perlawanan: Politik Wacana Antikolonial Pertja Selatan karya Basilius Triharyanto.

Basilius adalah putera kelahiran Ogan Komering Ulu (Sumsel), mendalami sejarah dan jurnalisme di Universitas Atmajaya Yogyakarta. Di akhir kuliahnya ia menulis tentang sejarah pers, kemudian mengais puing-puing sisa lembaran kertas tua di Perpustakaan Nasional untuk menyusuri jejak Pertja Selatan.

Ia membaca lembar demi lembar isi berita yang disajikan Pertja Selatan, koran fenomenal yang justeru mati tenggelam di alam kemerdekaan. Ia mengkaji isi media yang ditampilkan menggunakan metode analisis wacana kritis (CDA, critical discourse analisis) Norman Fairclough.

Basilius bukan saja mampu menggambarkan bagaimana sikap sebuah media massa berhadapan dengan kepentingan penguasa kolonial; Tetapi juga menemukan kesadaran sosial terhadap dominasi penguasa Kolonial Belanda itu.

Pertja Selatan bukan sekadar mampu membangkitkan kesadaran masyarakat yang dijejali suatu sistem, di sisi lain kolonialisme menghancurkan peradaban yang tumbuh alami di dalam kultur lokal. Pertja Selatan mencatat melalui tulisan berita (1926) tentang praktik korupsi yang dilakukan penguasa desa di Tebingtinggi. Dalam buku Jeroen Peeters, sikap koruptif itu terjadi dipicu oleh model pemerintahan yang dibentuk pemerintahan Kolonial Belanda.

Buku Pers Perlawanan tak hanya menampilkan gaya pemberitaan yang kritis, tetapi memunculkan nama-nama wartawan yang mewarnai wajah Pertja Selatan menempatkan diri sebagai oposan terhadap kebijakan penguasa ketika itu.

Basilius masih menyisakan ruang-ruang untuk didiskusikan lebih lebih lanjut. Diskursus hadirnya nama-nama penulis kritis Pertja Selatan, di tingkat kajian individual, menarik untuk dibahas lebih lanjut; Akan lebih spesifik bila menggunakan perspektif sosiologi media model Shoemaker & Reese ketika menyusuri isi media.

Bagi peminat sejarah pers dan kalangan yang tertarik dengan kajian media, tentu saja Pertja Selatan menjadi objek yang menarik untuk diteliti. Terutama dalam konteks pendekatan teori-teori kritis media --pertautan kajian sejarah, ekonomi dan politik-- yang sedang digandrungi mahasiswa komunikasi saat ini.

Paling tidak, buku ini layak dibaca oleh kalangan jurnalis dan wartawan. Memberi gambaran baru tentang latar belakang dan sejarah pers di Indonesia yang selama ini didominasi oleh teks sejarah pers di Pulau Jawa.

Lewat buku ini, penulis mengajak kita memahami kondisi sosial-ekonomi-politik pada suatu periode tertentu. Di bagian lain ada bagian individu tetap skeptik atas realitas sosial yang sedang berlangsung.

Basilius yang menyampaikan pesan, bahwa pada suatu periode tertentu sudah banyak wartawan yang mau bersusah-payah, bahkan menyerahkan seluruh jiwa raganya untuk menjaga dan memperjuangkan sebuah bangsa yang merdeka. Soerat kabar jang merdika.... (Sutrisman Dinah)

Artikel ini telah tayang di sripoku.com dengan judul Pers Yang Merdeka, http://palembang.tribunnews.com/10/02/2010/pers-yang-merdeka.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Tidak jauh berbeda dengan percetakan meru ,  yang sudah eksis  sejak dari zaman kemerdekaan yang sempat melakukan pencetakan "MATA UANG DPDP ( Dewan Pertahanan Daerah Palembang) pada tahun 1947.

Berbeda lagi dengan PD Grafika Meru yang merupakan BUMD kota Palembang yang mencoba  meneruskan usaha di bidang percetakan tersebut, krisis yang di alami oleh BUMD ini salah satunya adanya tidak bisa bersaing dengan percetakan-percetakan lain yang ada di kota Palembang, walaupun pada tahun 2009 mendapat suntikan dana 10, 4 Milyar dari PT. Sriwijaya Sukses Mandiri tetap tidak bisa merubah kondisi membaik sepenuhnya. Hal ini juga di pengharuhi oleh kewajiban-kewajiban yang masih banyak belum di bayar seperti pada 2008, informasi dari koran kalau 25 karyawan PD. Grafika Meru belum gajian selama setahun serta adanya kewajiban-kewajiban lainnya. Sampai saat ini pun masih belum jelas apakah perusahaan yang berdiri pada tahun 1982 sudah di lakukan liquidasi atau di serahkan pengelolaan asetnya ke BUMD lainnya di kota ini.

