CANTUMKAN SUMBERNYA JIKA MENGGUNAKAN GAMBAR ATAU ARTIKEL DARI BLOG INI - HORMATI HAK CIPTA ORANG LAIN.

29 Januari 2010

Perkembang Pasar 16 Ilir

Oleh: Yudhy Syarofi



Penggusuran pedagang kaki lima di kawasan eks-Pasar 16 Ilir saat ini sungguh miris. Dalam sejarahnya, Belanda (sebagai penjajah) sangat disiplin dalam penataan ruang. Namun, mereka masih memberikan kesempatan kepada rakyat di tanah jajahan untuk mencari nafkah. Hanya, polanya yang diatur. Lebih rapi, bersih, aman, dan nyaman.

Sebelum "campur tangan" Kolonial Belanda terhadap alam di Palembang, sebelum abad ke-20, kawasan Pasar 16 Ilir (saat ini) dahulunya merupakan pemukiman tepian sungai. Di kawasan itu, terdapat Sungai Tengkuruk, yang merupakan salah satu anak Sungai Musi, yang salah satu bagiannya bertemu dengan Sungai Kapuran. Sementara Sungai Kapuran, bertemu pula dengan Sungai Sekanak (Peta Situasi Peperangan Palembang-Belanda; Sejarah Perjuangan Sri Sultan Mahmoed Baderedin Ke II; R.H.M. Akib; 1980).

Sebagaimana sifat orang Melayu Palembang, kawasan tepian sungai --terutama Sungai Musi-- merupakan lokasi "favorit" untuk pemukiman. Pilihan ini juga merupakan "pilihan cerdas" mengingat saat itu jalur transportasi adalah air. Perahu-perahu yang berasal dari pedalaman (hulu) dengan tujuan utama berdagang, menjadikan Sungai Tengkuruk sebagai tempat singgah. Hingga sekitar tahun 1910, Sungai Tengkuruk masih "normal".

Di atas sungai itu, terdapat jembatan dan tangga-tangga yang menghubungkannya dengan daratan. Jika dilihat dari arah pertigaan Jl. Masjid Lama (saat ini), di sepanjang tepian sungai sebelah kiri, berjajar pertokoan. Sedangkan di bagian kanan, tampak rumah-rumah panggung.

Di bagian lain sungai itu, tampaklah tangga raja (hingga kini masih dinamakan demikian meskipun sudah tak ada lagi sungai dan tangganya). Tangga ini berfungsi sebagai tempat naik turunnya para pembesar Kesultanan Palembang Darussalam.

Seperti lazimnya perkembangan pasar saat ini, perdagangan di Pasar 16 Ilir berawal dari "pasar tumbuh", yang terletak di tepian Sungai Musi (sekarang Gedung Pasar 16 Ilir Baru hingga Sungai Rendang, Jl. Kebumen). Pola perdagangan di lokasi itu, setidaknya hingga awal 1900-an, dimulai dari berkumpulnya pedagang cungkukan (hamparan), yang kemudian berkembang dengan pembangunan petak permanen.

Untuk kawasan Pasar Baru (hingga kini masih bernama Jl. Pasar Baru), yang saat itu sudah berderet bangunan bertingkat dua, yang bagian bawahnya menjadi tempat berjualan. Los-los mulai dibangun sekitar tahun 1918 dan dipermanenkan sekitar tahun 1939.

Sementara itu, muara Sungai Rendang, menjadi salah satu "dermaga" pilihan perahu kajang (perahu beratap) berlabuh. Perahu, yang sekaligus menjadi tempat tinggal, ini membawa hasil bumi dari daerah di hulu Sungai Musi untuk diperdagangkan di Pasar 16 Ilir. Ini terjadi setelah pengembangan ekonomi dan kawasan, didahului pembangunan Pasar Sekanak yang masa itu disebut sebagai Pasar Ikan, tidak lama setelah penguasaan Belanda atas Palembang, tahun 1821.


Boulevard Zaman Belanda
Sekiranya tidak terjadi perang Palembang-VOC pada tahun 1658 dan 1659, barangkali "pusat kota" Palembang bukan di 16 Ilir dan sekitarnya. Setelah Keraton Palembang dibakar habis oleh VOC pada 1659, penguasa Palembang kala itu --Sido Ing Rajek—menyingkir ke Inderalaya.

Adik Sido Ing Rajek, Ki Mas Hindi Ario Kesumo Abdurrohim (Candiwalang), kemudian berkuasa setelah terjadi kekosongan pemerintahan akibat Sido Ing Rejek menolak kembali ke Palembang. Selanjutnya, Candiwalang memindahkan pusat pemerintahan ke kawasan Beringin Janggut (saat ini), membangun Kuto Cerancang atau Kuto Tengkuruk. Dia pun menjadi Sultan pertama setelah melepaskan "ikatan' ideologis dengan Mataram. Sultan pertama Kesultanan Palembang Darussalam ini bergelar Sultan Abdurrahman Khalifatul Mukminin Sayidul Iman.



