Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

Macan Lindungan

Penamaan tempat atau kampung-kampung di Palembang tempo doeloe tentunya sarat akan nilai historis serta memiliki makna sejarah lingkungan tersebut masing-masing. Dalam buku Peringatan Kota Pelembang 1272 tahun dan 50 tahun Kotapraja (Haminte) Palembang oleh RHAMA, 1956, bahwa Kota Palembang didirikan dengan undang-undang kelahirannya yaitu Instellingordonnatie Gemeente Palembang, Staatblad No.126 tanggal 1 April 1906 yang mengatur luas daerahnya, keuangan, hak, kedudukan, kewajiban, Dewan Perwakilan Rakyatnya, penyerahan beberapa kekuasaan, lalu lintas, kesehatan, pengawasan dan penguasaan atas pekuburan umum, dan lain-lain.
Luas kawasan wilayah di Kota Palembang akan semakin nampak batasan-batasannya ketika kita melihat dan membaca peta-peta lama Kota Palembang, di antaranya peta tahun 1917. Dalam peta tersebut nampak sebuah nama kawasan yang tidak asing terdengar di telinga kita yaitu Macan Lindungan.
Di samping itu, berdasarkan catatan arsip lama, dulu kawasan wilayah Macan Lindun…

Pesona Puteri "Yang" dari Muntok Isteri Sultan Palembang

Sebagaimana diketahui, dulu, Pulau Bangka Belitung termasuk dalam bagian wilayah Kesultanan Palembang Darussalam. Sejak timah di Pulau Bangka telah di ketahui sekitar abad ke 17, timah menjadi salahsatu andalan sumber kekayaan bagi kesultanan selain lada. Produksi dan eksploitasi tambang timah mengalami peningkatan yang pesat setelah Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo (SMB l) menggarapnya secara serius dengan mengrekrut dan menambah jumlah tenaga kerja manusia (SDM). Sebagian besar SDM tersebut adalah orang-orang Cina peranakan Siantan dari Kepulauan Natuna-Riau. Jumlah mereka sekitar 1000 orang ditempatkan di Muntok, yang dikenal ahli dalam pertambangan. Komunitas keluarga Cina ini beragama Islam. Setiap kaum prianya bergelar "Abang", sedang perempuannya bergelar "Yang". Puteri Yang ini menjadi salahsatu isteri sultan-sultan Palembang dan mendapat gelar kehormatan 'Masayu Ratu'.
Selain itu, Muntok agaknya merupakan tempat spesial dan mempunyai kenangan…

BUYUT CILIK (CILI) Keramat Guguk Kumpe Berayun

Seorang tokoh kharismatik masa silam yang dikenal oleh masyarakat banyak memiliki karomah, terutama ketika ia telah wafat. Makamnya sering dikunjungi warga.
Nama lengkapnya Kemas Cilik Ibrahim, namun lebih dikenal dengan sebutan Buyut Cili (Cilik/kecil). Ayahnya Pangeran Krama Diraja bin Syekh Kms. Muhammad bin Syekh Kms. Ahmad bin Kms. Abdullah bin Kms. Nuruddin bin Kms. Syahid bin Sunan Kudus. Sedang ibunya bernama Raden Ayu Krama Diraja binti Sultan Mahmud Badaruddin Ternate (SMB ll).
Putera tunggal dari dua bersaudara, adiknya bernama Nyimas Maimunah menikah dengan Pangeran Nato bin Pangeran Kramo Jayo Perdana Menteri.
Sedangkan Kms. Cilik sendiri menikah dengan Masayu Chodijah binti Mgs.H Abdul Choliq dari guguk Kumpe Berayun. Dari pernikahannya ini beliau mempunyai seorang putera yang diberi nama Kms. Jalal Ismail.
Ayahnya, Pangeran Kramo Dirajo, selain ulama ia juga seorang pembesar keraton, pahlawan, Panglima Perang, Komandan Buluwarti sektor ulu BKB, Komandan Benteng Tambakb…

