CANTUMKAN SUMBERNYA JIKA MENGGUNAKAN GAMBAR ATAU ARTIKEL DARI BLOG INI - HORMATI HAK CIPTA ORANG LAIN.

30 Maret 2010

Sriwijaya, Sepenggal Sejarah yang Hilang


''Sebuah kerajaan bisa saja tenggelam, namun suatu saat akan muncul lagi. Sriwijaya sejak Indonesia merdeka belum menjadi pokok pembicaraan, mungkin dari Pagar Alam ini akan dimulai.''

Ungkapan yang disampaikan Gubernur Provinsi Bengkulu, Agusrin M. Najamudin, itu mungkin ada benarnya. Perjalanan sejarah bangsa Indonesia memang tak terlepas dari keberadaan kerajaan Sriwijaya sebagai salah satu kerajaan tertua Melayu kuno, dan memiliki pengaruh besar sampai ke wilayah Asia Tenggara mengingat kerajaan ini termasuk kerajaan maritim.

Sejarawan, Djohan Hanafiah dalam sebuah makalahnya yang disajikan dalam seminar bertajuk peradaban Besemah Sebagai Pendahulu Kerajaan Sriwijaya di kota Pagar Alam, Sumatera Selatan, Sabtu (28/1), mengungkapkan sejak sejarawan Prancis, George Coedes tahun 1918 menyatakan Sriwijaya beribukota di Palembang silang pendapatpun terjadi. 

Puluhan pakar sejarah dan praktisi berbagai disiplin ilmu telah mengungkapkan beragam pendapat dalam berbagai seminar, lokakarya, diskusi dan forum ilmiah lainnya yang tak menemui titik temu selama lebih dari 70 tahun terkait ibu kota kerajaan tersebut.

Masa kekuasaan Sriwijaya menurut Muslihun, seorang sejarawan Bengkulu, dimulai abad ke-6 sampai ke-7 masehi. Pusat kekuasaan terletak di Bukit Barisan bagian barat, masuk Kabupaten Kaur, propinsi Bengkulu. Kerajaan ini didukung sekitar 40 kerajaan wilayah yang otonom, tersebar di bekas kerajaan Srijaya dan Sribuana di pantai parat provinsi Bengkulu Selatan.

Hampir dua abad kerajaan ini berpusat di kaki Bukit Barisan bagian barat. Namun, setelah Dapunta Hyang Sri Jayanasa berkuasa, ia memerintahkan untuk menutup kerajaan dan memindahkan pusat pemerintahan ke Palembang. Kerajaan wilayah (raja kecil) pindah menyebar dari Riau sampai Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Raja wilayah yang dipindahkan ke Jawa Tengah diminta secepatnya membangun candi guna mengalihkan perhatian, penutupan kerajaan di bukit barisan yang bertujuan untuk memajukan jagad ini. 

Proses penutupan kerajaan Sriwijaya yang berpusat di bukit barisan dan penyebaran raja-raja wilayah (raja kecil) dapat diketahui dengan mempelajari sejumlah prasasti yang dikeluarkan kerajaan pusat dan raja wilayah setelah mereka berada di wilayah yang baru.

Seperti prasasti Kedukan Bukit yang ditemukan di daerah Kedukan Bukit, ditepi sungai Tatang dekat Palembang dengan angka 604 Saka atau 682 Masehi berhuruf palawa. Prasasti ini berisi kepindahan raja Sriwijaya dari istana di Bukit Barisan bagian barat (sekarang daerah Bengkulu) ke Palembang.

Suku Besemah

Lalu, apa kaitan antara kota Pagar Alam dengan Sriwijaya ? Perjalanan darat sekitar enam jam yang melelahkan dari kota Palembang ke Pagar Alam berupaya mengungkap keterkaitan antara kedua kota yang berjarak 298 kilometer itu. 

