CANTUMKAN SUMBERNYA JIKA MENGGUNAKAN GAMBAR ATAU ARTIKEL DARI BLOG INI - HORMATI HAK CIPTA ORANG LAIN.

04 Desember 2012

Makam Sultan Mahmud Badarudin II di Ternate

Sultan Mahmud Badaruddin II (Lahir: Palembang, 1767, wafat: Ternate, 26 November 1862) adalah pemimpin kesultanan Palembang-Darussalam (1803-1819), setelah masa pemerintahan ayahnya, Sultan Mahmud Badaruddin.

Dalam masa pemerintahannya, ia beberapa kali memimpin pertempuran melawan Britania dan Belanda, diantaranya yang disebut Perang Menteng. Tahun 1821, ketika Belanda secara resmi berkuasa di Palembang, Sultan Mahmud Badaruddin II ditangkap dan diasingkan ke Ternate.

Namanya kini diabadikan sebagai nama bandara internasional di Palembang, Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II.

Mata uang rupiah pecahan 10.000-an yang dikeluarkan pada 20 Oktober 2005 menggunakan Sultan Mahmud Badaruddin II sebagai gambar hiasannya. Penggunaan gambar ini sempat menjadi kasus pelanggaran hak cipta, karena gambar tersebut digunakan tanpa izin pelukisnya.

Sejak timah ditemukan di Bangka pada pertengahan abad ke-18, Palembang dan wilayahnya menjadi incaran Britania dan Belanda. Berdalih menjalin kontrak dagang, bangsa Eropa ini berniat menguasai Palembang. Awal bercokolnya penjajahan bangsa Eropa biasanya ditandai dengan penempatan loji (kantor dagang). Di Palembang, loji pertama Belanda dibangun pada tahun 1742 di tepi Sungai Aur (10 Ulu).

Orang Eropa pertama yang dihadapi Sultan Mahmud Badaruddin II (SMB II) adalah Sir Thomas Stamford Raffles. Raffles tahu persis tabiat Sultan Palembang ini. Karena itu, Raffles sangat menaruh hormat di samping ada kekhawatiran sebagaimana tertuang dalam laporan kepada atasannya, Lord Minto, tanggal 15 Desember 1810.

Sultan Palembang adalah salah seorang pangeran Melayu yang terkaya dan benar apa yang dikatakan bahwa gudangnya penuh dengan dollar dan emas yang telah ditimbun oleh para leluhurnya. Saya anggap inilah yang merupakan satu pokok yang penting untuk menghalangi Daendels memanfaatkan pengadaan sumber yang besar tersebut.

Bersamaan dengan adanya kontak antara Britania dan Palembang, hal yang sama juga dilakukan Belanda. Dalam hal ini, melalui utusannya, Raffles berusaha membujuk SMB II untuk mengusir Belanda dari Palembang (surat Raffles tanggal 3 Maret 1811).

Dengan bijaksana, SMB II membalas surat Raffles yang intinya mengatakan bahwa Palembang tidak ingin terlibat dalam permusuhan antara Britania dan Belanda, serta tidak ada niatan bekerja sama dengan Belanda. Namun akhirnya terjalin kerja sama Britania-Palembang, di mana pihak Palembang lebih diuntungkan.

Pada 14 September 1811, terjadi peristiwa pembumihangusan dan pembantaian di loji Sungai Alur. Belanda menuduh Britanialah yang memprovokasi Palembang supaya mengusir Belanda. Sebaliknya, Britania cuci tangan, bahkan langsung menuduh SMB II yang berinisiatif melakukannya.
Raffles terpojok dengan peristiwa loji Sungai Aur, tetapi masih berharap dapat berunding dengan SMB II dan mendapatkan Bangka sebagai kompensasi kepada Britania. Harapan Raffles ini tentu saja ditolak SMB II. Akibatnya, Britania mengirimkan armada perangnya di bawah pimpinan Gillespie dengan alasan menghukum SMB II. Dalam sebuah pertempuran singkat, Palembang berhasil dikuasai dan SMB II menyingkir ke Muara Rawas, jauh di hulu Sungai Musi.
Makam sultan Mahmud Badaruddin II di ternate
Setelah berhasil menduduki Palembang, Britania merasa perlu mengangkat penguasa boneka yang baru. Setelah menandatangani perjanjian dengan syarat-syarat yang menguntungkan Britania, tanggal 14 Mei 1812 Pangeran Adipati (adik kandung SMB II) diangkat menjadi sultan dengan gelar Ahmad Najamuddin II atau Husin Diauddin. Pulau Bangka berhasil dikuasai dan namanya diganti menjadi Duke of Yorks Island. Di Mentok, yang kemudian dinamakan Minto, ditempatkan Meares sebagai residen.

Meares berambisi menangkap SMB II yang telah membuat kubu di Muara Rawas. Pada 28 Agustus 1812 ia membawa pasukan dan persenjataan yang diangkut dengan perahu untuk menyerbu Muara Rawas. Dalam sebuah pertempuran di Buay Langu, Meares tertembak dan akhirnya tewas setelah dibawa kembali ke Mentok. Kedudukannya digantikan oleh Mayor Robison.

Belajar dari pengalaman Meares, Robison mau berdamai dengan SMB II. Melalui serangkaian perundingan, SMB II kembali ke Palembang dan naik takhta kembali pada 13 Juli 1813 hingga dilengserkan kembali pada Agustus 1813. Sementara itu, Robison dipecat dan ditahan Raffles karena mandat yang diberikannya tidak sesuai.

Konvensi London 13 Agustus 1814 membuat Britania menyerahkan kembali kepada Belanda semua koloninya di seberang lautan sejak Januari 1803. Kebijakan ini tidak menyenangkan Raffles karena harus menyerahkan Palembang kepada Belanda. Serah terima terjadi pada 19 Agustus 1816 setelah tertunda dua tahun, itu pun setelah Raffles digantikan oleh John Fendall.

Belanda kemudian mengangkat Edelheer Mutinghe sebagai komisaris di Palembang. Tindakan pertama yang dilakukannya adalah mendamaikan kedua sultan, SMB II dan Husin Diauddin. Tindakannya berhasil, SMB II berhasil naik takhta kembali pada 7 Juni 1818. Sementara itu, Husin Diauddin yang pernah bersekutu dengan Britania berhasil dibujuk oleh Mutinghe ke Batavia dan akhirnya dibuang ke Cianjur.

Pada dasarnya pemerintah kolonial Belanda tidak percaya kepada raja-raja Melayu. Mutinghe mengujinya dengan melakukan penjajakan ke pedalaman wilayah Kesultanan Palembang dengan alasan inspeksi dan inventarisasi daerah. Ternyata di daerah Muara Rawas ia dan pasukannya diserang pengikut SMB II yang masih setia. Sekembalinya ke Palembang, ia menuntut agar Putra Mahkota diserahkan kepadanya. Ini dimaksudkan sebagai jaminan kesetiaan sultan kepada Belanda. Bertepatan dengan habisnya waktu ultimatum Mutinghe untuk penyerahan Putra Mahkota, SMB mulai menyerang Belanda

Pertempuran melawan Belanda yang dikenal sebagai Perang Menteng (dari kata Mutinghe) pecah pada 12 Juni 1819. Perang ini merupakan perang paling dahsyat pada waktu itu, di mana korban terbanyak ada pada pihak Belanda. Pertempuran berlanjut hingga keesokan hari, tetapi pertahanan Palembang tetap sulit ditembus, sampai akhirnya Mutinghe kembali ke Batavia tanpa membawa kemenangan.

