CANTUMKAN SUMBERNYA JIKA MENGGUNAKAN GAMBAR ATAU ARTIKEL DARI BLOG INI - HORMATI HAK CIPTA ORANG LAIN. MOHON MAAF....BLOG INI LAGI MENGALAMI GANGGUAN SAAT MIGRASI DARI HTTP KE HTPPS, SEBAGIAN GAMBAR MENJADI TIDAK BISA MUNCUL.

27 Februari 2017

Air Mancur di depan museum SMB II Palembang



TRIBUNNEWS.COM, PALEMBANG - Balai Arkelogi Sumatera Selatan meminta pembangunan air mancur di halaman museum Sultan Mahmud Badarudin II dihentikan, Minggu, (6/12/2015).

Ini lantaran adanya penemuan susunan batu bata peninggalan Keraton Kuto Batu di halaman tersebut.

"Telah ditemukan struktur bangunan bekas keraton kutobatu di halaman museum SMB II. Proses penemuan tdk sengaja, karena ada pembangunan fasilitas oleh Dinas PU. Saya minta agar proses pembangunan dihentikan," ujar Retno Purwanti selaku arkeolog dari Balai Arkeologi Sumsel.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumsel yang mengetahui penemuan tersebut langsung bergerak ke lokasi dan mengecek penemuan tersebut.

Pengecekan ini dilakukan untuk mengetahui apa benar proses pembangunan air mancur tersebut berhubungan dengan penemuan struktur batu bata peninggalan keraton kuto batu.

Seorang tukang gali proyek pembangunan air mancur di halaman Museum Sultan Mahmud Badarudin II menemukan batu bata dari zaman keraton kuto batu Palembang, Sabtu, (5/12/2015)

Batu bata ini memiliki panjang sekitar 30 centimeter dan ketebalan sekitar 10 centimeter.

Batu bata ini disinyalir bagian dari tembok keraton yang memisahkan halaman antara tempat raja, ratu, dan putri.

Darwiji, kepala tukang pembangunan air mancur Museum SMB II mengatakan batu bata itu berada di kedalaman 60 centimeter dari permukaan tanah.

Melihata batu bata yang ukurannya tidak biasa itu ia lantas menghubungi orang museum.

"Aneh saja lihat batanya. Saya yakin ini benda bersejarah," ujarnya kepada Tribun Sumsel.

Retno Purwanti, arkeolog dari Balai Arkeologi Sumsel mengatakan bahwa benar batu bata itu bagian dari keraton Kuto Batu.

Dijelaskannya, dilihat dari tekstur bahan perekat antara bata satu dan lainnya sama sekali tidak menggunakan semen melainkan bubuk batu karang.

"Tebal perekatnya bisa sampai 10 centimeter," ujarnya

Penemuan batu bata yang disebut arkeolog sebagai bekas tembok Keraton Kuto Batu Palembang akan diteliti di Balai Arkeologi Sumatera Selatan.

Menurut Retno lokasi Museum Sultan Mahmud Badarudin (SMB) II saat ini dahulunya adalah keraton.

Keraton tersebut lantas diratakan dengan tanah atas perintah Van Sevenhoven yang kemudian dibangun rumah Regeering Commissaris yang sekarang menjadi Museum Sultan Mahmud Badaruddin II.

"Keraton kuto batu ini ada pada akhir abad 18, umur batu bata ini lebih dari 200 tahun," ujarnya.

26 Februari 2017

Tertambat


Lokasi                            : Sungai Musi Lr. Sawah 12 Ulu 
Waktu Pengambilan      : Sabtu, 26 Februari 2017
Jam                                : 14:30 WIB
                                         Lenovo Vibe K4 Note

25 Februari 2017

Warna-Warni Ruko di Palembang



PALEMBANG, AsSAJIDIN.Com –Pemerintah kota Palembang terus berbenah dalam menata wajah kota Palembang, dengan memberikan sentuhan warna gedung pemilik dan perubahan lampu neon yang akan mempercantik toko di sepanjang jalan sudirman.

Seperti kawasan jalan Jendral Sudirman dan Tengkuruk Permai Palembang, terkait dengan penataan untuk menyambut Asian Games 2018, Jumat(06/01/2016) rapat bersama pemilik toko disepanjang jalan Jenderal Sudirman tengkuruk permai. Di rumah dinas walikota Palembang jalan Tasik.

Walikota Palembang H Harnojoyo, menyampaikan, dari hasil rapat bersama yang dilaksanakan hari ini, pemilik toko maupun penyewa dari Simpang Charitas sampai Tengkuruk Permai, siap dan sepakat untuk melakukan penataan yang diprogramkan Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang.