Kota Pagar Alam yang diapit gunung Dempo dan pegunungan Bukit barisan, dikenal sebagai wilayah Besemah. Istilah Besemah atau Pasemah adalah julukan bagi sekelompok orang yang menghuni wilayah tersebut. Merekapun menyebar sampai wilayah Bengkulu, Jambi dan Lampung yang dahulu masih bagian dari propinsi Sumatera Selatan.

Sampai sekarang masih belum jelas dari mana sebenarnya asal-usul suku Besemah. Apakah teori-teori tentang perpindahan penduduk yang diikuti sekarang berlaku juga bagi suku Besemah, masih diliputi kabut misteri. 

Mitos Poyang Atong Bungsu, menyebutkan mereka bermukim bersama rombongan keluarga. Atong Bungsu menemukan ikan Semah di perairan dataran tinggi antara bukit barisan dengan gunung Dempo hingga wilayah ini disebut Besemah. Dalam perkembangannya disebut sebagai tanah Besemah, ranah Besemah atau jagat Besemah.

Hidayat Harun, seorang sejarawan menyebutkan suku bangsa Besemah atau Pasemah memiliki peninggalan tradisi megalitik yang jumlahnya mencapai ratusan buah. Di dataran tinggi Pasemah terdapat banyak arca atau patung yang menggambarkan manusia masa kini. 

Batu megalit Hindu-Budha juga ditemukan di tanah Pesemah oleh sejumlah ahli arkeologi tahun 1932. Arca-arca tersebut ditemukan di dusun Tegur Wangi dan dusun lain di Pasemah yang menjadi peninggalan zaman megalit.

Masyarakat Basemah juga menyimpan sejumlah benda bersejarah milik kerajaan Sriwijaya yang berbentuk emas, kain songket, senjata jaman Hindu dan sejumlah alat kesenian di abad ke-17. Bertepatan dengan pemerintahan Sultan Badarudin II yang berkuasa di Palembang sebelum dijajah Inggris maupun Belanda. 

''Keberadaan Besemah sejajar dengan Sriwijaya. Kalau bicara Kesultanan, tidak ada Besemah. Yang menjadikan sultan Palembang adalah sultan Banten dan Cirebon,'' kata Harun.

Namun menurut Noerhadi Magetsari, arkeolog dari Universitas Indonesia, Basemah memiliki peninggalan tradisi megalit, sedangkan Sriwijaya beragama Hindu/Budha. Kalau ingin dikatakan keduanya berkesinambungan dibutuhkan bukti seperti adanya peninggalan Hindu/Budha.

Secara arkeologi sebelum ajaran Hindu/Budha datang, sudah ada kebudayaan yang berkembang. Budaya baru yang datang sifatnya hanya menyesuaikan. ''Kalau dikatakan Sriwijaya adalah kelanjutan dari Besemah belum ada buktinya. Tapi kalau disitu ada sebuah peradaban memang benar,'' kata Noerhadi.

Namun, Noerhadi menambahkan tidak tertutup kemungkinan lain. Munculnya kerajaan Sriwijaya di Palembang bersamaan dengan berkembangnya Basemah sehingga keduanya hidup sejajar. ''Tapi sampai kini belum ada bukti ditemukannya peninggalan megalit di Sriwijaya. Jadi belum bisa dikatakan keduanya nyambung,'' katanya. N hir

Kesultanan Siap Bantu

Pihak keraton kesultanan Palembang akan menyiapkan bantuan berupa dana dan fasilitas lain yang dibutuhkan bagi pengungkapan misteri sejarah Besemah dan kerajaan Sriwijaya tersebut.

Ada tidaknya hubungan antara Besemah dan Palembang, akan diteliti kembali oleh Universitas Indonesia, guna menguatkan apa yang telah disampaikan di simposium tersebut. 

''Kami akan bantu karena Palembang memiliki peninggalan bersejarah seperti batu bertulis, peninggalan Melayu kuno, Sriwijaya ekspansi ke Asia Tengara. Selama ini penelitian belum mampu mengungkap misteri lantaran keterbatasan dana dan kemampuan arkeolog untuk melakukan penelitian ,'' kata Sultan Palembang Darussalam, Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin.

