CANTUMKAN SUMBERNYA JIKA MENGGUNAKAN GAMBAR ATAU ARTIKEL DARI BLOG INI - HORMATI HAK CIPTA ORANG LAIN.

24 November 2018

Macan Lindungan


Penamaan tempat atau kampung-kampung di Palembang tempo doeloe tentunya sarat akan nilai historis serta memiliki makna sejarah lingkungan tersebut masing-masing. Dalam buku Peringatan Kota Pelembang 1272 tahun dan 50 tahun Kotapraja (Haminte) Palembang oleh RHAMA, 1956, bahwa Kota Palembang didirikan dengan undang-undang kelahirannya yaitu Instellingordonnatie Gemeente Palembang, Staatblad No.126 tanggal 1 April 1906 yang mengatur luas daerahnya, keuangan, hak, kedudukan, kewajiban, Dewan Perwakilan Rakyatnya, penyerahan beberapa kekuasaan, lalu lintas, kesehatan, pengawasan dan penguasaan atas pekuburan umum, dan lain-lain.

Luas kawasan wilayah di Kota Palembang akan semakin nampak batasan-batasannya ketika kita melihat dan membaca peta-peta lama Kota Palembang, di antaranya peta tahun 1917. Dalam peta tersebut nampak sebuah nama kawasan yang tidak asing terdengar di telinga kita yaitu Macan Lindungan.

Di samping itu, berdasarkan catatan arsip lama, dulu kawasan wilayah Macan Lindungan ini sangat luas membentang sejauh ratusan kilo meter meliputi Bukit Lama, Bukit Besar, Bukit Baru hingga Talang Kelapa. Nama guguk Macan Lindungan sudah ada sejak jaman kerihin.

Kondisi agraris kawasan Macan Lindungan tipikal tanahnya termasuk dataran tinggi atau talang. Selain berfungsi sebagai kebon yang memiliki beraneka jenis tanaman seperti pohon Tembesu dan lainnya, juga terdapat berbagai spesies hewan ternak maupun hewan liar seperti macan dan lain-lain merasa dilindungi di kawasan ini.

Menurut informasi laporan Demang RM. Hasir, di Palembang sampai tahun 1917, banyak sekali binatang-binatang yang terdapat di Palembang di antara: rusa, kijang, kancil, napuh, pelanduk, landak, macan, beruang, babi hutan, badak, tenuk, ular, monyet, buaya, ular berbisa dan lainnya. Semua hewan liar tersebut menjadi incaran bagi para pemburu untuk ditangkap. Kebanyakan binatang seperti rusa, kijang, kancil dan pelanduk ditangkap dengan jaring atau jerat terbuat dari rotan, atau sesekali diburu dengan anjing. Ada pula dibunuh dengan tombak atau senapan. Sedang buaya dan ular berbisa habitatnya hidup di rawa-rawa. Untuk membunuh macan atau harimau yang merusak ternak ditangkap dengan perangkap khusus yang disebut belantik. Agaknya keberadaan 'macan' ini perlu mendapat per'lindungan' dari tindakan oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab dari kepunahan. Bahkan gajah, macan dan badak dijual ke luar negeri, dan ditempatkan di area Candi Angsoko untuk selanjutnya diangkut ke luar negeri. Kampung Candi ini dulu banyak ditumbuhi oleh pohon nangka besar.

Di samping itu, masyarakat wong Palembang selain pekerjaannya sebagai tukang dan pengrajin, juga ada yang beternak. Ternak yang dipelihara antara lain: sapi, kerbau, kambing, babi, ayam, itik, angsa dan kuda. Sapi diternak betul-betul oleh warga, lokasinya di sekitar kampung 5 ilir, 8 ilir, 20 ilir, 24 ilir, Talang Kerangga dan Bukit. Kerbau terdapat di Kampung Jawa (20 ilir), Talang Kerangga dan Bukit. Kambing, hampir di setiap kampung ada. Babi hanya diternak oleh orang Cina kebon di kampung 5 ilir, 8 ilir, 17 ilir, 20 ilir, Talang Kerangga dan Bukit. Ayam, itik dan angsa diingon hampir disetiap rumah warga. Sedang kuda sangat sedikit habitatnya.
Demikianlah gambaran keberadaan flora dan fauna masa itu. 

Salahsatu arsip catatan lama yang ditulis dalam aksara Arab-Melayu tentang keterangan nama Macan Lindungan di antaranya ditulis oleh Pangeran Haji Nata Diraja. Pangeran Haji Nata Diraja adalah tokoh priayi Palembang yang pernah menetap di lingkungan wilayah guguk Talang Macan Lindungan. Beliau putera Pangeran Krama Jaya Perdana Menteri, penguasa terakhir Palembang di masa kesultanan. Pangeran Haji Nata Diraja wafat dalam tahun 1896. Dalam catatannya Pangeran Haji Nata Diraja menjelaskan tentang nama dan batas-batas daerah ini sebagai berikut:
"Kebon Macan Lindungan bertapal watas Sungai Segenap, Solok Gajah Mati, Sungai Sahang, Durian Padu, Gandaraya Payung, watas Talang Kelapa terus Kali Musi, Langbidara, Sungai Rambutan, Pulau Salam sampai di Solok Gajah Mati. Apa-apa yang tersebut di dalam itu pohon Tembesu kata punya lain orang tidak boleh seteru ganggu di dalam kebon tersebut."

