CANTUMKAN SUMBERNYA JIKA MENGGUNAKAN GAMBAR ATAU ARTIKEL DARI BLOG INI - HORMATI HAK CIPTA ORANG LAIN.

24 November 2016

Tradisi khitanan Palembang yang sudah mulai di tinggalkan

Gambar terkait
Ilustrasi Sunat Foto : http://www.kompasiana.com/

Sehari atau dua hari sesudah itu, biasanya hari Selasa, anak itu disunat oleh seorang yang sudah biasa mengerjakan pekerjaan itu (dukun/manteri) yang sudah dipesan empat atau lima hari sebelumnya.

Pada hari anak disunat itu dari pukul 4 pajar anak itu direndam tubuhnya (dari pinggang) kebawa) dalam pasu/paso (tempayan) yang berisi air bercampur tanah liat, supaya jangan terlampau banyak mengeluarkan darah. Sedangkan orang-orang dirumah itu tidak diatur sepanjang malam (begadang), berjaga-jaga sambil bercerita-cerita supaya jangan mengantuk.

Pukul lima pagi anak itu disuruh berendam di sungai dan orang pergi memanggil tukang sunat. Kalau rumahnya jauh dijemput dengan perahu. Waktu tukang sunat tersebut datang, anak itu dibawa naik, llau disunat. Biasanya anak itu disuruh duduk di atas bokor (baskom). Setelah semuanya rampung, tukang sunat pulang. Ia diantar dengan perahu pula serta diberi 1 bokor beras, 1 kelapa, uang, dan ayam satu ekor.

Anak yang telah disunat itu didudukan pada sebuah kasur bersandar pada beberapa bantal yang berhiasan “tumpangan” selama anak itu sakit. Pagi itu juga diadakan sedekah, kadang-kadang dengan memotong kambing.

Beberapa malam diadakan keramaian menurut kemampuan orang tuanya. Kalau ia mampu (kaya), diadakanlah wayang atau permainan/hiburan yang lain. Kalau orang itu kurang mampu, cukup dengan berkumpul-kumpul dan bercerita supaya jangan mengantuk, sebab mereka berjaga-jaga

.
Sementara itu banyaklah sanak saudara dan sahabat kenalannya datang melihat (tilik) serta membawa kain, yang biasa disebut “pesalin”. Hal ini sangat membantu sekali, karena yang disunat itu biasanya belum sembuh dalam 8 hari walaupun sembari diberi obat. 

sumber :Sripo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...