Pada masa inilah, didirikan masjid, semacam alun-alun sebagai tempat beristirahat (kini Jl. Beringin Janggut), segara (kolam) di kawasan yang sekarang masih memakai nama-nama itu sebagai nama jalan. Misalnya, nama Beringin Janggut, diyakini sebagai bagian taman tempat tumbuhnya pohon beringin, yang karena tuanya sampai ber-"janggut" (akar gantung). Jalan Segaran diyakini merupakan bagian kolam (?) atau tempat orang beristirahat sehingga menjadi segar. Dan Jl. Masjid Lama, adalah lokasi berdirinya masjid sebelum Masjid Sulton (sekarang, Masjid Agung Palembang) dodirikan Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo.


Kotapraja (Gemeente) –kemudian dilafazkan lidah Palembang sebagai Haminte-- melakukan beberapa kebijakan pembangunan. Dibangunlah semacam taman di Talangsemut, pusat perdagangan di 16 Ilir, pelabuhan di Sungai Rendang, serta pusat perkantoran di sekitar Benteng dan Tengkuruk. Kebijakan ini termasuk rencana pembuatan boulevard atau bulevar. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, bulevar berarti jalan raya, yang biasanya ditanam pepohonan di kiri dan kanannya.

Untuk merealisasikan itu, Sungai Tengkuruk ditimbun pada tahun 1928. Di atasnya, dibangunlah jalan dalam dua jalur. Di bagian kiri --jika dilihat dari arah Sungai Musi, tampaklah jajaran pohon dan kanannya, bangunan dua tingkat, yang merupakan perkantoran. Bentuk serupa ini dapat disebut bulevar.


Melihat foto-foto lama yang menunjukkan kondisi Kawasan 16 Ilir tempo doeloe, tampaklah keteraturan. Pendapat ini memang bersifat debatable, misalnya dengan mengatakan, itu saat penduduk Palembang masih sedikit. Namun harus diakui, penataan yang dilakukan Pemerintah (Belanda) saat itu cukup apik. Namun, harus dicatat, bahwa saat itu kawasan ini tetap saja tidak bebas pedagang kaki lima. Artinya, semua berpulang kepada siapa yang mengatur dan bagaimana cara mengaturnya.

Usai penimbunan, Sungai Tengkuruk dijadikan jalan. Hal ini terkait dengan program Pemerintah Kolonial dalam penyediaan sarana “cari angin” bagi warga Eropa (soal sarana hiburan, nanti dibahas tersendiri). Ini merupakan rangkaian dari pembangunan jalan di depan Kuto Besak (kini Jl. SMB II), Staadhuisweg (kini Jl. Merdeka), jalan di tepian Sungai Sekanak samping Kantor Walikota saat ini (sekarang, Jl. Sekanak), dan Jl. Sekitar kawasan Talangsemut.

Sebuah foto bertahun 1930, menampakkan salah satu sudut jalan di Pasar 16 Ilir (dilihat dari arah Musem SMB II saat ini), menampakkan jalan dan trotoar yang bersih. Begitupun pengaturan arus lalu lintasnya. Tampak seseorang yang sedang menarik semacam gerobak penumpang. Dalam film-film kungfu Hongkong, becak serupa ini disebut rigshaw. Penariknya, seorang Cina yang rambutnya dikuncir. Tarif yang diterapkan seragam, yaitu sewang atau 10 sen. Jalan Tengkuruk pun menjadi sarana jalan di samping sebagai sarana ruang publik. Namun, penikmatnya, seperti halnya taman lain --di depan Balai Pertemuan Sekanak, Kambang Iwak, dan beberapa tempat lain-- kebanyakan adalah orang Eropa.

Pola bulevar memungkinkan jalan ini menjadi sangat sedap dipandang. Selain trotoar yang disediakan bagi pejalan kaki, dan dilengkapi pula dengan lampu hias di bagian tengah (median)-nya dan pepohonan rindang di salah satu sisinya. Sisi lain, bangunan pertokoan dan perkantoran (kini di bagian Jl. Tengkuruk Permai) tetap dipertahankan. Perlakuan sama juga atas pertokoan --umumnya dua tingkat-- di Jl Pasar Baru dan blok di Jalur 11 (nama saat ini). Beberapa foto yang diambil antara tahun 1930-1958, menunjukkan, adanya penataan di kawasan itu yang mengarah kepada bentuk pusat perbelanjaan (pertokoan). Selain bangunan toko --ini tampak pula pada foto-foto yang diambil sebelum tahun 1930-an—yang berjajar, juga tampak adanya arkade. Yaitu, lorong yang diperuntukkan bagi pejalan kaki dengan atap-atap di bagian atasnya.