Kini nama jalan Macan Lindungan yang melintas kawasan Bukit sebagian dirobah menjadi nama lain yakni jalan Parameswara.
wallahu a'lam

Palembang, 18-11-2018
Kms.H. Andi Syarifuddin

Di sadur dari sebuah halaman facebook Ustadz Kms. H Andi Syarifuddin

23 Oktober 2018

Pesona Puteri "Yang" dari Muntok Isteri Sultan Palembang


Sebagaimana diketahui, dulu, Pulau Bangka Belitung termasuk dalam bagian wilayah Kesultanan Palembang Darussalam. Sejak timah di Pulau Bangka telah di ketahui sekitar abad ke 17, timah menjadi salahsatu andalan sumber kekayaan bagi kesultanan selain lada. Produksi dan eksploitasi tambang timah mengalami peningkatan yang pesat setelah Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo (SMB l) menggarapnya secara serius dengan mengrekrut dan menambah jumlah tenaga kerja manusia (SDM). Sebagian besar SDM tersebut adalah orang-orang Cina peranakan Siantan dari Kepulauan Natuna-Riau. Jumlah mereka sekitar 1000 orang ditempatkan di Muntok, yang dikenal ahli dalam pertambangan. Komunitas keluarga Cina ini beragama Islam. Setiap kaum prianya bergelar "Abang", sedang perempuannya bergelar "Yang". Puteri Yang ini menjadi salahsatu isteri sultan-sultan Palembang dan mendapat gelar kehormatan 'Masayu Ratu'.

Selain itu, Muntok agaknya merupakan tempat spesial dan mempunyai kenangan tersendiri bagi Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo. Menurut sejarahnya, baginda sendiri yang memberikan nama untuk tempat tersebut. Waktu itu belum bernama Muntok. Menurut RM Akib, dalam buku Sejarah Melayu Palembang (1929), diceritakan ketika Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo bersama isteri dan pengikutnya kembali dari rihlah ke Siantan menuju Palembang, mereka terlebih dulu singgah di Muntok. Waktu baginda pulang, disebutnya tempat itu "Mantuk", dalam bahasa Palembang asli/bebaso artinya balik atau pulang (Mantuk = Muntok).

Di Pulau Bangka Belitung waktu itu berlaku Undang-Undang Bangka produk yang dirancang dan disusun oleh Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo. Undang-Undang ini sebetulnya mengacu kepada perundangan yang telah dibentuk dan berlaku sebelumnya di zaman Sunan Abdurrahman Candi Walang (1659-1706) dan mertuanya Bupati Nusantara, penguasa Bangka waktu itu. Memang, setelah Sultan Abdurrahman menikah dengan puteri Bupati Nusantara, Pulau Bangka diwarisi oleh anaknya yang menjadi permaisuri Palembang terutama jika ayahnya wafat. Dengan demikian, Bangka menjadi bagian wilayah kesultanan dan takluk kepada Palembang.

Peraturan Undang-Undang Bangka tersebut menetapkan adat istiadat yang berlaku dalam kehidupan sosial masyarakat Bangka yang meliputi semua aspek, termasuklah di antaranya aturan pemerintahan, para pekerja tambang timah, dan perkawinan. Dari 45 perkara yang tercantum dalam perundangan ini, yang menarik dan paling mendapat perhatian serius ialah masalah perkawinan. Dalam salahsatu pasalnya menetapkan bahwa dilarang keras menikahi puteri Muntok bangsa "Yang" kecuali sultan Palembang.

Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo, mempersunting puteri Yang Zamiah (Lim Ban Nio) binti Datuk Dalem Abdul Jabar (Lim Piauw Kin) bin Datuk Nandam Abdul Hayat (Lim Tauw Kian) dalam tahun 1715. Begitu pula selanjutnya dengan sultan-sultan Palembang lainnya.

Nampaknya, pesona puteri "Yang" begitu memikat, memiliki karisma dan keistimewaan tersendiri, di antaranya:
- Peranakan Cina muslim asal Siantan, Kepulauan Natuna Riau.
- Zuriat bangsawan/ningrat Melayu.
- Ahli dalam bidang pertambangan timah.
- Membantu perjuangan Sultan Palembang.
- Mendapat gelar kehormatan 'Masayu Ratu'.
- Hingga akhir hayatnya jasadnya dimakamkan bersanding bersama Sultan. 

Adapun Sultan-Sultan Palembang beristerikan puteri "Yang", yaitu:
1. Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo (1724-1757), menikah dengan puteri Yang Zamiah Masayu Ratu binti Datuk Dalem Abdul Jabar bin Datuk Nandam. Menikah tahun 1715, melahirkan putera-puteri: Raden Ayu Jendul, Pangeran Arya Rustam, Pangeran Adipati Banjar Kutama Raden Pelet, RA Fatimah, dan RA Aisyah.

2. Sultan Ahmad Najamuddin Adi Kesumo (1757-1776), menikah dengan Yang Mariam Masayu Ratu. Juga memiliki keturunan.

3. Sultan Muhammad Bahauddin (1776-1804), menikah dengan Yang Pipah Masayu Ratu Dalem binti Abang Ismail Temenggung Karto Menggalo.

