CANTUMKAN SUMBERNYA JIKA MENGGUNAKAN GAMBAR ATAU ARTIKEL DARI BLOG INI - HORMATI HAK CIPTA ORANG LAIN.

18 Desember 2007

Sejarah Gereja Santo Yoseph Palembang

Gereja Santo Yoseph Palembang 1947 sumber :kitlv.nl

Gereja Santo Yoseph Palembang 2008
Paroki St. Yoseph Palembang, merupakan paroki yang terbesar dan terluas wilayahnya. Lokasi dari Paroki ini berada di tengah kota, di jalan Jendral Sudirman atau berlokasi di Talang Jawa.

Awal mula berdirinya Paroki St. Yoseph ini bermula dari Tanah milik Rumah Sakit Charitas di Jalan Jendral Sudirman. Di dirikan sebuah gedung yang bernama Sint Pius pada tahun 1953. Pada waktu itu Sint Pius merupakan pusat kegiatan tokoh-tokoh aktivis dalam hidup menggereja dan sering mendapat julukan “ Centre of actualization “. Pertama-tama Sint Pius digunakan untuk kegiatan yang bernafaskan iman. Pelayanan iman umat di Sint Pius pada awal mula dilakukan oleh Pastor Van der Heyden. Pada tahun 1965 Pastor Middledorp ditetapkan sebagai pastor Paroki St. Yoseph yang kegiatannya masih terpusat di Sint Pius. Pada waktu itu Pak Atmo Pawiro dengan setia membersihkan dan menyusun kursi + 220 kursi yang disiapkan untuk perayaan Ekaristi.

Taman Maria terletak di halaman belakang Gereja Santo Yoseph Palembang. Dalam taman ini terdapat sebuah pendopo yang didalamnya ada sebuah altar yang diatasnya diletakkan sebuah patung Maria Bunda Hati Kudus dengan dua buah lilin yang bernyala. Umat atau kelompok2 kategorial sewaktu waktu dapat melakukan devosi di tempat ini.

13 Desember 2007

Sejarah Hotel Musi Palembang

Hotel Jolink Palembang (1940 - 1950) Sumber : beeldbankwo2.nl
Pedagang di hotel Zwart 1930 Sumber : Tropenmuseum
 Bangunan yang sampai saat ini tidak lagi berfungsi sebagai penginapan dulunya merupakan hotel yang terbaik di Palembang pada tahun 1930-an. Pada awalnya hotel ini bernama Hotel Schwartz dan dibangun pada tahun 1903 dengan gaya Indis. Secara keseluruhan bangunan terdiri atas dua bangunan, yaitu bangunan utama dan bangunan penunjang. Pada bangunan utama terdapat dua bagian, yaitu ruang aula dan kamar tamu yang terdiri dari 20 kamar. Pada bangunan penunjang terdapat beberapa ruangan yang difungsikan sebagai gudang, dapur dan kamar mandi untuk kamar-kamar kelas ekonomi.

Hotel Musi yang strategis yang berdekatan dengan kantor ledeng dan pusat kota saat ini merupakan hotel yang paling bagus pada masanya.

Seiring waktu hotel tersebut mengalami keterpurukan sehingga pada saat 2000 awal menjadi hotel kelas rendahan, ada loket bus juga dan lain lain.

Hotel musi masih menghadapi polemic kepemilikan tanah dan bangunan dimana saat itu hotel musi di bangun oleh lim Kim Sik pada tahun 1903 bekerjasama dengan pemerintah belanda maka hotel itu diberinama dengan Hotel Julling dan kemudian menjadi Hotel Zwart. Pada saat masa penjajahan jepang hotel ini di ambil alih dan di menjadi penginapan Kompeitai barulah pada tahun 1946 pemerintah Indonesia dapat mengambil alih dan di beri nama Hotel Musi.

Adapun hotel lainnya yang terkenal adalah hotel smith ( sehati ) yang telah rata dengan tanah dan berganti dengan Kantor Ditjen Pajak Palembang di Jl Wahidin No 1. 

Sumber tulisan : di rangkum dari berbagai sumber

11 Desember 2007

Sejarah Rumah Sakit Kusta Dr. Rivai Abdullah / Rumah Sakit Kusta Sungai Kundur, Banyuasin, Sumatera Selatan

Rumah Sakit Lepra (RS Kundur ) 1926 sumber : kitlv.nl
Didirikan pada tahun 1914, pertamanya hanya sebagai tempat penampungan atau pengasingan penderita kusta. Lokasi pertama di daerah Kertapati (Seberang Ulu I)  + 25 Km dari lokasi sekarang.
Pendiriannya diprakarsai oleh seorang nahkoda kapal Belanda (nama tidak diketahui), karena beberapa orang orang anak buah kapalnya menderita kusta, tempat penampungan ini diberi nama “KEMBANG PUMPUNG”.

Saat Kunjungan Tahun 1926 sumber foto : Kitlv.nl
Karena adanya protes masyarakat disekitar tempat penampungan itu maka lokasi penampungan dipindahkan ke lokasi sekarang yaitu ; Sungai Kundur – Kelurahan Mariana Kecamatan Banyuasin I Kabupaten Banyuasin Propinsi Sumatera Selatan yang jaraknya  + 20 Km dari kota Palembang dan terletak dipinggir Sungai Musi.