Belanda tidak menerima kenyataan itu. Gubernur Jenderal Van der Capellen merundingkannya dengan Laksamana JC Wolterbeek dan Mayjen Herman Merkus de Kock dan diputuskan mengirimkan ekspedisi ke Palembang dengan kekuatan dilipatgandakan. Tujuannya melengserkan dan menghukum SMB II, kemudian mengangkat keponakannya (Pangeran Jayaningrat) sebagai penggantinya.

SMB II telah memperhitungkan akan ada serangan balik. Karena itu, ia menyiapkan sistem perbentengan yang tangguh. Di beberapa tempat di Sungai Musi, sebelum masuk Palembang, dibuat benteng-benteng pertahanan yang dikomandani keluarga sultan. Kelak, benteng-benteng ini sangat berperan dalam pertahanan Palembang.

Pertempuran sungai dimulai pada tanggal 21 Oktober 1819 oleh Belanda dengan tembakan atas perintah Wolterbeek. Serangan ini disambut dengan tembakan-tembakan meriam dari tepi Musi. Pertempuran baru berlangsung satu hari, Wolterbeek menghentikan penyerangan dan akhirnya kembali ke Batavia pada 30 Oktober 1819.

SMB II masih memperhitungkan dan mempersiapkan diri akan adanya serangan balasan. Persiapan pertama adalah restrukturisasi dalam pemerintahan. Putra Mahkota, Pangeran Ratu, pada Desember 1819 diangkat sebagai sultan dengan gelar Ahmad Najamuddin III. SMB II lengser dan bergelar susuhunan. Penanggung jawab benteng-benteng dirotasi, tetapi masih dalam lingkungan keluarga sultan.

Setelah melalui penggarapan bangsawan dan orang Arab Palembang melalui pekerjaan spionase, serta persiapan angkatan perang yang kuat, Belanda datang ke Palembang dengan kekuatan yang lebih besar. Tanggal 16 Mei 1821 armada Belanda sudah memasuki perairan Musi. Kontak senjata pertama terjadi pada 11 Juni 1821 hingga menghebatnya pertempuran pada 20 Juni 1821. Pada pertempuran 20 Juni ini, sekali lagi, Belanda mengalami kekalahan. De Kock tidak memutuskan untuk kembali ke Batavia, melainkan mengatur strategi penyerangan.
Makam para pengikut Sultan Mahmud Badaruddin II di ternate
Bulan Juni 1821 bertepatan dengan bulan suci Ramadhan. Hari Jumat dan Minggu dimanfaatkan oleh dua pihak yang bertikai untuk beribadah. De Kock memanfaatkan kesempatan ini. Ia memerintahkan pasukannya untuk tidak menyerang pada hari Jumat dengan harapan SMB II juga tidak menyerang pada hari Minggu. Pada waktu dini hari Minggu 24 Juni, ketika rakyat Palembang sedang makan sahur, Belanda secara tiba-tiba menyerang Palembang.

Serangan dadakan ini tentu saja melumpuhkan Palembang karena mengira di hari Minggu orang Belanda tidak menyerang. Setelah melalui perlawanan yang hebat, tanggal 25 Juni 1821 Palembang jatuh ke tangan Belanda. Kemudian pada 1 Juli 1821 berkibarlah bendera rod, wit, en blau di bastion Kuto Besak, maka resmilah kolonialisme Hindia Belanda di Palembang.


Tanggal 13 Juli 1821, menjelang tengah malam, SMB II beserta keluarganya menaiki kapal Dageraad dengan tujuan Batavia. Dari Batavia SMB II dan keluarganya diasingkan ke Ternate sampai akhir hayatnya 26 September 1852.

Sumber : http://kesultanan-palembang.blogspot.co.id/

06 November 2012

Sate Wak Din Khas Palembang


Sate Wak Din Khas Palembang
Selain pempek, kerupuk kemplang ataupun martabak har, ada lagi salah satu kuliner khas Palembang yang cukup unik yaitu sate. Sate manis bergitu orang menyebutnya karena memakai paduan bumbu kecap dan paduan rasa cuka yang cukup eksotik. Penjual sate manis tidak banyak, salah satu yang cukup terkenal adalah warung sate Wak Din di Jalan Hasyim Ashari atau Pasar Klinik, 7 Ulu.

Warung sate Wak Din terletak sekitar 50 meter dari kaki Jembatan Ampera atau dari pangkal proyek. Lokasi warung sate yang sederhana itu mudah ditemukan karena tampak berbeda dengan warung makan lainnya, yaitu ada alat memanggang sate di depan warung dengan aroma yang khas. Lahan parkir di depan warung sate Wak Din yang cuma secuil itu pun sering terlihat penuh. Mulai dari sepeda motor sampai mobil mewah diparkir di depan warung sate Wak Din.Kesan warung tradisional yang mengabaikan penampilan langsung menyergap pengunjung. Namun, jangan buru- buru menilai rasa masakan hanya dengan melihat kondisi warung.

Aroma daging yang dibakar di atas arang begitu kuat. Aroma itu bahkan masih tetap menempel di baju dan tangan beberapa jam setelah kita makan di warung sate Wak Din.Ciri khas sate manis Wak Din terbuat dari daging sapi. Setiap porsi sate hanya lima tusuk. Meskipun cuma lima tusuk, tetapi cukup mengenyangkan karena ukuran dagingnya besar. Daging sapinya tidak dibakar terlalu lama sehingga masih terasa kenyal saat dikunyah.

Setiap porsi sate manis dihidangkan dalam sebuah piring kecil. Dalam piring itu sudah terdapat bumbu kecap untuk melumuri sate dan rasa cuka, ini yang membuat sate ini memiliki keunikan dari sate yang lainya baik sate Madura ataupun sate Padang. sehingga dengan perpaduan rasa itulah yang menimbulkan rasa manis sehingga sate ini juga di kenal dengan "Sate Manis".

Sate manis bisa disantap dengan nasi putih, dicampur dengan kuah pindang, atau dicampur dengan kuah soto, yang terbuat dari santan sesuai selera. Penjual juga menghidangkan sambal buah dan acar mentimun di atas meja. dengan harga Rp.3.000,- pertusuknya cukup bersahabat dengan kantong kita.

