CANTUMKAN SUMBERNYA JIKA MENGGUNAKAN GAMBAR ATAU ARTIKEL DARI BLOG INI - HORMATI HAK CIPTA ORANG LAIN.

03 Agustus 2012

Sejarah Hotel Sanjaya Palembang

Hotel Sandjaja Palembang saat ini
ERA 1980-an, ketika rumah toko (ruko) mulai menjadi alternatif dalam bisnis konstruksi –sebelumnya, tidak begitu menarik karena keluasan lahan masih mencukupi—di Palembang, banyak pengembang menerapkan konsep 2:1, 3:1, atau 4:1. Artinya, pengembang tidak perlu membeli lahan untuk membangun rukonya, tetapi membagi bangunan –hitungan pintu—dengan pemilik lahan. Siapakah orang yang memulai konsep bisnis serupa itu dan kapan dimulainya?

Saya sempat terperangah, saat tahu bahwa tokoh yang mengawalinya adalah seorang perempuan, dan waktunya mulai 1950, ketika belum satu dasawarsa kita merdeka. SIAPAKAH perempuan itu? Dia bernama Tan Ho Nio atau Nellywati. Perempuan kelahiran 2 Agustus 1919 ini merupakan putri bungsu Tan Kim Lie, yang merupakan salah seorang pengusaha konstruksi yang cukup berpengaruh di Palembang pada paruh awal abad ke-20.

Salah satu karya sang ayah adalah Markas CPM di kawasan Talangkerangga. Apabila merunut sejarah karya ayahnya, adalah wajar apabila perempuan ini kemudian menekuni bisnis konstruksi. Semasa masih gadis, Nelly biasa membantu ibunya, Liem Tuan Nio, yang membuat kue-kue untuk dijual ke daerah Uluan Palembang. Selain kue, Liem Tuan Nio juga menjual kecap dan bahan kain, melalu kakek Nelly. Sang kakek, Tan King Hien, merupakan salah seorang saudagar Palembang yang biasa membeli hasil bumi di wilayah Uluan dan menjual barang-barang kebutuhan pokok serta tekstil untuk daerah itu, dengan menggunakan kapal. Cukup usia, Nelly menikah dengan Ong Boen Cit, yang merupakan salah satu pengusaha karet besar di Sumatera Selatan pada dekade.

Dia bahkan tidak hanya menggunakan rakit curah, tetapi juga membangun gudang permanen di kawasan Sekanak. Hingga kini, bangunan gudang itu masih ada dan dikenal sebagai Gudang Buncit. Sebelumnya, kita lihat dahulu latar belakang sosial ekonomi Palembang pada masa 1910-1940-an. Keresidenan Palembang memang terkenal sebagai salah satu daerah kuasa Hindia Belanda yang makmur karena karet. Pada tahun 1915, ekspor karet dari Palembang sekitar 140 ton lateks. Namun, sekitar tahun 1926, ekspor karet meningkat hingga 100 kali lipat (Peeters; 1997: 103).

Pada masa ini, kapal roda lambung merupakan salah satu sarana penting dalam mata rantai perdagangan di Keresidenan Palembang. Dari kawasan Sungai 3-4 Ulu, tempat tinggalnya, Tan King Hien, mengatur bisnisnya. Berdasarkan catatan sejarah, pemukiman Cina di pedalaman –terkait erat dengan hubungan perdagangan—mulai dibangun mulai tahun 1873. Kawasan pemukiman untuk perdagangan itu meliputi Tebingtinggi, Lahat, dan Muaradua (Peeters; 1997: 61).

Baru kemudian, berkembang beberapa kawasan lain di sepanjang aliran anak Sungai Musi. Kapal kincir atau sering disebut pula kapal roda lambung yang melayari aliran Sungai Lematang, Sungai Ogan, dan Sungai Komering menjadi jalur lintas perdagangan kawasan Uluan dan Iliran dengan Palembang sebagai pusat perdagangan. Pelayaran komersial yang mulai berlangsung pada 1880-an itu, pada pergantian abad dilakukan setidaknya oleh enam belas kapal, yang terdiri atas enam kapal milik pedagang Palembang, dan sepuluh milik pedagang Cina (Peeters; 1997: 62-66). Salah satunya adalah milik Tan King Hien.Perdagangan dengan kapal roda lambung mengalami kemerosotan pada dekade tahun 1920-an. Ini seiring dengan pembangunan rel kereta api (KA) yang menghubungkan Palembang-Telukbetung, yang rencana pembangunannya dimulai sekitar tahun 1909.

