CANTUMKAN SUMBERNYA JIKA MENGGUNAKAN GAMBAR ATAU ARTIKEL DARI BLOG INI - HORMATI HAK CIPTA ORANG LAIN.

24 Mei 2013

2 Hari di Kota Udang Cirebon Part 2

Hari Ke 2-


Pagi-pagi sekali kami sudah mulai menyusuri kota Udang ini setelah selesai dari hotel maka kami bergegas berwisata kuliner kembali dan sasaran kami kali ini adalah Nasi Lengko H. Barno, ternyata tidak hanya nasi lengko + sate yang kami dapatkan tetapi tahu gejrot pun tersedia di depannya.

Nasi Lengko H. Barno
Nasi lengko sebagai kuliner khas Cirebon memang kalah kesohor dibanding dengan nasi jamblang yang juga berasal dari Kota Udang. Selain karena penjajanya lebih sedikit ketimbang nasi jamblang, nasi lengko ini sangat sederhana. Berbeda dengan nasi jamblang yang dilengkapi berbagai lauk pauk, nasi lengko lebih mirip penganan vegetarian lantaran bahan-bahannya 100% nonhewani.
Tahu salah satu yang tidak terpisahkan dari nasi lengko
Tapi, bicara soal rasa, nasi lengko yang mendapat julukan nasi pecel ala Cirebon punya kelezatan yang bakal Anda sesali jika tidak mencobanya. Dan, salah satu pusat penjual nasi lengko paling terkenal di Cirebon ada di Jalan Pagongan. 
Saking populernya, jika Anda minta rekomendasi lokasi kedai nasi lengko ke warga Cirebon, kebanyakan akan kompak menyebut Jalan Pagongan. Di Jalan Pagongan, ada dua kedai yang dikenal paling sedap nasi lengkonya. Pemiliknya masih tergolong kerabat dekat. Cuma, yang paling ramai dikunjungi dan akrab dengan lidah orang Cirebon adalah: Warung Nasi lengko H. Barno di Jalan Pagongan Nomor 15B. 
Nasi lengko + Sate & kecap cap matahari
Jadi, jika Anda berkunjung ke Cirebon, jangan lupa menyambangi kedai milik Barno ini. Lokasinya juga gampang ditemukan. Kalau datang dari arah Jakarta melalui Jalan Raya Indramayu Cirebon, terus saja pacu kendaraan Anda menuju Kota Cirebon via Jalan Siliwangi. Setelah melewati Kantor Wali Kota Cirebon, Anda akan menemui Jalan Karanggetas. 
Setelah menemui perempatan pertama, belok kanan dan Anda memasuki Jalan Pagongan. Nah, Warung Nasi lengko H. Barno ada di sebelah kiri, sekitar 500 meter dari mulut jalan yang sekarang bernama Jalan Surya Negara tersebut.
Nasi Lengko + Tahu Gejrot
Penampakan kedai ini sangat sederhana. Meski begitu, ruangannya luas dan bisa menampung 100 pengunjung. Hanya, bagi yang ingin makan dengan tenang, hindari jam makan siang karena pengunjung biasanya membeludak. Oh, iya, kedai ini buka mulai jam enam pagi hingga sepuluh malam. 
Waktunya makan. Dari segi penampilan, nasi lengko racikan Barno minimalis seperti nasi lengko kebanyakan. Sepiring nasi putih dengan irisan timun segar, daun kucai, taoge rebus, bawang goreng, tempe goreng, dan tahu goreng, plus siraman bumbu sambal kacang. 
Sedikit tips saja sebelum makan. Pertama-tama, jangan lupa tambahkan kecap manis yang tersedia di atas meja. Lalu, aduk bumbu kacang dan kecap sampai tercampur merata sama nasi dan lainnya. Kalau tidak, rasa nasi lengko yang bakal Anda santap akan berbeda. 
Seperti kebanyakan penjual nasi lengko di Cirebon, kedai ini menyediakan kecap cap Matahari. Si hitam manis buatan lokal ini sudah menjadi brand yang melekat pada nasi lengko. Keistimewaannya, kecap ini punya rasa manis yang sopan alias tidak kebangetan sehingga tak membuat enek perut. sumber http://lifestyle.kontan.co.id/
Tahu Gejrot
panganan yang terbuat dari tahu ini juga sempat kami rasakan saat di kota Cirebon, makanan yang terdiri dari tahu goreng yang diiris tipis dimakan dengan kuah kecap manis bersambal pedas dengan campuran bawang putih dan bawang merah lumayan menambah selera makan di makan dengan menggunakan tusuk gigi sebagai pengganti sendok.
Tahu Gejrot
Selanjutnya kami melanjutkan perjalanan kami ke pusat batik trusmi di mana kota Cirebonmemiliki destinasi wisata batik di Desa Trusmi yang tidak kalah menarik dengan Yogyakarta, Solo atau Pekalongan. Dari destinasi yang sayup terdengar, Trusmi kini semakin terkenal.