Dahulu lokasi RSK Dr.Rivai Abdullah Palembang seluas  + 120 Ha langsung diserahkan oleh BPM (Hindia Belanda). Tetapi setelah diukur ulang oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN) dengan sertifikat Hak Pakai No. 02/Desa Mariana tahun 1993 ternyata lokasi tersebut tinggal + 27,5 Ha.

Sampai dengan tahun 1960 Rumah Sakit ini dikelola oleh sebuah yayasan yang kegiatan internnya dilakukan oleh Balai Keselamatan. Dengan terbitnya SK.Menteri Kesehatan .RI Nomor : 95048 /Hukum, tanggal 9 Desember 1960, maka pada tanggal  1 April 1961 oleh Bala Keselamatan Rumah Sakit ini diserahkan kepada Departemen Kesehatan RI.

Status RSK. Dr.Rivai Abdullah adalah Rumah Sakit vertikal milik Dep.Kes.RI, dipimpin oleh seorang Direktur yang berada dibawah dan bertanggung jawab langsung kepada Direktur Jenderal Bina Pelayanan Medik.

Sampai dengan tahun  1978  organisasi  RSK. Dr.Rivai Abdullah Palembang masih di bawah organisasi Dinas Kesehatan Propinsi Sumatera Selatan, setelah diterbitkannya SK Menteri Kesehatan .RI Nomor :  141/Menkes/SK/IV/1978 tanggal 28 April 1978 secara resmi RSK. Dr.Rivai Abdullah Palembang  dinyatakan sebagai Unit Pelaksana Teknis Diretorat Jenderal Pelayanan Medik  Departemen Kesehatan  RI dengan eselon III.b. Pada tahun 1993 organisasi dan tata kerja RSK. Dr.Rivai Abdullah Palembang meningkat menjadi eselon II.b sesuai Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor : 185/Menkes/SK/II/1993 tangggal 26 Februari 1993 dan Surat Keputusan Presiden RI Nomor 69 tahun 1993 tanggal 2 Agustus 1993 tentang Eselonisasi RS yang mana RSK. Dr.Rivai Abdullah merupakan Rumah Sakit Khusus Kelas A setara dengan RSU Kelas B.
Kunjungan dan Pemeriksaan Kesehatan ke RS Kusta 1930 Sumber foto : Kitlv.nl

Sejak dikeluarkannya Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor : 270/Menkes/SK/VI/1985 tanggal 4 Juni 1985 tentang Wilayah Binaan Rumah Sakit Kusta, RSK. Dr.Rivai Abdullah Palembang ditunjuk sebagai Rumah Sakit Kusta Pembina untuk Wilayah Regional Bagian Barat, meliputi seluruh Sumatera dan Kalimantan Barat (9 propinsi).

Pada tahun 1987  RSK. Dr.Rivai Abdullah Palembang mulai diberlakukan Pola Tarif, yang sebelumnya pelayanan pasien kusta  diberikan secara gratis. Namun bagi pasien kusta yang tidak mampu tetap diberikan pelayanan dengan membebaskan sebagian atau seluruhnya biaya pelayanan sesuai dengan peraturan yang berlaku.

RSK Sungai Kundur saat ini sumber foto : rskusta-palembang.com/
Dalam perkembangannya jumlah penderita kusta semakin menurun, untuk pemanfaatan sumber daya yang ada, baik sarana, prasarana dan sumber daya manusia, pelayanan terhadap masyarakat tidak hanya terbatas kepada penderita kusta saja, tetapi juga pelayanan bagi masyarakat guna meningkatkan fungsi sosial rumah sakit kepada penduduk yang tinggal di sekitar RSK terutama penderita yang tidak/kurang mampu, serta guna menghilangkan leprophobia pada masyarakat, tetapi juga pelayanan bagi masyarakat (penderita) umum, maka RSK.Dr.Rivai Abdullah Palembang mengusulkan Izin Pemberian Pelayanan Umum di  RS.Kusta Sungai Kundur melalui surat Nomor : KU.03.02.1.24.2164 tanggal 26 Agustus 1995 yang disetujui (diberikan Izin) oleh Direktur Jenderal Pelayanan Medik melalui Surat Nomor : BM.01.03.3.2.04929.A tanggal 31 Oktober 1995.

Untuk mengenang jasa-jasa Alm. Dr. Rivai Abdullah semasa beliau memimpin Rumah Sakit dari tahun 1971 s/d tahun 1986, maka diusulkan perubahan nama RSK dari RSK. Sungai Kundur menjadi RS.Kusta Dr. Rivai Abdullah kepada Menkes RI melalui Surat Nomor : KS.00.05.1.11.3766 tanggal 6 Juli 2006 dan disetujui oleh Menteri Kesehatan RI melalui Surat Nomor : 630/Menkes/SK/VIII/2006 tanggal 10 Agustus 2006.