4. Sultan Mahmud Badaruddin ll (1804-1821), menikah dengan Yang Mas Irah Masayu Ratu Ilir binti Abang Haji Abdullah bin Temenggung Karto Menggalo. Melahirkan: Pangeran Prabu Menggala Umar, Pangeran Prabu Diwangsa Zen, RA Azizah, Raden Masyhur, RA Maryam, Pangeran Idrus, RA Cik, Pangeran Prabu Nata Menggala Alwi, dan RA Alawiyah.

5. Sultan Husin Dhiauddin (w.1825), menikah dengan Masayu Ratu Yang, juga memiliki keturunan.

Pernah terjadi satu kasus yang dialami oleh Pangeran Syarif Muhammad di masa SMB II. Dalam naskah diceritakan, Pangeran Syarif Muhammad yang merasa termasuk bagian dari keluarga kesultanan, rupa-rupanya terpesona akan kemolekan puteri pembesar Muntok bernama Yang Amanda, dan dengan secara diam-diam menikahinya. Setelah beritanya tersebar, 'perkawinan terlarang' ini kemudian diceraikan oleh SMB ll, isterinya di bawa ke Palembang, sedang ia melarikan diri ke Semenanjung Malaya (Kedah-Malaka) karena melanggar adat istiadat dan aturan perjanjian dalam Undang-Undang Bangka tersebut.
Wallahu a'lam

Palembang, 14/10/2018
Kms.H. Andi Syarifuddin

Di sadur dari sebuah halaman facebook Ustadz Kms.H. Andi Syarifuddin

14 Oktober 2018

BUYUT CILIK (CILI) Keramat Guguk Kumpe Berayun

Seorang tokoh kharismatik masa silam yang dikenal oleh masyarakat banyak memiliki karomah, terutama ketika ia telah wafat. Makamnya sering dikunjungi warga.

Nama lengkapnya Kemas Cilik Ibrahim, namun lebih dikenal dengan sebutan Buyut Cili (Cilik/kecil). Ayahnya Pangeran Krama Diraja bin Syekh Kms. Muhammad bin Syekh Kms. Ahmad bin Kms. Abdullah bin Kms. Nuruddin bin Kms. Syahid bin Sunan Kudus.
Sedang ibunya bernama Raden Ayu Krama Diraja binti Sultan Mahmud Badaruddin Ternate (SMB ll).

Putera tunggal dari dua bersaudara, adiknya bernama Nyimas Maimunah menikah dengan Pangeran Nato bin Pangeran Kramo Jayo Perdana Menteri.

Sedangkan Kms. Cilik sendiri menikah dengan Masayu Chodijah binti Mgs.H Abdul Choliq dari guguk Kumpe Berayun. Dari pernikahannya ini beliau mempunyai seorang putera yang diberi nama Kms. Jalal Ismail.

Ayahnya, Pangeran Kramo Dirajo, selain ulama ia juga seorang pembesar keraton, pahlawan, Panglima Perang, Komandan Buluwarti sektor ulu BKB, Komandan Benteng Tambakbaya di Sungai Komering Plaju dengan memegang sejata pusaka Meriam Sri Palembang, Komandan Benteng Pulau Manguntama, Juru bicara (jubir) sekaligus menantu SMB II. Makamnya terletak di ungkonan Gubah Talang Keranggo.

Pun kedua kakek dari sebelah orang tuanya masing-masing, merupakan orang-orang hebat pula. Kakek dari sebelah ayahnya, adalah Syekh Kms. Muhammad (w.1837) bin Kms. Ahmad seorang tokoh ulama besar di Kesultanan Palembang Darussalam, mursyid Tarekat Sammaniyah dan guru utama sekaligus mertua SMB II. Makamnya juga di Talang Keranggo. Sedangkan kakek dari pihak sebelah ibunya adalah Sri Sultan Mahmud Badaruddin bin Sultan Muhammad Bahauddin, Sultan Palembang Darussalam (memerintah: 1803-1821). Dengan demikian beliau adalah cucu SMB II.

Buyut Cili wafat dan dimakamkan di guguk Kumpe Berayun jalan Pulo Palembang. Makamnya ini terletak di atas pulau kecil, sebab daerah tanah wilayah lingkungannya dikelilingi cabang Sungai Kemenduran yang bertemu dengan Sungai Sekanak. Oleh karena itu disebut dengan Pulo (pulau). 

Sedangkan penamaan guguk Kumpe Berayun, Kumpe adalah tumbuhan enceng gondok, sejenis tanaman air yang memenuhi permukaan air seakan berayun-berayun di sungai.

Lingkungan guguk ini berada di belakang Keraton Kuto Besak (BKB) di bagian arah Barat Daya. Di lokasi ini dulu sebagai tempat pemeliharaan kuda serta istal-istalnya. Di lapangan belakang keraton Kuto Besak ini pula Sultan melatih para pasukan berkuda. Daerah ini di masa kolonial disebut Kampung 21 ilir, tapi sekarang masuk dalam bilangan Kampung 22 ilir.

