Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2007

Sejarah Gereja Santo Yoseph Palembang

Paroki St. Yoseph Palembang, merupakan paroki yang terbesar dan terluas wilayahnya. Lokasi dari Paroki ini berada di tengah kota, di jalan Jendral Sudirman atau berlokasi di Talang Jawa.

Awal mula berdirinya Paroki St. Yoseph ini bermula dari Tanah milik Rumah Sakit Charitas di Jalan Jendral Sudirman. Di dirikan sebuah gedung yang bernama Sint Pius pada tahun 1953. Pada waktu itu Sint Pius merupakan pusat kegiatan tokoh-tokoh aktivis dalam hidup menggereja dan sering mendapat julukan “ Centre of actualization “. Pertama-tama Sint Pius digunakan untuk kegiatan yang bernafaskan iman. Pelayanan iman umat di Sint Pius pada awal mula dilakukan oleh Pastor Van der Heyden. Pada tahun 1965 Pastor Middledorp ditetapkan sebagai pastor Paroki St. Yoseph yang kegiatannya masih terpusat di Sint Pius. Pada waktu itu Pak Atmo Pawiro dengan setia membersihkan dan menyusun kursi + 220 kursi yang disiapkan untuk perayaan Ekaristi.
Taman Maria terletak di halaman belakang Gereja Santo Yose…

Sejarah Hotel Musi Palembang

Bangunan yang sampai saat ini tidak lagi berfungsi sebagai penginapan dulunya merupakan hotel yang terbaik di Palembang pada tahun 1930-an. Pada awalnya hotel ini bernama Hotel Schwartz dan dibangun pada tahun 1903 dengan gaya Indis. Secara keseluruhan bangunan terdiri atas dua bangunan, yaitu bangunan utama dan bangunan penunjang. Pada bangunan utama terdapat dua bagian, yaitu ruang aula dan kamar tamu yang terdiri dari 20 kamar. Pada bangunan penunjang terdapat beberapa ruangan yang difungsikan sebagai gudang, dapur dan kamar mandi untuk kamar-kamar kelas ekonomi.

Hotel Musi yang strategis yang berdekatan dengan kantor ledeng dan pusat kota saat ini merupakan hotel yang paling bagus pada masanya.

Seiring waktu hotel tersebut mengalami keterpurukan sehingga pada saat 2000 awal menjadi hotel kelas rendahan, ada loket bus juga dan lain lain.

Hotel musi masih menghadapi polemic kepemilikan tanah dan bangunan dimana saat itu hotel musi di bangun oleh lim Kim Sik pada tah…

Sejarah Rumah Sakit Kusta Dr. Rivai Abdullah / Rumah Sakit Kusta Sungai Kundur, Banyuasin, Sumatera Selatan

Didirikan pada tahun 1914, pertamanya hanya sebagai tempat penampungan atau pengasingan penderita kusta. Lokasi pertama di daerah Kertapati (Seberang Ulu I)  + 25 Km dari lokasi sekarang. Pendiriannya diprakarsai oleh seorang nahkoda kapal Belanda (nama tidak diketahui), karena beberapa orang orang anak buah kapalnya menderita kusta, tempat penampungan ini diberi nama “KEMBANG PUMPUNG”.
Karena adanya protes masyarakat disekitar tempat penampungan itu maka lokasi penampungan dipindahkan ke lokasi sekarang yaitu ; Sungai Kundur – Kelurahan Mariana Kecamatan Banyuasin I Kabupaten Banyuasin Propinsi Sumatera Selatan yang jaraknya  + 20 Km dari kota Palembang dan terletak dipinggir Sungai Musi.
Dahulu lokasi RSK Dr.Rivai Abdullah Palembang seluas  + 120 Ha langsung diserahkan oleh BPM (Hindia Belanda). Tetapi setelah diukur ulang oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN) dengan sertifikat Hak Pakai No. 02/Desa Mariana tahun 1993 ternyata lokasi tersebut tinggal + 27,5 Ha.
Sampai dengan tahun 1960 R…

