Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2012

Makam Sultan Mahmud Badarudin II di Ternate

Sultan Mahmud Badaruddin II (Lahir: Palembang, 1767, wafat: Ternate, 26 November 1862) adalah pemimpin kesultanan Palembang-Darussalam (1803-1819), setelah masa pemerintahan ayahnya, Sultan Mahmud Badaruddin.
Dalam masa pemerintahannya, ia beberapa kali memimpin pertempuran melawan Britania dan Belanda, diantaranya yang disebut Perang Menteng. Tahun 1821, ketika Belanda secara resmi berkuasa di Palembang, Sultan Mahmud Badaruddin II ditangkap dan diasingkan ke Ternate.
Namanya kini diabadikan sebagai nama bandara internasional di Palembang, Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II.
Mata uang rupiah pecahan 10.000-an yang dikeluarkan pada 20 Oktober 2005 menggunakan Sultan Mahmud Badaruddin II sebagai gambar hiasannya. Penggunaan gambar ini sempat menjadi kasus pelanggaran hak cipta, karena gambar tersebut digunakan tanpa izin pelukisnya.
Sejak timah ditemukan di Bangka pada pertengahan abad ke-18, Palembang dan wilayahnya menjadi incaran Britania dan Belanda. Berdalih menjalin kontrak daga…

Sate Wak Din Khas Palembang

Selain pempek, kerupuk kemplang ataupun martabak har, ada lagi salah satu kuliner khas Palembang yang cukup unik yaitu sate. Sate manis bergitu orang menyebutnya karena memakai paduan bumbu kecap dan paduan rasa cuka yang cukup eksotik. Penjual sate manis tidak banyak, salah satu yang cukup terkenal adalah warung sate Wak Din di Jalan Hasyim Ashari atau Pasar Klinik, 7 Ulu.

Warung sate Wak Din terletak sekitar 50 meter dari kaki Jembatan Ampera atau dari pangkal proyek. Lokasi warung sate yang sederhana itu mudah ditemukan karena tampak berbeda dengan warung makan lainnya, yaitu ada alat memanggang sate di depan warung dengan aroma yang khas. Lahan parkir di depan warung sate Wak Din yang cuma secuil itu pun sering terlihat penuh. Mulai dari sepeda motor sampai mobil mewah diparkir di depan warung sate Wak Din.Kesan warung tradisional yang mengabaikan penampilan langsung menyergap pengunjung. Namun, jangan buru- buru menilai rasa masakan hanya dengan melihat kondisi warung.

A…

Sejarah Rumah SUSUN Palembang

MUSIBAH kebakaran yang terjadi pada Agustus 1981 menimbulkan dampak yang cukup besar pada wajah kota ini. Sebanyak empat kampung tradisional masyarakat lenyap dari permukaan Bumi Sriwijaya ini. Peristiwa ini, paling tidak, juga telah mengubah pola hidup Wong Pelembang lewat perkenalan dengan rumah bertingkat-tingkat yang di sebut rumah susun (Rusun). Kawasan pertokoan Internasional Plaza (IP) hingga ke IBP paling tidak hingga awal 1980-an, belum memiliki jalan aspal, sementara IP, ketika itu masih merupakan Bioskop Internasional dengan beberapa toko disekitarnya. Di ujung jalan (tanah merah keras) dari Internasional terdapat Pasar Mambo yang dibuka pada malam hari.
Saat ini, bangunan di sekitar kawasan itu umumnya baru kecuali toko foto – copy Remifa. Penghubung kawasan Cinde Welan (Candi Walang) adalah Jl Candi Walang, yang di mulai dari Jl. Jend. Sudirman — Kebon Duku — hingga tembus ke belakang Pasar Cinde saat ini. Di kawasan 24 Ilir itu pula, terdapat Sungai Candi W…

Jalan Selero Palembang

Jalan Selero. Selain dikenal sebagai pusat percetakan, kawasan ini juga sering dianggap sebagai tempatnya one stop wedding. Lantas seperti apa sejarahnya sampai kawasan ini bisa berkembang seperti sekarang?

