CANTUMKAN SUMBERNYA JIKA MENGGUNAKAN GAMBAR ATAU ARTIKEL DARI BLOG INI - HORMATI HAK CIPTA ORANG LAIN.

05 Maret 2007

Eksistensi Permainan Rakyat Kota Palembang

Kota Palembang sebagai ibukota propinsi Sumatera Selatan, yang tumbuh dan berkembang menjadi barometer pertumbuhan di Sumatera bagian selatan, pernah mengenal berbagai macam jenis permainan tradisional, khususnya yang dimainkan oleh anak-anak. Namun sebagai dampak derasnya kemajuan teknologi dan arus informasi, pada saat sekarang, hampir tidak ditemukan lagi anak-anak di kota Palembang yang memainkan permainan-permainan tradisional tersebut. Padahal didalam permainan tradisonal tersebut banyak terkandung nilai-nilai dan ajaran-ajaran yang sangat bagus dalam perkembangan si anak. Meskipun pada umumnya permainan tersebut dimainkan dengan tujuan rekreatif dan pengisi waktu luang, namun secara tidak disadari, permainan-permainan tradisional tersebut dapat melatih keterampilan, ketangkasan, kreatifitas, daya ingat, kekompakan dan mengajarkan anak untuk bersosialisasi serta beradaptasi di dalam lingkungan sosialnya.

Permainan rakyat tradisional merupakan salah satu manifestasi tingkah laku manusia yang dilakukan dalam kegiatan fisik dan mental sebagai bagian dari kebudayaan bangsa dimana setiap suku bangsa yang mempunyai permainan rakyat tersendiri (Yunus, 1992). Permainan rakyat daerah sangat berguna sebagai sumber informasi bagi sejarah dan budaya masyarakat setempat. Hal ini karena pada dasarnya manusia senang dan harus bermain, sudah lama diketahui. Buktinya adalah bahwa setiap kebudayaan memiliki banyak macam permainan dan alat-alat permainan.

Didalam permainan rakyat tradisional terkandung nilai-nilai dan gagasan vital masyarakat pengembangannya, serta merupakan sumber daya manusia yang sangat besar. Dengan kata lain permainan rakyat merupakan suatu tradisi yang mengandung fungsi dan nilai-nilai budaya masyarakat pendukungnya. Menurut sifatnya permainan rakyat dapat dibedakan atas dua golongan besar yaitu permainan rakyat untuk bermain (play) dan permainan untuk bertanding (game). Golongan yang sifatnya untuk bermain lebih menekankan fungsi untuk mengisi waktu senggang, melepaskan kejenuhan atau rekreasi, sedangkan golongan untuk bertanding yang kedua kurang mempunyai sifat itu tetapi lebih terorganisir, diperlombakan (kompetisi) dan dimainkan paling sedikit oleh dua orang untuk menentukan yang kalah dan yang menang (Subdit Nilai Budaya : 42).

Di tengah gencarnya serbuan teknologi yang semakin hari semakin canggih serta tuntunan zaman yang mengkondisikan penguasaan iptek sedini mungkin, menjadikan eksistensi permainan rakyat tradisional berada pada taraf yang dilematis. Di satu sisi, perkembangan iptek memunculkan berbagai macam jenis permainan digital yang jauh lebih menarik dan atraktif, tidak hanya bagi anak-anak, tetapi juga seluruh golongan usia. Di sisi lainnya, permainan rakyat tradisional ini semakin hari semakin ditinggalkan oleh masyarakat pendukungnya karena hadirnya berbagai jenis permainan yang berbasis teknologi, seperti video game yang dihadirkan oleh berbagai perusahaan pembuat konsol game.
Dalam hasil penelitian oleh Moesono dkk (1996 : 26), video game yang dapat dibedakan atas 3 (tiga) jenis yaitu game komputer, dingdong dan nintendo/sega (pada saat sekarang ditambah dengan playstation, x-box dan cyber game), mulai marak di Indonesia semenjak awal tahun 80-an.

Seperti halnya permainan rakyat tradisional di daerah atau di negara lainnya serta di daerah-daerah lainnya di kepulauan Nusantara (Indonesia), bentuk-bentuk permainan rakyat di kota Palembang biasanya berdasarkan gerak tubuh seperti berlari atau kejar-kejaran, lompat, sembunyi-sembunyian, ketangkasan anggota tubuh, kecekatan tangan dan keterampilan menggunakan alat serta berdasarkan matematika dasar. Selain itu ada pula bentuk permainan yang berdasarkan untung-untungan. Sedangkan jenis-jenis permainannya seperti pantak lele, gasing, cup mailang, cak ingkang gerpak, ulo cadang (dang-dangan), yang-yang buntut, perahu bidar dan luk-luk cino buto.
Hasil gambar untuk pantak lele
Permainan Pantak lele

Beberapa jenis permainan rakyat tradisional di kota palembang yang masih eksis di kota Palembang sekarang adalah permainan Pantak Lele, Cup Mailang, Luk-Luk Cino Buto, Cak Ingking Gerpak, Ulo Cadang (Dang-Dangan) dan Engkek-Engkek.

