CANTUMKAN SUMBERNYA JIKA MENGGUNAKAN GAMBAR ATAU ARTIKEL DARI BLOG INI - HORMATI HAK CIPTA ORANG LAIN.

31 Januari 2017

Jalan Jenderal Sudirman Up Date


Lokasi                           : Jl. Jenderal Sudirman
Waktu Pengambilan      : Minggu, 29 Januari 2017
Jam                                : 11:30 WIB
                                         Lenovo Vibe K4 Note

29 Januari 2017

Bisokop Orental 1947

Bioskop oriental / Saga di Jalan Merdeka sumber : Facebook Rozali Ali Yasin

Bioskop oriental / Saga di Jalan Merdeka sumber : Facebook Rozali Ali Yasin

Lebih lengkap baca : Bioskop Oriental

27 Januari 2017

Hotel Red Planet Palembang

Hotel Red Planet yang terletak Jl. Jend Sudirman KM 3,5 seberang SMAN 3 Palembang

Red Planet Palembang dirancang untuk meningkatkan pengalaman perjalanan dengan memberikan kepada para pelancong yang melakukan bisnis dan menikmati liburan mereka segalas sesuatu yang mereka perlukan sementara menghindari layanan-layanan yang lebih menjadikan hambatan bukannya bantuan. Palembang adalah ibukota Sumatra Selatan dan terletak di bantaran Sungai Musi. Red Planet Palembang yang terdiri dari 147 kamar memiliki waktu tempuh 40 menit dari bandara Sultan Mahmud Badaruddin II dan memberi akses nyaman ke tempat tujuan dengan daya tarik yang harus dilihat termasuk Jembatan Ampera, Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II dan istana Benteng Kuto Besak abad ke 18. Fasilitas hotel mencakup ruang rapat, restaurant dan fasilitas untuk penderita cacat.


Diluncurkan pada 2014, Red Planet Palembang telah menetapkan kembali sektor hotel bernilai dengan menawarkan harga yang mencakup semuanya untuk setiap kamar, setiap malam. Semua kamar dilengkapi dengan Wi-Fi kecepatan tinggi secara cuma-cuma, sistem shower yang dapat membuat anda rilek, tempat tidur khusus bermutu tinggi dengan sprei kelas atas dan banyak fitur lain termasuk penyejuk ruangan, brankas dalam ruangan, pengering rambut, kipas angin langit-langit dan TV layar datar 32-inch. Tidak ada biaya yang tersembunyi dalam tarif ruangan atau fasilitas lain yang kami berikan.

sumber tulisan : https://www.redplanethotels.com/

26 Januari 2017

Gedung Pelayanan Terpadu Rujukan Nasional Rumah Sakit Muhammad Husein Palembang


Pembangunan Gedung  Pelayanan Terpadu Rujukan Nasional  berdiri diatas lahan 3.956 m² dengan luas lantai 11.236 m²  yang terdiri dari 8 lantai. Acara Toping off Ceremony atau dalam istilah daerah Palembang  “naek bubungan” pada hari Kamis 15 Desember 2016  dihadiri oleh Direktur Utama RSMH Dr.Mohammad Syahril,Sp.P,MPH, Direktur Umum, SDM dan Pendidikan Drs. Amrizal,Apt,M.Kes,MARS , Dekan FK UNSRI Dr.Syarif Husin,MS, Anggota Dewan Pengawas RSMH Bapak Sudarso,MM , Dinas PU Cipta Karya Provinsi Sumatera Selatan Bapak Edi Garibaldi, Direktur Operasional PT.PP  Pracetak  Bapak Ir.Ahmad Sanusi, Konsultan Pt.Ciria Jasa Bapak Triyono, dan  para staf  yang terlibat dalam proyek, serta para undangan lainnya.

Dalam kata sambutannya Direktur Utama RSMH Dr.Mohammad Syahril,Sp.P,MPH  mengatakan bahwa Gedung Pelayanan Terpadu  Rujukan Nasional yang berlantai 8 ini akan menjadi ikon atau simbol sejarah bagi  RSMH sebagai RS berstandar Internasional. Seperti yang diketahui saat ini prestasi yang dicapai bersama yaitu lulusnya Akreditasi internasional  JCI  yang artinya RSMH telah menerapkan jaminan mutu dan keselamatan kepada pasien dan keluarga. Semoga RSMH semakin dicintai masyarakat dan bermanfaat bagi masyarakat luas.

Gedung ini terdiri dari 56  ruang poliklinik yang berada di lantai 1 dan 2, sedangkan lantai  3 sd lantai 6 diperuntukkan untuk ruangan rawat inap, Ruang Serbaguna berada dilantai sebanyak 2 unit dengan luas masing-masing 280 m².Pembangunan gedung ini diperkirakan akan selesai pada pertengahan tahun 2018, dan akan  dioperasionalkan dalam rangka menyambut pesta olahraga terbesar di Asia yaitu ASIAN GAMES.