Salah satu corak batik trusmi
10 Tahun yang lalu, tidak banyak wisatawan mengetahui Batik Trusmi di Cirebon. Kecuali penggemar berat batik, atau mereka yang berdomisili di Bandung atau sering pergi ke Cirebon. Namun kalau pergi ke sana hari ini, Anda akan melihar pusat grosir batik dengan parkiran luas dan jejeran butik-butik batik dari yang sederhana sampai mewah.
Perubahan Batik Trusmi menjadi destinasi wisata populer, baru terasa dalam 5 tahun terakhir. Daerah wisata batik sekarang memanjang dari Trusmi sampai pusat wisata kuliner Empal Gentong di daerah Battembat.



Berawal dari satu desa yaitu Trusmi, kini produksi batik menular ke 3 desa lain yaitu Panembahan, Kali Tengah dan Kali Wulu. Namun untuk penjualan, Desa Trusmi masih menjadi andalan. Seberapa besar kawasan wisata batik Trusmi sekarang?


Sebagai gambaran, jika keluar Tol Cipali-Palikanci di Gerbang Tol Plumbon ke arah Kota Cirebon, di perempatan Plered Anda akan melihat gapura bertuliskan Kawasan Wisata Sentra Batik Trusmi di sebelah kiri. Dari gapura itu ke arah Kota Cirebon sampai kawasan wisata kuliner empal gentong, disebut Erwin sebagai daerah wisata batik Trusmi.

"Sejak Tol Cipali jadi, tingkat kunjungan wisatawan naik sekitar 200 persen. Wisatawan dari Jakarta atau Bandung sekarang bisa PP hanya untuk membeli batik di sini. Pagi datang, belanja batik, makan siang wisata kuliner ke sebelah, beli oleh-oleh terus pulang deh.

Bisa dibilang, Batik Trusmi makin eksis seiring keberadaan Cirebon yang semakin menjadi primadona wisata di Jawa Barat ketika orang sudah jenuh dengan Bandung. Sementara dari segi desain dan filosofi, Batik Trusmi konsisten dengan motif tapi sangat terbuka dengan modifikasi.



Untuk yang belum tahu, Batik Trusmi punya motif utama bernama mega mendung. Motif awan ini merupakan akulturasi budaya China dan Islam sejak era Wali Songo. Motif ini terus dijaga sampai sekarang, namun kemudian lahir aneka variasi warna, motif dan bahan. Produk turunan mulai aneka jenis busana, sampai pernak-pernik batik juga tersedia.


"Kalau Rajjas Batik sekarang bermain dengan warna lembut. Tapi kita juga memperhatikan tren warna untuk satu tahun ke depan dan tren motif yang akan disukai orang. Harus kuat dengan inovasi," kata Erwin berbagi resep agar batik tetap eksis.