Menurut keterangan manda Mgs. Anwar Ali (75 th), sesepuh guguk Kumpe Berayun, makam Buyut Cili ini diyakini oleh masyarakat memiliki keramat. Di antara kekeramatannya yaitu:
- Burung akan jatuh jika melintas di atas makamnya.
- Waktu air pasang naik makamnya tidak kebanjiran, sedangkan rumah-rumah warga dan sekitarnya kacap terendam air.
- Sewaktu terjadi kebakaran besar, gubah makamnya yang terbuat dari kayu waktu itu tidak terbakar.
- Tanah di makamnya meninggi (tanah mungguk).
- Jika ada orang kencing sembarangan di makamnya, orang tersebut akan jatuh sakit.
- Makam keramatnya sering dikunjungi para peziarah.
- dll.
Wallahu a'lam.

Palembang, 7/10/2018
Kms.H. Andi Syarifuddin

Di sadur dari halaman facebook Ustadz Kms.H. Andi Syarifuddin

05 Oktober 2018

Asal Mula Guguk Talang Ratu

Tipikal keadaan tanah di Palembang setidaknya dikenal dengan 3 sebutan, yaitu: Tanah Endep, Talang, dan Bukit. Tanah endep adalah tempat permukaan tanah yang rendah yang selalu dimasuki air terutama pada waktu air pasang, daerah rendah ini biasa disebut lebak atau rawa-rawa. Talang, ialah tempat yang lebih tinggi dari tanah endep, sulit dimasuki air meskipun hujan sangat lebat. Dengan kondisi tanah yang cukup tinggi, talang sering juga dimanfaatkan untuk saluran penampung air hujan. Oleh karena itu, daerah ini biasanya cocok digunakan sebagai lahan untuk berkebun atau bercocok tanam. Sedangkan Bukit, ialah permukaan tanah yang lebih tinggi lagi dari talang. Di antaranya bukit yang terkenal di Palembang adalah Bukit Siguntang, Bukit Sangkal, dll.

Di Palembang banyak terdapat daerah-daerah atau tempat yang disebut talang, di antaranya: Talang Semut, Talang Keranggo, Talang Jawo, Talang Kelapo, Talang Betutu, Talang Buruk, Talang Jambe, Talang Makrayu, Talang Banten, Talang Ratu, dsb. Salahsatu tanah talang yang terkenal sejak doeloe yaitu Talang Ratu.

Talang Ratu dinisbatkan kepada Sultan Muhammad Mansur bin Sunan Abdurrahman Candi Walang yang bergelar Sultan Ratu (berkuasa: 1706-1714). Diceritakan ketika Sultan Ratu pulang dari sebuah ekspedisi ke Jambi, dalam perjalanannya beliau singgah di suatu lokasi tanah talang. Talang tersebut kemudian oleh Sultan Ratu ditanami pohon-pohon Bidara dan dibuatlah sebuah benuaran. Benuaran merupakan “Kebun Raya” yang di dalamnya banyak terdapat berbagai jenis pohon-pohon rindang dan tanam-tanaman yang menghasilkan beraneka buah-buahan, di antaranya pohon Bidara. Bidara adalah pohon yang terkenal yang banyak sekali manfaat dan khasiatnya dapat menyembuhkan penyakit jasmani dan rohani.

Talang ini kemudian disebut dengan Talang Ratu sesuai dengan nama Sultan Ratu. Sekarang guguk ini terletak di lingkungan wilayah Palimo (Km. 5). 

Benuaran Talang Ratu ini kemudian diserahkan sebagai pemberian hadiah oleh Sultan Ratu Muhammad Mansur kepada anaknya, Pangeran Cakra Diningrat. Selain itu, Pangeran Cakra Diningrat membuat pula benuaran di dalam batanghari kumbang di area Sungai Kumpi. Dalam manuskrip Palembang disebutkan:

“…Bermula Pangeran Cakra Diningrat putera Sultan Muhammad Mansur ibn Suhunan Abdurrahman, maka Pangeran Cakra Diningrat itulah yang punya benuaran Talang Ratu itu. Sekalian pohon-pohon itu Bidara pemberian Sultan Muhammad Mansur kepada Pangeran Cakra Diningrat. Syahdan, kemudian dari itu maka Pangeran Cakra Diningrat membuat pula benuaran di dalam batanghari kumbang di kiri mudik di dalam Sungai Kumpi….”

Pangeran Cakra Diningrat adalah putera Sultan Ratu Muhammad Mansur Jayo ing Lago bin Sunan Abdurrahman Candi Walang. Ibunya bernama Ratu Mas Pertiwi. Pangeran Cakra Diningrat mempunyai beberapa orang isteri, di antaranya ialah Denayu Cakra Diningrat binti Pangeran Dita Kesuma bin Pangeran Sido ing Rajek. Dari pernikahannya ini mempunyai beberapa orang anak, yaitu: RM. Hasan Seno, RM. Husin, R. Barik, R.A. Suma Sari, R.A. Mariah, Mgs. Rakit, dll.
Wallahu a’lam.#


Plg. 30/9/2018
Kms. H. Andi Syarifuddin

Sumber:
RM. Akib bin R. Idris, Manuskrip Sejarah Keturunan Raja2 Palembang, th 1267H.

