CANTUMKAN SUMBERNYA JIKA MENGGUNAKAN GAMBAR ATAU ARTIKEL DARI BLOG INI - HORMATI HAK CIPTA ORANG LAIN.

31 Mei 2012

Antri BBM di Palembang

Antrian BBM di SPBU Rambang di Jalan Mayor Salim Batubara
Kemacetan arus kendaraan di Palembang hingga hari ini, Senin (28/5), masih terjadi tontonan sehari-hari.Dari pantauan Sumsel Post, di beberapa ruas jalan seperti di Jl Patal Pusri, Jl R Sukamto, kawasan Sekip, Jl Merdeka dan Jl Demang Lebardaun terjadi kemacetan.Penyebab kemacetan itu adalah antrean kendaraan truk dan kendaraan pribadi saat mengisi BBM di SPBU yang sudah mengular hingga keluar pagar SPBU dan memakan badan jalan sehingga akibatnya laju kendaraan terhalang. 

Seperti di SPBU Patal Pusri dan R Sukamto, begitu juga di SPBU Jl Demang Lebardaun (Simpang Pakjo).Sementara di Jl Mayor Ruslan Sekip misalnya, kemacetan kendaraan terjadi mulai dari pangkal Jl Madang hingga simpang Pasar Sekip. Pasalnya, masih belum sadarnya pemilik kendaraan yang masuk dan keluar dari Jl Bendung dan simpang tiga Pasar Sekip. 

Kondisi ini diperparah dengan keluarnya siswa di SMA, SMK dan SMP Nurul Iman Yasir (40) pengemudi taksi Ampera Perum saat dipintai keterangan menjelaskan bahwa kemacetan tersebut telah membuat mereka rugi dalam menjalankan perkerjaanya,karena selain kemacetan yang terjadi mereka pun mengisi minyak harus antri berjam-jam di SPBU tersebut.

“Pikir saja pak saya ini suda hampir dua jam mengikuti antrian mobil di SPBU ini,kalau kita berjalan mungkin suda dua kali tarian yang kita dapat,” ujarnya Kita berharap ada tidakan secepatnya dari pemerintah dalam hal mengatasi antrian BBM tersebut,serta mengharapkan SPBU yang ada kalau bias jangan sampai mutus BBMnya. “saya suda keliling pak di beberapa SPBU yang saya lewati banyak BBM mereka kosong minyaknya”.jelasnya.(defi yansyah)

Sumber tulisan : http://sumselpost.com/

Palembang, Sekip, 0512, Dodi NP

28 Mei 2012

Palembang TV (Pal TV)

Gedung Pal TV di kawasan Palembang Square
Palembang Televisi (PALTV) sebagai televisi lokal pertama di Bumi Sriwijaya memfokuskan diri terhadap minat & keinginan pemirsa di Sumatera Selatan khususnya Kota Palembang. Kalau televisi nasional memberikan program yang bersifat umum dan universal maka PALTV lebih menekankan 

kepada proksimiti (kedekatan), melibatkan pemirsa melalui program interaktif baik dengan cara interaktif via telepon,SMS, dan melakukan kegiatan off air untuk memperkuat penetrasi ke masyarakat. Sesuai dengan motto program PALTV yaitu;  “Memang Punyo Kito”.

Siapakah segmen pemirsa  PALTV? Sebagai televisi lokal tentu PALTV ingin diterima di semua lapisan masyarakat. Intinya, PALTV ingin menjadi bagian dari masyarakat sehingga PALTV memposisikan diri sebagai televisi keluarga (all segment). Pemirsa PALTV memiliki karakter khas Palembang yaitu : bersifat  dinamis, memiliki fanatisme yang tinggi terhadap budayanya, solidaritas yang kuat, lugas dan ekspresif, memiliki keingintahuan yang tinggi, senang terlibat dalam acara televisi, dan agamis.

Dengan beberapa dasar tersebut maka PALTV yang berdiri pada tanggal 9 September 2007 membuat program yang betul-betul dekat dengan masyarakat. Yaitu memilih program yang lebih menekankan  pada CONTENT LOCAL (70-80%). Membuat program yang banyak melibatkan masyarakat sebagai peserta. Selain itu juga sebagian program ditayangkan  dalam format LIVE dan INTERAKTIF dengan pemirsa. Penggunaan bahasa di beberapa program menggunakan bahasa Palembang. Memperbanyak  kegiatan OFF AIR terutama pada program unggulan. Dalam penempatan program (scheduling) PALTV memakai pertimbangan yaitu waktu menonton pemirsa (viewing habit), jenis pemirsa (segmen pemirsa), kompetisi program di stasiun televisi lain dan jenis program/content yang dimiliki. 

Dengan kekuatan tx (transmiter) 10 Kw, coverage areanya meliputi sekitar Kota Palembang, Kabupaten Banyuasin dan Kabupaten Ogan Ilir serta sebagian Kab Muara Enim, Ogan Komering Ilir, Musi Banyuasin dan Kota Prabumulih. Kehadiran PALTV tentu saja mendapat sambutan hangat masyarakat Sumatera Selatan khususnya Kota Palembang. Itu lantaran, PALTV sebagai televisi lokal pertama di Sumatera Selatan lebih tahu apa yang dinginkan pecintanya.   

Marketing & News Office
Rukan Palembang Square Blok R6-R7
Jl. Angkatan 45
Palembang
Sumatera Selatan
Indonesia

Telephone: 0711-380000 / 380022
Fax: 0711-380033
http://www.paltv.tv
Sumber tulisan : http://www.paltv.tv/ 

