Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2012

Pempek Adaan

Sekilas Sejarah Perss di Palembang

TIDAK banyak catatan mengenai sejarah pers di Palembang. Tapi, sangat dipercaya pers di Palembang sudah ada sejak pertengahan abad 19. Buku Beberapa Segi Perkembangan Sejarah Pers di Indonesia (Kompas, 2002), menyebutkan pada masa kolonial Hindia Belanda di Palembang telah terbit surat kabar Nieuws en Advertentie blad voor de Residentie Palembang, Djambie en Banka pada 1893.

Surat kabar ini disebutkan terbit dua kali dalam sepekan dan diperuntukan kepentingan perusahaan minyak di Palembang. Menurut Tribuana Said dalam bukunya Sejarah Pers Nasional dan Pembangunan Pers Pancasila (1988, halaman 26) disebutkan pada 1830 adalah seorang pengusaha pribumi pertama di Indonesia yang memiliki mesin cetak. Namanya Kemas Mohammad Asahari. Tapi, berbeda dengan Tirto Hadisoerjo alias Djokomono di Bandung dan Serikat Tapanoeli di Medan, Kemas Mohammad Asahari tidak menerbitkan koran atau surat kabar.
Siapa Kemas Mohammad Asahari? Menurut budayawan dan sejarawan Palembang, Djohan Hanafiah, Kemas Moha…

Kelenteng 10 Ulu Palembang 1947

Klenteng yang dibangun di kawasan 10 Ulu pada tahun 1733, sebagai ganti klenteng di kawasan 7 Ulu yang terbakar setahun sebelumnya itu, menyimpan banyak cerita melalui berbagai masa.
Menurut Princeps, Sekretaris III Yayasan Dewi Pengasih Palembang, selaku pengelola klenteng Chandara Nadi, klenteng itu digunakan umat dari tiga agama dan kepercayaan untuk berdoa. Ketiga agama dan kepercayaan yang diakomodasi di klenteng ini adalah Buddha, Tao, dan Konghucu.
Memasuki Klenteng Chandra Nadi, aroma hio wangi langsung menusuk ke hidung. Hio-hio itu dipasang di altar Thien. Thien secara harfiah berarti ’langit’. Namun oleh sebagian penganut Konghucu dan Buddha, thien juga disebut sebagai Tuhan Yang Maha Esa.
Melangkah masuk ke dalam, di altar Dewi Maco Po atau penguasa laut (juga disebut sebagai dewi yang menguasai setan dan iblis) dan altar Dewi Kwan Im atau penolong orang yang menderita sudah tersusun secara berurut. Di altar Dewi Maco Po sering diadakan upacara Cio Ko untuk meminta izin membu…

Kolam Renang di Komperta Plaju Dulu & Sekarang

Masjid Agung Sultan Mahmmud Badarudin II Tahun 1946 1950

Masjid Sultan / Masjid Agung Palembang 1946 1950

Post Card Natal dan Tahun Baru 1947 - 1950

Post  Card Natal dan Tahun Baru 1947 - 1950 foto : Kitlv.nl

Iklan Tempo Dulu di Palembang

Salah satu dokumen iklan tempo dulu yang ada di Palembang 
Sumber : Sumatera E-Museum

SEJARAH JAKABARING

Dalam kunjungan ketua MPR RI dikota Palembang hari ini dalam rangka meninjau persiapan acara SEA GAMES yang akan dilakukan pada beberapa hari mendatang, tiba-tiba saja Taufik Kemas mengeluarkan gagasan yang tidak populer yaitu mengganti nama kawasan Jaka Baring menjadi kawasan Susilo Bambang Yudhoyono, dan usulan ini telah disampaikan kepada Gubernur Sumatra Selatan untuk segera dilaksanakan secepatnya sehingga saat acara pekan olah raga antar Negara Asean ini dilaksanakan, nama Jakabaring sudah dirubah menjadi SBY sport center.
Taufik kemas memang doyan mencari muka terhadap SBY,  hal ini dia lakukan  untuk menyelamatkan posisi PDIP maupun sang Nyonya yang tersandung dalam kasus cek perjalanan dan kasus besar bekas lapangan terbang kemayoran yang sampai hari ini kasusnya masih dipetieskan oleh Pemerintah, padahal kasus pengalihan fungsi bekas Bandara Kemayoran dari milik Negara menjadi lahan swasta jelas merupakan tindakan korupsi, dan pengalihan tersebut terjadi saat M…