Para pemilik siap menyemarakkan kawasan tersebut, dengan melakukan pengecatan terhadap seluruh bangunannya.

“Sekitar 90 persen pemilik hadir, sepakat untuk mempercantik bangunan dengan dana mereka sendiri,”terang Harnojoyo

Setelah mendapatkan kesepakatan, Pemkot Palembang ungkap Harno, langsung segera mempersiapkan tim terpadu, dalam rangka penataan yang akan dilakukan.

“Kawasan Sudirman adalah wajah kota Palembang, yang perlu diperbaiki dan percantik. Hal itu perlu dilakukan, saat menyambut tamu-tamu delegasi perwakilan negara peserta Asian Games 2018,” imbuhnya.

Harnojoyo bersyukur, dari pertemuannya dengan seluruh pemilik usaha dikawasan Sudirman dan Tengkuruk Permai tersebut, semuanya sepakat dengan penataan yang akan dilakukan.

Pada Minggu pagi (8/1/17) nanti, kami akan melakukan eksyen untuk memulai pelaksanaan ini, bersama dua pemilik toko di kawasan Sudirman.

“Kami akan memberikan surat edaran kepada seluruh pemilik maupun penyewa, untuk mempercantik kawasan tersebut,”katanya.(*)

Penulis: Yudiansyah

24 Februari 2017

Pedestrian di Jalan Jenderal Sudirman



SRIPOKU.COM, PALEMBANG -- Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang mulai merencanakan untuk menata pedestrian (trotoar) di sepanjang Jl Jenderal Sudirman. Penataan pedestrian ini akan dilakukan mulai dari Pasar Cinde hingga Bundaran Air Mancur (BAM).

"Nantinya akan diperlebar lagi, kalau sekarang mungkin hanya sekitar tiga meter, nanti akan dibuat menjadi lima meter. Desainnya juga akan dipercantik, seperti pedestrian di Singapura," ujar Walikota Palembang H Harnojoyo, Selasa (2/2/2016).

Menurutnya, penataan pedestrian di jalan protokol tersebut memang menjadi prioritas pihaknya. Karena, selain untuk memberikan kenyamanan bagi pejalan kaki juga sekaligus mempercantik kawasan Sudirman, yang merupakan pusat kegiatan di Kota Palembang.

"Apalagi sekarang pedestrian disana sudah sebagian besar rusak dan hancur. Nah ini yang diperbaiki. Nanti, perbaikannya juga menyeluruh termasuk penataan parkir di Sudirman," terangnya.

Untuk danaaya sendiri saat ini sudah disiapkan sebesar Rp 3 Miliar yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

"Tapi ini masih belum cukup, sekarang kami bersama Pemprov Sumsel juga terus berjuang untuk meminta dukungan dana pusat," tuturnya.

23 Februari 2017

Mohammad Isa

Foto 4: Dr. Moh. Isa, Gubernur Provinsi Sumatera Selatan (Sumber: Pesat, Mingguan Politik Populer; Suara Rakjat Merdeka, No. 11, Th. X, 13 Maret 1954: 17)
Drg. M. Isa

Mohammad Isa (lahir di Binjai, Sumatera Utara, 4 Juni 1909 – meninggal 7 November 1979 pada umur 70 tahun) adalah seorang profesional, akademisi dan politisi Indonesia.


Sepanjang kariernya, Mohammad Isa pernah menduduki berbagai jabatan, diantaranya Gubernur Sumatera Selatan, anggota DPR Gotong Royong serta MPRS RI, Rektor Universitas Sriwijaya dan lain-lain.

M. Isa berasal dari Minangkabau, dengan latar belakang pendidikan cukup baik. Selesai dari HIS, ia melanjutkan pendidikannya ke MULO, kemudian AMS. Setelah itu ia menamatkan pendidikannya di STOVIT hingga mendapatkan gelar Drg (dokter gigi).

Pada tahun 1936, M. Isa memulai kariernya sebagai Asisten Dosen di Sekolah Dokter Gigi STOVIT. Dua tahun kemudian jabatan itu ditinggalkannya dan ia memutuskan untuk membuka praktik sendiri di Palembang.

Pada tahun 1945 ia menjadi Wakil Kepala Jawatan Kemakmuran, kemudian menjabat Pemimpin Umum Perusahaan Minyak Republik Indonesia (PERMIRI), yang pertama menguasai dan mengekploitir semua kilang dari BPM dan STANVAC yang berada di Keresidenan Palembang. Kemudian pada tahun 1945, ia diangkat sebagai Anggota Ketua Komisaris Nasional Indonesia Daerah Keresidenan Palembang.