Rasa khasnya inilah yang membuat Sate Wakdin ini selalu ramai di datangi oleh "pemburu kuliner" dari baik dari dalam atau luar kota juga , tanpak sepeti yang terpajang di dinding rumah makan ini foto-foto selebritis ataupun pejabat di kota ini, seperti Gubernur Alek Noerdin dan keluarga, begitu juga Wakil walikota  Romi Herton, atau praktisi kuliner Bondan 'Maknyus" Winarno, artis cilik imel dan masih banyak lagi.
Dengan konsep kesederhanaan inilah justru membuat rumah makan ini jadi ramai di kunjungi, seperti beberapa even yang ada di kota Palembang beberapa waktu yang lalu baik berupa ajang olahraga, pameran, seminar dan lain-lain rumah makan sate Wakdin juga ikut kecipratan berkah dari ajang-ajang tersebut.

Di rangkum dari berbagai sumber

15 Oktober 2012

Sejarah Rumah SUSUN Palembang

Salah satu blok rumah susun di Palembang
MUSIBAH kebakaran yang terjadi pada Agustus 1981 menimbulkan dampak yang cukup besar pada wajah kota ini. Sebanyak empat kampung tradisional masyarakat lenyap dari permukaan Bumi Sriwijaya ini. Peristiwa ini, paling tidak, juga telah mengubah pola hidup Wong Pelembang lewat perkenalan dengan rumah bertingkat-tingkat yang di sebut rumah susun (Rusun). Kawasan pertokoan Internasional Plaza (IP) hingga ke IBP paling tidak hingga awal 1980-an, belum memiliki jalan aspal, sementara IP, ketika itu masih merupakan Bioskop Internasional dengan beberapa toko disekitarnya. Di ujung jalan (tanah merah keras) dari Internasional terdapat Pasar Mambo yang dibuka pada malam hari.

Saat ini, bangunan di sekitar kawasan itu umumnya baru kecuali toko foto – copy Remifa. Penghubung kawasan Cinde Welan (Candi Walang) adalah Jl Candi Walang, yang di mulai dari Jl. Jend. Sudirman — Kebon Duku — hingga tembus ke belakang Pasar Cinde saat ini. Di kawasan 24 Ilir itu pula, terdapat Sungai Candi Walang (kini telah ditimbun). Kawasan Candi Walang, ketika itu posisi tanahnya menanjak. Bahkan jauh sebelum itu, pada masa Kesultanan Palembang hingga masa penjajahan Belanda, kawasan ini posisi tanahnya menanjak hingga ke RS RK Charitas saat ini. Karena pembuatan jalan dan sebagian pemukiman, dataran tinggi itu “dipangkas” hingga posisi tanahnya tampak seperti saat ini.

Sebagian kawasan, masih berupa rawa dan aliran sungai. Dengan topografi seperti itu, sebagian besar rumah di kawasan ini berbentuk panggung berbahan kayu. Kondisi ini, paling tidak, dapat kita saksikan dalam karya pelukis asal Sumsel Amri Yahya, yang berjudul Sungai Limbungan (1954). Lukisan bermedia cat minyak di atas kanvas berukuran 80×50 cm itu menggambarkan suasana Sungai Limbungan (sekarang kawasan Rusun). Lewat lukisan ini dapat di lihat kondisi “almarhum” Sungai Limbungan yang dahulu dapat dilalui perahu dan kini menjadi “sarang nyamuk” itu. Paruh awal 1980-an, Sungai Candi Walang dapat dimasuki perahu. Bahkan, masih terdapat banyak buaya di sungai itu.

Menurut beberapa warga yang berdiam lama dikawasan ini, sepanjang tepian Sungai Candi Walang, masih ditumbuhi pohon para (karet) dan pohon kemang. Saat menyusuri sungai di kawasan Bank Mandiri saat ini. Buaya besar berlumut sering muncul bergaya “kalem” itu diyakini sebagai Raden Tokak. Ini merupakan salah satu tokoh legenda dalam cerita rakyat Palembang yang konon dapat muncul se waktu-waktu. Bahkan, hingga kini pun. Dengan “wilayah kekuasaan” dari 35 Ilir sampai Sungai Sekanak, masyarakat Palembang masih sering melihat penampakannya.

Kampung Yang Hilang

Salah seorang saksi mata dalam kebakaran yang terjadi pada Agustus 1981, H. Mouthalib Adams menggambarkan, peristiwa kebakaran itu sangat tiba-tiba dang begitu mengejutkan. “Saat itu, pukul 09.00 WIB, saya sedang memfotocopy. Tiba-tiba, saya dengar ada yang mengatakan kebakaran. Begitu sampai di rumah, api telah membesar,” kata Mouthalib, yang saat itu bekerja di Radar Selatan. Api berasal dari salah satu rumah di Gg Buntu, yaitu bedeng pembuat kasur. Api dengan demikian cepat menjalarnya dengan pola menyebar tak hanya kawasan 24 Ilir yang terkena. Api merambat cepat ke 23 Ilir, 22 Ilir, dan 26 Ilir. Pola rembetan api memanjang di kawasan 26 Ilir membuat repot petugas pemadam kebakaran. Kepanikan warga akibat musibah itu, tidak dapat digambarkan lagi. Karena cepatnya api menjalar, Try Sutrisno yang saat itu menjabat Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) IV — kini Kodam II — Sriwijaya, membuat “blok” dengan menjatuhkan bom di dua titik kebakaran kawasan 26 Ilir. “Begitu bom dijatuhkan, lokasi kebakaran langsung langsung terpecah dan rembetannya dapat di cegah,” kata Mouthalib. Penggunaan bom untuk pemecah api ini, mengingatkan pada penggunaan TNT (2,4,6-trinitron toluena) yang dipakai Polda Sumsel saat membantu memudahkan pemadaman api dalam “tragedi Heppi.”

Selain menjatuhkan bom, sebagai upaya mempercepat pemadaman api juga dilakukan dengan membongkar dan merobohkan beberapa rumah. Salah satunya rumah limas yang kini berada di salah satu sisi blok Rusun. Api baru dapat dijinakkan sekitar tengah malam. Saat itu, diperkirakan lebih dari 400 unit rumah hangus. Meskipun tak ada korban jiwa, yang jelas empat kampung ludes dari permukaan tanah. Hilanglah empat kampung tradisional Palembang. Sebagian dari kampung itu, kini berubah menjadi “kampung modern” dengan rumah tinggal bersusun-susun.

Yudhy Syarofie, Sriwijaya Post — Sabtu, 13 Juli 2002

05 Oktober 2012

Jalan Selero Palembang

Jalan Selero. Selain dikenal sebagai pusat percetakan, kawasan ini juga sering dianggap sebagai tempatnya one stop wedding. Lantas seperti apa sejarahnya sampai kawasan ini bisa berkembang seperti sekarang?

Kalau punya waktu menyusuri Jalan Serelo atau kini disebut Jalan AKBP HM Amin, Anda pasti akan langsung disuguhi petakpetak kios percetakan. Mulai dari skala kecil hingga besar, semua bercampur baur menjadi satu di tempat ini.

