Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2006

Aku & Kamu

Angin lembut terus menerpa muka ini dengan hangatnya pelukan dari si dia yang duduk rapi di jok belakang motor. di sepanjang perjalanan ini kami hanya terdiam hanya relung hati ini yang bicara. Sambil menyusur keramaian di sepanjang jalan di kota ini, indahnya lampu yang berwana-warni menambah sejuk hati ini. Lega rasanya hati ini saat tahu jawaban mu yang sesuai dengan harapan, impian untuk terus terbang bersama mu semakin tertanam di hati,

“Dik, maukah menikah dengan ku….?” kataku pelan dan cemas.
Hening sesaat tanpa ada jawaban, matanya menatap tajam ke arah mata ku seperti anak panah yang melesat dari busurnya dan langsung menghujam jantung ini.

Aku kegilisah dengan kehieningan ini, aku ingin segera mendapat jawaban yang pasti …tetapi dengan suasana seperti ini, keringat secara otomatis membasahi badan ini walaupun malam itu suasanya agak dingin.
“Gimana……………? desak ku biar aku bisa menyudahi suasana tegang ini.

Jujur saja aku mulai tidak nyaman dengan suasana ini,…

Ujang Dan Fenomena Rutan Palembang

Ujang hanya tertunduk lesu di sudut kamar sambi memperhatikan si Amat yang sedang menulis di dinding sel, kasus pengeroyokan seperti itulah yang di kenakan kepadanya kasus yang di karenakan darah mudanya yang tidak terkontrol menyebabkan laki-laki yang baru 6 bulan menikah ini berkelahi dengan pemuda yang juga tinggal 5 gang dari tempat si ujang tinggal dengan dalih harga diri, di mana berujung kepada dinginnya pelukan kamar di salah satu rumah tahanan di kota ini.
Dengan menghuni kamar ukuran tidak lebih dari 5 X 5, Ujang di tempatkan di kamar tersebut dengan belasan penghuni lainnya dari berbagai macam masalah dan latar belakang yang berbeda., banyak masalah yang di hadapi dari menghadapi si “Roin” si kepala kamar yang menguasai beberapa blok yang ada di Rutan tersebut penah beliau berkelahi dengan si penguasa rutan ini tetapi yang di hadapi nya justu penganiayaan yang di lakukan oleh pengikut-pengikut si Roin, yang membuat ujang babak belur dan di masukan ke dalam kam…

Kojak And The Gank

Malam belum lagi larut. Pertokoan di pusat kota ini masih memamerkan dagangannya. Lima bocah ingusan tampak memadati sudut lorong. Bergulat, berebut, saling tarik. Seorang diantaranya yang berkepala botak terjungkal masuk kedalam tong sampah. Kakinya diatas yang menggantikan posisi kepala itu, ditarik empat bocah lainnya.
Saat tong sampah terguling, terbebaslah si Botak. Dengan telanjang kaki, tubuh mungil itu sigap melesat diantara orang yang melintas ditrotoar jalan. Sepertinya si Botak membawa sesuatu dalam dekapannya. Ke empat bocah lainnya tidak kalah gesit mengejar.
“Gila.” Dengan kepala sedikit bergeleng, kembali kuarahkan pandangan kepada perempuan cantik dihadapanku. “Anak-anak itu, An.” Aku jelaskan kepada Ana, yang terlihat sedikit bingung.
“Iya. Anak anak itu. Tapi kenapa gila, kan sekedar mencari dan berebut makanan.” Sergap Ana lantas menyedot minuman bersoda.
“Maksudku, kalau masa kecilku seperti itu, mungkin aku jadi orang gila sekarang. Memangnya kau bisa t…