Palembang dalam sketsa, April 2019

12 April 2019

Pal 5 Palembang Tahun 1970

Pal 5 Tahun 1970 foto : FB Kiagus Muhammad Irfan Zen
Pal 5, seperti itulah kawasan ini di sebut dan sampai saat ini kebiasan masyarakat palembang menyebutnya dengan pal 5, kata-kata Pal berasar dari bahasa Belanda yaitu paal (Latin: palas ’bentuk panjang’), yakni tonggak penanda titik ruas jalan atau luas bidang lahan, seperti terlihat pada sepanjang jalan negara yang menghubungkan satu kota dengan kota lain. Tersurat informasi: sepuluh pal setara dengan 15 kilometer; atau satu pal sama dengan 1.500 meter sesuai ketetapan pemerintah waktu itu. Namun, konversi pal berbeda-beda: di Jawa 1 pal setara dengan 1.507 meter, di Sumatra 1.852 meter. Perbedaan ukuran itu diduga terkait dengan permainan jual-beli tanah seiring dengan berbiaknya perkebunan besar di kedua wilayah tersebut. Pal 5 atau Km 5 ini juga menunjukan bahwa jarak dari titik 0 Palembang yang terletak di air mancur depan Masjid Agung Palembang kurang lebih 5 Km.

Pada era pendudukan Jepang di Palembang pada tahun 1942-1945, kawasan ini merupakan basis pertahanan Jepang di mana dengan adanya bunker pertahanan tentara jepang di jalan AKBP. H Umar, , di mana kawasan ini adalah di anggap yang paling dekat dengan kota Palembang ataupun bandara talang betutu saat itu.

Kawasan Pal 5 saat ini ( 2017 )

Pada saat era 1970-an di mana pemerintah kota Palembang sedang giat-giatnya melakukan pembangunan salah satunya adalah dengan perbaikan dan pelebaran jalan-jalan di dalam kota Palembang yang di lebarkan sampai dengan 8 Meter dengan bantuan langsung dari pihak Pertamina pada saat itu.

Begitu juga kawasan Pal 5 ini juga terkena dari dampak pembangunan tersebut yang awalnya merupakan daerah yang berbatasan langsung dengan kabupaten Musi Banyuasin yang di tandai dengan Gapura, sehingga perluasan wilayah kotamadya Palembang di lakukan pada era 80-90an dengan di tandai di bangunya jalan di kawasan Sukarami, Maskarebet , Kebun bunga dan sebagai jalan induknya yaitu Jalan Sukarno Hatta.


Pada saat itu dukukan transportasi masih sangat terbatas hanya menggunakan bermerek jeep willys, Chevrolet,  Fiat, Austin, Dodge,Fargo, dan lain-lain sebagai penghubung ke tengah kota ataupun kawasan di seputaran pal 5 seperti lebong siarang, sukabangun dan tempat-tempat lainnya, di mana hanya 1-2 kali perhari angkutan ini berangkat ke kota ataupun kembali ke pal 5.

Saat ini kawasan ini sudah sangat maju dan berkembang dengan di dirikan nya pasar Pal 5 membuat jantung perekonomian terus bergerak, kemacetan yang sering terjadi baik pada pagi dan sore hari menjadi salah satu saksi bahwa kawasan ini ikut berperan dalam mengukir sejarah kota ini.

Palembang dalam sketsa, April 2019

10 April 2019

Akhir Perjalanan Bus Kota Sang "Raja Jalanan" Di Palembang

Ticket Bus Kota era 1990-anFoto : FB Armansyah

Pada awal tahun 1990-an Palembang di hebokan dengan mode transportasi baru yang mulai melintas di jalan-jalan protokol kota Palembang, selama ini masyarakat lebih mengenal angkot ( sebagian masyarakat menyebutnya taxi) sebagai angkutan publik, dan juga angkutan pinggiran seperti mobil ketek ataupun becak.

