CANTUMKAN SUMBERNYA JIKA MENGGUNAKAN GAMBAR ATAU ARTIKEL DARI BLOG INI - HORMATI HAK CIPTA ORANG LAIN.

20 Agustus 2012

Pempek Adaan

Hasil gambar untuk pempek adaan
Pempek Adaan merupakan salah satu jenis pempek palembang yang paling mudah dibuat. Pempek ini berbentuk bulat seperti bakso. Pada dasarnya pempek adaan juga memakai bahan dasar pempek  namuan ditambahkan dengan daun bawang. Selain itu pempek adaan tidak direbus terlebih dahulu seperti pada pempek telorlenjer, dan kapal selem. Pempek adaan langsung di goreng, seperti pempek tahu dan pempek kulit.  bentuknya yang seperti bakso itu pun memilik teknik tersendiri, ada yang memakai dua sendok atau cara lain. tapi percayalah besar dan bentuk pempek adaan tergantung dari besar tangan si pembuatnya. Mau tau cara membuatnya :
Siapkan Bahan:
  • 250 gr ikan yang sudah digiling (tenggiri, gabus, kakap, belida)
  • 120 gr tepung sagu
  • 2 siung bawang putih yang sudah dihaluskan
  • 3 batang daun bawang kecil, diiris tipis
  • 1 butir telur ayam
  • 100 ml air
  • garam secukupnya
  • santan kelapa dan merica secukupnya
  • minyak goreng secukupnya
Cara Membuat Pempek Adaan :
  • Campurkan ikan yang sudah di haluskan dengan garam, merica, telur, dan daun bawang. Tambahkan tepung dan diaduk sampai rata. seperti membuat bahan dasar pempek. bagi yang menggunakan santan, juga di campur sampai rata.
  • Setelah semuanya tercampur, tinggal membulatkannya.
  • Genggam adonan, remas-remas, dan tekan sehingga adonan keluar perlahan dari bagian atas tangan, seperti gambar di bawah ini.
resep pempek adaan palembang  Resep pempek adaan palembang - Cek Dung
  • Setelah adonan berbentuk bulat keluar dari tangan maksimal. Ambil adonan bulat tersebut dengan menggunakan sendok. seperti pada gambar di bawah ini, dan langsung di masukkan ke dalam gorengan dengan minyak yang sudah memanass di atas api yang sedang.
pempek kemplang cek dung-resep pempek adaan 3
 Tips Membuat Pempek Adaan :
  • Adonan dasar jangan terlalu lembut dan juga jangan terlalu keras.
  • Gunakan sendok yang tebal agar tidak menyakiti tangan. Dan celupkan sendok pada air agaar tidak lengket.
  • Untuk penggunaan bumbu dapat dilakukan sesuai selera.
Semoga bermanfaat, mohon masukannya dan selamat mencoba.

13 Agustus 2012

Sekilas Sejarah Perss di Palembang

Harian umum Sumatera Ekspress tahun Maret 1984

TIDAK banyak catatan mengenai sejarah pers di Palembang. Tapi, sangat dipercaya pers di Palembang sudah ada sejak pertengahan abad 19. Buku Beberapa Segi Perkembangan Sejarah Pers di Indonesia (Kompas, 2002), menyebutkan pada masa kolonial Hindia Belanda di Palembang telah terbit surat kabar Nieuws en Advertentie blad voor de Residentie Palembang, Djambie en Banka pada 1893.

Surat kabar ini disebutkan terbit dua kali dalam sepekan dan diperuntukan kepentingan perusahaan minyak di Palembang. Menurut Tribuana Said dalam bukunya Sejarah Pers Nasional dan Pembangunan Pers Pancasila (1988, halaman 26) disebutkan pada 1830 adalah seorang pengusaha pribumi pertama di Indonesia yang memiliki mesin cetak. Namanya Kemas Mohammad Asahari. Tapi, berbeda dengan Tirto Hadisoerjo alias Djokomono di Bandung dan Serikat Tapanoeli di Medan, Kemas Mohammad Asahari tidak menerbitkan koran atau surat kabar.

Siapa Kemas Mohammad Asahari? Menurut budayawan dan sejarawan Palembang, Djohan Hanafiah, Kemas Mohammad Asahari seorang konglomerat pada masanya. Dia memiliki banyak rumah dan usaha.

Diperkirakan Djohan, Kemas Mohammad Asahari ini menetap di kampung, yang kini disebut kampung 22 Ilir, di Palembang. “Anak-anaknya banyak sekolah hingga ke Belanda. Salah satunya Ali Asahari yang pernah menjadi dosen saya di Universitas Sriwijaya. Dan keluarganya banyak menetap di Bandung,” kata Djohan.
Tribuana Said yang mengutip dari arsip Perpustakaan Nasional, menyebutkan di Palembang pada 1919 telah terbit surat kabar Teradjoe yang diterbitkan Sarekat Islam Palembang.

Lalu, menurut Basilius, dalam artikelnya Media Cetak Jaman Penjajahan, yang dimuat www.forumbebas.com pada 2 Juni 2008, pada tahun 1920-an, di Palembang telah terbit Obor Rakjat, Tjahaya Palembang, dan Pertja Selatan. Dan, masa kejayaan pers di Palembang berlangsung dari tahun 1926 hingga 1939. Kejayaan tersebut dapat diwakili dari surat kabar Pertja Selatan.

Pada 1 Juli 1926 di bawah bendera N.V. Peroesahaan Boemipoetra Palembang terbitlah surat kabar Pertja Selatan.
Pada masthead tercantum KM. Adjir sebagai direktur, dan administrateur (administrasi) Kiagoes Mas’oed. Lalu sebagai redacteur (redaktur) atau penanggung jawab redaksi adalah Raden Mas Ario (R.M.A) Tjondrokoesoemo.

Sejak awal, Pertja Selatan menjadi satu-astunya surat kabar yang beredar di Palembang, yang berani mengkritik pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Wartawan maupun korannya beberapa kali diperingati atau mendapat sanksi oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda. Bahkan, Tjondrokoesoemo, seorang wartawan yang berani, terpaksa diganti oleh Mas Arga, setelah mendapat tekanan dari pemerintahan colonial tersebut.
Pertja Selatan berakhir setelah Jepang masuk ke Indonesia, khususnya di Palembang.Sebab hampir semua surat kabar yang terbit di masa colonial Hindia Belanda diberangus atau dibubarkan oleh Jepang.

Di masa pendudukan Jepang, di Palembang terbit surat kabar Shimbun Palembang. Surat kabar ini tentu saja dibuat untuk kepentingan para Jepang, sehingga selama proses pembuatan, pencetakan, hingga penyebaran di bawah pengawasan para penguasa Jepang.

Nungcik Ar tercatat sebagai pimpinan Shimbun Palembang. Setelah Indonesia merdeka, Nungcik Ar bersama sejumlah wartawan lainnya yang sebelumnya bekerja di Shimbun Palembang menerbitkan Soematra Baroe pada 5 September 1945, kemudian pada Juni 1946 namanya berganti menjadi Obor Rakjat yang salah seorang pemimpin redaksinya Adnan Kapau (AK) Gani, yang kemudian menjadi tokoh PNI, dan menteri dalam kepemimpinan Soekarno-Hatta di Jakarta (Tribuana Said, Sejarah Pers Nasional dan Pembangunan Pers Pancasila, 1988).

Sama seperti Pertja Selatan, surat kabar Obor Rakjat juga dikenal sebagai media yang melawan atau kritis. Para redakturnya pada masa pendudukan Inggris (NICA) di Palembang, beberapa kali dipanggil dan diperingatkan oleh NICA. Bahkan, pada masa Agresi Meliter Belanda I, tahun 1947, kantor Obor Rakjat ditembaki oleh serdadu Belanda.