Humas@yeri/ritha
 

Sumber tulisan : http://web.rsmh.co.id/

23 Januari 2017

Kawasan 10 Ulu Update



Lokasi                           : Jalan Pasar 10 ulu & Jembatan Ampera
Waktu Pengambilan     : Minggu, 22 Januari 2017
Jam                              : 16:10 WIB
                                        Lenovo Vibe K4 Note

22 Januari 2017

Air Mancur Up Date


Lokasi                           : Jembatan Ampera
Waktu Pengambilan     : Minggu, 22 Januari 2017
Jam                              : 16:30 WIB
                                        Lenovo Vibe K4 Note

21 Januari 2017

Permainan dengan Ban Motor

Anak-anak yang sedang memainkan Ban bekas motor di kawasan 13 Ulu Palembang
Memainkan permainan ini bisa dilakukan sorang diri, namun yang paling mengasikkan tentu saja bermain bersama teman-teman, waktu yang pas untuk memainkannya adalah pada sore hari supaya cuaca tidak terlalu panas, biasanya pada saat pulang sekolah anak-anak akan membuat janji untuk berkumpul di suatu tempat sambil membawa ban yang akan digunakan untuk bermain, setelah semuanya berkumpul maka mulailah permainan ini dilakukan, rute yang dilalui ya disekitar jalanan yang ada di kampung, semua jalan dan gang yang ada di kampung akan habis dilalui dengan berlari-lari kecil sambil memukul ban bekas motor tersebut, selain melalui rute di sekitar kampung, terkadang anak-anak yang bermain bisa juga sampai ke kampung sebelah atau ke suatu tempat yang direncanakan, misalnya ke pantai atau ke sungai, istilah jaman sekarangnya mungkin touring, namun jika touring yang kita kenal adalah dengan mengendarai kendaraan tertentu, makan touring disini adalah mengunjungi suatu tempat sambil membawa ban bekas.

Selain cuma berputar-putar sambil berjalan dan berlari menelusuri jalanan yang ada di Kampung, kegiatan yang paling mengasikkan ketika bermain menggunakan ban motor bekas ini adalah adu kecepatan alias balapan. Aturannya sama dengan balapan pada umumnya, dimulai dari garis start kemudian berlari dengan kencang sampai ke garis finish, siapa yang sampai duluan maka dialah yang menjadi pemenang, namun yang membedakan adalah tentu saja pada ban motor bekas yang harus dibawa berlari, perlu strategi dan ketepatan supaya kita bisa sampai garis finis lengkap dengan ban yang dibawa, jangan sampai kita duluan berlari dan ban tertinggal atau malah sebaliknya, ban yang duluan sampai sementara kita belakangan, selain itu yang harus diperhatikan adalah laju ban yang tetap stabil dan tetap pada jalur supaya tidak saling menabrak dengan ban teman berlomba, sepintas cukup mudah namun sulit dilakukan, tidak jarang ban yang dibawa berlari akan saling bersenggolan sehingga keluar dari lintasan dan itu akan menghambat laju lari kita, kegiatan balapan ini adalah kegiatan yang paling seru untuk dilakukan, sorak sorai teman-teman yang menyemangati akan semakin menambah semarak suasana perlombaan. 

Tulisan by Kaskus.co.id

19 Januari 2017

Tepi Sungai Musi tahun 1970-an

Tepi sungai Musi tahun 1970 an sumber : httpnimh-beeldbank.defensie.nl
Tepi sungai Musi tahun 1970 an sumber : httpnimh-beeldbank.defensie.nl


18 Januari 2017

Ekspedisi Belanda-Jerman untuk mengamati gerhana matahari Januari 1926 di Palembang

ekspedisi Belanda-Jerman untuk mengamati gerhana matahari Januari 1926 di Palembang
sumber foto : http://nimh-beeldbank.defensie.nl/

Gerhana matahari total yang terjadi pada 14 Januari 1926 mencakup wilayah : Bengkulu, Palembang, Pangkal Pinang, Bangka Belitung, dan Pontianak, sehingga pada saat itu Pihak kerajaan Belanda mengandakan kerjasama dengan pihak Jerman untuk melakukan pengamatan tentang gerhana matahari tersebut.

Gerhana matahari yang pertama kali terjadi di Palembang ini merupakan fenomena yang unik bagi ilmuwan kedua negeri tersebut, di mana sebelumnya wilayah Indonesia yang lain juga pernah di lintasi gerhana matahari total sebelumnya yaitu pada 18 Mei 1901 yang meliputi wilayah : Padang, Jambi, Pontianak, Balikpapan, Samarinda, Palu, dan Ambon

17 Januari 2017

Parade Menyambut kelahiran Putri Marijke pada 18 Februari 1947 di Raadhuisweg/ Jalan Merdeka Palembang Part #2





Peralatan tempur dan prajurit sedang melakukan parade kekuatan yang di lakukan oleh Batalyon Resimen Stoottroepen di sepanjang Raadhuisweg / Jalan Merdeka dab berbelok kearah alun-alun kota Palembang yang saat ini menjadi MONPERA . Parade ini di tujukan untuk menyambut kelahiran Putri Marijke  pada 18 Februari 1947 sumber foto : beeldbankwo2.nl

16 Januari 2017

Parade Menyambut kelahiran Putri Marijke pada 18 Februari 1947 di Raadhuisweg/ Jalan Merdeka Palembang Part #1

Para petinggi meliter dan sipil sedang menyaksikan parade kekuatan yang di lakukan  oleh Batalyon Resimen Stoottroepen di Raadhuisweg / Jalan Merdeka tepat di depan kantor pos . Parade ini di tujukan untuk menyambut kelahiran Putri Marijke  pada 18 Februari 1947 sumber foto : beeldbankwo2.nl