Aktivitas perdagangan internasional, terutama karet (Hevea brasiliensis), tembakau, kopi, kapas (Exbucklandia populnea R. Brown), serta hasil bumi lainnya, menyebabkan kawasan ini pun menjadi “pusat” perbankan. Sepanjang tepian Sungai Musi dari Sekanak hingga 16 Ilir dipenuhi oleh rakit-rakit tumpahan. Rakit ini dimaksudkan untuk menampung hasil bumi, terutama karet, dari kawasan Uluan sebelum transaksi dilakukan. Pada masa ini, bank niaga pertama yang membuka cabangnya di Keresidenan Palembang adalah Nederlandsche Handel Maatschappij (NHM) pada tahun 1900. Sementara De Javasche Bank, sebagai bank sirkulasi untuk bank niaga, membuka cabang di Palembang pada 20 September 1909. Dapat dikatakan, NHM merupakan “pemain tunggal” di Palembang selama dua dasawarsa. Perkembangan perdagangan getah karet yang luar biasa setelah tahun 1910, membuat beberapa manajemen bank membuka cabang di Palembang. Setelah tahun 1920, berdirilah kantor cabang Nederlandsche Indische Escompto Maatschapij, Nederlandsche Indische Handelsbank, dan Hong Ho (perusahaan bank Cina).

Bank-bank yang kesemuanya berkantor di kawasan 16 Ilir ini membiayai hampir semua perdagangan karet dan kopi di Keresidenan Palembang. Sistem yang dipakai kala itu adalah gadai konsinyasi atau kredit yang diterima. Pihak bank membuat daftar dagang berjangka. Semua jenis tanaman yang tecantum di dalam daftar ini dapat dipakai sebagai bahan gadai di bank. Pembelian dan penjualan harus dilakukan melalui pialang yang diakui Kamar Dagang. Para pedagang pun dapat menggadaikan karet atau kopinya kepada bank. Komoditas ini kemudian disimpan di dalam gudang (veem) dan dapat mengambilnya kembali apabila utang sudah lunas. Pedagang juga dapat mengambil kredit di bank apabila memiliki surat tertulis dari pialang yang menyatakan bahwa sang pemohon kredit akan menyerahkan komoditas (misalnya, karet) dalam jangka waktu tertentu.

Bank Sumsel
Dengan kondisi perbankan serupa ini, tidaklah mengherankan apabila kemudian –pada masa kemerdekaan—pemerintah mendirikan bank milik daerah di kawasan ini. Karena situasi dan kondisi politik yang tidak memungkinkan menjelang akhir tahun 1950-an, pemerintah memberlakukan darurat perang. Karenanya, kebijakan pembangunan banyak dipegang oleh militer. Panglima Ketua Penguasa Perang Daerah Tentara dan Territorium (TT) II Sriwidjaja Tingkat I Sumatera Selatan, Letkol Barlian, mengeluarkan Surat Keputusan (SK) No. 132/SEP/’58 pada 10 April 1958. SK mengenai pendirian Bank Pembangunan Sumatera Selatan ini berlaku surut mulai 6 November 1957. Dengan demikian, 6 November 1957 dicatat sebagai hari lahir PT Bank Pembangunan Sumatera Selatan.

Panglima Ketua Penguasa Perang Daerah TT II Sriwidjaja Tingkat I Sumatera Selatan, Letnan Kolonel Harun Sohar, yang menggantikan Letkol Barlian pada 14 Mei 1958, kemudian mendaftarkan pendirian PT Bank Pembangunan Sumatera Selatan ke Notaris Tan Thong Kie, 29 September 1958, sehingga tercatat sebagai Akta Notaris No. 54 (Tambahan Berita-Negara RI 17/7-1959 No. 57).

Pendirian bank ini didaftarkan oleh Mayor TNI Roesnawi, Kepala Staf Harian Penguasa Perang TT II Sriwidjaja, atas kuasa Letnan Kolonel Harun Sohar, Penjabat Panglima Penguasa Perang TT II Sriwidjaja. Pendaftar kedua adalah Mr. H. Makmoen Soelaiman, Penjabat Presiden Direktur Bank Pembangunan Sumatera Selatan. Bank ini, terletak di kawasan Jl. Tengkuruk (kini Jl. Jenderal Sudirman), menempati eks-Gedung Sekolah Misi Methodist. Sejak didirikan awal abad ke-20 hingga tahun 1950-an, masyarakat Palembang menyebutnya sebagai sekolah Inggris dan jalan itu masih disebut sebagai Jalan Sekolah. Ini mengacu kepada nama jalan semasa pemerintah kolonial, yaitu Schoolweg.


Makmur meskipun di tanah jajahan. Begitulah yang dirasakan rakyat Sumatera Selatan, saat harga karet melambung-lambung hingga dua dasawarsa abad ke-20. Kawasan 16 Ilir menjadi saksi atas kemakmuran yang luar biasa itu.

