CANTUMKAN SUMBERNYA JIKA MENGGUNAKAN GAMBAR ATAU ARTIKEL DARI BLOG INI - HORMATI HAK CIPTA ORANG LAIN.

17 Juni 2015

Melacak Musik Asli Palembang

Senin, 13 April 2015


Group musik tempo dulu di Palembang sumber : andi.s.kemas


Ada suatu pertanyaan yang mengusik benak saya, adakah “musik asli bagi wong kito Palembang” soalnya istilah musik asli ditelinga wong Palembang nyaris tak terdengar.  Padahal daerah lain ada musik yang disebut kolintang daerah Menado, Musik atau alat nyanyian bagi masyarakat Flores disebut “sasando”,  masyarakat Bandung Jawa Barat mempunyai  alat musik yang disebut “angklung”  dll.  Di Kota Palembang nyaris tak terdengar atau populer soal seni musik  dan nyanyian ini.  Ada apakah gerangan sehingga bisa disebut “palembang tidak mempunyai musik” atau yang sering dalam olokan disebut “Palembang buntung”  buntung disegala bidang. Oleh karena penasaran maka inilah yang menyebabkan penulis melacak atau mencari jejak musik tertua didaerah ini.

Mulailah saya berkelana mencari jawabnya, mulai dari tokoh mantan pejabat hingga siapa saja yang bisa saya ajak berdikusi mengenai keberadaan musik  Palembang asli ini. Sebut saja mantan  walikota dan gubernur pertama Bengkulu,  RHM Ali Amin, SH  tidak saja ia sebagai tokoh masyarakat Sumsel  tetapi  bagi saya beliau  adalah sesepuh  masyarakat wong Palembang terutama keluarga besar saya yang berasal  dari daerah 2 Ulu Perigi Besak.  Kalau tidak salah pertemuan saya dirumah kediamannya Talang Semut, beberapa tahun lalu menyebutkan bahwa kota Palembang ini, tidak ada seni musik atau nyanyian begitupun dengan jenis  tarian.  Alasannya bahwa kota Palembang adalah mantan daerah Kesultanan Palembang Darussalam yang sudah tentu bernuansa Islami. Budaya Islam jelas tidak memperbolekan jenis musik atau tari-tarian, yang dihindarinya adalah mempertontonkan aurat terutama kaum wanitanya, jelasnya (wawancara, 1992).

Saya merasa tidak puas dengan jawaban bpk RHM Ali Amin,SH, saya pun mencari tokoh masyarakat lainnya yaitu tokoh budaya bpk RM Husin Natodirajo dan Djohan Hanafiah, jawabannya hampir sama dengan RHM Ali Amin,SH.  Saya mulai linglung dan putus asa mencari akar sejarah musik di Kota Palembang ini.  Secara kebetulan tahun 1992 itu juga saya  menonton pertunjukan Wayang Palembang di acara TVRI Palembang, kalau tidak salah dalam rangka acara “Cakrawala Budaya Nusantara” pak dalangnya adalah HA Syukri Ahkab yang menariknya iringan musik Wayang Palembang sepertinya adalah musik khas asli Palembang, ketika saya tanya jawabnya adalah ini jenis musik kromongan. Begitupun saya melihat pertunjukan pencak asli Palembang juga memakai iringan musik yang disebut “kromongan pencak”.  Jadi disini bisa disimpulkan bahwa ada dua musik kromongan yaitu “kromongan wayang” dan “kromongan pencak” yang dalam istilah lainnya disebut “seni betanggem”.  Musik kromongan ini terdiri dari canang (gong kecil), laron, gendang  dan rebab. Jawabanya bpk HA Sukri Ahkab inilah yang menjadi dasar saya kalau Palembang juga mempunyai musik asli yaitu kromongan. Apalagi RRI Palembang juga memberitakan bahwa musik asli Palembang itu tidak berbeda dengan musik Lampung yang disebut Gamelan.

