Melacak Musik Asli Palembang




Senin, 13 April 2015

Group musik tempo dulu di Palembang sumber : andi.s.kemas

Ada suatu pertanyaan yang mengusik benak saya, adakah “musik asli bagi wong kito Palembang” soalnya istilah musik asli ditelinga wong Palembang nyaris tak terdengar. Padahal daerah lain ada musik yang disebut kolintang daerah Menado, Musik atau alat nyanyian bagi masyarakat Flores disebut “sasando”, masyarakat Bandung Jawa Barat mempunyai alat musik yang disebut “angklung” dll. Di Kota Palembang nyaris tak terdengar atau populer soal seni musik dan nyanyian ini. Ada apakah gerangan sehingga bisa disebut “palembang tidak mempunyai musik” atau yang sering dalam olokan disebut “Palembang buntung” buntung disegala bidang. Oleh karena penasaran maka inilah yang menyebabkan penulis melacak atau mencari jejak musik tertua didaerah ini.

Mulailah saya berkelana mencari jawabnya, mulai dari tokoh mantan pejabat hingga siapa saja yang bisa saya ajak berdikusi mengenai keberadaan musik Palembang asli ini. Sebut saja mantan walikota dan gubernur pertama Bengkulu, RHM Ali Amin, SH tidak saja ia sebagai tokoh masyarakat Sumsel tetapi bagi saya beliau adalah sesepuh masyarakat wong Palembang terutama keluarga besar saya yang berasal dari daerah 2 Ulu Perigi Besak. Kalau tidak salah pertemuan saya dirumah kediamannya Talang Semut, beberapa tahun lalu menyebutkan bahwa kota Palembang ini, tidak ada seni musik atau nyanyian begitupun dengan jenis tarian. Alasannya bahwa kota Palembang adalah mantan daerah Kesultanan Palembang Darussalam yang sudah tentu bernuansa Islami. Budaya Islam jelas tidak memperbolekan jenis musik atau tari-tarian, yang dihindarinya adalah mempertontonkan aurat terutama kaum wanitanya, jelasnya (wawancara, 1992).

Saya merasa tidak puas dengan jawaban bpk RHM Ali Amin,SH, saya pun mencari tokoh masyarakat lainnya yaitu tokoh budaya bpk RM Husin Natodirajo dan Djohan Hanafiah, jawabannya hampir sama dengan RHM Ali Amin,SH. Saya mulai linglung dan putus asa mencari akar sejarah musik di Kota Palembang ini. Secara kebetulan tahun 1992 itu juga saya menonton pertunjukan Wayang Palembang di acara TVRI Palembang, kalau tidak salah dalam rangka acara “Cakrawala Budaya Nusantara” pak dalangnya adalah HA Syukri Ahkab yang menariknya iringan musik Wayang Palembang sepertinya adalah musik khas asli Palembang, ketika saya tanya jawabnya adalah ini jenis musik kromongan. Begitupun saya melihat pertunjukan pencak asli Palembang juga memakai iringan musik yang disebut “kromongan pencak”. Jadi disini bisa disimpulkan bahwa ada dua musik kromongan yaitu “kromongan wayang” dan “kromongan pencak” yang dalam istilah lainnya disebut “seni betanggem”. Musik kromongan ini terdiri dari canang (gong kecil), laron, gendang dan rebab. Jawabanya bpk HA Sukri Ahkab inilah yang menjadi dasar saya kalau Palembang juga mempunyai musik asli yaitu kromongan. Apalagi RRI Palembang juga memberitakan bahwa musik asli Palembang itu tidak berbeda dengan musik Lampung yang disebut Gamelan.

Sampai saat ini saya terus mencari dan melacak akan keberadaan musik asli Palembang ini, apakah ia berbentuk Gending, Kromongan atau apa yang jelas kita harus didefenisikan yaitu dengan melakukan suatu proyek penelitian. Wancik AN.BE dan bpk Kiagus Ujang Kailani mengotot keras bahwa musik asli Palembang itu adalah “Ronggeng Melayu” yang banyak didasari dari musik irama Semenanjung (kini Malaysia). Kiagus Ujang Kailani adalah pimpinan orkes jidur (drumband) yang ia beri nama kelompok musik blas (musik sebelas yang terdiri dari sebelas orang dan sebelas alat musiknya) ia mulai beraktifitas musik menurutnya sudah lama sekali, dari kecil sudah ikut orang tuanya yang jenis musiknya adalah “Ronggeng Melayu” itu tediri dari alat musik seperti biola, gendang, seruling, gong kecil/canang dan piano gendong.