Di sadur dari sebuah halaman facebook Ustadz 
Kms. H. Andi Syarifuddin

26 September 2018

GUGUK SUNGI BAYAS


Palembang dikenal dengan banyak aliran sungai (sungi), lebih dari 100 anak Sungai Musi mengalir di Kota Palembang. Kondisi alam ini membuat Palembang menjadi kota di atas pulau-pulau kecil yang dipisahkan oleh sungai-sungai kecil. Simpang siur aliran anak-anak sungai yang menghubungkan antar kampung-kampung ini sehingga transportasi laut (sungai) saat itu lebih dominan selain perhubungan di darat. Hal ini pula setidaknya membentuk pembagian wilayah pemukiman penduduk tradisional Kota Palembang yang biasa disebut Guguk.

Kata Guguk berasal dari kata Jawi-Kawi (gugu) yang artinya: diturut, diindahkan. Wilayah pemukiman penduduk kota Palembang di masa kesultanan pada mulanya berpusat kepada keraton. Sedangkan pemukiman asli penduduk saat itu dibentuk menurut sistem struktur masyarakat tradisional setempat. Keseluruhan sistem atau lembaga ini berada dalam satu lingkungan dan lokasi. Sistem inilah dikenal dengan nama guguk (gogok). Setiap guguk biasanya memiliki tugas dan fungsinya masing-masing. Setidaknya ada 3 sektor menurut sifatnya, yaitu: Sektor Profesi, usaha, dan fungsi. Sektor yang menunjukkan fungsinya ini antara lain ialah sungai. Biasanya disetiap ungkonan wilayah guguk ini dipimpin oleh seorang tokoh karismatik, baik karena kedudukannya dia menjadi golongan bangsawan ataupun karena kebangsawanannyalah ia sebagai pemimpin. Salahsatu guguk dan sungai yang terkenal serta bersejarah adalah Sungai Bayas.

Bayas adalah sejenis nama tumbuhan Palma/Nibung besar yang dalam bahasa latinnya "Omcosperma horridum" (lihat KBBI). Jadi Sungai Bayas ialah guguk perkampungan di wilayah sungai yang sekitarnya ditumbuhi oleh banyak tumbuhan Palma. Sekarang wilayah ini masuk dalam bilangan kampung 8 ilir Palembang.

Tokoh yang mula-mula mendiami perkampungan ini ialah keluarga Priyai Sungai Bayas atau dikenal juga Ki. Gede ing Sungai Bayas. Bersama anak dan menantunya, yaitu Arya Kebon Jati bin Pangeran Sido ing Lautan. Di awal era Kesultanan Palembang Darussalam, masa pemerintahan Sultan Susuhunan Abdurrahman Candi Walang (1659-1706), terdapat keluarga Kemas Temenggung Jayo Kramo bin Kms. Silo Penawar berdomisili di guguk ini pula. Dalam catatan sejarah, Keluarga besar Pangeran Temenggung Singa Yuda Wira Kencana Kemas Silo Penawar yang menjadi menantu Sunan Abdurrahman Candi Walang ini, memiliki beberapa orang anak yang masing-masing menyebar di berbagai daerah guguk di kota Palembang, di antaranya:
1. Kemas Miyako, keturunannya banyak tersebar di sekitar guguk kampung Masjid Agung 19 ilir Palembang.
2. Kms. Agus, zuriatnya banyak tersebar di sekitar guguk Bawah Buluh dan Kebon Duku (23 ilir dan 24 ilir).
3. Kms. Temenggung Jayo Kramo, keturunannya banyak tersebar di sekitar guguk kampung Sungai Bayas (8 ilir).
4. Kms. Ahmad, banyak juga anak cucunya.
5. Kms.M. Yunus, keturunannya banyak tersebar di sekitar Sungai Tengkuruk (16-17 ilir) dan di Kampung Perigi (2 ulu).
6. Kemas Rindo, menetap dan wafat di daerah Kertapati Palembang.

Di Guguk Sungi Bayas ini terdapat pemakaman keramat. Ungkonan makam Kms. Temenggung Jayo Kramo, dan anaknya Kms. Ahmad Jalaluddin Sukadana serta keluarga terdapat di Talang Duku Sungai Bayas (jalan Pasar Kuto). 
Belakangan para komunitas Arab-Palembang (Habaib) berdomisili pula di guguk Sungi Bayas ini.
Wallahu a'lam...

Plg, 23/9/2018
Kms.H. Andi Syarifuddin


Di sadur dari sebuah tulisan di laman facebook Ustadz Kms. H. Andi Syarifudin

19 September 2018

GUGUK di Palembang

Sebelum nama-nama kampung atau tempat di Pelembang seperti peninggalan sekarang ini di tulis oleh kolonial Belanda dengan nomor-nomor angka, yaitu: 1 ilir, 2 ilir, 3 ilir, 1 ulu, 2 ulu, 3 ulu, dst. Di Pelembang sejak jaman kerihin sudah terdapat nama-nama asli wilayah pemukiman atau kampung yang secara global dan spesifik lingkungan tersebut disebut "guguk".