Sampai saat ini saya terus mencari dan melacak akan keberadaan musik asli Palembang ini, apakah ia berbentuk Gending, Kromongan atau apa yang jelas kita harus didefenisikan yaitu dengan melakukan suatu proyek penelitian.  Wancik AN.BE dan bpk Kiagus Ujang Kailani mengotot keras bahwa musik asli Palembang itu adalah “Ronggeng Melayu” yang banyak didasari dari musik irama Semenanjung (kini Malaysia).  Kiagus Ujang Kailani adalah pimpinan orkes jidur (drumband) yang ia beri nama kelompok musik blas (musik sebelas yang terdiri dari sebelas orang dan sebelas alat musiknya) ia mulai beraktifitas musik menurutnya sudah lama sekali, dari kecil sudah ikut orang tuanya yang jenis musiknya adalah “Ronggeng Melayu” itu tediri dari alat musik seperti biola, gendang, seruling, gong kecil/canang  dan piano gendong.

Perkembangan  Musik  Palembang dari  Masa ke Masa
Menurut kronologis sejarah kota Palembang, yang terdiri dari zaman Sriwijaya, Kesultanan, penjajahan Belanda (pengaruh eropa) hingga masa kemerdekaan. Saya kira perkembangan musik dan jenis musik dikota Palembang ini sangat dipengaruhi “situasi zaman” yang melingkupinya. Sebut saja dimasa Sriwijaya  saya kira banyak dipengaruhi oleh unsur musik  India, Cina dan musik lokal. Nuansa musiknya mungkin sekali banyak dipengaruhi unsur agama Budha yang ketika itu adalah agama resmi Kerajaan Sriwijaya.  Pada masa Kesultanan Palembang, yang sudah tentu banyak pengaruh/unsur budaya  Islam dan Arab, jadi nuansa musik dan jenis musik pun bernuansa keislaman dan kearab-araban, contoh musiknya mungkin gambus, terbangan syarofalanam, kasidahan dll.  Group gambus yang terkenal sekitar tahun 1950-an adalah group musik gambus “Sri Palembang” pimpinan Wak Neng.

Pada masa penjajahan Belanda, mulai diperngaruhi unsur musik eropa yang kata orang ketika itu adalah musik modren/baru. Seperti kroncongan adalah musik dari kebudayaan Portugis, yang berkembang dari Batavia (daerah tugu) kemudian menyebar ke seluruh Nusantara.  Musik Tonil adalah jenis musik yang sangat populer di awal abad ke-20, unsur musiknya adalah jazz dan dansa salsa.  Di kota Palembang ini sendiri sempat “trend” jenis musik ini dan sempat membangun gedung tonil (saat ini adalah kantor Dispenda kota Palembang Jl.Merdeka) dengan group musiknya yang terkenal “Bintang Berlian” pimpinan Haji Gong. Selain itu juga ada musik jidur (drumband) yang diambil dari unsur musik meliter, yaitu korp musik meliter Belanda.

Sampailah dimasa penjajahan Jepang, perkembangan musik Palembang cukup dinamis, yang ketika itu adalah group musik pimpinan Ahmad Dahlan Muhibat berhasil menciptakan sebuah lagu yaitu “Gending Sriwijaya” saya kira tokoh sentral musik Palembang ketika itu (tahun 1943-1945) adalah Ahmad Dahlan Muhibat, selain ia seorang komponis juga ia adalahg seorang Biolis yang handal. Ditahun 1950-an saya kira jenis musiknya adalah pengaruh unsur musik Semenanjung/Melayu pop dengan tokoh terkenalnya adalah almarhum P.Ramlee.  Sejak tahun 1950-an kesadaran seniman daerah ini menciptakan dan mempopulerkan lagu-lagu bernuansa daerah seperti Kebile-bile, Dirut, Cup Mailang dll dengan group band yang terkenal seperi Arulan yang sempat membuat pringan hitam di Jakarta.

Tahun 1960-an, tidak hanya mempopulerkan lagu daerah disini timbul group musik melayu yang disebut irama candrabuana, dipopulerkan oleh stasion radio amatir Candrabuana  alamat 14 Ilir Palembang.  Radio Republik  Indonesia (RRI) Stasiun Palembang mempopulerkan group musik yang disebut “Orkes Studio RRI” pimpinan Haji Mahmudin dengan penyanyinya yang terkenal Masnun Toha.  Perkembangan  musik Palembang saya kita cukup dinamis dan mengafresiasikan zamannya, tahun 1970-an berdiri group musik Golden Wing yang penyanyi/vokalisnya adalah Carel Simon, terkenal karena membawakan lagu” Mutiara Palembang”.  Disini juga didukung bermunculan studio rekaman sepeti Palapa Record, yang menghasilkan banyak penyanyi  lagu daerah seperti Sahilin, yang terkenal dengan lagu irama Batanghari Sembilannya.  Mudah-mudahan tulisan ini  bermanfaat. Sumber : http://iriziki03.blogspot.co.id/












