CANTUMKAN SUMBERNYA JIKA MENGGUNAKAN GAMBAR ATAU ARTIKEL DARI BLOG INI - HORMATI HAK CIPTA ORANG LAIN.

18 April 2014

Makam Kebon Gede Palembang

  • Lokasi : Jalan Sultan Muhammad Mansur Kelurahan 32 Ilir
  • Sejarah/keunikan  ; Komplek makam Sultan kedua beserta keturunan yaitu Sultan Muhammad Mansur  bin Susuhunan Abd Rahman dan permaisuri serta seorang ulama dari Arab 1706b-1714
SEKILAS INFO OBJEK WISATA MAKAM KEBON GEDE
Dimakamkan Sri Paduka Sultan Muhammad Masyur Jayo Ing Lago bin Susuhunan Abdurrahman yang memerintah pada tahun 1118-1126 H atau 1706-1714 M. Lokasi makam saat ini kurang terawat, bahkan diambil dan dibuat perumahan oleh orang yang mengaku zuriat dari Sultan atau kurang menghargai nilai sejarah Palembang, termasuk dijadikan kantor Kelurahan.
Lokasi makam di Jln. Sultan Muhammad Mansyur, 32 Ilir, Palembang.
Sri Paduka Sultan Muhammad Masyur Jayo Ing Lago jaman dahulu
sumber : 
http://tua-tradisionil.blogspot.co.id/

10 April 2014

Komplek makam Sido Ing Lautan

Komplek makam sido ing lautan menjadi satu komplek dengan Ki Gede Ing Suro
  • Lokasi    : Kecamatan Ilir Timur II
  • Sejarah/keunikan    : Terkait dengan sejarah berdirinya Kesultanan Palembang Darussalam dan merupakan awal berdirinya istana Kesultanan Palembang. Komplek makam lainnya adalah makam Madi Ing Angsoka yang memerintah tahun 1595-1629
SEKILAS INFO OBJEK WISATA MAKAM SIDO ING LAUTAN
Komplek pemakaman kuno ini sekarang menjadi bagian dari jalur hijau (green barrier) PT Pusri. Di kompleks pemakaman yang masuk dalam wilayah administratif Kelurahan 1 Ilir, Kecamatan IT II Palembang ini terdapat delapan bangunan dengan jumlah makam keseluruhan 38 makam. 
Salah satu tokoh yang dimakamkan di kompleks pemakaman yang dibangun sekitar pertengahan abad 16 ini adalah Ki Gede Ing Suro. Dialah pendiri kerajaan Islam Palembang, yang kemudian menjadi Kesultanan Palembang Darussalam.
Ki Gede Ing Suro adalah putra Ki Gede Ing Lautan, salah satu dari 24 bangsawan dari Demak yang menyingkir ke Palembang, setelah terjadi kekacauan di kerajaan Islam terbesar di pulau Jawa itu. Kekisruhan ini merupakan rangkaian panjang dari sejarah kerajaan terbesar di Nusantara, setelah Kerajaan Sriwijaya yaitu Kerajaan Majapahit. 
Raden Fatah yang lahir di Palembang adalah putra Raja Majapahit terakhir, yaitu Brawijaya V. Raden Fatah lahir dari Putri China yang disebut Putri Champa, setelah istri Brawijaya itu dikirim ke Palembang dan diberikan kepada putra Brawijaya, Ariodamar atau Ario Abdillah atau Ario Dillah. Setelah dewasa, Raden Fatah bersama Raden Kusen, putra Ario Dillah dengan Putri China dikirim kembali ke Majapahit. Oleh Brawijaya V, Raden Fatah diperintahkan untuk menetap di Demak atau Bintoro sedangkan adiknya lain bapak, Raden Kusen, diangkat sebagai Adipati di Terung.
Pada masa menjelang akhir abad XV ini, Islam di Pulau Jawa mulai kuat. Saat terjadi penyerbuan oleh orang Islam terhadap Majapahit, prajurit kerajaan Hindu itu kalah dan Raja Brawijaya V menyingkir hingga kemudian mangkat. Dengan demikian, berakhirlah kekuasaan Majapahit. Setelah keruntuhan Majapahit, Sunan Ngampel Denta (wali tertua dalam Walisongo) menetapkan Raden Fatah sebagai Raja Jawa menggantikan ayahnya dengan sistem pemerintahan Islam. 

