Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2007

Sejarah Bank Indonesia Cabang Palembang

Kantor De Javasche Bank Cabang Palembang yang dibuka pada tanggal 20 September 1909 merupakan "Agentschap" keenam belas dari De Javasche Bank yang merupakan pendahulu dari Bank Indonesia sekarang ini. Gagasan pembukaan kantor cabang di Palembang ini sudah muncul sejak perjalanan dinas ke Padang tanggal 3 September 1908 yang dilakukan Direktur E.A. Zeilinga Azn. mulai dari Padang, Bengkulu, Rejanglebong, Kepayang, Tebing Tinggi, Keban, Lahat, Muara Enim, dan akhirnya ke Palembang.

Gagasan ini disampaikan dengan alasan bahwa Palembang merupakan suatu kota niaga yang penting, sehingga pemerintah menyetujui untuk membuka Kantor Cabang di Palembang. Dengan didudukinya Hindia Belanda mulai bulan Februari/Maret 1942, maka segala kegiatan De Javasche Bank dan bank-bank lainnya terhenti. Fungsi dan tugas bank-bank segera digantikan oleh bank-bank Jepang seperti Yokohama Specie Bank, Taiwan Bank, dan Mitsui Bank, yang bertindak sebagai koordinator adalah Nanpo Kaihatsu …

Sketsa Rutan Jalan Merdeka Palembang Zaman Jepang

Pada saat pengeboman oleh pasukan jepang di Palembang pada 6 Febuari 1942 dan pendaratan pasukan parasutnya dan merebut BPM di Plaju dan Sungai Grong (Pertamina Saat ini), dan pada saat itu banyak Dari penduduk baik pribumi maupun warga Belanda yang menjadi tahanan di Camp Jepang atau Rumah tahanan yang terletak di Raadhuisweg (Jl Merdeka saat ini) Sehingga pada masa itu jalan tersebut di kenal juga dengan gevangenis weg atau Jalan penjara.
Ketakutan masyarakat baik pribumi maupun masyarakat Belanda memang beralasan apalagi dengan kata-kata "Kompetai" (Polisi Meliter Jepang) sehingga tidak mengherankan banyak penduduk kala itu banyak yang meninggal di dalam Camp tahanan. Banyak proyek kerja paksa yang di terapkan oleh Jepang pada masa berkuasa dari tahun 1942-1945 di Palembang seperti pembanguan Jalan Meiji (Jl Sudirman) dan pembangunan Bandara Talang Betutu.,termasuk pembangunan bandar udara di Martapura dan bandar udara kamuflase di Sekojo.
Sangat sulit sekali …

Sejarah Kantor Pos Besar Merdeka Palembang

Kantor pos & telkom yang di dirikan tahun 1928 di Raadhuisweg (Jalan Merdeka saat ini) oleh Kolonial Belanda bentuk dan arsiteknya seperti kubah pada bagian atapnya sama seperti kantor pos dan telkom di kota lainnya di daerah lainnya di Indonesia, tetapi jika di perhatikan dari Gedung Telkom Jalan Merdeka  memiliki kemiripan dengan bangunan yang ada di samping kantor pos besar Palembang tersebut.

Pada awal pendiriannya kantor ini menjadi bagian pelayanan satu atap karena di satu kantor terdiri dari bebeberapa pelayanan yaitu pos, telegram dan polisi.

Sejarah Kantor Pos di indonesia 

Perposan "Modem" di Indonesia sejak 1602 di jaman V.O.C (Verenigde Oost Indische Compagnie). Perhubungan pos pada waktu itu dilakukan terbatas diantara kota-kota tertentu di P.Jawa dan luar P.Jawa dengan menggunakan alat angkut kereta kuda dan kapal layar pacalang. Pada waktu itu suratpos ditempatkan pada Stadsherbrg (Gedung Penginapan Kota) dan belum dilakukan pengantaran suratpos,s…

Sejarah Mobil Ketek Palembang

Setelah Perang Dunia II selesai, muncullah jip untuk kalangan sipil, yakni CJ yang merupakan singkatan dari civilian jeep. Tahun 1945, Willys meluncurkan CJ2 dan CJ3. Bahkan, Willys tidak lagi hanya diproduksi di Amerika Serikat, tetapi juga diproduksi di negara lain dengan lisensi. Di Perancis, Willys muncul tahun 1950 dan tahun 1955, masing-masing dengan nama Delahaye dan Hotchkiss. Di Jepang, Willys muncul dengan nama Mitsubishi Jeep J3 tahun 1953. Di Taiwan, jip Willys muncul tahun 1956.
Pada awal agresi Belanda di Palembang, dimana pada saat tanggal 12 Oktober 1945 Pasukan Inggris pimpinan Kolonel Carmickel tiba di palembang diboncengi oleh NICA (tentara belanda).
Suasana diperkeruh dengan masuknya tentara Belanda dari bangka dengan cara menyamar sebagai tentara inggris. Puncaknya pada Maret 1946 Pasukan inggris semakin besar jumlahnya setelah masuk dari Talang Betutu. Kedatangan ini disambut dengan pertempuran yang berkobar hampir disemua lokasi di kota palembang dan sekitar. T…

