CANTUMKAN SUMBERNYA JIKA MENGGUNAKAN GAMBAR ATAU ARTIKEL DARI BLOG INI - HORMATI HAK CIPTA ORANG LAIN.

06 Februari 2019

Satu hari di Rangkasbitung

Bus yang mengantar kami ke Rangkasbitung via labuan
Hari ke 4 tanggal 07 Februari 2019, agenda utamanya adalah ke daerah Rangkasbitung Lebak Banten, karena ada resepsi pernikahan sepupu yang tugas di polres sana, untuk akad nikahnya sendiri sudah di lakukan pada tanggal 28 Desember 2019, di daerah kramatwatu, Serang Banten. Rencananya sih saya dan keluarga ke Rangkasbitungnya mau menggunakan kereta api ekonomi lokal merak via stasiun krenceng, karena jarak dari Stasiun krenceng ke Stasiun besar rangkas bitung hanya +/- 2 Jam setelah itu naik angkot ke lokasi acara 5 ribu perorang tetapi kami batalkan karena busnya masih banyak kosong.

Salah satu sudut yg terkena Tsunami
"Sudah ikut bus saja... Biar rame"ujar datuk
"Rencananya pake kereta tuk, biar agak santai" jawabku
"Nggak usah... pakai bus saja ... masih banyak tempat duduk kosong, sayang sudah di sewa" kata datuk kembali.

Dari pagi sebelum keluarga besar kami sudah bersiap-siap berangkat ke Rangkasbitung karena bus mutiara di rencanakan berangkat pukul 07: 00 tepat dari restoran Jepang Midori, bus yang akan mengangkut keluarga dan warga sekitar untuk ke rangkasbitung ada 2 unit tetapi yang satunya lewat tol serang karena akan menemput keluarga di kawasan kramatwatu jadi lebih cepat sampai ke daerah rangkasbitung.

Tepat jam 7 pagi perjalanan di mulai pemandangan pesisir pantai Anyer menyapa mata dengan lambaian daun kelapa yang tertiup angin, menuju arah pantai karang bolong.

"Cek.... Kenapa lewat jalan labuan ya ?" Tanya ku kepada Acek
"Kata sopirnya dia nggak punya kartu e-tol, jadi nggak bisa lewat tol " Acek bilang
Aku mengangguk antara paham dan enggak karena memang belum pernah ke rangkasbitung sih.

Tsunami Desember 2018 belum sepenuhnya hilang dari ingatan, begitu juga puing-puing yang terlihat di sepanjang jalan anyer carita sampai ke arah labuan pandeglang, pondok wisata dan makanan yang hancur, penginapan yg rusak, bahkan sampai kontainer yang ikut berkaparan rusak. ni yang masih menyebabkan trauma wisata di kawasan anyer ini wajar kalau saat hari tiba ke sana di titik nol anyer atau mercusuar terlihat sepi biasanya dulunya ramai. Penyebab pasti tsunami yang saat ini masih di telusuri  oleh para ahli, dengan dugaan sementara yaitu erupsi anak gunung krakatau.

Salah satu spot foto di kawasan labuan
Bus melaju dengan kecepatan tinggi, setelah ku tracking di google. Maps ternyata waktu tempuh nya hampir 3 jam berbeda dengan lewat tol yg hanya 2 jam lebih sedikit sama seperti jika menggunakan kereta api ekonomi. 

Perjalanan dijalan yang bisa di bilang bukan kelas kota bisa terbayar dengan pemandangan nya, pada 1 jam pertama hamparan pantai di sepanjang anyer - labuhan sudah menggoda mata untuk menikmati panorama alam tersebut, begitu juga sisa-sisa sunami yang masih tertinggal di sepanjang pesisir pantai banten.

Memasuki kawasan labuan pandeglang di hiasi dengan jalan berkelok-kelok yang terkadang cukup ekstrim sesekali ber lintasan dengan bus rute labuan-kalideres si sisi kiri dan kanan hamparan padi yang menghiasi kawasan ini.

Jarak yg di tempuh lumayan jauh yaitu 69 km yang di tempuh dengan waktu 2 jam lebih tidak heran kalau anak-anak pada mabuk darat termasuk Kakak . Mungkin juga karena sopirnya mengejar waktu karena acara pagi menunggu kehadiran kami dari Anyer. Jam 10 kurang kami tiba di tempat acara dan keluarga besar langsung melakukan prosesi resepsi pernikahaan tersebut.