Raden Fatah, dibantu para wali, kemudian memindahkan pusat kekuasaan dari Surabaya ke Demak sekaligus menyebarkan agama Islam di daerah ini. Atas bantuan penguasa dan rakyat didaerah yang sudah lepas dari Majapahit, antara lain Tuban, Gresik, Jepara, Raden Fatah mendirikan Kerajaan Islam Demak sekitar tahun 1481 M. 
Dia menjadi raja pertama dengan gelar Jimbun Ngabdur-Rahman Panembahan Palembang Sayidin Panata Agama. Raden Fatah yang wafat sekitar tahun 1518 M, digantikan putranya Pati Unus atau Pangeran Sabrang Lor yang wafat tahun 1521 M. 
Pengganti Pati Unus adalah Pangeran Trenggono (wafat tahun 1546 M). Wafatnya Sultan ketiga Demak ini merupakan awal dari kisruh berkepanjangan di kerajaan Islam yang sempat punya pengaruh besar di Nusantara itu. Tahta kerajaan menjadi rebutan antara saudara Trenggono dengan putranya. 
Saudaranya, yang dikenal sebagai Pangeran Seda Ing Lepen dibunuh putra Trenggono, Pangeran Prawata. Prahara berlanjut dengan pembunuhan terhadap Prawata oleh Putra Seda Ing Lepen, Arya Penangsang atau Arya Jipang pada tahun 1549 M. 
Menantu Trenggono, Pangeran Kalinyamat, juga dibunuh. Arya Penangsang akhirnya wafat dibunuh Adiwijaya. Menantu Trenggono yang terkenal sebagai Jaka Tingkir, Adipati penguasa Pajang ini kemudian memindahkan pusat kerajaan ke Pajang. Dengan demikian, berakhir pula kekuasaan Demak pada tahun 1546 M setelah berjaya selama 65 tahun. 
Akibat kemelut itu, sebanyak 24 orang keturunan Sultan Trenggono (artinya, keturunan Raden Fatah) hijrah ke Palembang di bawah pimpinan Ki Gede Sido Ing Lautan. Setelah Ki Gede Sido Ing Lautan yang sempat berkuasa di Palembang, setelah wafat ia digantikan putranya, Ki Gede Ing Suro. Karena raja ini tidak memiliki keturunan, dia digantikan oleh saudaranya Ki Gede Ing Suro Mudo.
sumber : http://www.palembang-tourism.com/

04 April 2014

Komplek Bagus Kuning


  • Lokasi : Komplek Bagus Kuning
  • Sejarah/keunikan :
    • Makam Ratu Bagus Kuning yang dikeramatkan karena menurut legenda Ratu Bagus Kuning orang sakti dan suci serta penyambung risalah Rasullah melaui para wali menyebarkan Islam .
    • Adanya satwa liar kera
    • Lokasi asri dan di tepian sungai Musi
SEKILAS INFO BAGUS KUNING
Daerah ini terletak di Kecamatan Seberang Ulu ll tepatnya di komplek Bagus Kuning Plaju yang mana Makam Ratu Bagus Kuning sampai saat ini masih di keramatkan karena menurut legenda Ratu Bagus Kuning orang yang sakti dan sebagai menyambut risalah Rasullulah melalui para wali untuk menyebarkan agama islam di daerah yang di kuasainya yaitu :
Kawasan Batang Hari Sembilan pada abad  XVI, Beliau mempunyai pengikut atau penghulu sebanyak 11 orang yaitu :
1.    Penghulu Gede
2.    Datuk Buyung
3.    Kuncung Emas
4.    Panglima Bisu
5.    Panglima Api
6.    Syekh Ali Akbar
7.    Syekh Maulana Malik Ibrahim
8.    Syekh Idrus
9.    Putri Kembang Dadar
10. Putri Rambut Selako
11. Bujang Juaro

Ratu Bagus Kuning hingga akhir hayatnya tidak pernah menikah dan tidak pernah hamil (tetap suci), selain itu kita dapat melihat monyet/kera jinak yang menurut cerita keturunan siluman yang pada waktu bertanding dengan Ratu Bagus Kuning mengalami kekalahan sehingga siluman Kera bersumpah keturunannya akan menjadi pengikut setia Ratu Bagus Kuning. Hingga saat ini kera-kera tersebut masih ada dan jumlahnya tetap tidak kelihatan bertambah.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...