Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2010

Bangunan Aristektur CIna di 10 Ulu Palembang

Tidak tahu persis kapan pertama kali etnis tionghoa menginjakkan kakinya kali pertamanya ke Palembang, banyak hal yang mesti digali dan diteliti kembali sejarah awalnya etnis tionghoa masuk ke Palembang, jika  berdasarkan silsilah temenggung TJua Ham Hin, sesepuh dari kampong kapitan telah ada sebelum 1850. 
Sejak abad ke 19 “kampung kapitan” di anggap “pendiri” dan sekaligus menjadi  nilai-nilai budaya cina di Palembang, dulu pusat perdagangannya berada di 10 ulu dan itu termasuk wilayah Tjua Ham Hin “china town” atau sekarang menjadi sebutan kampung kapitan. Dengan luas wilayah kala itu adalah 20 hektar dan sepuluh ulu sekarang adalah pusat perdagangannya. Hingga sekarang Peninggalan bangunan dengan arsitektur cina banyak bisa di lihat di kawasan 10 ulu dan sebagaian 7 ulu Palenmbang.
Begitu juga dengan mata pencarian kawasan ini yang kebanyakan berdagang terutama makanan khas ataupun kebutuhan sehari-hari lainnya. Seperti foto di atas banyak bangunan rumah di kawasan ini yang di bang…

KM 12 Palembang Update

Arus lalu lintas di perbatasan Palembang-Banyuasin mulai pagi hingga sore, selalu macet sepanjang 1-2 kilometer. Hal ini disebabkan, ruas jalan yang sempit dan laju kendaraan lamban.kemacetan dipicu karena arus kendaraan dari Lingkar Barat menuju Betung, Jambi dan Trans Sumatera melintasi di persimpangan Pasar Km 12. Belum lagi jenis kendaraan tergolong besar.

Kondisi ini juga diperparah dengan laju kendaraan dari Jl Kol H Barlian tujuan Betung harus memutar di depan pasar Km 12, sehingga konsentrasi kendaraan terus bertambah dan memperparah kemacetan. Antrean kendaraan terlihat hingga Km 15 di depan persimpangan menuju kawasan Perumahan Griya Asri.  Kondisi ini diperparah di kawasan pinggiran jalan berdiri Ruko yang sudah menjadi kawasan pergudangan sehingga keluar dan masuk kendaraan dari ruko juga menghambat laju kendaraan. Sementara dua petugas Dishub Palembang yang berjaga di KM 12, hanya untuk menghalau truk masuk kota dan tidak mengatur kelancaran arus lalu linta…

Imlex 2561 BE di Palembang

PALEMBANG, Buana Sumsel- Klenteng Tri Dharma Chandra Nadi atau klenteng Dewi Kwan Im atau dalam bahasa Mandarin disebut Klenteng Soei Goeat Kiang di jalan Perikanan 10 Ulu Palembang menjadi lokasi perayaan Tahun Baru Imlek. “Klenteng Chandra Nadi memegang peranan penting dalam berbagai upacara keagamaan masyarakat Tionghoa. Masyarakat Tionghoa penganut Buddha, Tao, dan Konghucu, terutama yang mempunyai leluhur di Palembang selalu merayakan Imlek di Chandra Nadi dan dilanjutkan ke Pulau Kemaro,” kata Ketua Yayasan Dewi Pengasih Mahmud melalui bagian logistik Yayasan Dewi Pengasih Budi, Sabtu (13/02/10). “Persiapan perayaan Tahun Baru Imlek telah dilakukan selama dua minggu menjelang hari puncak.”Semua dipersiapkan secara matang untuk menyambut Imlek dan pergantian tahun macan ini,” kata Budi.
Menurut Budi Selain 1.000 lampion berwarna merah bergelantungan di sepanjang jalan masuk menuju klenteng Chandra Nadin. Pada puncak acara, Sabtu (13/02/10) pukul 00.00 Wib diperkir…

Palembang Tempo 1950-an

MEMBAYANGKAN kembali suasana kota Palembang di era awal pasca revolusi fisik, mengarahkan ingatan para sesepuh yang pernah merasakan masa ini. Suatu penggalan waktu yang menorehkan  nostalgia lama. Suasana kota yang jelas masih terasa sepi dibandingkan dengan saat ini. Geliat kehidupan sehari-hari belum sepadat sekarang, dengan jumlah penduduk sekitar 400 ribu jiwa, Palembang masih terasa lengang untuk ukuran masa kini. Di era awal pasca pengakuan kedaulatan Republik Indonesia sebagai kelanjutan kebijakan kolonial Belanda di kotapraja atau haminte Palembang, kota ini mulai menunjukkan ciri sebagai kota yang semakin multi etnik. Menurut catatan RHM Akib, secara etnologis suku bangsa Palembang meliputi kurang lebih 50 % dari penduduk kota di atas. Suku bangsa Indonesia lain yang menetap dan mencari hidup di sini dari berbagai pelosok Sumatera seperti Tapanuli, Minangkabau, Jawa dan pedalaman daerah Palembang. Selain itu orang Tionghoa, Arab, India seperti pemilik merk dagang martabak H…

Flying Fox - Out bound SOL Palembang

Out bound yang di laksanakan kemarin di kawasan Podomoro, Sukamoro - Banyuasin ini,sangat menarik apalagi ada "Flying Fox", selama ini di Palembang out bound minus Flying Fox, bertambah lagi wawasan dan ilmu ini...... ^_^

Belajar di Sekolah Kehidupan ( School of Life ) Bagi kami, belajar di Sekolah Kehidupan mempunyai makna: Belajar menjadi (learning to be) Belajar tentang cara berpikir dan cara belajar (learning to think and learn) Belajar melakukan (learning to do) Belajar hidup bersama (learning to live together)
Dengan demikian kami sadar bahwa belajar berarti berubah, mengalami transformasi dari yang lama menjadi yang baru, dari yang potensial menjadi yang aktual. Sehingga kami dapat ikut serta memberikan makna pada Palembang Baru, Palembang yang secara mendasar lebih baik.



Palembang adalah Sekolah Kehidupan. Di “Sekolah“ yang satu ini tak ada surat tanda tamat belajar sebelum tubuh berkalang tanah. Di “Sekolah” yang satu ini, perubahan adalah kewajiban sebagai p…