14 Juni 2015

Ziarah Kubro 2015 / 1437 H



Tentang Ziarah Kubra di Palembang

------------ --------- --------- --------- --------- --------- -------
Tiap tahun menjelang Bulan Suci Ramadhan, Kota Palembang dibanjiri ulama, habaib dan kyai dari penjuru tanah air dan luar negeri yang menyempatkan diri menghadiri Haul dan Ziarah Kubra Ulama dan Auliya Palembang Darussalam.

Suasana berbeda seringkali terjadi pada hari-hari terakhir Bulan Sya’ban. Hari-hari tersebut dimanfaatkan oleh kaum muslimin untuk berziarah, baik menziarahi makam anggota keluarga yang telah mendahului, maupun ke makam ulama dan para wali Allah. Suasana tersebut juga dirasakan di Kota Palembang, terlebih dengan digelarnya Ziarah Kubra Ulama dan Auliya Palembang Darussalam yang biasanya diadakan seminggu menjelang masuknya Bulan Ramadhan.

Di kota ini juga akan digelar Haul seorang Waliyullah besar yang menjadi penghulu sebagian nasab keturunan Alawiyyin. Beliau adalah Al-Faqihil Muqaddam Tsani Al-Habib Abdurrahman As-Seggaf bin Muhammad Maula Ad-Dawilaih R.A. yang merupakan salah seorang tokoh para wali dan ulama dari Ahlil Bait Alawiyyin. Beliau wafat dan dimakamkan di pemakaman Zanbal di kota Tarim (Hadramaut – Yaman) pada tahun 819 H.

Acara Ziarah Kubra merupakan salah satu tradisi turun temurun, terutama bagi kaum alawiyyin yang bermukim di Kota Palembang maupun masyarakat pencinta ulama dan wali-wali Allah. Acara ini juga melibatkan keluarga Kesultanan Palembang Darussalam mengingat eratnya hubungan kekeluargaan kaum alawiyyin dengan para sultan di Kesultanan Palembang Darussalam.

Sebagai acara pertama dari rangkaian ziarah kubra ini adalah Haul Al-‘Arif Billah Al-Habib Abdullah bin Idrus Shahab dan Al-‘Arif Billah Al-Habib Abdurrahman bin Hamid. Al-Habib Abdullah bin Idrus merupakan salah satu tokoh kebanggaan masya-rakat Palembang, semasa hidupnya ia mempunyai kedudukan yang tinggi disebabkan ilmu dan akhlaknya yang mulia, itu terjadi dimanapun ia berada, bahkan di Hadhramaut sendiri pun ia mendapatkan penghormatan yang lebih dari para habib disana.

Didalam kitab Tuhfatu Al-Ahbab fi Manaqib Al-Habib Alwi bin Abdullah bin Idrus bin Shahab disebutkan bahwa setiap kali Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi, Seiwun datang ke kota Tarim, beliau selalu berusaha untuk memuliakan dan mengutamakan Habib Abdullah untuk menjadi imam shalat baik di majlis-majlis umum maupun khusus. Beliau berkata “Aku melihat semua hati manusia mencintainya dan tidak ada satupun yang memusuhinya”. Habib Abdullah bin Idrus adalah ayah dari Habib Alwi Qolbu Tarim, Hadramaut. Makamnya yang terletak di Gubah Duku yang merupakan tanah wakaf Habib Syech bin Ahmad bin Shahab ini sering diziarahi oleh masyarakat baik dari dalam maupun luar kota Palembang, bahkan tamu-tamu dari Pulau Jawa dan Hadramaut.

Sedangkan Al-Habib Abdurrahman bin Ahmad Al-Bin Hamid merupakan seorang habib yang mulia, ia banyak menimba ilmu pengetahuan dari para habib baik di Palembang maupun dari Hadramaut, diantaranya Habib Abdullah bin Idrus bin Shahab. Adapun tokoh habaib yang banyak menimba ilmu pengetahuan darinya antara lain putranya sendiri Habib Ahmad, Habib Ahmad bin Zein bin Shahab dan Habib Muhammad bin Hamid bin Syech Abubakar.