Palembang, PS, 0512, Dodi NP

27 Mei 2012

Palembang Square Xtention

Palembang Square Xtention (PSX) yang sudah beroperasi dengan hypermart dan Matahari walaupun seluruh fasilitas gerdung gelum rampung.
PT Matahari Department Store Tbk (MDS), department store terkemuka di Indonesia, kembali mengembangkan jaringannya dengan meresmikan gerai ke-107 di Palembang Square PSX, Sumatera Selatan.
Kehadiran MDS di Palembang Square PSX ini merupakan gerai ke-2 di kota Palembang dan menjadi gerai ke-16 yang hadir di wilayah Sumatera, setelah sebelumnya telah hadir di kota Banda Aceh, Medan, Batam, Binjai, Pekanbaru, Padang, dan Jambi. Kini dengan bangga  MDS mempersembahkan gerai ke-107 ini untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Palembang dan sekitarnya, sebagai bentuk nyata komitmen MDS untuk terus berekspansi ke berbagai kota di Indonesia.
Palembang Square PSX sendiri berada di lokasi yang cukup strategis serta mudah dijangkau sehingga diharapkan akan menambah kenyamanan berbelanja para pelanggan di sekitar kota Palembang maupun dari kota-kota lain.
Gerai MDS di Palembang Square PSX menawarkan suasana belanja yang berbeda, denganpencahayaanyang ekslusif dan area belanja tidak kurang dari 6.100 m2 yang terdapat pada lantai dasar gedung ini yang diisi dengan beragam merek produk ternama yang dapat menjadi pilihan bagi anda dan keluarga.
Kejutan yang diberikan MDS dalam rangka pembukaan gerai terbaru ini tidak tanggung-tanggung, MDS menghadirkan beragam pilihan baik produk fashion untuk wanita maupun pria, anak-anak dan dewasa, pilihan aksesoris, peralatan kosmetik, peralatan rumah tangga, ragam koleksi sepatu dan tas menarik tersedia dengan harga spesial.
Dalam rangka pembukaan gerai ke-107 ini, MDS memberikan berbagai promo khusus bagi pelanggannya. Mulai dari goodie bags berisi kejutan produk-produk menarik bagi 300 pembelanja pertama dengan nilai belanja kelipatan tertentu, kupon potongan diskon pada katalog MDS, shopping rally berhadiah voucher belanja dengan nilai total Rp. 9.000.000,- (sembilan juta Rupiah), serta potongan harga hingga 70% untuk beragam pilihan produk. Tidak ketinggalan promo yang tak kalah menarik yang juga ditawarkan MDS adalah Gift with Purchase berhadiah foto bertandatangan grup Tangga dan juga shopping rally dengan hadiah kunjungan dari grup Tangga langsung ke rumah pemenang dengan total pembelanjaan tertinggi. Tentunya semua ini merupakan bagian dari komitmen MDS untuk selalu memberikan yang terbaik pada konsumennya.
MDS juga akan menggelar hiburan bagi masyarakat dalam rangka pembukaan toko MDS Palembang kali ini. Pertunjukan musik pada hari Sabtu mendatang yang dimeriahkan band-band lokal serta grup Tangga diharapkan dapat  memeriahkan rangkaian acara pembukaan kali ini.
Selain memberikan pilihan tempat belanja terbaik bagi pelanggan khususnya masyarakat kota Palembang, kehadiran MDS di Palembang Square ini juga merupakan bentuk peran aktif perusahaan untuk mensukseskan usaha pemerintah dalam menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat kota Palembang dan sekitarnya. “MDS terus berusaha memberikan yang terbaik bagi masyarakat setempat, agar banyak orang bisa ikut merasakan dampak positif kehadiran MDS di lingkungan kota Palembang,” ujar Andre Rumantir.
Setiap gerai baru Matahari Department Store yang diluncurkan  memiliki nilai investasi yang bervariasi, berkisar antara Rp30 miliar – Rp40 miliar per gerai. Semua rencana pembiayaan tersebut bersumber dari kas internal.
Berdasarkan data keuangan sepanjang 2011, total penjualanPT Matahari Department Store Tbk mencapai Rp 9,2triliun, berkembang cukup pesat dibandingkan tahun sebelumnya yang mencatat angka Rp 7,9 triliun.

Sumber tulisan : http://matahari.co.id/

Pulau Seribu di Palembang

Masjid Syech Muhammad Azhari di Pulau Seribu Palembang
Di Pulau Seribu, Kertapati, Bantu Musafir Beribadah, Tak Masuk Peta Kota Palembang

Menyebut nama Pulau Seribu, ingatan kita pastilah melayang ke kepulauan yang menjadi kawasan objek wisata di Jakarta. Padahal, di metropolis memiliki kawasan dengan nama serupa. Sayangnya, Pulau Seribu yang ada di Palembang berada di Kelurahan Ogan Baru, Kecamatan Kertapati, tidak banyak diketahui orang. Seperti apa tempatnya?

Menyambangi Pulau Seribu tidak begitu sulit. Masuk dari dermaga pasar induk Jakabaring, masyarakat dengan mudah dapat sampai ke sana menggunakan ketek. Ongkos dipatok pun tidak begitu tinggi. Ketika Sumeks Minggu menggunakan jasa angkutan air tradisional ini, pengemudi ketek hanya meminta biaya Rp2.000 hingga Rp3.000.

Tiba di tujuan, bayangan pulau seribu seperti objek wisata yang ada di Jakarta sirna. Bahkan, pulau-pulau seperti yang ada di pulau seribu di Jakarta dan sempat dibayangkan koran ini juga tidak terlihat.

Berdasarkan cerita masyarakat, didapat secara turun menurun, nama Pulau Seribu melekat di kawasan ini, karena dulunya terdapat gundukan-gundukan tanah menyebar di tempat mereka. Gundukan tanah tersebut cukup besar dan tinggi. Dari tiap gundukan tanah dikelilingi air sungai membuat gundukan tanah yang sangat banyak tersebut ibarat pulau.

“Itu cerita dari orang-orang tua kami. Gundukan tanah itu sempat ditanami pohon jeruk dan masih terlihat. Sekarang sudah hilang dirubah dengan tanaman padi,” ungkap H Munir (53), salah seorang warga di Pulau Seribu.

Saat ini, Pulau Seribu tetap menjadi pulau besar, dikelilingi empat sungai. Dibagian depan dibatasi dengan sungai Ogan. Sebelah kanan sungai Tapa, sebelah kiri sungai Sungki, dibelakangnya sungai Remis.

Sempat sedikit berkeliling di kawasan tersebut, Sumeks Minggu melihat daerah tersebut dikelilingi rawa. Jumlah penduduk yang ada tidak begitu banyak, mayoritas berada di pinggiran sungai Ogan. Menurut Munir, jumlah Kepala Keluarga (KK) hanya 29, dibawah naungan satu Rukun Tetangga (RT).

Meski telah dibangun jalan setapak, cor beton menghubungkan daerah tersebut ke kawasan Sungki Kertapati, hingga kini masyarakat di Pulau Seribu masih begitu dekat dengan perahu dan ketek. Untuk mencapai pusat kota Palembang, mereka masih menggunakan transportasi air.

Selain jalan darat yang masih terlalu kecil, tidak begitu banyak masyarakat memiliki kendaraan (motor,red). Lain dari itu, masyakarat setempat terlihat banyak membuat perahu jukung. Pembuatan perahu ini sudah cukup lama dilakukan.

Sejak lama tempat ini sudah dialiri listrik. Hanya saja, kesan terpencil dan tertinggal masih begitu terasa. Nah, cerita Munir pada masa Kesultanan Palembang, tempat ini sebenarnya tidak ditinggali masyarakat.

Tempat Persembunyian Perompak Hingga SMB II

Tempat ini hanya didiami para perompak sebagai persembunyian. Bahkan, Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II diyakini pernah bersembunyi ditempat ini. Hal ini diketahui Munir setelah para zuriat SMB II yang ada di Ternate datang ke Pulau Seribu beberapa tahun lalu.
“Dari catatan SMB II yang dibaca para zuriatnya, SMB II pernah bersembunyi dari kejaran Belanda di Pulau Seribu. Zuriat SMB II sudah puluhan tahun mencari pulau ini. Tapi, yang terpikir oleh mereka sejak lama, Pulau Seribu yang ada di Jakarta,” jelas Akhmadi (26), anak dari H Munir.

Ketika satu dua keluarga yang awalnya mantan perompak mulai tinggal di Pulau ini, Munir mengatakan seorang ustad besar, Syeh Muhammad Azhari (1860-1938) yang giat menyiarkan Islam sempat singgah di rumah seorang mantan perompak yang tengah sakit untuk menumpang sholat. “Namanya juga mantan perompak, dia gak punya sajadah. Terus, Syeh Azhari mengobati perompak itu hingga sembuh,” jelas Munir.

Setelah sakitnya disembuhkan Syeh Azhari itulah, mantan perompak itu bertobat dan hendak belajar agama. Ia pun menghibahkan tanah miliknya untuk dijadikan masjid. Tawaran itu cepat diterima Syeh Azhari yang memang ingin membangun sebuah masjid.

Selain masyarakat Pulau Seribu, saat ini memang tak begitu banyak masyarakat yang datang ke masjid dibangun Syeh Azhari. Namun saat itu, ketika masyarakat Sumsel mengandalkan transportasi air, masjid yang dinamakan dari orang yang membangunnya (Syeh Muhammad Azhari,red) ini ramai dikunjungi. Dibangunnya masjid ini sangat membatu para musafir beribadah, menunaikan sholat.

“Orang-orang dari Indralaya dan Sumsel yang mau ke Palembang banyak lewat sini. Mereka mampir untuk sholat di sini,” jelas Munir.