Keberadaannya pun menyebar tak hanya di Jalan AKBP HM Amin tapi juga sampai ke Jalan Cek Syeh dan Jalan Faqih Jalaludin. Diperkirakan tak kurang ada ratusan percetakan yang beroperasi di tempat ini. Hidayat Senen,56, salah seorang pengusaha sekaligus perajin yang cukup lama mendiami kawasan itu mengatakan, terbentuknya pusat percetakan di lokasi tersebut terjadi begitu saja.Seingatnya, kios percetakan mulai muncul sekitar akhir tahun 80- an. Sebelumnya, kawasan itu merupakan perkampungan biasa layaknya jalan-jalan lain di Kota Palembang.

Selain keluarga besar Mir Senen, di lokasi itu sepengetahuannya banyak juga didiami oleh keluarga Hatta Rajasa yang sekarang menjadi Menteri Koordinator Perekonomian dalam Kabinet SBY. Namun sebelum ramai oleh pengusaha percetakan seperti sekarang ini, kawasan itu hanyalah merupakan kampung biasa. Selanjutnya oleh seniman alm Gathmyr Senen,kawasan itu dibuat menjadi tempat mengumpulkan para seniman. Baik itu seniman lukis, perajin laker maupun kaligrafi.

”Saat itu, usaha kerajinan dan seni Mir Senen lagi naik daun. Jadi setiap ada tamu gubernur dari dalam dan luar selalu diajak berkunjung di sentra kesenian ini,”ujar Hidayat. Khusus untuk kerajinan laker, kata Hidayat, di lokasi ini menjadi tempat finishing saja. Usaha kerajinan itu didominasi para pendatang dari Kota Padang. Nama Jalan Serelo itu sendiri lanjutnya sudah diganti beberapa kali. Dimana Jalan Serelo terkenal pada tahun 70-an. Karena dianggap belum resmi, nama itu kemudian diubah oleh pemerintah menjadi Jalan Abdullah dan terakhir menjadi AKBP HM Amin.

Dia memperkirakan, ramainya pengusaha percetakan ini lantaran pengaruh galeri seni yang dibuka oleh Mir Senen. Sebab selain melestarikan seni kontemporer, tarian, dan kerajinan ukiran Palembang, almarhum juga mulai memperkenalkan usaha pelaminan pengantin menggunakan laker Palembang. Bahkan di galerinya almarhum Mir Senen juga menyediakan jasa penari untuk keperluan pesta pernikahan. ”Saya pikir itu juga memengaruhi. Soalnya banyak pasangan pengantin yang menggunakan jasa EO-nya pada waktu itu. Jadi mulai banyak yang datang kesini,”kata dia.

Nah saat itu,almarhum Mir Senen memiliki bengkel seni. Di tempat itu pula almarhum Mir Senen membuka kios-kios kecil sisa tanah untuk disewakan. Awalnya satu dua percetakan saja yang hadir di tempat ini. Namun karena langsung direspon oleh konsumen yang memanfaatkan jasa wedding di Galeri Seni milik Mr Senen. Lama kelamaan, usaha percetakan khususnya untuk undangan dan hajatan pun mulai ramai.”Belum terlalu lama, sekitar tahun 1989. Setelah itu baru tambah ramai,” ujar dia.

Konsumen galeri Senen pun terbantu, sebab mereka tak perlu repot-repot membuat undangan untuk keperluan hajatan mereka. Karena semakin ramai dan diketahui masyarakat luas, pemilik usaha percetakan pun ikut mengembangkan usaha. Tak hanya undangan pernikahan, kini di tempat tersebut semua jenis bahan cetak bisa dibuat misalnya kalender, nota, banner hingga buku dan Yasin,semua tersedia lengkap. Bahkan belakangan ini, banyak juga pengusaha yang menyediakan aneka suvenir pernikahan. Tak heran kawasan ini kerap disebut sebagai one stop wedding.

”Konsumen banyak yang tanya. Makanya pengusaha mulai mengembangkan usaha. Konsumen juga makin terbantu sebab mereka tak perlu repot-repot lagi mencari kebutuhan untuk keperluan pesta pernikahan,”jelasnya. Hidayat mengatakan, saking banyaknya orderan, tingginya aktivitas bisnis di tempat ini bahkan kerap dijadikan para “pengulo” dengan sistem simbiosis mutualisme dengan pedagang. ”Yang ngulo juga banyak. Jadi mereka yang cari order buat kita. Mereka gak punya kios tapi bisa dapet untung.Mereka ini datangnya siang dan kumpul di salah satu kios depan,” katanya.

Sementara itu, salah seorang pengusaha percetakan, Syahril Edi mengatakan, kawasan tersebut memang sangat menjanjikan bagi pengusaha seperti mereka. Karena kawasan serelo sudah sangat terkenal. Sehingga selalu banyak didatangi konsumen. Dengan begitu mereka tak perlu repot-repot lagi mencari orderan. ”Selain ramai, toko kertas terbesar juga dekat dari tempat ini. Jadi kami lebih mudah menjalankan usaha,”jelas pria yang sudah membuka percetakan sejak tahun 80-an di lokasi ini.

Saking banyaknya konsumen, setiap bulan tak kurang ada puluhan ribu eksemplar undangan pesanan konsumen dicetaknya di tempat ini.Jenis percetakan itu bermacam-macam datangnya, baik dari kebutuhan pribadi maupun instansi pemerintahan. Sementara itu,menurut pengamat budaya di Sumsel Yudi Syarofi, kawasan Serelo bisa dijadikan salah satu unsur kebudyaan, mengingat di kawasan itu bukan hanya industri percetakan yang berkembang tapi banyak juga kerajinan seperti ukiran Palembang.

Menurut dia,lebih tepatnya kawasan itu cocok disebut sebagai cikal bakal industri kreatif di palembang. Karena dari tempat ini banyak lahir handycraft- handycraft bernuansa seni dan kerajinan yang punya nilai jual. ”Lebih tepatnya ini bisa kita sebut cikal bakal industri kreatif di Palembang. Untuk itu pemerintah harus jeli memanfaatkan ini sebagai salah satu potensi wisata,”katanya. Posisinya yang strategis, kata yudi, bisa saja dimaksimalkan dengan bantuan dana dari pemerintah.

Sehingga ke depan, kawasan itu bisa disulap jadi sentra kerajinan Palembang. ”Tinggal promosinya. Kita bisa berdayakan masyarakat di sana untuk membuka usaha serupa dengan sistem lintas sektor. Jadi kawasannya bisa lebih lengkap dan sempurna,”pungkasYudi. komalasari 

Sumber tulisan : www.seputar-indonesia.com/

03 September 2012

Hotel Smit / Hotel Sehati Palembang

Hotel Smit / Hotel Sehati Tahun 1950 Foto : Plamboom.Divise.nl
Hotel yang termasuk berkelas di zamannya ini terletak di kawasan talang semut dimana kebanyakan warga Belanda yang tinggal di sini, dengan mengandalkan kenyamanan dan ketersediaan air panas dan dingin.

