Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2010

Perkembang Pasar 16 Ilir

Oleh: Yudhy Syarofi



Penggusuran pedagang kaki lima di kawasan eks-Pasar 16 Ilir saat ini sungguh miris. Dalam sejarahnya, Belanda (sebagai penjajah) sangat disiplin dalam penataan ruang. Namun, mereka masih memberikan kesempatan kepada rakyat di tanah jajahan untuk mencari nafkah. Hanya, polanya yang diatur. Lebih rapi, bersih, aman, dan nyaman.
Sebelum "campur tangan" Kolonial Belanda terhadap alam di Palembang, sebelum abad ke-20, kawasan Pasar 16 Ilir (saat ini) dahulunya merupakan pemukiman tepian sungai. Di kawasan itu, terdapat Sungai Tengkuruk, yang merupakan salah satu anak Sungai Musi, yang salah satu bagiannya bertemu dengan Sungai Kapuran. Sementara Sungai Kapuran, bertemu pula dengan Sungai Sekanak (Peta Situasi Peperangan Palembang-Belanda; Sejarah Perjuangan Sri Sultan Mahmoed Baderedin Ke II; R.H.M. Akib; 1980).
Sebagaimana sifat orang Melayu Palembang, kawasan tepian sungai --terutama Sungai Musi-- merupakan lokasi "favorit" untuk pemukiman. Pilihan in…

Persimpangan jalan tempo dulu di Palembang

Jalan - Jalan di Palembang era tahun 1867 -1930

Lukisan Palembang Tempo Dulu

Een straat in Palembang met grote bomen op de voorgrond sumber tropen museum Sebuah jalan di Palembang dengan pohon-pohon besar di latar nya


Sumber Foto Kitlv.nl

Jalan di Kawasan Sekanak di Palembang tahun 1900

De Trompweg / Jalan Hang Suro di Palembang tahun 1935

Jalan Talang Djawa di Palembang

Jalan talang djawa ini merupakan cikal bakal dari jalan Jenderal Sudirman dimana jalan berawal dari air mancur sampai kawasan rumah sakit charitas, pada masa pendudukan jepang jalan ini di sebut dengan jalan Meiji, sejak tahun 1960-an jalan di kawasan ini mulai jadi permanen seiring dengan pembangunan jembatan Ampera dan saat ini menjadi jalan utama di kota ini yang di beri nama jalan Jenderal Sudirman.

Perkembangan Jalan Tengkuruk Palembang

Sebelum "campur tangan" Kolonial Belanda terhadap alam di Palembang, sebelum abad ke-20, kawasan Pasar 16 Ilir (saat ini) dahulunya merupakan pemukiman tepian sungai. Di kawasan itu, terdapat Sungai Tengkuruk, yang merupakan salah satu anak Sungai Musi, yang salah satu bagiannya bertemu dengan Sungai Kapuran. Sementara Sungai Kapuran, bertemu pula dengan Sungai Sekanak (Peta Situasi Peperangan Palembang-Belanda; Sejarah Perjuangan Sri Sultan Mahmoed Baderedin Ke II; R.H.M. Akib; 1980).
Di atas sungai itu, terdapat jembatan dan tangga-tangga yang menghubungkannya dengan daratan. Jika dilihat dari arah pertigaan Jl. Masjid Lama (saat ini), di sepanjang tepian sungai sebelah kiri, berjajar pertokoan. Sedangkan di bagian kanan, tampak rumah-rumah panggung.