Kata Guguk berasal dari kosakata Jawi-Kawi (Gugu) yang artinya: diturut, diindahkan. Pada mulanya wilayah pemukiman penduduk Kota Palembang di zaman Kesultanan berpusat kepada Keraton. Sedang pemukiman penduduk saat itu dibentuk menurut sistem struktur masyarakat tradisional setempat. Keseluruhan sistem atau lembaga ini berada dalam satu lingkungan dan lokasi. Sistem ini dikenal dengan nama Guguk (gogok). Setiap Guguk biasanya mempunyai tugas dan fungsinya tersendiri. Paling tidak ada 3 sektor menurut sifatnya, yaitu: Sektor Profesi (kedudukan/jabatan), Usaha, dan Fungsinya. Disetiap wilayah Guguk ini dipimpin oleh pemimpinnya, baik karena kedudukannya dia menjadi golongan bangsawan ataupun karena kebangsawanannyalah ia sebagai pemimpin.

Adapun nama kampung yang dikaitkan dengan ketiga sektor guguk menurut sifatnya itu dapat disebutkan misalnya antara lain:
1. Sektor Profesi (kedudukan/jabatan):
- Keraton = tempat Keratuan/Raja (istana)
- Keputren = tempat tinggal para puteri di dalam keraton.
- Kebumen = tempat tinggal Mangkubumi (16 ilir)
- Purban = tempat tinggal Pangeran Purbaya (16 ilir).
- Kemartan = tempat tinggal Pangeran Marta Wijaya (23 ilir).
- Kedipan = tempat tinggal Adipati (13 ilir)
- Ketandan = tempat tinggal Tandha/bendahara/pajak (17 ilir).
- Kedemangan= tempat tinggal para Demang (8 ulu).
- Kebalen = tempat tinggal orang-orang Bali.
- Kebangkan = tempat tinggal orang-orang Bangka (9 ilir).
- Depaten = tempat tinggal Pangeran Adipati/Adipatihan (27 ilir).
- Pengulon = tempat tinggal para penghulu dan alim ulama (19 ilir).
- Kampung Anyar= tempat tinggal komunitas Arab di lingkungan Masjid Agung (19 ilir).
- Jero Pager = tempat tinggal Kms. Temenggung Jumpong mertua Jero Pager, mertua SMB I (1 ilir).
- Temenggungan = tempat tinggal para Temenggung (13 ulu).
- Pedatuan = tempat tinggal para Datuk (12 ulu).
- dll.

2. Sektor Usaha:
* Kepandean = tempat Pandai Besi (18 ilir).
* Sayangan = tempat Pandai/perajin Tembaga (17 ilir).
* Pelengan = tempat perajin membuat minyak.
* Rendang = tempat pembakaran (13 ilir).
* Kuningan = tempat perajin kuningan (15 ilir).
* Pelampitan = tempat membuat lampit (18 ilir).
* Kapuran = tempat mengolah kapur (19 ilir).
* dll.

3. Sektor Menunjukkan Fungsinya (sungai, dsb):
× Segaran = tempat penyegaran (15 ilir).
× Penedan = tempat yang dipelihara/keindahan.
× Terusan = Saluran/kanal (14 ilir).
× Karang Waru = Kumpulan pohon-pohon.
× Temon = tempat Pertemuan (27 ilir).
× Sungai Tengkuruk = Sungai yang diuruk.
× dll.

Plg, 16/9/2018
Kms.H. Andi Syarifuddin

Sumber:
Demang R.M. Hasir (1917)

Di sadur dari sebuah halaman facebook ustadz Kms. H. Andi Syarifudin

28 Agustus 2018

LAYANGAN PALEMBANG

Ku ambil buluh sebatang
Ku potong sama panjang
Ku raut dan kutimbang dengan benang
Ku jadikan layang-layang
...... 
Demikianlah sepenggal syair lagu anak-anak yang sangat populer.

Layangan atau layang-layang merupakan salahsatu permainan tradisional masyarakat Palembang sejak doeloe. Jenis-jenis permainan tradisional masyarakat adat Palembang sangatlah banyak dan beragam, di antaranya ialah layangan.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), disebutkan "Layang" bermakna mainan yang terbuat dari kertas berkerangka yang diterbangkan ke udara dengan memakai tali (benang) sebagai kendali.

Permainan tradisional ini diminati oleh semua kalangan, baik anak-anak maupun orang dewasa, dari lapisan masyarakat biasa maupun golongan bangsawan. Di jaman Kesultanan Palembang Darussalam, layangan sudah menjadi pemandangan indah, menghias langit negeri Palembang. Selain sebagai permainan yang mengasyikkan, juga layangan sekaligus sebagai hiburan pelepas penat. Memainkan layangan di tanah lapang perlu keterampilan khusus serta peralatan layangan yang disiapkan dengan teliti dan terbaik. Para pembesar Kesultanan Palembang seperti Manteri, Raden ataupun Pangeran cukup piawai dalam bermain layangan di lingkungan keraton.