Para petinggi meliter dan sipil sedang menyaksikan parade kekuatan yang di lakukan  oleh Batalyon Resimen Stoottroepen di Raadhuisweg / Jalan Merdeka tepat di depan kantor pos . Parade ini di tujukan untuk menyambut kelahiran Putri Marijke  pada 18 Februari 1947 sumber foto : beeldbankwo2.nl

15 Januari 2017

Bioskop Luxor Palembang

Pemutaran Film Seven Sweetheart's di bioskop Luxsor tahun 1946 (atau lebih di kenal bioskop intium/Mustika di era tahun 70-an) sumber foto : Indiegangers.nl

Plot Summary

    Seven Sweethearts (1942) - Plot Summary Poster
  • Covering the tulip festival in Little Delft, Michigan, reporter Henry Taggart takes a room at an inn ran by an eccentric old Dutchman, Mr. Van Maaster and his seven daughters. The eldest, Regina, is spoiled and stage-struck while Billie, Victor, Albert, Cornelius, Peter and George work there as boys. Henry, momentarily attracted to Regina, realizes he is in love with Billie when he hears her sing. Billie, resists his attentions, believing him the property of Regina since it is a Van Maaster family tradition that no girls in the family can marry until the eldest has. Billie admits her love for Henry but Regina will not relent. The old man trails Regine to New York where she says she has eloped, and asks that Billie marry Henry. Six couples in wedding clothes stand at the altar in the Little Delft church; Billie and Henry and the five other sisters with their intended.
    Written by Les Adams

14 Januari 2017

Senja Di Masjid Agung Palembang

Beberapa orang tentara Belanda yang masih menunggu di saat senja dengan latar Masjid Agung Palembang pada 30 Desember 1947 sumber foto : gahetna.nl

12 Januari 2017

Talang Betutu Tempo Dulu

Tower komunikasi Bandara talang betutu  1946 Sumber foto : Indiegangers.nl

Salah satu pesawat terbang milik Maskapai KLM Belanda 1946 Sumber foto : Indiegangers.nl


Lapangan terbang Talang Betutu yang merupakan cikal bakal Pangkalan TNI AU Palembang pada masa pendudukan Belanda maupun Jepang adalah salah satu lapangan terbang di Indonesia berkedudukan di Sumatera Selatan. Lapangan terbang ini dahulu berfungsi sebagai pangkalan pesawat-pesawat tempur dan markas pasukan Jepang dalam upaya pertahanan atas pendudukannya di Indonesia terbukti disekitar lapangan terbang banyak dibangun tempat-tempat perlindungan. Selain difungsikan sebagai pertahanan, Jepang pernah menjadikan sebagai basis pendidikan kemiliteran Gyugun Angkatan Udara dimana mereka disiapkan menjadi Perwira pengawal lapangan terbang.

Banyak buruh romusha yang direkrut BPP Palembang ( Badan Pembantu Pemerintah (BPP), masayarakat setempat mengenalnya sebagai buruh pembantu Pemerintah ), sekitar bulan november 1943, BPP Palembang mendapat tenaga kerja "tambahan". Sekitar 3.000 orang dari pihak Sekutu yang di tawan jepang ditugaskan bersama mereka membangun pelabuhan udara di Betung (60 km dari kota palembang). Pada bulan mei 1944 sebagian tenaga kerja BPP di Betung dipindahkan ke proyek pembuatan lapangan terbang kedua di Talang betutu. Sebagian lagi, ditambah tenaga kerja BPP yang baru, dikerahkan untuk memperbaiki pelabuhan Sungai Musi di Kota Palembang.(sumber : http://wartasejarah.blogspot.co.id/)

Camp Di talang betutu yang di bangun oleh Jepang 1946 Sumber foto : Indiegangers.nl
Pada saat pasukan Belanda bersama pasukan Angkatan Udaranya memasuki wilayah Sumatera Selatan tahun 1946, lapangan terbang ini lebih disempurnakan lagi dengan memperpanjang landasan dan melengkapi fasilitas-fasilitas sehingga kegiatan penerbangan lebih baik dari sebelumnya.

Setelah melewati perjalanan sejarah yang panjang, yang dimulai dari masa pendudukan penjajah, perjuangan bangsa Indonesia merebut dan mempertahankan kemerdekaan hingga terbentuk dan berdiri Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) di wilayah Sumatera Selatan tahun 1946, gagasan pembentukan TRI Penerbangan yang dimotori oleh para pelajar bekas siswa Sekolah Tinggi Teknik Penerbangan NANKO BUNTAI Jepang di Shinanto (Singapore) tahun 1946, sampai pembentukan Markas Penerbangan di Sumatera dan Agresi Belanda I tanggal 21 Juli 1947 yang mengakibatkan kerugian besar bagi pihak Indonesia tetapi tidak menyurutkan semangat juang para perintis AURI.

Puncak perjuangan para perintis AURI yang disemangati Merah Putih dan dilandasi pengabdian tulus, akhirnya membuahkan hasil. Angkatan Udara Belanda yang berkedudukan di wilayah Sumatera Selatan pada tanggal 26 April 1950 menyerahkan pesawat udara Twaalfde Vliegbasis dan Varva beserta personilnya yang berpangkalan di Talang Betutu dalam suatu upacara dihadiri pejabat militer maupun sipil diiantaranya; Komandan ML Kapten J.B.H. Bruiner, Komandan AURIS Mayor Sujoso, Komandan TRIS Sumatera Selatan Mayor Hasan Kasim, Komandan Pasukan Belanda Letcol J.H.J. Bredgen serta dua orang wakil UNCI. Kemudian Lapangan Terbang Talang Betutu beserta fasilitas-fasilitas pendukung penerbangan diserahkan kepada Kepala Staf Angkatan Udara dengan Skep Kepala Staf Angkatan Perang No.:-023/P/KSAP/50 tanggal 25 Mei 1950 yang selanjutnya menjadi Pangkalan TNI AU Palembang hingga sekarang.