Dengan tingkat kemakmuran yang tinggi ini, rakyat Keresidenan Palembang –terutama kawasan di Sumatera Selatan penghasil getah karet (Hevea Brasiliensis) itu sudah terbiasa mendengarkan piringan hitam yang diputar pada gramafon dari berbagai merek, seperti Edison, Polydor, dan His Masters Voice. Bagi yang senang dengan fotografi, tersedia pula kamera foto. Semua produk “mewah” itu diiklankan di surat kabar lokal, seperti Pertja Selatan, Pewarta Melajoe, atau Kemudi. Bagi warga yang sudah melek huruf dan mampu membaca koran, iklan itu pun memikat hati mereka. Didatangilah pertokoan di Pasar 16 Ilir untuk membeli bermacam barang itu. Tidaklah heran, apabila kemudian, setelah bertransaksi getah karet dengan para penampung, juga bank-bank yang berada di kawasan itu, para toke karet ini mengangkut beragam barang mewah ke kampung mereka. Sebagai catatan, pendirian bank-bank niaga di kawasan ini –seperti diulas pada tulisan terdahulu—dipicu oleh semakin membaiknya perekonomian di keresidenan ini.

Bisnis perkaretan di Palembang, pada masa awal abad ke-20 ini sangat menjanjikan. Apalagi setelah terjadi rubber booms antara tahun 1914-1915. Kondisi ini makin meningkat setelah tahun 1920-an. Tak heran, banyak orang kaya di Keresidenan Palembang berkat bisnis getah dari tanaman yang dibawa dari Singapura oleh jemaah haji asal Palembang itu. Tanaman yang berasal dari Desa Para –nama desa ini kemudian melekat sebagai salah satu sinonim pohon karet—yang berada di Brasil sana. Sebetulnya, bukan hanya bisnis di Keresidenan Palembang yang “meledak” akibat getah karet. Tercatat, beberapa daerah lain di wilayah Hindia Belanda mengalami hal yang sama. Ini pun menarik perhatian Pemerintah Hindia Belanda, yang pada Oktober 1924 mendirikan suatu badan yang dinamai De Native Rubber Investigation Commissie untuk melakukan semacam penelitian mengenai kondisi perkaretan di negeri jajahannya ini. Termasuk pula, berapa besar penghasilan yang didapat perusahaan eksportir. Hal itu terjadi akibat terjadinya lonjakan permintaan getah karet pada masa 1920-an. Hasil penelitian itu kemudian diterbitkan dalam sebuah laporan berjudul De Bevolkingscultuur in Nederlandsch Indie (Pertja Selatan; 7 Oktober 1927). Sebagai gambaran, dapat dilihat pada data ekspor karet pada tahun 1919-1926;

Tahun Ekspor Basah (ton) Ekspor Kering (ton) Harga (juta rupiah)

  • 1919 13.000 - -
  • 1920 10.000 - -
  • 1921 6.000 - -
  • 1922 25.000 20.000 15
  • 1923 53.000 40.000 50
  • 1924 86.000 56.000 70
  • 1925 128.000 83.000 250
  • 1926 128.000 85.000 180

  • Sumber: Pertja Selatan, 7 Oktober 1927

    Catatan: mata uang yang dipakai, rupiah. Surat kabar yang terbit di Palembang ini juga menampilkan data mengenai besaran ekspor karet di Indonesia, berdasarkan Keresidenan, pada tahun 1927 per Januari-September.

    Keresidenan Ekspor Kering (ton) Ekspor Basah (ton)

  • Borneo Barat 21.133 16.906
  • Borneo Selatan dan Timur 26.299 15.780
  • Jambi 30.511 15.256
  • Palembang 17.037 11.951
  • Sumatera Timur dan Aceh 16.648 11.154
  • Riau dan Daerahnya 7.863 6.984
  • Tapanuli 3.528 3.175
  • Bangka 2.163 1.449
  • Bengkulu 953 638

  • Sumber: Pertja Selatan, 7 Oktober 1927

    Palembang Punya “BG”

    Dalam situasi ini, rakyat Keresidenan Palembang yang semula sangat lekat dengan budaya tepian sungai (riverine culture) mulai kenal dengan budaya “daratan”. Sebagian dari mereka yang diuntungkan oleh bisnis getah karet kemudian seolah berlomba membeli mobil. Selain distributor mobil yang menyediakan beragam merek mobil di Jl. Tengkuruk, sebuah perusahaan dagang –istilah sekarang, agen tunggal pemegang merek—mobil Ford, bahkan kemudian mendirikan ruang pamer (show room) di kawasan Sungai Rendang, yang terletak di sebelah hilir 16 Ilir. Dalam tahun 1920, mobil pribadi belum sampai 300 unit. Namun, pada tahun 1927, jumlahnya meningkat sampai 3.475 unit, terdiri atas berbagai merek, yaitu Ford, Albion, Rugby, Chevrolet, dan Whitesteam.