Setelah selesai makan siang dan sholat zuhur maka kami berencana untuk ke alun-alun rangkasbitung. 
Happy Wedding Te Vivi & Om Didik semoga jadi keluarga SAMARA

Belum ada di kota ini

Bada zuhur setelah sholat kami berinisiatif untuk ke alun-alun kota rangkasbitung yang jaraknya berdasarkan goggle. Map hanya 4,3 km dengan waktu tempuh +/- 10 menit.

Tapi saat mau order via  Goride muncul tulisan "GO ride belum ada di kota ini" Begitu juga saat order Go- car juga jawaban yg sama di aplikasinya. 

"Coba order pakai grab yah? " Kata Bunda

Saat di order jawaban dari alikasi transportasi dari Malaysia ini juga sama.
"Sama" Jawabku

Akhirnya kami keluar dari gedung tempat acara dan kejalan raya kebetulan ada driver gojek lagi melintas mengantar penumpang ke gedung tempat acara di daerah narimbang.

"Bang.. GO-JEK"? Tanyaku
" Iya bang" Jawabnya sambil mendekat
"Ini gak bisa order ya pakai aplikasi? Tanya ku kembali
" Kalau dari tempat ini belum bisa om, kalau mau kita offline saja, om mau kemana"? Jelas si driver
"Alun-alun rangkasbitung sih" Jawab ku singkat
"Bisa om.. Tapi ofline saja nanti saya antar 10 ribu saja" Jawab driver gojek tersebut. "Nggak muat mas... Itu" Jawab saya sambil menunjuk ke seberang jalan 
Karena memang saat itu saya hanya bersama Adek saja karena bunda, kakak  serta salah satu sepupu kami yaitu Dita lagi berteduh karena panas.

"Iya om nggak muat.... Naik angkot saja" Katanya
"Angkot yg warna apa bang ?" Tanyaku
"Yang itu bisa" Jawabnya sambil menunjuk ke angkot warna merah jurusan kalijaga - curug.
"Kalau ber enam bisa langsung minta anter saja om, ongkosnya 5 rebu maksimum" Jelas driver gojek itu lagi.

Setelah browsing ulang baru tahu kalau aplikasi GO-JEK di rangkasbitung masih trial/uji coba walaupun driver sudah banyak berkeliaran di kawasan alun-alun dan sekitarnya tapi jangkauan order hanya berjarak 2-3 kiloan, krn kalau order dari alun-alun rangkasbitung bitung ke gedung daerah narimbang bisa keluar tarif ongkosnya. Itupun hanya GO-RIDE saja Go-Car belum ada.  Semoga aplikasi online bisa menambal tingkat kesulitan transportasi publik di rangkas bitung. 

Setelah mendapat penjelasan dari driver gojeknya, akhirnya kami sepakat naik angkot jurusan kalijaga curug yang berwarna merah.

"Tanya dulu yah... Ongkosnya berapa" Kata bunda kepadaku
Rupanya beliau masih ingat kejadian di simpang pocis saat mau ke perumahaan taman lopang indah.

"Siap dan" Kata ku ke istri
"Ke alun-alun berapa kang, 5 ribu ya? " Tanya ku
"Iya terserah.. Naiklah" Kata akang sopir yang sudah separuh abad tersebut

4 Tempat di dalam 1 Tempat

Kami berlima akhir nya naik ke angkot carry tahun 2002 nya tersebut ternyata mang jaraknya tidak terlalu jauh yg membuat sedikit memutar karena jalan di seputaran alun-alun dibuat hanya satu jalur. Dan beliau juga sempat menunjukan tempat beli oleh-oleh khas Lebak.

Alun-alun rangkas bitung
"Pak... Kalau perlu nanti bisa di jemput lagi di sini " Kata pak azhari nama sopir angkot tersebut sambil menyebutkan no hpnya.
"Ok.. Pak sekitar jam 4 atau jam 4 kurang akang kesini lagi saja... Nanti biar saya telpon" Jawab ku sekalian sambil membayar ongkosnya

Titik pertama yg kami tuju adalah tulisan alun-alun rangkasbitung dan kami langsung SWA foto tepat di tulisan alun-alun Rangkasbitung.

"Yah... Adek mau foto di bola yang ada air mancur nya" Teriak adek sambil berlari menuju ke sana, karena letaknya di sebrang tulisan alun-alun rangkasbitung atau di depan rumah dinas Walikota rangkas Bitung. Kamipun langsung berjalan mengejar adek dan setelah sampai dia langsung bergaya di bola air mancur tersebut. 