Permainan rakyat, pada umumnya berfungsi sebagai pengisi waktu senggang dan untuk hiburan bagi anak-anak. Oleh sebab itu permainan-permainan tradisional anak biasanya dimainkan pada waktu siang hari yaitu pada pagi hari, siang hari dan sore hari. Selain itu juga untuk mengisi waktu istirahat di sekolah. Jadi pada umumnya permainan-permainan tersebut tidak memerlukan waktu-waktu khusus untuk memainkannya dan bisa kapan saja. Durasi atau lamanya permainan tergantung dari masing-masing jenis permainan, tetapi biasanya berkisar antara 15 (lima belas) menit sampai dengan 1 (satu) jam.
Hasil gambar untuk permainan tradisional palembang
Permainan Cak eng kleng

Disamping itu ada juga permainan rakyat tradisional di kota Palembang yang dimainkan pada waktu-waktu tertentu. Pada waktu tertentu maksudnya adalah bahwa permainan tersebut hanya bisa dimainkan pada saat yang telah ditentukan atau pada waktu even-even khusus. Salah satu permainan yang hanya bisa dimainkan pada waktu-waktu khusus ini adalah permainan Perahu Bidar.

Permainan Perahu Bidar ini sangat dikenal oleh masyarakat di kota Palembang, bahkan oleh seluruh penduduk di daerah Sumatera Selatan karena pada setiap tahunnya yaitu pada tanggal 17 Agusutus, perahu bidat ini dijadikan sebagai tontonan publik sebagai perlombaan perhau di sungai Musi. Bentuk perahunya yang panjang sampai dengan 27 (dua puluh tujuh) meter dan dengan lebar hanya 0, 75 meter, dapat memuat pendayung sampai dengan 57 (lima puluh tujuh) orang. Memang ada yang pendek dan pendayungnya hanya berjumlah 35 (tiga puluh lima) orang, tetapi yang paling sering ditampilkan adalah yang panjang. Bentuk perahunya yang panjang akan dapat menanmpung jumlah pendayung yang lebih banyak dan sudah tentu kekuatan laju perahu lebih cepat.

Permainan rakyat tradisional yang ada di kota Palembang, hampir keseluruhan bisa dimainkan oleh seluruh lapisan atau golongan masyarakat tanpa memandang status sosialnya orang yang memainkannya. Golongan masyarakat di desa-desa sampai yang ada di pusat kota, bisa memainkan permainan-permainan tersebut tanpa ada larangan dan cemoohan atas dasar status sosial.

Hal ini menggambarkan bahwa dalam permainan-permainan tradisonal anak yang ada di kota Palembang, anak-anak dan remaja dari segala lapisan sosial masyarakat melebur menjadi satu untuk bermain. Disini terlihat rasa kebersamaan dan rasa kekeluargaan yang tinggi.

Hakekat dan fungsi permainan rakyat di kota Palembang adalah :
1. Permainan bertanding, karena permainan itu terorganisasi, dimainkan oleh lebih dari 1 (satu) orang, mempunyai kriteria dan peraturan yang diterima oleh seluruh peserta permainan. Salah satu jenis permainan bertanding adalah lomba perahu bidar, karena hanya dapat dipergelarkan pada waktu-waktu khusus saja yaitu pada waktu HUT Kemerdekaan RI dan Hari Jadi Kota Palembang. Selain itu perlombaan perahu bidar ini memerlukan persiapan yang matang dan terencana, terarah dan terkoordinasi.
2. Permainan yang bersifat rekreatif atau hiburan seperti permainan Cup Mailang. Permainan ini dapat dimainkan pada setiap waktu dan setiap tempat baik oleh anak-anak, remaja bahkan juga oleh orang dewasa. Permainan seperti ini pada dasarnya bersifat rekreasi karena hanya sebagai pengisi waktu luang pada waktu sore hari atau pada hari-hari libur. Permainan ini tidak terlalu menuntut unsur terorganisasi, kompetitif, dan tidak memerlukan kriteria dan peraturan-peraturan khusus. Dengan hanya minimal 2 (dua) orang peserta saja, permainan ini sudah dapat dimainkan. Unsur terpenting dalam permainan jenis ini pada hakekatnya adalah hiburan, pengisi waktu santai dan saling berkomunikasi secara kekeluargaan serta persahabatan.