Pembangunan rel KA ini dimaksudkan sebagai upaya membuka peluang penanaman modal asing di wilayah pedalaman. Walaupun, apabila dilihat dari kondisi konsorsium pedagang Eropa yang kalah bersaing dengan pedagang Cina dan Palembang pada masa itu, pembukaan rel ini merupakan salah satu strategi pemerintah kolonial untuk meminimalkan peran pedagang Cina dan Palembang lewat jalur sungai. Pembangunan rel oleh Zuid Sumatra Staatsspoorwegen (ZSS) yang dimulai tahun 1912 itu kemudian membuka hubungan antara Palembang-Telukbetung, dengan cabang Prabumulih ke Muaraenim. Terjadilah “revolusi” sarana angkutan, dari perahu dan gerobak ke mobil dan kereta api. Perdagangan dengan kapal roda lambung benar-benar lumpuh pada dekade 1930-an (Peeters; 1997: 133-135).

Menikah dan Berusaha Tahun 1940, Ong yang telah menduda karena istrinya, Cik Ayu, meninggal dunia, berusaha mencari istri. Atas kehendak keluarga, Ong dijodohkan dengan Nelly. Mendiang Cik Ayu masih terbilang sebagai bibi Nelly. Saat diboyong ke rumah Ong Boen Cit, Nelly diberi sangu uang sebesar Rp500,00 oleh orangtuanya. Uang ini kemudian ternyata mengubah kehidupan Nelly selanjutnya, justru setelah satu dasawarsa pernikahan mereka. Memasuki dua tahun hidup berumah tangga, tentara Dai Nippon menduduki Indonesia, termasuk Palembang. Bangka, yang diduduki pada 13 Februari 1942, menjadi “batu loncatan” bagi pasukan yang semula mengaku sebagai “Saudara Tua” ini untuk menduduki Palembang. Sehari kemudian, menjelang subuh, Jepang menerjunkan 600-700 personel paramiliternya di Palembang. Masa ini merupakan salah satu periode buruk dalam sejarah perekonomian dan sosial bangsa Indonesia. Krisis ekonomi yang berimbas kepada kekurangan sandang dan pangan pun melanda wilayah Indonesia, termasuk Palembang. Pada masa ini pula, banyak warga yang menjual apa saja harta yang dimilikinya agar dapat membeli makanan. Jual beli barang, terutama benda berharga serupa perhiasan, dilakukan melalui perantara, yang dikenal sebagai cengkau (Palembang: tukang ulo).

Semula, Nelly terpanggil untuk membantu dan memanfaatkan uang simpanannya untuk membeli perhiasan yang ditawarkan kepadanya. Namun, semakin banyak orang yang datang kepadanya, sehingga menjadi “bisnis” yang dilakoni selama tahun 1942, hingga Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945. Uang simpanan itu pun berkembang, dan selanjutnya dimanfaatkannya untuk membeli tanah dan bangunan toko di Jl. Tengkuruk (masa penjajahan namanya Schoolweg atau Jalan Sekolah). Sepuluh tahun menikah, pasangan Ong-Nelly baru dikaruniai seorang putri, Ong Tjen Tju alias Yenny Ong, yang lahir pada 23 Juli 1950. Namun, kebahagiaan pasangan ini tidak berlangsung lama. Sekitar lima bulan kemudian, 12 Desember 1950, Ong Boen Cit meninggal dunia. Mulailah perempuan ini berusaha, dengan segala kemampuannya. Modalnya, tanah dan bangunan yang telah dibelinya semasa menikah plus dua bentuk perhiasan yang belum terjual oleh cengkau. Singel Parent SEBAGAI anak bungsu, dapat dikatakan Nelly sangat dekat dengan ayahnya. Hal ini berdampak kepada minat dan kemampuannya. Sejak kecil, dia sangat tertarik kepada hal-hal yang berkaitan dengan konstruksi. Hal ini berbeda dengan dua kakak perempuannya, Tan Hok Nio alias Bandung Wati dan Tan Tjiang Nio alias Noni.

Semasa kanak-kanak, Nelly kerap diajak ayahnya melihat-lihat bangunan yang ditangani sang ayah. Salah satunya, Markas CPM di Talangkerangga. Kegemaran pada konstruksi ditambah kemampuan bisnis yang mengalir dari darah kakek dan ayahnya, membuat Nelly mulai mereka-reka apa yang dapat diperbuatnya. Saat itu, sepanjang Jl. Jenderal Sudirman, belum ada gedung-gedung dalam ukuran besar dalam perspektif bisnis. Nelly mulai melakukan pendekatan dengan pemilik tanah di sepanjang tepian jalan, yang dahulu dikenal sebagai kawasan Talang Jawa Lama itu. Nelly kemudian menawarkan konsep pembagian antara pihak pembangun dan pemilik tanah dengan sistem 2:1. Ternyata, tawaran ini mendapat sambutan yang sangat baik. Mulailah Nelly membangun gedung, terutama pertokoan di sepanjang Jl. Jenderal Sudirman. Ternyata kemudian, banyak orang yang datang kepadanya, menawarkan tanah untuk dibangun dengan sistem bagi hasil, yang kala itu dinilai pemilik tanah sangat menguntungkan.

