CANTUMKAN SUMBERNYA JIKA MENGGUNAKAN GAMBAR ATAU ARTIKEL DARI BLOG INI - HORMATI HAK CIPTA ORANG LAIN.

12 Mei 2008

Kampung Al Munawar #2


Kampung Tua Arab
Taufik Wijaya - Detik Ramadhan

Palembang -Kampung Arab Al-Munawar yang terletak di kawasan 13 Ulu, Palembang, ini memiliki kekhasan seperti halnya perkampungan tua di tepian sungai. Kampung Al Munawar terletak di tepian Sungai Musi dan Sungai Ketemenggungan.

Di kompleks ini, terdapat paling kurang delapan rumah yang usianya diperkirakan lebih dari satu abad. Salah satunya, rumah pemukim Arab pertama di Kampung 13 Ulu, Habib Abdurrahman Al Munawar. Inilah kampung Kapten Arab di Palembang.

Kampung ini bersamaan dengan kampung Kapiten China di 7 Ulu, dan Kapten India di Kertapati, Palembang. Keseluruhan rumah yang ada di Kampung ini berkonstruksi panggung.

Sebagian, tetap berbentuk panggung, menggunakan bahan kayu unglen atau sebagian kayu unglen, atau juga sebagian batu. Sebagian lagi, menggunakan bahan batu secara keseluruhan.

Sebagian dari rumah itu berarsitektur limas, seperti rumah Habib Abdurrahman. Dan sebagian lagi telah mendapat sentuhan Timur Tengah dan Eropa. Ini juga terlihat dari bentuk tangga, baik tangga di luar rumah maupun di dalam. Tangga ini dibuat sedemikian rupa.

Ada rumah yang tangganya berukir biasa, menyerupai bentuk kotak dengan ‘sayatan’ pada empat sisi di atasnya. Ada pula tangga yang puncak pegangan tangganya diukir sedemikian
rupa. Sehingga, bentuknya sekilas menyerupai limas, sekilas dapat menyerupai bentuk puncak menara masjid bergaya Turki.

Demikian pula dengan bentuk terali pembentuk pagar di rumah berlantai dua. Jika diamati, besi serupa ini juga terdapat sebagai penyanggah atap. Tampaknya merupakan besi cetakan.

Aksesori yang tampak antik dan anggun adalah engsel jendelanya. Bentuk engsel berbahan kuningan ini menyerupai burung elang ketika jendela dalam posisi tertutup. Sebagian rumah tua di kampung itu bahkan telah menggunakan batu marmer sebagai lantai. Bahkan, marmer ini tidak hanya dipasang di lantai rumah berukuran sekitar 20 x 30 meter itu saja. Marmer ini konon didatangkan dari Italia. Berbentuk bujur sangkar 50 x 50 cm itu dipasang hingga ke teras.




Di kampung ini, juga terdapat rumah Kapten Arab. Seperti halnya etnis China dan India, pada tahun 1825 pemerintah kolonial Hindia Belanda di Palembang melakukan pendekatan. Dari tiap suku bangsa itu, diangkatlah pemimpin kaum dengan pangkat Kapten.
Tidak jelas siapa Kapten Arab pertama. Yang jelas, Kapten terakhir wafat tahun 1970 yang bernama Ahmad Al Munawar. Sapaan keseharian tokoh ini adalah Ayip Kecik. (tw/nwk)









Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...