Acara yang diadakan di perkampungan Alawiyyin Sungai Bayas Kelurahan Kuto Batu Palembang ini selain dihadiri oleh para ustadz dan sesepuh habaib kota Palembang, juga dimeriahkan dengan kedatangan beberapa ulama dan habaib dari luar kota Palembang bahkan dari luar negeri, seperti dari Kota Mekkah, Madinah, Yaman, Singapura, Malaysia dan Brunai Darussalam. Haul berakhir pada pukul 09.00 dan dilanjutkan dengan ziarah bersama.

Perjalanan dari tempat haul ke tempat-tempat pemakaman dilakukan dengan berjalan kaki dan disemarakkan tetabuhan hajir marawis dan untaian qasidah, juga dengan membawa umbul-umbul yang bertuliskan kalimat tauhid. Antusias yang begitu besar terlihat dari para jemaah dalam mengikuti ziarah kubra ini meskipun perjalanan yang ditempuh cukup jauh, selain mengharapkan berkah, juga dikarenakan turut sertanya para habib dalam perjalanan tersebut.

Rangkaian ziarah dimulai di Pemakaman Al-‘Arif Billah Al-Habib Pangeran Syarif Ali Syekh Abubakar yang berlokasi di Kelurahan 5 Ilir Boom Baru. Al-Habib Pangeran Syarif Ali, merupakan seorang waliyullah yang ‘alim dan berwibawa, sehingga ia disegani oleh banyak orang. Syarif Ali dilahirkan di Palembang pada tahun 1795 M dari seorang ibu yang bernama Syarifah Nur binti Ibrahim bin Zain bin Yahya. Adapun ayahnya Habib Abubakar dilahirkan di kota Inat, Hadramaut. Habib Abubakar datang ke kota Palembang bersama ayahnya yaitu Habib Sholeh bin Ali sekitar tahun 1755 diakhir masa kepemimpinan Sultan Mahmud Badaruddin I. Setelah itu Habib Sholeh kembali ke Hadramaut dan meninggal di kota kelahirannya Inat.

Sebagaimana lazimnya para wali, disamping mendapatkan pendidikan agama dari ayahnya, ia juga banyak menimba ilmu agama dari para habib baik dari kota Palembang sendiri maupun dari Hadhramaut. Selain terdidik dalam lingkungan keagamaan, pada usia dewasanya, Syarif Ali giat melakukan pelayaran niaga, terutama ke Kalimantan dan Jawa. Pelayaran dengan kapal kayu sederhana (Pinisi), mengarungi lautan luas selama beberapa waktu dengan segala macam rintangan, membentuk watak dan kepribadian yang kuat dalam jiwanya sehingga ia dikenal sebagai seorang yang gagah berani, teguh pendirian, tidak banyak berbicara dan bersikap tegas dalam menangani persoalan.

Dari pergaulan yang luas dalam hubungannya dengan para pembesar kesultanan, Syarif Ali memperoleh pengalaman diplomatik. Karena itu ia tampil sebagai seorang yang berwibawa dan mendapat kepercayaan Sultan. Pernah suatu ketika Syarif Ali melakukan misi khusus ke Kalimantan untuk keperluan Sultan Husin Dhiauddin dan misi tersebut berhasil dengan baik. Karena ini Sultan menikahkan salah seorang putrinya yang bernama Laila dan dari perkawinan inilah Syarif Ali diberi gelar Pangeran. Bahkan beliau meskipun dalam usia yang relatif muda sudah dipercaya untuk menduduki jabatan bendahara kesultanan. Pangeran Syarif Ali wafat pada tanggal 27 Muharram 1295 H / 1877 M.

Selain makam Habib Pangeran Syarif Ali dan keluarganya, disini juga dimakamkan Habib Umar bin Alwi bin Zain bin Syahab yang merupakan ipar dari Pangeran Syarif Ali, beliau dimakamkan tepat disebelah makam Pangeran Syarif Ali. Habib Umar adalah seorang ulama yang banyak menyebarkan agama Islam ke pelosok-pelosok terpencil, beberapa suku adat di pedalaman Palembang masuk Islam berkat beliau, terutama di pesisir sungai Musi, antara lain daerah Pegayut, Pemulutan, Muara Batun, Lingkis, Ulak Temago, Suko Darmo, bahkan sampai saat ini banyak keturunannya tinggal di daerah Bungin Kiaji yang lebih dikenal dengan dengan Desa Pegayut.