Di bagian lain sungai itu, tampaklah tangga raja (hingga kini masih dinamakan demikian meskipun sudah tak ada lagi sungai dan tangganya). Tangga ini berfungsi sebagai tempat naik turunnya para pembesar Kesultanan Palembang Darus…

Sudut Kiwalk Palembang

Kiwalk, tempat hangout favorit anak-anak gaul Palembang sejatinya adalah kolam pembuangan? Air limbah dari rumah tangga dan kucuran hujan, semuanya ditampung menjadi satu di kolam tersebut. Tetapi ketika ditata dengan baik, kolam tersebut bisa jadi tempat yang keren buat gaul. Kolam yang dibuat sejak zaman Belanda tersebut, memang tak hanya bermanfaat sebagai penampung air. Kambang Iwak kini berkembang jadi sarana hiburan dan rekreasi yang keren dengan nama gaul, Kiwalk. 
Pengamat Perkotaan Ir Ari Siswanto MCRP dari Universitas sriwijaya mengatakan, Pemerintah Belanda sejak dulu sudah memperkenalkan konsep estetika dalam pembangunan kolam retensi.Misalnya dua kolam retensi peninggalan zaman Belanda, yaitu Kambang Iwak Besar yang terletak di depan rumah dinas Wali Kota Palembang, dan Kambang Iwak Kecil di Jalan Teuku Umar.
Meruntut sejarahnya, Kawasan Kambang Iwak dibangun tahun 1921. Semasa kepemimpinan Thomas Carlsen. Hebatnya, meski “pembuangan” saat itu Kambang Iwak hingga Talang Sem…

Masjid Taqwa Palembang

De Schoolweg/ Jalan Sekolah te Palembang 1935

Schoolwage atau jalan sekolah merupakan jalan di kawasan tengkuruk (yang merupakan hasil dari penimbunan sungai tengkuruk), di mana ada sekolah Inggris yang sudah di dirikan sejak awal abad ke 20 hingga tahun 1950-an dan masyarakat lebih banyak mengenal dengan sekolah Misi Methodist.

De Ruyterweg / Jalan Hangtua di Palembang tahun 1935

Cinde Minggu Pagi Update

Pasar loak cinde Minggu pagi update....

De Raadhuisweg / Jalan Merdeka di Palembang tahun 1935 & Bioskop Oriental

Jalan merdeka merupakan salah satu jalan di mana banyak meninggalkan situs sejarah baik itu Watertorren (kantor ledeng yang sekarang menjadi kantor walikota Palembang), eks hotel musi yang saat ini berubah menjadi kantor dinas kesehatan provinsi Sumatera Selatan ataupun markas PM yang sebelumnya merupakan sentra dari jual beli karet yang ada di palembang, dan salah satu yang tidak kalah penting adalah yang saat ini menjadi gedung Dispenda kota Palembang exs bioskop Saga.

Bioskop pertama yang ada di kota Palembang ada lah Bioskop Flora pada tahun 1910, kemudian pada tahun 1920 berganti nama menjadi Bioskop Orintal, kemudian pada tahun 1956 berubah menjadi bioskop SAGA yang merupakan tempat lahirnya dari penciptaan tari gending sriwijaya.

Proses penciptaan Tari Gending Srwijaya dimulai sejak tahun 1943 dan selesai pada tahun 1944. Tari ini diciptakan untuk memenuhi permintaan dari pemerintah (era pendudukan Jepang) kepada Jawatan Penerangan (Hodohan) untuk menciptakan sebuah tarian dan la…

De Oranjelaan / Jalan P.A.K Abdurrochim di Palembang 1935

De Kratonweg / Jalan Palembang Darusalam di Palembang 1935

De Julianalaan/ Jalan Kartini di Palembang tahun 1935

Dempoweg / Jalan Dempo di palembang tahun 1935

Bukit Kecil, hoek Wilhelminalaan/ Simpang jalan Diponogoro Palembang tahun 1935

Bukit Kecil, hoek Wilhelminalaan/ Simpang jalan Diponogoro Palembang tahun 1935


Emma Laan / Jalan Ratna

Emma Laan yang sekarang bernama “Jalan Ratna” terletak di kawasan areal kolinial Palembang, jalan yang tidak begitu panjang ini pernah menjadi saksi atas pertempuran 5 hari 5 malam di Palembang.

