CANTUMKAN SUMBERNYA JIKA MENGGUNAKAN GAMBAR ATAU ARTIKEL DARI BLOG INI - HORMATI HAK CIPTA ORANG LAIN.

27 Juni 2008

Stadion Patra Jaya



Patrajaya yang Tidak Jaya Lagi



Jakarta - Klub sebesar (almarhum) Krama Yudha Tiga Berlian pernah menjadikan stadion ini sebagai kandang kebesarannya. Ironis, Stadion Patrajaya kini bahkan tidak punya fasilitas penerangan.Stadion yang terletak di kawasan Plaju, Palembang, itu dalam dua hari belakangan ini sedang menjadi bahan perbincangan para penggemar sepakbola setempat. Pasalnya, gara-gara tak ada lampu, partai final PON XVI antara Jawa Timur versus Papua tidak selesai sampai tamat setelah hari gelap.Padahal Stadion Patrajaya punya kenangan manis di jaman baheula. Dari 1987 sampai 1990, ketika Palembang menjadi markas KTB, stadion ini dijadikan home base bekas klub juara Galatama itu. KTM juga pernah bertanding melawan klub tenar Singapura Geylang di tempat ini. Waktu itu KTB lebih memilih Stadion Patrajaya dibandingkan Stadion Bumi Sriwijaya lantaran melihat fasilitas dan kondisi lapangan yang lebih baik. Namun, sejak KTB pindah ke Bekasi di tahun 1990, stadion kebanggaan ini menjadi terbengkalai. 


Para penggemar sepakbola di Palembang, khususnya di kawasan Plaju, jarang lagi menikmati pertandingan sepakbola bermutu. Setiap hari, stadion ini hanya dipenuhi monyet-monyet liar yang hidup dan berkembang biak di sekitar stadion. Monyet-monyet ini tidak pernah diusir atau dibunuh karena diyakini punya kekuatan magis. Lapangan pun kondisinya memprihatinkan. Bangku-bangku berlumut, tak terawat. Rumputan liar tumbuh di dalam maupun di luar stadion. Semua fasilitas stadion, seperti lampu sorot stadion, raib entah ke mana. Baru setelah Gubernur Sumsel Rosihan Arsyad mengajukan diri sebagai tuan rumah PON XVI, stadion tersebut kembali dibenahi. Semuanya diperbaiki, mulai dari tribun penonton sampai rumputnya. 

Bukan itu saja, Stadion Patrajaya dijadikan stadion kedua oleh panitia PON XVI untuk penyelenggaraan pertandingan sepakbola. Semestinya ini menjadi sebuah kebanggaan tersendiri.Tetapi, tidak seorang pun sadar, bahwa pertandingan sepakbola itu seringkali dimainkan pada malam hari atau dalam kondisi cuaca yang gelap. Saat itu yang sangat dibutuhkan adalah penerangan lampu. Dus, puluhan ribu orang seperti baru tersadar bahwa Stadion Patrajaya tidak mempunyai lampu penerangan, atau lampunya telah “dilenyapkan” oleh orang-orang yang bertanggungjawab. Akibatnya final sepakbola PON XVI antara Papua dan Jatim harus dihentikan karena stadion tidak memiliki penerangan. “Setahu saya stadion ini ada lampu, sebab sering digunakan pertandingan sepakbola pada malam hari. 


Beberapa waktu lalu, saat persiapan PON di masa Pak Rosihan Arsyad (mantan Gubernur Sumsel) stadion ini juga sudah diterangan lampu,” kata Subroto, warga Plaju, yang tinggal di seberang Stadion Patrajaya tersebut.  
(a2s/) sumber tulisan : 
http://sport.detik.com/





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...