Erwin menceritakan batiknya diproduksi oleh ibu-ibu setempat di Desa Panembahan. Mereka yang mengurus anak, boleh mengerjakan batiknya di rumah. Dalam seminggu mereka menghasilkan 20 lembar batik tulis dan 50 lembar batik cap ukuran 1x2,5 meter.

Erwin rajin mengikuti pameran ekonomi kreatif di Jakarta sambil mencari pembeli. Batik Trusmi produksi Rajjas Batik sudah melanglang buana sampai Jepang. Namun menurutnya, wisatawan domestik tetap merupakan konsumen utamanya.




"Tetap saja yang paling banyak beli itu wisatawan domestik. Saya juga memasukan barang ke sejumlah departemen store di Jakarta," kata dia.


Rentang harga batik yang dia jual mulai Rp 25 ribu sampai Rp 1 juta. Kain yang paling mahal adalah batik tulis bermotif Paksi Naga Liman, nama kereta kerajaan milik Keraton Kasepuhan.

Rajjas Batik adalah satu dari puluhan gerai batik yang ada di Trusmi, selain tentu saja one stop shopping yang paling besar yaitu Pusat Grosir Batik Trusmi. Saran detikTravel, luangkan waktu Anda keluar masuk gerai batik agar bisa membandingkan harga dan motif demi mendapatkan Batik Trusmi yang terbaik di Cirebon. sumber : http://travel.detik.com/

23 Mei 2013

2 Hari Di Kota Udang Cirebon




On Action ......
Hari ke 1 -

Kota Cirebon adalah salah satu kota yang berada di Provinsi Jawa Barat, IndonesiaKota ini berada di pesisir utara Pulau Jawa atau yang dikenal dengan jalur pantura yang menghubungkan Jakarta-Cirebon-Semarang-Surabaya.
Pada awalnya Cirebon berasal dari kata sarumban, Cirebon adalah sebuah dukuh kecil yang dibangun oleh Ki Gedeng Tapa. Lama-kelamaan Cirebon berkembang menjadi sebuah desa yang ramai yang kemudian diberi nama Caruban (carub dalambahasa Cirebon artinya bersatu padu). Diberi nama demikian karena di sana bercampur para pendatang dari beraneka bangsa diantaranya SundaJawaTionghoa, dan unsur-unsur budaya bangsa Arab), agama, bahasa, dan adat istiadat. kemudian pelafalan kata caruban berubah lagi menjadi carbon dan kemudian cerbon.
Stasiun besar Kejaksan Cirebon
Selain karena faktor penamaan tempat penyebutan kata cirebon juga dikarenakan sejak awal mata pecaharian sebagian besar masyarakat adalah nelayan, maka berkembanglah pekerjaan menangkap ikan dan rebon (udang kecil) di sepanjang pantai, serta pembuatan terasi, petis dan garam. Dari istilah air bekas pembuatan terasi atau yang dalam bahasa Cirebon disebut(belendrang) yang terbuat dari sisa pengolahan udang rebon inilah berkembang sebutan cai-rebon (bahasa sunda : air rebon), yang kemudian menjadi cirebon.

Khas di masang dengan Gentong & kayu bakar
Dengan menggunaan kereta dari stasiun Gambir kami sampai di stasiun besar Kejaksan Cirebon sekita 4 Jam, selanjutnya hal yang pertama kami tuju tentunya kuriner untuk bersantap siang, dan pilihan pun jatuh pada Empal Gentong Mang Darma yang memang punya citra rasa yang khas, 

Satu satu hal yang menjadi pembeda empal gentong dengan gule adalah kuliner khas Cirebon ini dimasak dengan kayu bakar, biasanya menggunakan kayu dari pohon mangga. Wadah yang digunakan untuk memasak empal gentong juga unik, bukan panci biasa, melainkan gentong atau periuk yang terbuat dari tanah liat
Bahan utama yang digunakan bisa dari usus, babat, kikil atau daging sapi, sesuai selera. Itulah sebabnya makanan ini disebut empal gentong, merujuk pada bahan utama yang terbuat dari daging sapi dan sedikit lemak, sementara gentong ditujukan sebagai proses memasak yang menggunakan periuk tanah liat. Makin lama gentong digunakan untuk memasak, konon membuat empal gentong ini makin nikmat. Itu karena kerak bumbu meresap ke dalam pori-pori tanah liat sehingga menghasilkan citarasa yang khas.