Sejarah Nederlandsche Handel Maatschappij Palembang

NHM = Nederlandsche Handels Maatschappij didirikan pada tanggal 9 Maret 1824 oleh Raja Willem I. Dulu NHM bukan bank tapi perseroan perdagangan. Para penduduk Hindia Belanda memberikannya nama panggilan “Kompenie Ketjil”. Pengganti NHM pada jaman sekarang adalah Bank ABN-AMRO yang punya cabang di Indonesia juga.
NHM mengembangkan kegiatannya di sektor perbankan pada tahun 1870. Pemerintah Indonesia menasionalisasi perusahaan ini pada tahun 1960 menjadi salah satu gedung kantor Bank Koperasi Tani & Nelayan (BKTN) Urusan Ekspor Impor., dan selanjutnya pada tahun 1965 perusahan ini digabung dengan Bank Negara Indonesia menjadi Bank Negara Indonesia Unit II. Pada tahun 1968 Bank Negara Indonsia Unit II dipecah menjadi dua unit, salah satunya adalah Bank Negara Indonesia Unit II Divisi Expor – Impor, yang akhirnya menjadi Bank Exim, bank Pemerintah yang membiayai kegiatan ekspor dan impor. Pada tahun 1999 setelah melalui badai krisis ekonomi maka Bank Export import (Ba…

Sejarah Bank Indonesia Cabang Palembang

Kantor De Javasche Bank Cabang Palembang yang dibuka pada tanggal 20 September 1909 merupakan "Agentschap" keenam belas dari De Javasche Bank yang merupakan pendahulu dari Bank Indonesia sekarang ini. Gagasan pembukaan kantor cabang di Palembang ini sudah muncul sejak perjalanan dinas ke Padang tanggal 3 September 1908 yang dilakukan Direktur E.A. Zeilinga Azn. mulai dari Padang, Bengkulu, Rejanglebong, Kepayang, Tebing Tinggi, Keban, Lahat, Muara Enim, dan akhirnya ke Palembang.

Gagasan ini disampaikan dengan alasan bahwa Palembang merupakan suatu kota niaga yang penting, sehingga pemerintah menyetujui untuk membuka Kantor Cabang di Palembang. Dengan didudukinya Hindia Belanda mulai bulan Februari/Maret 1942, maka segala kegiatan De Javasche Bank dan bank-bank lainnya terhenti. Fungsi dan tugas bank-bank segera digantikan oleh bank-bank Jepang seperti Yokohama Specie Bank, Taiwan Bank, dan Mitsui Bank, yang bertindak sebagai koordinator adalah Nanpo Kaihatsu …

Sketsa Rutan Jalan Merdeka Palembang Zaman Jepang

Pada saat pengeboman oleh pasukan jepang di Palembang pada 6 Febuari 1942 dan pendaratan pasukan parasutnya dan merebut BPM di Plaju dan Sungai Grong (Pertamina Saat ini), dan pada saat itu banyak Dari penduduk baik pribumi maupun warga Belanda yang menjadi tahanan di Camp Jepang atau Rumah tahanan yang terletak di Raadhuisweg (Jl Merdeka saat ini) Sehingga pada masa itu jalan tersebut di kenal juga dengan gevangenis weg atau Jalan penjara.
Ketakutan masyarakat baik pribumi maupun masyarakat Belanda memang beralasan apalagi dengan kata-kata "Kompetai" (Polisi Meliter Jepang) sehingga tidak mengherankan banyak penduduk kala itu banyak yang meninggal di dalam Camp tahanan. Banyak proyek kerja paksa yang di terapkan oleh Jepang pada masa berkuasa dari tahun 1942-1945 di Palembang seperti pembanguan Jalan Meiji (Jl Sudirman) dan pembangunan Bandara Talang Betutu.,termasuk pembangunan bandar udara di Martapura dan bandar udara kamuflase di Sekojo.
Sangat sulit sekali …

Sejarah Kantor Pos Besar Merdeka Palembang

Kantor pos & telkom yang di dirikan tahun 1928 di Raadhuisweg (Jalan Merdeka saat ini) oleh Kolonial Belanda bentuk dan arsiteknya seperti kubah pada bagian atapnya sama seperti kantor pos dan telkom di kota lainnya di daerah lainnya di Indonesia, tetapi jika di perhatikan dari Gedung Telkom Jalan Merdeka  memiliki kemiripan dengan bangunan yang ada di samping kantor pos besar Palembang tersebut.

Pada awal pendiriannya kantor ini menjadi bagian pelayanan satu atap karena di satu kantor terdiri dari bebeberapa pelayanan yaitu pos, telegram dan polisi.