Berkat prestasinya yang menonjol, pada tahun 1946 M. Isa diangkat sebagai Residen Palembang, yang kemudian merangkap sebagai Gubernur Muda Provinsi Sumatera Selatan. Pada bulan Mei 1948, ia diangkat sebagai Gubernur Provinsi Sumatera Selatan menggantikan A.K. Gani. Setahun kemudian, pada bulan Mei 1949, ia menjabat sebagai Komisaris Negara untuk Daerah Militer Sumatera Selatan. Sesudah Perjanjian Roem-Roijen, Pemerintah Pusat mengangkatnya sebagai Anggota Local Joint Committee, kemudian ditunjuk sebagai Penasehat Ahli dan delegasi RI di KMB.

Pada bulan Januari 1950, ia kembali menduduki jabatan Gubernur Provinsi Sumatera Selatan. Dua bulan kemudian, ia kembali menduduki jabatan rangkap sebagai Komisaris RIS untuk Negara Sumatera Selatan dan daerah Bangka-Belitung dengan tugas mengambil alih kekuasaan Wali Negara Sumatera Selatan. Tetapi pada bulan Nopember 1954, atas permintaan sendiri ia melepaskan jabatannya sebagai Gubernur Sumatera Selatan.

Pada bulan September 1955, ia menduduki jabatan sebagai Presiden Direktur NV Karet Sumsel. Dan bulan Maret 1956 ia diangkat sebagai anggota DPR-RI. Bulan Juni 1960, ia terpilih sebagai Anggota DPR Gotong Royong dan MPRS-RI. Kemudian bulan Oktober 1960 ia menjadi Rektor Universitas Sriwijaya.

Referensi
^ Pramoedya Ananta Toer, Koesalah Soebagyo Toer, Ediati Kamil; Kronik Revolusi Indonesia, KPG, 2003


22 Februari 2017

Dr. Adenan Kapau Gani - AK. Gani

Informasi pribadi

Dr. Adnan Kapau Gani atau biasa disingkat A.K. Gani (lahir di Palembayan, Agam, Sumatera Barat, Hindia Belanda, 16 September1905 – meninggal di Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia, 23 Desember 1968 pada umur 63 tahun) adalah seorang dokter dan politisi Indonesia. Ia pernah menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri pada Kabinet Amir Sjarifuddin I dan Kabinet Amir Sjarifuddin II.

Latar belakang

A.K. Gani lahir di Palembayan, Sumatera Barat, pada tanggal 16 September 1905. Ayahnya adalah seorang guru. Ia menyelesaikan pendidikan awalnya di Bukittinggi pada tahun 1923. Kemudian ia pergi ke Batavia untuk menempuh pendidikan menengah dan mengambil sekolah kedokteran. Dia lulus dari sekolah dokter STOVIA pada tahun 1926.

Kehidupan

Sejak remaja Gani aktif dalam kegiatan politik dan organisasi sosial. Pada era 1920-an, ia giat di berbagai organisasi kedaerahan seperti Jong Sumatranen Bond dan Jong Java. Pada tahun 1928 ia terlibat dalam Kongres Pemuda II di Jakarta. Pada tahun 1931 ia bergabung dengan Partindo, yang telah memisahkan diri dari Partai Nasional Indonesia tak lama setelah penangkapan Soekarno oleh pemerintah kolonial.

Pada tahun 1941, Gani membintangi sebuah film yang berjudul Asmara Moerni dan berpasangan dengan Djoewariah. Film ini disutradarai Rd. Ariffien dan diproduksi oleh The Union Film Company. Meskipun sebagian kalangan menganggap keterlibatan Gani dalam film telah menodai gerakan kemerdekaan, namun ia menganggap perlu untuk meningkatkan kualitas film lokal. Meski mendapat kritikan, film satu-satunya itu sukses secara komersial.

Setelah pendudukan Jepang di Indonesia pada tahun 1942, Gani menolak untuk berkolaborasi. Oleh karena itu ia ditangkap pada bulan September 1943 hingga bulan Oktober tahun berikutnya.


Gani pada 3 Oktober 1946 (umur 41)
Setelah proklamasi dan selama masa revolusi fisik, Gani memperoleh kekuasaan politik dengan bertugas di kemiliteran. Pada tahun 1945, ia menjadi komisaris PNI dan Residen Sumatera Selatan.[3] Dia juga mengkoordinasikan usaha militer di provinsi itu. Gani menilai Palembang sebuah lokomotif ekonomi yang layak untuk bangsa yang baru merdeka. Dengan alasan, bahwa dengan minyak Indonesia bisa mengumpulkan dukungan internasional. Ia merundingkan penjualan aset-aset pihak asing, termasuk perusahaan milik Belanda Shell. Gani juga terlibat dalam penyelundupan senjata dan perlengkapan militer. Beberapa koneksinya di Singapura, banyak membantu dalam tugas ini.