Cek Mat Ke Pasar

Sambungan dari “GESAH CEK MAT”
 Tak lama setelah menghabiskan teh dan bakwan maka berangkatlah ia ke pasar dengan senyum kemenangan , setiba di pasar tepat di depan pedagang sayur ia mulai memainkan aksinya kembali “Cek berapo …kangkung seiket..?” tanyo cekmat penjual sayur “500 cek” jawab pedagang sayur ramah
“Alangke mahalnyo cek..biso kurang dak,…sebenernyo akuni dak hobi makan kangkung tapi kelinci di rumah tu kalau dak di enjuk kangkung, dak galak makan….” Lobi cek mat.
“dak pacak cek,….sudah murah nian …di tempat laen dak dapet  hargo cak ini” jelas pedagang itu.. “Iyolah ….aku ambek sekebet” sambil cekmat mengeluarkan uang pecahan 25 rupiah…
setengah terkejut pedagang tersebut “cek, ado duit lain dak………madaki pake selawean galo…”. “Katek kando namonyo untuk makanan kelinci jugo……” jawab cek mat sambil menghitung uang tersebut sejumlah 20 buah.
 Tak lama berselang cekmat pun berjalan lagi kali ini sasaran nya toko ikan asin yang terletak di tengah pasar.
“Cek berapo kepalak…

Gesah Cek Mat

Dengan nuansa tahun 80-an di kota Palembang, Bukan “lagu” baru kalau Cek Mat saat pergi kepasar akan selalu terlihat seperti memborong seluruh baraang yang ada dipasar, seperti yang terjadi hari ini sudah sejak pagi ia keluar dengan berbekal handuk kecil dan kantong kresek bermerek “Assoy” yang terselip di kantong jeans cekmat yang lumayan lusuh, tetapi sebelum kepasar Cek Mat singgah dulu ke warung kopi Cek da,  dimana warung kopi tersebut yang terletak tidak jauh dari pasar sekanak “Cek, teh manis separo…….?’ Kata Cekmat sambil makan bakwan goreng yang masih panas, tak lama kemudian datanglah teh manis separo yang di letakan oleh Cek da. Sambil mengaduk teh manis tersebut Cek Mat bertanya “Cek,  si Ujuk sudah datang belum ?”,
“Belum Cek..”, jawab Cek da singkat. Sambil menghirup tehnya…..” Ai Cek, alangkah manisnyo teh ini….cuba tambah dengan air lagi ……….?”, kata Cek mat sambil menyodorkan gelas tehnya, dan Cek da dengan sigap menambahkan lagi air di gelas cek mat,……da…

Radio 2 Band

“Koran….koran….koran “…teriak Yudi lantang menjual dagangannya di antara bus-bus,angkot dan kendaraan pribadi yang ada di salah satu simpang empat lampu merah di kota ini.
“Mad, sepertinya uang hasil penjualan ini akan saya belikan radio 2 band kecil untuk ibu, biar ada yang menunggu ibu saat ibu pulan mencuci”..ujar Yudi,
Madi hanya tersenyum, “ada uang berapa yud..? tanya nya
“kurang lebih 75 ribu termasuk hasil penjualan koran hari ini”…kata yudi
“nanti kalau sudah cukup temani aku untuk membeli radio, ya mad”..ujar yudi bersemangat
hanya anggukan dari Madi yang mengisyaratkan kesediaannya, karena Madi juga sedang menghitung uang hasil penjualannya hari ini.
Yudi memang di lahirkan dari keluarga yang tidak mampu, Bapaknya sudah mendinggalkan dia dan ibunya semenjak umur 6 tahun sehingga Yudi sendiri tidak tahu muka dari Bapaknya, ia hanya di asuh sendiri oleh sang ibu yang bekerja keras sebagai buruh cuci di tempat dia tinggal, di mana mereka tinggal di dalam gubuk yang …