Empal gentong
Ciri khas lain dari empal gentong yang tidak bisa ditemukan di makanan lainnya adalah penggunaan daun kucai serta sambal yang terbuat dari cabai yang dikeringkan dan digiling. Dua bumbu penyedap tradisional ini membuat empal gentong Cirebon nikmat memanjakan lidah.
Empal gentong ini bisa disajikan dengan seporsi nasi hangat atau lontong, atau orang Cirebon menyebutnya bongko. Jangan juga melupakan dorokdok alias kerupuk kulit daging sapi sebagai pelengkap untuk menikmati kudapan empal gentong ini. Setelah di teliti hampi semua tempat yang menjual empal gentong di Cirebon ini menggunakan nama "mang darma" mungkin sudah generasi penerus atau memang lebih laku dengan menggunakan nama ini.
Setelah menghabiskan seporsi empal gentong dan nasi serta segelas es teh manis maka perjalanan menelusuri kota pun kami lanjutkan dan beberapa tempat yang sempat di bidik kamera antara lain :
Gedung Balai Kota Cirebon
Pusat kota atau puseur dayeuh di Tlatah Jawa Barat tempo doeloe biasanya dicirikan dengan sebidang tanah lapang yang dinamakan alun-alun. Di sekitarnya terdapat bangunan-bangunan fungsional. Begitu pula halnya dengan keberadaan Balai Kota Cirebon, yang terletak di Jalan Siliwangi No.24 Kampung Tanda Barat, Kelurahan Keramat, Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon, Provinsi Jawa Barat. Lokasinya tepat berada di jatung kota Cirebon, dan mudah untuk ditempuh dengan moda tansportasi darat, baik itu kendaraan roda dua maupun kendaraan roda empat. Beberapa meter di sebelah selatan bangunan Balai Kota terdapat alun-alun Kota Cirebon, sedangkan beberapa meter arah utara terdapat stasiun kereta api kejaksan Cirebon.Masih dalam lingkaran pusat kota, di sebelah barat adalah ruas rel kereta api yang menghubungkan Jawa Tengah dan Jawa Barat hingga ke Jakarta. Sebelah timur Balai Kota adalah Jalan Siliwangi yang membelah pusat kota tersebut. Di jalan tersebut berdiri banyak hotel dari berbagai tingkatan, mulai dari kelas losmen, hotel melati hingga hotel berbintang. 
Gedung Balai Kota Cirebon merupakan karya perancang dua aristek bernama H.P. Hamdl dan C.F.H. Koll, yang berusaha memadukan konstruksi barat dengan gaya arsitektur berfilosofi lokal.  Menurut Agustinus David dalam skripsinya yang berjudul Bentuk dan Gaya Bangunan Balai Kota di Cirebon (2010) dijelaskan bahwa Gedung Balai Kota Cirebon terpengaruh oleh gaya modern yang berkembang di Belanda, yaitu gaya Amsterdam School yang berkembang antara tahun 1910 – 1930. Hal ini terlihat dari ekspresionis yang kuat dalam bentuk. Pemakaian bahan bangunan dari alam seperti batu bata dan bentuknya yang sangat plastis, ornamen sculptural dan bermacam-macam warna dari bahan asli (bata, alam, kayu). Gedung yang berdiri pada areal lahan yang luasnya sekitar 15.770 m², dan memiliki luas bangunan 868 m² ini bertembok warna putih dan bertekstur halus, dibangun atas prakarsa J.J. Jiskoot, Direktur Gemeentewerken (Dinas Pekerjaan Umum) Cirebon kala itu, yang pembangunan fisik bangunannya mulai dilakukan pada 1 Juli 1926 dan selesai dibangun pada 1 September 1927. Biaya pembangunannya menghabiskan dana sekitar 165000 gulden. 
Gedung Balai Kota ini memiliki 3 bangunan secara terpisah yang terdiri dari bangunan utama dan bangunan pendamping di sayap kiri dan sayap kanannya.     Di bagian depan pada bangunan utama terdapat portico yang berbentuk setengah lingkaran. Pada bagian dalam pada bangunan utama banyak terdapat kaca patri yang memiliki hiasan bervariasi. Di dinding bagian depan pada bangunan utama memiliki enam buah hiasan udang yang menempel pada dinding. 
Di dalam ruangan pada bangunan utama memiliki banyak bentuk pilaster yang bercirikanTuscan. Tuscan merupakan salah satu arsitektur Romawi Klasik yang memiliki hiasan moulding pada kepala tiangnya. Gedung ini semula berfungsi sebagai Raadhuis (Dewan Perwakilan Kota) yang merupakan pusat administrasi Kota Praja Cirebon. Ketika itu, gedung ini juga kerapkali digunakan sebagai tempat pertemuan dan pesta pernikahan kalangan bangsa Eropa. Pada masa Pemerintahan Militer Jepang hingga masa kemerdekaan, gedung ini menjadi pusat Pemerintahan Kota Cirebon. Gedung ini merupakan salah satu dari sekian banyak bangunan kolonial di Cirebon yang masih berdiri utuh, menjadi bukti sejarah perkembangan gaya seni bangunan dari masa kolonial di Cirebon. Berdasarkan kekunaan kisahnya, gedung ini ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya berdasarkan Surat Keputusan Walikota Cirebon Nomor 19 Tahun 2001.