Halte Bus Trans Musi

PALEMBANG, KOMPAS - Rencana Pemerintah Kota Palembang, Sumatera Selatan, mengoperasikan 25 bus transmusi mulai 10 Februari 2010 dinilai belum layak. Alasannya, masih banyak sarana dan prasarana pendukung dalam kondisi rusak dan harus segera diperbaiki.
Sejumlah warga Kota Palembang, Selasa (26/1), menyayangkan kondisi halte bus yang rusak dan jalan aspal yang mengelupas. Kerusakan tersebut diyakini dapat mengurangi kenyamanan penumpang bus transmusi. Kendati demikian, mereka tetap menyambut baik kehadiran transmusi.
”Di sekitar Kampus Universitas Sriwijaya, misalnya, banyak halte yang berdiri di tepi jalan yang aspalnya rusak. Jangankan bus, motor saja berguncang-guncang kalau melewati jalan itu,” ujar Hamidi, warga Ilir Barat I.

Selain itu, hampir semua halte bus transmusi masih sepi dan terkesan belum siap digunakan. Halte yang berukuran rata-rata 1,5 meter x 3 meter itu hanya sekadar dipasangi besi untuk antre di dalam ruangan. Belum ada ruang penjualan tiket, kursi tunggu bagi pe…

Bus Trans Musi

Kota Palembang punya moda transportasi baru, Bus Trans Musi. Bagi wisatawan, baik lokal maupun mancanegara yang berkunjung ke kota empek-empek ini keliling kota dipastikan terasa lebih nyaman dan aman. Tak seperti bus kota, yang kumuh, berisik dan rawan copet. Bus Trans Musi, terasa lebih nyaman, karena penumpang tidak diperkenankan menghisap rokok selama perjalanan. Bus ada pendingin ruangan atau AC. Sopir bus juga tidak bisa menurunkan dan menaikan penumpang semaunya. Tetapi harus di halte-halte yang telah disediakan. Secara otomatis, pintu bus hanya akan terbuka di tempat-tempat itu. Sistem tersebut juga membuat Bus Trans Musi lebih aman dari tangan-tangan jahil. Kalau pun ada pencopet yang masuk dengan berpura-pura menjadi penumpang, copetnya pasti bisa tertangkap. Pintu bus tidak akan terbuka, kecuali di halte. Jadi tidak ada celah bagi pencopet untuk melarikan diri. 
Moda transportasi baru ini juga tidak hanya aman bagi penumpangnya. Tapi juga lingkungan dan masyarakat sekitar.…

Kambang Iwak Kecik Palembang

PALEMBANG,Buanasumsel.com – Guna untuk meningkatkan kolam retensi  dan sebagai tempat rekreasi warga Kota empek-empek ini, sebanyak 10 ribu bibit jenis  ikan nila dimasukan kedalam kolam retensi kambang iwak kecik.
Penaburan benih sendiri langsung dilakukan Mentri Lingkungan Hidup RI Gusti Muhammad Hatta didampingi Walikota Palembang H Eddy Santana Putra  serta jajaran Pemerintah Kota (pemkot) Palembang. 
Kepala Dinas Pertanian, Perternakan Kelautan dan Perikanan Kota Palembang Soedirman Teguh mengatakan, bibit ikan yang akan dimasukan kedalam kolam retensi sendiri, haruslah ikan yang telah berumur diatas dua bulan, agar ikan mudah beradaptasi.
“Untuk pengisian ikan tawar seperti nila, lele, dan patin  Ph air perlu diperhatikan juga untuk  kelangsung ikan tersebut di kolam retensinya,’jelasnya. 
Nah,kedepan secara bertahap kolam retensi yang ada akan di Kota Palembang mulai akan dipenuhi jenis –jenis ikan tawar, Kolam retensi yang mulai menjadi pusat perhatian untuk pemb…