Iklan Hotel Smit Foto tahun 1937 : Sumatera E Museum

20 Agustus 2012

Pempek Adaan

Hasil gambar untuk pempek adaan
Pempek Adaan merupakan salah satu jenis pempek palembang yang paling mudah dibuat. Pempek ini berbentuk bulat seperti bakso. Pada dasarnya pempek adaan juga memakai bahan dasar pempek  namuan ditambahkan dengan daun bawang. Selain itu pempek adaan tidak direbus terlebih dahulu seperti pada pempek telorlenjer, dan kapal selem. Pempek adaan langsung di goreng, seperti pempek tahu dan pempek kulit.  bentuknya yang seperti bakso itu pun memilik teknik tersendiri, ada yang memakai dua sendok atau cara lain. tapi percayalah besar dan bentuk pempek adaan tergantung dari besar tangan si pembuatnya. Mau tau cara membuatnya :
Siapkan Bahan:
  • 250 gr ikan yang sudah digiling (tenggiri, gabus, kakap, belida)
  • 120 gr tepung sagu
  • 2 siung bawang putih yang sudah dihaluskan
  • 3 batang daun bawang kecil, diiris tipis
  • 1 butir telur ayam
  • 100 ml air
  • garam secukupnya
  • santan kelapa dan merica secukupnya
  • minyak goreng secukupnya
Cara Membuat Pempek Adaan :
  • Campurkan ikan yang sudah di haluskan dengan garam, merica, telur, dan daun bawang. Tambahkan tepung dan diaduk sampai rata. seperti membuat bahan dasar pempek. bagi yang menggunakan santan, juga di campur sampai rata.
  • Setelah semuanya tercampur, tinggal membulatkannya.
  • Genggam adonan, remas-remas, dan tekan sehingga adonan keluar perlahan dari bagian atas tangan, seperti gambar di bawah ini.
resep pempek adaan palembang  Resep pempek adaan palembang - Cek Dung
  • Setelah adonan berbentuk bulat keluar dari tangan maksimal. Ambil adonan bulat tersebut dengan menggunakan sendok. seperti pada gambar di bawah ini, dan langsung di masukkan ke dalam gorengan dengan minyak yang sudah memanass di atas api yang sedang.
pempek kemplang cek dung-resep pempek adaan 3
 Tips Membuat Pempek Adaan :
  • Adonan dasar jangan terlalu lembut dan juga jangan terlalu keras.
  • Gunakan sendok yang tebal agar tidak menyakiti tangan. Dan celupkan sendok pada air agaar tidak lengket.
  • Untuk penggunaan bumbu dapat dilakukan sesuai selera.
Semoga bermanfaat, mohon masukannya dan selamat mencoba.

13 Agustus 2012

Sekilas Sejarah Perss di Palembang

Harian umum Sumatera Ekspress tahun Maret 1984

TIDAK banyak catatan mengenai sejarah pers di Palembang. Tapi, sangat dipercaya pers di Palembang sudah ada sejak pertengahan abad 19. Buku Beberapa Segi Perkembangan Sejarah Pers di Indonesia (Kompas, 2002), menyebutkan pada masa kolonial Hindia Belanda di Palembang telah terbit surat kabar Nieuws en Advertentie blad voor de Residentie Palembang, Djambie en Banka pada 1893.

Surat kabar ini disebutkan terbit dua kali dalam sepekan dan diperuntukan kepentingan perusahaan minyak di Palembang. Menurut Tribuana Said dalam bukunya Sejarah Pers Nasional dan Pembangunan Pers Pancasila (1988, halaman 26) disebutkan pada 1830 adalah seorang pengusaha pribumi pertama di Indonesia yang memiliki mesin cetak. Namanya Kemas Mohammad Asahari. Tapi, berbeda dengan Tirto Hadisoerjo alias Djokomono di Bandung dan Serikat Tapanoeli di Medan, Kemas Mohammad Asahari tidak menerbitkan koran atau surat kabar.

Siapa Kemas Mohammad Asahari? Menurut budayawan dan sejarawan Palembang, Djohan Hanafiah, Kemas Mohammad Asahari seorang konglomerat pada masanya. Dia memiliki banyak rumah dan usaha.

Diperkirakan Djohan, Kemas Mohammad Asahari ini menetap di kampung, yang kini disebut kampung 22 Ilir, di Palembang. “Anak-anaknya banyak sekolah hingga ke Belanda. Salah satunya Ali Asahari yang pernah menjadi dosen saya di Universitas Sriwijaya. Dan keluarganya banyak menetap di Bandung,” kata Djohan.
Tribuana Said yang mengutip dari arsip Perpustakaan Nasional, menyebutkan di Palembang pada 1919 telah terbit surat kabar Teradjoe yang diterbitkan Sarekat Islam Palembang.

Lalu, menurut Basilius, dalam artikelnya Media Cetak Jaman Penjajahan, yang dimuat www.forumbebas.com pada 2 Juni 2008, pada tahun 1920-an, di Palembang telah terbit Obor Rakjat, Tjahaya Palembang, dan Pertja Selatan. Dan, masa kejayaan pers di Palembang berlangsung dari tahun 1926 hingga 1939. Kejayaan tersebut dapat diwakili dari surat kabar Pertja Selatan.

Pada 1 Juli 1926 di bawah bendera N.V. Peroesahaan Boemipoetra Palembang terbitlah surat kabar Pertja Selatan.
Pada masthead tercantum KM. Adjir sebagai direktur, dan administrateur (administrasi) Kiagoes Mas’oed. Lalu sebagai redacteur (redaktur) atau penanggung jawab redaksi adalah Raden Mas Ario (R.M.A) Tjondrokoesoemo.

Sejak awal, Pertja Selatan menjadi satu-astunya surat kabar yang beredar di Palembang, yang berani mengkritik pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Wartawan maupun korannya beberapa kali diperingati atau mendapat sanksi oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda. Bahkan, Tjondrokoesoemo, seorang wartawan yang berani, terpaksa diganti oleh Mas Arga, setelah mendapat tekanan dari pemerintahan colonial tersebut.
Pertja Selatan berakhir setelah Jepang masuk ke Indonesia, khususnya di Palembang.Sebab hampir semua surat kabar yang terbit di masa colonial Hindia Belanda diberangus atau dibubarkan oleh Jepang.

Di masa pendudukan Jepang, di Palembang terbit surat kabar Shimbun Palembang. Surat kabar ini tentu saja dibuat untuk kepentingan para Jepang, sehingga selama proses pembuatan, pencetakan, hingga penyebaran di bawah pengawasan para penguasa Jepang.

Nungcik Ar tercatat sebagai pimpinan Shimbun Palembang. Setelah Indonesia merdeka, Nungcik Ar bersama sejumlah wartawan lainnya yang sebelumnya bekerja di Shimbun Palembang menerbitkan Soematra Baroe pada 5 September 1945, kemudian pada Juni 1946 namanya berganti menjadi Obor Rakjat yang salah seorang pemimpin redaksinya Adnan Kapau (AK) Gani, yang kemudian menjadi tokoh PNI, dan menteri dalam kepemimpinan Soekarno-Hatta di Jakarta (Tribuana Said, Sejarah Pers Nasional dan Pembangunan Pers Pancasila, 1988).