Sejak 2 Oktober 1946 hingga 27 Juni 1947, Gani menjabat sebagai Menteri Kemakmuran pada Kabinet Sjahrir III. Ketika menjabat sebagai Menteri Kemakmuran, ia bersama dengan Sutan Sjahrir dan Mohammad Roem menjabat sebagai delegasi Indonesia ke sidang pleno ketiga Perjanjian Linggarjati. Dia juga bekerja untuk membangun jaringan nasional perbankan serta beberapa organisasi perdagangan.

Setelah jatuhnya Kabinet Sjahrir, ia bersama Amir Sjarifuddin dan Setyadjit Soegondo menerima mandat untuk membentuk formatur kabinet baru. Dalam kabinet tersebut, ia menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Kemakmuran. Gani adalah anggota kabinet pertama yang ditangkap pada masa Agresi Militer Belanda I, namun kemudian ia dibebaskan. Dalam Kabinet Amir Sjarifuddin II, ia juga duduk pada posisi yang sama hingga kejatuhan kabinet ini pada tanggal 29 Januari 1948.

Setelah revolusi berakhir pada tahun 1949, Gani menjadi Gubernur Militer Sumatera Selatan. Pada tahun 1954, ia diangkat menjadi rektor Universitas Sriwijaya di Palembang. Ia tetap aktif dan tinggal di Sumatera Selatan hingga wafat pada tanggal 23 Desember 1968. Dia dimakamkan di Taman Pemakaman Pahlawan Siguntang di Palembang. Gani meninggalkan seorang istri Masturah, dan tidak mempunyai anak hingga akhir hayatnya.

Penghormatan

Untuk mengenang jasa-jasanya, pada tanggal 9 November 2007 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan gelar Pahlawan Nasional Indonesia kepada A.K. Gani. Gelar ini diterimanya bersama dengan Slamet Rijadi, Ida Anak Agung Gde Agung, dan Moestopo berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 66/2007 TK. Selain itu namanya juga diabadikan sebagai nama rumah sakit di Palembang, Rumah Sakit AK Gani dan nama ruas jalan beberapa kota di Indonesia.


Referensi
^ Ruben Nalenan, H. Iskandar Gani; Dr. A.K. Gani: Pejuang Berwawasan Sipil dan Militer; 1990
^ Rosihan Anwar, Sejarah Kecil : Petite Histoire Indonesia jilid 3, Kompas, 2009
^ suarasumsel.com AK Gani, Dokter yang Pemberani dan Jago Berdiplomasi

Sumber : https://id.wikipedia.org/

21 Februari 2017

Amanzi Water Park 2017



Seperti artikel sebelumnya yang pernah di posting pada 30 April 2012 mengenai Amanzi water park dimana hal tersebut sudah hampir 5 tahun berlalu dan foto-foto pada tanggal tersebut saat soft launcing mereka sehingga kita biasa masuk untuk melihat wahana tersebut, silahkan bandingkan dengan kondisi saat ini di Februari 2017 ... 