Berikut nama-nama Direktur yang pernah meminpin Rumah Sakit Kusta Dr. Rivai Abdullah Palembang:
-
1914 – 1918
belum ada petugas khusus
-
1918 – 1922
Tuan Louis
-
1922 – 1928
Tuan Uijling
-
1928 – 1932
Tuan Rosenlund
-
1932 – 1936
Tuan Moutbow
-
1936 – 1939
Tuan Uijling Periode II
-
1939 – 1942
Tuan Moutbow Periode II
-
1942 – 1946
Mantri Hardjo
-
1946 – 1951
Tuan H.Geerth
-
1951 – 1954
Tuan A.Sterh.
-
1954 – 1957
P.Telaumbanua
-
1957 – 1960
D..Manuhutu
-
1960 – 1971
Dr.R.Gojali dibantu oleh Z.Maigoda & CH.Paliama (Paramedis)
-
1971 – 1980
Dr.Rivai Abdullah
-
1980 – 1983
Dr.Farida Sirlan (PJ)
-
1983 – 1986
Dr.Rivai Abdullah
-
1986 – 1992
Dr.D.Tambunan, Sp.KK
-
1992 – 2000
Dr.APB Matondang, SKM
-
2000 – 2005
Dr.Hj.F.Nuraini Kurdi, Sp.RM, MPH
-
2005 – 2008
Dr. H. Bayu Wahyudi, MPH..M, Sp.OG
-
2008 – Sekarang
Dr.H. Heriyadi Manan, SpOG

Rumah Sakit Dr. Rivai Abdullah 
Jl. Sungai Kundur No. 1
Mariana, Kecamatan Banyuasin I
Banyuasin
Telp. 0711-7537201
Fax. 0711-7537204
Email rsdr_rivaiabdullah@yahoo.co.id

Sumber tulisan : rskusta-palembang.com/

03 Desember 2007

Sejarah Nederlandsche Handel Maatschappij Palembang

NHM tahun 1951 Sumber Foto : Kitlv.nl
NHM = Nederlandsche Handels Maatschappij didirikan pada tanggal 9 Maret 1824 oleh Raja Willem I. Dulu NHM bukan bank tapi perseroan perdagangan. Para penduduk Hindia Belanda memberikannya nama panggilan “Kompenie Ketjil”. Pengganti NHM pada jaman sekarang adalah Bank ABN-AMRO yang punya cabang di Indonesia juga.

Sumber Foto : Kitlv.nl
NHM mengembangkan kegiatannya di sektor perbankan pada tahun 1870. Pemerintah Indonesia menasionalisasi perusahaan ini pada tahun 1960 menjadi salah satu gedung kantor Bank Koperasi Tani & Nelayan (BKTN) Urusan Ekspor Impor., dan selanjutnya pada tahun 1965 perusahan ini digabung dengan Bank Negara Indonesia menjadi Bank Negara Indonesia Unit II. Pada tahun 1968 Bank Negara Indonsia Unit II dipecah menjadi dua unit, salah satunya adalah Bank Negara Indonesia Unit II Divisi Expor – Impor, yang akhirnya menjadi Bank Exim, bank Pemerintah yang membiayai kegiatan ekspor dan impor. Pada tahun 1999 setelah melalui badai krisis ekonomi maka Bank Export import (Bank Exim), hingga akhirnya legal merger Bank Exim bersama Bank Dagang Negara (BDN), Bank Bumi Daya (BBD) dan Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) ke dalam Bank Mandiri , maka gedung tersebut pun menjadi asset Bank Mandiri.
Untuk di Palembang sendiri NHM yang awal mulanya terletak di Jl Tenguruk (Sekarang menjadi badan jembatan Ampera di Seberang ilir) yang sekarang ini sudah tidak berbekas karena telah di menjadi bagian dari Jembatan Ampera.

Sumber Tulisan : Di rangkum dari berbagai sumber

30 November 2007

Sejarah Bank Indonesia Cabang Palembang

Gedung BI Palembang Tahun 1955 sumber Tropen Museum
Gedung BI Cabang Palembang Saat ini tahun 2008
 Kantor De Javasche Bank Cabang Palembang yang dibuka pada tanggal 20 September 1909 merupakan "Agentschap" keenam belas dari De Javasche Bank yang merupakan pendahulu dari Bank Indonesia sekarang ini. Gagasan pembukaan kantor cabang di Palembang ini sudah muncul sejak perjalanan dinas ke Padang tanggal 3 September 1908 yang dilakukan Direktur E.A. Zeilinga Azn. mulai dari Padang, Bengkulu, Rejanglebong, Kepayang, Tebing Tinggi, Keban, Lahat, Muara Enim, dan akhirnya ke Palembang.

Kantor BI Palembang sumber : bi.go.id
Gagasan ini disampaikan dengan alasan bahwa Palembang merupakan suatu kota niaga yang penting, sehingga pemerintah menyetujui untuk membuka Kantor Cabang di Palembang. Dengan didudukinya Hindia Belanda mulai bulan Februari/Maret 1942, maka segala kegiatan De Javasche Bank dan bank-bank lainnya terhenti. Fungsi dan tugas bank-bank segera digantikan oleh bank-bank Jepang seperti Yokohama Specie Bank, Taiwan Bank, dan Mitsui Bank, yang bertindak sebagai koordinator adalah Nanpo Kaihatsu Ginko.