Kalau punya waktu menyusuri Jalan Serelo atau kini disebut Jalan AKBP HM Amin, Anda pasti akan langsung disuguhi petakpetak kios percetakan. Mulai dari skala kecil hingga besar, semua bercampur baur menjadi satu di tempat ini.

Keberadaannya pun menyebar tak hanya di Jalan AKBP HM Amin tapi juga sampai ke Jalan Cek Syeh dan Jalan Faqih Jalaludin. Diperkirakan tak kurang ada ratusan percetakan yang beroperasi di tempat ini. Hidayat Senen,56, salah seorang pengusaha sekaligus perajin yang cukup lama mendiami kawasan itu mengatakan, terbentuknya pusat percetakan di lokasi tersebut terjadi begitu saja.Seingatnya, kios percetakan mulai muncul sekitar akhir tahun 80- an. Sebelumnya, kawasan itu merupakan perkampungan biasa layaknya jalan-jalan lain di Kota Palembang.

Selai…

Hotel Smit / Hotel Sehati Palembang

Hotel yang termasuk berkelas di zamannya ini terletak di kawasan talang semut dimana kebanyakan warga Belanda yang tinggal di sini, dengan mengandalkan kenyamanan dan ketersediaan air panas dan dingin.

Pempek Adaan

Sekilas Sejarah Perss di Palembang

TIDAK banyak catatan mengenai sejarah pers di Palembang. Tapi, sangat dipercaya pers di Palembang sudah ada sejak pertengahan abad 19. Buku Beberapa Segi Perkembangan Sejarah Pers di Indonesia (Kompas, 2002), menyebutkan pada masa kolonial Hindia Belanda di Palembang telah terbit surat kabar Nieuws en Advertentie blad voor de Residentie Palembang, Djambie en Banka pada 1893.

Surat kabar ini disebutkan terbit dua kali dalam sepekan dan diperuntukan kepentingan perusahaan minyak di Palembang. Menurut Tribuana Said dalam bukunya Sejarah Pers Nasional dan Pembangunan Pers Pancasila (1988, halaman 26) disebutkan pada 1830 adalah seorang pengusaha pribumi pertama di Indonesia yang memiliki mesin cetak. Namanya Kemas Mohammad Asahari. Tapi, berbeda dengan Tirto Hadisoerjo alias Djokomono di Bandung dan Serikat Tapanoeli di Medan, Kemas Mohammad Asahari tidak menerbitkan koran atau surat kabar.
Siapa Kemas Mohammad Asahari? Menurut budayawan dan sejarawan Palembang, Djohan Hanafiah, Kemas Moha…

Kelenteng 10 Ulu Palembang 1947

Klenteng yang dibangun di kawasan 10 Ulu pada tahun 1733, sebagai ganti klenteng di kawasan 7 Ulu yang terbakar setahun sebelumnya itu, menyimpan banyak cerita melalui berbagai masa.
Menurut Princeps, Sekretaris III Yayasan Dewi Pengasih Palembang, selaku pengelola klenteng Chandara Nadi, klenteng itu digunakan umat dari tiga agama dan kepercayaan untuk berdoa. Ketiga agama dan kepercayaan yang diakomodasi di klenteng ini adalah Buddha, Tao, dan Konghucu.
Memasuki Klenteng Chandra Nadi, aroma hio wangi langsung menusuk ke hidung. Hio-hio itu dipasang di altar Thien. Thien secara harfiah berarti ’langit’. Namun oleh sebagian penganut Konghucu dan Buddha, thien juga disebut sebagai Tuhan Yang Maha Esa.
Melangkah masuk ke dalam, di altar Dewi Maco Po atau penguasa laut (juga disebut sebagai dewi yang menguasai setan dan iblis) dan altar Dewi Kwan Im atau penolong orang yang menderita sudah tersusun secara berurut. Di altar Dewi Maco Po sering diadakan upacara Cio Ko untuk meminta izin membu…