Layout BusKota Foto : Kompasiana
"Bis Kota" itulah sebutan yang paling akrab oleh masyarakat Palembang, angkutan publik yang bisa mengangkut banyak di bandingkan dengan angkot yang ada, untuk jumlah kursi bisa menampung 26 tempat duduk di tambah lagi penumpang yang berdiri. Dengan mengusung mesin Mitsubishi PS 120 membuat angkutan ini bisa berlari dengan gagah di aspal kota Palembang.

Pada awal beroperasinya bus kota ini menjadi primadona sebagai angkutan baru karena selain bisa mengangkut penumpang lebih banyak perjalananpun di rasa lebih cepat dan juga nyaman, Ticket karcis yang awalnya di terapkan hanya bertahan tidak lebih dari 6 bulan sejak di operasikan karena ticket tersebut harus di sediakan oleh pihak pengelolah bus, dalam hal ini pengelolaan bus kota ini di lakukan secara perorangan atau individual bukan dalam bentuk badan usaha.

Tetapi seiring berjalannya waktu tingkat keamanan dan keyamanan bus kota menjadi berubah, banyak kejadian penodongan dan pencopetan di dalam bus kota, atau lagu-lagu remix yang di putar yang memekakakn telinga, begitu juga plat kendaraan yang keropos dan jok kursi yang pada jebol, di tambah lagi sampah dan kepulan asap rokok yang  menjadi polusi tersendiri bagi penumpang yang lain. Admin pun pernah menyaksikan penodongan di atas bus kota dan juga pernah hampir menjadi korban.

Di tambah lagi kadang prilaku sopir yang ugal-ugalan, membuat macet jalan di kota ini, banyak terdengar kabar kalau bus kota menabrak pejalan kaki, penumpang yang terjatuh dari bus, sopir yang mabuk,  ada juga yang menabrak angkutan lainnya, semua itu terangkum di benak penumpang bahwa bus kota merupakan angkutan dalam tanda kutip.

Tahun 2009 pemerintah kota melakukan trobosan untuk pengadaan angkutan yang berbasis BRT ( Bus Rapid Transit ) yaitu Trans Musi, di mana angkutan bus perkotan yang kegiatan transportasi perkotaan ini di kelolah oleh PT Sarana Pembangunan Palembang Jaya (SP2J) melalui unit usaha BRT Trans Musi yang merupakan perusahaan BUMD. Pemerintah kota hanya mengawasi dan menyertakan modalnya dalam bentuk menyerahkan bus bantuan Kementrian Perhubungan kepada SP2J untuk di kelola dan dioperasikan sebagaimana mestinya.

Kemunculan Trans Musi ini juga menjadi saingan yang berat bagi bus kota dengan fasilitas AC, keamanan, pelayanan yang baik dan bus modern saat ini, membuat banyak penumpang beralih ke mode transportasi BRT ini, apa lagi jika dari sisi ongkos BRT jauh lebih murah. Begitu juga sejak di resmikannya LRT  Palembang pada 13 Juli 2018 oleh Bapak Presiden Jokowi, menambah menciutnya penumpang bus kota dari hari ke hari. di tambah juga dengan booming nya taxi berbasis aplikasi online  sejak tahun 2016 yang memang mengandalkan kenyamanan, keamanan dan kecepatan menambah persaingan semakin ketat.

Pada 2018 pertanda kurang baik pada angkutan bus kota ini pun muncul bahwa selama Asian Games Agustus 2018 angkutan masal ini akan di "cuti-kan" selama kegiatan tersebut berlangsung di mana tidak ada yang boleh melintas di jalan protokol, padahal saat itu sekitar 53 bus kota masih bisa beroperasi dengan aktif.

Sehingga pada 1 Januari 2019 terbitlah peraturan walikota (Perwali) untuk melarang pengoperasian bus kota di Palembang, hal ini banyak juga di tentang oleh pemilik bus sehingga ada juga pengemudi yang membandel harus berurusan dengan pihak dishub dan pihak terkait lainnya.

Bis Kota Palembang ( 2008 )
Padahal pemerintah sendiri sudah memberikan signal bahwa bus tersebut masih beroperasi namun dengan syarat harus tergabung dengan badan usaha dan bukan perorangan seperti misalnya bergabung dengan Trans Musi atau badan usaha lainnya, asalkan busnya setara dengan bus pariwisata ataupun Trans Musi, fasilitas AC, bus bagus dan layak operasional.