Siapa Syeh Azhari? Munir mengatakan, ia merupakan kakek almarhum KH Zen Syukri. Ia merupakan ulama besar yang sempat menimba ilmu di Arab, Mesir hingga India. Cerita-cerita seputar Syeh Azhari ini, didapat Munir dari almarhum Zen Syukri.

“Saya pernah belajar dengan Abah Zen. Pernah juga jadi pembantunya ketika Abah menjadi anggota DPRD Palembang. Cerita Abah, sedari kecil ia sering main ke Masjid dibangun kakeknya ini. Waktu dia masih sehat, Abah rajin mengajar dan mengisi acara Islam di Masjid Syeh Azhari,” urai Munir.

Sedikit berbeda dengan keterangan Kgs HM Ibnu A SH MSi. Menurut anak ke-13 dari istri kedua almarhum KH Zen Syukri, jika Syeh Azhari sebenarnya adalah mertua ayahnya. Sehingga, dirinya sendiri memanggil Syeh Muhammad Azhari dengan sebutan kakek.

Nah, selama ini kitab-kitab tauhid yang pernah dibuat oleh Syeh Muhammad Azhari banyak dibawa penjajah Belanda ke Negerinya usai kemerdekaan. Keterangan Ibnu ada Sembilan kitab tauhid ditulis Syeh Muhammad Azhari.

Sedangkan wajah Syeh Azhari sendiri baru dilihatnya beberapa tahun lalu. Itu setelah salah seorang keluarganya mengambil copy wajah Syeh Azhari dari Museum di Belanda. “Banyak arsip kita memang dibawa oleh orang Belanda. Masalah ini, zuriat seperti kami tidak cukup. Ini masalah nasional. Pemerintah yang harusnya turun tangan,” tandasnya.

Kayu Kapuk Penopang Masjid Jadi Unglen

Dilihat dari arsitektur aslinya, masjid Syeh Azhari bisa dikatakan sebagai salah satu masjid tertua di Palembang. Berada di pinggiran sungai, masjid berada di atas air. Hingga bangunan harus ditunjang dengan kayu.

Namun kini, hal tersebut tak lagi terlihat. Sejak tahun 1993, bagian depan masjid sudah ditimbuni tanah. Tahun 2005, dengan bantuan Walikota Palembang, Ir Eddy Santana Putra, bagian dalam ditimbuni pasir.

Nah, sejak satu bulan lalu, masjid direhap. Bagian dinding kayu masjd yang sudah mulai ambruk diganti beton. Hanya bagian atas dipertahankan pengurus Masjid. Bagian atasnya sepintas terlihat mengadopsi culture China. Persis seperti masjid Lawang Kidul dan Kyia Merogan.

“Kalau ingin dibongkar dan dibangun baru secara keseluruhan, sudah ada yang bersedia. Tapi, pesan Abah Zen, bagian atas harus dipertahankan,” urai Akhmadi yang kini menjadi Ketua Pengurus Masjid Syeh Muhammad Azhari.

Orang yang ingin memberikan bantuan dengan membangun masjid dimaksud Azhari merupakan zuriat Syeh Azhari di Arah serta Zuriat SMB II di Ternate. Bantuan mereka pun ditolak dengan alasan pesan almarhum Zen Syukri. Alhasil, para pengurus harus mengandalkan dana swadaya untuk merehab masjid.

Dana didapat telah dikumpulkan sejak tujuh tahun lalu. Uang didapat mencapai Rp21 juta. Berjalan satu bulan, uang didapat samasekali tidak cukup. Hingga kini sudah Rp55 juta dikeluarkan pengurus Masjid. “Banyak yang bantu. Dari uang hingga material. Yang pasti, kita sudah sampaikan proposal bantuan sama Allah SWT. Itu ajaran Abah Zen,” jelas Akhmadi.

Cerita menarik dan diyakini warga sekitar seputar tiang penyangga atap masjid. Dari empat tiang utama, satu diantaranya diyakini warga merupakan kayu kapuk. Karena dibagian atasnya terdapat duri.

Hanya saja dari serat dan warna kayu, warga menyakini tiang tersebut merupakan kayu unglen. Hingga kayu tersebut dijuluki warga kayu kapuk yang berubah menjadi kayu unglen.

Bagaimana bisa? Ditanya seperti itu H Munir menjawab seadanya. “Orang besar seperti Syeh Azhari merupakan orang yang dekat dengan Allah SWT. Tentu saja kami yakin beliau memiliki kharomah,” tandasnya.
Sementara Camat Kertapati Zaini dikonfirmasi Kamis (17/5) tak banyak mengetahui sisi sejarah pulau seribu serta masjid Syeh Azhari. Pun begitu ia tak mengelak jika Pulau Seribu yang berada di wilayahnya termasuk terpencil, bahkan sedikit terbelakang.

Diakui Zaini, pulau yang satu ini tidak setenar Pulau Kemarau atau Pulokerto. Hingga tidak banyak diketahui oleh masyarakat luas. Tempat ini terpencil karena memang belum banyak sarana yang masuk. Bahkan, diperkirakannya, pulau ini tidak masuk dalam peta kota Palembang.

“Kalau mau pasti, di cek saja di Bapedda. Mereka yang buat peta kota Palembang,” tukasnya.

Benar juga. M Syafri HN Kepala Bapedda Palembang samasekali tidak mengetahui tempat ini. Meski meminta koran ini menghubungi bawahannya Nur Hendratama ST MT di bagian Tata Ruang, Pulau ini juga tidak diketahui. (wwn)


Written by: Samuji Selasa, 22 Mei 2012 11:18 WIB | Sumeks Minggu

26 Mei 2012

Kopi Roda Palembang

Banguan kopi roda yang berdiri diantara gedung-gedung modern
Bangunan kopi roda yang memiliki arsitek bangunan Belanda ini dulunya merupakan tempat penggilingan yang  menghasilkan kopi yang termasuk "nikmat" di Palembang, lumayan banyak juga yang merasakan cita rasa kopi ini di era tahun 60 an saat kopi sedang "berjaya", maka di produksi kopi yang berkwalitas nomor satu. kopi yang di produksi di sini di pasarkan sampai ke dareah-daerah seperti OKI, Banyuasin, MUBA, Prabumulih dan Muara Enim.  tetapi seiring perkembangan zaman, di era tahun 90-an disaat harga kopi juga jatuh dan bersaing dengan produk kopi lainnya yang berasal dari lokal ataupun dari luar pulau.

Dulu saat melintas di kawasan ini pasti tercium wangi kopi yang sedang di olah,  tetapi sekarang semua sudah tinggal cerita, saat berkunjung dengan tujuan untuk merasakan kenikmatan kopi roda, ternyata tempat ini tidak memproduksi kopi  lagi, justru yang kami dapat dari salah satu yang kami temu di sana mereka memproduksi lilin saat ini.

Palembang, Segaran, 0512, Dodi NP

25 Mei 2012

Buah Kesemek

Buah Kesemek
Kesemek adalah nama sejenis buah-buahan dari marga Diospyros. Tanaman ini dikenal pula dengan sebutan buah kaki, atau dalam bahasa Inggris dinamai Oriental (Chinese/Japanese) persimmon. Nama ilmiahnya adalah Diospyros kaki. (‘Kaki’, bahasa Jepang, adalah nama zat tanin yang dihasilkan buah ini). 

Pohon kesemek berukuran kecil sampai sedang, 15 m atau kurang, dioesis (dioecious, berumah dua) dan kadang-kadang monoesis, berbatang pendek dan bengkok-bengkok, banyak cabang, serta menggugurkan daun.Daun dalam dua deret, tersusun berseling, bertangkai pendek lk. 3 cm, bundar, bundar telur sampai jorong, 2,5-15 × 5-25 cm, hijau kuning berkilap.

