Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2010

Ngarak Pengantin

Dari satu buku yang ditulis oleh Hj Anna Kumari berjudul Tujuh Hari Tujuh Malam, rangkaian adat nikahan masyarakat Palembang di zaman Kesultanan Palembang Darussalam dimulai dengan sebutan akad nikah, yang oleh masyarakat Palembang Darussalam biasanya dilangsungkan Jumat. Akad nikah dilangsungkan di rumah mempelai pria. Calon mempelai wanita hanya boleh diwakilkan ayah atau wali pria yang lain. Begitu penghulu menasbihkan sah, resmilah si pria menikahi wanita pujaannya.
Malam hari setelah akad nikah, dilangsungkan upacara ngarak pacar. Dalam acara ini, mempelai pria mengajak keluarga dan kerabat berkunjung ke rumah mempelai wanita sembari membawa nampan beralaskan kain sutera yang berisikan keris pusaka nenek moyang. Rombongan mempelai pria diarak dengan musik gambus menuju rumah mempelai wanita. Nampan ini diserahkan ibu mempelai pria kepada mempelai wanita, yang sudah menanti kedatangan di dalam kamar pengantin. "Menurut masyarakat zaman dulu, keris dan bunga merupakan lambang p…

Kue Engkak Ketan Khas Palembang

Engkak adalah sajian kue dari campuran bahan tepung ketan, santan kelapa dan beberapa bahan lainnya yang kemudian disaring dan dimasukkan ke dalam loyang lalu dipanggnag secara berlapis-lapis dengan melewati beberapa tahapan. Kue engkak ini adalah sajian kue lezat yang berasal dari Sumatera Selatan lebih tepatnya Palembang , Lampung juga beberapa kota lainnya di sekitar sumsel yang memiliki sajian rasa jempol alias top markotop atau enak bangeut. Karena melewati tahap pemanggangan dalam penyajiannya menjadikan kue engkak ketan lapis, begitu sebutannya, kue yang tergolong tahan lama atau bisa disimpan dan disantap kembali di lain waktu. Untuk membuat sajian kue engkak ketan lapis ini ada beberapa bahan yang harus disiapkan terlebih dahulu dan semuanya dapat didapat dengan mudah di warung-warung, mini market atau juga swalayan. Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan kue engkak ketan lapis serta cara pembuatannya dapat dilihat dalam sajian resep cara membuat kue engkak ketan lap…

Sahilin, Pelestari Irama Batanghari Sembilan

Oleh Muhamad Nasir (Sinar Harapan).
PALEMBANG - Sosok Sahilin (59) bagi masyarakat Sumatera Selatan demikian melekat, teristimewa bila bicara soal Kesenian Batanghari Sembilan yang menjadi ciri khas daerah ini.
Sekalipun untuk menuju ke rumahnya harus melalui lorong sempit di atas rawa-rawa di kawasan 35 Ilir Palembang, mencari Sahilin tidaklah sulit. Mulai dari jalan raya di depan Pelabuhan 35 Ilir Palembang, nama pria eksentrik ini sudah dikenal. Hanya saja, karena banyaknya gang kecil dan persimpangan, menanyakan anak kedua dari sembilan bersaudara ini tidaklah cukup bila sekali, terutama bagi yang baru pertama kali datang ke sini.
Di antara banyaknya seniman pelantun Batanghari Sembilan, nama Sahilin tetaplah menjadi maskot. Ketekunannya menggeluti kesenian tradisional ini membuat simpati banyak kalangan, termasuk akademi dan lembaga dari dalam maupun luar negeri seperti Philip Yampolsky dari Ford Foundations, yang pernah melakukan penelitian tahun 1992.
”Rasanya senang dan bangga d…