Di Depan museum multatuli
Setelah anak puas selfi di sana, maka ku buka Google.map untuk tujuan selanjutnya yaitu Museum Multatuli, tertera di google maps hanya 1 menit dari tempat kami berdiri. Akhirnya kami berjalan lurus mengikuti track di google maps, ternyata Museum Multatuli tepat terletak di samping dari alun-alun rangkasbitung sama seperti masjid agung Al-A'raf.

Ternyata Museum ini juga menjadi bagian dari kantor perpustakaan dan arsip daerah Lebak, tulisan "wilujeng sumping" Yang terpampang besar di gedung tersebut.


"Ini yah, tulisan yang bunda baca tadi dari alun-alun" Saat kami tau kalau itu Museum Multatuli. 

Kami swa foto di beberapa spot yang ada di sini dan setelah selesai akhirnya kami melanjutkan ke rumah Douwes Dekker, yang berjarak hanya 3" Dari Museum Multatuli, tetapi belum berjalan beberapa saat ke arah rumah Douwes Dekker,  kakak sempat terpeleset dan jatuh, di trotoar jalan nasib baik tidak menyebabkan luka.

2 Anak & 1 Tantenya .... di depan rumah Dowes Dekker

Orang Aceh rasa Lebak Banten

Bunda dengan latar belakang Masjid Agung Al-Araf
Pukul 15:30 wib menyudahi foto-foto kami, azan ashar pun mengalun dengan merdu dari Masjid Agung Al-A'raf.

"Assalamu'alaikum, kang.... Kalau jemput sekarang bisa tidak " Tanya ku melalui telpon
"Bisa pak... Tunggu sebentar ini saya lagi di jalan depan rumah sakit" Jawabnya
"Ok.. Kang di tunggu" Jawab ku kembali

Akhirnya kami sampai kembali di tulisan alun-alun rangkasbitung dan kembali swasta foto, dan tidak lama berselang datanglah si akan tepat didepan pos polisi saat dia mengantar kami tadi.

Kami berlima langsung menyebrang dan menaiki angkot beliau.

"Kang.... Bantu ke tempat oleh-oleh tadi kita ada yang mau dibeli dulu" Kataku ke Pak Ashari.
"Bisa pak.. Tapi harus muter lagi dari sono" Katanya sambil tangan nya menunjuk putaran di depan alun-alun

Akirnya angkot memutar tidak terlalu jauh dan langsung mengarah arah toko oleh-oleh.

"Pak.... Nyebrang saja nanti saya puter dulu, banti saya puter dulu dan parkir di depan tokonya" Kata Pak Ashari
"Ok... Kang" Kataku

Kami turun dari angkot aku menuntun adek sedangkan bunda menuntun di kakak dan sepupu kami . Setelah menyebrang maka sampailah ke toko oleh-oleh. Kalau urusan belanja itu urusan bendahara negara, Bunda yang memilih apa yg mau di beli, saya hanya menemani adek, kakak dan sepupu kami.
Kulihat adek memegang topi khas Lebak yg berwarna biru. "Mau dek? " Tanyaku kepada adek 
Hanya anggukan yang terlihat tanpa suara

Kakak on action dengan souvenir khas lebak banten
"Berapa kang? " Tanyaku sambil menunjukan ikat kepala ala Lebak banten.
"20 pak" Jawabnya

Setelah banyak bercerita ternyata beliau orang Biuren, Aceh yang nikah sama orang Lebak banten, dan sudah lama juga tinggal di rangkasbitung.

Singkat cerita bunda membeli sejenis bipang, kue, rengginang, serta beberapa aksesoris khas Lebak.

"Totalnya sekian kukasih diskon sekian dan ini bonusnya.... total sekian..... " Kata akang Aceh
"Terima kasih diskonnya kang" Kataku kembali
"Biasa bang berkah, sama-sama anak Sumatera" Katanya lagi.

Aku hanya tersenyum... Memang benar kata orang bijak solidaritas itu terbentuk salah satu nya dari kedaerah an" Terima kasih kang 

Pukul 17: 30 kami meninggalkan gedung tempat acara, Bus melaju sedang di iringi matahari yang akan turun ke peraduan. 

Entah apa yang terjadi seperti mesin waktu ku baca alamat si sebuah papan nama tertulis "carita".. Otaku mulai bekerja 

" Oh... Aku sudah tertidur sejak perjalanan pulang dan baru terbangun saat sudah dekat ke anyer" Kataku dalam hati

Ternyata bukan aku saja yang tertidur hampir seluruh penumpang bus yang aku tumpangi juga tertidur.

Bus melaju dalam pelukan pekatnya malam pertanda perjalanan hari ke 4 telah berakhir.

Next : Ini pantai berok bukan kambing berok

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...