Di Palembang terdapat museum Sriwijaya dan Balaputradewa. Selain itu ada museum kesultanan yang bersebelahan dengan benteng Kuto Besak yang menjadi pusat pemerintahan kesultanan Palembang abad ke-18. Benteng Kuto Besak atau keraton baru dibangun menghadapi sungai Musi. Benteng itu kini menjadi markas Kodam Sriwijaya

Hal serupa juga disampaikan walikota Pagar Alam, Djazuli Kuris yang akan menyiapkan dana khusus dari APBD setempat. Namun, pihaknya masih akan meminta persetujuan DPRD mengingat jumlah yang dibutuhkan tidaklah kecil. ''kami akan siapkan berapapun yang dibutuhkan, sesuai kemampuan. Kita serahkan ke ahlinya,''kata Kuris.

Seminar tersebut merupakan awal dari upaya panjang yang perlu dilakukan dalam mengungkap peninggalan sejarah megalitik peradaban Besemah termasuk kaitannya dengan kerajaan Sriwijaya. Tentunya upaya tersebut membutuhkan waktu, tenaga dan keseriusan dari semua pihak. ''Pengkajian Besamah merupakan upaya positif terhadap cinta pada budaya dan tanah air,'' katanya. - hir/ahi 

sumber : http://koran.republika.co.id/

16 Maret 2010

"Jingok" Palembang dari Puncak Ampera...


Speseifikasi Jembatan 
KOMPAS.com - Rasanya tidak ada penduduk Palembang, Sumatera Selatan, yang belum pernah melewati Jembatan Ampera. Namun, pastinya tidak banyak yang pernah menaiki menara Jembatan Ampera. Padahal, dua menara Jembatan Ampera setinggi 60 meter itu bisa dinaiki meskipun butuh perjuangan dan keberanian.

Sejak bagian tengah Jembatan Ampera di Palembang yang diresmikan tahun 1965 itu tidak dinaik-turunkan lagi, praktis menara jembatan tak terawat. Selama hampir 40 tahun diabaikan. Sejak tahun 1973, kondisi menara Jembatan Ampera, baik di luar maupun di dalam, kotor.

Lift yang ada di dalam jembatan Ampera
Untuk mencapai puncak menara, tidaklah mudah. Saat Kompas berusaha menaiki puncak menara jembatan yang berada di sisi Seberang Ilir, Kamis (25/2) , bau pesing dan sampah bertebaran di kaki menara. Gelap dan pengap membayangi perjalanan mendaki lebih dari 230 anak tangga.

Penerangan hanya mengandalkan lampu hias yang tak membantu menerangi bagian dalam menara jembatan. Suasana yang demikian membuat kita harus berhati-hati.

Sampai di ruangan berdinding kaca di puncak Jembatan Ampera, kaca-kaca terlihat dalam kondisi pecah di beberapa bagian. Sampah sisa air minum kemasan dan kardus berserakan di mana-mana. Kursi tak terpakai pun bergelimpangan. Beberapa tanaman paku tumbuh subur di pinggir ruangan.


Di ruang atas itu ada keterangan tentang spesifikasi jembatan yang masih tertulis dalam bahasa Indonesia ejaan lama. Namun, tak semua bisa terbaca jelas. Sebagian huruf sudah kabur.

Untuk menuju atap menara jembatan, tidak ada tangga. kami harus bertumpu pada sebuah drum dan berpijak pada tali tambang untuk naik ke bagian yang berbentuk mirip plafon. Selanjutnya, menyusuri lubang dengan diameter sekitar 60 sentimeter untuk naik ke atas atap.

Segala penderitaan untuk mencapai puncak Jembatan Ampera terbayar setelah sampai di atap. Dari ketinggian itu, pemandangan Kota Palembang sangat indah. Suasana Palembang dan sekitarnya terlihat jelas, termasuk alur Sungai Musi.