    Saat ini, pasaran mobil demikian pesat. Dua perusahaan mobil Amerika, seperti dimuat dalam iklan di surat kabar Pertja Selatan, yaitu Ford dan Chevrolet berkompetisi merebut konsumen. Pada tahun 1920-an ini, sedan Ford dipatok dengan harga Nlg 2.155, sedangkan Chevrolet seharga Nlg 2.195.

    Sebuah foto berangka tahun 1930, menunjukkan kondisi di kawasan Jl. Pasar (Pasarstraat) 16 Ilir. Pada foto ini, tampak sebuah mobil yang terlihat jelas pelat nomornya. Dari sini, dapatlah diambil kesimpulan bahwa pemakaian hirif BG sebagai identitas nomor polisi kendaraan di Palembang –mungkin juga berlaku bagi kota lain di Indonesia—merupakan adopsi dari zaman Belanda. Ternyata, bukan hanya KUHP yang diadopsi dari negeri penjajah itu.

    Tulisan ini berdasarkan penelitian dari berbagai sumber, baik tertulis maupun wawancara.

    SUMBER: BERITA MUSI 03.06.2009 13:51:13 WIB

    26 Januari 2010

    Persimpangan jalan tempo dulu di Palembang

    Kruispunt Pasarstraat, Schoolweg, Kratonweg te Palembang 1935 sumber : kitliv.nl
    Persimpangan jalan pasar ( Jalan Pasar 16), Jalan Sekolah ( Jalan Tengkuruk) dan Jalan Keraton (Jalan Palembang Darusallam) di Palembang tahun 1935

    Kruispunt Raadhuisweg, Oranjelaan, Soeak Batoe Depaten Lama te Palembang 1935 sumber : Kitliv.nl
    Persimpangan Jalan Merdeka, Jalan PAK. Abdurochim, Soak batu depaten lama di Palembang tahun 1935

    Kruispunt Wilhelminalaan, Oranjelaan te Palembang 1935 sumber : kitliv.nl
    Persimpangan Jalan Diponegoro dan Jalan PAK. Abdurochim di Palembang tahun 1935

    Jalan - Jalan di Palembang era tahun 1867 -1930

    Weg in Palembang 1867 sumber : tropen museum
    Jalan di Palembang tahun 1867

    Straat te Palembang 1910 sumber : kitliv,nl
    Jalan di Palembang tahun 1910

    Straat te Palembang 1920 sumber : topen museum
    Jalan di Palembang tahun 1920

    Een weg in een kampong te Palembang 1930 sumber : toropen museum
    Salah satu jalan kampung di Palembang tahun 1930

    25 Januari 2010

    Lukisan Palembang Tempo Dulu

    Een straat in Palembang 1939.JPG sumber topen museum
    Jalan di Palembang tahun 1939

    Een straat in Palembang met grote bomen op de voorgrond sumber tropen museum
    Sebuah jalan di Palembang dengan pohon-pohon besar di latar nya
    Huizen in Palembang met twee grote bomen op de voorgrond sumber tropen museum
    Rumah besar di Palembang dengan latar belakang 2 pohon besar

    24 Januari 2010

    22 Januari 2010

    Jalan Talang Djawa di Palembang

    Jalan Talang Djawa di Palembang 1921 sumber : Tropen Museum
    Jalan talang djawa ini merupakan cikal bakal dari jalan Jenderal Sudirman dimana jalan berawal dari air mancur sampai kawasan rumah sakit charitas, pada masa pendudukan jepang jalan ini di sebut dengan jalan Meiji, sejak tahun 1960-an jalan di kawasan ini mulai jadi permanen seiring dengan pembangunan jembatan Ampera dan saat ini menjadi jalan utama di kota ini yang di beri nama jalan Jenderal Sudirman.

    Jalan Jenderal Sudirman tahun 2008

    21 Januari 2010

    Perkembangan Jalan Tengkuruk Palembang

    Sungai Tengkuruk di Palembang tahun 1900 sumber : Kitliv.nl
    Sebelum "campur tangan" Kolonial Belanda terhadap alam di Palembang, sebelum abad ke-20, kawasan Pasar 16 Ilir (saat ini) dahulunya merupakan pemukiman tepian sungai. Di kawasan itu, terdapat Sungai Tengkuruk, yang merupakan salah satu anak Sungai Musi, yang salah satu bagiannya bertemu dengan Sungai Kapuran. Sementara Sungai Kapuran, bertemu pula dengan Sungai Sekanak (Peta Situasi Peperangan Palembang-Belanda; Sejarah Perjuangan Sri Sultan Mahmoed Baderedin Ke II; R.H.M. Akib; 1980).

    Di atas sungai itu, terdapat jembatan dan tangga-tangga yang menghubungkannya dengan daratan. Jika dilihat dari arah pertigaan Jl. Masjid Lama (saat ini), di sepanjang tepian sungai sebelah kiri, berjajar pertokoan. Sedangkan di bagian kanan, tampak rumah-rumah panggung.