Sejarah Kantor Pos di indonesia 

Perposan "Modem" di Indonesia sejak 1602 di jaman V.O.C (Verenigde Oost Indische Compagnie). Perhubungan pos pada waktu itu dilakukan terbatas diantara kota-kota tertentu di P.Jawa dan luar P.Jawa dengan menggunakan alat angkut kereta kuda dan kapal layar pacalang. Pada waktu itu suratpos ditempatkan pada Stadsherbrg (Gedung Penginapan Kota) dan belum dilakukan pengantaran suratpos,s…

Sejarah Mobil Ketek Palembang

Setelah Perang Dunia II selesai, muncullah jip untuk kalangan sipil, yakni CJ yang merupakan singkatan dari civilian jeep. Tahun 1945, Willys meluncurkan CJ2 dan CJ3. Bahkan, Willys tidak lagi hanya diproduksi di Amerika Serikat, tetapi juga diproduksi di negara lain dengan lisensi. Di Perancis, Willys muncul tahun 1950 dan tahun 1955, masing-masing dengan nama Delahaye dan Hotchkiss. Di Jepang, Willys muncul dengan nama Mitsubishi Jeep J3 tahun 1953. Di Taiwan, jip Willys muncul tahun 1956.
Pada awal agresi Belanda di Palembang, dimana pada saat tanggal 12 Oktober 1945 Pasukan Inggris pimpinan Kolonel Carmickel tiba di palembang diboncengi oleh NICA (tentara belanda).
Suasana diperkeruh dengan masuknya tentara Belanda dari bangka dengan cara menyamar sebagai tentara inggris. Puncaknya pada Maret 1946 Pasukan inggris semakin besar jumlahnya setelah masuk dari Talang Betutu. Kedatangan ini disambut dengan pertempuran yang berkobar hampir disemua lokasi di kota palembang dan sekitar. T…

Sejarah Kolam Renang Garuda Palembang

Zwembad atau kolam renang yang terletak di kawasan kolonial ini (di ujung Jl Hang Tua) memang merupakan kolam renang yang pertama di bangun oleh Belanda dan di perkirakan pada 1920-an, selain kolam renang atau zwembad di Plaju komplek pertamina dan Sungai Gerong.
Kolam renang yang ramai di kunjungi saat hari minggu ini memiliki bentuk yang unik berbeda dengan kolam rengan lainnya yang ada di Palembang karena di buat seperti bak/kolam dan lantainya di sangga dengan tiang-tiang yang di cor sehingga kesannya kolam ini tidak menggali tanah tetapi di buat di atas tanah.
Walaupun sudah cukup berumur tetapi kolam renang ini sampai saat ini masih tetapi banyak di kunjungi oleh masyarakat dan terkadang pihak meliter seperti TNI dan Porli menggunakan kolam ini untuk salah satu tes penerimaan mereka.

Sumber Foto Lama : kitlv

Sejarah Eks Gedung BP 7 / Museum Textil Palembang

Suasana bekas Gedung Eks-BP7, demikian masyarakat memberi nama sebutan bangunan yang terletak di Jl Tasik No 2148 RT 60 RW 17 Kelurahan 26 Ilir, dimana sekarang di jadikan museum textil Palembang tetapi belum di buka untuk umum.
Gedung yang dibangun oleh kolonial Belanda, sebagai kantor Gubernur pemerintahan Hindia Belanda di wilayah Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) itu, telah memerankan beberapa lakon dalam perjalanan waktu yang cukup panjang.
Pada tahun 1961 pernah menjadi kantor inspektorat kehakiman, lalu Kejaksaaan Tinggi (Kejati) Sumsel, rumah kediaman Ketua DPRD Sumsel, kantor Pembantu Gubernur, Badan Kepegawaian Daerah (BKD), BP7, dan terakhir kantor Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda). Dan sekarang didalam kerentaannya di renovasi dan akan di jadikan museum textil.
Memang beberapa waktu lalu Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Cabang Palembang berkantor sementara disana, sembari menunggu rampungnya kantor mereka di Jl Merdeka.Bangunan “BP7” merupaka…

Sejarah Museum Rumah Bari Kota Palembang

Sebuah rumah limas dari areal museum SMB II di beli oleh pangeran sirah pulau padang, pesirah batun (ogan ilir) dari areal benteng rumah tersebut di pindahkan ke kampong pangeran tetapi beberapa bagian diganti, konon penggantian itu di karenakan pangeran takut kualat, nyatanya kualat datang kas marga habis terpakai sang pangeran sehingga rumah tersebut harus di lelang, pembelinya pangeran puntoh pesirah pemulutan (ogan Ilir) yang memindahkan rumah tersebut ke dusun talang pangeran, tetapi pangeran punto bernasib sama.