Setelah penyerahan Jepang kepada Sekutu, keadaan tak menentu masih berlangsung sampai tanggal 10 Oktober 1945. Kantor Cabang Palembang dinyatakan dibuka kembali pada tanggal 1 Agustus 1947. Susunan kepemimpinan pertama adalah J.B. Schadd (Pemimpin), dan M.H.A. de Rooy sebagai Pemegang Buku/Pemimpin Cabang Pengganti Kantor Cabang.

Gedung BI 1947 saat Perang Sumber Foto : kitlv.nl
Untuk periode terakhir berdirinya DJB yaitu periode laporan tahun 1952/1953 pemimpinnya adalah J.C. Wink. Pada awal pembukaannya, Kantor Cabang Palembang menempati sebuah rumah sewa di Jl.Sekolah. Kemudian pada tanggal 29 Mei 1916 tanah sewaan tersebut dibeli dari pemiliknya, Tjoa Ham Hien, seorang kapten tituler kaum Cina Palembang, lalu rumah sewa tersebut dibongkar dan didirikanlah sebuah gedung kantor sementara yang terbuat dari kayu.

Gedung kedua adalah gedung permanen pada bulan Mei 1920 untuk menggantikan gedung sementara. Gedung kedua ini dibongkar pada tahun 1965 karena terkena proyek Jembatan Ampera, dan sebagai gedung ketiga digunakan bangunan kantor yang terletak di Jl. Veteran hingga tahun 1971. Dan terakhir adalah ditempatinya gedung kantor keempat yang sekarang ini digunakan

Sumber tulisan : bi.go.id

29 November 2007

Sketsa Rutan Jalan Merdeka Palembang Zaman Jepang

Sketsa Blok II Lorong Penjara dan ruangan Penjara Merdeka Juli 1947 Sumber : Troven Museum

Penjaga Penjara Jl. Merdeka Sumber : Troven Museum
Pada saat pengeboman oleh pasukan jepang di Palembang pada 6 Febuari 1942 dan pendaratan pasukan parasutnya dan merebut BPM di Plaju dan Sungai Grong (Pertamina Saat ini), dan pada saat itu banyak Dari penduduk baik pribumi maupun warga Belanda yang menjadi tahanan di Camp Jepang atau Rumah tahanan yang terletak di Raadhuisweg (Jl Merdeka saat ini) Sehingga pada masa itu jalan tersebut di kenal juga dengan gevangenis weg atau Jalan penjara.

Ketakutan masyarakat baik pribumi maupun masyarakat Belanda memang beralasan apalagi dengan kata-kata "Kompetai" (Polisi Meliter Jepang) sehingga tidak mengherankan banyak penduduk kala itu banyak yang meninggal di dalam Camp tahanan.
Banyak proyek kerja paksa yang di terapkan oleh Jepang pada masa berkuasa dari tahun 1942-1945 di Palembang seperti pembanguan Jalan Meiji (Jl Sudirman) dan pembangunan Bandara Talang Betutu.,termasuk pembangunan bandar udara di Martapura dan bandar udara kamuflase di Sekojo.

Sangat sulit sekali menemukan dokumentasi jepang saat penjajahan di Indonesia terutama saat di Palembang.


Sumber Tulisan : Di rangkum dari berbagai sumber
Sumber Foto Lama : Troven Museum

28 November 2007

Sejarah Kantor Pos Besar Merdeka Palembang

Kantor Pos di jalan Merdeka 1935 Sumber : Kitlv.nl
Kantor pos & telkom yang di dirikan tahun 1928 di Raadhuisweg (Jalan Merdeka saat ini) oleh Kolonial Belanda bentuk dan arsiteknya seperti kubah pada bagian atapnya sama seperti kantor pos dan telkom di kota lainnya di daerah lainnya di Indonesia, tetapi jika di perhatikan dari Gedung Telkom Jalan Merdeka  memiliki kemiripan dengan bangunan yang ada di samping kantor pos besar Palembang tersebut.

Pada awal pendiriannya kantor ini menjadi bagian pelayanan satu atap karena di satu kantor terdiri dari bebeberapa pelayanan yaitu pos, telegram dan polisi.
Kantor Pos & Gedung Telkom Jalan Merdeka Palembang
Sejarah Kantor Pos di indonesia 

Perposan "Modem" di Indonesia sejak 1602 di jaman V.O.C (Verenigde Oost Indische Compagnie). Perhubungan pos pada waktu itu dilakukan terbatas diantara kota-kota tertentu di P.Jawa dan luar P.Jawa dengan menggunakan alat angkut kereta kuda dan kapal layar pacalang. Pada waktu itu suratpos ditempatkan pada Stadsherbrg (Gedung Penginapan Kota) dan belum dilakukan pengantaran suratpos,sehingga tiap orang dapat memeriksa apakah ada suratpos baginya. 