    Di bagian lain sungai itu, tampaklah tangga raja (hingga kini masih dinamakan demikian meskipun sudah tak ada lagi sungai dan tangganya). Tangga ini berfungsi sebagai tempat naik turunnya para pembesar Kesultanan Palembang Darussalam.

    Jalan Tengkuruk tahun 1935 sumber : Kitliv.nl
    Seperti lazimnya perkembangan pasar saat ini, perdagangan di Pasar 16 Ilir berawal dari "pasar tumbuh", yang terletak di tepian Sungai Musi (sekarang Gedung Pasar 16 Ilir Baru hingga Sungai Rendang, Jl. Kebumen). Pola perdagangan di lokasi itu, setidaknya hingga awal 1900-an, dimulai dari berkumpulnya pedagang cungkukan (hamparan), yang kemudian berkembang dengan pembangunan petak permanen.

    Untuk kawasan Pasar Baru (hingga kini masih bernama Jl. Pasar Baru), yang saat itu sudah berderet bangunan bertingkat dua, yang bagian bawahnya menjadi tempat berjualan. Los-los mulai dibangun sekitar tahun 1918 dan dipermanenkan sekitar tahun 1939.

    Untuk merealisasikan itu, Sungai Tengkuruk ditimbun pada tahun 1928. Di atasnya, dibangunlah jalan dalam dua jalur. Di bagian kiri --jika dilihat dari arah Sungai Musi, tampaklah jajaran pohon dan kanannya, bangunan dua tingkat, yang merupakan perkantoran. Bentuk serupa ini dapat disebut bulevar.

    Usai penimbunan, Sungai Tengkuruk dijadikan jalan. Hal ini terkait dengan program Pemerintah Kolonial dalam penyediaan sarana “cari angin” bagi warga Eropa (soal sarana hiburan, nanti dibahas tersendiri). Ini merupakan rangkaian dari pembangunan jalan di depan Kuto Besak (kini Jl. SMB II), Staadhuisweg (kini Jl. Merdeka), jalan di tepian Sungai Sekanak samping Kantor Walikota saat ini (sekarang, Jl. Sekanak), dan Jl. Sekitar kawasan Talangsemut.

    Jalan Tengkuruk tahun 1950-an sumber : Tropen museum

    Pola bulevar memungkinkan jalan ini menjadi sangat sedap dipandang. Selain trotoar yang disediakan bagi pejalan kaki, dan dilengkapi pula dengan lampu hias di bagian tengah (median)-nya dan pepohonan rindang di salah satu sisinya. Sisi lain, bangunan pertokoan dan perkantoran (kini di bagian Jl. Tengkuruk Permai) tetap dipertahankan. Perlakuan sama juga atas pertokoan --umumnya dua tingkat-- di Jl Pasar Baru dan blok di Jalur 11 (nama saat ini). Beberapa foto yang diambil antara tahun 1930-1958, menunjukkan, adanya penataan di kawasan itu yang mengarah kepada bentuk pusat perbelanjaan (pertokoan). Selain bangunan toko --ini tampak pula pada foto-foto yang diambil sebelum tahun 1930-an—yang berjajar, juga tampak adanya arkade. Yaitu, lorong yang diperuntukkan bagi pejalan kaki dengan atap-atap di bagian atasnya.

    Gambar terkait
    Credit foto : http://dhevcaem.blogspot.co.id/ Tahun 1970-an, tampak sisi sebelah kanan Jalan Tengkuruk dan sisi sebelah kiri foto Jalan Palembang Darusalam

    Update Jalan Tengkuruk tahun 2016... padat merayap

    Sumber tulisan di kutip dari http://lmb35.blogspot.co.id/

    20 Januari 2010

    Sudut Kiwalk Palembang

    Kiwalk yang tepat bersebrangan dengan Hotel Swarnadwipa
    Kiwalk, tempat hangout favorit anak-anak gaul Palembang sejatinya adalah kolam pembuangan? Air limbah dari rumah tangga dan kucuran hujan, semuanya ditampung menjadi satu di kolam tersebut. Tetapi ketika ditata dengan baik, kolam tersebut bisa jadi tempat yang keren buat gaul. Kolam yang dibuat sejak zaman Belanda tersebut, memang tak hanya bermanfaat sebagai penampung air. Kambang Iwak kini berkembang jadi sarana hiburan dan rekreasi yang keren dengan nama gaul, Kiwalk. 

    Pengamat Perkotaan Ir Ari Siswanto MCRP dari Universitas sriwijaya mengatakan, Pemerintah Belanda sejak dulu sudah memperkenalkan konsep estetika dalam pembangunan kolam retensi.Misalnya dua kolam retensi peninggalan zaman Belanda, yaitu Kambang Iwak Besar yang terletak di depan rumah dinas Wali Kota Palembang, dan Kambang Iwak Kecil di Jalan Teuku Umar.