Bunga jantan dalam malai pendek berisi 3-5 kuntum, bunga betina soliter, di ketiak daun, berbilangan 4. Buah buni berbentuk gepeng membulat dan bersegi empat, hijau kekuning-kuningan sampai merah, dengan daun kelopak yang tidak rontok.kesemek sekarang sudah sulit dijumpai atau hampir punah.
 
Kesemek yang matang berwarna antara jingga kekuningan sampai kemerahan dan berdiameter antara 2-8 cm. Buah ini dapat dimakan langsung dalam keadaan segar setelah diolesi dengan air kapur dan diperam, agar rasa sepatnya hilang. Buah juga dapat dikeringkan atau diolah menjadi selai, agar-agar, es krim dan lain-lain. Buah kesemek segar mengandung 19,6% karbohidrat, terutama fruktosa dan glukosa, 0,7% protein, vitamin A dan kalium.
 
Buah kesemek yang muda mengandung zat tanin yang dinamai tanin-kaki, yang menimbulkan rasa sepat pada buah. Zat ini akan berkurang bersama dengan masaknya buah. Tanin-kaki dimanfaatkan untuk mengawetkan berbagai kerajinan tangan, membantu produksi arak-beras di Jepang, serta bahan pengobatan penyakit hipertensi.

Asal-usul dan penyebaran

Kesemek berasal dari Republik Rakyat Cina, yang kemudian menyebar ke Jepang pada zaman purba dan dikembang biakkan di sana. Belakangan buah ini menyebar ke bagian lain Asia, dan pada masa kolonial di tahun 1800an dibawa ke Eropa selatan dan Amerika (Kalifornia). 

Buah ini cukup penting dalam tradisi Tiongkok dan Jepang, sehingga nilai komersialnya tinggi di sana. Kini komersialisasi produksi kesemek telah merembet dan meluas ke Selandia Baru, Australia dan Israel. Ekspor dari Israel inilah yang dinamai sebagai Sharon fruit

Di Indonesia, Malaysia dan Thailand, produksi kesemek umumnya hanya cukup untuk konsumsi lokal. Sumatera Utara, khususnya wilayah Brastagi, di waktu lalu pernah secara tetap mengirimkan kesemek untuk Singapura; namun kini terhenti karena kualitasnya terdesak oleh kesemek produk negara-negara lain. Tempat-tempat lain di Indonesia yang menghasilkan kesemek di antaranya adalah Jawa Barat dan Jawa Timur, di mana buah ini ditanam pada daerah-daerah tinggi di pegunungan.

Sumber tulisan : http://id.wikipedia.org/

Buah Keranji

Buah keranji yang semakin langkah.

Buah keranji (Dialum indum) banyak ditemukan di daerah Sumatera dan Kalimantan, dengan diameter kurang lebih 2cm, bercangkang hitam rapuh, memiliki biji tunggal dengan rasa asam manis dan tekstrur buah seperti kapas berwarna orange.

Dulu buah ini banyak di temukan di Palembang, seperti di tuturkan oleh Zainab (65) yang tinggal di Jalan Ali Gathmir," dulu saat masih kecil buah keranji ini jadi jajanan yang di beli di pasar kuto". 

Batang buah keranji yang lumayan besar dulu banyak di dapati sebagai tanaman liar ataupun sebagai  pohon pereduh, tetapi dari tahun ke tahun buah ini semakin sukar di temui karena populasinya juga yang terus menurun, karena di pasar Palembang sendiri hanya sekali-sekali saja buah ini ada itupun dengan kisaran 50 ribu perkilo. salah satu penyebabnya karena kayu batang ini lumayan bagus untuk di jadi kan papan atau tiang untuk rumah.

Kebanyakan buah ini setelah di “Unduh” di jemur terlebih dahulu karena selain untuk meningkatkan kwalitas buah juga mencegah jamur biar tidak tumbuh di buah. Informasi yang lain juga buah yang satu ini juga di minati dari Thailand, timur tengah dan beberapa daerah asia lainnya. Karena rasanya yang khas mirip asam Thailand (Tamarin).

Palembang, Pasar Kuto, 0512, Dodi NP

24 Mei 2012

Halte Trans Musi Update

Halte trans musi di Jalan Kol H Burlian depan TWA punti kayu masih dalam tahap finishing
PALEMBANG (SINDO) – Ada yang berbeda dari halte Bus Rapid Transit (BRT) Transmusi saat ini. Guna meningkatkan antusias masyarakat agar menaiki transportasi massal ini, Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Palembang mengecat halte yang semula berwarna hijau menjadi bermacam-macam warna.

Kabid Transportasi Rel dan Jalan Dishub Palembang Agus Suprianto mengatakan, perubahan warna halte tersebut merupakan salah satu bentuk pemeliharaan dan perawatan halte.Untuk 2010,pihaknya menganggarkan dana perawatan sebesar Rp100 juta dari APBD Palembang. “Selain mengecat, dengan dana tersebut, halte-halte yang rusak juga direnovasi.Termasuk penggantian kaca-kaca yang pecah,” ujar Agus di Palembang kemarin. Agus mengaku, dana tersebut dipastikan tidak mampu mengakomodasi seluruh halte yang berjumlah 74 unit tersebut. Meski demikian, pihaknya berupaya untuk menganggarkan kembali pada 2011.

Halte di kawasan Talang Kelapa
Saat disinggung mengenai warna cat yang digunakan, Agus mengaku sengaja memilih warna terang,seperti oranye dan kuning. “Biar masyarakat lebih tahu keberadaan halte tersebut.Selain itu, memudahkan awak bus untuk merapat saat menurunkan dan menaikkan penumpang. Ini juga tahap awal kita untuk mengoperasionalkan Transmusi pada malam hari,” ujarnya. Pantauan SINDO, dari dua koridor halte yang ada, terlihat koridor Sako-PIM yang lebih dominan berwarna terang. Setidaknya itu terlihat di sepanjang jalan Radial hingga Bukit Besar.Sejumlah halte yang berjarak 250 meter antara satu dengan lainnya terlihat semarak karena telah berubah warna. Tidak hanya itu, kondisi halte juga semakin bersih.

Tunawisma yang kerap kali menjadi halte sebagai “tempat tinggal”juga tidak terlihat karena pintunya telah dikunci saat malam hari. Untuk operaional di malam hari, Pemkot Palembang akan memasang lampu di tiap-tiap halte. Dari 74 halte yang ada, hanya 58 titik halte yang lebih diprioritaskan diberi penerangan. Sedangkan, sisanya tidak dianggarkan karena halte tersebut dibangun pihak swasta.

Kepala Dinas Penerangan Jalan dan Pemakaman (PJP) Kota Palembang Taufik Syakroni menjelaskan, anggaran untuk pembelian lampu halte tersebut telah dimasukkan ke APBD Perubahan 2010 sebesar Rp 75 juta. Direncanakan, masing-masing halte akan dipasang satu lampu berkekuatan 25 watt. (andhiko tungga alam.


23 Mei 2012

Pelebaran Jalan Sukarno Hatta Palembang

Rambu peringatan yang ada di lokasi pelebaran Jalan Soekarno Hatta

PALEMBANG – Proyek pelebaran Jalan Soekarno Hatta yang telah dikerjakan oleh Kementerian PU diperkirakan pada akhir tahun 2012 dapat selesai. Proyek yang didanai dari APBN sumber biaya dari Bank Dunia (World Bank) berupa dana pinjaman (loan) sebesar Rp 84 miliar untuk pembangunan dan pelebaran ruas Jalan Soekarno-Hatta dari tujuh meter menjadi 14 meter sepanjang 8,5 km.

