CANTUMKAN SUMBERNYA JIKA MENGGUNAKAN GAMBAR ATAU ARTIKEL DARI BLOG INI - HORMATI HAK CIPTA ORANG LAIN.

26 Agustus 2009

Mancing di Bulan Puasa


Salah satu cara menghabiskan waktu di bulan puasa ini adalah dengan memancing apalagi dengan kondisi sungai musi yang mulai surut, mereka bisa memancing sambil duduk di pinggir sungai.

Pelataran Museum SMB II Palembang


Bagian pelataran/ halaman museum SMB II yang di bidik pada hari Minggu kemaren.

18 Agustus 2009

Pelangi 17 Agustusan

Panitia sedang menyiapkan batang pinang







Sempat terbidik kamera saat perayaan 17 Agustus 2009, di BKB. Merdeka....

DIRGAHAYU RI KE 64


DIRGAHAYU KEMERDEKAAN RI KE 64
17 Agustus 1945 - 17 Agustus 2009

Haul Akbar






Seperti inilah salah satu tradisi yang ada di kota ini sebelum datangnya bulan suci romadhon di adakannya haul Akbar ini di mana, haul yang di hadiri oleh banyak jemaah baik dari dalam dan luar negeri dan untuk tahun ini ketua FPI Habib Riziq dan juga sultan iskadar Badarudin juga berkenan hadir mengikuti haul.

14 Agustus 2009

Penjual Kerupuk


Ibu dan anak ini melintasi jembatan kebanggaan kota ini dengan membawa banyak "kerupuk" di dalam kantung-kantung plastik, mereka memanfaatkan jembatan ini untuk membawa dagangan mereka untuk kemerdekaan "kantung" dan "perut mereka".

10 Agustus 2009

Kuliner Khas 17 Agustus-an di Palembang

Ketan Sepit

Telok Pindang

Telok Ukan


Ini kuliner yang enak yang menemani telok abang setiap 17an di kota ini.

Lampard Pun Suka Telok Abang



tenyata telok abang bukan hanya di sukai oleh masyarakat kota ini tenyata pesepakbola Lampard pun juga suka......lihat foto di atas...hahahhahah.

Telok Abang Tahun Ini


Seperti tahun-tahun sebelumnya telok abang merupakan benda khas yang hanya ada di setiap bulan Agustus di kota Palembang.

07 Agustus 2009

Pembangunan Turap Di kawasan 10 - 12 Ulu Palembang





Turap yang di bangun di pinggiran sungai musi ini di kawasan 10 ulu rencananya akan di bangun sepanjang 73 m sampai ke anak sungai kedemangan, program pemerintah kota yang menajadikan pinggiran sungai musi menjadi tempat rekreasi dan wisata sepertinya terus berlanjut biar tetap indah kota ini.
--------------------------------

(Sumatera Selatan) Pemkot Palembang bersama Balai Besar Sungai Kementerian Pekerjaan Umum (PU) berencana memperpanjang turap (retaining wall) di sepanjang Sungai Musi.                   

Setelah sebelumnya pembangunan turap kawasan 9/10 Ulu,  Kecamatan Seberang Ulu (SU),  tahun 2011 pembangunan ini tersebut diperpanjang 140 meter ke arah Kelurahan 11–12 Ulu.   Tak tanggung-tanggung, dana yang diperlukan untuk merealisasikan proyek ini sebesar Rp 2 miliar.   Kepala Badan (Kabag) Agraria dan Batas Wilayah Pemkot Palembang Sunarto mengatakan,   saat ini pihaknya mulai melakukan pendataan untuk pembebasan lahan di kawasan 11–12 Ulu.   Sementara ini, tercatat 15 rumah panggung dan rakit yang terkena ganti rugi lahan untuk pembangunan memperkuat dinding Sungai Musi tersebut.       

"Nilai ganti rugi belum bisa kita pastikan berapa besarannya.  Tapi yang pasti, ganti rugi disesuaikan dengan nilai jual objek pajak (NJOP)-nya. Ini juga setelah kita melakukan tahapan berikutnya inventarisasi, sosialisasi, dan negosiasi. Setelah itu, baru akan dilakukan pembayaran,  untuk dananya pemkot mendapat bantuan dari APBN Balai Sungai Besar Kementerian PU sekitar Rp 2 Miliar," ujar Sunarto.   Dana Rp 2 miliar ini sebagian besar akan dipakai untuk membayar ganti rugi lahan milik warga di kawasan 11-12 Ulu.   Sisanya akan digunakan untuk mengganti rugi lahan warga di Pasar 16 Ilir.        

Wali Kota Palembang Eddy Santana Putra mengatakan, pembangunan turap sangat penting sebagai salah satu upaya untuk penataan pinggiran Sungai Musi dan terus dibangun,  meski bertahap.  "Dananya memang dari APBN karena kalau pakai dana Pemkot itu sulit," jelasnya.   Eddy menjelaskan,  pembangunan retaining wall atau turap di Sungai Musi, sebenarnya telah berjalan pada 2009.  