    Masih terus berbenah agar lebih "Cantik"
    Meruntut sejarahnya, Kawasan Kambang Iwak dibangun tahun 1921. Semasa kepemimpinan Thomas Carlsen. Hebatnya, meski “pembuangan” saat itu Kambang Iwak hingga Talang Semut sudah dirancang sebagai taman kota. Maklum saja, kawasan itu pada masa lalu identik dengan kawasan elite, seperti layaknya Menteng di Jakarta. Hingga sekarang pun image itu masih melekat di kawasan ini.   

    Di sana terdapat rumah (disebut istana) gubernur/ exs BP7, kantor residen, kantor-kantor militer, mess SVPM, Hotel Sehati (kantor pajak, red), kolam renang, dan rumah-rumah (yang sebelumnya dihuni) Belanda terletak di kawasan elite Talang Semut. Namun yang bikin kawasan ini “tampil beda” adalah keberadaan 2 buah kolam yang asri dengan pohon cemara sepanjang pinggirannya, yakni Kambang Iwak Besar  dan Kambang Iwak Kecik.  Karena pembangunan kolam tersebut menerapkan sisi keindahan dan memilih lokasi yang strategis, dua kolam yang dikelilingi jalan raya itu hingga kini tetap dimanfaatkan sebagai tempat santai dan rekreasi. 
           
    Di Kambang Iwak Kecil, hampir sepanjang hari, ada saja orang yang memanfaatkan kawasan pinggiran kolam itu untuk duduk santai, memancing, jalan, dan lari pagi. Teduhnya pepohonan di pinggiran kolam, bahkankerap dimanfaatkan muda-mudi untuk berpacaran. 

    Sebelum ditata lebih apik tahun 2005 lalu (dulu masih bernama Kambang Iwak Family Park atau KIF Park), Kiwalk juga menjadi ajang gaul beragam kalangan, mulai dari anak-anak sampai  dewasa. Hampir setiap hari, pinggiran kolam dijadikan tempat untuk lari pagi dan jalan-jalan. Letak kolam yang dikelilingi jalan-juga dibangun sejak masa Belanda-menjadikannya sebagai tempat yang strategis dan mudah diakses. 

    Setelah direnovasi, Kiwalk kini dilengkapi jalur lintasan lari, taman, tempat duduk dan kios-kios. Tempat itu kini semakin ramai setiap akhir pekan. Anak-anak muda, pedagang, keluarga ramai berdatangan untuk bercengkerama sambil menikmati pemandangan kolam "pembuangan" itu.

    Masjid Taqwa Palembang

    Yang tidak mau ketinggalan "Bersolek" seiring perkembangan pembangunan kota ini.

    19 Januari 2010

    De Schoolweg/ Jalan Sekolah te Palembang 1935

    De Schoolweg te Palembang 1935 sumbe kitliv.nl
    Jalan Sekolah di Palembang tahun 1935
    Schoolwage atau jalan sekolah merupakan jalan di kawasan tengkuruk (yang merupakan hasil dari penimbunan sungai tengkuruk), di mana ada sekolah Inggris yang sudah di dirikan sejak awal abad ke 20 hingga tahun 1950-an dan masyarakat lebih banyak mengenal dengan sekolah Misi Methodist.


    Schoolweg te Palembang 1900 sumber Kitliv.nl
    Jalan Sekolah di Palembang tahun 1900
    Jalan sekolah/ Jalan Palembang Darusallam  tepat berada di samping Monpera yang dulunya sekolah nasional sekitar tahun 1980-an

    16 Januari 2010

    De Raadhuisweg / Jalan Merdeka di Palembang tahun 1935 & Bioskop Oriental

    De Raadhuisweg te Palembang 1935 - Jl Merdeka
    Jalan merdeka merupakan salah satu jalan di mana banyak meninggalkan situs sejarah baik itu Watertorren (kantor ledeng yang sekarang menjadi kantor walikota Palembang), eks hotel musi yang saat ini berubah menjadi kantor dinas kesehatan provinsi Sumatera Selatan ataupun markas PM yang sebelumnya merupakan sentra dari jual beli karet yang ada di palembang, dan salah satu yang tidak kalah penting adalah yang saat ini menjadi gedung Dispenda kota Palembang exs bioskop Saga.

    Bioskop pertama yang ada di kota Palembang ada lah Bioskop Flora pada tahun 1910, kemudian pada tahun 1920 berganti nama menjadi Bioskop Orintal, kemudian pada tahun 1956 berubah menjadi bioskop SAGA yang merupakan tempat lahirnya dari penciptaan tari gending sriwijaya.


    Sumber : pemkot Palembang
    Proses penciptaan Tari Gending Srwijaya dimulai sejak tahun 1943 dan selesai pada tahun 1944. Tari ini diciptakan untuk memenuhi permintaan dari pemerintah (era pendudukan Jepang) kepada Jawatan Penerangan (Hodohan) untuk menciptakan sebuah tarian dan lagu guna menyambut tamu yang datang berkunjung Keresidenan Palembang (sekarang Provinsi Sumatera Selatan).