Di Seberang Ilir, terlihat pabrik Pupuk Sriwidjaja, Pelabuhan Boom Baru, mal, hotel, Masjid Agung Palembang, dan Kantor Wali Kota Palembang, dengan menara leding yang khas. Di Seberang Ulu, terlihat kilang minyak Pertamina di Plaju dan Sungai Gerong, muara Sungai Komering, Stadion Gelora Sriwijaya, Pabrik Semen Baturaja, dan muara Sungai Ogan.

Menurut RM Amron, petugas perawat lampu hias Jembatan Ampera dari Dinas Penerangan Jalan Umum, Pertamanan, dan Pemakaman Kota Pelambang, bagian tengah jembatan itu tak lagi dinaik-turunkan sejak tahun 1973. Saat itu, dengan volume kendaraan yang masih rendah, kemacetan di setiap sisi jembatan bisa mencapai dua kilometer saat bagian itu dinaik-turunkan.

”Jika sekarang dinaik-turunkan untuk memberi kesempatan kapal lewat, bisa dibayangkan kemacetan yang akan melanda Palembang,” katanya.

Jingok (melihat) Palembang dari puncak Jembatan Ampera sungguh menyenangkan. Menikmati pemandangan dari puncak jembatan itu bisa menjadi obyek wisata baru, tetapi perjalanan ke puncaknya tentu harus dibuat nyaman. Selain itu, perlu dilengkapi papan informasi mengenai sejarah jembatan tersebut.(M Zaid Wahyudi dan Wisnu Aji Dewabrata)

Dinamo penggerak

Box terminal listrik kayaknya

Di bagian atap

Sumber foto : KIN XP Kaskus UserID: 66698
Sumber Tulisan : http://travel.kompas.com/

11 Maret 2010

Kawasan Wisata Pasar Kuliner Kampung Kapitan

Tempat pasar kuliner yang sampai saat ini belum ada kegiatan
Tenda putih yang mirip tenda sirkus ini khabarnya akan di gunakan untuk kawasan pasar kuliner di Seberang ulu, tetapi saat ini masih banyak pekerja yang mempersiapkan segala infrastrukturnya, Meski sempat dua kali tertunda pengoperasian pasar kuliner dikawasan 7 Ulu Kecamatan Seberang Ulu (SU) I karena terkendala sarana dan prasarana pendukung lainnya.

Tahun ini dipastikan pihak pengelola Sarana Pembangunan Palembang Jaya (SP2J) pasar kuliner akan beroperasi. Bahkan SP2J berkomitmen, kawasan kuliner 7 ulu tidak hanya menjadi kawasan wisata kuliner akan tetapi juga akan menjadi pusat rekreasi tempat hiburan bagi masyarakat kota Palembang.
Dua tenda ini akan didirikan menyamping dari tenda yang ada, sehingga untuk penempatan panggung hiburan yang akan khusus ditempatkan dikawasan tersebut tidak akan menganggu panggung utama untuk berbagai pedagang kuliner dan pernak-pernik khas Palembang. dengan rencana nya untuk memasuki kawasan ini akan di kenakan ticket masuk 5.000 per orang.
Selama ini yang jadi kendala penting juga adalah sarana transportasi baik darat ataupun sungai, karena dari pihak pemerintah sendiri masih mencari akses jalan terbaik untuk menuju pasar kuliner tersebut juga untuk areal parkir kendaraan pribadi.

05 Maret 2010

Cyber Park Palembang

Lokasi Cyber Park di kawasan taman jembatan Ampera
"Cyber Park" yang terletak di taman bawah jembatan ampera ini di sediakan salah satu oleh perusahaan telekomunikasi di negeri ini dengan dukungan free WIFI, tetapi keamanan di cyber park ini di rasa kurang sehingga yang browisng dg laptop di sini belum pernah terlihat karena takut ada apa-apanya.