Sama seperti Pertja Selatan, surat kabar Obor Rakjat juga dikenal sebagai media yang melawan atau kritis. Para redakturnya pada masa pendudukan Inggris (NICA) di Palembang, beberapa kali dipanggil dan diperingatkan oleh NICA. Bahkan, pada masa Agresi Meliter Belanda I, tahun 1947, kantor Obor Rakjat ditembaki oleh serdadu Belanda.

Meskipun Obor Rakjat berganti nama menjadi Harian Oemoem, dan terakhir menjadi Soeara Rakjat, mereka tetap mendapat tekanan pihak Belanda maupun kaum sparatis proBelanda. Bahkan seorang wartawan Soeara Rakjat yakni Idrus Nawawi ditahan pihak meliter Belanda.

Pasca Agresi Meliter Belanda II, pers di Palembang, seperti juga kondisi umum pers nasional saat itu, mulai melakukan apiliasi dengan organisasi politik, dan tumbuh sesuai aliran atau ideology masing-masing. Sejak itu pula pers di Palembang mengalami polarisasi. Misalnya koran-koran yang diterbitkan kekuatan Masyumi, PKI, dan PNI.
Beberapa surat kabar yang terbit per 15 Juli 1948 di Palembang, antara lain Soeara Rakjat yang terbit harian, Fikiran Rakjat yang terbir tiga kali dalam sepekan, Kesatoean Indonesia dan Soeasana yang terbit mingguan, serta Obor Rakjat yang terbit berkala.
Di akhir tahun 1950-an, terjadi pembreidelan sejumlah surat kabar di Palembang.

Pembridelan ini tentu saja dinilai telah bertentangan dengan kebijakan pemerintahan Soekarno. Pada 12 April 1959, surat kabar Pembangunan Palembang dibriedel, 29 April 1959 Suara Rakyat Sumatra juga dibriedel dan penahanan terhadap wartawannya Idrus Nawawi. Pada 2 Agutus 1959, Obor Rakjat dibridel. Setahun sebelumnya, di Jakarta, surat kabar Indonesia Raja yang dipimpin Mochtar Lubis juga dibriedel, menyusul pula Pedoman dan Abadi.

Menjelang peristiwa 30 September 1965, wartawan yang dikenal antikomunis yakni B. Yass dan Hamdani Said, yang memimpin surat kabar Batang Hari Sembilan, dipecat sebagai anggota PWI pada 13 Mei 1965. Satu hari setelah peristiwa 30 September 1965, PWI memecat dan membrediel wartawan dan surat kabar yang dinilai terlibat dalam peristiwa 30 September 1965 atau pada masa Orde Lama berada dalam satu kelompok dengan pihak komunis. Surat kabar yang dibridel atau dilarangan terbit itu adalah Fikiran Rakjat dan Trikora dilarang terhitung sejak 1 Oktober 1965. Beberapa hari kemudian, 23 Oktober 1965, 16 wartawan harian Fikiran Rakjat dipecat oleh PWI. Di antaranya, M Uteh Riza Yahya, H.H. Syamsuddin, R. Abubakar H. R, dan Abdullah Hasan.
Setahun kemudian, suhu politik terus meningkat. Beberapa pendukung Soekarno tetap melakukan perlawanan, Termasuk para wartawannya. Djohan Hanafiah, yang tercatat sebagai wartawan surat kabar Panji Revolusi sempat ditahan, lantaran dirinya dan beberapa wartawan dari media yang berapiliasi ke PNI itu dituduh merusak atau merobek surat kabar yang mendukung Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto.

Tahun 1970-an, surat kabar yang terkait dengan masa perjuangan dan kemerdekaan Indonesia tampaknya sudah mati. Beberapa surat kabar yang baru muncul, seperti Suara Rakyat Semesta, Sumatera Ekspres, dan Garuda Post.

Digambarkan Soleh Thamrin, pendiri harian Sriwijaya Post atau disingkat namanya menjadi Sripo, campur tangan pemerintah terhadap pers di Indonesia di masa Orde Baru tidaklah berbeda di masa colonial Hindia Belanda, Jepang, maupun Orde Lama. Beberapa pers di nasional merasakan “tangan besi” pemerintahan Soeharto. Misalnya yang dialami harian Indonesia Raja pimpinan Mochtar Lubis yang kembali dibridel pada tahun 1974.

Bersama pula dibriedel sejumlah surat kabar seperti Kami, Abadi, The Jakarta Times, dan mingguan Wenang dan Pemuda Indonesia. Pembriedelan ini terkait masalah Malari (Malapetaka Limabelas Januari).

Pascapembriedelan itu, pers di Indonesia, termasuk di Palembang, seakan “mati”. Banyak surat kabar tidak berani mengkritik secara terbuka kepemimpinan Soeharto. Dapat dikatakan kehidupan pers, seperti hanya melayani kemauan dari pemerintah.
Lebih jauhnya, profesionalitas para wartawan menurun. Mereka yang “frustasi” lantaran kebebasannya tersumbat, akhirnya lebih memilih menjadikan profesi wartawan sebagai alat “pemeras” buat para pejabat atau pengusaha yang bermasalah. Para wartawan ini bekerja sama dengan para pemegang kebijakan atau pemegang hukum dalam menjalankan fungsi negatifnya tersebut. “Masyarakat benar-benar tidak mendapatkan informasi yang benar atau meluas. Mereka seakan hanya boleh membaca informasi yang dikeluarkan pemerintah,” kata Soleh.

Kondisi tersebut diperparah, banyaknya surat kabar di Palembang, penerbitannya tidak sehat. Dapat dikatakan penerbitan sangat tergantung dari pemasukan dana iklan yang minim, atau adanya bantuan dari pemerintah. Tahun 1980-an akhir hingga 1990-an, muncul sejumlah wartawan muda yang bermimpi ingin melahirkan surat kabar yang benar-benar berfungsi sebagai media massa.

Soleh Thamrin sendiri salah satu wartawan muda di Palembang yang memiliki keinginan tersebut. Dia pun memulai tahun 1986 dengan menerbitkan harian Radar Selatan bersama sejumlah wartawan. Harian ini berusia 11 bulan. Harian Radar Selatan terbit bersama Sumatera Ekspres, Garuda Post, dan Suara Rakyat Semesta, yang lebih dulu terbit di Palembang.

Selanjutnya dengan dukungan teman-teman baru yang dinilai lebih idealis, tahun 1987, Soleh Thamrin menerbitkan surat kabar Sriwijaya Post. Tak lama kemudian, surat kabar ini bekerjasama dengan harian Kompas.

Selama kurun waktu 1980-an akhir hingga awal 1990-an, Sriwijaya Post menjadi satu-satunya harian di Palembang yang paling digemari masyarakat Palembang. Sebab selain berpenampilan bagus dengan kualitas cetak terbaik, pemberitaan di Sriwijaya Post juga lebih kritis, khususnya terhadap sejumlah kebijakan yang dijalankan pemerintah.
Memang, kritik-kritik yang disajikan Sriwijaya Post sedikit lebih elegan atau halus.

