CANTUMKAN SUMBERNYA JIKA MENGGUNAKAN GAMBAR ATAU ARTIKEL DARI BLOG INI - HORMATI HAK CIPTA ORANG LAIN.

01 Mei 2007

Ketek, Opeletnya Orang Palembang





Liputan6.com, Palembang: Bentuknya sederhana. Rangka kayu penyangga badan pun renta. Begitulah kondisi ketek, kendaraan sejenis opelet yang kini masih mengangkut penumpang di Kota Palembang, Sumatra Selatan. Mobil buatan Amerika Serikat ini memang pernah merajai layanan perjalanan di Kota Pempek pada dekade 60-an sampai 80-an. Tapi kini, jumlah angkutan itu kurang lebih tinggal 100 buah.

Adalah Abbas, seorang di antara pemilik mobil tipe Willis 1946 layaknya kendaraan zaman perang kemerdekaan itu. "Mobil ini saya peroleh dari warisan orangtua yang sudah mengoperasikannya sejak 1950-an," ungkap Abbas di Palembang, baru-baru ini. Lelaki tua ini mengaku telah 20 tahun narik angkutan tersebut.

Bukan perkara mudah memelihara ketek. Selain onderdilnya sudah sangat jarang dijual, mesinnya pun harus dirawat dengan penuh ketelitian. Seperti piston yang harus dikikir agar kerak olinya hilang. Lebih ironis lagi, Abbas menggunakan air sabun untuk mengganti minyak rem. "Harga oli rem kemahalan," keluh pria ini. Tapi jangan pikir air sabun tak ampuh. Ketek berhenti dengan sigap bila diberhentikan penumpang.

Seiring perjalanan waktu, beruntung pengoperasian mobil ini tak diberangus oleh pemerintah daerah setempat. Cuma rutenya saja yang disingkirkan ke pinggiran kota. Yakni dari bawah Jembatan Ampera sampai ke seberang Ulu Laut serta di sekitar kawasan Plaju. Meski begitu, ketek tetap harus bersaing dengan kendaraan umum modern yang juga beroperasi di rute tersebut.


Menyiasati pesaingan itu, sopir ketek tak menaikkan tarif yang kini masih Rp 700. Sedangkan tarif angkutan umum lain mencapai kendaraan Rp 1.000 per penumpang. "Kalau ikutan naik, nanti penumpang lari," ungkap Abbas. Dari pekerjaan inilah, Abbas memperoleh penghasilan Rp 20 ribu per hari. Dan, dengan tambahan uang dari hasil berusaha warung kecil-kecilan, dia mampu menyekolahkan anaknya, bahkan ke perguruan tinggi.(MTA/Ajmal Rokian dan Yanuar Ihrom)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...