Atau opsi lain yang di tawarkan pemerintah kota Palembang adalah bus kota yang habis masa trayek tapi masih ingin aktif, pihak pengelolah dapat memperpanjang izin beroperasi, tapi tidak di trayek di jalan kota, tetapi sebagai angkitan antar kota dalam propinsi (AKDP ) atau trayek pinggiran.

Palembang dalam sketsa, April 2019

08 April 2019

Bagian Dalam Gedung Jacobson Van Den Berg

Gedung Jacobson Van Den Berg 2019
Tangga Masuk ke lantai 2


Gedung yang terletak di Palembang untuk pembelian karet dan kopi. Dengan menenmpati gedung di kawasan sekanak tepat beseberangan dengan Sekanak Jetty (BekangDam II/SWJ), yang kala itu menjadi sarana pendukung dalam distribusi barang-barang yang keluar masuk kota Palembang.

Sejarah dan kepopulerannya akhirnya mendorong pemerintah kota Palembang untuk melestarikan gedung Jacobson van den Berg, salah satunya melalui pengembangan kawasan Sekanak Kerihin yang dituangkan dalam Peraturan Walikota No. 16 tahun 2017, yang berisi aturan untuk melindungi berbagai bangunan yang ada diantara Sungai Sekanak dengan jalan Gede Ing Suro, salah satunya yang paling terawat dan populer adalah gedung Jacobson van den Berg.

Admin Sendiri bisa mengabadikan kondisi di dalam gedung ini saat di buka untuk umum saat acara Musi Coffee Culture 2019, di mana yang di pakai hanya lantai 2.

Ubin/Tegel lantai yang tidak berubah

Anak tangga yang tidak terlalu tinggi membawa kita ke lantai 2, di sambut dengan ubin / tegel lama sama seperti foto yang tampak pada foto di dalam kantor saat para pegawai kantor Jacobson Van den Berg & co sedang berkerja (Foto).

Lumayan luas juga untuk lantai 2 gedung Jacobson ini , yang di perguanakan untuk bagian kantor, sedeangkan di bagian bawah gedung ini sepertinya di gunakan untuk gudang komoditi seperi kopi dan karet, dan komoditi lainnya

Tanpak di sudut kanan tanpak seperti penjara dengan ukuran kurang lebih 3X 3 Meter yang merupakan tempat penyimpanan uang dan benda berharga dari gedung ini.

Mudah-mudahan ke depan bisa melihat secara penuh gedung ini yang merupakan salah satu cagar budaya di kota ini.

Lantai 2 gedung Jacobson van den Berg saat di gunakan oleh Musi Coffee Culture 2019, masih menampakan ke asliannya
termasuk flafond, walaupun ada sebagain jendela sudah di tutup dengan beton

Brankas di Gedung Jacobson Van den Berg di kuncinya tertulis "De Haas Rotterdam"
Lantai 2 Gedung Jacobson Van den Berg yang pernah menjadi kantor, 
Foto : Fornews.co saat festival Musi Coffee Culture 2019


Salah satu cagar budaya yang ada di kota Palembang
Video : Sriwijaya.tv

06 April 2019

Musi Coffe Culture 2019

Gerbang Masuk Musi Coffee Culture 2019


Pembukaan Hari Ke 1
Kegiatan yang di adakan di pelataran gedung Jacobson Van Den Berg yang berlangsung selama 2 hari yaitu pada tanggal 5-6 April 2019 , menampilkan kopi khas dari 6 kabupaten yang ada di Sumatera selatan yang merukan penghasil kopi robusta terbesar di Indonesia. 

Bukan hanya pencinta kopi saja, para petani, juga pelaku bisnis yang berkaitan dengan kopi ini turut andil dalam menyukseskan acara ini, stand-stand yang terpasang di sepanjang pelataran  Gedung Jacobson Van Den Berg, banyak kegiatan yang di laksanakan pada Musi Coffe Culture 2019 saat ini seperti pameran kopi sumsel termasuk seminar hulu dan hilir kopi sumsel, tubruk barista competition, lomba foto dan pameran foto tentang kopi.
Salah satu yang uniknya adalah dengan penggunaan lantai 2 dari gedung  Jacobson Van Den Berg yang selama ini sangat jarang di gunakan kecuali ada event-event tertentu seperti heritage walk dan lain-lain, di mana seakan-akan kita di bawa ke konsep tempo dulu dalam menyelami filosofi kopi sumsel.

Acara yang juga di dukung oleh pihak terakit seperti Badan ekonomi kreatif (bekraft), Dinas Pariwisata dan kebudayaan Sumatera Selatan, SCAI Pusat dan beberapa pihak terkait lainnya.