Asal Mula Guguk Talang Ratu

Tipikal keadaan tanah di Palembang setidaknya dikenal dengan 3 sebutan, yaitu: Tanah Endep, Talang, dan Bukit. Tanah endep adalah tempat permukaan tanah yang rendah yang selalu dimasuki air terutama pada waktu air pasang, daerah rendah ini biasa disebut lebak atau rawa-rawa. Talang, ialah tempat yang lebih tinggi dari tanah endep, sulit dimasuki air meskipun hujan sangat lebat. Dengan kondisi tanah yang cukup tinggi, talang sering juga dimanfaatkan untuk saluran penampung air hujan. Oleh karena itu, daerah ini biasanya cocok digunakan sebagai lahan untuk berkebun atau bercocok tanam. Sedangkan Bukit, ialah permukaan tanah yang lebih tinggi lagi dari talang. Di antaranya bukit yang terkenal di Palembang adalah Bukit Siguntang, Bukit Sangkal, dll.
Di Palembang banyak terdapat daerah-daerah atau tempat yang disebut talang, di antaranya: Talang Semut, Talang Keranggo, Talang Jawo, Talang Kelapo, Talang Betutu, Talang Buruk, Talang Jambe, Talang Makrayu, Talang Banten, Talang Ratu, dsb. S…

GUGUK SUNGI BAYAS

Palembang dikenal dengan banyak aliran sungai (sungi), lebih dari 100 anak Sungai Musi mengalir di Kota Palembang. Kondisi alam ini membuat Palembang menjadi kota di atas pulau-pulau kecil yang dipisahkan oleh sungai-sungai kecil. Simpang siur aliran anak-anak sungai yang menghubungkan antar kampung-kampung ini sehingga transportasi laut (sungai) saat itu lebih dominan selain perhubungan di darat. Hal ini pula setidaknya membentuk pembagian wilayah pemukiman penduduk tradisional Kota Palembang yang biasa disebut Guguk.
Kata Guguk berasal dari kata Jawi-Kawi (gugu) yang artinya: diturut, diindahkan. Wilayah pemukiman penduduk kota Palembang di masa kesultanan pada mulanya berpusat kepada keraton. Sedangkan pemukiman asli penduduk saat itu dibentuk menurut sistem struktur masyarakat tradisional setempat. Keseluruhan sistem atau lembaga ini berada dalam satu lingkungan dan lokasi. Sistem inilah dikenal dengan nama guguk (gogok). Setiap guguk biasanya memiliki tugas dan fungsinya masing-…

GUGUK di Palembang

Sebelum nama-nama kampung atau tempat di Pelembang seperti peninggalan sekarang ini di tulis oleh kolonial Belanda dengan nomor-nomor angka, yaitu: 1 ilir, 2 ilir, 3 ilir, 1 ulu, 2 ulu, 3 ulu, dst. Di Pelembang sejak jaman kerihin sudah terdapat nama-nama asli wilayah pemukiman atau kampung yang secara global dan spesifik lingkungan tersebut disebut "guguk".
Kata Guguk berasal dari kosakata Jawi-Kawi (Gugu) yang artinya: diturut, diindahkan. Pada mulanya wilayah pemukiman penduduk Kota Palembang di zaman Kesultanan berpusat kepada Keraton. Sedang pemukiman penduduk saat itu dibentuk menurut sistem struktur masyarakat tradisional setempat. Keseluruhan sistem atau lembaga ini berada dalam satu lingkungan dan lokasi. Sistem ini dikenal dengan nama Guguk (gogok). Setiap Guguk biasanya mempunyai tugas dan fungsinya tersendiri. Paling tidak ada 3 sektor menurut sifatnya, yaitu: Sektor Profesi (kedudukan/jabatan), Usaha, dan Fungsinya. Disetiap wilayah Guguk ini dipimpin oleh pemi…

LAYANGAN PALEMBANG

Ku ambil buluh sebatang Ku potong sama panjang Ku raut dan kutimbang dengan benang Ku jadikan layang-layang ......  Demikianlah sepenggal syair lagu anak-anak yang sangat populer.
Layangan atau layang-layang merupakan salahsatu permainan tradisional masyarakat Palembang sejak doeloe. Jenis-jenis permainan tradisional masyarakat adat Palembang sangatlah banyak dan beragam, di antaranya ialah layangan.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), disebutkan "Layang" bermakna mainan yang terbuat dari kertas berkerangka yang diterbangkan ke udara dengan memakai tali (benang) sebagai kendali.
Permainan tradisional ini diminati oleh semua kalangan, baik anak-anak maupun orang dewasa, dari lapisan masyarakat biasa maupun golongan bangsawan. Di jaman Kesultanan Palembang Darussalam, layangan sudah menjadi pemandangan indah, menghias langit negeri Palembang. Selain sebagai permainan yang mengasyikkan, juga layangan sekaligus sebagai hiburan pelepas penat. Memainkan layangan di tanah l…