Dari Pemakaman Pangeran Syarif Ali, rombongan ziarah melanjutkan perjalanan menuju ke Pemakaman Kesultanan Kawah Tengkurep yang terletak di Kelurahan 3 Ilir Boom Baru Palembang. Pemakaman ini dibangun pada tahun 1728 M oleh Sultan Mahmud Badaruddin I (1724-1758 M), yang merupakan seorang pemimpin yang arif dan adil, bahkan ia adalah seorang ulama yang hafal Al-Qur’an. Didalam pemerintahannya, Sultan Mahmud Badaruddin I banyak mengadakan musyawarah terutama dengan para habib, iapun memiliki guru-guru agama dari kalangan habaib. Bahkan hampir semua putrinya dinikahkan dengan habaib.

Adapun Imam Kubur - istilah untuk penasehat agama kesultanan yang biasanya dimakamkan bersebelahan dengan para sultan - dari Sultan Mahmud Badaruddin I yaitu Al-‘Arif Billah Al-Habib Abdullah bin Idrus Al-Idrus. Habaib lainnya yang dimakamkan di Pemakaman Kawah Tengkurep ini antara lain Al-‘Arif Billah Al-Habib Abdurrahman bin Husin Al-Idrus (Maula Taqooh) yang merupakan Imam Kubur Sultan Ahmad Najamuddin (1758-1776 M), Al-‘Arif Billah Al-Habib Muhammad bin Ali Al-Haddad (Datuk Murni) yang merupakan Imam Kubur Sultan Muhammad Bahauddin (1776-1803 M), Al-‘Arif Billah Al-Habib Muhammad bin Yusuf Al-Angkawi, Al-‘Arif Billah Al-Habib Agil bin Alwi Al-Madihij (Penghulu Al-Madihij di Palembang) serta Al-‘Arif Billah Al-Habib Muhammad dan Habib Ahmad bin Idrus Al-Habsyi, yang merupakan ayah dan kakek dari Habib Nuh Al-Habsyi (Keramat Tanjung Pagar Singapura).

Selain itu disini juga dimakamkan seorang waliyah bernama Hababah Sidah binti Abdullah bin Agil Al-Madihij. Dikisahkan bahwa ia pernah bertemu dengan Rasulullah SAW secara yaqozoh (dalam keadaan sadar) dengan iringan tetabuhan rebana dan aroma harum wewangian, sehingga seluruh perkampungan disekitar rumahnya pun dapat mendengar suara tabuhan rebana tersebut. Hingga kini rumah tempat tinggalnya masih ada dan terawat dengan baik.

Setelah melakukan perjalanan ke kedua pemakaman tersebut, rute ziarah pun berakhir di Pemakaman Habaib Kambang Koci yang terletak bersebelahan dengan Pemakaman Kawah Tengkurep. Konon, pada tahun 1151 H / 1735 M, Sultan Mahmud Badaruddin I mewakafkan sebidang tanah yang cukup luas untuk pemakaman anak cucu serta menantunya. Tanah pemakaman tersebut dinamakan Kambang Koci yang berasal dari kata-kata kambang (kolam) dan sekoci (perahu), karena jauh sebelumnya tempat itu merupakan tempat pencucian perahu.

Dalam sejarahnya, areal pemakaman ini telah beberapa kali berusaha direbut oleh pihak-pihak yang merasa berkepentingan. Bermula pada masa pendudukan Belanda sekitar tahun 1913 M, melihat posisinya yang begitu strategis terletak di tepi Sungai Musi, di kawasan ini dibangun Pelabuhan Boom Baru, dan berselang 11 tahun kemudian, Pihak Belanda berusaha mengambil areal pemakaman ini, namun pihak ahli waris mempertahankannya sehingga sampailah pada suatu perundingan di Batavia (sekarang Jakarta) dengan dimenangkan oleh pihak ahli waris. Demikian pula pada masa penjajahan Jepang, upaya-upaya perebutan areal pemakaman tersebut masih terjadi namun tetap tidak berhasil.