Lomba  Barista Tubruk Coffee Competition 
Foto-Foto peserta lom yang bertema kopi
Di balik stand Musi Coffee Cuture 2019


02 April 2019

Gado-Gado Palembang


Gado-gado (saladnya Indonesia), mungkin untuk kawasan dari 9 ilir sampai ke Dempo merupakan tempat terbanyak untuk penjual gado-gado yang admin rasa lumayan enak. Di dekat parkiran pasar kuto ada yg jual, di dekat lr. Jambu (tempat penjual durian) juga ada (Gado-Gado Tata satu group dengan yg di simpang dempo), di dekat simpang 3 Jl. Alygatmir ( Gado-Gado kang Husen), Di 9 ilir depan penggadaian juga ada (Gado-Gado Salim) dan terakhir di simpang dempo tepat di depan hotel Rio (Gado-Gado Tata). Ada 5 orang yang jualan dengan konsep yang sama.

Gado-Gado Salim 
Entah siapa yang terlebih dahulu menjual gado-gado di kawasan ini, dengan sayuran segarnya, kentalnya bumbu kacang yg menjadi "sauce" nya di tambah dengan lontong yang lumayan mengenyangkan untuk di santap. 

Dengan harga 13 ribu per porsi dan di tambah 1 porsi jika saus kacangnya di pisah, untuk gado-gado ini lumayan bisa bertahan lama jika yang tercampur kuahnya saja bisa tetap enak sampai sore, sedangkan kalau kuah yang di pisah bisa bertahan sampai keesokan hari nya.

Berbeda dengan pecal atau lotek, bahwa gado-gado ini lebih berwarna karena juga ada tahu, kentang dan juga tomat, sedangkan untuk rasa juga pas tidak berlebihan kencur seperti rasa khas pada lotek.

Jika ingin mencoba gado-gado ini lebih baik datang agak awal karena kalau sudah di jam makan siang antrinya lumayan lama, sedangkan sudah agak siang sedikit sudah kehabisan.

31 Maret 2019

Bioskop Rex Palembang Tahun 1940

Bioskop rex  Palembang tahun 1940 kemudian berganti nama menjadi bioskop Rosida  sumber : Isstagram/rozaliyasin_ali

Jalan Sehat Ukhuwah Palembng




Jalan sehat ukhuwa yang di laksanakan oleh salah satu dari pasangan capres, sejak pukul 6 pagi sudah ramai memutihkan kawasan BKB, seluruh simpatisan dan pendukung capres tersebut datang dari berbagai penjuru, pukul 7 perserta jalan santaipun bergerak melintasi jalan Faqih Usman selanjutnya menuju ke Jl. Jenderal Sudirma dan berputar di kawasan cinde dan kembali ke BKB. Ribuan peserta ini rela basah pada saat hujan mengguyur dengan deras dan tetap mengikuti acara sampai selesai.

14 Maret 2019

Penukaran Uang Robek di BI Palembang


Dapat pengalaman baru hari ini yaitu Penukaran uang yang sudah robek di Bank Indonesia Palembang, beberapa hari yang lalu kebetulan melakukan penarikan ATM di salah satu SPBU , saat melakukan penarikan pecahan 100 ribu tersebut keluar dengan aman kecuali yang selembar ini, hanya ada 2/3 nya walaupun kondisi uangnya masih dalam keadaan bagus. 

Setelah kejadian tersebut, saya langsung menuju ke BI yang masih satu arah dari ATM tempat saya mengambil uang. Tidak sampai 5 menit sampailah saya ke BI Palembang di Jl. Jend Sudirman. "Siang.... Pak, mau tanya untuk Penukaran uang yg robek di mana pak? " Tanya ku ke security yg menjaga pos samping BI. 
"Siang Pak, didalam... Tapi Penukaran hanya di lakukan setiap hari Kamis saja" Jawab security
"Bisa lihat uang nya pak? " Tanya security tersbut. 
"Bisa pak" Jawabku sambil menyerahkan lembaran uang robek kepada security tersebut. 
"Ini bisa pak.... Karena masih 2/3... Tapi nanti hari Kamis pagi datangnya" Kata security tersebut sambil melipat-lipat uang robek tersebut yg di ukur dengan uang yg masih bagus. 