Sumber tulisan : https://tni-au.mil.id/


11 Januari 2017

Sejarah Hotel Sehati

Hotel smith tahun 1947 Sumber foto : Indiegangers.nl
Hotel smith/ Hotel Sehati tahun 1990 Sumber foto : Indiegangers.nl
Exs hotel smith atau sehati yang sudah berubah menjadi kantor wilayah Pajak  tahun 2009
Hotel yang termasuk berkelas di zamannya ini terletak di kawasan elite talang semut dimana kebanyakan warga Belanda yang tinggal di sini, dengan mengandalkan kenyamanan dan ketersediaan air panas dan dingin,. Banguan yang sudah ada sejak era tahun 1920-an ini termasuk hotel yang bagus dan disewa oleh perusahaan minyak BPM dan SHELL(sekarang PERTAMINA) untuk karyawan-karyawannya sebelum mereka mendapatkan rumah instansi di Plaju. Dulu karyawan dan keluarga BPM dan SHELL dan Untuk karyawan biasanya SVPM/STANVAC biasanya di tinggal di Hotel Buijs/Swarnadwipa) didekatnya.

Sama seperti hotel Buijs/ Hotel Swarna Dwipa yang sama-sama terletak di dekat kambang iwak besak yang saat itu era tahun 1956 atau 1957-an ada taman burung yang merupakan hiburan tersendiri bagi tamu hotel yang menginap.

Setelah era kemerdekaan dan nasionalisasi maka kepemilikan hotel ini beralih ke alm H.Bajumi Wahab yang cukup lama di kelola samapai dengan era tahun awal 2000-an, seiring waktu dan kalah bersaing dengan hotel-hotel lainnya maka bangunan bersejarah ini pun harus di robohkan dan di ganti dengan Kantor Wilayah Pajak Sumatera Bagian Selatan.


Banyak kisah yang muncul seiring beroperasinya hotel ini seperti yang di tuturkan oleh Bapak Utama Sonjaya .......... “sewaktu hotel ini masih pemiliknya alm waknda H Bajumi Wahab (alm)...kira-kira di tahun 64,65 dan 66...Saya sering tinggal disini (saya masih di SMPN 1 dan di SMA) bersama-sama kakak Rustam, kak Yusuf Arsyad, Asnil Latief (semua masih keluarga waknda Bajumi), dan disinilah aku kenal dan pernah kumpul rapat, saat masa menjadi aktivis GSNI dan GMNI dgn alm Bapak Taufiq Kimas dan kami semua pernah tidur berdesak2an di satu kamar”........

Sumber tulisan : Facebook Bpk. Rozali Ali Yasin dan beberapa sumber lainnya.

10 Januari 2017

Sejarah Hotel Swarna Dwipa

Hotel Swarna Dwipa Tahun 1990 Sumber foto : Indiegangers.nl

Hotel Swarna Dwipa Tahun 1990 Sumber foto : Indiegangers.nl

Tahun 2008

HOTEL SWARNA DWIPA

“Hotel Buijs” yang sekarang menjadi "Swarna Dwipa",  begitulah menyebut hotel yang terletak di Jalan Tasik yang berhadapan langsung dengan kambang iwak besak yang awalnya merupakan mess PT. Stanvac  dengan ciri khas baling-baling pesawat terbang yang kemungkinan maksudnya untuk tempat menginap para pilot penerbang stanvac.

Kebersihan dan kesehatan sanitasi hotel “de Boer” selalu di jaga seperti melakukan voging atau penyemprotan anti nyamuk di halaman hotel per 2 kali sehari.

Hotel ini juga dekat dengan hotel smith atau hotel sehati yang juga tidak jauh dengan zwembad /kolam renang “Garuda” yang ada di jalan hangtua, karena berhadapan dengan kambang iwak besak suasana asri dan udara yang segar dan saat sore menjelang,  tanah lapang di dekat kambang iwak menjadi tempat anak-anak bermain bola atau permainan lainnya.

Tidak sembarang orang saat itu untuk melaksanakan acara di hotel tersebut, orang-orang yang sudah di cap sebagai orang kaya yang bisa. Tahun 1950 an saat Nasionalisasi yang di canangkan oleh Bung Karno maka mess stanvac ini di ambil alih oleh pemda menjadi hotel swarna dwipa.

Sumber tulisan : Facebook Bpk. Rozali Ali Yasin dan beberapa sumber lainnya.

09 Januari 2017

Foto Pembangunan Kantor Ledeng/ Gedung Walikota Palembang tahun 1931



Foto-foto tahap pembangunan water torent ( kantor ledeng ) yang sekarang menjadi gedung kantor walikota Palembang pada era tahun 1931-an.