Meskipun Obor Rakjat berganti nama menjadi Harian Oemoem, dan terakhir menjadi Soeara Rakjat, mereka tetap mendapat tekanan pihak Belanda maupun kaum sparatis proBelanda. Bahkan seorang wartawan Soeara Rakjat yakni Idrus Nawawi ditahan pihak meliter Belanda.

Pasca Agresi Meliter Belanda II, pers di Palembang, seperti juga kondisi umum pers nasional saat itu, mulai melakukan apiliasi dengan organisasi politik, dan tumbuh sesuai aliran atau ideology masing-masing. Sejak itu pula pers di Palembang mengalami polarisasi. Misalnya koran-koran yang diterbitkan kekuatan Masyumi, PKI, dan PNI.
Beberapa surat kabar yang terbit per 15 Juli 1948 di Palembang, antara lain Soeara Rakjat yang terbit harian, Fikiran Rakjat yang terbir tiga kali dalam sepekan, Kesatoean Indonesia dan Soeasana yang terbit mingguan, serta Obor Rakjat yang terbit berkala.
Di akhir tahun 1950-an, terjadi pembreidelan sejumlah surat kabar di Palembang.

Pembridelan ini tentu saja dinilai telah bertentangan dengan kebijakan pemerintahan Soekarno. Pada 12 April 1959, surat kabar Pembangunan Palembang dibriedel, 29 April 1959 Suara Rakyat Sumatra juga dibriedel dan penahanan terhadap wartawannya Idrus Nawawi. Pada 2 Agutus 1959, Obor Rakjat dibridel. Setahun sebelumnya, di Jakarta, surat kabar Indonesia Raja yang dipimpin Mochtar Lubis juga dibriedel, menyusul pula Pedoman dan Abadi.

Menjelang peristiwa 30 September 1965, wartawan yang dikenal antikomunis yakni B. Yass dan Hamdani Said, yang memimpin surat kabar Batang Hari Sembilan, dipecat sebagai anggota PWI pada 13 Mei 1965. Satu hari setelah peristiwa 30 September 1965, PWI memecat dan membrediel wartawan dan surat kabar yang dinilai terlibat dalam peristiwa 30 September 1965 atau pada masa Orde Lama berada dalam satu kelompok dengan pihak komunis. Surat kabar yang dibridel atau dilarangan terbit itu adalah Fikiran Rakjat dan Trikora dilarang terhitung sejak 1 Oktober 1965. Beberapa hari kemudian, 23 Oktober 1965, 16 wartawan harian Fikiran Rakjat dipecat oleh PWI. Di antaranya, M Uteh Riza Yahya, H.H. Syamsuddin, R. Abubakar H. R, dan Abdullah Hasan.
Setahun kemudian, suhu politik terus meningkat. Beberapa pendukung Soekarno tetap melakukan perlawanan, Termasuk para wartawannya. Djohan Hanafiah, yang tercatat sebagai wartawan surat kabar Panji Revolusi sempat ditahan, lantaran dirinya dan beberapa wartawan dari media yang berapiliasi ke PNI itu dituduh merusak atau merobek surat kabar yang mendukung Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto.

Tahun 1970-an, surat kabar yang terkait dengan masa perjuangan dan kemerdekaan Indonesia tampaknya sudah mati. Beberapa surat kabar yang baru muncul, seperti Suara Rakyat Semesta, Sumatera Ekspres, dan Garuda Post.

Digambarkan Soleh Thamrin, pendiri harian Sriwijaya Post atau disingkat namanya menjadi Sripo, campur tangan pemerintah terhadap pers di Indonesia di masa Orde Baru tidaklah berbeda di masa colonial Hindia Belanda, Jepang, maupun Orde Lama. Beberapa pers di nasional merasakan “tangan besi” pemerintahan Soeharto. Misalnya yang dialami harian Indonesia Raja pimpinan Mochtar Lubis yang kembali dibridel pada tahun 1974.

Bersama pula dibriedel sejumlah surat kabar seperti Kami, Abadi, The Jakarta Times, dan mingguan Wenang dan Pemuda Indonesia. Pembriedelan ini terkait masalah Malari (Malapetaka Limabelas Januari).

Pascapembriedelan itu, pers di Indonesia, termasuk di Palembang, seakan “mati”. Banyak surat kabar tidak berani mengkritik secara terbuka kepemimpinan Soeharto. Dapat dikatakan kehidupan pers, seperti hanya melayani kemauan dari pemerintah.
Lebih jauhnya, profesionalitas para wartawan menurun. Mereka yang “frustasi” lantaran kebebasannya tersumbat, akhirnya lebih memilih menjadikan profesi wartawan sebagai alat “pemeras” buat para pejabat atau pengusaha yang bermasalah. Para wartawan ini bekerja sama dengan para pemegang kebijakan atau pemegang hukum dalam menjalankan fungsi negatifnya tersebut. “Masyarakat benar-benar tidak mendapatkan informasi yang benar atau meluas. Mereka seakan hanya boleh membaca informasi yang dikeluarkan pemerintah,” kata Soleh.

Kondisi tersebut diperparah, banyaknya surat kabar di Palembang, penerbitannya tidak sehat. Dapat dikatakan penerbitan sangat tergantung dari pemasukan dana iklan yang minim, atau adanya bantuan dari pemerintah. Tahun 1980-an akhir hingga 1990-an, muncul sejumlah wartawan muda yang bermimpi ingin melahirkan surat kabar yang benar-benar berfungsi sebagai media massa.

Soleh Thamrin sendiri salah satu wartawan muda di Palembang yang memiliki keinginan tersebut. Dia pun memulai tahun 1986 dengan menerbitkan harian Radar Selatan bersama sejumlah wartawan. Harian ini berusia 11 bulan. Harian Radar Selatan terbit bersama Sumatera Ekspres, Garuda Post, dan Suara Rakyat Semesta, yang lebih dulu terbit di Palembang.

Selanjutnya dengan dukungan teman-teman baru yang dinilai lebih idealis, tahun 1987, Soleh Thamrin menerbitkan surat kabar Sriwijaya Post. Tak lama kemudian, surat kabar ini bekerjasama dengan harian Kompas.

Selama kurun waktu 1980-an akhir hingga awal 1990-an, Sriwijaya Post menjadi satu-satunya harian di Palembang yang paling digemari masyarakat Palembang. Sebab selain berpenampilan bagus dengan kualitas cetak terbaik, pemberitaan di Sriwijaya Post juga lebih kritis, khususnya terhadap sejumlah kebijakan yang dijalankan pemerintah.
Memang, kritik-kritik yang disajikan Sriwijaya Post sedikit lebih elegan atau halus.

Jurnalisme yang dijalankan seperti jurnalisme sastra, yang mana banyak menggunakan narasi, perumpanan dan gambaran, tanpa menggunakan kalimat-kalimat langsung seperti halnya surat kabar di Palembang yang sebelumnya dikenal keras seperti Pertja Selatan atau Obor Rakjat. Di sisi lain, para pimpinan Sriwijaya Post, juga treys melakukan komunikasi dengan oara pejabat sehingga mereka terhindar dari jeratan pembriedelan.
Sepandai-pandainya belut berkelit, akhirnya terkena juga.

Harian Sriwijaya Post digoyang melalui penyusupan ke dalam tubuh perusahaan. Melalui karyawannya isu kritenisasi dan pembagian saham akhirnya membuat harian itu terhenti terbit selama satu tahun lebih. Selanjutnya mereka mencoba bertahan hidup hingga hari ini. Lawannya bukan lagi kekuasaan, tapi kekuatan modal.