Melihat itu gemeente (Haminte) Palembang membelinya, setelah di bongkar rumah tersebut di bangun kembali di sebelah barat BKB pada tahun 1932, pada 22 April 1933 rumah tersebut di resmikan sebagai museum rumah bari gemeente yang terletak di tepi jalan "sluisweg" (Jalan Rumah bari).
Museum ini bertahan sampai memasuki tahun 1980-an karena perlunya perluasan tempat parkir untuk kantor DPRD kota Palembang yang di bangun di belakang kantor ledeng sehingga rumah te…

Sejarah Rumah Sakit Katolik Charitas Palembang

Seperti halnya di setiap wilayah misi, usaha kesehatan menjadi perhatian demikian pula di wilayah misi Sumatera Bagian Selatan, usaha kesehatan merupakan salah satu usaha membantu masyarakat. Sehubungan dengan ini maka pimpinan Pastor hati Kudus Yesus yang sejak tahun 1926 bertugas di wilayah Sumatera Bagian Selatan mohon bantuan kepada pimpinan Konggregasi Suster Charitas di Roosendaal di Negeri Belanda untuk membantu dalam lingkungan misi di daerah ini. Permohonan tersebut mendapat tanggapan baik sehingga dalam waktu singkat mereka siap mengirim para Susternya ke daerah misi Sumatera bagian Selatan.
Tepat pada tanggal 9 Juli, lima orang Suster dari Konggregasi Charitas Roosendaal tiba di Palembang, mereka adalah ; 1. Suster Raymunda Hermans,
2. Suster Willhelmina Blesgraaf, 3.Suster Caecilia Luyten, 4. Sr Alacoque van der Linden, 5. Suster Chatarina Koning.
Maka dengan semangat cita cita pendiri Konggregasi Suster Suster Santo Fransiskus Charitas “yakni dalam kegembiraan, kesederhana…

Sejarah Becak Cina di Palembang

Becak cina /Rikshaw adalah kendaraan roda dua yang memiliki atap dari kain/kanvas yang mudah di lipat. Kendaraan ini di tarik manusia biasanya dari etnis cina yang memiliki kuncir rambut yang panjang. Penarik Becak pada saat itu memang seluruhnya orang Cina karena pada masa kesultanan Palembang, orang cina di anggap sebagai pendatang dan tinggalnya pun di kelompokan di rumah-rumah rakit. 


Penarik “rikshaw” di Palembang jaman dulunya umumnya orang Tiong Hoa “totok”  yang masih susah (pelat)  berbahasa Palembang, yang oleh orang  Palembang sendiri disebut “sengkek” (sin kek = cino dusun). Adapun Ongkos menarik rikshaw  dari Pasar 16 Ilir ke Pasar Lingkis ( sekarang Pasar Cinde) adalah seringgit sen (1/40 Rupiah). 
Biasanya uang dari hasil pembayran yang diterimanya  ini ditaruh dalam kotak dibawah pijakan kaki penumpang (lihat foto). Para pemuda preman (pada jaman itu disebut “bujang juaro”) yang menumpang rikshaw ini sering mengambil duit tersebut di saat rikshaw sedang jalan tapa diketa…

Perkuburan Cina di Palembang

Kuburan Cina di Palembang banyak sekarang banyak terdapat di daerah Talang Kerikil, Sukabangun Palembang, selain pemakaman untuk etnis cina pemakaman untuk umat kristenpun ada di sini, pada awalnya kuburan etnis cina dan umat kristen yang terkenal dan berjumlah banyak terletak di Jl Merdeka yang meliputi kantor penggadaian dan Sriwijaya Sport Center (eks Bioskop Garuda) tetapi seiring perkembangan zaman kuburan-kuburan tersebut di bongkar dan di ganti dengan bioskop dan perkantoran.

Kawasan Talang Kerikil Daerah ini banyak di kunjungi saat Cheng Beng (Sembayang Arwah) di mana para pembersih kuburan dan pelukis untuk kuburan cina banyak meraup rezeki.
Sumber tulisan : di rangkum dari berbagai tulisan.