Sumber foto : Indiegangers.nl

08 Januari 2017

Ribuan Umat Islam Ikuti Tabligh Akbar Bersama Habib Rizieq di BKB

Ribuan umat Islam memadati BKB dalam acara rangkaian majelis maulid arbain dan tablig akbar oleh Habib Muhammad Riziq Bin Husein Syahab (7/1)
Palembang, Sumselupdate.com – Ribuan umat Islam di Sumsel,  mengikuti tabligh akbar Maulid arba’in di Benteng Kuto Besak Palembang (BKB), Sabtu (7/1) malam. Kedatangan Habib Rizieq Shihab yang merupakan imam besar FPI/Pembina GNPF MUI dan rombongan dari Jakarta sepertinya menjadi magnet bagi umat Islam di daerah ini untuk datang. Mereka pun tetap hikmat mengikuti acara meski diguyur rintik hujan.
Diketahui Habib Rizieq Shihab datang ke Palembang beserta M. Al Khaththoh (sekjen FUI sekaligus  Sekretaris GNPF MUI), KH Zaitun Rusmin (Wasekjen MUI/Wakil Ketua GNPF) dan KH M Husni Thamrin Pimpinan Ponpes Al Ihya Bogor/Pembina GNPF MUI).
Tetap bertahan walaupun hujan mengguyur kota Palembang malam itu
Saat rombongan Habib Rizieq memasuki lokasi kegiatan, jama’ah pun tak henti mengumandangkan takbir, “Allahu Akbar!” Mereka duduk dengan tertib, beralaskan koran untuk mendengarkan tausiah dari tokoh aksi bela Islam terkait kasus penistaan agama yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahja Purnama alias Ahok itu.
Dalam kesempatan tabligh akbar ini Habib Rizieq Shihab mengupas seputar spirit aksi bela Islam 212 yang bukan dimaksudkan untuk makar, tetapi untuk membela agama Islam yang telah dinistakan.
“Aksi bela Islam telah menjadi momentum agar umat Islam bersatu dan tidak terpecah-belah dalam menegakkan ajaran Allah”, tegas Habib Rizieq.
Habib Rizieq pun menngingatkan agar para ulama terus bersatu dengan umat untuk menegakkan kemaslahatan atau kebaikan di negeri ini.  (shn)

07 Januari 2017

Kawasan pasar 10 Ulu Palembang


Salah satu kawasan pasar di kota ini sudah tampak tertib, tidak terlihat lagi pedagan kaki 5 yang memenuhi sisi kiri dan kanan jalan pasar ini sehingga tidak jarang menyebabkan kemacetan di kawasan ini dari tahun 2015 kawasan ini terus berbenah dari kebersihan sungai, membongkar bangunan-bangunan liar, ataupun membongkar lapak pedagang yang tidak pada tempatnya. Setiap hari petugas Pol PP  bersiaga di sini biar para PKL tidak kembali berdagang di bahu jalan kembali.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
PASAR 10 ULU: Petugas Sat Pol PP Palembang lakukan penertiban pedagang kaki lima di Pasar 9-10 Ulu karena jualan di pinggir jalan, Senin (21/16). Foto/ Denyy
PASAR 10 ULU: Petugas Sat Pol PP Palembang lakukan penertiban pedagang kaki lima di Pasar 9-10 Ulu karena jualan di pinggir jalan, Senin (21/16). Foto/ Denyy

Palembang- Pedagang kali lima (PKL) di kawasan Pasar 9-10 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu (SU) I Palembang kembali ditertibkan oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Sat Pol PP) Kota Palembang, Senin (21/11) sekitar pukul 10.00.

Berdasarkan pantauan Koran Kito di lapangan, sejumlah PKL yang menempati badan Jalan KH Azhari Kecamatan SU I Palembang, dilakukan pembubaran. Tampak, pedagang dengan sigap membereskan dagangannya yang sudah terlanjur digelar.

Sejumlah terpal yang dipasang pedagang, dilepaskan secara paksa oleh petugas. Selain itu, lapak yang tak berpenghuni langsung dibawa petugas Satpol PP ke dalam truk dan diamankan di Kantor Pol PP Kota Palembang, Jalan Gub HA Bastari Palembang.

Kasat Pol PP Kota Palembang Alex Fernandus mengimbau kepada masyarakat agar tidak lagi berjualan di badan jalan. Lantaran, hal tersebut dapat memicu kemacetan serta terlihat semerawut Pasar 9-10 Ulu, apalagi Kota Palembang akan menjadi tuan rumah Asian Games 2018.

“Kegiatan ini akan kita lakukan secara rutin setiap harinya. Banyak keluhan dan laporan masyarakat yang mengatakan banyak pedagang yang tidak berjualan pada tempatnya, makanya kita lakukan penertiban,” ucapnya saat ditemui di lokasi.

Ia juga meminta kepada pedagang-pedagang di Pasar 9-10 Ulu, untuk kompak berdagang di dalam kios-kios pasar yang sudah disediakan oleh Pemerintah Kota Palembang. “Jangan berebut mau berjualan di luar, sepinya pembeli di dalam pasar ini, karena ulah pedagang itu sendiri,” terangnya.

Kedepannya, jika pedagang tetap ngototl berjualan di badan jalan dan tempat-tempat terlarang akan dikenakan tindak pidana ringan (tipiring) serta barang dagangannya akan disita, lantaran melanggar Perda Kota Palembang Nomor 13 Tahun 2007.

Sementara itu, salah satu pedagang Adi mengatakan, ia nekat berjualan di wilayah tersebut, karena sepinya pembeli jika berjualan di dalam pasar. “Sepi pembeli jika di sana, makanya kami berjualan disini. Iya, tau pak kalau dilarang,” tutupnya.(korankito.com/Denny).

