Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2008

Advertising

Hiasan di kota ini..........

Penjahit

Salah satu penjahit yang lumayan terkenal di kota ini

Rambu Rambu

Rambu penunjuk arah di Palembang

Ferry Rotinsulu

Keep smiling Ferry (When meet him in Bank Mandiri)
Bravo SFC..

Lebih lengkap klik : http://dodinp.multiply.com/tag/sfc

Squad SFC Cilik

Sempat di bidik kamera para pemain sepak bola kampung ini sangat mengidolakan club sepakbola kesayangannya yaitu Sriwijaya FC.

Jembatan Musi II

Di Shoot pada saat pulang...

Main Ekar

Di Palembang disebutnya ekar, di masyarakat Betawi namanya gundu. Buat anak-anak Sunda namanya kaleci. Orang Jawa nyebutnya neker, di Banjar Kleker dan kalau buat orang Belanda, namanya knikker. Sebutan ini juga kadang dipakai anak-anak di Inggris selain sebutan marbles. Kalau di Prancis namanya billie. Permainan ini mulai populer di Eropa, Amerika dan tentunya Asia di abad ke-16 sampai 19. Tapi tahukah Anda dari mana permainan ini awalnya berasal? Ternyata dari berbagai penelusuran sejarah, permainan ini awalnya berasal dari peradaban Mesir Kuno sejak tahun 3000 Sebelum Masehi (SM). Di Mesir, kelereng terbuat dari tanah liat atau batu. Sementara kelereng tertua dunia yang saat ini masih eksis, berasal dari Pulau Kreta dari tahun 2000-1700 SM dan kini dikoleksi The British Museum di London, Inggris. Kalau kelereng yang biasa kita mainkan sekarang dan terbuat dari kaca, baru dikembangkan di pertengahan abad ke-19. Tepatnya di tahun 1864 dan dibuatnya di Jerman dengan beragam warna mir…

Penambangan Pasir

Kegiatan Penambangan pasir di sekitar Musi II

Progres Pembangunan Fly Over 23 Feb 2008

Galian Pipa Air Minum

Kegiatan penggalian untuk jaringan distribusi air bersih.

Pembuat Gorong-Gorong

Pembuat buis beton / gorong-gorong bisa di jumpai di beberapa titik Jalan Sukarno Hatta.

Perbatasan Kota Palembang & Kabupaten Banyuasin

Baliho yang terletak di kawasan KM 12 ini menandakan batas kota antara kota Palembang dan kabupaten Banyuasin yang berpusat di Pangkalan Balai.
Kawasan ini termasuk daerah tersibuk karena pada saat pagi hari banyak pegawai yang tinggal di kota Palembang pergi bekerja ke daerah Banyuasin ini.
Dan daerah inilah yang dulunya sering di sebut dengan "Palembang Coret"

Persemian Hotel Sahid Imara Hotel Palembang

Terminal Alang-Alang Lebar

Tugu KB Kertapati

Tugu KB ini menjadi salah satu ikon di kota ini, tempat pemberhentian favorit angkot dan bus kota, simpang tugu KB ini juga memisahkan jalan ke kawasan pasar 7 ulu dan ke arah Plaju dan jembatan Ampera.
Tugu ini di buat dalam menyukseskan program keluarga berencana yang di canangkan oleh pemerintah saat orde baru dengan slogan "2 anak saja cukup".

Tugu Pesawat MIG-19 Talang Betutu

Tugu pesawat yang terletak di pintu masuk lanud di kawasan talang betutu ini menjadi simbol, bahwa kita mendekati dari batas kota Palembang dan kabupaten Banyuasin.
Tugu Pesawat Mig-19 yang di resmikan oleh walikota Palembang Bapak H. Cholil Aziz pada 24 April 1993,  tampak menjulang gagah sebagai salah satu ikon kota ini.
---------------------------------------------------


Mikoyan-Gurevich MiG-19
MiG-19 Tipe Fighter Terbang perdana 18 September 1953 Diperkenalkan Maret 1955 Status Beberapa beroperasi Pengguna utama Soviet Air Force Pengguna lain People's Liberation Army Air Force Jumlah produksi 2,172 (excl. China) Varian Shenyang J-6 Nanchang Q-5 MiG-19 (bahasa Rusia: Микоян и Гуревич МиГ-19) (kode NATO "Farmer") adalah pesawat tempur jet supersonik Uni Sovyet. Ini adalah pesawat pertama Uni Soviet yang mampu terbang dengan kecepatan supersonik. Pesawat ini pertama terbang pada tahun 1953.
Tercatat Indonesia pernah memiliki pesawat jenis ini yang pada akhirnya disumba…