Kepala Satuan Kerja Non Vertikal (SNVT) Preservasi dan Pembangunan Jalan dan Jembatan Metropolis Kementerian PU, Ir Aidil Fikri MT mengatakan jalan di sepanjang jalan Soekarno-Hatta ditingkatkan yakni tujuh meter sisi kiri dan tujuh meter sisi kanan (14 meter), median jalan selebar 2-3 m dan trotoar selebar 2 m.

Ia menambahkan kalau pengerjaan jalan Soekarno Hatta masih dilakukan penimbunan secara bertahap.
“Kendala tidak ada, kalau tanahnya sudah dibebaskan semua, tinggal melanjutkan saja, jadi sesuai target akhir 2012 selesai,”katanya.

Menurutnya, kontrak proyek ini juga selesai sampai bulan November 2012 termasuk pengaspalan Jalan Soekarno Hatta dimana nantinya akan jadi dua jalur.

“Nanti ada pelebaran lagi nanti dibuat Jalan perputaran kendaraan, agar memutar agak luas,”katanya.
Kondisi Jalan Sukarno Hatta saat ini

Lebih lanjut Aidil mengungkapkan mengenai Jembatan Musi II akan terus dipelihara terus dan pihaknya tidak mau lalai dan lengah karena perubahan kondisi jalan begitu cepat jadi Jembatan Musi II kini menerima beban overload tapi  “Asal kita teliti dan jaga terus insya allah jangan sampai terjadi,”katanya.

Ia melanjutkan, saat melakukan pengecekan di Jembatan Musi II beberapa hari yang lalu ada 15 baut yang kendor, dua baut yang hilang artinya patah dan sudah diganti. Sedangkan duplikasi Jembatan musi II sudah ada dan tahun 2012 akan ditenderkan.

“Sebetulnya kalau kita siap kita tender desember 2011 karena belum siap administrasi jadi ditender 2012, total nilainya nanti 293 miliar dimana lokasinya 10 meter dari jembatan sama, dan bentuk jembatannya tidak sama dengan jembatan lama karena tipenya berbeda.” pukasnya.


Video : Sriwijaya TV

Diakuinya, kalau Dishub Palembang akan memberlakukan satu jalur kendaraan yang lewat di Jembatan musi II. “Macetnya kadang atas jembatan itu membahayakan, kita kencangkan terus baut kita jaga, jangan sampai ambruk,”katanya.

Mengenai bergetarnya jembatan Musi II saat ini menurutnya semua jembatan memang bergetar apalagi jembatan berangka, kalau tidak bergetar salah namanya , tapi pihaknya tahu mana getaran yang normal dan tidak normal. (Morino)

Sumber Tulisan : http://www.trijayafmplg.net/

Palembang, Sukarami , 0512, Dodi NP  

22 Mei 2012

Blue Bird Hadir di Kota Palembang

Taxi Blue Bird yang sedang mangkal di salah satu sudut kota ini  (0512)
Palembang, 20 Oktober 2011. Taksi regular Blue Bird Group kini hadir di kota Palembang. Peluncuran Perdana taksi berlogo burung biru ini dilaksanakan di kantor Pemerintah Kota Palembang, ditandai dengan pemukulan kendi dan pelepasan balon ke udara oleh Walikota Palembang, bapak Ir. H. Eddy Santana Putra, MT beserta jajaran terkait lainnya,Kamis (20/10). Acara dilanjutkan dengan konvoi keliling kota Palembang yang diikuti oleh Bapak Walikota Ir. H. Eddy Santana Putra, MT.
 
Kehadiran taksi Blue Bird di kota Palembang bukan saja mewarnai moda transportasi jenis taksi, tapi juga terkait dengan persiapan Pemkot Palembang sebagai tuan rumah penyelenggaraan Sea Games ke 26 yang akan berlangsung pada bulan November nanti. Sesuai dengan penjelasan dari Taksi Blue Bird Palembang, Andre Djokosoetono, dalam pidato pembukaannya “Untuk tahap pertama ini baru 50 unit, dan akan terus ditambah hingga 100 unit dalam waktu dekat, dimana saat ini sedang tahap persiapan, khususnya menyangkut SDM, dan infrastruktur pendukung lainnya. Kehadiran kami di sini memang untuk mendukung acara Sea Games nanti, dan melayani kebutuhan transportasi mayarakat kota Palembang serta para pelancong yang datang ke kota ini, baik untuk tujuan bisnis maupun wisata.”

Dengan motto layanan ANDAL, yang artinya Aman, Nyaman, Mudah dan Personalise, menjadikan Blue Bird Group Blue Bird Group siap melayani masyarakat pengguna jasa taksi di kota Palembang, seperti di kota-kota besar lainnya.

Dalam pengoperasiannya, taksi Blue Bird Palembang selalu menggunakan argo meter untuk perhitungan ongkos taksi, armada yang terbaru dan terawat dengan Air Conditioner/pendingin udara, didukung dengan layanan pengemudi yang terpilih dan terlatih. Layanan Taksi Blue Bird bisa didapatkan dengan menyetop di jalan, melalui pangkalan taksi/outlet,  public service area (bandara, stasiun kereta api, perkantoran, maupun pusat perbelanjaan), dan melalui pesanan 24 jam di nomor telepon 0711 -361111.

Untuk menjadi seorang pengemudi Blue Bird Group yang profesional banyak tahapan yang harus dilalui, mulai dari proses rekrutmen, pelatihan, hingga evaluasi dan monitoring secara berkelanjutan untuk menjaga kualitas pelayanan.

Pengemudi Blue Bird Group, selain mendapatkan pelatihan-pelatihan bersifat teknis, diantaranya tentang standar pelayanan, defensive driving,  dan sebagainya, mereka juga diberikan siraman rohani sehingga mereka paham betul apa tujuan mereka bekerja. Siraman rohani ini menjadi tuntunan moral, sesuai dengan landasan budaya perusahaan yakni kejujuran, kerja keras, displin, dan kekeluargaan. “Diharapkan para pengemudi ini menjadi lebih faham serta mengerjakan pekerjaannya dengan baik.  Sebab, apa saja yang mereka lakukan, khususnya dalam bekerja, dampaknya bukan saja di dunia ini saja, namun juga di akhirat,” jelas Andre.

Sebagai timbal balik kepada gugus depan, khususnya pengemudi, perusahaan juga sangat memperhatikan kesejahteraannya. Selain menerima komisi dan bonus, berbagai fasilitas diberikan perusahaan  baik sarana dan prasarana kerja, misalnya, mess gratis untuk pengemudi yang tinggal jauh dari tempat kerja, dan fasilitas untuk keluarga, seperti kesehatan, pinjaman lunak, kepemilikan kendaraan bermotor, rumah, beasiswa untuk anak-anaknya, hingga ibadah ke tanah suci.

Budaya pelayanan yang diterapkan Blue Bird Group menganut azaz “Servent Leadership”, yakni semakin tinggi jabatan seseorang di dalam perusahaan ini, maka akan semakin banyak orang yang wajib dilayani. Terkait dengan itu, Blue Bird Group memperlakukan pengemudi sebagai internal customer, yang harus dilayani sebaik mungkin oleh manajemen. Sebab, pada akhirnya para pengemudi inilah yang akan memberikan layanan sebaik mungkin kepada external customer. 