06 Januari 2017

Khidmatnya Berdzikir di Rumah Dinas Walikota - Peringatan Maulid Nabi SAW Pemerintah Kota Palembang

Rangkaian Majelis Maulid Arbain tahun 1438 H malam ke-35 yang di selenggarakan di rumah dinas walikota Palembang Jl. Tasik Palembang
Palembang—Memakai baju putih masyarakat berbondong-bondong datang ke rumah dinas Walikota Palembang mengikuti Dzikir Akbar bersama Walikota Harnojoyo di Jl Tasik Kambang Iwak Palembang, Rabu (4/1). Turut hadir Sekretaris Daerah Kota Harobin Mustofa dan Satuan Kerja Perangkat Daerah Kota.
Sambutan dari Walikota Palembang 
Rangkaian Dzikir tersebut dimulai pukul 20.00 WIB yang dipimpin Habib Mahdi Bin Sihab. Duduk rapi beralaskan karpet, ratusan warga begitu khidmat dan khusyu’ melantunkan dzikir hingga usai.
Walikota Palembang Harnojoyo mengatakan kegiatan majelis maulid arbain selama 20 tahun ini adalah kali pertama dilaksanakan di rumah dinas. Oleh sebabnya pihaknya menyambut baik penyelenggaraan ini.
Dalam sambutan, Harnojoyo menjelaskan berbagai program unggulan Pemkot Palembang, mulai dari gotong royong setiap hari Minggu pagi dan safari subuh ke masjid di Palembang.
“Ini adalah program Islami kami menuju Palembang madani, ini akan terus kami lakukan,” ujar dia.
Tausiyah disampaikan oleh Al Habib Umar bin Alwi Aseggaf
Banyaknya jumlah warga yang ikut berdzikir memaksa sejumlah warga lainnya harus berdiri  lantaran persediaan tempat duduk yang disediakan tak cukup.
“Terima kasih pada masyarakat yang hadir begitu ramai, mudah-mudahan akan jadi amal ibadah, semoga ditahun depan masyarakat yang hadir dalam peringatan maulid ini lebih banyak lagi, karena merupakan momentum dalam menjadikan Palembang madani,”pungkasnya.(*) sumber tulisan : http://palembangemas.id/

05 Januari 2017

Gubernur Sumatera Selatan dari Masa ke Masa

Gubernur Sumatera Selatan dari masa ke masa

Mereka yang Pernah Menakhodai Sumatera Selatan

Sampai tahun 2008, sebanyak 13 tokoh telah memimpin Sumatera Selatan. Setiap pemimpin punya catatan perjalanan tersendiri sesuai dengan zaman mereka.