Pada masa kemerdekaan, tepatnya 16 Nopember 1974, Pemakaman Kambang Koci ini diresmikan menjadi pemakaman anak, menantu, serta cucu-cucu Sultan Mahmud Badaruddin, yang dihadiri oleh Bapak R.H.A. Arifai Tjek Yan, Walikota Palembang kala itu serta pihak dari Pelabuhan Boom Baru. Berselang setahun kemudian, kembali terjadi persengketaan dengan pihak pelabuhan sehingga terjadi pembagian luas areal pemakaman ini dari 5000 meter persegi dibagi 2/3 untuk pihak pelabuhan dan 1/3 untuk ahli waris, sehingga saat ini keseluruhan luas area Kambang Koci ini tinggal 1400 meter persegi.

Upaya-upaya pihak pelabuhan terus dilakukan untuk mendapatkan sisa areal pemakaman yang ada. Pada tahun 1999 pihak ahli waris yang diwakili Ketua Yayasan Kambang Koci, Habib Muhammad Ahmad Shahab dan pihak pelabuhan melakukan pertemuan di Kantor Gubernur Sumsel yang menghasilkan keputusan bahwa pihak pelabuhan harus memasang kembali pagar yang telah mereka robohkan sebelumnya. Dan dipenuhilah keputusan tersebut oleh pihak pelabuhan dengan membangun pagar kokoh yang mengelilingi keseluruhan sisa areal pemakaman Kambang Koci yang terdiri dari lebih kurang 300 makam.

Saat ini, hampir keseluruhan keturunan Alawiyyin yang tinggal di Palembang memiliki silsilah bersambung dengan para habib yang dimakamkan di pemakaman ini, paling tidak silsilah dari sebelah ibu.

Beberapa penghulu habaib yang dimakamkan disini antara lain:
- Al-‘Arif Billah Al-Habib Syech bin Ahmad bin Syahab yang merupakan ulama besar pada masanya dan dikarenakan kedekatannya dengan Sultan Mahmud Badaruddin I, ia dianugerahi tanah yang sangat luas oleh Sultan dari daerah Kuto sampai Kenten, yang antara lain ia wakafkan sebagai tanah pemakaman kaum alawiyyin Palembang serta tanah wakaf masjid Daarul Muttaqien. 

-Al-‘Arif Billah Al-Habib Ibrahim bin Zein bin Yahya (w.1790 M), merupakan seorang ulama besar yang memahami banyak masalah Ilmu Fiqh, beliau adalah menantu Sultan Mahmud Badaruddin I yang beristerikan Raden Ayu Aisyah binti Sultan Mahmud Badaruddin I. 

-Al-‘Arif Billah Al-Habib Alwi bin Ahmad Al-Kaaf yang dikenal sebagai seorang wali Quthb, diceritakan bahwa pernah suatu kali saat ayahnya melakukan pelayaran ke Singapura dengan sebuah kapal. Di dalam perjalanan, kapal tersebut mengalami kebocoran pada lambungnya, ketika akan diperbaiki ternyata kapal tersebut telah ditambal dari luar kapal dan setelah diperiksa ternyata didapati sebuah sandal yang menutup rapat kebocoran tersebut. Setelah sandal tersebut diambil dan dihadapkan kepada Habib Ahmad, maka beliau mengenali sandal tersebut adalah milik anaknya, Habib Alwi. Setibanya kembali di Palembang didapati Habib Alwi tengah menunggu ayahnya dengan mengenakan sebelah sandal seraya meminta sandal yang satunya lagi dari ayahnya yang digunakan untuk menambal kapal tersebut. Masih banyak lagi keramat dari Habib Alwi ini, bahkan tatkala ia wafat, maka datanglah surat dari Kampung Al-Hajrain, Hadhramaut (setelah 6 bulan perjalanan laut dari Hadhramaut ke Palembang) yang isinya menanyakan siapakah wali di Palembang yang wafat sehingga di Kota Tarim, Hadhramaut terjadi gempa.

Selain itu, di pemakaman ini juga dimakamkan Habib Abdullah bin Salim Al-Kaaf yang merupakan seorang ulama besar sekaligus pengusaha yang sukses. Beliaulah yang membangun Masjid Sungai Lumpur pada tahun 1287 H yang berlokasi di 11 Ulu Palembang, dan Habib Abdullah bin Ali Al-Kaaf yang merupakan seorang wali yang mastur (tersembunyi) . Adapun keturunannya banyak yang menjadi orang sholeh dan ulama besar yang tersebar di Tegal, Jakarta, Jeddah, dan Hadhramaut. Antara lain Habib Abdurrahman bin Ahmad Al-Kaaf, Jeddah dan Habib Abdullah bin Ahmad Al-Kaaf, Jakarta dengan anak-anaknya yang menjadi muballighin.