Kantor Pos di jalan Merdeka 1930 - 1940 Sumber : Kitlv.nl
Sebuah kantor pos pertama kali didirikan di jakarta pada tahun 1746 oleh Gubernur Jenderal G.W.Baron Van Imhoff dengan tujuan untuk lebih menjamin keamanan suratpos. Beberapa tahun kemudian didirikan kantorpos di kota-kota lainnya. Pada 1809 dibangun jalan Raya Pos (Groote Postweg) oleh Gubernur Jenderal Daendels yang membentang sepanjang 1000 km dari anyer ke panarukan. Pembangunan jalan raya pos membawa perubahan luar biasa dalam perhubungan pos. Waktu tempuh dari Jawa Barat ke Jawa Timur yang sebelumnya memakan waktu 40 hari dapat diperpendek menjadi 6 hari. Hingga saat ini perjalanan pos Indonesia memang sudah berlangsung selama empat abad, tetapi sejarah pos indonesia dimulai pada 27 September 1945, ketika sekelompok angkatan muda PTT merebut gedung pusat PTT di Bandung dari kekuasaan Jepang. Fase ini merupakan tonggak dimulainya pengelolaan dan pelayanan pos oleh bangsa Indonesia. Peristiwa 27 September 1945 lebih dikenal sebagai "Hari Bhakti Postel". 

Kantor Pos Palembang 1947 Foto : beeldbankwo2.nl
Pos Indonesia telah beberapa kali mengalami perubahan status mulai dari Jawatan PTT (Post, Telegraph dan Telephone). Badan usaha yang dipimpin oleh seorang Kepala Jawatan ini operasinya tidak bersifat komersial dan fungsinya lebih diarahkan untuk mengadakan pelayanan publik. Perkembangan terus terjadi hingga statusnya menjadi Perusahaan Negara Pos dan Telekomunikasi (PN Postel). Mengamati perkembangan zaman dimana sektor pos dan telekomunikasi berkembang sangat pesat, maka pada tahun 1965 berganti menjadi Perusahaan Negara Pos dan Giro (PN Pos dan Giro), dan pada tahun 1978 berubah menjadi Perum Pos dan Giro yang sejak ini ditegaskan sebagai badan usaha tunggal dalam menyelenggarakan dinas pos dan giropos baik untuk hubungan dalam maupun luar negeri. Selama 17 tahun berstatus Perum, maka pada Juni 1995 berubah menjadi Perseroan Terbatas dengan nama PT Pos Indonesia (Persero).

Sumber tulisan sejarah kantor pos di indonesia : http://www.posindonesia.co.id/

24 November 2007

Sejarah Mobil Ketek Palembang

Mobil ketek "Terakhir" saat mangkal di kawasan 7 Ulu Palembang tahun 2008
Setelah Perang Dunia II selesai, muncullah jip untuk kalangan sipil, yakni CJ yang merupakan singkatan dari civilian jeep. Tahun 1945, Willys meluncurkan CJ2 dan CJ3. Bahkan, Willys tidak lagi hanya diproduksi di Amerika Serikat, tetapi juga diproduksi di negara lain dengan lisensi. Di Perancis, Willys muncul tahun 1950 dan tahun 1955, masing-masing dengan nama Delahaye dan Hotchkiss. Di Jepang, Willys muncul dengan nama Mitsubishi Jeep J3 tahun 1953. Di Taiwan, jip Willys muncul tahun 1956.

Pada awal agresi Belanda di Palembang, dimana pada saat tanggal 12 Oktober 1945 Pasukan Inggris pimpinan Kolonel Carmickel tiba di palembang diboncengi oleh NICA (tentara belanda).

Sumber: Kantor Arsip Daerah Sumatera Selatan
Suasana diperkeruh dengan masuknya tentara Belanda dari bangka dengan cara menyamar sebagai tentara inggris. Puncaknya pada Maret 1946 Pasukan inggris semakin besar jumlahnya setelah masuk dari Talang Betutu. Kedatangan ini disambut dengan pertempuran yang berkobar hampir disemua lokasi di kota palembang dan sekitar. Tiang listrik dan pipa yang banyak berada dilokasi plaju dimanfaatkan secara cerdik oleh masyarakat palembang menjadi senjata perlawanan Kecepek menghadapi peralatan canggih Inggris dan Belanda.

Belanda datang dengan segala kekuatan matranya dimana salah satu yang di bawa adalah kendaraan Jeep Willys yang sesuai dengan kondisi dan medan saat itu, pada saat kekalahan belanda dan perintah untuk menarik pasukan dari seluruh wilayah Indonesia termasuk juga Palembang maka banyak kendaraan Jeep wiliys yang di pakai untuk perang di tinggalkan. 



Sumber: Kantor Arsip Daerah Sumatera Selatan
Dari sinilah mulai banyak Jeep Willys yang di gunakan sebagai sarana transportasi sehingga peninggalan jeep meliter di ubah bentuknya menjadi kendaraan angkutan dan transportasi, kendaraan ini di gunakan mulai selesai perang kemerdekaan dan sangat terkenal dan memenuhi jalanan Palembang pada era 1960an -1980an dikarenakan tidak adanya saingan dengan kendaraan yang lain dan belum banyaknya kendaraan jepang yang masuk ke Palembang,

Penyebaran kendaraan ini makin hari makin sedikin karena di makan zaman sehingga pada tahun 1990an hanya tersisa didaerah seberang ulu sepanjang jalan Laut ( dari 16 ulu sampai ke 1 ulu simpang jembatan kertapati), jalan Sosial Km 5 dan beberapa tempat di daerah lainnya.