Masjid Raya At-Taqwa Kota Cirebon
Masjid Raya at-Taqwa Kota Cirebon didirikan pada tahun 1918 di suatu kampung yang bernama Kejaksan, yang terdiri dari dua bagian, yang satu untuk dipergunakan sebagai Tajug Agung (Masjid At Taqwa sekarang) dan setengah bagian yang lain dipergunakan sebagai alun-alun (Alun-alun Kejaksan sekarang). Pada tahun ini juga Jalan RA. Kartini merupakan Jalan Kereta Apimenuju ke Pelabuhan Cirebon yang kemudian dipindahkan ke Jalan KS Tubun.

Nama masjid Raya At-Taqwa Cirebon, semula sebenarnya adalah Tajug Agung, bangunannya sudah cukup lama dan tua, ruangannya terlalu kecil dan letaknya kurang menghadap kiblat, kemudian R. M. Arhatha, kepala Koordinator Urusan Agama Cirebonmempunyai gagasan untuk merenovasi Tajug Agung itu di tempat yang lama dengan mengambil nama Masjid At-Taqwa, karena sudah ada masjid agung yang terletak di kasepuhan yang sekarang menjadi Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Seolah-olah pada waktu itu tidak dibenarkan dua nama yang sama pada dua masjid yang letaknya masih dalam satu kota, yaitu Tajug Agung dan Masjid Agung. Akhirnya pada tahun 1951 terwujudlah bangunan masjid tersebut dan diresmikan menjadi At Taqwa tahun 1963
Gaya arsitektur masjid yang mencirikan bangunan tropis dengan atap jurai serta dilengkapi dengan empat menara kecil (menaret) dan sebuah menara setinggi 65 meter. Namun kehadiran gerbang (gate) selebar 3 meter sebelum memasuki bangunan utama yang menjadi point of interest bangunan masjid memberi nilai tersendiri.
Gerbang dengan warna emas yang menyolok bertuliskan kaligrafi dua kalimat syahadat yang terbuat dari bahan glass reinforced cement (GRC) di atas batu granit asli dari Brasil, mendominasi tampak muka (fasad) bangunan. Bingkai putih semakin menonjolkan warna emas gerbang.
Enam tiang penyangga lampu taman yang menghiasi jalan masuk menuju gerbang, seperti hendak menyambut ramah kedatangan tamu-tamu Allah. Seluruh lantai dan dinding masjid menggunakan batu granit, begitu juga tiang-tiang dalam mesjid. Tiang-tiang dihiasi dengan ornamen arsitektur Islam.
Tidak seperti bangunan umumnya, bagian dinding tidak dilengkapi dengan jendela yang tertutup kaca. Jendela besar-besar yang ada dibiarkan terbuka untuk membiarkan aliran udara lancar keluar masuk masjid. Jendela hanya diberi teralis besi ditambah elemen estetika yang terbuat dari kuningan dengan pola arsiterktur Islam.
Keteduhan juga diupayakan untuk dihadirkan di arena luar masjid dengan menanam 10 pohon kurma di halaman samping masjid yang dekat dengan sisi jalan. Kehadiran dua kolam air mancur di sisi kanan dan kiri bagian depan mesjid, semakin melengkapi keindahannya. 
beberapa sudut kota Cirebon 1
beberapa sudut kota Cirebon 2