    Pencipta gerak tari (penata tarinya) yaitu Tina Haji Gong dan Sukainan A. Rozak, berbagai konsep dicari dan dikumpulkan dengan mengambil unsur-unsur tari adat Palembang yang sudah ada. Sementara musik atau lagu Gending Sriwijaya diciptakan tahun 1943 tepatnya dari bulan oktober sampai dengan Desember oleh A. Dahlan Muhibat, seorang komposer juga violis pada grup Bangsawan Bintang Berlian di Palembang. Lagu Gending Sriwijaya ini merupakan perpaduan lagu Sriwijaya Jaya, yang diciptakan A. Dahlan Muhibat dengan konsep lagu Jepang. Dan untuk syair lagu Gending Sriwijaya diciptakan oleh Nungcik AR.

    Sumber (Deskripsi Tari Gending Sriwijaya, Izi Asmawi (Alm), Kantor Wilayah Depdikbud Prov. Sumsel, 1990/1991 dalam http://badahwongkito.blogspot.com/2012)

    12 Januari 2010

    10 Januari 2010

    Emma Laan / Jalan Ratna


    Emma Laan yang sekarang bernama “Jalan Ratna” terletak di kawasan areal kolinial Palembang, jalan yang tidak begitu panjang ini pernah menjadi saksi atas pertempuran 5 hari 5 malam di Palembang.

    Update jalan Ratna tahun 2016


    09 Januari 2010

    Halte Bus Trans Musi

    Halte di kawasan KM 8
    PALEMBANG, KOMPAS - Rencana Pemerintah Kota Palembang, Sumatera Selatan, mengoperasikan 25 bus transmusi mulai 10 Februari 2010 dinilai belum layak. Alasannya, masih banyak sarana dan prasarana pendukung dalam kondisi rusak dan harus segera diperbaiki.

    Sejumlah warga Kota Palembang, Selasa (26/1), menyayangkan kondisi halte bus yang rusak dan jalan aspal yang mengelupas. Kerusakan tersebut diyakini dapat mengurangi kenyamanan penumpang bus transmusi. Kendati demikian, mereka tetap menyambut baik kehadiran transmusi.

    ”Di sekitar Kampus Universitas Sriwijaya, misalnya, banyak halte yang berdiri di tepi jalan yang aspalnya rusak. Jangankan bus, motor saja berguncang-guncang kalau melewati jalan itu,” ujar Hamidi, warga Ilir Barat I.
    Halte di depan RS Ernaldi Bahar

    Selain itu, hampir semua halte bus transmusi masih sepi dan terkesan belum siap digunakan. Halte yang berukuran rata-rata 1,5 meter x 3 meter itu hanya sekadar dipasangi besi untuk antre di dalam ruangan. Belum ada ruang penjualan tiket, kursi tunggu bagi penumpang, dan rambu atau petunjuk tertentu.

    Padahal, halte yang didanai APBD Kota Palembang senilai Rp 56 juta per unit ini sudah rampung dibangun sejak Desember 2009. Kepala Dinas Perhubungan Kota Palembang Edi Nursalam mengatakan, terdapat 56 halte milik pemerintah daerah dan tambahan 18 halte lain yang dibangun pihak swasta.

    Perlu ditunda

    Manajer Pengembangan Sumber Daya Organisasi Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumatera Selatan Hadi Jatmiko meminta Pemkot Palembang menunda pengoperasian bus transmusi karena belum memiliki dokumen analisis mengenai dampak lingkungan (amdal).

    Walhi mengkhawatirkan transmusi justru akan memicu kemunculan titik-titik kemacetan baru, khususnya yang berada dekat pasar atau sekolah, sehingga menimbulkan dampak pencemaran udara.

    ”Jangan sampai transmusi yang bertujuan mengatasi kemacetan dan polusi Kota Palembang justru malah memperparah kondisi tersebut,” kata Hadi.

    Walau menuai keberatan, Dinas Perhubungan Kota Palembang tetap bersikukuh akan mengoperasikan transmusi pada 10 Februari. Keputusan ini diambil karena pemerintah pusat akan menyerahkan 15 bantuan bus kepada Pemkot Palembang pada 28 Januari di Jakarta. Selain itu, pemkot juga sudah telanjur membeli 10 bus tambahan.

    ”Bus-bus itu sekarang ada di Semarang, Jawa Tengah, dan siap untuk dikirim ke Palembang. Jadi, sayang kalau tidak dijalankan. Lagi pula, launching transmusi sudah dua kali tertunda sejak Desember 2009,” ujar Edi.

    Bus transmusi yang akan beroperasi memiliki daya tampung 42 penumpang, yakni 22 duduk dan 20 berdiri. Bus akan melayani dua rute, yakni koridor I (Terminal Alang-alang Lebar- Ampera) dan koridor II (Terminal Sako-Palembang Indah Mal). Harga karcis Rp 3.000 per penumpang. (YOP)

    Sumber tulisan : Kompas.com
    Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...