20 Februari 2017

Sejarah Rumah Sakit AK.Gani Palembang

Rumah Sakit AK. Gani Palembang

RS Tk. II dr. AK Gani Palembang ( RS Dr. AK Gani ) yang mempunyai tugas pokok memberikan bantuan kesehatan berupa pelayanan kesehatan terhadap anggota TNI AD, PNS, dan keluarganya, , disamping memberikan pelayanan kesehatan bagi komando atas dan merupakan proses rujukan tertinggi bagi fasilitas kesehatan TNI AD yang ada di jajaran Kodam II / Sriwijaya.
RS. AK Gani 1990-an Foto kaskus
RS Dr. AK Gani Palembang adalah Rumah Sakit  Tingkat II di lingkungan TNI-AD. Terletak di Jalan Dr. AK Gani No. 1, Kelurahan 19 Ilir, Kecamatan Ilir Timur 1, Kota Palembang. Tugas pokok RS Dr. AK Gani Palembang adalah  memberikan dukungan dan pelayanan kesehatan kepada Prajurit TNI, PNS, dan keluarganya di wilayah Kodam II/ Sriwijaya Palembang dalam rangka mendukung tugas pokok TNI Angkatan Darat.
Sejarah singkat RS Dr. AK Gani Palembang dikumpulkan dari data administrasi yang masih ada dan keterangan-keterangan dari para sesepuh yang kebetulan masih bermukin di daerah Sumatera Selatan umumnya, Kota Palembang khususnya. Sebelum tahun 1950 rumah sakit ini bernama Militaire Hospital sebagai bagian dari Militaire Geneskundige Dienst (MGD) yang dipimpin oleh Letkol Dr. Hordhokreht dan Kapten (Apoteker) Bouman.
Pada tanggal 13 Mei 1950 rumah sakit yang bernama Militaire Hospital ini diserahkan oleh KL/KNIL kepada Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI), dalam rangka serah terima ini bertindak sebagai wakil dari masing-masing pihak adalah Letnan Kolonel Dr. Nordhoekrecht mewakili KL/KNIL, dan APRI sebagai pihak yang menerima diwakili oleh Mayor Dr. Ibnu Sutowo.
Pelaksanaan serah terima ini dilakukan secara bertahap berhubungan dengan penarikan tentara KL/KNIL dari daerah pedalaman ke Palembang, sementara itu penggunaan Rumah Sakit ini masih dilakukan secara bersama antara tentara KL/KNIL dengan APRI.
Setelah penyerahan dari KL/KNIL maka Rumah Sakit ini dinamakan Rumah Sakit Territorium II, disingkat dengan nama RSTT. II. Kemudian sesuai dengan perubahan nama di lingkungan TNI Angkatan Darat, dimana daerah militer di seluruh Indonesia juga mengalami perubahan nama, maka rumah sakit ini dirubah namanya menjadi Rumah Sakit Kodam IV/Sriwijaya.
Kemudian disesuaikan lagi namanya menjadi Rumah Sakit Tk. III/IV/Sriwijaya berdasarkan Keputusan Kasad No:SK/67/III/1973 tanggal 23 Maret 1973 dan Keputusan Kasad No:SK/147/VII/1973 tanggal 16 Juli 1973 ditetapkan Rumah Sakit Tk. III/IV/Sriwijaya sebagai rumah sakit tingkat IV dengan kapasitas 340 tempat tidur.
Walaupun benerapa kali mengalami perubahan nama tapi yang dapat ditonjolkan disini yang tidak pernah luntur dari ingatan masyarakat di daerah ini suatu nama yang sejak dulu kala hingga sekarang dan sangat popular adalah Rumah Sakit Benteng. Hal ini disebabkan lokasi Rumah Sakit Tk. III/IV/Sriwijaya terletak di dalam suatu komplek Benteng Kuto Besak seperti yang masih terlihat sekarang ini.
Pergantian nama rumah sakit berdasarkan Surat Keputusan Kasad No:Skep/1210/VIII/1976 tanggal 25 Agustus 1976 dan Surat Perintah Pangdam IV/Sriwijaya Nomor:Sprin/1328/IX/1976 tanggal 30 September 1976 Rumah Sakit Tk.III/IV/Sriwijaya diberikan nama baru yaitu Rumkit Tk.IV Dr. AK Gani, yang pada akhirnya berubah menjadi Rumkit Tk.II Dr. AK Gani seiring dengan perubahan Kodam IV/Sriwijaya menjadi Kodam II/Sriwijaya.
RS Dr. AK Gani adalah bangunan kuno peninggalan pemerintah kolonial Belanda yang waktu itu digunakan sebagai markas pertahanan Belanda untuk menghambat  masuknya musuh mereka yaitu Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI) terutama serangan yang datang dari arah sungai Musi.
Pada tanggal 13 Mei 1950 rumah sakit ini diserahkan oleh pemerintah Belanda kepada pemerintah Indonesia (APRI) dan selanjutnya digunakan oleh pemerintah Indonesia sebagai Instalasi Kesehatan TNI yang waktu itu dikelola oleh Jawatan Kesehatran Angkatan Darat (Jankesad) dan seterusnya seiring dengan perkembangan organisasi TNI Angkatan Darat rumah sakit diberi nama Rumah Sakit Dr. AK Gani Kesdam II/Sriwijaya, dimana pemberian nama tersebut didasari untuk mengenang jasa-jasa dari Dr. Adenan Kapau Gani yang banyak berjuang membantu APRI saat melawan kolonial Belanda.
Pada tanggal 22 Nopember 1976 diresmikan nama RS Dr. AK Gani Kesdam II/Sriwijaya oleh Kepala Jawatan Kesehatan Angkatan Darat Brigadir Jenderal TNI Dr. Prakosa, dengan sebutan sekarang Rumah Sakit Tingkat II dr. AK Gani.
Sumber tulisan : http://rumahsakitakgani.com/

18 Februari 2017

Lukisan Tentara Jepang saat menduduki Palembang

Lukisan tentara Jepang saat melakukan pengeboman pada tangki minyak di kawasan Plaju
Sejumlah besar penerjun payung Jepang saat mendarat di Palembang
Sumber foto : httpnimh-beeldbank.defensie.nl