Menjelang sore hari kami melanjutkan perjalanan kami kali ini tujuan kami adalah nasi jamblang Bu Nur yang sangat terkenal itu, mengutip dari http://travel.detik.com/ Nasi jamblang sendiri merupakan kuliner lokal khas Cirebon yang juga masuk dalam 30 Ikon Kuliner Tradisional Indonesia atau IKTI. Ciri khas nasi jamblang terlihat dari penggunaan daun jati sebagai alas piring. Selain terlihat unik, konon kabarnya juga membuat wangi yang lebih sedap.


sumber : http://disbudparporakabcirebon.blogspot.co.id/

Sabar mengantre, giliran pun tiba. Terlihat berbagai pilihan lauk pauk yang dijejerkan dalam barisan mangkuk berukuran besar. Pelayan restoran pun sigap menaruh daun jamblang di atas piring, disusul dengan pertanyaan mau memesan nasi berapa.

Nasi jamblang sendiri tidak jauh beda dengan nasi kucing untuk ukuran nasi, seporsi nasinya sama kecilnya. Kalau Anda suka makan, pesan dua nasi adalah ukuran yang paling normal di sini. Setelah mendapat nasi, kita bebas memilih mau mengambil lauk apa. Boleh bertanya, lauk rekomendasi di Nasi Jamblang Ibu Nur adalah cumi saus hitam (blakutak), otak sapi goreng, perkedel kentang kering, sate kentang, dan pepes telur asin. Apapun yang menjadi pilihan Anda, pastikan untuk dihabiskan ya.


Di akhir pilihan lauk pauk pun sudah menanti kasir yang siap menghitung pesanan Anda. Metode makan nasi jamblang pada umumnya adalah pilih lauk, bayar di depan, baru makan. Untuk minum, cukuplah segelas es teh manis yang tentunya menyegarkan.


Tantangan berikutnya adalah mencari tempat duduk pada jam makan siang yang cukup ramai. Setelah dapat tempat duduk, nasi jamblang pun dapat segera disantap. Urusan nasi rasanya memang biasa, tapi soal kenikmatan lauknya jangan ditanya. Dahsyat!

Kenikmatan menyantap nasi jamblang pun makin terasa dengan sendokan sambal merah yang dapat diminta saat awal memesan. Rasa sambalnya pun tidak pedas, namun makin menambah nikmat sensasi menyantap nasi jamblang.
Ambil sendiri setelah itu di hitung

Soal harga pun cukup terjangkau. Anda bisa melihat lauk beserta harganya yang telah tertera di salah satu tembok. Tapi kalau Anda kalap memesan lauk ya jatuhnya bisa mahal juga. Kalau mampir ke Cirebon lagi, Nasi Jamblang Ibu Nur pasti akan didatangi kembali.

