CANTUMKAN SUMBERNYA JIKA MENGGUNAKAN GAMBAR ATAU ARTIKEL DARI BLOG INI - HORMATI HAK CIPTA ORANG LAIN.

05 Mei 2008

"Mobil Ketek" Tergerus Pembaharuan Zaman


  Hasil gambar untuk mobil ketek palembang
















Siang yang panas. Puluhan mobil antik berjajar untuk ngetem, di sekitar Pasar Simpangtiga di Kawasan 10 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I, Palembang, Sumatera Selatan. Setelah dipenuhi penumpang, satu per satu mobil itu bergerak dengan suara riuh, kemudian menembus keramaian jalan di pinggiran Sungai Musi.

Mobil-mobil itu memang antik. Kepala dan mesin berasal dari sisa-sisa kendaraan zaman perang dunia kedua, umumnya dari jip Willys buatan Amerika tahun 1946 sampai 1952. Modifikasi dilakukan pada hampir semua bagian dengan onderdil rakitan dari suku cadang bekas merek lain. Tapi, ada juga yang mempertahankan posisi setir di sebelah kiri.


Ganti Ban
Yang unik, badan mobil dan hampir seluruh aksesoris di dalamnya dibuat dari kayu jati, mrawan, atau racuk. Kayu diolah menjadi dinding, jendela-jendela di samping, atap, dan pintu di bagian belakang. Untuk tempat duduk, bangku kayu yang keras diberi tambahan busa tipis di atasnya. Bangunan kayu itu biasa disebut rumahan atau angkong, dengan bagian luar dilapisi pelat yang dicat warna-warni.

Masyarakat Palembang menyebut kendaraan klasik itu sebagai “mobil ketek”. Konon, sebutan “ketek” diberikan karena, setiap berjalan, mesin mobil mengeluarkan bunyi keras, “ketek-ketek-ketek...” Sebutan itu juga dilekatkan pada perahu ketek yang banyak berkeliaran di Sungai Musi, yang mesinnya juga mengeluarkan bunyi serupa.


M Amin alias Sangkut yang menjadi Juragan Mobil ketek sekaligus mekanik mobil ketek
Menurut juragan mobil ketek di Kelurahan 1 Ulu, M Amin alias Pak Sangkut, mobil ketek mulai menjadi angkutan umum terutama setelah revolusi kemerdekaan, sekitar tahun 1960-an. Pada masa kejayaannya antara tahun 1970-an sampai awal 1980-an, mobil yang bisa memuat 10 penumpang itu menjadi sarana transportasi murah dan massal yang andal. Jumlahnya mencapai 300-an unit yang melayani banyak jurusan, bahkan sampai menelusup ke lorong-lorong kecil.

Seiring dengan masuknya berbagai angkutan baru, jumlah mobil ketek terus menyusut. Saat ini, diperkirakan hanya tersisa 100-an unit, itu pun melayani rute-rute terbatas, seperti di Plaju, Kertapati, dan kawasan 1 Ulu sampai 16 Ulu. Tarifnya Rp 1.500 untuk sekali jalan.

Masa kejayaan mobil ketek sudah surut. Angkutan antik itu terus terdesak di tengah perubahan Kota Palembang yang semakin metropolis. Mobil-mobil tua itu bagaikan veteran perang yang sudah ngos-ngosan, tetapi tetap berusaha setia melayani warga. Warga pun berusaha maklum, ketika mesin mobil kadang batuk-batuk sehingga harus didorong ramai-ramai.

Foto dan Naskah: Kompas / Ilham Khoiri

 "Sekarang sungguh berbeda mobil ketek yang beroperasi hanya tinggal 1 unit itupun mesinya sudah di ganti dengan mesin kijang dan di hotel Horizon ada 1 unit yang merah tapi hanya untuk Pajangan"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...