Banyak keunikan dari Kendaraan yang setirnya berada kiri ini, dengan dengan pintu di sebelah belakang yang bisa memuat 6 penumpang dan di depan 2 penumpang dan 1 sopir untuk menghidupkan mesinnya tidak menggunakan starter seperti saat ini tetapi di engkol dari depan, dan tidak tahu mengapa masyarakat menyebutnya mobil “ketek” apakah bunyi mesinya sedikit berisik sehingga mirip dengan suara mesin kapal/“ketek”.

Tetapi pada tahun 2004 adanya larangnan pengoerasian kendaraan ini oleh pemerintah kota Palembang yang menganggap sudah tidak layak pakai baik dari segi keamanan, kenyamanan dan beberapa aspek lainnya, dan sehingga saat ini hanya satu dua mobil ketek saja yang beroperasi dan yang lain hanya menjadi besi tua. Sekarang mobil ketek kalah bersaing dengan angkot-angkot keluaran baru yang lebih bagus, yang lebih aman dan nyaman. 

Sumber tulisan : di rangkum dari berbagai tulisan.
Sumber Foto Lama : Google.com

23 November 2007

Sejarah Kolam Renang Garuda Palembang


Kolam Renang di Palembang 1935 Sumber : Kitlv.nl

Zwembad atau kolam renang yang terletak di kawasan kolonial ini (di ujung Jl Hang Tua) memang merupakan kolam renang yang pertama di bangun oleh Belanda dan di perkirakan pada 1920-an, selain kolam renang atau zwembad di Plaju komplek pertamina dan Sungai Gerong.

Kolam Renang Garuda Palembang saat ini
Kolam renang yang ramai di kunjungi saat hari minggu ini memiliki bentuk yang unik berbeda dengan kolam rengan lainnya yang ada di Palembang karena di buat seperti bak/kolam dan lantainya di sangga dengan tiang-tiang yang di cor sehingga kesannya kolam ini tidak menggali tanah tetapi di buat di atas tanah.

Walaupun sudah cukup berumur tetapi kolam renang ini sampai saat ini masih tetapi banyak di kunjungi oleh masyarakat dan terkadang pihak meliter seperti TNI dan Porli menggunakan kolam ini untuk salah satu tes penerimaan mereka.


Sumber Foto Lama : kitlv

22 November 2007

Sejarah Eks Gedung BP 7 / Museum Textil Palembang

Rumah walikota (burgemeester) ke Palembang dinyalakan untuk merayakan perkawinan Putri Juliana 1937 Sumber: Kitlv.nl
Suasana bekas Gedung Eks-BP7, demikian masyarakat memberi nama sebutan bangunan yang terletak di Jl Tasik No 2148 RT 60 RW 17 Kelurahan 26 Ilir, dimana sekarang di jadikan museum textil Palembang tetapi belum di buka untuk umum.

Gedung yang dibangun oleh kolonial Belanda, sebagai kantor Gubernur pemerintahan Hindia Belanda di wilayah Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) itu, telah memerankan beberapa lakon dalam perjalanan waktu yang cukup panjang.

Pada tahun 1961 pernah menjadi kantor inspektorat kehakiman, lalu Kejaksaaan Tinggi (Kejati) Sumsel, rumah kediaman Ketua DPRD Sumsel, kantor Pembantu Gubernur, Badan Kepegawaian Daerah (BKD), BP7, dan terakhir kantor Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda). Dan sekarang didalam kerentaannya di renovasi dan akan di jadikan museum textil.

Memang beberapa waktu lalu Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Cabang Palembang berkantor sementara disana, sembari menunggu rampungnya kantor mereka di Jl Merdeka.Bangunan “BP7” merupakan bangunan lama dan berdiri diatas lahan sekitar 2000 meter persegi

Sumber tulisan : Di rangkum dari berbagai tulisan
Sumber Foto Lama : kitlv 

21 November 2007

Sejarah Museum Rumah Bari Kota Palembang


 Museum Kota Palembang 1935 Sumber : Kitlv.nl
Sebuah rumah limas dari areal museum SMB II di beli oleh pangeran sirah pulau padang, pesirah batun (ogan ilir) dari areal benteng rumah tersebut di pindahkan ke kampong pangeran tetapi beberapa bagian diganti, konon penggantian itu di karenakan pangeran takut kualat, nyatanya kualat datang kas marga habis terpakai sang pangeran sehingga rumah tersebut harus di lelang, pembelinya pangeran puntoh pesirah pemulutan (ogan Ilir) yang memindahkan rumah tersebut ke dusun talang pangeran, tetapi pangeran punto bernasib sama.
Museum Rumah Bari di belakang Museum Balaputradewa di KM 5 Palembang
Melihat itu gemeente (Haminte) Palembang membelinya, setelah di bongkar rumah tersebut di bangun kembali di sebelah barat BKB pada tahun 1932, pada 22 April 1933 rumah tersebut di resmikan sebagai museum rumah bari gemeente yang terletak di tepi jalan "sluisweg" (Jalan Rumah bari).