Van Sevenhoven (1821), dalam tulisannya melukiskan tentang permainan layangan di Kesultanan Palembang tempo doeloe sebagai berikut:
"Di sini lagi-lagi ada sebuah bidar atau pancalang yang membawa seorang Mantri, Raden atau Pangeran. Ia sungguh sibuk. Tidak ada yang mengalihkan perhatiannya. Ia melihat dengan tajam ke udara dan seorang yang baru akan berpikir, bahwa ia sedang mengawasi dengan seksama sesuatu yang ajaib di udara dan dari waktu kewaktu menceritakan kepada yang ada bersamanya apa yang dilihatnya. Kenyataannya adalah jauh daripada itu.
Orang itu kelihatannya begitu terhormat, kepada siapa banyak soal-soal penting harus dilaporkan, sedang menghibur diri dengan main layang-layang, yang talinya diperkuat dengan tumbukan gelas dan dicampur dengan beberapa benda tajam lainnya dengan maksud agar dapat memutuskan tali layang-layang lain semacam itu akan diputuskan oleh yang terakhir ini dengan tali yang juga diperkuat dengan cara yang sama. Itulah kesibukannya; dan tidak mengherankan! Dalam hal ini ia mengikuti rajanya yang mulia dan tuannya yang disamping itu masih mempunyai keistimewaan yang rupa-rupanya hanya dimiliki oleh keluarga raja, yaitu bahwa ia mengawasi layang-layangnya yang berada tinggi di awang-awang dengan sebuah teropong yang biasa dipakai untuk mengikuti suatu pementasan (tonel). .....yang kalah ialah orang-orang yang tali layang-layangannya dapat diputuskan oleh lawannya. Untuk memutuskan layang-layang atau untuk menghindarkannya diperlukan sedikit banyak keterampilan. Orang yang tidak ahli akan segera kehilangan layangan-layangannya."

Di dalam rumah adat Limas, layangan dan ulakannya disimpan di ruangan pawon, digantung di dinding luar sebuah pangkeng yang berada tidak jauh dari ruang makan. Pada saat ini, layangan masih menjadi permainan dan hiburan alternatif yang menyenangkan, terutama ketika musim layangan ataupun pada saat memeriahkan momen bulan Agustusan. Hampir disetiap kampung dulu terdapat tukang layangan yang memproduksi dan menjualnya secara luas. Bentuk layangan khas Palembang cukup sederhana, namun memiliki banyak corak dan variasi reko/gambar yang menarik dilukis dengan sumbo.

Istilah dalam Dunia Pe"Layangan" :
- layangan
- kuncung
- reko
- ulakan
- padek
- tali benang
- tali timbo
- cul / ngecul
- prigel
- ngepal
- sinting
- ngoter
- ngencot
- paritan
- legoo
- gelasan
- ngambul
- kukutan
- nyempret
- ngedek
- nyerucup
- mongkoti
- nganteng
- tebik
- silem
- julur
- tarik
- ngebir
- katak-katak
- putus di tangan
- ceracahan
- ngokot
- ruwet
- ngulak tali
- melawan angin 
- katek angin
- beri
- besetan
- bandelan
- gelondongan
- sumbo
- ngejer layangan
- satang
- Tukuk i
- Ser ken
- Julur
- Ngelipek
- Belamburan
- Gelas wak mo
- Kaberken
- Slentek
- Gelas blang bleng
- Anjalken
- Kertas beluang
- Kuncung kaset
- Layangan gundul
- Sinting
- Embati
- Beset
- Tarik masuk
- Tarik metu
- Cedok
- Agangi
- Bladokkan
- Gelagaran
- dan lain-lain.
Bermain layangan hendaklah jangan sampai melalaikan waktu untuk beribadah.

Palembang, 12 Agustus 2018
Kms.H. Andi Syarifuddin
(KHAS)

16 Agustus 2018

Cara Pembuatan Telok Ukan Palembang

Sumber : http://palembang.tribunnews.com/

Telur atau bukan "Telok Ukan" begitulah masyarakat Palembang menyebut makanan khas yang dibuat turun-temurun tersebut. Telok ukan hanya ada di saat memperingati HUT kemerdekaan Republik Indonesia yang bertepatan dengan tanggal 17 Agustus.

Telok ukan merupakan telur yang dimasak dengan cara mengeluarkan isi telur dari cangkangnya kemudian isi telur dikocok dengan beberapa bumbu seperti pandan dan sedikit kapur sirih. Telur yang telah dibumbui tersebut dimasukkan kembali ke dalam cangkang telur dan ditutup dengan kayu gabus.

Setelah itu di rebus selama 30 menit dengan api kecil dan jika sudah dipastikan matang telok ukan bisa langsung disantap dengan nasi ketan. Noni Mariani pembuat telok ukan mengaku telah membuat selama 10 tahun ia mengatakan diajarkan oleh ibunya untuk menjaga makanan khas Palembang jangan sampai nanti makanan tersebut punah.

''Dari 10 tahun lalu diajari oleh mama karena ini makanan khas turun temurun,''katanya.

Noni mengatakan untuk harga satu butir telok ukan di hargai 5 ribu rupiah.

''Mulai dari awal bulan Agustus perharinya bisa terjual 75 butir, namun setelah dekat dengan hari HUT RI nanti akan bertambah banyak,''ujarnya.