Sejarah Kolam Renang Garuda Palembang

Zwembad atau kolam renang yang terletak di kawasan kolonial ini (di ujung Jl Hang Tua) memang merupakan kolam renang yang pertama di bangun oleh Belanda dan di perkirakan pada 1920-an, selain kolam renang atau zwembad di Plaju komplek pertamina dan Sungai Gerong.
Kolam renang yang ramai di kunjungi saat hari minggu ini memiliki bentuk yang unik berbeda dengan kolam rengan lainnya yang ada di Palembang karena di buat seperti bak/kolam dan lantainya di sangga dengan tiang-tiang yang di cor sehingga kesannya kolam ini tidak menggali tanah tetapi di buat di atas tanah.
Walaupun sudah cukup berumur tetapi kolam renang ini sampai saat ini masih tetapi banyak di kunjungi oleh masyarakat dan terkadang pihak meliter seperti TNI dan Porli menggunakan kolam ini untuk salah satu tes penerimaan mereka.

Sumber Foto Lama : kitlv

Sejarah Eks Gedung BP 7 / Museum Textil Palembang

Suasana bekas Gedung Eks-BP7, demikian masyarakat memberi nama sebutan bangunan yang terletak di Jl Tasik No 2148 RT 60 RW 17 Kelurahan 26 Ilir, dimana sekarang di jadikan museum textil Palembang tetapi belum di buka untuk umum.
Gedung yang dibangun oleh kolonial Belanda, sebagai kantor Gubernur pemerintahan Hindia Belanda di wilayah Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) itu, telah memerankan beberapa lakon dalam perjalanan waktu yang cukup panjang.
Pada tahun 1961 pernah menjadi kantor inspektorat kehakiman, lalu Kejaksaaan Tinggi (Kejati) Sumsel, rumah kediaman Ketua DPRD Sumsel, kantor Pembantu Gubernur, Badan Kepegawaian Daerah (BKD), BP7, dan terakhir kantor Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda). Dan sekarang didalam kerentaannya di renovasi dan akan di jadikan museum textil.
Memang beberapa waktu lalu Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Cabang Palembang berkantor sementara disana, sembari menunggu rampungnya kantor mereka di Jl Merdeka.Bangunan “BP7” merupaka…

Sejarah Museum Rumah Bari Kota Palembang

Sebuah rumah limas dari areal museum SMB II di beli oleh pangeran sirah pulau padang, pesirah batun (ogan ilir) dari areal benteng rumah tersebut di pindahkan ke kampong pangeran tetapi beberapa bagian diganti, konon penggantian itu di karenakan pangeran takut kualat, nyatanya kualat datang kas marga habis terpakai sang pangeran sehingga rumah tersebut harus di lelang, pembelinya pangeran puntoh pesirah pemulutan (ogan Ilir) yang memindahkan rumah tersebut ke dusun talang pangeran, tetapi pangeran punto bernasib sama.


Melihat itu gemeente (Haminte) Palembang membelinya, setelah di bongkar rumah tersebut di bangun kembali di sebelah barat BKB pada tahun 1932, pada 22 April 1933 rumah tersebut di resmikan sebagai museum rumah bari gemeente yang terletak di tepi jalan "sluisweg" (Jalan Rumah bari).
Museum ini bertahan sampai memasuki tahun 1980-an karena perlunya perluasan tempat parkir untuk kantor DPRD kota Palembang yang di bangun di belakang kantor ledeng sehingga rumah te…