Mimpi Yang Indah

Dedi dengan bangga melihat usahanya berkembang dengan bagus, walaupun usaha penjualan ATK dan fotocopynya merupakan usaha rumahaan yang di kelolah oleh istirinya, tetapi hasil yang di dapatkan dari usaha ini tidak bisa di bilang sedikit, dengan adanya mesin fotocopy dan juga beberapa peralatan lainnya, untuk menjilid dan vinil dan lengkapnya seluruh peralatan ATK membuat toko ini terkenal di perkampungan tersebut sebagai toko ATK terlengkap di kampung tersebut.
Dedi bisa menjadi orang kaya seperti ini karena mendapat ganti rugi tanahnya yang di gusur hampi sebesar 1 M, merupakan jumlah yang fantastis, dan sangat berlebih bagi Dedi di mana uang tersebut 70% nya di jadikan deposito untuk menunjang kehidupannya sehari-hari, dan sisanya di gunakan untuk membangun rumah, toko ATKnya dan membeli kendaraan, sehingga sangat jelas perbedaan antara sebelumnya yang merupakan tukang sayur keliling di kampung itu.
Makan yang selama ini seadanya sekarang berubah menjadi kreteria 4 seh…

Anugrah Terindah Itu Bernama Ibu

Saat masih di kelas 3 SMP Negeri di kota ini, ibu guru memberikan tugas untuk membuat tulisan yang topiknya tentang “ibu”, jujur saja saat itu saya sangat bingung karena apa yang saya bisa tulis dari seorang ibu yang hanya memiliki warung kecil dan seorang istri dari pegawai negeri rendahaan, sangat berbeda dengan temanku si Hendra yang ibunya seorang Angkatan Udara yang dengan bangganya dia menceritakaan tentang pekerjaan ibunya, atau si Iwan yang ibunya seorang Dokter yang banyak membantu menyembuhkan pasien, atau si Murni yang ibunya mengelolah sebuah show room mobil di salah satu jalan utama kota ini, ataupun ibu-ibu teman sekolah ku lainnya. Kegundahaan hatin ini semakin menjadi karena tulisan harus di kumpulkan pada esok hari padahal setitik inspirasipun belum menyentuk benak ini, pada malam itu hujan sangat deras dan petir dengan beratnya terus bergemuruh dan di tambah dengan lampu yang ikut mati membuat adik-adiku ketakutan, karena kami tidur satu kamar maka adik…

Serenada Terakhir Sang Penggesek Biola

“Nanda”..begitulah nama yang terucap dari bibirnya saat saya berkenalan dengannya sekitar 1 bulan yang lalu, memang baru kali ini Nanda terlihat di komplek perumahaan ini, sejak umur 6 tahun Nanda mengikuti keluarganya di Jogja dan baru saat ini kembali ke Kota ini setelah menyelesaikan study nya, ada hal yang menggelitik nurani ini kepiawaian nanda memainkan dawai biolanya sangat unik karena sangat jarang di kota ada ini ada pemain biola yang memainkan deretan serenda yang menyayat hati.
Memang Nanda belajar biola di kota pelajar saat ia menjalankan study di sana, sejak kedatangan Nanda komplek perumahaan ini pada saat malam menjelang di tambah menjadi syahdu dengan alunan serenada dari biolanya, secara jujur memang saya sendiri kurang mengenal Nanda berbeda dengan keluarganya yang lumayan akrab dengan saya, karena seringnya saya melintas di depan rumah Nanda sakarang ini setiap pergi dan pulang kuliah pasti selalu menyapa Nanda yang duduk di teras rumahnya. 
Suatu hari …