Namun,  untuk program ini dana didapat dari pinjaman (loan) ke Jepang.  "Kita dapat pinjaman (loan) dari Jepang senilai Rp 46 miliar.   Untuk normalisasi Sungai Bendung (lanjutan),  Sungai Sekanak,  Sungai Aur,  dan Sungai Bayas.    

Sumber tulisan :tender-indonesia.com

06 Agustus 2009

Suasana Di Beringin Janggut Palembang


Beginilah suasana di kawasan beringin janggut Palembanh (Kawasan Dika) terutama di hari minggu dan libur, kawasan yang di penuhi dengan pedagang dan pembeli ini baru bisa sepi saat maghrib mennjelang.

05 Agustus 2009

Penjual Racun Tikus

Penjual racun tikus saat melintas di jembatan Ampera



Seperti inilah aksi dari penjual racun tikus saat sedang mengelilingi kota ini, mungkin seantero kota ini tahu dengan penjual racun tikus ini, dengan mega phone teriakan suaranya lantang, dan sepeda yang di modifikasi beroda 4 ini, sebelumnya pedagang racun tikus ini menjual permen asam jawa yang berjualan di seputaran pasar 16 dan di pasar loak cinde di hari minggu, memang fenomenal pedagang yang satu ini.

 ---------------------------------

Racun tikus, racun tikus.” Kalimat itu terdengar lantang melalui alat pengeras suara sangat dikenal warga di Kota Palembang. Suara itu milik Raden Muhammad Dencik (39), yang sering dipanggil Pak Den. Pekerjaan Pak Den adalah berdagang alat pembasmi tikus, seperti racun, jebakan, dan lem tikus. Setiap hari Pak Den melewati jalan-jalan utama di kota itu dan masuk keluar kampung untuk menjajakan dagangannya.

Barang dagangan itu diletakkan dalam sepeda yang dimodifikasi sehingga memiliki empat roda. Satu roda di depan dan tiga roda di belakang, serta memiliki atap. Sepeda itu dilengkapi alat pengeras suara dan aki sebagai sumber tenaga listrik. Supaya lebih meriah, sepeda dipasangi lampu sirene warna merah dan kuning.
Di bagian belakang sepeda ada ban dan pelek cadangan. Kata Pak Den, itu untuk antisipasi kalau ban pecah atau pelek bengkok. Penampilan Pak Den juga unik. Ia selalu memakai helm warna putih dengan tulisan RCN TKS (singkatan dari racun tikus), sepatu bot karet hitam, dan sarung tangan hitam.

Biasanya orang akan tersenyum melihat cara Pak Den menjajakan dagangannya yang tidak lazim. Namun, dagangan itu laris manis karena tidak lazim dan tidak memiliki saingan. Saat ditemui Kompas di rumahnya di Jalan Perintis Kemerdekaan, Lorong Wiraguna, Palembang, Sabtu (16/10) siang, Pak Den sedang bersiap mengayuh sepedanya keliling Palembang.

”Setiap hari Senin sampai Sabtu saya jualan keliling Palembang. Hari Senin dan Selasa ke daerah Perumnas Kenten, Rabu ke Kertapati, Kamis ke Musi II, Jumat ke Plaju, Sabtu kembali ke Perumnas Kenten,” kata suami Marfiah (32) itu. Setiap hari dia bekerja mulai pukul 13.00 hingga pukul 20.00, bahkan kadang sampai pukul 21.00. Berarti setiap hari ia sudah menempuh jarak puluhan kilometer dengan mengayuh sepeda. Itu sebabnya banyak warga Palembang akrab dengan suaranya.

Dia mengaku mulai berjualan racun tikus sejak tahun 2006 di Pasar 16 Ilir. Saat itu ia berjalan kaki sambil menenteng pengeras suara. Tahun 2007 Pak Den bisa membeli sepeda dari hasil berjualan racun tikus. ”Kenapa saya memilih berjualan racun tikus? Karena di mana-mana pasti banyak tikus. Saya pernah berjualan permen di kereta api jurusan Lampung dan Lubuk Linggau, tetapi tidak sukses,” kata ayah dari RA Amina Zuria (16), RM Mustofa (10), dan RM Kasirun Nawal (3).

Lelaki yang hanya tamatan sekolah dasar ini mengaku hasil penjualannya mencapai Rp 50.000-Rp 200.000 per hari, bahkan kadang mencapai Rp 500.000. Bagi dia, berjualan racun tikus dengan mengayuh sepeda juga bermanfaat bagi kesehatan. Hingga kini dirinya tak pernah sakit. Sejumlah perusahaan farmasi dan otomotif menawarinya jadi tenaga penjual, tetapi dia tetap pilih racun tikus. (WAD)

Sumber tulisan : nasional.kompas.com

Tidak Update



"Tidak Update' seperti itulah yang tergambar di benak saya saat melihat rambu lalu lintas yang terletak di Jalan Kol Atmo ini, masih muncul tulisan "Bank Dharmala", padahal bank tersebut sudah di likuidasi tahun 1998.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...