Jurnalisme yang dijalankan seperti jurnalisme sastra, yang mana banyak menggunakan narasi, perumpanan dan gambaran, tanpa menggunakan kalimat-kalimat langsung seperti halnya surat kabar di Palembang yang sebelumnya dikenal keras seperti Pertja Selatan atau Obor Rakjat. Di sisi lain, para pimpinan Sriwijaya Post, juga treys melakukan komunikasi dengan oara pejabat sehingga mereka terhindar dari jeratan pembriedelan.
Sepandai-pandainya belut berkelit, akhirnya terkena juga.

Harian Sriwijaya Post digoyang melalui penyusupan ke dalam tubuh perusahaan. Melalui karyawannya isu kritenisasi dan pembagian saham akhirnya membuat harian itu terhenti terbit selama satu tahun lebih. Selanjutnya mereka mencoba bertahan hidup hingga hari ini. Lawannya bukan lagi kekuasaan, tapi kekuatan modal.

Pesaing Sriwijaya Post yakni Sumatera Ekspres yang sebelumnya hidupnya tak menentu, akhirnya mendapatkan nasib baiknya setelah dikelola Harian Media Indonesia, dan kemudian dibeli dan dikelola oleh Jawa Pos.

Setelah Soeharto jatuh, 1998, Sumatera Ekspres dan Jawa Pos banyak melahirkan sejumlah surat kabar baru seperti Palembang Pos, Radar Palembang, Palembang Ekspres, dan Mingguan Monica.

Kejatuhan Soeharto yang disusul bubarnya Departemen Penerangan dan gugurnya SIUPP, memang membuat insan pers di Indonesia seperti mendapatkan durian runtuh. Mereka pun ramai-ramai membuat surat kabar baru. Baik harian, mingguan, tabloid atau majalah.

Di Palembang, juga terjadi booming surat kabar. Sejumlah wartawan yang sudah berpengalaman atau baru, berkolaborasi dengan sejumlah pengusaha kuat atau sedang, membuat sejumlah surat kabar. Surat kabar yang diterbitkan baik berupa harian, mingguan, majalah, tabloid, hingga “tempo terbit, tempo tidak”.

Namun, sejalan dengan persaingan bebas itu, tampaknya yang memiliki modal kuat yang tetap bertahan. Harian yang dikelola Jawa Pos mungkin yang dapat bertahan dengan baik. Sementara harian milik pemodal lemah, seperti yang dibangun wartawan Afdhal Azmi Djambak, sebelumnya bekerja di Sriwijaya Post, yakni Transparan, dapat dikatakan sebagai satu-satunya surat kabar yang lahir setelah Soeharto jatuh yang tetap bertahan.
Kalaupun ada surat kabar baru yang bertahan baik adalah Berita Pagi, sebuah surat kabar yang didirikan oleh Alex Noerdin, kini menjadi gubernur Sumatra Selatan.
Selain persoalan modal, di masa era kebebasan pers ini, ancaman kekerasan terhadap pers datangnya bukan hanya dari pemerintah. Tetapi dari kelompok sipil. Mulai dari preman, sipil bersenjata, organisasi massa, mahasiswa, hingga aktifis LSM.

Sriwijaya Post, Transparan, atau Sumatera Ekspres, pernah merasakan bagaimana kantor mereka diseruduk preman lantaran memberitakan soal perjudian illegal. Sementara di lapangan, juga banyak terjadi aksi kekerasan terhadap wartawan.

Masa reformasi juga melahirkan banyak organisasi wartawan. Bila sebelumnya hanya PWI yang menjadi organisasi wartawan, maka organisasi semacam Aliansi Jurnalis Indepeden (AJI) yang di masa Soeharto disebut sebagai organisasi terlarang mendapatkan pengakuan legalnya. AJI Palembang sendiri berdiri beberapa bulan sebelum Soeharto lengser. Pada saat BJ Habibie menjadi presiden, beberapa organisasi wartawan lainnya lahir, seperti PWI Reformasi, Ikatan Jurnalis Televisi Independen (IJT), dan lainnya.

Di sisi lain, booming surat kabar tersebut menyebabkan profesionalitas wartawannya rendah. Banyak wartawan yang diterjunkan di lapangan, sebelumnya tidak diberikan pelatihan ilmu jurnalistik maupun etika sebagai jurnalis oleh perusahaan tempat wartawan itu bekerja. “Banyak wartawan yang tidak dibekali ilmu jurnalistik dan etika profesi wartawan, sehingga saat di lapangan mereka berperilaku tidak baik, dan tidak mengetahui batasan informasi publik dan privasi sehingga terjadi gesekan antara mereka dengan sumber berita atau masyarakat,” kata Soleh Thamrin.

Memasuki abad millennium ketiga, surat kabar di Palembang bukan hanya menghadapi persaingan modal, ancaman kekerasan, profesionalitas pekerjanya, juga perkembangan teknologi yang menyebabkan persaingan penyediaan informasi kian meningkat.
Keberadaan internet dan televisi, misalnya, menyebabkan surat kabar harus mampu menyajikan berita lebih mendalam dan menarik, sebab media internet atau media online dan televisi telah memberikan penyajian berita secara cepat.

Dari puluhan media massa di Palembang dan sekitarnya, tampaknya hanya Sriwijaya Post dan Sumatera Ekspres yang memanfaatkan secara optimal atau serius. Sriwijaya Post dengan www.sripoku.com dan Sumatera Ekspres dengan situs ww.sumeks.co.id.

Persaingan di dunia internet ini juga tidak gampang. Surat kabar selain mengimbangi media online, juga harus berhadapan dengan weblog atau situs pribadi, serta jejaringan social, yang terkadang memberikan pertukaran informasi antarmasyarakat lebih cepat dari media massa online sekalipun.

Lalu, bagaimana surat kabar di Palembang akan bertahan di masa mendatang? Mungkin terlalu sulit buat menebaknya.

*Taufik Wijaya adalah Kontributor Majalah PANTAU

Sumber tulisan :  oleh taufik wijaya  tavernpalembang.blogspot.com

12 Agustus 2012

Kelenteng 10 Ulu Palembang 1947

Kelenteng Candra Nadi di kawasan 10 Ulu 1947 Foto : palmboom.devise.nl

Klenteng yang dibangun di kawasan 10 Ulu pada tahun 1733, sebagai ganti klenteng di kawasan 7 Ulu yang terbakar setahun sebelumnya itu, menyimpan banyak cerita melalui berbagai masa.

Menurut Princeps, Sekretaris III Yayasan Dewi Pengasih Palembang, selaku pengelola klenteng Chandara Nadi, klenteng itu digunakan umat dari tiga agama dan kepercayaan untuk berdoa. Ketiga agama dan kepercayaan yang diakomodasi di klenteng ini adalah Buddha, Tao, dan Konghucu.

Memasuki Klenteng Chandra Nadi, aroma hio wangi langsung menusuk ke hidung. Hio-hio itu dipasang di altar Thien. Thien secara harfiah berarti ’langit’. Namun oleh sebagian penganut Konghucu dan Buddha, thien juga disebut sebagai Tuhan Yang Maha Esa.