Kereta Tiba Pukul Berapa

“Kak, jemput adek besok jam 7 sampe ke Palembang, adek naik kereta malam dari Lampung..jangan sampai telat ya kak”. Begitu sebait sms yang masuk ke inbox hp ini, getaran yang terasa pinggang ini, segurat senyuman menghiasi wajah ini, “oke, jam 7 sudah di sana..salam rindu”,
demikian lincahnya jari jempol ini mengirim balik sms dengan kerinduan hati, motor langsung akau pacu walau tidak akan bisa terlalu cepat karena vespa 1965 merupakan motor lawas dan sesampai dirumah motor langsung di cuci biar “kinclong” untuk menjemput si dia esok hari.
Walau jam di dinding kamar sudah menunjukan pukul 10 malam tetapi mata ini masih susah di pejamkan, teringat hati ini dengan wajahnya yang esok hari akan mulai mengisi hari-hari indah ini lagi, maklum sudah hampir 3 bulan ini tidak bertemu dengan pujaan hati ini, entah pikiran terus menyentuh sudut-sudut plafond kamar dan entah kapan akan terpejam rinai hujan malam ini mulai menutup kelopak mata ini.
Aku di kejutkan dengan bunyi alaram …

Pemulung Dan Anaknya

Hujan memang merupakan hal yang sedikit menggangu terutama bagi para bikers seperti kami, tetapi ada hikmah yang di ambil saat hujan hari ini tadi. Seorang ibu dengan gerobaknya juga ikut berteduh dari derasnya rinaian air hujan, gerobak yang berisi banyak barang-barang bekas hasil pulungannya hari ini di mana di dominasi oleh kertas dan beberapa karung plastik, tetapi yang membuat terenyuh saya melihat anaknya yang masih berumur 3.5 tahun ikut serta menjadi pemulung, siapa pun yang melihat ibu dan anaknya yang kecil ini pasti akan iba dan terenyuh, anaknya pun turun dari gerobak dan bermain dengan tetasan air hujan.
Saya sempatkan untuk bicara dengan ibu itu, dan ternyata ibu yang asli jawa ini tersebut memiliki ketrbatasan mental juga karena dalam menjawab pertanyaan dari saya juga lama, kata-kata yang di sebutnya pun kurang jelas, “suaminya kerja sebagai tukang batu” jawabnya terbata-bata, sambil memeluk anak nya yang tidak mau diam untuk bermain air.
Iba hati ini melihat kehidupan s…

Ketupat Lebaran Buat Andi

Andi terus memandangi hujan yang membasahi jendela kamarnya, sudah hampir satu jam hujan belum reda juga, hari sudah menjelang sore seharian ini Andi hanya berada di kamar saja, jenuh juga menghadap komputer seharian dengan temannya dan orang tua Andi yang sekarang sedang berada di negeri paman sam, padahal besok merupakan hari lebaran tetapi kedua orang tua Andi tidak bisa berada di rumah.
Sudah dari kecil Andi di tinggal terus oleh kedua orang tua nya karena kesibukan mereka yang memiliki perusahaan multi nasional yang mulai merambah kenegeri orang, Andi terlahir dari keluarga yang berada, dengan rumah mewah , kendaraan roda 4 selalu siap di garasa, uang yang juga tidak ada kurangnya dan fasilitas-fasilitas cangih lainnya lainnya yang selalu ada di sekelilingnya , tetapi Andi kurang mendapat perhatian dari kedua orang tuanya yang selalu sibuk, di mana kedua orang kakaknya juga sedang mencari ilmu di benua yang berbeda, kakaknya yang tertua belajar di Amerika dan kakak perempuannya se…

Baim dan Lenggang Palembangnya

Baim begitulah laki-laki berumur sekitar 40 tahun-an ini di panggil di lingkungan sekitar tempat dia, lelaki yang sehari-hari ini berjualan “Lenggang” yang merupakan salah satu makanan khas masyarakat yang ada di kota ini.
Setiap hari baim keluar untuk menjual lenggang, dimana dia menyewa petak kecil di sudut warung Mang Suryana yang juga menjual makanan dan kopi di warung tersebut, setiap pagi beliau berjualan yang dapat menghabiskan +/- 5 kg Telur ayam setiap harinya.
Dengan adonan yang sudah di buat oleh sang istri dan tumpukan daun pisang yang sudah di potong kecil-kecil, baim pun bersiap untuk melangkah menuju tempat nya berjualan, dimana para pelanggan setia sudah menunggu.
Dari berjualan lenggang ini lah Baim dapat menghidupi istri dan 4 anaknya, anaknya yang terbesar sudah duduk di kelas 1 SMA dan yang lainnya masih SMP dan SD sedangkan yang kecil baru berumur 5 tahun.
Berhadapan dengan panasya bara api dari batok kelapa yang terbakar sudah membuat Baim terbiasa akan panas, dengan…