Begitu pun di tempat lain seperti di kawasan kambang iwak besak dan , fasilitas Cyber Park Government of Palembang di Taman Pesirah Simpang Polda sudah banyak rusak rusak. Begitu pula huruf timbul stainless bertuliskan “Cyber Park Government of Palembang” sejak beberapa bulan lalu hilang. Meja bagi pengunjung untuk berinternet dengan fasilitas wifi, kini tak mulus lagi, penuh coretan.

Booth-booth di taman itu kini tak lagi jadi tempat warga browsing atau ber-Internetan, tapi dijadikan tempat nongkrong dan tidur-tiduran anak-anak sekolah. Sejumlah warga memilih duduk di kursi taman (yang dipenuhi coret-coretan) untuk beraktivitas di dunia maya. Tentu saja, dengan kondisi ini, fasilitas Cyber Park itu jadi terkesan sia-sia.

03 Maret 2010

Kesibukan Di Kapal Jukung di Dermaga 7 Ulu Palembang

Kapal jukung yang sedang sandar dan Bongkar muat di dermaga 7 ulu Palembang
kalau di lihat dari dekat seperti inilah aktivitas di atas kapal jukung yang sedang sandar di dermaga 7 ulu, ada yang bongkar muat barang, ada yang sedang menunggu penumpang,ataupun seperti saya yang hanya memperhatiakan aktivitas ini.

Meski angkutan transportasi darat dan sungai mulai dibuat dengan teknologi canggih dan dengan mesin super cepat, tetapi perahu jukung yang terbuat dari kayu bermesin bekas mobil truk atau mesin disel masih dibutuhkan warga.

Perahu jenis jukung ini untuk angkutan sembako dan hasil bumi warga yang bermukim di pinggiran sungai, seperti kawasan Desa Makarti Jaya, Karang Agung, jalur 17, 18 hingga Jalur 20 dan Sungsang.

02 Maret 2010

Sama-Sama Lawas

Sama-sama lawas antar Jembatan Ampera dan Scooter ku......tapi masih banyak bermanfaat.

Sejarah Scooter
Piaggio didirikan pada tahun 1884 di Italia oleh Rinaldo Piaggio. Pada awalnya Piaggio adalah pabrikan yang memproduksi peralatan kapal, rel kereta dan gerbong kereta api. Pada saat Perang Dunia Pertama berkecamuk, Piaggio memproduksi pesawat terbang.

Pada akhir Perang Dunia II, pabrik Piaggio di bom oleh pesawat sekutu. Setelah perang usai, Enrico Piaggio mengambil alih Piaggio dari ayahnya (Rinaldo Piaggio). Pada saat itu perekonomian Italia sedang memburuk, Enrico memutuskan untuk mendisain alat transportasi yang murah

Dibantu oleh ahli pesawat terbang Corradino D’Ascanio, Enrico menciptakan sebuah design alat transportasi roda dua dengan inspirasi dan teknologi dari pesawat terbang. Konstruksi suspensi monoshock untuk memudahkan mengganti ban diadaptasi dari roda pesawat terbang, bahkan produk pertamanya benar-benar menggunakan roda depan pesawat terbang. Starter dibuat dari bagian komponen bom, serta bodinya terbuat dari alumunium seperti bodi pesawat terbang.

Menurut berbagai sumber, Vespa di produksi pertama kali pada tahun 1945. Kata ”Vespa” berasal dari kata ”Wesp” yang berarti ”binatang penyengat atau lebah”. Memang konstruksi Vespa jika dilihat dari atas terlihat seperti lebah.

Dalam perkembangannya, Vespa tidak hanya di pasarkan di Italia, tetapi juga laris di Perancis, Inggris, Jerman, Spanyol, Brasil serta India. Karena minat konsumen yang begitu besar, Vespa juga di prosuksi di Jerman dan Inggris.