Palembang, PS , 0512, Dodi NP

21 Mei 2012

Palembang Sport & Convtion Center

Eks Gedung Olah raga Kampus yang terus berbenah
Palembang Sport & Convention Center (baca: PSCC) merupakan wujud nyata revitalisasi gelanggang olahraga Sriwijaya dengan sentuhan futuristik, dinamis dan modern. Gelanggang olahraga bersejarah seluas 25,028 m2 ini diresmikan oleh Bapak Presiden Soeharto 40 tahun yang lalu. 

Renovasi PSCC merupakan salah satu visi pemerintah Sumatra Selatan yang ingin Palembang sukses sebagai tuan rumah perhelatan olahraga sekelas Sea Games XXVI di bulan November 2011. Prestasi pertama PSCC adalah sukses menyelenggarakan kompetisi olahraga Asian Men's Volleyball Championship 2011 yang diikuti oleh klub-klub profesional dari 12 negara Asia. Kualitas fisik bangunan dan struktur PSCC sudah dipuji banyak pihak. Beberapa pejabat pemerintahan menobatkan PSCC sebagai gelanggang olahraga no. 1 di Indonesia dan lapangan bola volinya terbaik di seluruh Indonesia. 

PSCC yang mengusung tagline Urban City Hall merupakan venue terbaik saat ini di Palembang. PSCC didesain untuk mengakomodasi beragam event berstandar nasional dan internasional seperti:
  • Konser
    PSCC menyediakan arena konser berupa center stage untuk menyelenggarakan live performance seperti tur konser, teater, orkestra, resital, festival yang didukung oleh tim pelaksana dan peralatan audio visual profesional.
  • Kompetisi olahraga
    PSCC menyediakan arena konser berupa center stage untuk menyelenggarakan live performance seperti tur konser, teater, orkestra, resital, festival yang didukung oleh tim dan peralatan audio visual profesional.
  • Konvensi skala besar
    PSCC menyediakan arena konser berupa center stage untuk menyelenggarakan live performance seperti tur konser, teater, orkestra, resital, festival yang didukung oleh tim dan peralatan audio visual profesional.
  • Pameran produk
  • Kegiatan bisnis korporat
  • Seminar
  • Konferensi pers
  • Kegiatan kebudayaan
  • Acara keagamaan
  • Pesta pernikahan
Sumber tulisan : http://www.palembangcentrepoint.com/

Palembang, Kampus , 0512, Dodi NP 

20 Mei 2012

Pulau Mas Plaza Palembang

Pulau Mas Plaza yang mulai beroperasi kembali
Pasca kebakaran besar pada Desember 2005 gedung yang dulunya merupakan Hotel berbintang tiga yang bernama KING dan, di mana juga ikut menghanguskan JM pulau Mas di lantai 3 yang dulunya merupakan  cabang terbesar di Palembang setelah JM Pusat, berikut juga toko-toko aksesoris komputer dan handphone, makanan cepat saji dan lain-lain.

Pada November 2011 yang lalu gedung ini mulai beroperasi kembali, walaupun tenat yang ada baru sebatas di lantai 1 itupun sebagian besar berupa berikut juga toko-toko aksesoris komputer dan handphone. Belum tahu apakah Hotel "KING" masih akan beroperasi di sini karen sampai saat ini untuk lantai 2 sampai lantai 6 masih kosong dan masih di lakukan renovasi di dalamnya

Jika di di lihat dari konsep bangunan memiliki kesamaan dengan arsitektur pasar Kepandean Palembang terutama jika di lihat dari sebelah kiri,

Palembang, Atmo , 0512, Dodi NP 

Pola Pemukiman di Kawasan Talangsemut, Kota Palembang

Sumber  : http://aryandininovita.blogspot.co.id/
I

Selama berdirinya, Kota Palembang yang telah berusia 13 abad lebih telah mengalami perkembangan yang sangat menarik untuk dikaji dalam studi perkotaan. Pada masa Sriwijaya, ketika ditetapkannya kota ini menjadi sebuah pemukiman, Dapunta Hyang Sri Jayanasa dengan cermat menata kota ini sedemikian rupa sehingga menjadi wilayah yang layak untuk dimukimi.

Berdasarkan data arkeologi, perencanaan kota terlihat dari penempatan bangunan-bangunan keagamaannya. Lokasi situs-situs keagamaan tersebut umumnya ditempatkan di daerah yang jarang dilanda banjir atau di lahan yang dikelilingi saluran buatan. Situs-situs arkeologi tersebut umumnya berada di meander Sungai Musi yang berupa tanggul alam atau tanah yang meninggi (Purwanti dan Taim 1995: 65 - 69).

Hal ini menunjukkan bahwa dalam menentukan lokasi pemukiman, Sri Jayanasa menempatkannya sesuai dengan kondisi geografis Palembang, yaitu di lahan yang lebih tinggi dari daerah sekitarnya yang berupa rawa dan sungai. Selain itu Sri Jayanasa juga melakukan kegiatan reklamasi daerah rawa untuk lokasi pemukiman dengan cara menimbun rawa tersebut dan mebuat saluran-saluran air yang bermuara ke Sungai Musi atau anak-anak sungainya (Utomo 1993: B4-1 - B4-9).

Pada masa Kesultanan Palembang Darussalam, kegiatan kota terkonsentrasi di sepanjang tepi Sungai Musi. Sebagian besar aspek pemukiman berlokasi di tepi utara sungai, seperti bangunan keraton, masjid dan pemukiman rakyat. Rumah tinggal berupa rumah panggung dari bahan kayu atau bambu dan beratap daun kelapa. Selain rumah panggung, penduduk kota juga tinggal di rumah rakit yang ditambatkan di tepi Sungai Musi.

Pusat pemerintahan terdapat di keraton yang dilindungi oleh tembok keliling dan sungai yang dikenal dengan nama benteng Kuto Besak. Bidang tanah yang dikelilingi oleh sungai-sungai tersebut merupakan milik kesultanan yang dipakai untuk tempat tinggal keluarga dekat sultan dan pejabat keagamaan. Pemukiman penduduk dibagi-bagi berdasarkan status sosial-ekonomi, keagamaan, kekuasaan dalam pemerintahan, keahlian dan mata pencaharian serta kelompok etnis (Utomo 1993: B3-3 - B3-4).

Setelah dihapuskannya Kesultanan Palembang Darussalam, wilayah ini dijadikan daerah administrasi Hindia-Belanda yang dipimpin oleh seorang residen. Pusat administrasi dilokasikan di sekitar Benteng Kuto Besak, yaitu bekas Keraton Kuto Lamo. Di lokasi ini didirikan sebuah bangunan baru yang diperuntukan sebagai kediaman residen. Pada masa ini Benteng Kuto Besak dialihfungsikan menjadi instalasi militer dan tempat tinggal komisaris Hindia-Belanda, pejabat pemerintahan dan perwira militer. Pemukiman di dekat keraton yang dulunya merupakan tempat tinggal bangsawan Kesultanan pada masa ini ditempati oleh perwira-perwira dan pegawai Hindia-Belanda (Sevenhoven 1971: 14).

II

Secara umum pembangunan fisik Kota Palembang yang dilakukan oleh Pemerintah Hindia-Belanda dimulai pada awal abad XX M. Berdasarkan UU Desentralisasi yang dikeluarkan oleh Pemerintah Hindia-Belanda, Palembang ditetapkan menjadi Gemeente pada tanggal 1 April 1906 dengan Stbl no 126 dan dipimpin oleh seorang burgemeester, yang dalam struktur pemerintahan sekarang setara dengan walikota. Meskipun demikian burgemeester pertama Kota Palembang baru diangkat pada tahun 1919, yaitu L G Larive.