Silat sejati dahlan

Sebenarnya Dahlan bisa saja mematahkan kaki ataupun tangan para pereman-pereman yang memalaknya tetapi ia tidak melakukannya walaupun para preman tersebut kocar-kacir di hantam jurus-jurus silat Dahlan dan tidak tahu juga alasannya mengapa, Dahlan memang sudah di kenal di kampungnya sebagai pelatih pencak silat di kampungnya di mana sudah sedari kecil Dahlan, tetapi baru sekali ini melihat Dahlan bertarung seperti sinetron laga yang ada di TV.
Dahlan memang di kenal sebagai orang yang ramah dan mudah dalam pergaulan banyak siapa yang tak kenal dengan dengan guru silat Dahlan di lingkungan tempat di tinggal, pada setiap malam Sabtu dan malam Selasa banyak murid-muridnya berkumpul di sepetak tanah di dekat rumahnya tempat mereka berlatih.
Silat dalam keseharian Dahlan bukan barang yang baru, dengan pekerjaan sehari-hari penjual bumbu dapur dan rempah-rempah di salah satu pasar tradisional di kota ini sudah cukup untuk menghidupi istri dan 3 orang anaknya, dulu silat di dapatkannya dengan …

Mendengar Dahulu Sebelum Berkata

Sering melihat orang yang bicara secara terus menerus seperti tanpa ada habisnya kata, mungkin sering di panggil "Ember"atau comel, tetapi orang yang seperti itu banyak terdapat di sekeliling kita, terkadang kita di buat senang karena selalu meriah terpati terkandang omongan berlebihan juga membuat kita jengkel.
Banyak keributan yang terjadi di karenakan salah ucapan ataupun perkataan oleh lidah yang memang bentuknya sangat lentur tanpa tulang ini. banyak hal-hal yang terjadi di luar dugaan terjadi oleh benda yang kita sebut dengan Saat membaca salah satu buku keperibadian baru terpikir juga oleh saya mengapa sang pencipta memberikan kita 1 otak yang besar, 2 telinga yang lebar, 2 mata yang jernih dan 1 mulut yang mungil, sebenarnya kalau di telah nasehati untuk mendengar dan berpikir dulu sebelum bicara.
Kalau di ibaratkan dengan alat input telinga dan mata merupakan alat input yang sangat akurat melihat dan mendengar merupakan perpaduan yang tiada duanya, dengan informasi ya…

Yai Nain Penjual Sarung Bantal Keliling

Sarung..sarung..sarung...sarung bantal, sarung kasur.....sarung..sarung, teriakan seperti inilah yang sering di dengar di kawasan Rumah Susun di mana sesosok lelaki renta bersama cucunya berkeliling mengelilingi komplek perumahaan susun 26 ilir di kota ini.
Dengan langkah yang masih tegar di usia yang sudah merenta si kakek yang akrab di sapa Yai Na'in ini terus menawarkan dagangannya, bukan pemandangan asing bagi penduduk yang tinggal di rumah susun tersebut melihat kakek renta yang memanggul dagangannya.
Dari sarung bantal tidur, bantal guling dan sarung kasur di bawa oleh si kakek yang sekarang sudah hampir menginjak usia 80 tahun ini, tetapi semangat untuk mencari tanpa mengharap belas kasih orang lain yang patut di tiru, setiap hari kakek yang di temani si cucu keliling kawasan 26 ilir setelah tengah hari saat si cucu pulang sekolah, dengan langkah pasti di tengah matahari yang terik tidak membuat semangat si Kakek dan cucu meredup untuk mencari lembaran Rupiah, beruntung jika …

