Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2007

Sejarah Masjid Agung Palembang

Masjid Agung pada mulanya disebut Masjid Sultan. Perletakan batu pertama pada tahun 1738, dan peresmiannya pada hari Senen tanggal 28 Jumadil Awal 115 H atau 26 Mei 1748. Masjid Agung didirikan oleh Sultan Mahmud Badaruddin I yang dikenal pula dengan Jayo Wikramo (memerintah tahun 1724-1758).

Masjid ini pada zamannya adalah masjid yang terindah dan terbesar di Nusantara, dengan arsitektur khas yaitu atap limas. Masjid ini pendiriannya di bawah pengawasan arsitek Eropa, dengan mengimpor sebagian besar materialnya dari luar negeri, seperti marmer dan kaca. Penulis-penulis ataupun pelapor baik bangsa Belanda maupun Eropa lainnya sangat mengagumi perpaduan arsitektur khas dengan sentuhan arsitektur Cina dan teknik dari Barat. Sketsa di atas dibuat oleh pelukis Belanda dan sekarang menjadi salah satu dari koleksi Rijks Archief di 's-Gravenhage di bawah nama J.W. van Zanten (1822). Masjid tersebut dilukis dalam keadaan rusak berat, akibat perang Palembang-Belanda 1819 dan 1821.
Pada awal…

SMB II, SANG PAHLAWAN

Oleh : Kemas Ari, S.Pd. Penulis Adalah : Dosen dan Guru Sejarah pada Fakultas Adab IAIN Raden Fatah dan MAN 1 Palembang

Tanggal 10 Nopember bagi bangsa Indonesia adalah suatu hari yang khusus diberikan kepada para Pahlawan bangsa Ini, sudah banyak para tokoh negeri ini yang diberikan Tanda jasa sebagai Pahlawan Nasional termasuk Pahlawan Nasional dari Palembang yaitu Sultan Mahmud Badaruddin II yang dikukuhkan oleh pemerintah berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor : 063/TK/tahun 1984 tertanggal 29 oktober 1984. Lahir di Palembang pada hari Ahad malam, Jam 9.00 (1 Rejeb 1181 H / 9 Februari 1768 M.). Semasa kecilnya Ia diberi nama Raden Hasan bin Sultan Muhammad Bahauddin, kemudian ditunjuk sebagai pewaris Kesultanan Palembang dengan gelar Pangeran Ratu. Setelah Ia dinobatkan menjadi Sultan Palembang pada tanggal 22 Zulhijjah 1218 H bertepatan tanggal 4 April 1803 bergelar Sultan Mahmud Badaruddin. Selain sebagai Sultan Palembang Beliau adalah Al-Hafiz (Ulama) di Kesultana…

Eksistensi Permainan Rakyat Kota Palembang

Kota Palembang sebagai ibukota propinsi Sumatera Selatan, yang tumbuh dan berkembang menjadi barometer pertumbuhan di Sumatera bagian selatan, pernah mengenal berbagai macam jenis permainan tradisional, khususnya yang dimainkan oleh anak-anak. Namun sebagai dampak derasnya kemajuan teknologi dan arus informasi, pada saat sekarang, hampir tidak ditemukan lagi anak-anak di kota Palembang yang memainkan permainan-permainan tradisional tersebut. Padahal didalam permainan tradisonal tersebut banyak terkandung nilai-nilai dan ajaran-ajaran yang sangat bagus dalam perkembangan si anak. Meskipun pada umumnya permainan tersebut dimainkan dengan tujuan rekreatif dan pengisi waktu luang, namun secara tidak disadari, permainan-permainan tradisional tersebut dapat melatih keterampilan, ketangkasan, kreatifitas, daya ingat, kekompakan dan mengajarkan anak untuk bersosialisasi serta beradaptasi di dalam lingkungan sosialnya.
Permainan rakyat tradisional merupakan salah satu manifestasi tingkah laku m…