Pesaing Sriwijaya Post yakni Sumatera Ekspres yang sebelumnya hidupnya tak menentu, akhirnya mendapatkan nasib baiknya setelah dikelola Harian Media Indonesia, dan kemudian dibeli dan dikelola oleh Jawa Pos.

Setelah Soeharto jatuh, 1998, Sumatera Ekspres dan Jawa Pos banyak melahirkan sejumlah surat kabar baru seperti Palembang Pos, Radar Palembang, Palembang Ekspres, dan Mingguan Monica.

Kejatuhan Soeharto yang disusul bubarnya Departemen Penerangan dan gugurnya SIUPP, memang membuat insan pers di Indonesia seperti mendapatkan durian runtuh. Mereka pun ramai-ramai membuat surat kabar baru. Baik harian, mingguan, tabloid atau majalah.

Di Palembang, juga terjadi booming surat kabar. Sejumlah wartawan yang sudah berpengalaman atau baru, berkolaborasi dengan sejumlah pengusaha kuat atau sedang, membuat sejumlah surat kabar. Surat kabar yang diterbitkan baik berupa harian, mingguan, majalah, tabloid, hingga “tempo terbit, tempo tidak”.

Namun, sejalan dengan persaingan bebas itu, tampaknya yang memiliki modal kuat yang tetap bertahan. Harian yang dikelola Jawa Pos mungkin yang dapat bertahan dengan baik. Sementara harian milik pemodal lemah, seperti yang dibangun wartawan Afdhal Azmi Djambak, sebelumnya bekerja di Sriwijaya Post, yakni Transparan, dapat dikatakan sebagai satu-satunya surat kabar yang lahir setelah Soeharto jatuh yang tetap bertahan.
Kalaupun ada surat kabar baru yang bertahan baik adalah Berita Pagi, sebuah surat kabar yang didirikan oleh Alex Noerdin, kini menjadi gubernur Sumatra Selatan.
Selain persoalan modal, di masa era kebebasan pers ini, ancaman kekerasan terhadap pers datangnya bukan hanya dari pemerintah. Tetapi dari kelompok sipil. Mulai dari preman, sipil bersenjata, organisasi massa, mahasiswa, hingga aktifis LSM.

Sriwijaya Post, Transparan, atau Sumatera Ekspres, pernah merasakan bagaimana kantor mereka diseruduk preman lantaran memberitakan soal perjudian illegal. Sementara di lapangan, juga banyak terjadi aksi kekerasan terhadap wartawan.

Masa reformasi juga melahirkan banyak organisasi wartawan. Bila sebelumnya hanya PWI yang menjadi organisasi wartawan, maka organisasi semacam Aliansi Jurnalis Indepeden (AJI) yang di masa Soeharto disebut sebagai organisasi terlarang mendapatkan pengakuan legalnya. AJI Palembang sendiri berdiri beberapa bulan sebelum Soeharto lengser. Pada saat BJ Habibie menjadi presiden, beberapa organisasi wartawan lainnya lahir, seperti PWI Reformasi, Ikatan Jurnalis Televisi Independen (IJT), dan lainnya.

Di sisi lain, booming surat kabar tersebut menyebabkan profesionalitas wartawannya rendah. Banyak wartawan yang diterjunkan di lapangan, sebelumnya tidak diberikan pelatihan ilmu jurnalistik maupun etika sebagai jurnalis oleh perusahaan tempat wartawan itu bekerja. “Banyak wartawan yang tidak dibekali ilmu jurnalistik dan etika profesi wartawan, sehingga saat di lapangan mereka berperilaku tidak baik, dan tidak mengetahui batasan informasi publik dan privasi sehingga terjadi gesekan antara mereka dengan sumber berita atau masyarakat,” kata Soleh Thamrin.

Memasuki abad millennium ketiga, surat kabar di Palembang bukan hanya menghadapi persaingan modal, ancaman kekerasan, profesionalitas pekerjanya, juga perkembangan teknologi yang menyebabkan persaingan penyediaan informasi kian meningkat.
Keberadaan internet dan televisi, misalnya, menyebabkan surat kabar harus mampu menyajikan berita lebih mendalam dan menarik, sebab media internet atau media online dan televisi telah memberikan penyajian berita secara cepat.

Dari puluhan media massa di Palembang dan sekitarnya, tampaknya hanya Sriwijaya Post dan Sumatera Ekspres yang memanfaatkan secara optimal atau serius. Sriwijaya Post dengan www.sripoku.com dan Sumatera Ekspres dengan situs ww.sumeks.co.id.

Persaingan di dunia internet ini juga tidak gampang. Surat kabar selain mengimbangi media online, juga harus berhadapan dengan weblog atau situs pribadi, serta jejaringan social, yang terkadang memberikan pertukaran informasi antarmasyarakat lebih cepat dari media massa online sekalipun.

Lalu, bagaimana surat kabar di Palembang akan bertahan di masa mendatang? Mungkin terlalu sulit buat menebaknya.

*Taufik Wijaya adalah Kontributor Majalah PANTAU

Sumber tulisan :  oleh taufik wijaya  tavernpalembang.blogspot.com

12 Agustus 2012

Kelenteng 10 Ulu Palembang 1947

Kelenteng Candra Nadi di kawasan 10 Ulu 1947 Foto : palmboom.devise.nl

Klenteng yang dibangun di kawasan 10 Ulu pada tahun 1733, sebagai ganti klenteng di kawasan 7 Ulu yang terbakar setahun sebelumnya itu, menyimpan banyak cerita melalui berbagai masa.

Menurut Princeps, Sekretaris III Yayasan Dewi Pengasih Palembang, selaku pengelola klenteng Chandara Nadi, klenteng itu digunakan umat dari tiga agama dan kepercayaan untuk berdoa. Ketiga agama dan kepercayaan yang diakomodasi di klenteng ini adalah Buddha, Tao, dan Konghucu.

Memasuki Klenteng Chandra Nadi, aroma hio wangi langsung menusuk ke hidung. Hio-hio itu dipasang di altar Thien. Thien secara harfiah berarti ’langit’. Namun oleh sebagian penganut Konghucu dan Buddha, thien juga disebut sebagai Tuhan Yang Maha Esa.

Melangkah masuk ke dalam, di altar Dewi Maco Po atau penguasa laut (juga disebut sebagai dewi yang menguasai setan dan iblis) dan altar Dewi Kwan Im atau penolong orang yang menderita sudah tersusun secara berurut. Di altar Dewi Maco Po sering diadakan upacara Cio Ko untuk meminta izin membuka pintu neraka agar dapat memberi makan kepada arwah yang kelaparan.

Setelah altar Dewi Kwan Im, para pengunjung klenteng dapat melihat altar Sakyamoni Buddha (Sidharta Buddha Gautama), altar Bodhisatva Maitreya (calon Buddha), altar Dewi Kwan Tee (pelindung dharma), altar Dewi Paw Sen Ta Tee atau dewi uang dan pemberi rezeki. Kemudian altar Dewi Chin Hua Niang Niang atau Dewi Mak Kun Do, altar Giam Lo Ong (raja neraka), dan altar Dewa Toa Pek Kong berbentuk macan. Di bagian belakang klenteng terdapat satu altar yang berisi kumpulan berbagai patung titipan umat dan altar Ju Sin Kong, pelindung Kota Palembang dan diyakini beragama Islam.

Dewi penyembuh


Bagi mereka yang percaya, Dewi Kwan Im di klenteng ini dapat dimintai tolong untuk penyembuhan penyakit. Menurut Princeps, ada seorang umat yang menderita kanker rahang dan berdoa ke Dewi Kwan Im, lalu umat itu minta obat kepada petugas klenteng.

