CANTUMKAN SUMBERNYA JIKA MENGGUNAKAN GAMBAR ATAU ARTIKEL DARI BLOG INI - HORMATI HAK CIPTA ORANG LAIN.

22 November 2016

H. Abdul Rozak (HAR)

Haji Abdul Rozak (HAR) Foto : Google
Siapa yang tidak kenal dengan Martabak HAR, salah satu makanan khas di kota Palembang perpaduan dengan martabak telor di tambah dengan kuah kari kental dan di tambah lagi dengan irisan cabe yang dicampur dengan kecap sebagai penyedap.

Tetapi siapakah HAR itu sendiri yang sering terpampang fotonya di dalam warung, Berdiri sejak tanggal 7 Juli 1947 toko martabak har yang pertama kali di Jl, Jendral Sudirman di dekat masjid Agung dan air mancur ini dulunya didirikan oleh Haji Abdul Rozak (seorang pedagang keturunan India yang kemudian menikah dengan perempuan asli Palembang) untuk resep martabak HAR sendiri pertama kali diciptakan dan diracik oleh saudaranya sendiri yaitu Haji Abdul Rahman. Keduanya sama-sama memiliki inisial HAR. Haji Abdul Rozak sendiri sudah wafat sejak tahun 2001 silam. 

Syahdan, Haji Abdul Rozak lahir di Kampung Chu Kunu, Madras, India, pada 1903. Pada usia 22 tahun, ia merantau ke Singapura. Tiga tahun kemudian, HAR meneruskan nasibnya ke Palembang. Di sini dia ber- dagang es dan rokok dengan gerobak dorong. Kejujuran dan ketekunan- nya menarik perhatian Haji Asaari, mertua mantan Panglima Daerah Militer Sriwijaya, Bambang Utoyo.

HAR dijadikan anak angkat. Nasibnya makin baik ketika ia menikah dengan Nayu Husnah, anak perempuan H. Ahmad, wiraswastawan kaya di Palembang. Tapi, HAR tak ingin bergantung di kocek mertua. Dengan modal sekadarnya, dia membuka toko kain. Karena tak kunjung maju, pada 1947 HAR membuka warung martabak, penganan khas kampungnya dulu.

Untuk modal usaha, dia menjual sepeda Fongers kesayangannya, seharga lima ringgit. Orang Palembang kemudian menjulukinya "martabak Elite", karena dijual di dekat Bioskop Elite. Usaha ini makin maju setelah Abdurrahman, adik kandung HAR, datang dari Madras untuk ikut membantu. Tiga tahun berdagang martabak, HAR melakukan "diver- sifikasi".

Dia memasok barang-barang kebutuhan Pertamina dan PT Pupuk Sriwijaya. Lancar. Namun, HAR tak melupakan masa kecilnya yang repot. Keuntungan menjual martabak dia bagikan kepada fakir miskin di Palembang. Pada bulan Ramadhan, dia menyantuni ribuan kaum duafa di rumah limasnya di Jalan Jenderal Sudirman. Setiap tamu disuguhi sebungkus nasi dan uang tunai Rp 5.000. Di luar bulan puasa, kesibukan serupa berlangsung tiap Jumat.

Sekarang tokonya sudah menyebar sampai ke setiap jalan utama di kota ini salah satu penyebabnya adalah mereka dulu adalah pegawai martabak HAR ini sehingga lama kelamaan mereka membuka sendiri warung martabak HAR juga, tidak hanya sebatas Palembang saja di Jakarta beberapa tempat sudah menjual Martabak yang mengusung “Trade Mark” HAR ini. 

Sumber : http://arsip.gatra.com/
               dan beberapa rangkuman informasi lainnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...