Lokasi museum kota Palembang yang sekarang jadi pelataran parkir DPRD Kota Palembang sehingga di beri nama Jalan Rumah Bari
Museum ini bertahan sampai memasuki tahun 1980-an karena perlunya perluasan tempat parkir untuk kantor DPRD kota Palembang yang di bangun di belakang kantor ledeng sehingga rumah tersebut di bongkar tanpa sisa, tapi menurut sumber lain dari informasinya bahwa museum rumah bari tersebut di pindahkan ke belakang Museum Bala Putra 

Sumber tulisan : di rangkum dari berbagai tulisan.
Sumber Foto Lama : kitlv

19 November 2007

Sejarah Rumah Sakit Katolik Charitas Palembang


Rumah Sakit Katolik Roma Charitas di Talang Djawa , Palembang 1935 ( kitlv)
Seperti halnya di setiap wilayah misi, usaha kesehatan menjadi perhatian demikian pula di wilayah misi Sumatera Bagian Selatan, usaha kesehatan merupakan salah satu usaha membantu masyarakat. Sehubungan dengan ini maka pimpinan Pastor hati Kudus Yesus yang sejak tahun 1926 bertugas di wilayah Sumatera Bagian Selatan mohon bantuan kepada pimpinan Konggregasi Suster Charitas di Roosendaal di Negeri Belanda untuk membantu dalam lingkungan misi di daerah ini. Permohonan tersebut mendapat tanggapan baik sehingga dalam waktu singkat mereka siap mengirim para Susternya ke daerah misi Sumatera bagian Selatan.

  Suter Rumah Sakit Katolik Roma Charitas di Talang Djawa di Palembang 1929 ( kitlv)
Tepat pada tanggal 9 Juli, lima orang Suster dari Konggregasi Charitas Roosendaal tiba di Palembang, mereka adalah ;
1. Suster Raymunda Hermans,
Suster  pendiri R.S Charitas Sumber : RS Charitas
2. Suster Willhelmina Blesgraaf,
3.Suster Caecilia Luyten,
4. Sr Alacoque van der Linden,
5. Suster Chatarina Koning.

Maka dengan semangat cita cita pendiri Konggregasi Suster Suster Santo Fransiskus Charitas “yakni dalam kegembiraan, kesederhanaan dan terutama dalam cinta kasih menolong orang lain, seraya berdoa dan mengorbankan diri menampakkan kegembiraan hidup diantara orang sakit dan yang kekurangan” ke lima suster tersebut memulai karyanya di Indonesia tepatnya di wilayah misi kota Palembang beralamat di Jalan jendral Sudirman di samping Gereja St. Yosep (frateran Bunda hati Kudus) saat ini.

Pastor dan Suter Gereja St. Yosef Sumber : RS Charitas

Sejak tahun 1926 hingga tahun 1938 RS RK Charitas menempati jl. Jendral Sudirman/frateran sekarang. Rumah sakit ini sangat sederhana menampung 14 - 16 orang penderita yang saat itu kebanyakan masyarakat yang belum mengerti tentang rawat inap di rumah sakit, sehingga jumlah tempat tidur yang hanya sedikit masih sering kosong. Untuk memperluas pelayanan mereka mengadakan kunjungan rumah. Jadi setiap hari dua orang suster keluar masuk lorong keliling kota Palembang.  Wilayah Palembang secara geografi adalah kota air, banyak rawa-rawa sehingga  masa itu banyak lorong yang masih di hubungkan hanya dengan sebatang bamboo saja, walau begitu para suster  tetap menjalankan tugas dengan tekun dan penuh semangat demi kepentingan masyarakat dan gereja.
Lokasi RS Charitas Sumber : RS Charitas

Karya para Suster Charitas di Palembang semakin berkembang serta ada penambahan sepuluh orang Suster lagi dari Konggregasi Charitas di Roosendaal Belanda, maka di rasakan perlu di bangun rumah sakit baru. Oleh pimpinan suster Charitas di pilihlah sebidang tanah yang letaknya di ketinggian saat itu jauh dari keramaian kota dan cukup strategis, tempat ini memang merupakan gunung kecil berada di sudut kota Palembang, merupakan lokasi rumah sakit sekarang ini. Tahun 1937 mulai peletakan batu pertama, kemudian tanggal 18 januari 1938 peresmian pembukaan rumah sakit oleh Mgr. Meckelhot SCJ dengan nama rumah sakit RK Charitas. Sedangkan bangunan lama yang posisinya berseberangan dengan rumah sakit diserahkan kepada Fratere dari O.V.L. van Utrecht.

