CANTUMKAN SUMBERNYA JIKA MENGGUNAKAN GAMBAR ATAU ARTIKEL DARI BLOG INI - HORMATI HAK CIPTA ORANG LAIN.

28 Februari 2008

26 Februari 2008

24 Februari 2008

Main Ekar


Di Palembang disebutnya ekar, di masyarakat Betawi namanya gundu. Buat anak-anak Sunda namanya kaleci. Orang Jawa nyebutnya neker, di Banjar Kleker dan kalau buat orang Belanda, namanya knikker.
Sebutan ini juga kadang dipakai anak-anak di Inggris selain sebutan marbles. Kalau di Prancis namanya billie.
Permainan ini mulai populer di Eropa, Amerika dan tentunya Asia di abad ke-16 sampai 19. Tapi tahukah Anda dari mana permainan ini awalnya berasal?
Ternyata dari berbagai penelusuran sejarah, permainan ini awalnya berasal dari peradaban Mesir Kuno sejak tahun 3000 Sebelum Masehi (SM). Di Mesir, kelereng terbuat dari tanah liat atau batu.
Sementara kelereng tertua dunia yang saat ini masih eksis, berasal dari Pulau Kreta dari tahun 2000-1700 SM dan kini dikoleksi The British Museum di London, Inggris.
Kalau kelereng yang biasa kita mainkan sekarang dan terbuat dari kaca, baru dikembangkan di pertengahan abad ke-19. Tepatnya di tahun 1864 dan dibuatnya di Jerman dengan beragam warna mirip permen.
Tidak sedikit nilai-nilai yang bisa kita dapatkan dari permainan ini. Sebut saja relaksasi atau mengatur emosi, mengasah otak, melatih motorik, kesabaran, kecermatan, melatih karakter kompetitif, melatih kejujuran, hingga mengembangkan kemampuan sosial. https://news.okezone.com/
Blog diupdate : 2017

22 Februari 2008

Perbatasan Kota Palembang & Kabupaten Banyuasin


Baliho yang terletak di kawasan KM 12 ini menandakan batas kota antara kota Palembang dan kabupaten Banyuasin yang berpusat di Pangkalan Balai.

Kawasan ini termasuk daerah tersibuk karena pada saat pagi hari banyak pegawai yang tinggal di kota Palembang pergi bekerja ke daerah Banyuasin ini.

Dan daerah inilah yang dulunya sering di sebut dengan "Palembang Coret"

21 Februari 2008

Persemian Hotel Sahid Imara Hotel Palembang

Sahid Imara Hotel Palembang


Sahid Imara Hotel Palembang tampil dengan arsiterktur khas bergaya mediterania. Kombinasi warna putih pada bangunan serta lampu-lampu berwarna biru yang dipergunakan sebagai penerang di setiap sudut Hotel, mencuatkan kesan tenang dan nyaman. Dari hotel ini Anda dapat langsung menikmati indahnya pemandangan Kota Palembang.

Hotel berbintang 3 ini memiliki jumlah 73 kamar, terdiri dari 26 Superior Room, 22 Deluxe Room, 22 Business Room, dan 3 Suite Room. Hotel ini kerap dipilih wisatawan lokal maupun mancanegara saat berwisata di Kota Palembang. 

Fasilitasnya sangat lengkap berikut sarana pendukungnya seperti 24 jam Picasso Restaurant, 3 ruang rapat yang bisa menampung sampai 250 orang, executive lounge, save deposit box, laundry and dry cleaning, IDD Telephone, taxi service, business center, drug store, dan gratis layanan Internet dengan kecepatan tinggi.
Tak sulit menjangkau hotel ini. Hanya butuh waktu ±15 menit dari Sultan Mahmud Badaruddin II Internasional Airport. Lokasinya sangat dekat dengan Palembang Square, Palembang Indah Mall, dan Internasional Plaza. Jadi Anda dapat dengan mudah berbelanja bermacam kebutuhan.

Soal Menu, Hotel ini menyajukan beragam menu kuliner terbaik saat ini yang diolah oleh juru masak andalan. Disajikan dengan indah, rasa yang enak dan tentu harganya terjangkau. Anda dapat pergi ke Picasso Restaurant yang terletak di lantai 1 hotel ini. Resto ini berkapasitas 52 orang dengan menu Internasional, Cina, dan Indonesia yang lengkap dari seluruh penjuru tanah air seperti pindang ikan, soup buntut, nasi timbel Siliwangi, tom yam kung, kepiting, sapi lada hitam, ayam cabe kering, dan aneka pilihan lain.