Sejarah Rumah Sakit Katolik Charitas Palembang

Seperti halnya di setiap wilayah misi, usaha kesehatan menjadi perhatian demikian pula di wilayah misi Sumatera Bagian Selatan, usaha kesehatan merupakan salah satu usaha membantu masyarakat. Sehubungan dengan ini maka pimpinan Pastor hati Kudus Yesus yang sejak tahun 1926 bertugas di wilayah Sumatera Bagian Selatan mohon bantuan kepada pimpinan Konggregasi Suster Charitas di Roosendaal di Negeri Belanda untuk membantu dalam lingkungan misi di daerah ini. Permohonan tersebut mendapat tanggapan baik sehingga dalam waktu singkat mereka siap mengirim para Susternya ke daerah misi Sumatera bagian Selatan.
Tepat pada tanggal 9 Juli, lima orang Suster dari Konggregasi Charitas Roosendaal tiba di Palembang, mereka adalah ; 1. Suster Raymunda Hermans,
2. Suster Willhelmina Blesgraaf, 3.Suster Caecilia Luyten, 4. Sr Alacoque van der Linden, 5. Suster Chatarina Koning.
Maka dengan semangat cita cita pendiri Konggregasi Suster Suster Santo Fransiskus Charitas “yakni dalam kegembiraan, kesederhana…

Sejarah Becak Cina di Palembang

Becak cina /Rikshaw adalah kendaraan roda dua yang memiliki atap dari kain/kanvas yang mudah di lipat. Kendaraan ini di tarik manusia biasanya dari etnis cina yang memiliki kuncir rambut yang panjang. Penarik Becak pada saat itu memang seluruhnya orang Cina karena pada masa kesultanan Palembang, orang cina di anggap sebagai pendatang dan tinggalnya pun di kelompokan di rumah-rumah rakit. 


Penarik “rikshaw” di Palembang jaman dulunya umumnya orang Tiong Hoa “totok”  yang masih susah (pelat)  berbahasa Palembang, yang oleh orang  Palembang sendiri disebut “sengkek” (sin kek = cino dusun). Adapun Ongkos menarik rikshaw  dari Pasar 16 Ilir ke Pasar Lingkis ( sekarang Pasar Cinde) adalah seringgit sen (1/40 Rupiah). 
Biasanya uang dari hasil pembayran yang diterimanya  ini ditaruh dalam kotak dibawah pijakan kaki penumpang (lihat foto). Para pemuda preman (pada jaman itu disebut “bujang juaro”) yang menumpang rikshaw ini sering mengambil duit tersebut di saat rikshaw sedang jalan tapa diketa…

Perkuburan Cina di Palembang

Kuburan Cina di Palembang banyak sekarang banyak terdapat di daerah Talang Kerikil, Sukabangun Palembang, selain pemakaman untuk etnis cina pemakaman untuk umat kristenpun ada di sini, pada awalnya kuburan etnis cina dan umat kristen yang terkenal dan berjumlah banyak terletak di Jl Merdeka yang meliputi kantor penggadaian dan Sriwijaya Sport Center (eks Bioskop Garuda) tetapi seiring perkembangan zaman kuburan-kuburan tersebut di bongkar dan di ganti dengan bioskop dan perkantoran.

Kawasan Talang Kerikil Daerah ini banyak di kunjungi saat Cheng Beng (Sembayang Arwah) di mana para pembersih kuburan dan pelukis untuk kuburan cina banyak meraup rezeki.
Sumber tulisan : di rangkum dari berbagai tulisan.

Sejarah Perahu Bidar / Pancalang Palembang

Kelahiran perahu bidar tidak terlepas dari kondisi dan situasi kota Palembang, yang dikelilingi banyak sungai beserta anaknya. Data terakhir, anak sungai yang dulunya berjumlah 108, kini tinggal 60 anak sungai.
Dahulu, untuk menjaga keamanan wilayah,diperlukan sebuah perahu yang larinya cepat. Kesultanan Palembang lalu membentuk patroli sungai dengan menggunakan perahu.
Ketika itu perahu berpatroli itu disebut perahu pancalang, berasal dari pancal dan lang/ilang. Pancal berarti lepas, landas dan lang/ilang berarti menghilang. Singkatnya pancalang berarti perahu yang cepat menghilang.
Perahu ini dikayuh 8-30 orang, bermuatan sampai 50 orang. Memiliki panjang 10 sampai 20 meter dan lebar 1,5 sampai 3 meter. Karena bermuatan banyak orang, Pancalang juga digunakan sebagai alat angkutan transportasi sungai. Raja-raja dan pangeran kerap pula menggunakan pancalang untuk plesiran.
Gambaran bentuk pancalang diungkapkan secara detil dalam buku Ensiklopedi Indonesia NV, terbitan W Van Hoeve Ban…

Sejarah Penerbangan Sipil Pertama di Palembang

KNILM (Koninklijke Nederlandsch-Indische Luchtvaart Maatschappij - Royal Netherlands Indies' Airways) adalah perusahaan penerbangan sipil khusus untuk operasi penerbangan di Hindia-Belanda yang berdiri pada tahun 1928 di Belanda. KNILM hasil kerjasama Deli Maatschappij, Nederlandsch Handel Masatschappij, KLM, Pemerintah Hindia-Belanda dan perusahaan-perusahaan dagang yang punya kepentingan di Indonesia.