15 Februari 2017

Dodi-Beni Unggul Sementara 79,5 Persen Versi Quick Count Charta Politika

Dodi-Beni Unggul Sementara 79,5 Persen Versi Quick Count Charta Politika
Cabup no 1 Pilkada Muba, Dodi Reza Alex didampingi isteri memasukan surat suara di TPS 11 Kayuara, Rabu (15/2/2017). 
SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Hingga pukul 14.30, pasangan calon bupati/wakil Bupati Muba H Dodi Reza Alex Noerdin unggul sementara pada hitung cepat (quick count) Pilkada Muba.
Dari 67 persen data yang masuk H Dodi Reza Alex Noerdin unggul sementara 79,5 persen dari 14 kecamatan paslon 1.
Sementara rivalnya Paslon nomor urut 2 Amiri Aripin-Ahmad Toha perolehan suaranya 19,26 persen.
Ke-14 kecamatan itu meliputi Babat Supat, Sanga Desa, Sekayu, Sungai Keruh, Sungai Lilin, Tungkal Jaya, Babat Toman, Batang Hari Leko, Bayung Lencir, Keluang, Lais, Lalan, Lawang Wetan, Plakat Tinggi.
Antara lain dari Kecamatana Sekayu sudah masuk 25 TPS dari 26 TPS (89 persen lawan 11 persen).
Begitu juga Keluang sudah 10 TPS dari 10 TPS (83 persen lawan 17 persen).
Sungai Keruh 14 TPS semua sudah masuk (62 persen lawan 38 persen).
Sanga Desa sudah masuk semua 11 TPS (66 persen lawan 34 persen).
Plakat Tinggi sudah semua 8 TPS (86 persen lawan 14 persen).
Ibunda Calon Bupati Musibanyuasin nomor urut 1, H Dodi Reza Alex Noerdin, Hj Eliza Alex memperhatikan seksama penghitungan suara quick count Charta Politika di kediaman Jl Merdeka Palembang, Rabu (15/2/2017).
Ibunda Calon Bupati Musibanyuasin nomor urut 1, H Dodi Reza Alex Noerdin, Hj Eliza Alex memperhatikan seksama penghitungan suara quick count Charta Politika di kediaman Jl Merdeka Palembang, Rabu (15/2/2017). (SRIPOKU.COM/ABDUL HAFIZ)
"Secara statistik Paslon nomor 1 tidak akan terkejar lagi. Karena sudah masuk 70 persen. Angka gep tidak akan menyebabkan elektabilitas paslon nomor 1 terjun bebas. Ini sudah didominasi paslon 1. Terlihat stabilitas grafik," kata Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Publik Indenpen, Arianto ST MSi.

14 Februari 2017

Musik Jidur Masa Kini





Musik "Jidur" yang Terpinggirkan


SEKITAR 20 tahun lalu, jenis musik tanjidor tak terpisahkan dari kegiatan pesta masyarakat di kawasan Kecamatan Sanga Desa dan Babat Toman, Musi Banyuasin, dari pesta sunatan, naik haji, sampai pernikahan. Namun seiring waktu, kini musik tradisional -- yang oleh warga setempat disebut "musik jidur" mulai terpinggirkan. 

Acara-acara yang digelar pun tidak lagi mengundang "musik jidur", tapi sudah beralih ke orkes melayu, yang lebih atraktif dan menggoda setiap pendengarnya untuk bergoyang. Bahkan, sejak sepuluh tahun terakhir musik jidur ini pun makin "terjepit", lantaran maraknya orgen tunggal.

Menurut Komar, warga Desa Ngulak, Sanga Desa, kian terdesaknya musik jidur cukup memprihatinkan. Padahal jenis musik ini pun sebenarnya tidak kalah aktraktif dengan orgen tunggal, karena pemainnya pun bisa mengikuti irama lagu-lagu terkini. "Ini mestinya menjadi perhatian pemerintah, karena ini aset budaya lokal," katanya. 

sumber tulisan : http://palembang.tribunnews.com/
Sumber Foto : facebook Urip Anwar

12 Februari 2017

Simpang 4 Polda Update


Lokasi                            : Simpang empat Polda 
Waktu Pengambilan      : Sabtu, 11 Februari 2017
Jam                                : 09:30 WIB
                                         Lenovo Vibe K4 Note

11 Februari 2017

Simpang 4 Rajawali Update


Lokasi                            : Simpang Rajawali
Waktu Pengambilan      : Sabtu, 11 Februari 2017
Jam                                : 09:50 WIB
                                         Lenovo Vibe K4 Note

10 Februari 2017

Ada yang tahu ?


Bingung juga baca baliho yang ada di jalan Letkol Iskandar tepatnya di simpang 4 ke pasar loak cinde, baliho yang cukup besar mengandung pesan tersirat mengenai informasi film... tapi entah film apa ..... ada yang tahu judulnya ?