Obat diberikan dengan cara mengocok sekumpulan batang bambu kecil yang diberi nomor. Nomor yang terambil akan ditulis di kertas semacam resep untuk ditukarkan dengan racikan obat di toko obat yang ditunjuk.Menurut Princeps, obat itu ternyata manjur dan mampu menyembuhkan umat yang menderita kanker rahang.

Sementara di altar Dewi Mak Kun Do, biasanya, disinggahi para wanita untuk meminta anak. Riana, warga Kenten, Palembang mengatakan, dia berdoa di altar Mak Kun Do untuk meminta anak laki-laki karena ia sering mendengar banyak doa minta anak dikabulkan.
Salah satu keunikan klenteng itu adalah ramalan nasib. Seperti untuk

mendapatkan kesembuhan, umat perlu bersembahyang lebih dahulu sebelum mengocok ramalan nasib. Ramalan itu terdapat di bambu kecil yang diberi nomor. Setiap nomor yang keluar dari tempatnya, akan diambil dan dicocokkan dengan buku petunjuk ramalan.

”Selain itu Klenteng Chandra Nadi memegang peranan penting dalam berbagai upacara keagamaan masyarakat Tionghoa. Pada zaman para kapitan masih memegang kendali, semua upacara hari raya besar, termasuk Imlek, diadakan di klenteng Chandra Nadi, dan diteruskan ke klenteng di Pulau Kemaro di Sungai Musi,” kata Princeps.

Bahkan, tradisi itu masih tetap diteruskan hingga sekarang. Masyarakat Tionghoa penganut Buddha, Tao, dan Konghucu, terutama yang mempunyai leluhur di Palembang selalu merayakan Imlek di Chandra Nadi dan dilanjutkan ke Pulau Kemaro.

Meskipun tetap berdiri utuh sampai sekarang, keberadaan klenteng Chandra Nadi bukan tanpa gangguan. Menurut Princeps, pada zaman Jepang, dua pesawat Jepang pernah mencoba mengebom klenteng itu karena dianggap sebagai basis gerakan bawah tanah masyarakat Tionghoa. Namun, tidak ada bom yang mengenai sasaran.

Pascatahun 1966, ketika kebencian terhadap masyarakat Tionghoa

memuncak, sepertiga lahan klenteng diambil paksa untuk dijadikan Pasar 10 Ulu. Para pengurus klenteng tidak dapat berbuat apa-apa karena ada tekanan politik masa itu.
Ketika kerusuhan rasial pecah pada tahun 1998, massa juga sudah mulai bergerak untuk membakar klenteng tertua di Palembang itu. Namun, polisi dan masyarakat setempat berhasil menghadang gerakan massa sehingga mereka tidak sempat membakar apa pun.

Klenteng Chandra Nadi tetap terbuka bagi setiap umatnya untuk beribadah. Sayang, jalan masuk ke klenteng itu melalui pasar tradisional yang kumuh dan macet sehingga turis akan kesulitan untuk mendatangi klenteng itu. (sumber:kompas.com/IM)

11 Agustus 2012

Boom 7 Ulu Palembang 1947

Boom 7 Ulu Palembang 1947 Foto : Plamboom.Divise.NL

Boom 7 Ulu Palembang 1947 Foto : Plamboom.Divise.NL
Suasana di lokasi penyebrangan BOOM 7 ulu palembang, tampak banyak kendaraan dan poster bioskop "ELITE" juga menghiasi suasana saat itu.


10 Agustus 2012

Boom 7 Ulu Palembang 1947 1950

Boom kapal Marrie 7 Ulu Palembang 1947 Foto : Palmboom.Divie.NL
kapal marie kapal penyeberangan yang menghubungkan seberang ulu dan seberang ilir sebelum tahun 1963, foto ini diambil pada tahun 1947.

Foto Boom atau dermaga di kawasan 10 ulu ini sudah tidak ada lagi pada saat ini di karenakan menjadi bagian dari pembangunan jembatan Ampera, pada saat itu kapal marrie merupakan salah satu transportasi penghubung antara seberang ilir dan seberang ulu, jembatan pun yang di miliki baru jembatan Ogan (kertapati) yang di bangun oleh pemerintah kolonial Belanda. 

Ada dua jenis angkutan yang ada di sungai musi yaitu kapal marrie (perahu roda lambung) dan perahu tambangan, untuk perahu tambangan sendiri hanya bisa mengangkut perorangan dalam jumlah sedikit sedangkan, kapal marrie (kapal roda lambung) bisa mengangkut banyak penumpang berikut kedaraan baik roda 2 maupun roda 4 , seperti kapal feri pada saat ini. Deramaga seperti ini selain di 7 ulu juga terdapat di kawasan 10 Ulu, 16 ulu, di pasar 16 ilir, kertapati dan tangga buntung tetapi seiring perkembangan pembangunan jembatan Ampera maka boom/ dermaga kapal marrie ini juga tidak di gunakan lagi.

Dirangkum dari berbagai sumber 

    

09 Agustus 2012

Kolam Renang di Komperta Plaju Dulu & Sekarang

Kolam Renang di Komplek Pertamina Plaju 1940-1950  Foto : explaju.com

Kondisi Kolam renang komperta Plaju saat ini Foto : Boyrekso Sasongko

Kondisi dalam kolam renang di komperta Plaju saat ini Foto : Boyrekso Sasongko


07 Agustus 2012

Post Card Natal dan Tahun Baru 1947 - 1950

Post  Card Natal dan Tahun Baru
Post  Card Natal dan Tahun Baru dari Y -Brigade Foto :
Post  Card Natal dan Tahun Baru

06 Agustus 2012

05 Agustus 2012

SEJARAH JAKABARING

Panah hitam merupakan cikal bakal nama Jakabaring sumber foto : googlemaps
Dalam kunjungan ketua MPR RI dikota Palembang hari ini dalam rangka meninjau persiapan acara SEA GAMES yang akan dilakukan pada beberapa hari mendatang, tiba-tiba saja Taufik Kemas mengeluarkan gagasan yang tidak populer yaitu mengganti nama kawasan Jaka Baring menjadi kawasan Susilo Bambang Yudhoyono, dan usulan ini telah disampaikan kepada Gubernur Sumatra Selatan untuk segera dilaksanakan secepatnya sehingga saat acara pekan olah raga antar Negara Asean ini dilaksanakan, nama Jakabaring sudah dirubah menjadi SBY sport center.

Taufik kemas memang doyan mencari muka terhadap SBY,  hal ini dia lakukan  untuk menyelamatkan posisi PDIP maupun sang Nyonya yang tersandung dalam kasus cek perjalanan dan kasus besar bekas lapangan terbang kemayoran yang sampai hari ini kasusnya masih dipetieskan oleh Pemerintah, padahal kasus pengalihan fungsi bekas Bandara Kemayoran dari milik Negara menjadi lahan swasta jelas merupakan tindakan korupsi, dan pengalihan tersebut terjadi saat Megawati menjabat Presiden RI, dimana lewat Sekretaris Negara tanah tersebut dikapling-kapling dan diperjual belikan seperti milik pribadi.

Kini kawasan Jakabaring nama sebuah komunitas pendatang di Palembang dikawasan seberang Ulu antara 8 Ulu Bungaran dan Silaberanti,  nama Jakabaring sendiri tidak lepas dari sosok Sersan Mayor Inf. Tjik Umar, seorang anggota TNI AD yang bertugas di Kodam Sriwijaya pada tahun 1972.  Sersan Umar seorang Warga lampung membangun rumah di dalam hutan belukar berawa-rawa dibelakang Markas Poltabes Palembang sekarang. 