Selain Vespa, pada masa itu juga lahir berbagai merek kendaraan roda dua jenis ini, seperti Lambreta, Zundap, Heinkel, NSU, Hummel. Akan tetapi yang hingga saat ini eksis di Indonesia adalah Vespa dan disusul oleh Lambretta

Sejarah Vespa di Indonesia
  
Sebenarnya penulis sendiri tidak tahu persis kapan pertama kali Vespa masuk ke Indonesia. Secara resmi awal tahun 1960-an, skuter Vespa masuk Indonesia dengan mengusung PT. Dan MOTOR. tetapi justru di lapangan di dapati Vespa keluaran tahun 1950 an bahkan ada yang tahun 1946 yang jika di teliti ini kebanyak di bawa oleh para pastor-pastor gerjea untuk operasional mereka pada masa itu, di samping kendaraan scooter lain seperti lambretta, Heinkel, Zunddap, dan lain sebagainnya.

Bahwa “Demam Vespa” di tanah air sangat di pengaruhi oleh “Vespa Congo”. Vespa diberikan sebagai Penghargaan oleh Pemerintah Indonesia terhadap Pasukan Penjaga Perdamaian Indonesia yang bertugas di Congo saat itu.

VESPA KONGO

Vespa Kongo adalah vespa penghargaan dari pemerintah Indonesia kepada kontingen Pasukan Penjaga Perdamaian Indonesia yang bertugas di Kongo saat itu. Pasukan bernama Kontingen Garuda (disingkat KONGA atau Pasukan Garuda) yang turut diperhitungkan di dunia dibandingkan pasukan perdamaian negara lain itu adalah pasukan Tentara Nasional Indonesia yang ditugaskan sebagai pasukan perdamaian di negara lain. Indonesia mulai turut serta mengirim pasukannya sebagai bagian dari pasukan penjaga perdamaian PBB sejak 1957. Awalnya, saat Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945, Mesir langsung mengadakan sidang menteri luar negeri negara-negara Liga Arab dan merupakan negara pertama yang mengakui kedaulatan Indonesia dengan datang langsung ke Ibu Kota RI waktu itu yaitu Yogyakarta. Untuk membalas budi Mesir dan Liga Arab, Presiden Sukarno membalas pembelaan negara-negara Arab di forum internasional dengan mengunjungi Mesir dan Arab Saudi pada 1956 dan Irak pada April 1960.

Pada 1956 itu, ketika Majelis Umum PBB memutuskan menarik mundur pasukan Inggris, Prancis dan Israel dari wilayah Mesir, Indonesia mendukung keputusan itu dan untuk pertama kalinya mengirim Pasukan Pemelihara Perdamaian PBB ke Mesir yang dinamakan dengan Kontingen Garuda I atau KONGA I.

KONGA II dikirim ke Kongo pada 1960 di bawah misi UNOC dengan jumlah pasukan 1.074 orang, bertugas di Kongo September 1960 hingga Mei 1961.

KONGA III dikirim ke Kongo pada 1962 di bawah misi UNOC dengan jumlah pasukan 3.457 orang, terdiri atas Batalyon 531/Raiders, satuan-satuan Kodam II/Bukit Barisan, Batalyon Kavaleri 7, dan unsur bantuan tempur, bertugas hingga akhir 1963. Menpangad Letjen TNI Ahmad Yani pernah berkunjung ke Markas Pasukan PBB di Kongo (ketika itu bernama Zaire) pada tanggal 19 Mei 1963.

Setelah menyelesaikan tugas perdamaian yang berat, Pasukan Garuda menerima tanda penghargaan dari Pemerintah Republik Indonesia berupa Vespa (sumber lain mengatakan ada juga penghargaan berbentuk uang dan beberapa peti jarum jahit). Di pasaran diketahui adanya vespa Kongo tahun 1963 untuk kontingen 2 dan 3. Kurang diketahui apakah kontingen 1 juga mendapatkannya, karena informasi semacam ini tidak mudah didapat. Yang menarik dan tidak diketahui banyak orang, pemberian vespa tersebut tidak terlepas dari tradisi dalam dunia kemiliteran dalam hal kepangkatan. Vespa berwarna hijau 150cc ditujukan bagi tentara yang lebih tinggi tingkat kepangkatannya, disusul vespa berwarna kuning dan biru 125cc untuk tingkat kepangkatan yang lebih rendah.