Masa pemerintahan peralihan dari penjajahan Jepang ke masa kemerdekaan Republik Indonesia ditandai oleh pengangkatan Adnan Kapau Gani—yang sering disingkat AK Gani—sebagai Residen Palembang pada 24 Agustus 1945. Pengangkatan tokoh yang terlibat pergerakan kemerdekaan itu dilakukan Menteri Negara M Amin dan Gubernur Provinsi Sumatera Mr Teuku Mohd Hassan.
Setelah pengangkatan ini, Gani dipercaya pemerintah pusat menjadi gubernur muda untuk Sumsel. Sebagai gubernur militer, AK Gani mendapatkan wilayah kerja Sumatera Selatan, Bengkulu, Jambi, dan Lampung.
Sebagai pemegang tongkat kepemimpinan, AK Gani menjalin hubungan dagang antara Palembang dan Singapura, bahkan dengan penyelundup senjata api.
Pada 1945 Gani dipercaya menjadi koordinator pertahanan untuk wilayah Sumatera. Pada tahun yang sama, Tentara Keamanan Rakyat terbentuk di Palembang. Setahun berikutnya Angkatan Laut RI dan Angkatan Udara RI. Pada Februari 1946 Palembang memiliki sekolah kader untuk calon perwira.
AK Gani yang memiliki latar belakang sebagai seorang dokter dan berpengalaman sebagai seorang aktor rupanya juga mempunyai keterampilan berdiplomasi. Kemampuan inilah yang mampu meredam aneka insiden yang hampir meletus di Sumsel. Faktor keamanan yang kuat juga turut mengambil peran dalam perkembangan ekonomi Sumsel.
Perekonomian di Sumsel tahun 1946 lebih baik dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia. Pada akhir 1946 Palembang menjadi kota bandar yang ramai dikunjungi dengan pemasukan Rp 1 juta-Rp 2 juta per hari dari kegiatan pelabuhan.
AK Gani diberhentikan dengan hormat dari jabatannya mulai 1 Januari 1950 seiring dengan lahirnya keputusan hasil Konferensi Meja Bundar yang menyelesaikan konflik Republik Indonesia dan Belanda. AK Gani juga menerima kalung emas 24 karat dari masyarakat Sumatera dan mendapatkan julukan ”Pemimpin Gerilya Agung”.
Penghentian jabatan Gani itu sekaligus mengangkat kembali drg M Isa sebagai Gubernur Sumatera Selatan. Sebelumnya, M Isa diserahi tanggung jawab sebagai Residen Sumsel menggantikan Gani, November 1946.
Pada awal kepemimpinan AK Gani, M Isa sudah jadi tokoh terkemuka di pemerintah Palembang. Bersama AK Gani yang menjabat sebagai Gubernur Militer Istimewa Sumsel dan sejumlah petinggi di Sumsel, Gubernur Muda Sumsel M Isa ikut serta dalam perundingan Indonesia-Belanda yang membahas penghentian tembak-menembak, 24 Agustus 1949.
Masa kepemimpinan M Isa juga melewati perjuangan. Kondisi negara pada waktu itu belum stabil karena Belanda masih ”mengganggu” kemerdekaan Indonesia. Kekacauan di Indonesia, termasuk di Sumsel, membuat kepemimpinannya penting dalam kerangka perjuangan.
Sejumlah tokoh merasakan besarnya semangat perjuangan M Isa, seperti yang dituturkan tokoh Tionghoa, Tong Djoe. Pada masa perjuangan itu, masyarakat dari pelbagai kelompok etnis ikut berjuang, termasuk masyarakat Tionghoa lewat berbagai organisasi, seperti Persatuan Kaum Tani Tionghoa. M Isa mengakhiri kepemimpinannya pada tahun 1952.
Winarno memimpin Sumsel pada tahun 1952-1957. Sayangnya, tidak banyak catatan tentang sosok Winarno. Winarno digantikan HM Husein yang menjabat pada 1957-1958. Pada saat yang sama Muchtar Prabu Mangkunegara menjabat Kepala Daerah Sumsel pada 1957-1958. Saat itu muncul wacana penyatuan pimpinan daerah otonom dan pemerintahan umum di tangan satu gubernur kepala daerah.
Tahun 1959 HA Bastari terpilih menjadi Gubernur Kepala Daerah Sumsel lewat sidang pleno DPRD. Dalam masa kepemimpinannya, Bastari banyak menata dan mendisiplinkan pegawainya. Sejumlah mantan pejuang juga menginginkan jabatan di dalam pemerintahan. Urusan inilah yang diatur oleh Bastari.
Selain itu, ia merencanakan penghapusan keresidenan dan kewedanaan. Pembangunan Jembatan Ampera juga dimulai pada masa Bastari, tahun 1962, dan selesai pada kepemimpinan gubernur berikutnya, tahun 1966.
Kepemimpinan Bastari berakhir pada 1963. Masa peralihan kepemimpinan Sumsel dipimpin oleh Sorimuda. Namun, ia tidak lama menjadi caretaker karena Menteri Dalam Negeri menunjuk Pembantu Utama Mendagri Bidang Pelaksanaan Brigadir Jenderal HA Abuyasid Bustomi sebagai penjabat gubernur.
Abuyasid menjabat tahun 1964-1967. Masa jabatan itu cukup singkat karena tahun 1967 Abuyasid ditarik ke Jakarta. Ia digantikan Ali Amin tahun 1967. Nama Ali Amin sebenarnya sudah pernah disebut-sebut ketika pemilihan calon gubernur pada tahun 1964. Dalam pemilihan kali itu, Ali Amin akhirnya menjadi Wakil Gubernur Sumsel.
Ali Amin pernah menjabat Local Joint Committee pada 1949 yang antara lain bertugas mengurusi penghentian tembak-menembak antara pejuang Indonesia dan tentara Belanda. Ali Amin pernah ditangkap Belanda sewaktu mengenakan emblem Merah Putih di pundak baju dalam perayaan ulang tahun negara Sumatera Selatan.
Sebagai gubernur, Ali Amin mendapatkan tugas yang berat karena harus menata daerah pascakerusuhan tahun 1966. Sejumlah kesatuan aksi, seperti KAMI, KAPPI, dan KAGI, masih aktif beraktivitas melanjutkan Tiga Tuntutan Rakyat atau Tritura, 10 Januari 1966. Ali Amin menyelesaikan masa tugas sebagai gubernur pada 1968.
Asnawi Mangku Alam dari Kodam dipilih sebagai gubernur dan dilantik pada 10 Januari 1968. Putra Ulak Baru, Tepi Sungai Komering, ini menjalani sekolah rakyat sampai sekolah dagang menengah pada zaman penjajahan Belanda. Berlanjut semasa pemerintahan Jepang, yakni sekolah dokter hewan dan sekolah pegawai tinggi.