Tjik Umar menuturkan, pemberian nama Jakabaring adalah hasil pemikiran dirinya sendiri. Ketika itu, Tahun 1972 pemerintah menggusur pemukiman warga di kawasan 7 dan 8 Ulu, karena terkena proyek pengembangan kawasan Jembatan Ampera. Tjik Umar pada tahun itu masuk Jakabaring, Saat itu kawasan Jakabaring masih hutan belukar dan berawa. Ia langsung membangun rumah dengan menimbun rawa. Sampai sekarang rumah itu masih lengkap.

Oleh karena sebagai orang yang dituakan didaerah tersebut, yang diiringi dengan pembangunan pesat dikawasan ini, maka banyak pendatang yang menetap diwilayah ini, saat pak Umar diangkat sebagai ketua RW oleh warga setempat, dia menemukan sangat banyak pendatang dari daerah lain seperti dari Jawa ( Pak Suparto) , Batak ( Pak Siregar) , Zulkifli asal Kaba   ( Lekipali, suku di Palembang ) , Komering Ulu ( Ali) , Komering Ilir ( Kamal)  maupun  Pak Umar sendiri dari Lampung.  Jadi penggunaan nama Jakabaring itu adalah singkatan dari  JA, dari Jawa,  KA dari Kaba, BA Batak, RING adalah penggabungan Ogan Komering ulu dan Ilir, setelah huruf-huruf tersebut disatukan maka jadilah kalimat JAKABARING.

Dalam situs informasi tentang Jakabaring yang dituliskan oleh Hidayah Tullah, disebutkan kawasan Jakabaring ditetapkan sebagai kota pada tanggal 26 April 1972, dan saat ini menjadi kawasan elit ditengah-tengah kota Palembang mulai dari pusat pemerintahan, Palembang Indah Mall dan bangunan megah lainnya,  dengan latar belakang historic yang begitu indah untuk diabaikan dalam sebuah nama kota,  tiba-tiba saja ada wacana untuk menggantinya menjadi nama seseorang yang kebetulan saja saat ini dia seorang Presiden,  pantaskah hal ini untuk dilakukan bila hanya untuk mencari popularitas? dan bagaimana kalau kawasan Menteng di Jakarta ditukar saja menjadi Kawasan GUSDUR  berani ngak Taufik Kemas mengusulkan kepada Gubernur DKI?

Sumber Tulisan  : sejarah.kompasiana.com

04 Agustus 2012

Jembatan Kertapati Palembang 1940-an

Jembatan Kertapati Palembang kisaran tahun 1940-an Sumber : Palmboom.Divisie.nl
Keunikan Jembatan Ogan Kertapati Lebih Kokoh Dibanding Musi II

Dibangun tahun 1939 lalu, jembatan Ogan Kertapati dinamakan dengan nama Ratu Belanda, Wilhelmina. Kala itu, jembatan tersebut termasuk bangunan fenomenal di Sumsel.  Seiring perkembangan zaman, jembatan ini kurang mendapat perhatian masyarakat meski umurnya lebih tua dibanding ikon Palembang, Jembatan Ampera. Padahal, sebagai bagian dari sejarah panjang Palembang, seorang sesepuh Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Sumsel menilai, jembatan ini lebih kokoh dibanding Jembatan Musi II. 

Catatan sejarah jembatan Ogan di Kertapati ibarat misteri. Banyak memperkirakan, catatan dibangun penjajah itu, dibawa sang penjajah ke negerinya, Belanda. Para pelaku sejarah pun banyak sudah meninggal.

Ada juga orang-orang tua asli Palembang, berumur 70 tahun keatas tak mengetahui kapan dibangunnya jembatan tersebut. Ketika koran ini menyambangi kawasan jembatan, beberapa orang tua yang sudah berumur 70 tahun keatas mengaku ketika mereka kecil menginjak umur 10 tahun, jembatan tersebut telah terbangun. 

Keterangan didapat koran ini dari masyarakat sekitar jika jembatan tersebut merupakan kawasan vital, tempat lewatnya tentara serta kendaraan perang ketika terjadinya pertempuran. Mulai dari pertempuran Belanda melawan Jepang hingga perang lima hari lima malam. 

Bahkan, saat Jepang masuk, Belanda dikabarkan menghancurkan jembatan untuk menghambat pergerakan tentara Jepang. Sempat menggunakan kayu sebagai penyangga, tahun 1956, jembatan tersebut akhirnya kembali dipugar. 

Dibangun Dari Pajak Petani Karet

Dari Badan Arsip Perpustakaan dan Dokumentasi Kota Palembang, catatan terkait jembatan Ogan Kertapati hanya didapati koran ini dari sebuah buku. Berjudul “Palembang Zaman Bari” karangan sejarawan serta budayawan, almarhum Djohan Hanafiah. 

Data diuraikan pun tak begitu banyak. Hanya dikatakan jika jembatan tersebut dibangun tahun 1939 lalu dan diresmikan dengan nama Wilhelmina Brug (Jembatan Wilhelmina, Red). Pembangunan jembatan dikatakan berasal dari sumbangan dari para petani-petani karet. Dimana setiap kati getah karet dikenakan satu sen. 

Meski ada beberapa masyarakat mengungkapkan jika pembangunan menggunakan tenaga romusha, sesepuh Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) cabang Sumsel, Ir H Anwar Arifai membenarkan jika dana pembangunan jembatan berasal dari sumbangan petani karet di Sumsel. “Bukan sumbangan sih, tapi semacam pajak. Dipilih petani karet karena karet pada masa itu dan sampai sekarang memang tingkat ekonominya bagus,” ungkap Anwar. 

Anwar yang lahir tahun 1935 lalu saja, dan asli kelahiran Palembang tak mengingat kapan jembatan tersebut dibangun. Seingatnya sejak kecil, jembatan itu sudah ada. Jembatan itu pun termasuk bangunan fenomenal pada masanya. Termasuk jembatan terbesar di Sumsel, sebelum dibangunnya jembatan Ampera tahun 1965 lalu. 

Secara stuktur, Anwar Arifai menilai jika jembatan Ogan Kertapati termasuk kokoh. Blak-blakan, ia mengatakan jembatan dibangun Belanda tersebut lebih kuat dibanding Jembatan Musi II yang umurnya lebih muda karena dibangun tahun 1992. 

Alasannya, dengan stuktur beton bertulang, bentang jembatan lebih pendek serta tidak begitu beratnya beban diatas, jembatan Ogan diperkirakannya akan lebih bertahan lama. Bisa jadi. Karena saat ini, hanya kendaraan beban tak begitu berat dapat melintas di jembatan Ogan.

Saat inipun, jalurnya hanya diarahkan satu arah. Dari Simpang Jakabaring menuju Terminal Karya Jaya. Truk hingga tronton dengan beban berat diwajibkan melintas melalui jembatan Musi II yang kini dilewati kendaraan dua arah. 

Terbantu Jembatan Ogan II

Penilaian Anwar Arifai tak sepenuhnya mendapat dukungan. Pejabat Pembuat Komitmen dari Perencanaan dan Pengawasan Jalan Nasional Metropolis, Azwar Edie mengakui jika jembatan Ogan yang panjangnya 205,2 meter, lebar enam meter dengan enam bentang termasuk kokoh. Karena umumnya jembatan dibangun paling tidak untuk bertahan selama 50 tahun kedepan. Sedangkan jembatan Ogan umurnya sudah mencapai 71 tahun.

Hanya saja, jika dikatakan lebih kokoh dari jembatan Musi II, Azwar tampaknya kurang sreg. Alasannya, kokohnya jembatan Ogan karena hingga kini bebannya dibantu oleh jembatan disebelahnya, disebut dengan nama Jembatan Ogan II, dibangun tahun 1994 lalu dengan kontruksi baja Australia. Dengan panjang 231,6 meter, lebar tujuh meter dengan lima bentang, jembatan Ogan II menahan beban kendaraan melaju dari arah terminal Karya Jaya menuju simpang Jakabaring. 