Selain itu guna membedakan vespa tersebut dari vespa lain yang satu tipe, disematkan tanda nomor prajurit yang bersangkutan pada sisi sebelah kiri handlebar (stang) yang berbentuk oval terbuat dari bahan kuningan serta sebuah piagam penghargaan yang menyertainya. Maka berseliweranlah vespa-vespa tersebut di jalan-jalan sehingga vespa dengan pantat bulat tersebut dikenal sebagian masyarakat sebagai vespa Kongo, sementara sebagian lain justru menyamaratakan dengan nama vespa ndog (telur) karena bagian samping kanan kirinya bulat mirip telur.

Vespa Congo tidak diproduksi di Italia melainkan di Jerman. Dengan berbahan baku plat baja yang lebih keras daripada Vespa bulat umumnya, vespa ini memiliki tingkat kelengkapan yang lebih daripada vespa buatan Italia yang umum beredar di Indonesia (VBB1T maupun VBB2T).

Jacob Oswald Hoffmann adalah orang Jerman yang berjasa memasukkan vespa ke Jerman. Kerjasama vespa dengan Hoffmann putus awal tahun 1955 karena Hoffmann mendesain model sport sendiri. Kemudian vespa bekerjasama dengan Messerschmitt Co. yang kemudian mengeluarkan produksi vespa pertamanya pada tahun 1955 itu juga. Mereka mengeluarkan dua model yaitu Vespa GS yang di Indonesia sering disebut sebagai GS versi Jerman dan 150 Touren. Mereka juga menyediakan purna jual dan service serta spare part bagi Vespa produksi Hoffmann. Kerjasama ini berlanjut hingga akhir tahun 1957. Vespa GmbH Augsburg kemudian berdiri pada tahun 1958 sebagai sebuah perusahaan patungan antara Piaggio dan Martial Fane Organisation, kongsi ini kemudian juga menyediakan beberapa bagian bagi Vespa Messerschmitt. Saat kerjasama dengan Augsburg inilah Vespa Congo diorder untuk Indonesia.

Kedua model yang dibuat saat berkongsi dengan Messerchmitt (150 Touren dan GS) kemudian dikembangkan dengan beberapa modifikasi. Selain itu Vespa GmbH Augsburg juga melahirkan Vespa 125 cc yang pertama kali diperkenalkan dalam tahun 1958. Produksi berlanjut hingga tahun 1963, yang merupakan saat puncak perubahan skuter dan diproduksinya yang sudah tidak terlalu banyak. Selanjutnya, Jerman memilih hanya mengimpor Vespa langsung dari Itali.

Ciri khas Vespa Congo :
1. Spakboard bulat tidak ada sambungannya seperti vespa umumnya.
2. Ring (pelek/teromol) 10 inchi.
3. Punya tonjolan seperti tombol/saklar di sambungan koplingnya (posisi setang sebelah kiri).
4. Spidometer kotak & agak besar (berbeda dengan spidometer VNA/VNB).
5. Ada lambang garuda di body depan sebelah kiri (sekarang jarang yang ada).
6. Di atas spidometer ada lampu kecil seperti lampu cabe.
7. Nomor mesin diawali dengan kode VGLB.
8. Pada BPKB tercantum tulisan ex Brigade Garuda III.

Sampai saat ini sudah puluhan varian Vespa yang mampir di Indonesia. Dari yang paling tua hingga yang paling baru ada di Indonesia. Bahkan teman saya dari Philipina menyebut bahwa Indonesia adalah surganya Vespa. Sampai saat ini mungkin masih bisa disebut sebagai surganya Vespa. Maraknya ekspor Vespa, sedikit banyak mengurangi populasi Vespa di Indonesia. 

Sumber tulisan di rangkum dari berbagai macam sumber
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...