Kenangan Indah Bersama Ayah

Ingat dulu saat naik motor dinas Suzuki A100 keluaran tahun 79, di mana jalan dari rumah menuju ke jalan raya masih becek, berempat naik di motor yang di kendarai ayah, memang sudah bisa di tebak saat di jalan yang becek, licin dan berlumpur tersebut motorpun oleng dan kami semua jatuh di jalan yang penuh lumpur tersebut yang pastinya baju seragam sekolah menjadi kotor, begitu juga sepatu dan tas padahal jalan raya hanya beberapa meter lagi, tetapi yang kasihan dengan Ayah yang berbalut lumpur di samping menyelamatkan kami biar tidak terlalu kotor juga harus menyingkirkan motor biar tidak menghalangi jalan, walaupun ternyata tidak hanya kami yang terjatuh selang 10 menit kemudian ada juga pengendara motor yang jatuh, sehingga kami pulang kembali ke rumah dengan berkotor-kotor ria.
Atau saat menunggu ayah pulang lembur dari kantor yang sudah malam dimana bisanya membelikan sebungkus sate dari tempat ia bekerja, walaupun walam biasanya kami akan bangun dan menyantap sebungkus sate terseb…

Pilihan Hidup

Pilihan memang sesuatu yang berat terutama bila keduanya seimbang antara pilhan tersebut, apalagi saat kedua pilihan tersebut setelah di timbang-timbang antara keduanya antara baik dan buruknya juga seimbang, tetapi tenyata kita masih diharuskan untuk memilih karena tidak ada alasan untuk tidak memilih, keingian didalam relung hati yang paling dalam ingin memilih kedua-duanya, tetapi hal tersebut tidak mungkin…..
Memilih itulah salah satu “bumbu penyedap” yang selalu melintas di jalan kehidupan kita di mana banyak pilihan sepanjang jalan seperti ujian nasional yang akan menentukan kita berhasil atau tidak, memang bagi yang di hadapakan kepada pilihan tetapi karena mereka memiliki segala sumber daya untuk mengambil pilihan tersebut bukan menjadi masalah, seperi keinginan untuk membeli sepatu yang berwana hitam atau putih bai yang memiliki sumberdaya yang banyak dalam hal ini uang mungkin mereka tidak akan melakukan pilihat tetapi bisa memeilih kedua-duanya, tetapi bagi yang memilik uang…

Kerinduan Ali

7 tahun sudah tidak terasa Ali bekerja di sebuah biro perjalanan wisata dan haji di kota ini, dengan gaji belum genap 1 juta perbulan sudah di rasa cukup oleh Ali untuk menghidupi istri dan kedua anaknya, walapun diantara melambungnya harga kebutuhan pokok yang terus menjepit hidupnya, Ali tetap berusaha dan di bantu istrinya yang sabar yang juga membuka warung kecil-kecilan di rumahnya yang bisa membantu perekonomian keluarga Ali.
Dari sejak dari bujangan Ali melakukan pekerjaan yang berkaitan dengan ibadah haji di kantor ini, karena tempat ia bekerja juga melaksanakan manasik bagi calon jemaah haji, mengurus administrasi untuk pergi haji baik ke kantor Departemen Agama, Bank ataupun intansi lainnya bukan hal yang baru lagi dan semua dapat di lalui dengan mulus.
Tapi ada sesuatu yang selalu ia munajatkan tiap malam saat sholat tahajud adalah keinginannya untuk menunaikan rukun islam ke 5 tersebut, dan bukan hanya niat tetapi perbulan ia menyisihkan 50 sampai 100 ribu dari gaji nya untu…