Berbeda dengan jembatan Musi II yang panjangnya 534,6 meter dengan lebar tujuh meter. Jembatan dibangun tahun 1992 dengan kontruksi baja Australia ini harus menahan beban dari dua arah sekaligus. 

“Yang lewat di Musi dua saja kendaraan berat. Dan dua arah sekaligus. Seharusnya Musi dua ini sudah dibangun jembatan pendamping seperti Ogan dua biar lebih bertahan lama,” tandas Azwar.

Tinggal Masalah Perawatan 
Kokohnya jembatan Ogan juga ditegaskan Kasatker Pelaksanaan Pembangunan Jalan Metropolitan Palembang, Ir H Aidil Fiqri MT. Dalam pandangannya jembatan tersebut bisa bertahan dalam jangka waktu yang lama. Apalagi, jembatan ini sudah dibantu dengan hadirnya jembatan Ogan II dibangun tahun 1992 lalu. Membuat beban terhadap kendaraan tidak terlalu berat. 

Yang masih dibutuhkan tinggal perawatan. Baru-baru ini, dikatakan Aidil pihaknya melakukan penggerukan aspal. Pasalnya, aspa diatas jembatan pernah mencapai 20 cm. Sehingga, kendaraan besar seperti truk pernah masuk hingga trotoar jalan. 

“Aspal diatas jembatan itu tidak boleh tebal. Kalau tebal, nanti kendaraan, terutama truk naik ke trotoar. Sedangkan trotoar jembatan itu tidak boleh dinaiki mobil apalagi truk. Bebannya tidak seimbang dan bisa merusak jembatan. Jadi aspal mesti tipis sekitar lima centimeter. Kalau sekedar motor naik ke trotoar seperti di Ampera tidak masalah,” tegasnya.

Selain masalah aspal dan trotoar, pihaknya terus memantau jika terjadinya penggeroposan tiang beton penyangga jembatan. Arus air sungai dapat membuat keropos tulang beton serta karat pada besi. “Masalah ini akan terus kita awasi dan kita perbaiki. Agar jembatan bisa bertahan lama,” tandasnya. 

Mirip  Dengan Jembatan Ogan di Baturaja

Di Baturaja ada juga jembatan tua namun kokoh yang menjadi jalur lalu lintas melewati Sungai Ogan I, namanya juga sama yakni Jembatan Ogan. Meskipun usianya sudah 62 tahun,namun jembatan Ogan I,yang menghubungkan pusat kota Baturaja dengan area pasar atas, kondisinya kokoh. 

‘’Keberadaan jembatan yang berbentuk lengkung yang telah beberapa kali dicat dan berubah warna pink ini, menjadi salah satu ciri khas dan land mark Kota Baturaja dan Kabupaten OKU,’’jelas Muzaim Aliansya ST Msi, Kabid Pemeliharaan jalan Jembatan PU Bina Marga OKU.

Diceritakan Muzaim, sejak berdiri dan dibangun jembatan Ogan I pada tahun 1948 lalu oleh Belanda, jembatan ini memang sempat mendapatkan perawatan khusus dari Dinas PU Bina Marga Kabupaten OKU. Pada tahun 2001 lalu bagian lantai jembatan ada yang jebol,yaitu tepatnya bagian join antara jembatan. Kerusakan tersebut sudah diperbaiki dengan dicor kembali,selain itu aspal permukaan jembatan ini juga pernah di angkat dan diganti dengan material baru. Pada saat itu material aspal lama gunakan ATB (Asphalt Trade Base) diganti dengan aspal ACBC, aspal konkrit  untuk perata permukaan .

Keunikan yang terlihat pada jembatan Ogan I yang berbentuk melengkung setengah lingkaran ini,sebetulnya menunjukkan bahwa pada masa itu seni arsitektur mengedepankan nilai estetika yang juga tidak mengeyampingkan nilai kekuatanya. 

Model jembatan ini yang bentuknya serupa menurut Muzaim, yakni Jembatan setengah lingkar dapat ditemukan juga di Kota Martapura Kabupaten OKU Timur, Jembatan Gunung Batu Kabupaten OKUT,  di Kabupaten Musi Banyuasi, serta Jembatan Ogan Kertapati Palembang. (wwn/bn)

Sumber  tulisan : Sumeksminggu.com

03 Agustus 2012

Sejarah Hotel Sanjaya Palembang

Hotel Sandjaja Palembang saat ini
ERA 1980-an, ketika rumah toko (ruko) mulai menjadi alternatif dalam bisnis konstruksi –sebelumnya, tidak begitu menarik karena keluasan lahan masih mencukupi—di Palembang, banyak pengembang menerapkan konsep 2:1, 3:1, atau 4:1. Artinya, pengembang tidak perlu membeli lahan untuk membangun rukonya, tetapi membagi bangunan –hitungan pintu—dengan pemilik lahan. Siapakah orang yang memulai konsep bisnis serupa itu dan kapan dimulainya?

Saya sempat terperangah, saat tahu bahwa tokoh yang mengawalinya adalah seorang perempuan, dan waktunya mulai 1950, ketika belum satu dasawarsa kita merdeka. SIAPAKAH perempuan itu? Dia bernama Tan Ho Nio atau Nellywati. Perempuan kelahiran 2 Agustus 1919 ini merupakan putri bungsu Tan Kim Lie, yang merupakan salah seorang pengusaha konstruksi yang cukup berpengaruh di Palembang pada paruh awal abad ke-20.

Salah satu karya sang ayah adalah Markas CPM di kawasan Talangkerangga. Apabila merunut sejarah karya ayahnya, adalah wajar apabila perempuan ini kemudian menekuni bisnis konstruksi. Semasa masih gadis, Nelly biasa membantu ibunya, Liem Tuan Nio, yang membuat kue-kue untuk dijual ke daerah Uluan Palembang. Selain kue, Liem Tuan Nio juga menjual kecap dan bahan kain, melalu kakek Nelly. Sang kakek, Tan King Hien, merupakan salah seorang saudagar Palembang yang biasa membeli hasil bumi di wilayah Uluan dan menjual barang-barang kebutuhan pokok serta tekstil untuk daerah itu, dengan menggunakan kapal. Cukup usia, Nelly menikah dengan Ong Boen Cit, yang merupakan salah satu pengusaha karet besar di Sumatera Selatan pada dekade.

Dia bahkan tidak hanya menggunakan rakit curah, tetapi juga membangun gudang permanen di kawasan Sekanak. Hingga kini, bangunan gudang itu masih ada dan dikenal sebagai Gudang Buncit. Sebelumnya, kita lihat dahulu latar belakang sosial ekonomi Palembang pada masa 1910-1940-an. Keresidenan Palembang memang terkenal sebagai salah satu daerah kuasa Hindia Belanda yang makmur karena karet. Pada tahun 1915, ekspor karet dari Palembang sekitar 140 ton lateks. Namun, sekitar tahun 1926, ekspor karet meningkat hingga 100 kali lipat (Peeters; 1997: 103).

Pada masa ini, kapal roda lambung merupakan salah satu sarana penting dalam mata rantai perdagangan di Keresidenan Palembang. Dari kawasan Sungai 3-4 Ulu, tempat tinggalnya, Tan King Hien, mengatur bisnisnya. Berdasarkan catatan sejarah, pemukiman Cina di pedalaman –terkait erat dengan hubungan perdagangan—mulai dibangun mulai tahun 1873. Kawasan pemukiman untuk perdagangan itu meliputi Tebingtinggi, Lahat, dan Muaradua (Peeters; 1997: 61).