09 Februari 2017

Gereja Imanuel / Greja Ayam Palembang Tempo Dulu

Gereja Juliana/ Indische Kerk ( Gereja Imaniel ) Tahun 1946 Sumber : Indiegangers.nl


Gereja Ayam atau Gereja Immanuel Palembang, gereja ini cukup unik dengan adanya penunjuk arah angin yang berbentuk ayam di atasnya sehingga orang-orang banyak yang menjulukinya dengan nama gereja ayam.  Gereja ayam memiliki nama resmi GPIB (Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat) adalah bagian dari GPI (Gereja Protestan Indonesia) yang dulunya bernama Indische Kerk. Teologi Gereja ini didasarkan pada ajaran Reformasi dari Yohanes Calvin, seorang Reformator Prancis yang belakangan pindah ke Jenewa (Swiss) dan memimpin gereja di sana.  GPIB didirikan pada tanggal 31 Oktober 1948 yang pada waktu itu bernama resmi “De Protestantse Kerk in Westelijk Indonesie”.

Sumber : https://adrian10fajri.wordpress.com/

08 Februari 2017

Javaness Bank Palembang 1946-1948

TBatalyon Resimen Stoottroepen di Hindia Belanda. yang tetap bersiaga di Javaness Bank di Palembang 1946 -1948 Sumber foto : http://nimh-beeldbank.defensie.nl

06 Februari 2017

Eks Hotel Musi Palembang Di waktu malam


Eks hotel musi Palembang yang terletak di Jl. Merdeka bersebelahan dengan Eks Bioskop Oriental/Saga yang menjadi kantor Dispenda Kota Palembang, dan eks hotel musi saat ini di fungsikan sebagai kantor Badan Kepegawaian Daerah Dan Diklat Kota Palembang

Lokasi                            : Jl. Merdeka
Waktu Pengambilan      : Selasa, 31 Januari 2017
Jam                                : 20:35 WIB
                                         Lenovo Vibe K4 Note

Lengkap lihat : Sejarah Hotel Musi

05 Februari 2017

Bubur Ayam Veteran Palembang


Sudah cukup lama tidak mampir ke sini, akhirnya kesampaian juga mencicipi kenikmatan bubur ayam yang berlokasi di Jl. Veteran ini, dengan suasana yang lumayan ramai karena banyak anak muda yang memlilih alternatif nongkrok sekalian mengisi perut di sini.

Dengan membandrol harga Rp.7.000,- permangkok tanpa telur  dan Rp.9.000,- untuk yang pakai telur, dulu pernah juga blog ini posting tentang bubur ayam veteran ini , lumayan sudah cukup lama.

Lebih Lengkap lihat : Bubur Ayam Veteran

04 Februari 2017

Proyek Pembangunan Flyover di Simpang Bandara


Detak-Palembang.com PALEMBANG – Pelaksanaan pembangunan dua flyover, segera dilaksanakan setelah ditanda tanganinya kontrak kerja di Novotel, Jumat (29/07). Kontrak antara Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia (PUPR-RI) dengan PT.Wijaya Karya (Persero) Tbk, untuk pembangunan flyover Simpang Keramasan dan PT. Modern Widya Technical untuk pembangunan flyover Simpang Bandara-Tanjung Api Api.

Flyover Simpang Bandara-Tanjung Api Api mempunyai panjang jembatan 460.74 meter dengan lebar 17.5 meter. Sementara fly over Simpang Keramasan sedikit lebih panjang dari flyover Simpang Bandara, dengan panjang 650 meter dan lebar 17.5 meter.

Thomas Setia Budi Aden, Kepala Balai Besar Pelaksana Jalan Kementerian PUPR-RI mengatakan, Kedua flyover dikerjakan secara bersamaan, dengan lama pengerjaan 610 hari.

“Kontrak flyover keramasan menggunakan biaya Rp220.8 Miliar lebih mahal dibandingkan fly over Simpang Bandara yang biaya pengerjaannya Rp159.5 Miliar, hal ini karena flyover Simpang Keramasan lebih panjang,” jelasnya.

Thomas melanjutkan, permasalahan yang dihadapi, pertama masalah administrasi dan masalah lingkungan. Problem lainnya adalah lalu lintas karena di Simpang Bandara ada pembangunan Light Rail Transit (LRT).

“Perapatan-perapatan yang penting coba kita bicarakan dengan benar. Saya tidak mau selama pelaksanaan proyek mengganggu lalu lintas, kalau menggangu harus sudah kita pikirkan. Kalau ada lajur yang kita pakai maka saya pesan untuk membuat lajur tambahan sementara. saya tidak mau mengganggu lalu lintas, itu sudah standar kita, kalau mengganggu seminimal mungkin,” pesannya.