Asnawi kemudian menempuh karier militer dengan bergabung dalam Tentara Republik Indonesia, pertama dengan pangkat kapten. Asnawi ikut membantu Perang Kota. Jabatannya ketika itu adalah kepala intendans berpangkat letnan satu. Pangkat ini lebih rendah daripada pangkat awal kariernya karena ada penyesuaian gelar kepangkatan.
Pada awal kemerdekaan, Asnawi aktif di Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia. Pada akhir karier militernya, Asnawi berhasil meraih pangkat brigadir jenderal purnawirawan.
Seusai di militer, Asnawi diangkat menjadi Gubernur Sumatera Selatan. Pada Januari 1968 Asnawi dilantik menjadi gubernur oleh Mendagri Basuki Rachmat. Jabatan gubernur dipegangnya selama dua kali masa pemerintahan, tahun 1968-1978.
Pertanian dikembangkan
”Destiny is yours,” tutur pria kelahiran 27 April 1921 saat ditanya tentang nasib yang membawa seorang putra petani menjadi gubernur. Kekayaan hasil perkebunan Sumsel semakin dikembangkan pada zaman Asnawi. Pada Agustus 1968 tercatat luas perkebunan yang digarap di Sumsel mencapai 500.000 hektar. Asnawi juga membuka perkebunan tebu 18.000 hektar.
Asnawi menyerahkan jabatan Kepala Daerah Sumsel kepada HA Sainan Sagiman. Sainan diangkat sebagai gubernur lewat surat keputusan presiden tanggal 16 Agustus 1978. Sainan menjabat gubernur selama 10 tahun hingga 1988. Ketika dilantik, Sainan berpangkat brigadir jenderal purnawirawan.
Sebelum menjadi gubernur, Sainan juga pernah ikut dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Dalam Perang Kota, Sainan menjabat sebagai perwira intel. Terakhir, ia bertugas di Kertapati.
Sainan termasuk sosok yang memerhatikan pendidikan. Dalam tahun anggaran 1979/1980, Sainan menaikkan bantuan kepada Universitas Sriwijaya (Unsri) sebesar 10 kali lipat dibandingkan dengan anggaran yang diterima Unsri sebelumnya.
Ia juga menganggarkan Rp 4 miliar untuk sektor pertanian pada 1980. Kemudian, Sumsel menjadi penyelenggara Festival Film Indonesia, Mei 1979.
Pada Juni 1987 Sainan bersama Dirut Pertamina AR Ramly meresmikan operasi komersial Lapangan Minyak Musi di Kabupaten Musi Rawas. Selain menghasilkan minyak, lapangan ini juga menghasilkan 36,5 juta kaki kubik gas alam.
Pada Januari 1988, sembilan pabrik karet bongkah kesulitan mendapatkan bahan baku. Pada tahun yang sama, Sumsel mulai menutup diri sebagai lokasi transmigrasi umum.
Sainan mengakhiri masa jabatan pada September 1988, diganti oleh Brigadir Jenderal H Ramli Hasan Basri. Ramli yang dicalonkan oleh DPP Golkar dilantik sebagai gubernur oleh Mendagri Rudini. Sektor pertanian didorong untuk berkembang pada masa pemerintahannya.
Sumsel mulai ditargetkan menjadi lumbung pangan nasional sejak tahun 1990. Presiden Soeharto menggelar panen raya di Kabupaten Ogan Komering Ulu. Namun, bencana kekurangan pangan juga pernah dialami warga Air Sugihan, Ogan Komering Ilir, akhir tahun 1991.
Untuk mendukung prestasi olahraga, Ramli membagikan bonus Rp 30 juta untuk atlet peraih medali dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) XII. Ia juga menyediakan dana Rp 1,5 miliar untuk pembinaan olahraga tahun 1990.
Tanjung Api-api
Ide pembangunan Pelabuhan Tanjung Api-api muncul dalam masa pemerintahan Ramli pada tahun 1991. Ramli juga dikenal sebagian kalangan sebagai gubernur yang peduli terhadap persoalan sejarah dan kebudayaan. Bagi pengamat sejarah, ia termasuk orang yang sangat perhatian pada Kerajaan Sriwijaya. Kepedulian ini sangat berarti karena jarang pemimpin daerah yang memerhatikan sejarah.
Ramli mengakhiri jabatan pada 1998. DPRD Sumsel memastikan Kepala Staf Komando Armada RI Kawasan Barat Laksamana Pertama TNI Rosihan Arsyad sebagai pengganti Ramli. Pria kelahiran Bengkulu, 29 Juli 1949, yang juga dikenal sebagai penerbang di TNI AL, itu dilantik menjadi gubernur periode 1998-2003 setelah mengantongi 26 dari 45 suara DPRD Sumsel.
Rosihan menganggarkan Rp 3,9 miliar untuk pembinaan petani karet. Pemekaran daerah juga marak terjadi pada masa pemerintahannya. Perhatian pada transportasi juga jadi prioritas Rosihan. Dalam APBD 2001 anggaran sektor transportasi mencapai Rp 112 miliar dari total anggaran Rp 605,5 miliar. Perbaikan jalan diutamakan untuk lintas Sumatera.
Namun, pos anggaran sektor aparatur pemerintah dan pengawasan juga cukup besar, yakni Rp 29 miliar. Dana itu lebih besar daripada anggaran sektor kesehatan, peranan wanita, serta anak dan remaja Rp 20 miliar.
Pada masa pemerintahannya, ia merintis persiapan Sumsel sebagai tuan rumah PON XVI. Salah satunya dengan menyelenggarakan Kejurnas Sepatu Roda pada Juli 2002.
Sejumlah sarana dan prasarana umum juga gencar dibangun saat itu, seperti pembangunan mal, hotel, dan pusat perniagaan. Pembangunan proyek yang pernah ditentang banyak pihak, disebut Rosihan, sebagai upaya peningkatan ekonomi. Terbukti, salah satu dampak positif pembangunan tersebut adalah munculnya aneka pembangkit listrik yang menyuplai listrik ke jaringan Sumatera bagian selatan.
Jabatan Rosihan berakhir pada 12 September 2003 setelah kalah dalam perolehan suara di DPRD Sumsel. Tongkat kepemimpinan berikutnya dilanjutkan pasangan Syahrial Oesman-Mahyuddin.
Pada masa Syahrial, Sumsel dideklarasikan menjadi daerah lumbung energi nasional. Syahrial juga meluncurkan program pariwisata Visit Musi 2008 yang ditiru daerah lain. Pada sisa masa jabatan, Syahrial wajib mundur untuk mengikuti Pilkada. Dia harus bertarung dengan lawannya, Bupati Musi Banyuasin, Alex Noerdin untuk menjadi gubernur ke-14. (AGNES RITA SULISTYAWATY) sumber tulisan : http://nasional.kompas.com/
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...