Bila ingin menikmati keindahan malam hari Kota Palembang, Anda bisa pergi ke executive lounge di lantai 8 hotel ini. Anda akan menyaksikan lampu lampu yang menghiasi kota termasuk Jembatan Ampera yang menjadi landmark kota ini, sambil dihibur live music berirama pop, jazz, dan klasik.
Sahid Imara Hotel Palembang adalah proyek Brand pertama Imara dari Sahid International Hotel Management and Consultant. Pemiliknya adalah kerjasama antara PT. Feodora Fidelity Fortimo dan Sahid International Hotel Management and Consultant.

hotel sahid imaraReview by Majalah Travel Club

Hotel Sahid Imara ***
Jalan Jenderal Sudirman No.1111 A
Palembang - 30128
Telepon (0711) 371000
Web site : www.imarahotel.com

Sumber tulisan : metropalembang.com/

Terminal Alang-Alang Lebar






Tugu KB Kertapati


Tugu KB ini menjadi salah satu ikon di kota ini, tempat pemberhentian favorit angkot dan bus kota, simpang tugu KB ini juga memisahkan jalan ke kawasan pasar 7 ulu dan ke arah Plaju dan jembatan Ampera.

Tugu ini di buat dalam menyukseskan program keluarga berencana yang di canangkan oleh pemerintah saat orde baru dengan slogan "2 anak saja cukup".

Tugu Pesawat MIG-19 Talang Betutu


Tugu pesawat yang terletak di pintu masuk lanud di kawasan talang betutu ini menjadi simbol, bahwa kita mendekati dari batas kota Palembang dan kabupaten Banyuasin.

Tugu Pesawat Mig-19 yang di resmikan oleh walikota Palembang Bapak H. Cholil Aziz pada 24 April 1993,  tampak menjulang gagah sebagai salah satu ikon kota ini.

---------------------------------------------------



Mikoyan-Gurevich MiG-19

MiG-19
Tipe Fighter
Terbang perdana 18 September 1953
Diperkenalkan Maret 1955
Status Beberapa beroperasi
Pengguna utama Soviet Air Force
Pengguna lain People's Liberation Army Air Force
Jumlah produksi 2,172 (excl. China)
Varian Shenyang J-6
Nanchang Q-5
MiG-19 (bahasa Rusia: Микоян и Гуревич МиГ-19) (kode NATO "Farmer") adalah pesawat tempur jet supersonik Uni Sovyet. Ini adalah pesawat pertama Uni Soviet yang mampu terbang dengan kecepatan supersonik. Pesawat ini pertama terbang pada tahun 1953.

Tercatat Indonesia pernah memiliki pesawat jenis ini yang pada akhirnya disumbangkan kepada Pakistan yang digunakan untuk menghadapi India dalam perang India-Pakistan bersama bantuan sebuah kapal selam kelas Whiskey lengkap dengan awak kapal selam TNI-AL.

Purwarupa MiG-19, I-350, pertama kali terbang pada September 1953. Produksi awal versi pesawat tempur siangnya mulai beroperasi untuk AU Soviet pada awal 1955, tetapi itu sebelum ekornya yang panjang dan dapat-bergerak-semua menggantikan “elevator” pada pesawat awal produksi. Pada saat yang sama tiga senapan 30mm menggantikan senjata aslinya, yaitu sebuah senapan 37mm dan dua 23mm, standar pada semua pesawat MiG dari MiG-9 dan pod yang ditambahkan di bawah setiap sayap untuk bom atau misil udara-ke-permukaan.Versi baru ini diberi kode MiG-19S (untuk Stabilisator). Dengan adopsi mesin tubojet aliran-aksial R-9 pada tahun sebagai mesin standar, MiG-19SF dihasilkan. Pada saat yang sama muncul juga versi lain MiG-19PF yang mempunyai kemampuan semua-cuaca terbatas, dengan dukungan radar scanner Izumrud kecil di dalam intake mesin dan sebuah unit pelacak di bibir intake mesin. Versi selanjutnya MiG-19PM yang berbeda dengan PF dalam hal memiliki empat misil Alkali berkendali radar generasi pertama, selain senapan-senapannya.