Toko Buku Sumber Djaja. Konstruksi dan Konstruksi KONSEP bisnis konstruksi Nelly, dengan bendera NV Djaja Sempurna, terus mengalami kemajuan. Bahkan, setelah dia mengelola Hotel dan Restoran Sandjaja, bisnis itu terus berjalan. Dia sempat membangun Gedung Bank Indonesia, Bank Rakyat Indonesia plus tiga unit rumah untuk karyawan bank itu, dan gedung Pengadilan Tinggi Palembang. Hingga pertengahan dekada 1950-an, bendera NV Djaja Sempurna terus berkibar. Bisnis konstruksi Nelly, dengan sistem bagi hasil 2:1, membuatnya semakin dikenal dan dipercaya mitra bisnis. Dari sini pula, Nelly yang memutuskan untuk tetap menjadi orangtua tunggal bagi Yenny Ong, mulai membeli bangunan dan tanah.

Dua di antara asetnya, adalah satu unit bangunan dan sebidang tanah di Jl. Kapten A. Rivai. Menjelang akhir tahun 1950-an ini, Pemerintah baru membuka akses jalan dari Boom Baru ke Jl. Merdeka, yang kini dikenal sebagai Jl. Perintis Kemerdekaan, Jl. Veteran, dan Jl. Kapten A. Rivai. Namun, jalan itu baru berupa tanah yang dikeraskan. Berdasarkan peta, hingga tahun 1950, ruas-ruas jalan itu belum ada. Nelly memiliki dua bidang tanah di tepi jalan yang sedang dalam tahap pembangunan itu. Kedua lahan ini terpisah oleh sebidang tanah yang menjadi lokasi Penginapan Sindanglaya.

Dikenal sebagai pebisnis dengan NV Djaja Sempurna, yang bergerak di bidang konstruksi sekaligus supplier bahan bangunan, membuat banyak pihak datang kepada Nelly untuk menjalin kerja sama. Menjelang akhir tahun 1957, sebuah perusahaan menghubunginya untuk membeli kantor. Dalam pengertian, NV Djaja Sempurna menyediakan lahan dan bangunan. Perjanjian pun dibuat. Pembayaran dilakukan dalam tiga termin selama satu tahun. Pembangunan pun dilakukan. Termin pertama jatuh tempo, tak ada pembayaran. Termin kedua jatuh tempo, masih belum ada pembayaran. Termin ketiga jatuh tempo, orang dan perusahaan yang memesan justru menghilang. Saat itu, bangunan kantor sudah hampir selesai. Nelly pun memutar otak. Apabila pembangunan kantor ini dilanjutkan, bakal dijadikan apa bangunannya? Pada saat itu, dia memiliki pemikiran yang cukup inovatif. Apabila sepanjang Jl. Tengkuruk, Jl. Jenderal Sudirman, Jl. Kolonel Atmo, dan Jl. Letkol Iskandar menjadi kawasan pertokoan dan perdagangan, jalan yang baru dibuka ini sebaiknya tidak diarahkan pada wilayah bisnis yang sama.

Nelly pun memutuskan untuk membangun hotel. Putar haluan, bangunan yang semula diperuntukkan bagi kantor itu segera diubah bentuknya. Gedung kantor yang hampir jadi itu diubah bentuk dan konstruksinya. Tiga lantai, dengan 22 kamar. Hotel Djaja, cikal bakal Hotel Sandjaja Palembang Penginapan yang kemudian diberi nama Djaja itu kemudian dioperasikan pada 17 Oktober 1958. Pada saat yang bersamaan, Nelly juga membangun restoran di lahan yang berdekatan. Restoran ini kemudian diberi nama San Djaja. Dalam bahasa Mandarin, san berarti tiga. Yang dimaksudnya tiga adalah statusnya dalam keluarga, yang memiliki dua saudara. Sehingga, nama itu dapat mewakili mereka bertiga. Sedangkan jaya, tentu saja mengacu kepada keadaan selalu berhasil, sukses, atau hebat. Kata jaya juga seakan menjadi simbol dari usahanya, mulai dari NV Djaja Sempurna, Toko Buku Sumber Djaja, Hotel Djaja, hingga Restoran San Djaja. Hotel dan restoran inilah yang kemudian menjadi Hotel Sandjaja, seperti yang kita kenal saat ini, setelah dilakukan beberapa kali pengembangan. Inovatif TERKAIT bisnis hotel, boleh dikata Nelly juga memiliki perspektif pemikiran yang sangat maju pada masanya.