Melangkah masuk ke dalam, di altar Dewi Maco Po atau penguasa laut (juga disebut sebagai dewi yang menguasai setan dan iblis) dan altar Dewi Kwan Im atau penolong orang yang menderita sudah tersusun secara berurut. Di altar Dewi Maco Po sering diadakan upacara Cio Ko untuk meminta izin membuka pintu neraka agar dapat memberi makan kepada arwah yang kelaparan.

Setelah altar Dewi Kwan Im, para pengunjung klenteng dapat melihat altar Sakyamoni Buddha (Sidharta Buddha Gautama), altar Bodhisatva Maitreya (calon Buddha), altar Dewi Kwan Tee (pelindung dharma), altar Dewi Paw Sen Ta Tee atau dewi uang dan pemberi rezeki. Kemudian altar Dewi Chin Hua Niang Niang atau Dewi Mak Kun Do, altar Giam Lo Ong (raja neraka), dan altar Dewa Toa Pek Kong berbentuk macan. Di bagian belakang klenteng terdapat satu altar yang berisi kumpulan berbagai patung titipan umat dan altar Ju Sin Kong, pelindung Kota Palembang dan diyakini beragama Islam.

Dewi penyembuh


Bagi mereka yang percaya, Dewi Kwan Im di klenteng ini dapat dimintai tolong untuk penyembuhan penyakit. Menurut Princeps, ada seorang umat yang menderita kanker rahang dan berdoa ke Dewi Kwan Im, lalu umat itu minta obat kepada petugas klenteng.

Obat diberikan dengan cara mengocok sekumpulan batang bambu kecil yang diberi nomor. Nomor yang terambil akan ditulis di kertas semacam resep untuk ditukarkan dengan racikan obat di toko obat yang ditunjuk.Menurut Princeps, obat itu ternyata manjur dan mampu menyembuhkan umat yang menderita kanker rahang.

Sementara di altar Dewi Mak Kun Do, biasanya, disinggahi para wanita untuk meminta anak. Riana, warga Kenten, Palembang mengatakan, dia berdoa di altar Mak Kun Do untuk meminta anak laki-laki karena ia sering mendengar banyak doa minta anak dikabulkan.
Salah satu keunikan klenteng itu adalah ramalan nasib. Seperti untuk

mendapatkan kesembuhan, umat perlu bersembahyang lebih dahulu sebelum mengocok ramalan nasib. Ramalan itu terdapat di bambu kecil yang diberi nomor. Setiap nomor yang keluar dari tempatnya, akan diambil dan dicocokkan dengan buku petunjuk ramalan.

”Selain itu Klenteng Chandra Nadi memegang peranan penting dalam berbagai upacara keagamaan masyarakat Tionghoa. Pada zaman para kapitan masih memegang kendali, semua upacara hari raya besar, termasuk Imlek, diadakan di klenteng Chandra Nadi, dan diteruskan ke klenteng di Pulau Kemaro di Sungai Musi,” kata Princeps.

Bahkan, tradisi itu masih tetap diteruskan hingga sekarang. Masyarakat Tionghoa penganut Buddha, Tao, dan Konghucu, terutama yang mempunyai leluhur di Palembang selalu merayakan Imlek di Chandra Nadi dan dilanjutkan ke Pulau Kemaro.

Meskipun tetap berdiri utuh sampai sekarang, keberadaan klenteng Chandra Nadi bukan tanpa gangguan. Menurut Princeps, pada zaman Jepang, dua pesawat Jepang pernah mencoba mengebom klenteng itu karena dianggap sebagai basis gerakan bawah tanah masyarakat Tionghoa. Namun, tidak ada bom yang mengenai sasaran.

Pascatahun 1966, ketika kebencian terhadap masyarakat Tionghoa

memuncak, sepertiga lahan klenteng diambil paksa untuk dijadikan Pasar 10 Ulu. Para pengurus klenteng tidak dapat berbuat apa-apa karena ada tekanan politik masa itu.
Ketika kerusuhan rasial pecah pada tahun 1998, massa juga sudah mulai bergerak untuk membakar klenteng tertua di Palembang itu. Namun, polisi dan masyarakat setempat berhasil menghadang gerakan massa sehingga mereka tidak sempat membakar apa pun.

Klenteng Chandra Nadi tetap terbuka bagi setiap umatnya untuk beribadah. Sayang, jalan masuk ke klenteng itu melalui pasar tradisional yang kumuh dan macet sehingga turis akan kesulitan untuk mendatangi klenteng itu. (sumber:kompas.com/IM)

11 Agustus 2012

Boom 7 Ulu Palembang 1947

Boom 7 Ulu Palembang 1947 Foto : Plamboom.Divise.NL

Boom 7 Ulu Palembang 1947 Foto : Plamboom.Divise.NL
Suasana di lokasi penyebrangan BOOM 7 ulu palembang, tampak banyak kendaraan dan poster bioskop "ELITE" juga menghiasi suasana saat itu.


10 Agustus 2012

Boom 7 Ulu Palembang 1947 1950

Boom kapal Marrie 7 Ulu Palembang 1947 Foto : Palmboom.Divie.NL
kapal marie kapal penyeberangan yang menghubungkan seberang ulu dan seberang ilir sebelum tahun 1963, foto ini diambil pada tahun 1947.

Foto Boom atau dermaga di kawasan 10 ulu ini sudah tidak ada lagi pada saat ini di karenakan menjadi bagian dari pembangunan jembatan Ampera, pada saat itu kapal marrie merupakan salah satu transportasi penghubung antara seberang ilir dan seberang ulu, jembatan pun yang di miliki baru jembatan Ogan (kertapati) yang di bangun oleh pemerintah kolonial Belanda. 

Ada dua jenis angkutan yang ada di sungai musi yaitu kapal marrie (perahu roda lambung) dan perahu tambangan, untuk perahu tambangan sendiri hanya bisa mengangkut perorangan dalam jumlah sedikit sedangkan, kapal marrie (kapal roda lambung) bisa mengangkut banyak penumpang berikut kedaraan baik roda 2 maupun roda 4 , seperti kapal feri pada saat ini. Deramaga seperti ini selain di 7 ulu juga terdapat di kawasan 10 Ulu, 16 ulu, di pasar 16 ilir, kertapati dan tangga buntung tetapi seiring perkembangan pembangunan jembatan Ampera maka boom/ dermaga kapal marrie ini juga tidak di gunakan lagi.

Dirangkum dari berbagai sumber 

    

09 Agustus 2012

Kolam Renang di Komperta Plaju Dulu & Sekarang

Kolam Renang di Komplek Pertamina Plaju 1940-1950  Foto : explaju.com

Kondisi Kolam renang komperta Plaju saat ini Foto : Boyrekso Sasongko

Kondisi dalam kolam renang di komperta Plaju saat ini Foto : Boyrekso Sasongko


07 Agustus 2012

Post Card Natal dan Tahun Baru 1947 - 1950

Post  Card Natal dan Tahun Baru
Post  Card Natal dan Tahun Baru dari Y -Brigade Foto :
Post  Card Natal dan Tahun Baru

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...