Ditambahkannya, terkait statemennya pembangunan selesai tahun 2017 karena pesan dari Gubernur. Pada awal 2018 akan ada inspeksi dari Komite Asian Games tentang layak atau tidaknya Palembang menjadi penyelenggara, pihaknya harus siap mendukung.

“Tahun 2017 mungkin belum sempurna, mungkin pagar atau lampunya belum sempurna, paling tidak dengan struktur yang sudah jadi, kita meyakinkan tim dari manapun Palembang khususnya Sumsel secara umum sudah siap menerima kontingen,” optimis Thomas.

Terkait lahan untuk pembangunan kedua flyover ia mengatakan, pembebasan lahan tidak terlalu masalah karena pembangunan di tengah. Pembebasan lahan hanya pada flyover Simpang Bandara sekitar 3.000 meter.

“Lahan yang dibebaskan hanya saluran air dan halaman-halaman ruko, jadi tidak terlalu mengganggu. Secara Undang-Undang tinggal dibayarkan saja. Untuk utilitas sudah kita inventarisir, akan kita tata lebih baik . Utilitas ada gas, listrik, telpon, fiber optik macem macem lah,” jelasnya.

Dikatakannya, terkait persinggungan antara fly over dengan LRT secara teknis belum ada detil, untuk LRT nanti akan sedikit diatas fly over tetapi tidak bertabrakan, akan jejer saja dengan flyover. Detil design belum siap untuk LRT, kalau fly over sudah siap.

“Ada dua lagi yang akan kita bangun di Palembang, flyover Simpang Sekip dan Under Pass untuk Simpang Charitas, tetapi keuangannya belum ada sekarang,” tutupnya.

Sumber tulisan  : https://detak-palembang.com/

03 Februari 2017

Aksi Bela Ulama 302 di Palembang






SRIPOKU.COM, PALEMBANG -- Ribuan umat muslim memadati kawasan Bundaran Air Mancur (BAM) Palembang, Jumat (3/2/2017).

Sambil mengumandangkan kalimat takbir, shalawat serta ‎lafaz-lafaz Allah lainnya, para umat muslim di Palembang nampak antusias mengikuti aksi damai bela ulama atas kasus penistaan ulama yang dilakukan Gubernur Non Aktif DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama.

Mengenakan pakaian serba putih, umat muslim baik laki-laki, perempuan, anak-anak hingga orang tua berbaur bersama untuk menyerukan bahwa Islam merupakan agama yang cinta damai.

Kendati dalam kondisi panas yang sangat menyengat, para peserta yang membawa spanduk serta bendera bertuliskan arab tetap semangat mengikuti aksi damai.

Hingga saat ini para masa terus menyemuti kawasan Masjid Agung Palembang.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------
SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Ribuan umat muslim yang menggelar aksi damai bela ulama, menunjukan rasa nasionalismenya pada aksi di Bundaran Air Mancur depan Masjid Agung Palembang, Jumat (3/2/2017).

Para ustad dan kiyai yang berorasi secara bergantian, mengajak umat muslim untuk menjaga keutuhan NKRI.

Para peserta aksi pun secara bersama-sama menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya sembari tangan kanan dikepal diangkat ke atas.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Usai melaksanakan salat Jumat berjemaah, ribuan umat muslim menggelar aksi damai yang dipusatkan di Bundaran Air Mancur depan Masjid Agung Palembang, Jumat (3/2/2017).

Gema takbir dikumandangkan dan solawat pun juga dilantunkan.

Tampak di podium aksi, Ketua FPI DPD Sumsel Habib Mahdi, melakukan orasi dan mengajak umat Islam untuk tidak terpecah-belah.

"Allahhuakbar...Allahukbar...Allahuakbar...," teriak ribuan peserta aksi damai.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Kendati mengikuti aksi damai dengan jumlah ribuan orang, namun suasana aksi damai aksi bela ulama di kawasan Masjid Agung Palembang, Jumat (3/2/2017) berlangsung khidmat dan kondusif.

Tak hanya itu, sampah-sampah yang berserakan menjadi perhatian paling penting oleh peserta aksi.

Dalam kegiatan ini nampak beberapa orang bertugas untuk membersihkan dan memungut sampah.

Sekjen FPI Palembang, Habib Mahdi menyerukan kepada seluruh umat muslim yang ikut aksi damai jangan berlaku anarkis dan ikut dalam barisan untuk menjaga keamanan.

"Semuanya harus tertib, aman dan jangan ada tindakan anarkis. Jangan ada sampah berserakan, jangan buat berantakan Masjid Agung. Kita lakukan aksi ini untuk membela ulama tanpa ada maksud lain," tegasnya.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...