Pada hari ini Kamis (13/3) pukul 08:30 saya meluncur ke BI Palembang, setelah parkir kendaraan, saya menuju ke lokasi tempat penukaran uang yang ditunjukan oleh security tadi. Dari parkiran harus berjalan sedikit letaknya berada di basement gedung BI Palembang sebelah kiri. Setelah masuk keruangan Penukaran uang tersebut, maka security tersebut berkata: 
"Kalau hanya 1 lembar sampai 2 brood, bisa langsung saja pak di loket 3 & 4 tidak perlu nomor antri"

Loket penukaran uang BI Palembang
Operasional Penukaran uang baru di lakukan pada pukul 09:00 tepat petugas berseragam coklat dan menggunakan masker langsung menempati loket masing-masing. orang-orang yang mau menukar kan uang sudah antri sejak pukul 8 pagi, kalu di lihat banyak juga dari daerah dan juga pedagang-pedagang yang melakukan transaksi di pasar-pasar. Uang yg lusuh, rusak semuanya di cek satu persatu oleh petugas BI dengan teliti. 

Ada juga uang yang di tolak Penukarannya karena robek melebihi 2/3 uang utuh, atau nomor seri yang hilang dan lain sebagainya, alhamdulilah setelah di ukur uang dan di teliti oleh petugas BI, uang tersebut langsung di ganti dengan yg baru. Tidak sampai 5 menit kok dari sejak loket di buka sampai selesai penukaran.

Di kutip dari :  http://www.hipwee.com/  Kenali dulu seperti apa sih uang yang disebut tidak layak edar. Ternyata terbagi tiga, Rupiah Lusuh, Rupiah yang Sudah Dicabut dari Peredaran, dan Rupiah Rusak   
" Rupiah yang ukuran dan bentuk fisiknya tidak berubah dari ukuran aslinya, tetapi kondisinya telah berubah yang antara lain karena jamur, minyak, bahan kimia, atau coretan. (UU N0.7 Tahun 2011, Pasal 22 Ayat 3)."

Sedangkan uang cacat merupakan uang yang memang sudah cacat dari percetakannya. Kedua tipe uang tidak layak edar ini bisa ditukarkan asal keasliannya masih dapat dikenali.

Rupiah yang dicabut dan ditarik dari peredaran
Uang lama yang sudah tidak berlaku, masih bisa ditukarkan hingga 10 tahun sejak secara resmi ditarik dari peredaran. Sama dengan uang lusuh dan cacat sebelumnya, asalkan masih bisa dikenali keaslian uangnya.

Rupiah Rusak 
Rupiah yang ukuran atau fisiknya telah berubah dari ukuran aslinya yang antara lain karena terbakar, berlubang, hilang sebagian, atau Rupiah yang ukuran fisiknya berbeda dengan ukuran aslinya, antara lain karena robek atau uang yang mengerut. (UU N0.7 Tahun 2011, Pasal 22 Ayat 3).

Khusus untuk Rupiah Rusak, bentuknya minimal masih harus utuh 2/3-nya dan  nomor seri uangnya masih bisa terlihat. 

Penukaran Via Bank Pemerintah Lainnya

Untuk penukaran ke bank pemerintah lainnya seperti Bank Mandiri, Bank BNI, Bank BRI, dan lain-lain yang di lakukan adalah  :

Pertama, teller tersebut mengecek uang sobek di tunjukkan, lalu dia menjelaskan bahwa uang robek tersebut harus memiliki nomer seri utuh yang masih terbaca dengan jelas. 

Untuk di bank pemerintah lainnya, bahwa jika penukaran uang robek tersebut di setujui maka tidak bisa langusung di ganti dengan uang yang baru, melainkan harus di setorkan ke rekening aktif pada bank yang bersangkutan melakukan penukaran uang robek tersebut.

Jadi, jika kita mendapatkan uang kertas yang sobek, langkah-langkah yang dapat kita lakukan jika di tukarkan di bank pemerintah lainnya adalah:
  • Mengecek nomer seri uang tersebut apakah masih utuh atau tidak.
  • Datangi kantor bank milik pemerintah Indonesia terdekat.
  • Mengantri di bagian teller sekaligus mengisi form setoran.
  • Tunjukkan uang robek tersebut kepada teller.
  • Setorkan uang robek tersebut ke nomer rekening pribadi yang masih aktif.
Mungkin sebenarnya banyak orang yang tahu kalau uang lama atau uang rusak bisa ditukarkan di Bank Indonesia, tapi kayaknya baru sedikit deh orang yang mempraktikkannya. Entah karena malas harus jauh-jauh pergi ke bank atau tidak yakin uang ‘rusak’-nya masih berharga dan bisa ditukar. 