Baik permainan yang bersifat bertanding maupun permainan yang bersifat rekreatif, mengandung nilai-nilai kepribadian pembangunan seperti nilai-nilai kekompakan atau juga dapat dikatakan nilai persatuan dan kesatuan, kebersamaan, gotong royong. Permainan jenis ini menunjukkan adanya nilai kerukunan hidup, mengakui persamaan derajat, persamaan hak dan kewajiban, saling mencintai, mengembangkan sikap tenggang rasa, menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, mengembangkan sikap hormat menghormati, bangga sebagai bangsa Indonesia, tidak memaksakan kehendak kepada orang lain, rela berkorban, menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban dan sebagainya.
Nilai-nilai yang terkandung dalam permainan tersebut merupakan nilai budaya bangsa yaitu nilai-nilai Pancasila. Nilai itu merupakan nilai kepribadian pembangunan seperti kesediaan menerima pengalaman baru dan keterbukaan bagi pembaharuan dan perubahan, berpandangan luas, bekerja dengan perencanaan dan organisasi yang ketat, yakni hidup dapat diperhitungkan, yakin akan kemampuan manusia dan imbalan diberikan berdasarkan prestasi.

Keberadaan permainan rakyat yag ada di Sumatera Selatan, khususnya di kota palembang padea saat sekarng, tidk jauh bebeda dengan derah-daerah lainnya di indonesia seperti di Sumatera Barat, Riau dan Jambi. Masyarakt di Palembang pada umumnya tidak mengenal lagi permainan-permainan rakyat tradisional yang pernah ada dan berkembang di daerahnya. Padahal dalam permainan-permsina rakyat itu, terkandung fungsi-fungsi dan nilai-nilai budeaya yang tinggi peningagalan dari nenek moyang bangsa Indinesia.
Kalau pun masih ada yang memainkn permainan-permainan tersebut, itu hanya ditemukn di diaerah-daerah pinggiran kota dan di desa-desa, itupun sudah sngat jarng( wawancara dengan Bapak Usman Agoes-46 tahun). Faktor-fasktor yang menjadi penyebab hilangnya keberadaan jenis-jenis kesenian rakyat tradisional, di sumatera selatan, khususnya kota palembang, menurut beliau karena banyaknya jenis permainan asing yang lebih modern masuk ke kota palembang. Anak-anak apda mas sekarang lebih senang memainkan permainan modern ketimbang permainan tradisional.

Selain itu juga disebabkan oleh tuntutan zaman saat ini yang menuntut anak-anak menguasai ilmu pengetahuan lebih banyak, tidak hanya melalui pendidikan formal tapi juga melalui pendidikan dan kursus-kursus informal. Hal ini mengakibatkan si anak tidak lagi mempunyai waktu senggang yang banyak untuk bermain, khususnya permainan rakyat tradisional.

Fenomena itu selain mengakibatkan si anak tidak lagi mengenal permainan tradisional, lebih jauh juga menyebabkan kurangnya kreatifitas dan jiwa seni si anak. Karena sebagian besar permainan-permainan rakyat tradisional itu, baik secara langsung maupun tak langsung dapat merangsang kreatifitas dan jiwa seni. Tidak hanya dalam memainkannya, juga dalam membuat peralatan dan perlengkapan yang dibutuhkan.

Selanjutnya, Bapak Usman Agoes berharap bahwa kalau dapat permainan-permainan rakyat tradisional tersebutapat hidup dan berkembang lagi seperti masa dahulu. Karena permainan-permainan itu dapat menambah daya kreatifitas anak-anak. Selain itu menjadikan anak-anak berpikir, sehingga dapat melatih nalar dan daya ingat. Salah satu usaha yang dapat dilakukan adalah dengan membuat semacam buku-buku panduan permainan seni tradisional yang berisi panduan permainan-permainan rakyat tradisional.

Diharapkan anak-anak sekarang tertarik mencoba membuat dan memainkan permainan-permainan tersebut, sehingga permainan rakyat tradisional yang merupakan budaya warisan nenek moyang bangsa, dapat hidup kembali serta dilestarikan.


DAFTAR PUSTAKA
Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Rencana Strategis Pembangunan Kebudayaan dan Kepariwisataan Nasional 2005-2009, Jakarta, 2005.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Permainan Rakyat Daerah Sumatera Selatan, Palembang : Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, 1983.
Moesono, Anggadewi, Dr, dkk. Manfaat dan Mudarat Video Game Bagi Anak dan Remaja, Jakarta, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, 1996.
Ramlan, Eddy, dkk. Pembinaan Nilai Budaya Melalui Permainan Rakyat Daerah Sumatera Selatan, Palembang ; PD. Alima Jaya, 1997.
Yunus, Ahmad. Kajian Upacara Tradisional, Cerita Rakyat, Ungkapan Tradisional, Permainan Rakyat dan Naskah Kuno Sebagai Sumber Pengungkapan Nilai Sejarah Dan Budaya. Makalah pada penataran tenaga teknis kesejarahan di Jakarta, 1992.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...