Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2010

Kue Gomak Khas Palembang

Ini dia kue kesukaan saya, kue gomak. Bagi anda yang ingin mencari cara membuat kue gomak anda berada di tempat yang tepat karena kali ini kami akan berbagi resep cara membuat kue gomak. Kue gomak adalah kue yang dibuat dari singkong dan di kombinaskian dengan beberapa bahan dan bumbu yang membuatnya enak dan lezat. Berikut ini adalah cara membuat kue gomak.
Bahan 1 kg singkong2 butir telur1/2 kaleng susu kental1 ons gula pasir1 sendok makan garam1/4 butir kelapa
Cara membuat Singkong di kupas, diparut dan diperas untuk dibung airnya.Kalapa diparut, lalu campurkan dengan parutan dingkong.Kocok telur dan masukkan kedalam adonan tadi, masukkan susu kental dan aduk hingga rata. Buat bulatan bulatan dengan adonan tadi kemudian goreng hingga matang.Demikian tadi resep membuat kue gomak yang enak mudah dan praktis, temukan resep masakan khas daerah, resep kue baik resep kue basah maupun resep kue kering lainnya dengan menuju kategori sesuai dengan anda inginkan.

Djohan Hanafiah

Djohan Hanafiah dilahirkan di Palembang pada 5 Juni 1939 dari pasangan Raden Muhammad Ali Amin dan Raden Ayu Ning Fatimah. Dia merupakan anak sulung dari tujuh bersaudara. Sejak remaja Djohan Hanafiah senang berpetualang. Menggunakan kereta api atau kapal laut, Djohan sering mengunjungi banyak tempat di Sumatera dan Jawa. Selama perjalanan itu, dia menikmati segala kekayaan budaya pada masyarakat Indonesia.
Rasa senangnya akan kebudayaan Indonesia ini dipengaruhi oleh pemikiran Ki Hajar Dewantara melalui pendidikan di Perguruan Taman Siswa—Djohan Hanafiah sekolah SD, SMP, SMA di Perguruan Taman Siswa. Selain itu, juga didorong pemikiran Bung Karno dan AK Gani mengenai nasionalisme atau Indonesia. Pada zaman revolusi berkisar tahun 1945-1946, Djohan Hanafiah dititipkan ke keluarganya di 26 Ilir, sementara kedua orangtuanya bergerilya ke pedalaman Sumatera Selatan melawan tentara NICA (Nederlandsch IndiĆ« Civil Administratie).  
Ternyata keluarga yang ditumpangi Djohan Hanafiah ini pro ke…

Sejarah Perang Menteng

PERANG MENTENG
Kemas Said keluar menyerbu amat gembira di dalam kalbu mati sepuluh baris seribu dekat pintukotaKemas nan rubuh Datanglah satu opsir mendekati membedil Kemas tiada berhenti pelurunya datang menuju hati di sanalah tempat Kemas nan mati
PETIKAN tersebut adalah bagian dari Syair Perang Menteng. Syair sepanjang 260 bait itu, menurut Muhammad Akib dalam Sejarah Perjuangan Sultan Mahmud Badaruddin II (1979), ditulis oleh RM Rasip, juru tulis pribadi Sultan Mahmud Badaruddin II, dalam bahasa Arab Melayu, seusai Perang Menteng tahun 1819.
Perang Menteng adalah istilah setempat untuk menamai perang yang terjadi antara pasukan Sultan Mahmud Badaruddin II dan pasukan Komisaris Edelheer Muntinghe. Djohan Hanafiah dalam Kuto Besak, Upaya Kesultanan Palembang Menegakkan Kemerdekaan (1989) menyebutkan, babak pertama pertempuran yang terjadi 12-15 Juni 1819 dimenangi secara gemilang oleh Palembang.
Belanda kembali menggempurPalembangdengan kekuatan berganda, yang dipimpin langsung Panglima Angkata…