Padahal uang tidak layak edar itu emang seharusnya ditukar dengan yang layak edar. Jadi setelah paham ketentuannya, jangan ragu lagi untuk menukarkan uang tidak layak edarmu.

13 Maret 2019

cerita 17 an : lomba perahu bidar di Sumatera Selatan

Puluhan ribu penduduk Palembang dan sekitarnya tumpah ruah ke Sungai Musi untuk menyaksikan perlombaan bidar tahun ini. Jembatan Ampera menjadi tribune-angkasa. Yang ingin menonton lebih dekat menggunakan sampan, motor boat, jukung dll.(Kompas/W)

KOMPAS.com - Momen peringatan HUT RI yang diperingati setiap 17 Agustus menjadi pesta rakyat. Nuansa merah putih ada di mana-mana. Berbagai perlombaan digelar menambah kemeriahan 17-an. Salah satu lomba yang masih dipertahankan dari dulu hingga kini adalah perlombaan Perahu Bidar di Sumatera Selatan. Apa itu Bidar ? Bidar merupakan perahu yang terbuat dari kayu. Di Palembang, Perahu Bidar juga digunakan untuk ajang perlombaan dayung perahu. Perlombaan yang paling besar adalah saat perayaan HUT Kemerdekaan RI. 

 Di Sumatera Selatan ada berbagai jenis perahu bidar, yang paling terkenal ada tiga yaitu: 1. Bidar Kecik (mini) dengan jumlah pendayung 11 orang 2. Bidar Pecalangan (menengah) yang bisa mengangkut lebih dari 35 orang. Perahu ini untuk acara di Sungai Musi dan daerah lain 3. Perahu Bidar yang bisa mengangkut 57-58 orang, digunakan sekali dalam setahun di Sungai Musi saat perayaan HUT RI. Sebuah perahu bidar yang digunakan untuk lomba memiliki panjang sekitar 26 meter (dari haluan ke buritan), lebar 1,37 meter (bagian yang terlebar), dan tinggi sekitar 0,70 meter (bagian yang paling dalam). Bagian jalur atau lunas perahu memiliki ukuran 20 meter dengan lebar 0,09 meter terbuat dari kayu jenis kempas, bungus atau rengas yang merupakan kayu kuat dan tahan terhadap air. 

Pada bagian kerangka perahu yang berbentuk balok-balok melengkung dengan ukuran sekitar 7x15 meter terbuat dari kayu bungus atau rengas. Bagian kerangka untuk memperkuat perahu juga berfungsi sebagai penghubung antara lunas dengan pinggiran atau dinding perahu. Bagian ini terbuat dari kayu merawan dengan ukuran panjang sekitar 26 meter, lebar 0,12 meter, dan tebal 0,03 meter. Perlombaan Bidar di Sungai Musi. Untuk merayakan HUT RI ke 40 masyarakat di pinggir Sungai Musi Palembang mengadakan lomba Bidar. 

Perlombaan Bidar di Sungai Musi. Untuk merayakan HUT RI ke 40 masyarakat di pinggir Sungai Musi Palembang mengadakan lomba Bidar. Bidar adalah perahu kecil yang bisa dikayuh oleh beberapa orang.(KOMPAS/Abadi Tumanggung)
Bidar adalah perahu kecil yang bisa dikayuh oleh beberapa orang.Sepanjang pinggiran bagian dalam perahu (kanan dan kiri) terdapat balok-balok kayu yang biasa disebut buayan. Bagian ini memiliki fungsi sebagai tempat dudukan palangan perahu dengan ukuran panjang 26 meter, lebar 0,5 meter, dan tinggi 0,10 meter. Palangan ini sebagai tempat duduk para pedayung, bentuknya papan selebar 15 centimeter yang dipasang melintang tepat di atas buayan. Pada bagian haluan dan buritan perahu terdapat lantai papan yang terbuat dari kayu merawan dengan ukuran sekitar 70x30 cm. Kayu papan pada bagian haluan digunakan sebagai tempat duduk juru batu (komandan atau pemberi aba-aba), sedangkan kayu papan bagian buritan digunakan sebagai tempat duduk penyibur (orang yang memberi semangat kepada para pedayung dengan jalan menyiburkan dayungnya ke air). 