Banyaknya para wali yang dimakamkan disini membuat para peziarah selalu menyempatkan diri untuk berziarah ke pemakaman ini, baik dari kalangan awam maupun tokoh habaib. Tercatat sebagian kecil diantaranya, yaitu Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdor (Bondowoso), Habib Muhammad bin Husin Al-Idrus (Surabaya), Habib Salim bin Ahmad bin Jindan (Jakarta), Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi (Kwitang), Habib Ali bin Husin Al-Atthos (Bungur), Habib Sholeh bin Muhsin Al-Hamid (Tanggul), Habib Abdul Qodir bin Ahmad Assegaf (Jeddah), Habib Umar bin Hafizh BSA dan Habib Ali Zainal Abidin Al-Jufri (Hadhramaut- Yaman).

Pernah suatu ketika dalam ziarahnya, Habib Sholeh bin Muhsin Al-Hamid (Tanggul) diberitahu bahwasanya pemakaman ini akan dibongkar, mendengar hal itu ia hening sesaat dan berkata bahwa pembongkaran tidak akan terjadi, dikarenakan Allah SWT yang akan selalu menjaganya, dan hal ini benar-benar terbukti. Sebagai contoh tatkala ada usaha untuk memindahkan jenazah dari pemakaman ini ke pemakaman lain dalam usaha mengambil alih areal pemakaman pada tanggal 19 Desember 1997, setelah peti-peti jenazah yang berjumlah lebih kurang 104 buah (dihitung berdasarkan jumlah nisan yang nampak) disiapkan di Kambang Koci untuk memindahkan makam yang ada, didapatlah kabar mengenai jatuhnya pesawat Boeing 737-300 Silk Air dari Singapura di Muara Makati, Perairan Sungsang, Sumatera Selatan yang menewaskan seluruh penumpang dan awak pesawat. Dan yang mengherankan jumlah korban tewas yang dipastikan sebanyak peti yang disiapkan, yang terdiri dari 104 penumpang termasuk 7 awak. Mengingat keperluan yang lebih mendesak akhirnya peti-peti yang telah disiapkan tersebut tidak jadi digunakan, dan lahan pekuburan yang telah disediakan bagi jenazah Kambang Koci diisi dengan jenazah korban tewas kecelakaan pesawat tersebut.

Mengingat banyaknya para wali yang dimakamkan di Pemakaman Kambang Koci serta di beberapa pemakaman lainnya di kota Palembang, maka banyak dari pemuka habaib dari Hadhramaut menyebut Kambang Koci sebagai Zanbal (pemakaman para wali di Kota Tarim, Hadhramaut)- nya Palembang. Dan Kota Palembang sendiri sebagai Hadramaut Tsani alias Hadramaut Kedua.

Insya Allah, Ziarah Kubra tahun ini akan dihadiri oleh banyak tamu dari luar kota dan luar negeri, antara lain Ulama Pattani (Thailand),Habib Hasan Al-'Atthas (Singapura), Syed Ibrahim bin Ahmad bin Yahya (Pegawai Khas Menteri Besar Pahang, Malaysia) beserta rombongan, Syed Agil bin Yahya dan rombongan tahfizul Quran Malaysia,Jemaah Jenderami (Malaysia), tamu dari Brunei Darussalam.Serta para ulama dan habaib dari Pulau Jawa,antara lain Habib Sholeh bin Ahmad Al-Aidarus (Malang), Habib Sholeh
Al-Habsyi (Jakarta), dll.

Sumber :
o Kiswah Habaib, Mengungkap Figur Tokoh-Tokoh Sadah Ba’alawi Palembang, Edisi I, 2001.
o Ziarah Kubra & Sekilas Mengenai Ulama dan Auliya Palembang Darussalam, Edisi II, S. Abdullah Syukri Shahab, 2004.
o Pangeran Syarif Ali Asal-Usul dan Keturunannya, S. Ahmad bin Hamid BSA, 2004.

Penulis : Abubakar Rafiq BSA. (Majelis rasullulah)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...