Awal dekade 1970-an Pemerintah menerapkan kebijakan dalam Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Pada saat itu, Nelly telah membeli tanah eks-Penginapan Sindanglaya, yang terletak di antara dua gedung miliknya. Di lahan yang semula dimiliki Tjo Sang inilah, Nelly berrencana membangun gedung hotel yang lebih representatif. Dalam pemikirannya, gedung itu memiliki tujuh lantai dengan fasilitas internasional. Saat ini, putri tunggal Nelly, Yenny Ong, telah dewasa dan turut andil dalam manajemen. Atas nama PT Sandjaja, dia pun mengajukan permintaan fasilitas PMDN, yang dalam hal ini pinjaman modalnya dikelola oleh Bappindo. Lewat surat yang ditandatangani pada 10 November 1972, Nelly juga memberikan alasan bahwa dengan rencana perubahan taraf hotel, maka Sandjaja menjadi hotel pioner di bidang kepariwisataan di Palembang.

Pembangunan dan perluasan Hotel Sandjaja berlanjut. Hingga akhirnya, hotel itu memiliki 180 kamar, dengan beberapa kelas. Eks-Restoran San Djaja dijadikan bangunan sayap (wing). Sedangkan eks-Hotel Djaja dijadikan Balairung yang dinamakan Srikandi. Hari bersejarah bagi Nelly, setelah perjuangan panjang sejak 1958, berlangsung pada 17 Oktober 1980. Hari itu, Hotel Internasional Sandjaja diresmikan, ditandai dengan pembukaan selubung prasasti peresmian, yang ditandatangani Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Provinsi Sumatera Selatan, Brigjen H. Sainan Sagiman. Dan, 17 Oktober menjadi tanggal yang sangat penting bagi Nelly dan manajemen Hotel Sandjaja. Pada 17 Oktober 1958, Hotel Djaja dioperasikan.

Pada 17 Oktober 1959, Hotel Djaja diresmikan. Pada 17 Oktober 1980, peningkatan status hotel ke taraf internasional secara resmi diaktifkan. Pembukaan selubung prasasti peresmian pemakaian gedung Hotel Sandjaja. Semangat para pengelola Hotel Sandjaja semakin menyala. Pemakaian gedung baru berlantai tujuh itu menjadi semacam penanda bagi lahirnya semangat baru untuk lebih bergiat memajukan bisnis, bukan hanya di bidang penginapan melainkan juga bidang kepariwisataan.

Kerja keras Nelly, didukung semua staf hotel berbuah manis, dua tahun kemudian. Hotel Sandjaja mendapatkan predikat Hotel Berbintang Tiga pada 3 April 1982. Penyerahan sertifikat dilakukan Gubernur H. Sainan Sagiman, disaksikan Direktur Bina Pelayanan Pariwisata Direktorat Jenderal Pariwisata RI. Hotel Sandjaja mendapatkan predikat bintang tiga bersama Hotel Swarnadwipa Palembang. Pada saat yang bersamaan, Sainan Sagiman juga menyerahkan Sertifikat Hotel Bintang Satu untuk Hotel Sari dan Puri Indah di Palembang, Martani di Belitung, dan Lintas Sumatra di Lubuklinggau. Janji Nelly untuk menjadikan hotelnya sebagai penggerak usaha di bidang kepariwisataan seperti tercantum pada surat permohonan fasilitas PMDN kepada Menteri Keuangan RI sepuluh tahun sebelumnya, 10 November 1972, hari itu terbukti sudah. Sainan Sagiman, dalam kata sambutannya, mengatakan bahwa penyerahan sertifikat hotel berbintang itu merupakan kali pertama di Sumatera Selatan. Hal ini, katanya, merupakan penanda adanya kemajuan dalam pengembangan kepariwisataan di daerah ini. Dia juga mengatakan bahwa prospek kepariwisataan di Sumatera Selatan perlu diperluas, karena merupakan salah satu sumber devisa negara, lapangan penyerap tenaga kerja, dan sarana pengembangan budaya bangsa. Belajar dari sejarah hidup seorang Nellywati, saya sangat bangga terhadap Palembang dan para perempuannya.

Daerah ini tidak hanya punya perempuan perkasa pada masa lalu, seperti Ratu Sinuhun, penulis Kitab Undang-undang Simbur Cahaya, yang hidup pada abad ke-17. Abad ke-20, ketika alam sudah berbeda, Palembang juga melahirkan sosok perempuan perkasa. Tentu, perannya pun sesuai dengan masanya. Saya pun yakin, masih banyak perempuan serupa ini –dengan peran dan posisi berbeda, tentu saja—yang berada di sekitar kita. Tulisan ini disarikan dari buku "Karya Emas Bunda; 50 Tahun Hotel Sandjaja" (Yudhy Syarofie; Hotel Sandjaja Palembang; 2008)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...