Pagoda Pulau Kemaro

Salah satu tempat dimana umat Budda beribadah, ramai pada saat Imlek & Cap Go Mee

Masjid Taqwa & Kambang Iwak Kecik

Jalan Bay Pass Terminal Alang-Alang Lebar / KM 12

Jalan yang melalui pertigaan lampu merah Jl. Sukarno Hatta menghubungkan antara Jalan Sukarno Hatta dan Terminal alang-alang lebar KM 12, di sini juga bisa menuju perumahaan prumnas talang kelapa & PPI begitu juga menuju perumhaan Maskarebet atau Griya Hero Abadi.

KIF Park Palembang

Mati Lampu

Mati lampu.....gelap, seringkali terjadi di Palembang belakangan ini... krisis energi....mungkin salah satu alasan utama

Becak Dilarang

Walaupun sudah ada larangan dari pemerintah kota Palembang untuk larangan becak melintas di Jalan Protokol di kota ini, tapi masih ada saja yang membandel bahkan melawan arus, 
Kendaraan angkutan masyarakat yang sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda ini dianggap sebagai salah satu biang kesemerawutan lalu lintas kota, dengan jalan melawan arus ataupun parkir di sembarang tempat. Semoga ada solusi bagi kepentingan ke dua belah pihak.

Pemakaman Raden Nangling

Pemakaman keluarga Raden Machjub atau Raden Nangling yang merupakan keluarga kesulatan Palembang berada di Jalan Kol Atmo Kecamatan Ilir Timur I Palembang, tepatnya di samping pos polisi di depan Pasar Cinde Palembang, tepat di belakang reklame besar di kawasan cinde. dengan luas area pemakaman sekitar kurang lebih 700 meter persegi sudah terdapat puluham makam. Di sayangkan kurangnya perawatan makam ini, sehingga ada sembarang orang bisa masuk ke areal makam bahkan para pedagang pun ada yang meletakan meja-meja di dalam areal makam tersebut.

Menangkul Ikan

Nangkul adalah mencari ikan di sungai atau rawa menggunakan jaring segi empat lebar yang ujung-ujungnya dikaitkan pada batang bambu. Ada juga batang bambu dengan panjang 4 meter yang berfungsi untuk mengangkat jaring dari air seperti pengungkit, dengan alatnya yang di sebut dengan tangkul.
Nangkul adalah proses memasukkan jaring tangkul ke air sungai, lalu mengangkatnya setelah dirasa ada ikan yang didapat. Ternyata tidak mudah menangkap ikan dengan cara menangkul. 
Dari 5 hingga 6 kali tangkul yang dimasukkan ke air paling hanya sekali ikan yang masuk ke dalam jaring, itu pun paling banyak 2 atau 3 ekor ikan terjaring.

Perumahan Indies/Kolonial Di Palembang

Rumah-rumah peninggalan kolonial Belanda yang banyak tersebar di kawasan Talang Semut, Sekanak, di mana usia dari rumah-rumah tersebut lebih dari 70 tahuan, jika melintasi Jl. PAK Abdurohim atau SMP 1 mulai terlihat bangunan dengan arsitektur khas eropa, dengan atap tinggi dan halaman yang cukup luas, sehingga jarak dari satu rumah ke rumah lainnya tidak terlalu rapat, yang salah satu fungsinya adalah untuk srkulasi udara dan mencegah perambatan api saat terjadi kebakaran.
Saat ini status kepemilikan dari rumah-rumah bergaya indies ini adalah milik perorangan, sehingga akan memberikan efek kesulitan bagi pemerintah untuk mempertahankan bentuk asli dari rumah-rumah tersebut, karena di beberapa tempat sudah berubah fungsi menjadi tempat usaha dan juga cafe. Bahkan ada juga yang sudah rusak karena tidak di tempati ataupun di tinggalkan pemilik yang sudah berdiam di kota lain.