Baru kemudian, berkembang beberapa kawasan lain di sepanjang aliran anak Sungai Musi. Kapal kincir atau sering disebut pula kapal roda lambung yang melayari aliran Sungai Lematang, Sungai Ogan, dan Sungai Komering menjadi jalur lintas perdagangan kawasan Uluan dan Iliran dengan Palembang sebagai pusat perdagangan. Pelayaran komersial yang mulai berlangsung pada 1880-an itu, pada pergantian abad dilakukan setidaknya oleh enam belas kapal, yang terdiri atas enam kapal milik pedagang Palembang, dan sepuluh milik pedagang Cina (Peeters; 1997: 62-66). Salah satunya adalah milik Tan King Hien.Perdagangan dengan kapal roda lambung mengalami kemerosotan pada dekade tahun 1920-an. Ini seiring dengan pembangunan rel kereta api (KA) yang menghubungkan Palembang-Telukbetung, yang rencana pembangunannya dimulai sekitar tahun 1909.

Pembangunan rel KA ini dimaksudkan sebagai upaya membuka peluang penanaman modal asing di wilayah pedalaman. Walaupun, apabila dilihat dari kondisi konsorsium pedagang Eropa yang kalah bersaing dengan pedagang Cina dan Palembang pada masa itu, pembukaan rel ini merupakan salah satu strategi pemerintah kolonial untuk meminimalkan peran pedagang Cina dan Palembang lewat jalur sungai. Pembangunan rel oleh Zuid Sumatra Staatsspoorwegen (ZSS) yang dimulai tahun 1912 itu kemudian membuka hubungan antara Palembang-Telukbetung, dengan cabang Prabumulih ke Muaraenim. Terjadilah “revolusi” sarana angkutan, dari perahu dan gerobak ke mobil dan kereta api. Perdagangan dengan kapal roda lambung benar-benar lumpuh pada dekade 1930-an (Peeters; 1997: 133-135).

Menikah dan Berusaha Tahun 1940, Ong yang telah menduda karena istrinya, Cik Ayu, meninggal dunia, berusaha mencari istri. Atas kehendak keluarga, Ong dijodohkan dengan Nelly. Mendiang Cik Ayu masih terbilang sebagai bibi Nelly. Saat diboyong ke rumah Ong Boen Cit, Nelly diberi sangu uang sebesar Rp500,00 oleh orangtuanya. Uang ini kemudian ternyata mengubah kehidupan Nelly selanjutnya, justru setelah satu dasawarsa pernikahan mereka. Memasuki dua tahun hidup berumah tangga, tentara Dai Nippon menduduki Indonesia, termasuk Palembang. Bangka, yang diduduki pada 13 Februari 1942, menjadi “batu loncatan” bagi pasukan yang semula mengaku sebagai “Saudara Tua” ini untuk menduduki Palembang. Sehari kemudian, menjelang subuh, Jepang menerjunkan 600-700 personel paramiliternya di Palembang. Masa ini merupakan salah satu periode buruk dalam sejarah perekonomian dan sosial bangsa Indonesia. Krisis ekonomi yang berimbas kepada kekurangan sandang dan pangan pun melanda wilayah Indonesia, termasuk Palembang. Pada masa ini pula, banyak warga yang menjual apa saja harta yang dimilikinya agar dapat membeli makanan. Jual beli barang, terutama benda berharga serupa perhiasan, dilakukan melalui perantara, yang dikenal sebagai cengkau (Palembang: tukang ulo).

Semula, Nelly terpanggil untuk membantu dan memanfaatkan uang simpanannya untuk membeli perhiasan yang ditawarkan kepadanya. Namun, semakin banyak orang yang datang kepadanya, sehingga menjadi “bisnis” yang dilakoni selama tahun 1942, hingga Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945. Uang simpanan itu pun berkembang, dan selanjutnya dimanfaatkannya untuk membeli tanah dan bangunan toko di Jl. Tengkuruk (masa penjajahan namanya Schoolweg atau Jalan Sekolah). Sepuluh tahun menikah, pasangan Ong-Nelly baru dikaruniai seorang putri, Ong Tjen Tju alias Yenny Ong, yang lahir pada 23 Juli 1950. Namun, kebahagiaan pasangan ini tidak berlangsung lama. Sekitar lima bulan kemudian, 12 Desember 1950, Ong Boen Cit meninggal dunia. Mulailah perempuan ini berusaha, dengan segala kemampuannya. Modalnya, tanah dan bangunan yang telah dibelinya semasa menikah plus dua bentuk perhiasan yang belum terjual oleh cengkau. Singel Parent SEBAGAI anak bungsu, dapat dikatakan Nelly sangat dekat dengan ayahnya. Hal ini berdampak kepada minat dan kemampuannya. Sejak kecil, dia sangat tertarik kepada hal-hal yang berkaitan dengan konstruksi. Hal ini berbeda dengan dua kakak perempuannya, Tan Hok Nio alias Bandung Wati dan Tan Tjiang Nio alias Noni.

Semasa kanak-kanak, Nelly kerap diajak ayahnya melihat-lihat bangunan yang ditangani sang ayah. Salah satunya, Markas CPM di Talangkerangga. Kegemaran pada konstruksi ditambah kemampuan bisnis yang mengalir dari darah kakek dan ayahnya, membuat Nelly mulai mereka-reka apa yang dapat diperbuatnya. Saat itu, sepanjang Jl. Jenderal Sudirman, belum ada gedung-gedung dalam ukuran besar dalam perspektif bisnis. Nelly mulai melakukan pendekatan dengan pemilik tanah di sepanjang tepian jalan, yang dahulu dikenal sebagai kawasan Talang Jawa Lama itu. Nelly kemudian menawarkan konsep pembagian antara pihak pembangun dan pemilik tanah dengan sistem 2:1. Ternyata, tawaran ini mendapat sambutan yang sangat baik. Mulailah Nelly membangun gedung, terutama pertokoan di sepanjang Jl. Jenderal Sudirman. Ternyata kemudian, banyak orang yang datang kepadanya, menawarkan tanah untuk dibangun dengan sistem bagi hasil, yang kala itu dinilai pemilik tanah sangat menguntungkan.

Toko Buku Sumber Djaja. Konstruksi dan Konstruksi KONSEP bisnis konstruksi Nelly, dengan bendera NV Djaja Sempurna, terus mengalami kemajuan. Bahkan, setelah dia mengelola Hotel dan Restoran Sandjaja, bisnis itu terus berjalan. Dia sempat membangun Gedung Bank Indonesia, Bank Rakyat Indonesia plus tiga unit rumah untuk karyawan bank itu, dan gedung Pengadilan Tinggi Palembang. Hingga pertengahan dekada 1950-an, bendera NV Djaja Sempurna terus berkibar. Bisnis konstruksi Nelly, dengan sistem bagi hasil 2:1, membuatnya semakin dikenal dan dipercaya mitra bisnis. Dari sini pula, Nelly yang memutuskan untuk tetap menjadi orangtua tunggal bagi Yenny Ong, mulai membeli bangunan dan tanah.

Dua di antara asetnya, adalah satu unit bangunan dan sebidang tanah di Jl. Kapten A. Rivai. Menjelang akhir tahun 1950-an ini, Pemerintah baru membuka akses jalan dari Boom Baru ke Jl. Merdeka, yang kini dikenal sebagai Jl. Perintis Kemerdekaan, Jl. Veteran, dan Jl. Kapten A. Rivai. Namun, jalan itu baru berupa tanah yang dikeraskan. Berdasarkan peta, hingga tahun 1950, ruas-ruas jalan itu belum ada. Nelly memiliki dua bidang tanah di tepi jalan yang sedang dalam tahap pembangunan itu. Kedua lahan ini terpisah oleh sebidang tanah yang menjadi lokasi Penginapan Sindanglaya.