Cara Pembuatan Telok Ukan Palembang

Sumber : http://palembang.tribunnews.com/

Telur atau bukan "Telok Ukan" begitulah masyarakat Palembang menyebut makanan khas yang dibuat turun-temurun tersebut. Telok ukan hanya ada di saat memperingati HUT kemerdekaan Republik Indonesia yang bertepatan dengan tanggal 17 Agustus.
Telok ukan merupakan telur yang dimasak dengan cara mengeluarkan isi telur dari cangkangnya kemudian isi telur dikocok dengan beberapa bumbu seperti pandan dan sedikit kapur sirih. Telur yang telah dibumbui tersebut dimasukkan kembali ke dalam cangkang telur dan ditutup dengan kayu gabus.
Setelah itu di rebus selama 30 menit dengan api kecil dan jika sudah dipastikan matang telok ukan bisa langsung disantap dengan nasi ketan. Noni Mariani pembuat telok ukan mengaku telah membuat selama 10 tahun ia mengatakan diajarkan oleh ibunya untuk menjaga makanan khas Palembang jangan sampai nanti makanan tersebut punah.
''Dari 10 tahun lalu diajari oleh mama karena ini makanan khas turun temurun,'…

Cetakan Kue Satu

Cetakan kue satu itu yang sering kami sebut di dalam keluarga. Dimana pada saat kami masih kecil setiap menjelang lebaran kue yang satu ini seperti menjadi hidangan wajib di dalam "gelok" (toples). Saat ibu kami selesai mengadon adonan terigu dan parutan kelapa di tambah dengan gula maka siaplah cetakan ini beraksi. "Cetok... Cetok.....cetok" satu persatu kue mulai terbentuk dan siap di oven, saat itu kami sebagai anak mulai antri untuk membuat kue dengan alat tersebut, yg akhirnya di cetakan yg terakhir baru kita mendapat giliran. 
Rasa kuenya si biasa tapi di balik itu kebersamaan yang buat oleh "cetakan kue satu" sampai sekarang masih melekat walaupun saat ini sang cetakan sudah tidak menjalankan tugasnya lagi.

Mengenang Kerusuhan Mei 1998 di Palembang

Foto : Sriwijaya Post

Sailendra Institution Palembang

Palembang Dulu Gedung Shailendra Dulu tempat ini pada awal pendirian merupakan Hotel dengan nama Hotel 'aman', hotel ini hampir sama umurnya dengan Hotel Sandjaja yang ada di Jalan Kapt A.Rivai. Pada saat itu, hotel tersebut awalnya banyak diisi oleh tentara dan kalangan militer yang memang pada saat itu merupakan awal-awal kemerdekaan dan gejolak di kota ini. Tetapi, sejak tahun 1975 dengan berkembangnya pendidikan di negeri ini, maka tempat inu menjadi lembaga pendidikan dan kursus. Gedung yang didirikan pada tahun 1959 ini sampai sekarang masih berdiri dan konsisten melakukan pengajaran pendidikan.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Tidak menyangka ternyata photo yang pernah saya ambil di pada tahun 2008, di sangka merupakan foto tempo dulu.. pada saat itu kebetulan saya mengambil foto gedung sailendra ini dari simpang 4 dempo sekitar pukul 1 siang, karena selama ini selalu menga…

Masjid Agung SMB II Palembang era 1970-1990- an

Foto google.com

Kantor Ledeng Palembang dari sisi sungai sekanak

Pakaian Songket Wanita Palembang Tempo Dulu

Ada banyak perbedaan pendapat dari para ahli tentang Kain Songket Palembang, dari sekian banyak pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya ada dua pendapat mengenai sejak kapan Kain Songket ada dalam kehidupan masyarakat Palembang, yaitu: Pendapat pertama menyatakan bahwa Kain Songket telah ada di Palembang sejak ratusan tahun silam. Semasa Kerajaan Palembang belum dikenal sebagai sebuah Kesultanan, 1455-1659. Bahkan ada yang berpendapat bahwa kerajinan kain songket telah ada sejak zaman Kerajaan Sriwijaya. Pendapat ini didukung dari motif-motif yang terdapat dalam Kain Songket Palembang yang menggunakan binatang sebagai bagian dari motif. Hal ini dikatakan jelas merupakan peninggalan dari masa sebelum Islam berkembang di Palembang.Pendapat kedua menyatakan bahwa Songket telah ada bersamaan munculnya Kesultanan Darusalam (1659-1823). Berdasarkan catatan sejarah yang berhak dan pantas memakai Songket pada waktu itu adalah para istri dan kerabat keraton. Songket yang dipakai…

Masjid Ki Merogan Kertapati Palembang tahun 1925