Di Uni Soviet MiG-19 telah berakhir produksinya pada akhir tahun 1950-an, karena fokus untuk produksi MiG-21. Namun pada tahun 1958 lisensi untuk produksi MiG-19 yang telah disepakati dengan Cina tetapi, setelah persetujuain itu, hubungan antara kedua negara memburuk. Namun produksi MiG-19 Cina tetap berjalan dengan kode F-6 (MiG-19S), terbang pertama kali Desember 1961. F-6 menjadi pesawat standar AU Cina dari pertengahan 1962.

Produksi F-6 meningkat dari sekitar 1966 dan diperkirakan bahwa beberapa ribu telah dibuat, termasuk beberapa MiG-19PF dan SF. Cina telah mengembangkan beberapa varian dengan desain sendiri. Salah satunya adalah pesawat intai taktis, versi pesawat latih TF-6 dan A-5 (sebelumnya disebut sebagai M-9 dan F-6 bis), sebuah pesawat tempur dengan tampilan yang berbeda karena mempunyai radome hidung di antara intake udara samping semi-circular. Bentang sayap dari A-5 juga telah meningkat sekitar 10.2m. Tingkat kecepatan maksimum versi ini diperkirakan mendekati Mach 2. 

Sumber : Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

20 Februari 2008

19 Februari 2008

KIF Park Palembang






Mati Lampu



Mati lampu.....gelap, seringkali terjadi di Palembang belakangan ini... krisis energi....mungkin salah satu alasan utama

Becak Dilarang


Walaupun sudah ada larangan dari pemerintah kota Palembang untuk larangan becak melintas di Jalan Protokol di kota ini, tapi masih ada saja yang membandel bahkan melawan arus, 

Kendaraan angkutan masyarakat yang sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda ini dianggap sebagai salah satu biang kesemerawutan lalu lintas kota, dengan jalan melawan arus ataupun parkir di sembarang tempat. Semoga ada solusi bagi kepentingan ke dua belah pihak.


18 Februari 2008

Pemakaman Raden Nangling

Pintu gerbang pemakaman Raden Nangling

Pemakaman keluarga Raden Machjub atau Raden Nangling yang merupakan keluarga kesulatan Palembang berada di Jalan Kol Atmo Kecamatan Ilir Timur I Palembang, tepatnya di samping pos polisi di depan Pasar Cinde Palembang, tepat di belakang reklame besar di kawasan cinde. dengan luas area pemakaman sekitar kurang lebih 700 meter persegi sudah terdapat puluham makam. Di sayangkan kurangnya perawatan makam ini, sehingga ada sembarang orang bisa masuk ke areal makam bahkan para pedagang pun ada yang meletakan meja-meja di dalam areal makam tersebut.


Pemakaman raden nangling tepar berada di belakang reklame besar tersebut

17 Februari 2008

Menangkul Ikan



Nangkul adalah mencari ikan di sungai atau rawa menggunakan jaring segi empat lebar yang ujung-ujungnya dikaitkan pada batang bambu. Ada juga batang bambu dengan panjang 4 meter yang berfungsi untuk mengangkat jaring dari air seperti pengungkit, dengan alatnya yang di sebut dengan tangkul.

Nangkul adalah proses memasukkan jaring tangkul ke air sungai, lalu mengangkatnya setelah dirasa ada ikan yang didapat. Ternyata tidak mudah menangkap ikan dengan cara menangkul. 

Dari 5 hingga 6 kali tangkul yang dimasukkan ke air paling hanya sekali ikan yang masuk ke dalam jaring, itu pun paling banyak 2 atau 3 ekor ikan terjaring.

16 Februari 2008

Perumahan Indies/Kolonial Di Palembang


Rumah-rumah peninggalan kolonial Belanda yang banyak tersebar di kawasan Talang Semut, Sekanak, di mana usia dari rumah-rumah tersebut lebih dari 70 tahuan, jika melintasi Jl. PAK Abdurohim atau SMP 1 mulai terlihat bangunan dengan arsitektur khas eropa, dengan atap tinggi dan halaman yang cukup luas, sehingga jarak dari satu rumah ke rumah lainnya tidak terlalu rapat, yang salah satu fungsinya adalah untuk srkulasi udara dan mencegah perambatan api saat terjadi kebakaran.

Saat ini status kepemilikan dari rumah-rumah bergaya indies ini adalah milik perorangan, sehingga akan memberikan efek kesulitan bagi pemerintah untuk mempertahankan bentuk asli dari rumah-rumah tersebut, karena di beberapa tempat sudah berubah fungsi menjadi tempat usaha dan juga cafe. Bahkan ada juga yang sudah rusak karena tidak di tempati ataupun di tinggalkan pemilik yang sudah berdiam di kota lain.





Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...