Perkembangan Musik Palembang dari Masa ke Masa

Menurut kronologis sejarah kota Palembang, yang terdiri dari zaman Sriwijaya, Kesultanan, penjajahan Belanda (pengaruh eropa) hingga masa kemerdekaan. Saya kira perkembangan musik dan jenis musik dikota Palembang ini sangat dipengaruhi “situasi zaman” yang melingkupinya. Sebut saja dimasa Sriwijaya saya kira banyak dipengaruhi oleh unsur musik India, Cina dan musik lokal. Nuansa musiknya mungkin sekali banyak dipengaruhi unsur agama Budha yang ketika itu adalah agama resmi Kerajaan Sriwijaya. Pada masa Kesultanan Palembang, yang sudah tentu banyak pengaruh/unsur budaya Islam dan Arab, jadi nuansa musik dan jenis musik pun bernuansa keislaman dan kearab-araban, contoh musiknya mungkin gambus, terbangan syarofalanam, kasidahan dll. Group gambus yang terkenal sekitar tahun 1950-an adalah group musik gambus “Sri Palembang” pimpinan Wak Neng.

Pada masa penjajahan Belanda, mulai diperngaruhi unsur musik eropa yang kata orang ketika itu adalah musik modren/baru. Seperti kroncongan adalah musik dari kebudayaan Portugis, yang berkembang dari Batavia (daerah tugu) kemudian menyebar ke seluruh Nusantara. Musik Tonil adalah jenis musik yang sangat populer di awal abad ke-20, unsur musiknya adalah jazz dan dansa salsa. Di kota Palembang ini sendiri sempat “trend” jenis musik ini dan sempat membangun gedung tonil (saat ini adalah kantor Dispenda kota Palembang Jl.Merdeka) dengan group musiknya yang terkenal “Bintang Berlian” pimpinan Haji Gong. Selain itu juga ada musik jidur (drumband) yang diambil dari unsur musik meliter, yaitu korp musik meliter Belanda.

Sampailah dimasa penjajahan Jepang, perkembangan musik Palembang cukup dinamis, yang ketika itu adalah group musik pimpinan Ahmad Dahlan Muhibat berhasil menciptakan sebuah lagu yaitu “Gending Sriwijaya” saya kira tokoh sentral musik Palembang ketika itu (tahun 1943-1945) adalah Ahmad Dahlan Muhibat, selain ia seorang komponis juga ia adalahg seorang Biolis yang handal. Ditahun 1950-an saya kira jenis musiknya adalah pengaruh unsur musik Semenanjung/Melayu pop dengan tokoh terkenalnya adalah almarhum P.Ramlee. Sejak tahun 1950-an kesadaran seniman daerah ini menciptakan dan mempopulerkan lagu-lagu bernuansa daerah seperti Kebile-bile, Dirut, Cup Mailang dll dengan group band yang terkenal seperi Arulan yang sempat membuat pringan hitam di Jakarta.

Tahun 1960-an, tidak hanya mempopulerkan lagu daerah disini timbul group musik melayu yang disebut irama candrabuana, dipopulerkan oleh stasion radio amatir Candrabuana alamat 14 Ilir Palembang. Radio Republik Indonesia (RRI) Stasiun Palembang mempopulerkan group musik yang disebut “Orkes Studio RRI” pimpinan Haji Mahmudin dengan penyanyinya yang terkenal Masnun Toha. Perkembangan musik Palembang saya kita cukup dinamis dan mengafresiasikan zamannya, tahun 1970-an berdiri group musik Golden Wing yang penyanyi/vokalisnya adalah Carel Simon, terkenal karena membawakan lagu” Mutiara Palembang”. Disini juga didukung bermunculan studio rekaman sepeti Palapa Record, yang menghasilkan banyak penyanyi lagu daerah seperti Sahilin, yang terkenal dengan lagu irama Batanghari Sembilannya. Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat. 

Sumber Tulisan : http://iriziki03.blogspot.co.id/

0 komentar:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Search This Blog

Palembang Dalam Sketsa. Powered by Blogger.

Newsletter

Blog Archive

Komentar

Copyright © 2015 • Palembang Dalam Sketsa
Blogger Templates