Dikenal sebagai pebisnis dengan NV Djaja Sempurna, yang bergerak di bidang konstruksi sekaligus supplier bahan bangunan, membuat banyak pihak datang kepada Nelly untuk menjalin kerja sama. Menjelang akhir tahun 1957, sebuah perusahaan menghubunginya untuk membeli kantor. Dalam pengertian, NV Djaja Sempurna menyediakan lahan dan bangunan. Perjanjian pun dibuat. Pembayaran dilakukan dalam tiga termin selama satu tahun. Pembangunan pun dilakukan. Termin pertama jatuh tempo, tak ada pembayaran. Termin kedua jatuh tempo, masih belum ada pembayaran. Termin ketiga jatuh tempo, orang dan perusahaan yang memesan justru menghilang. Saat itu, bangunan kantor sudah hampir selesai. Nelly pun memutar otak. Apabila pembangunan kantor ini dilanjutkan, bakal dijadikan apa bangunannya? Pada saat itu, dia memiliki pemikiran yang cukup inovatif. Apabila sepanjang Jl. Tengkuruk, Jl. Jenderal Sudirman, Jl. Kolonel Atmo, dan Jl. Letkol Iskandar menjadi kawasan pertokoan dan perdagangan, jalan yang baru dibuka ini sebaiknya tidak diarahkan pada wilayah bisnis yang sama.

Nelly pun memutuskan untuk membangun hotel. Putar haluan, bangunan yang semula diperuntukkan bagi kantor itu segera diubah bentuknya. Gedung kantor yang hampir jadi itu diubah bentuk dan konstruksinya. Tiga lantai, dengan 22 kamar. Hotel Djaja, cikal bakal Hotel Sandjaja Palembang Penginapan yang kemudian diberi nama Djaja itu kemudian dioperasikan pada 17 Oktober 1958. Pada saat yang bersamaan, Nelly juga membangun restoran di lahan yang berdekatan. Restoran ini kemudian diberi nama San Djaja. Dalam bahasa Mandarin, san berarti tiga. Yang dimaksudnya tiga adalah statusnya dalam keluarga, yang memiliki dua saudara. Sehingga, nama itu dapat mewakili mereka bertiga. Sedangkan jaya, tentu saja mengacu kepada keadaan selalu berhasil, sukses, atau hebat. Kata jaya juga seakan menjadi simbol dari usahanya, mulai dari NV Djaja Sempurna, Toko Buku Sumber Djaja, Hotel Djaja, hingga Restoran San Djaja. Hotel dan restoran inilah yang kemudian menjadi Hotel Sandjaja, seperti yang kita kenal saat ini, setelah dilakukan beberapa kali pengembangan. Inovatif TERKAIT bisnis hotel, boleh dikata Nelly juga memiliki perspektif pemikiran yang sangat maju pada masanya.

Awal dekade 1970-an Pemerintah menerapkan kebijakan dalam Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Pada saat itu, Nelly telah membeli tanah eks-Penginapan Sindanglaya, yang terletak di antara dua gedung miliknya. Di lahan yang semula dimiliki Tjo Sang inilah, Nelly berrencana membangun gedung hotel yang lebih representatif. Dalam pemikirannya, gedung itu memiliki tujuh lantai dengan fasilitas internasional. Saat ini, putri tunggal Nelly, Yenny Ong, telah dewasa dan turut andil dalam manajemen. Atas nama PT Sandjaja, dia pun mengajukan permintaan fasilitas PMDN, yang dalam hal ini pinjaman modalnya dikelola oleh Bappindo. Lewat surat yang ditandatangani pada 10 November 1972, Nelly juga memberikan alasan bahwa dengan rencana perubahan taraf hotel, maka Sandjaja menjadi hotel pioner di bidang kepariwisataan di Palembang.

Pembangunan dan perluasan Hotel Sandjaja berlanjut. Hingga akhirnya, hotel itu memiliki 180 kamar, dengan beberapa kelas. Eks-Restoran San Djaja dijadikan bangunan sayap (wing). Sedangkan eks-Hotel Djaja dijadikan Balairung yang dinamakan Srikandi. Hari bersejarah bagi Nelly, setelah perjuangan panjang sejak 1958, berlangsung pada 17 Oktober 1980. Hari itu, Hotel Internasional Sandjaja diresmikan, ditandai dengan pembukaan selubung prasasti peresmian, yang ditandatangani Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Provinsi Sumatera Selatan, Brigjen H. Sainan Sagiman. Dan, 17 Oktober menjadi tanggal yang sangat penting bagi Nelly dan manajemen Hotel Sandjaja. Pada 17 Oktober 1958, Hotel Djaja dioperasikan.

Pada 17 Oktober 1959, Hotel Djaja diresmikan. Pada 17 Oktober 1980, peningkatan status hotel ke taraf internasional secara resmi diaktifkan. Pembukaan selubung prasasti peresmian pemakaian gedung Hotel Sandjaja. Semangat para pengelola Hotel Sandjaja semakin menyala. Pemakaian gedung baru berlantai tujuh itu menjadi semacam penanda bagi lahirnya semangat baru untuk lebih bergiat memajukan bisnis, bukan hanya di bidang penginapan melainkan juga bidang kepariwisataan.

Kerja keras Nelly, didukung semua staf hotel berbuah manis, dua tahun kemudian. Hotel Sandjaja mendapatkan predikat Hotel Berbintang Tiga pada 3 April 1982. Penyerahan sertifikat dilakukan Gubernur H. Sainan Sagiman, disaksikan Direktur Bina Pelayanan Pariwisata Direktorat Jenderal Pariwisata RI. Hotel Sandjaja mendapatkan predikat bintang tiga bersama Hotel Swarnadwipa Palembang. Pada saat yang bersamaan, Sainan Sagiman juga menyerahkan Sertifikat Hotel Bintang Satu untuk Hotel Sari dan Puri Indah di Palembang, Martani di Belitung, dan Lintas Sumatra di Lubuklinggau. Janji Nelly untuk menjadikan hotelnya sebagai penggerak usaha di bidang kepariwisataan seperti tercantum pada surat permohonan fasilitas PMDN kepada Menteri Keuangan RI sepuluh tahun sebelumnya, 10 November 1972, hari itu terbukti sudah. Sainan Sagiman, dalam kata sambutannya, mengatakan bahwa penyerahan sertifikat hotel berbintang itu merupakan kali pertama di Sumatera Selatan. Hal ini, katanya, merupakan penanda adanya kemajuan dalam pengembangan kepariwisataan di daerah ini. Dia juga mengatakan bahwa prospek kepariwisataan di Sumatera Selatan perlu diperluas, karena merupakan salah satu sumber devisa negara, lapangan penyerap tenaga kerja, dan sarana pengembangan budaya bangsa. Belajar dari sejarah hidup seorang Nellywati, saya sangat bangga terhadap Palembang dan para perempuannya.

Daerah ini tidak hanya punya perempuan perkasa pada masa lalu, seperti Ratu Sinuhun, penulis Kitab Undang-undang Simbur Cahaya, yang hidup pada abad ke-17. Abad ke-20, ketika alam sudah berbeda, Palembang juga melahirkan sosok perempuan perkasa. Tentu, perannya pun sesuai dengan masanya. Saya pun yakin, masih banyak perempuan serupa ini –dengan peran dan posisi berbeda, tentu saja—yang berada di sekitar kita. Tulisan ini disarikan dari buku "Karya Emas Bunda; 50 Tahun Hotel Sandjaja" (Yudhy Syarofie; Hotel Sandjaja Palembang; 2008)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...