Sejak saat itu pusat pemerintahan dipindahkan ke lokasi baru, yaitu di sebelah barat Benteng Kuto Besak. Di kawasan ini juga didirikan bangunan-bangunan umum seperti gedung peradilan, kantor pos dan telepon, rumah gadai, sekolah, gereja dan hotel serta tempat-tempat hiburan seperti bioskop dan gedung pertemuan. Pada saat ini pula, tempat transaksi jual beli yang dulunya dilakukan di atas perahu di Sungai Musi atau anak-anak sungainya dipindahkan ke tepi Sungai Musi dengan dibangunnya sebuah pasar permanen yang terletak di sebelah timur benteng.

Dalam tata ruang Kota Palembang pada awal abad XX M ini, dibangun pula lokasi pemukiman orang-orang Eropa yang merupakan warga kelas satu. Sebagai lokasi yang dipilih adalah di sebelah barat pusat pemerintahan. Selain diperuntukan untuk pejabat pemerintahan, rumah-rumah di kawasan ini juga disewakan untuk orang-orang Eropa lainnya. Pada masa ini Pemerintah Hindia Belanda mendirikan pelabuhan baru yang terletak di sebelah timur kota di antara Sungai Belabak dan Sungai Lawangkidul. Pelabuhan ini merupakan pelabuhan samudra dan antar pulau.

kota merupakan daerah perumahan dan bangunan-bangunan yang merupakan kesatuan tempat kediaman, selain itu kota juga merupakan pusat kegiatan pemerintahan, ekonomi, kebudayaan dan sebagainya. Dalam perspektif sosiologi, kota merupakan salah satu organisasi sosial dari sekumpulan individu dalam jumlah yang cukup besar, sangat kompleks dengan berbagai strategi hidup yang kurang terikat lagi pada pertanian. Kompleksitas kota ditandai dengan makin menajamnya perbedaan sosial yang didasari oleh profesi, status, ras, bahasa dan sebagainya. Gejala perbedaan antar individu tersebut akan terwujud pada pengelompokan masyarakat dalam bermukim (Harkantiningsih et. al 1999:185).

Pengelompokan masyarakat dalam satu kota pada dasarnya dapat dilihat dari tata kota tersebut. Sebagaimana diketahui tata kota adalah suatu pengaturan pemanfaatan ruang kota di mana dapat terlihat fungsi kota sebagai pusat pelayanan jasa bagi kebutuhan penduduknya maupun kota itu sendiri.

Dalam perkembangannya, terdapat peningkatan kompleksitas Kota Palembang sejak masa awal pemerintahan kolonial Hindia-Belanda sampai ditetapkannya kota ini menjadi staadgemeente. Pada masa awal pemerintahan kolonial Hindia-Belanda tata kota msih meneruskan pola dari masa Kesultanan, yaitu pusat pemerintahan terletak di sekitar Benteng Kuto Besak. Seperti pada masa sebelumnya kaum elit kota juga menetap di sekitar benteng.

Peningkatan pembangunan fisik kota terlihat jelas ketika pusat pemerintahan dipindahkan ke lokasi baru, yaitu di sebelah barat benteng. Sebagai pusat pelayanan jasa bagi penduduknya di kawasan ini selain didirikan gedung kantor burgemeester didirikan juga bangunan-bangunan fasilitas umum.

Pemukiman penduduk terlihat masih mengikuti pola tata ruang dari masa kesultanan, yaitu berdasarkan status sosial-ekonomi, kekuasaan dalam pemerintahan, keahlian dan mata pencaharian serta kelompok etnis. Penambahan lokasi pemukiman penduduk juga terlihat pada masa ini. Jika pada masa kesultanan kelompok etnis Cina tinggal di rumah-rumah rakit di tepi Sungai Musi, pada masa kolonial pemerintah Hindia-Belanda membolehkan kelompok etnis tersebut menetap di daratan tepatnya di sisi selatan Sungai Musi. Sebagai kelompok penguasa pemerintah Hindia-Belanda juga membangun sebuah kawasan pemukiman baru yang terpisah dari pemukiman-pemukiman penduduk lainnya. Lokasi pemukiman tersebut berada di sebelah barat kawasan pusat pemerintahan, yaitu Talangsemut.

Meneruskan penguasa-penguasa Palembang terdahulu, pemerintah Hindia-Belanda dalam menentukan lokasi penempatan fasilitas kota yang baru juga memperhatikan kondisi tapak wilayah Palembang. Seperti yang telah diuraikan sebelumnya bahwa Sri Jayanasa meletakan lokasi pemukimannya di lahan yang lebih tinggi dari daerah sekitarnya. Pemukiman-pemukiman tersebut kemudian berkembang hingga masa Kesultanan Palembang dan dilanjutkan oleh pemerintah Hindia-Belanda. Umumnya pemerintah Hindia-Belanda membangun fasilitas-fasilitas kota yang baru juga di lahan yang lebih tinggi dari daerah sekitarnya, seperti pemukiman di Talangsemut, pasar dan pelabuhan. Secara geografis lokasi-lokasi tersebut juga dialiri oleh anak-anak Sungai Musi.

Seperti yang telah diuraikan sebelumnya pada masa kolonial, di Kota Palembang dibangun sebuah pemukiman yang dikhususkan untuk warga keturunan Eropa dan kalangan elit lainnya yaitu di Talangsemut (Peta 1). Secara khusus kawasan ini didirikan seperti umumnya kawasan-kawasan pemukiman di Indonesia yang dibangun pada akhir abad XIX M dan awal abad XX M.

Pada masa itu kawasan yang diperuntukan untuk kalangan elit tersebut dibangun dengan konsep 'kota taman' dimana rumah-rumah tidak didirikan saling berdempetan dengan tepian jalan yang ditanami pohon-pohon, median jalan yang difungsikan sebagai jalur hijau serta ditambah beberapa taman atau lapangan olah raga yang terletak di antara perumahan. Dalam sejarahnya, konsep 'kota taman' ini mulai dikembangkan pada akhir abad XIX M, tepatnya ketika pemerintah Hindia-Belanda merencanakan sebuah pemukiman elit baru di lokasi yang sekarang dikenal dengan kawasan Menteng, Jakarta dan selanjutnya dikembangkan di beberapa kota di nusantara yang menjadi wilayah administrasi pemerintahan Hindia-Belanda (Heuken dan Pamungkas 2001).

Secara umum penerapan konsep 'kota taman' di kawsan Talangsemut terlihat pada pendirian banguan yang tidak saling berdempetan, tepian jalan yang ditanami pohon-pohon serta lahan hijau. Jaringan jalan di kawasan Talangsemut terlihat dibangun dengan tipe lengkung, hal ini dikaitkan dengan keadaan geografis kawasan ini yang berbukit-bukit sehingga bentuk jalannya disesuaikan dengan bentuk lahan setempat (Peta 2, 3, 4).

Bangunan-bangunan pada masa itu, baik bangunan rumah tinggal maupun bangunan umum terutama didirikan dengan gaya arsitektur Art Deco yang merupakan tren pada saat itu. Ciri-ciri gaya arsitektur tersebut adalah berbentuk kaku dan bagian depannya dihiasi oleh bentuk-bentuk geometris yang cukup dominan (Blumenson 1977: 77).

Di Talangsemut selain dibangun rumah-rumah dengan bentuk ‘engkel’ (foto 1), dibangun juga rumah-rumah dengan bentuk ‘kopel’ (foto 2). Bangunan rumah di kawasan Talangsemut umumnya terbagi dua bagian yaitu bangunan induk dan bangunan tambahan yang berada di bagian belakang atau samping bangunan induk. Secara keseluruhan bentuk dasar dari atap bangunan di Talangsemut berupa tipe atap perisai, hipped-roof, gambrel-roof dan atap pelana (foto 3,4,5,6). Pada beberapa rumah yang memiliki atap perisai dibagian puncak atap terdapat hiasan kemuncak yang berbentuk balok (foto 3). Pada rumah kopel yang beratap hipped-roof ada yang memiliki hiasan gable di bagian depannya (foto 2,6). Pada bagian tengah gable terdapat lubang angin berbentuk persegi atau lubang-lubang persegi yang disusun secara vertikal.