Sumber : http://palembang.tribunnews.com/

30 Mei 2018

Mengenang Kerusuhan Mei 1998 di Palembang


Sejumlah mobil dan pertokoan di kawasan Jalan Veteran Palembang dibakar dan dijarah massa perusuh pada pertengahan Mei 1998 silam. 
TNI membantu aparat kepolisian berusaha menghadang ribuan massa di pangkal Jembatan Ampera Seberang Ilir. Massa bergerak dari kawasan Seberang Ulu menuju kawasan Seberang Ilir Palembang pada pertengahan Mei 1998. Karena kalah jumlah, barikade pasukan ini akhirnya jebol. (SRIPO/SUDARWAN)
Bangkai 2 unit sepeda motor tergeletak di tengah jalan di simpang Jakabaring Palembang pada kerusuhan Mei 1998 silam. (SRIPO/SUDARWAN)
Massa membakar dan menjarah toko di kawasan Jalan Tengkuruk Permai Palembang pada kerusuhan pertengah Mei 1998 silam. (SRIPO/SUDARWAN)

Sejumlah pot taman kota di atas Jembatan Ampera Palembang dirusak para perusuh pada pertengah Mei 1998. (SRIPO/SUDARWAN)

Sejumlah pertokoan dan showroom di Jalan Veteran Palembang hangus dibakar perusuh pada pertengahan Mei 1998. (SRIPO/SUDARWAN)
Foto : Sriwijaya Post

05 Februari 2018

Sailendra Institution Palembang

Gedung Sailendra (2008)
Palembang Dulu Gedung Shailendra Dulu tempat ini pada awal pendirian merupakan Hotel dengan nama Hotel 'aman', hotel ini hampir sama umurnya dengan Hotel Sandjaja yang ada di Jalan Kapt A.Rivai. Pada saat itu, hotel tersebut awalnya banyak diisi oleh tentara dan kalangan militer yang memang pada saat itu merupakan awal-awal kemerdekaan dan gejolak di kota ini. Tetapi, sejak tahun 1975 dengan berkembangnya pendidikan di negeri ini, maka tempat inu menjadi lembaga pendidikan dan kursus. Gedung yang didirikan pada tahun 1959 ini sampai sekarang masih berdiri dan konsisten melakukan pengajaran pendidikan.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Tidak menyangka ternyata photo yang pernah saya ambil di pada tahun 2008, di sangka merupakan foto tempo dulu.. pada saat itu kebetulan saya mengambil foto gedung sailendra ini dari simpang 4 dempo sekitar pukul 1 siang, karena selama ini selalu mengambil dengan berwarna maka, saya setelah camera brica saya dengan mode hitam putih, hasilnya seperti ini dan sempat saya posting di http://palembangtempodulu.multply.com dengan deskripsi yang sama persis seperti yang banyak beredar di dunia maya saat ini.

Sayang Untuk foto aslinya sendiri sudah hilang saat kerusakan komputer pada tahun 2013 yang lalu, hampir separuh dari koleksi jepretan saya ataupun koleksi palembang tempo dulu juga ikut lenyap.

03 Januari 2018

Pakaian Songket Wanita Palembang Tempo Dulu

foto : palembangbatangharisembilan.blogspot.com/
Ada banyak perbedaan pendapat dari para ahli tentang Kain Songket Palembang, dari sekian banyak pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya ada dua pendapat mengenai sejak kapan Kain Songket ada dalam kehidupan masyarakat Palembang, yaitu:
  • Pendapat pertama menyatakan bahwa Kain Songket telah ada di Palembang sejak ratusan tahun silam. Semasa Kerajaan Palembang belum dikenal sebagai sebuah Kesultanan, 1455-1659. Bahkan ada yang berpendapat bahwa kerajinan kain songket telah ada sejak zaman Kerajaan Sriwijaya. Pendapat ini didukung dari motif-motif yang terdapat dalam Kain Songket Palembang yang menggunakan binatang sebagai bagian dari motif. Hal ini dikatakan jelas merupakan peninggalan dari masa sebelum Islam berkembang di Palembang.
  • Pendapat kedua menyatakan bahwa Songket telah ada bersamaan munculnya Kesultanan Darusalam (1659-1823). Berdasarkan catatan sejarah yang berhak dan pantas memakai Songket pada waktu itu adalah para istri dan kerabat keraton. Songket yang dipakai oleh para sultan di Palembang merupakan pelengkap pakaian kebesaran. Kain (Sewet) songket ini merupakan kerajinan tradisional yang diwariskan turun temurun dari generasi ke generasi sejak dahulu kala hingga kini. 

Pada waktu itu belum ada songket berbentuk kain (Sewet) karena songket pada masa itu hanya berbentuk selendang yang dalam istilah Palembang disebut kemben. Songket/kemben ini difungsikan sebagai kerebong, yang cara memakainya dengan diselempangkan di bahu yang kedua ujungnya nampak berjuntaian ke arah dada. Pada masa sekarang bentuk pemakainannya seperti syal yang dipakai oleh ulama dalam kegiatan keagamaan.

Barulah setelah era tahun 1900-an selendang songket tersebut dibuatkan padanannya berupa kain, maka namanya berubah menjadi Kain Songket. Dahulu awal pembuatan kain songket dibuat dari bahan dasar benang emas yang langsung didatangkan dari Cina begitu juga benang sutera yang digunakan juga didatangkan dari Cina hal ini dikarenakan hubungan Sriwijaya dengan Cina sangat erat terutama di bidang perdagangan dan pendidikan Agama Budha. Aktivitas menenun songket berkembang menjadi banyak varian, perkembangan Kain Songket lebih luas terjadi pada masa Kesultanan Palembang, karena pakaian ini dijadikan simbol kebesaran dari raja-raja di Kesultanan Palembang.

Sumber tulisan : http://www.fbrs14.com/
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...