Namun jika Anda ingin mencicipi Nasi Jamblang Ibu Nur, usahakan datang sebelum makan siang atau harus sabar mengantre. Saking terkenalnya, antreannya tidak kalah mengular seperti mau naik bianglala loh. Tapi ada perjuangan memang ada rasa.
Nasi jamblang + Blakutak ireng

21 Mei 2013

Malbi Khas Palembang

Daging malbi khas Palembang

RESEP MALBI

Malbi merupakan hidangan masakan daging khas masyarakat Palembang, Sumatera Selatan. Aslinya memang terdapat banyak variasi bumbu yang digunakan, ada pula berkuah pekat seperti semur daging. Menu ini biasa disajikan saat hajatan atau kenduri dan hari raya karena sangat enak dimakan bersama ketupat atau lontong. Berikut kreasi sederhana membuat malbi daging sapi.

Bahan dan Bumbu :
  • 500 gram daging sapi, iris-iris
  • 1 buah kelapa tua, kupas kulit ari, parut
  • 4 cm jahe, memarkan
  • 5 butir bawang merah, haluskan
  • 2 siung bawang putih, haluskan
  • 1 sendok teh ketumbar, haluskan
  • ½ sendok teh pala halus
  • 3 butir cengkih
  • 15 gram gula merah
  • 15 gram asam jawa, larutkan sedikit air
  • garam dan kecap manis secukupnya
CARA MEMBUAT MALBI KHAS PALEMBANG :
  1. Peras setengah bagian kelapa parut untuk diambil airnya, sisanya disangrai lalu dihaluskan.
  2. Tumis bawang merah, bawang putih dan ketumbar lalu masukkan jahe, tumis hingga harum. Masukkan irisan daging, aduk lalu masak hingga kecoklatan.
  3. Tambahkan pala halus dan cengkeh, beri sedikit air, gula merah, air asam setelah air mulai mengering. Masukkan santan, garam, kecap manis, aduk rata. Masak sebentar lalu angkat dan sajikan.
sumber resep : http://resepmasakankreatif.blogspot.co.id/

20 Mei 2013

Kebudayaan Seni Tari Pencak (Kestapes) Silat Bunga Rampai


keluarga besar kebudayaan seni tari pencak silat Bunga Rampai sumber http://pencaksilatbungarampai.blogspot.co.id/


yang merupakan pencak silat asli dari Palembang ini termasuk perguruan yang sudah lama berdiri, sebelum banyak pencak silat dari Jawa yang masuk ke Palembang dulu banyak masyarakat yang mengguanakan pencak ini untuk beladiri ataupun sekedar pergaan seni saat acara pernikahaan atau acara besar lainnya.

sespun perguruan bunga rampai sumber : http://kestapesbungarampai.blogspot.co.id/

Silat yang memiliki sekretariat di Jl Dr M Isa Lr KI AA kuto batu, berlatih pada malam hari yaitu pada Senin malam, Kamis Malam dan Jumat Malam.

Dengan jumlah anggota di sekretariat +/- 100 orang perguruan ini sering tampil untuk mengisi acara-acara baik secara individu ataupun resmi pemerintahaan, dengan seragam khas pesilat hitam-hitam membuat perguruan ini juga sering mengisi acara-acara adat di Palembang.
Saat mengisi acara pernikahan sumber : http://kestapesbungarampai.blogspot.co.id/
http://kestapesbungarampai.blogspot.co.id/
Selain di sekretariat ada beberapa cabang yang telah di buka oleh Pencak Silat Bunga Rampai ini yaitu di daerah 1 Ulu, Makrayu dan beberapa tempat lainnya.
Dalam pembinaan sama seperti pencak silat lainnya ujian kenaikan tingkat di lakukan 6 bulan 1 x.

Perguruan Silat Bunga Rampai : Erwin Pelatih : Zaenal Nafiz 0711-7793084.









Untuk lebih lengkap mengenai silat Palembang bisa klik : 
https://silatpalembang.blogspot.co.id/
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...