Pada 1 Oktober 1931, KLM membuka program satu minggu sekali ke Batavia. Setahun kemudian pesawat yang beroperasi diganti Fokker F-12, dilengkapi kursi untuk empat penumpang. Desember 1933, pesawat yang mendarat di Batavia diganti F-18 dengan lama penerbangan sekitar 96,5 jam. Dua tahun kemudian, KLM meningkatkan frekuensinya dan mengganti pesawat dengan DC-2, dan berganti lagi kemudian dengan DC-3 Dakota pesawat jenis inilah yang nantinya menjadi legenda bagi bangsa Indonesia.
Sementara itu, KNILM pun beroperasi dengan F-7/3B di belahan Nusantara. KNILM membuka penerbangan untuk angk…

Sejarah Kamar Bola Seberang Ilir Palembang

Societeit atau yang sering di kenal dengan "kamar bola" atau "Rumah bola" (permainan bola bowling) yang terletak di Seberang Ilir atau tepat di belakang kantor ledeng, yang di lengkapi dengan balai pertunjukan (schrowburg) dimana tempat ini juga untuk para orang-orang Belanda berdansa sehingga pada perkembangnnya pada tahun 1928 menjadi bioskop Luxor.
Setelah zaman kemerdekaan bangunan ini pun beralih fungsi sebagai tempat hiburan orang Palembang di mana pada tahun 70-80 an tempat ini di kenal dengan nama Bioskop Intium/Mustika, dan sebelumnya pernah juga menjadi Gedung Pemuda dan Pramuka.
Tetapi seiring waktu bioskop tersebut di tutup dan sekarang gedung ini di kelolah oleh KODAM II/SWJ sebagai Balai Prajurit. Dan fungsi gedung ini juga bukan hanya sebatas acara meliter tetapi juga di berdayakan sebagai  salah satu tempat untuk mengadakan acara pernikahaan dan acara-acara lainnya.
Kamar Bola selain di Seberang Ilir juga terdapat di seberang ulu yaitu di komplek pe…

Sejarah Becak Palembang

Becak di Palembang berbeda dengan becak-becak di tempat lainnya dimana seperti di Jawa becak biasanya ada tutup untuk roda samping ataupun bentuk atap yang melengkung.


Di Palembang becaknya tanpa tutup roda dan atapnya pun tidak terlalu tinggi dan kalau barang banyak yang di bawa atap nya bisa di copot. Adapun awal mula kendaraan yang bernama becak ini masuk ke Indonesa terutama Palembang adalah Rikshaw (becak Cina) yang di tarik oleh orang cina dan banyak terdapat pada tahun 1920-1940an. Tapi karena di anggap kurang manusiawi maka Rikshaw (becak Cina) di hapuskan dan di ganti dengan becak seperti yang ada saat ini.

Pemerintah kolonial Belanda merasa senang dengan transportasi baru ini. Namun belakangan pemerintah melarang keberadaan becak karena jumlahnya terus bertambah, membahayakan keselamatan penumpang, dan menimbulkan kemacetan.
Jumlah becak justru meningkat pesat ketika Jepang datang ke Indonesia pada 1942. Kontrol Jepang yang sangat ketat terhadap penggunaan bensin serta lara…

Sejarah Pidato Kenegaraan Atas Perayaan Ulang Tahun Ratu Wihelmina di Palembang 1933

Pidato kenegaraan yang di sampaikan oleh pemerintah Kerajaan Belanda pada tahun 1933 atas perayaan ulang tahun ratu Wihelmina ke 43.  Di sini seluruh masyarakat di haruskan berkumpul di lapangan rumah Komisaris Kerajaan Belanda/Gedung "Siput" termasuk anak-anak dan pelajar dimana penguasa dari Belanda secara langsung memberikan pidato terhadap masyarakat di Palembang.


Pada ada saat ulang tahun ini biasanya di selenggarakan banyak kegiatan salah satunya lomba perahu bidar / kenceran, ataupun panjat pinang dengan hadiah roti dan keju. 
Dari beberapa sumber bahwa perayaan ulang tahun ratu wihelmina juga di adakan "pasar malam" yang berada di  pelataran sungai musi ( sekarang BKB) dari Sekanak Jetti sampai ke tengkuruk. pada hari itu para penjual di bebaskan untuk berjualan di situ juga di ceritakan dari nara sumber kalau kuliner khas 17 Agustusan seperti telok ukan , ketan sepit dan mainan  "pesawat " telok abang   juga sudah ada di zaman itu walaupun tidak…