Elemen-elemen yang mendominasi bangunan-bangunan di Talangsemut yang mencirikan gayaarsitektur yang berkembang pada awal XX M adalah bentuk lubang angin dan tiang. Bentuk lubang angin pada bangunan-bangunan tersebut umumnya berupa lubang persegi yang bagian tengahnya dipasang profil beton yang mendatar atau profil yang berbentuk melengkung yang dipasang tegak lurus. Pada beberapa bangunan, lubang anginnya berupa hiasan kerawangan bermotif geometris yang berbentuk persegi atau bujursangkar. Tiang pada bangunan-bangunan di kawasan Talangsemut biasanya berbentuk persegi. Pada bagian atas tiang atau bagian tengah tubuh tiang terdapat hiasan profil. Keberadaan tiang ini berfungsi sebagai penyangga atap kanopi teras depan.

Selain bangunan-bangunan yang didirikan dengan gaya arsitektur yang menjadi tren pada masa itu, elemen kota yang mencirikan sebuah kota taman adalah adanya lahan hijau. Dalam hal ini di kawasan Talangsemut, lahan hijau kota dilengkapi dengan danau. Terdapat dua buah danau di kawasan ini yang berfungsi juga sebagai kolam retensi untuk mengendalikan banjir. Dari salah satu danau tersebut dibangun juga saluran air yang bermuara ke Sungai Sekanak.

IV

Pada awal kolonial Belanda, kebijakan pemerintahan menetapkan adanya pemisahan sistem administrasi pemerintahan antara waraga Eropa dengan pribumi, hal ini juga berlaku dalam menentukan lokasi wilayah pemukiman dimana penetapankan ditentukan berdasarkan kelompok etnis. Meskipun pada akhir abad XIX M, pembaharuan administrasi pemerintah Hindia-Belanda telah menlepaskan konsepsi pengelompokan kelompok etnis ini, dasar pembagian ras dalam soal kependudukan dan susunan wilayah pemukiman tetap dipertahankan (Soekiman 2000: 194).

Dalam hal ini kawasan Talangsemut merupakan salah satu contoh dari kebijakan pemerintah Hindia-Belanda tersebut. Seperti umumnya pemukiman-pemukiman yang dibangun pada awal abad XX M, kawasan Talangsemut juga dirancang tidak mengikuti pola yang diterapkan di negeri Belanda melainkan menerapkan suatu konsep baru, yaitu 'kota taman'. Sejak awal diterapkannya konsep 'kota taman'  di wilayah administrasi Hindia-Belanda, pemukiman ini memang diperuntukan sebagai pemukiman elit.

Meskipun tidak mengikuti pola tata kota  di negeri asalnya, kecenderungan mengikuti tren yang sedang berkembang di dunia pada umumnya dan Eropa pada khususnya ternyata masih dilakukan. Hal ini terlihat dari bangunan-bangunan yang didirikan pada masa tersebut umumnya memiliki gaya arsitektur Art Deco dan De Stijl yang memang sedang menjadi tren pada saat itu.


Tabel 1. Daftar Nama-Nama Jalan di Kawasan Talangsemut

No
Nama Lama
Nama Baru
1.     
Raadhuisweg
Jl Merdeka
2.     
Nassaulaan
Jl Merdeka
3.     
Nassauplein
Jl Taman Talangsemut
4.     
Oranjelaan
Jl P A K Abdurrachim
5.     
Kerkweg
Jl Gubah
6.     
Emmalaan
Jl Ratna
7.     
Sophielaan
Jl Joko
8.     
Wilhelminalaan
Jl Diponegoro
9.     
Prins Hendriklaan
Jl Diponegoro
10. 
Julianalaan
Jl Kartini
11. 
Willemslaan
Jl Supeno
12. 
De Ruyterlaan
Jl Hang Tuah
13. 
Trompweg
Jl Hang Suro
14. 
Kortenaerweg
Jl Ario Damar
15. 
Witte de Wittweg
Jl Pembayun
16. 
Van Speykweg
Jl Perwira
17. 
Regenteslaan
Jl Gajahmada
18. 
Vijverlaan
Jl Tasik
19. 
Palmenlaan
Jl Telaga
20. 
Stadhouderslaan
Jl Dr Sutomo
21. 
Anna Poulownaweg
Jl Thamrin
22. 
Alexanderweg
Jl Senopati
23. 
Weimarlaan
Jl Kusuma
24. 
Florisweg
Jl Jaya
25. 
Beatrixlaan
Jl Indra
26. 
Fredriklaan
Jl Dr Wahidin
27. 
Bernhardlaan
Jl Cipto
28. 
Bergenlaan
Jl Cokroaminoto
29. 
Bloemenlaan
Jl Raden Fatah
30. 
Vogellaan
Jl Cik Bakar
31. 
Irenelaan
Jl Teuku Umar
32. 
Bukit Besar
Jl J A R Suprapto






Daftar Pustaka


Blumenson, John J G,  1977, Identifying American Architecture. New York: WW Norton & Company.

De Chiara, Joseph dan Lee E Koppelman,1978, Standar Perencanaan Tapak. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Fleming, John, dan Hugh Honour, Nicolaus Peusner, 1977, The Penguin Dictinary of Architecture. New York: Penguin Book Ltd.

Hanafiah, Djohan, 1988, Palembang Zaman Bari. Citra Palembang Tempo Doeloe. Palembang: Humas Pemerintah Kotamadya Daerah Tk II Palembang.

Harkantiningsih, Nanik (et.al), 2000. Metode Penelitian Arkeologi. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

Heuken S J, Adolf dan Grace Pamungkas, 2001, Menteng, 'Kota taman' pertama di IndonesiaJakarta Yayasan Cipta Loka Caraka.

Purwanti, Retno dan Eka Asih P T, 1995, " Situs-Situs Keagamaan di Palembang: Suatu Tinjauan Kawasan dan Tata Letak" dalam Berkala Arkeologi tahun XV - Edisi Khusus - 1995 hal. 65-69.

Sevenhoven, J.L. van, 1971, Lukisan Tentang Ibukota Palembang. Jakarta: Bhratara.

Sukiman, Djoko, 2000, Kebudayaan Indis dan Gaya Hidup Masyarakat Pendukungnya di Jawa (Abad XVII - Medio Abad XX). Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya.

Sumintardja, Jauhari, 1978,Kompendium Sejarah Arsitektur Jilid IBandung: Yayasan Lembaga Penyelidikan Masalah Bangunan.

Tim Penelitian Arkeologi Palembang, 1992. Himpunan Hasil Penelitian Arkeologi di Palembangtahun 1984 - 1992 (belum diterbitkan).

Utomo, Bambang Budi, 1993, "Belajar Menata Kota Dari Dapunta Hyang Sri Jayanasa", dalam Sriwijaya dalam Perspektif Arkeologi dan Sejarah, hal. B4-1 - B4-9

Wiryomartono, A. Bagoes P, 1995, Seni Bangunan dan Seni Bina Kota di Indonesia. Kajian Mengenai Konsep, Struktur, dan Elemen Fisik Kota Sejak Peradaban Hindu-Buddha, Islam, Hingga SekarangJakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Tulisan ini telah diterbitkan dalam Jurnal "Siddhayatra" volume 7 nomor 2 November 2002 hal 1 -11
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...