CANTUMKAN SUMBERNYA JIKA MENGGUNAKAN GAMBAR ATAU ARTIKEL DARI BLOG INI - HORMATI HAK CIPTA ORANG LAIN.

10 Juli 2008

Sejarah Keraton Kuto Gawang

Sketsa peta kuto gawang sumber : google


Kuto Gawang Pada awal abad ke-17, Palembang menjadi pusat pemerintahan kerajaan yang bernuansa Islam dengan pendirinya Ki Gede ing Suro, bangsawan pelarian dari Kesultanan Demak akibat kemelut politik setelah mangkatnya Sultan Trenggana. Pada masa ini pusat pemerintahan di daerah sekitar Kelurahan 2-Ilir, di tempat yang sekarang merupakan kompleks PT Pupuk Sriwijaya. Secara alamiah lokasi keraton cukup strategis, dan secara teknis diperkuat oleh dinding tebal dari kayu unglen dan cerucup yang membentang antara Plaju dengan Pulau Kembaro (Kemaro), sebuah pulau kecil yang letaknya di tengah Sungai Musi. Keraton Palembang yang dibangunnya itu disebut Keraton Kuto Gawang yang bentuknya empat persegi panjang dibentengi dengan kayu besi dan kayu unglen yang tebalnya 30 x 30 cm/batangnya. Kota berbenteng yang di kemudian hari dikenal dengan nama Kuto Gawang ini mempunyai ukuran 290 Rijnlandsche roede (1093 meter) baik panjang maupun lebarnya. Tinggi dinding yang mengitarinya 24 kaki (7,25 meter). Orang-orang Tionghoa dan Portugis berdiam berseberangan yang terletak di tepi sungai Musi. Kota berbenteng ini sebagaimana dilukiskan pada tahun 1659 (Sketsa Joan van der Laen), menghadap ke arah Sungai Musi (ke selatan) dengan pintu masuknya melalui Sungai Rengas. Di sebelah timurnya berbatasan dengan Sungai Taligawe, dan di sebelah baratnya ber¬batasan dengan Sungai Buah. Dalam gambar sketsa tahun 1659 tampak Sungai Taligawe, Sungai Rengas, dan Sungai Buah tampak terus ke arah utara dan satu sama lain tidak bersambung. Sebagai batas kota sisi utara adalah pagar dari kayu besi dan kayu unglen. Di tengah benteng keraton tampak berdiri megah bangunan keraton yang letaknya di sebelah barat Sungai Rengas. Benteng keraton mempunyai tiga buah baluarti (bastion) yang dibuat dari konstruksi batu. Orang-orang asing ditempatkan/ber¬mukim di sebe¬rang sungai sisi selatan Musi, di sebelah barat muara sungai Komering (sekarang daerah Seberang Ulu, Plaju).
perang kuto gawang Des 1659 
Pembakaran Kuto Gawang
Selama dua abad masa kesultanan, keraton sultan berpindah beberapa kali. Kesultanan mula-mula berpusat di kawasan Plaju, dinamai Kuto Gawang. Djohan Hanafiah menjelaskan Kuto Gawang sebagai kota yang dilindungi pagar dinding berstruktur kayu.

Perlawanan Palembang kepada VOC atas kecurangan perusahaan dagang Belanda itu dalam perdagangan timah dan lada berujung pada pengusiran dan pembongkaran loji Belanda di Sungai Aur atas perintah Sultan Mahmud Badaruddin II pada tahun 1811. Perlawanan itu berujung pada penyerangan keraton.

Pada masa pemerintahan sido ing rejek terjadi peperangan melawan belanda (VOC) tahun 1659, pihak belanda berhasil memenangkan peperangan dan membumi hanguskan benteng kuto gawang sehingga rata dengan tanah dan selanjutnya pangeran sido ing rejek menyingkir ke pedalaman.

Pada bulan desember 1658 terjadi pertempuran di kuto gawang di karenakan kecurangan pihak belanda dalam kotraknya yang menyebabkan kemarahan di pihak rakyat. 

Pertempuran ini di pimpin oleh pangeran ario kusuma abdul rohim kiyai emas endi dengan di Bantu oleh putri ratu emas tumenggung bagus kuning pengkulu, pangeran mangku bumi, nembing kapal dan kiayi demang kecek.

Sumber : http://www.palembang.go.id/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...