Tradisi lomba Perahu Bidar Lomba Perahu Bidar tak bisa dilepaskan dari tradisi peringatan ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Meski setiap tahun jumlah peserta lomba terus berkurang, tradisi lomba yang telah dimulai sejak puluhan tahun ini masih dipertahankan. 

Harian Kompas, 25 Agustus 1965, lomba ini merupakan permainan tradisonal yang dilestarikan di Kota Palembang. Pada tahun itu, antusisme penonton yang hadir begitu meriah. Petugas Jembatan Musi membolehkan penonton untuk naik ke atas jembatan dengan memungut biaya Rp 200 per orang.  Sejumlah perahu hias sedang memarken berbagai perhiasan di Sungai Musi, Palembang, Sumatera Selatan, Rabu (17/8/2005). Lomba perahu hias dan perahu bidar tradisional diselenggarakan Pemerintah Kota Palembang untuk memperingati hari ulang tahun (HUT) ke-60 Republik Indonesia.Bidar-bidar yang diawaki sekitar 50-an orang dilepas melalui Kampung Serengam dan finish-nya di Jembatan Ampera. Saat itu, ada 16 bidar ikut bertanding yang pesertanya berasal dari berbagai elemen masyarakat. Tidak hanya menonton, antusiasme masyarakat juga ditunjukkan dengan mengarak bidar tersebut. 

Harian Kompas, 21 Agustus 1980, memberitakan, puluhan motor sungai (motor air) yang mengangkut penonton saling mendahului mengiringi bidar-bidar yang berlomba. Kini, peminat dan antusiasme itu semakin berkurang. Salah satu kendalanya adalah merawat Bidar. Selain membutuhkan biaya tinggi, bahan baku kayunya juga sulit didapatkan. Untuk mendapatkan kayu, masyarakat harus menempuh perjalanan jauh di hutan di kawasan Hulu Sungai Musi. Sementara, untuk membawanya membutuhkan waktu sekitar 2-3 hari.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Cerita "17-an": Lomba Perahu Bidar di Sumatera Selatan", https://regional.kompas.com/read/2018/08/13/17424021/cerita-17-an-lomba-perahu-bidar-di-sumatera-selatan
Penulis : Aswab Nanda Pratama
Editor : Inggried Dwi Wedhaswary

10 Maret 2019

Pedestarian Sudirman, malioboro-nya Palembang

Sama seperti yang ada di kota tua Jakarta

Tempat yang dahulunya hanya trotoar biasa sepanjang 500 meter menjadi primadona warga Palembang, setelah tempat tersebut disulap menjadi spot bersantairia dengan beragam hiburan menarik di dalamnya.

Barongsai
Tampak sepanjang pedestrian diisi dengan berbagai aktivitas kegiatan anak muda.Mulai dari pertunjukan musik tanjidor, tarian dan nanyian lagu-lagu daerah, pertunjukan pantomim, pertunjukan komunitas reftil, dan aktivitas kegiatan anak muda lainnya bakal tersaji setiap malam di akhir pekan.Pedestrian ini keren sekali hampir mirip dengan Orcardnya Singapura. Kalau di Indonesia itu ada di Jogja dengan Jalan Malioboronya. Yang membuat destinasi ini banyak diminati karena murah meriah tanpa harus mengeluarkan biaya alias gratis untuk menikmti beragam hiburan di sana.


Pencinta Reptile
Pocong & suster ngesot pun ikut datang

Berbagai Cosplay


Khotmil Qur'an di pedestarian Sudirman Palembang



Yang membedakan pedrestarian sudirman ini dengan tempat lain selain ada hiburan-hibuan , ada juga kegiatan khotmil Qur'an atau "Palembang Mengaji" Yang diasuh oleh al mukarom K.H. A Nawawi Dencik Al-Hafizh yang diadakan setiap Sabtu malam.

Di harapkan dengan adanya kegiatan khotmil Qur'an bisa mencetak generasi penghafal Qur'an baik hafiz dan hafizah. 
Sebagian dari peserta melakukan murajaah surah dan yang lain menyimak, yang di pandu oleh ustad-ustad yang sudah berkompeten di hapalan al-quran.

Kegiatan ini bekerja sama dengann rumah tahfiz dan juga majelis taklim yang ada di kota Palembang. Selain itu kegiatan ini di isi dengan sholawat dan hadroh.

Pedestrian Sudirman, 09 Maret 2019
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...