CANTUMKAN SUMBERNYA JIKA MENGGUNAKAN GAMBAR ATAU ARTIKEL DARI BLOG INI - HORMATI HAK CIPTA ORANG LAIN.

04 Juli 2010

Sejarah Perang Menteng

Sketsa Perang Menteng 1819 sumber : Google
PERANG MENTENG

Kemas Said keluar menyerbu
amat gembira di dalam kalbu 
mati sepuluh baris seribu 
dekat pintu kota Kemas nan rubuh 
Datanglah satu opsir mendekati 
membedil Kemas tiada berhenti 
pelurunya datang menuju hati 
di sanalah tempat Kemas nan mati

PETIKAN tersebut adalah bagian dari Syair Perang Menteng. Syair sepanjang 260 bait itu, menurut Muhammad Akib dalam Sejarah Perjuangan Sultan Mahmud Badaruddin II (1979), ditulis oleh RM Rasip, juru tulis pribadi Sultan Mahmud Badaruddin II, dalam bahasa Arab Melayu, seusai Perang Menteng tahun 1819.

Perang Menteng adalah istilah setempat untuk menamai perang yang terjadi antara pasukan Sultan Mahmud Badaruddin II dan pasukan Komisaris Edelheer Muntinghe.
Djohan Hanafiah dalam Kuto Besak, Upaya Kesultanan Palembang Menegakkan Kemerdekaan (1989) menyebutkan, babak pertama pertempuran yang terjadi 12-15 Juni 1819 dimenangi secara gemilang oleh Palembang.

Belanda kembali menggempur Palembang dengan kekuatan berganda, yang dipimpin langsung Panglima Angkatan Laut Hindia Belanda JC Wolterbeek pada 21-30 Oktober 1819.

Akan tetapi, dalam kurun waktu empat bulan, Palembang bersiap dengan baik dan menewaskan 259 tentara dari 1.130 personel Wolterbeek serta ratusan lainnya luka-luka. Untuk kedua kalinya pada tahun itu Belanda kalah telak di Palembang.
Syair Perang Menteng menyebutkan banyak nama tokoh, ulama, bangsawan, dan pemuka dari berbagai kalangan masyarakat yang turut berperan dalam pertempuran itu. Persenjataan dan posisi pertahanan pasukan kesultanan juga digambarkan. Suasana benteng Kuto Besak, benteng pertahanan Sultan Mahmud Badaruddin II, terkesan "hidup" dalam syair tersebut.

Hingga saat ini, tembok benteng Kuto Besak tersisa di jantung Kota Palembang. Tembok benteng setebal dua meter itu terbukti tidak dapat ditembus peluru meriam Belanda.

Kuto Besak pada masa kini merupakan gambaran bagaimana masyarakat dan pemerintah di daerah ini memperlakukan warisan budaya dan sejarah.

KUTO Besak adalah pusat pemerintahan Kesultanan Palembang Darussalam. Kesultanan ini berdiri pada abad ke-17 hingga 19. Wilayah kekuasaan Palembang pada masa itu meliputi kawasan "batanghari sembilan", yakni Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, sebagian Jambi, Lampung, dan Bengkulu.
Selama dua abad masa kesultanan, keraton sultan berpindah beberapa kali. Kesultanan mula-mula berpusat di kawasan Plaju, dinamai Kuto Gawang. Djohan Hanafiah menjelaskan Kuto Gawang sebagai kota yang dilindungi pagar dinding berstruktur kayu.

Perlawanan Palembang kepada VOC atas kecurangan perusahaan dagang Belanda itu dalam perdagangan timah dan lada berujung pada pengusiran dan pembongkaran loji Belanda di Sungai Aur atas perintah Sultan Mahmud Badaruddin II pada tahun 1811. Perlawanan itu berujung pada penyerangan keraton.

Pusat kesultanan pun dipindahkan lebih ke arah hulu, antara Sungai Tengkuruk dan Sungai Rendang. Kawasan ini kini dikenal sebagai Beringin Janggut. Namun, jejak keraton di kawasan ini belum banyak ditemukan. Beringin Janggut hanya tersisa pada nama jalan di kawasan tersebut.

Bangunan batu pertama kali digunakan pada Keraton Kuto Lamo yang berada di tepi Sungai Musi. Keraton ini dibangun oleh Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo pada tahun 1737. Pada saat yang hampir bersamaan Jayo Wikramo memulai pembangunan Masjid Agung Palembang. Pembangunan masjid sultan ini selesai pada tahun 1748.

Hingga saat ini, Masjid Agung Palembang menjadi landmark kota ini. Perluasan dan renovasi terus dilakukan. Terakhir, perluasan masjid sekaligus untuk memulihkan bagian-bagian asli dari masjid ini, yang diselesaikan Juni 2003, dan diresmikan Presiden Megawati Soekarnoputri.

Kuto Lamo bukan keraton terakhir Kesultanan Palembang. Pada tahun 1780 Sultan Mahmud Bahauddin, cucu Jayo Wikramo, mendirikan keraton baru yang dikenal sebagai Kuto Besak. Keraton baru ini dibangun berdampingan dengan Kuto Lamo.
Menurut Retno Purwanti, peneliti pada Balai Arkeologi Palembang, pembangunan Kuto Besak lebih dimaksudkan sebagai perluasan keraton. Pembangunan keraton yang sekaligus menjadi benteng pertahanan terkuat ini memakan waktu 17 tahun.

Setelah Kuto Besak selesai dibangun tahun 1797, sultan menempati keraton ini, sedangkan putra mahkota menempati Kuto Lamo. Namun, pada masa kepemimpinan putra Bahauddin, Sultan Mahmud Badaruddin II (1804-1821), dua keraton ini tidak lagi seiring sejalan. Kuto Lamo bahkan menjadi kantong pertahanan Muntinghe sebelum diusir oleh Sultan Mahmud Badaruddin II pada Perang Menteng tahun 1819.

Kuto Besak bagaikan dibangun di atas "pulau". Keraton ini menghadap ke Sungai Musi yang berada di sisi selatan. Sungai Sekanak membatasi bagian barat, bagian timur dibatasi Sungai Tengkuruk, dan bagian utara dibatasi Sungai Kapuran.
Kecuali Sungai Musi, tiga sungai yang lain ditimbun menjadi jalan pada masa penjajahan Belanda. Nama sungai-sungai itu pun kini hanya tersisa menjadi nama jalan di lokasi itu.


Kesultanan Palembang mulai runtuh pada tahun 1821, setelah pasukan Belanda di bawah pimpinan Jenderal deKock akhirnya dapat "membayar" kekalahan mereka terhadap kesultanan itu, dua tahun sebelumnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...