Sumber : RS Charitas
 Rumah sakit yang didirikan para Suster Charitas ini merupakan rumah sakit yang pertama ada di Palembang, mempunyai 59 tempat tidur, disamping itu pelayanan kunjungan rumah, persalinan di rumah tetap dilaksanakan oleh suster suster rumah sakit yang berkendaraan sepeda.Selama penjajahan jepang rumah sakit diambil dan dijadikan markas tentara Jepang, para suster dan pastor di internir/ditawan di berbagai tempat. Pada waktu kemerdekaan rumah sakit Charitas di kembalikan kepada Konggregasi Suster Charitas dan terus di benahi sampai menjadi rumah sakit seperti saat ini.

Sumber tulisan : RSK Charitas.
Sumber Foto Lama : kitlv & RSK Charitas.

18 November 2007

Sejarah Becak Cina di Palembang


Jalanan dengan becak Cina ( rikshaw) dan toko pakaian di Pasar 16 Ilir Palembang Sumber Foto : Tropen Museum
Pejabat Belanda sedang naik becak Cina ( rikshaw) di Jalan Sekanak Palembang Sumber Foto : Kitlv.nl
Becak cina /Rikshaw adalah kendaraan roda dua yang memiliki atap dari kain/kanvas yang mudah di lipat. Kendaraan ini di tarik manusia biasanya dari etnis cina yang memiliki kuncir rambut yang panjang. Penarik Becak pada saat itu memang seluruhnya orang Cina karena pada masa kesultanan Palembang, orang cina di anggap sebagai pendatang dan tinggalnya pun di kelompokan di rumah-rumah rakit. 


Sumber Foto : Kitlv.nl
Penarik “rikshaw” di Palembang jaman dulunya umumnya orang Tiong Hoa “totok”  yang masih susah (pelat)  berbahasa Palembang, yang oleh orang  Palembang sendiri disebut “sengkek” (sin kek = cino dusun). Adapun Ongkos menarik rikshaw  dari Pasar 16 Ilir ke Pasar Lingkis ( sekarang Pasar Cinde) adalah seringgit sen (1/40 Rupiah). 

Biasanya uang dari hasil pembayran yang diterimanya  ini ditaruh dalam kotak dibawah pijakan kaki penumpang (lihat foto). Para pemuda preman (pada jaman itu disebut “bujang juaro”) yang menumpang rikshaw ini sering mengambil duit tersebut di saat rikshaw sedang jalan tapa diketahui oleh sengkek penarik rikshaw.
 
Kendaraan ini dulunya banyak di dapati sekitar tahun 1920-1940an ,  dimana kendaraan tersebut dipakai oleh orang-orang Belanda orang-orang pribumi yang "berada" sebagai salah satu sarana transportasi pada saat itu dan, untuk Sekarang beca cina ini sudah tidak ada lagi selain kalah dengan trasnportasi yang ada saat ini dan juga sudah di anggap tidak manusiawi.

Sumber tulisan : di rangkum dari berbagai tulisan.
Sumber Foto Lama : kitlv & Tropen Museum  

17 November 2007

Perkuburan Cina di Palembang

Kuburan Cina Sumber : Kitlv.nl

Salah satu kuburan  cina talang krikil, Sukabangun Palembang


Kuburan Cina di Palembang banyak sekarang banyak terdapat di daerah Talang Kerikil, Sukabangun Palembang, selain pemakaman untuk etnis cina pemakaman untuk umat kristenpun ada di sini, pada awalnya kuburan etnis cina dan umat kristen yang terkenal dan berjumlah banyak terletak di Jl Merdeka yang meliputi kantor penggadaian dan Sriwijaya Sport Center (eks Bioskop Garuda) tetapi seiring perkembangan zaman kuburan-kuburan tersebut di bongkar dan di ganti dengan bioskop dan perkantoran.

Kawasan Talang Kerikil Daerah ini banyak di kunjungi saat Cheng Beng (Sembayang Arwah) di mana para pembersih kuburan dan pelukis untuk kuburan cina banyak meraup rezeki.

Sumber tulisan : di rangkum dari berbagai tulisan.
Sumber Foto Lama : kitlv.nl

15 November 2007

Sejarah Perahu Bidar / Pancalang Palembang


 Lomba Mendayung di Sungai Musi saat Perayaan Penombatan Ratu Wilhelmina di Palembang 1898 Sumber : Kitlv.nl
Lomba Bidar dan Penonton saat kini
Kelahiran perahu bidar tidak terlepas dari kondisi dan situasi kota Palembang, yang dikelilingi banyak sungai beserta anaknya. Data terakhir, anak sungai yang dulunya berjumlah 108, kini tinggal 60 anak sungai.

Dahulu, untuk menjaga keamanan wilayah,diperlukan sebuah perahu yang larinya cepat. Kesultanan Palembang lalu membentuk patroli sungai dengan menggunakan perahu.

Ketika itu perahu berpatroli itu disebut perahu pancalang, berasal dari pancal dan lang/ilang. Pancal berarti lepas, landas dan lang/ilang berarti menghilang. Singkatnya pancalang berarti perahu yang cepat menghilang.

Perahu ini dikayuh 8-30 orang, bermuatan sampai 50 orang. Memiliki panjang 10 sampai 20 meter dan lebar 1,5 sampai 3 meter. Karena bermuatan banyak orang, Pancalang juga digunakan sebagai alat angkutan transportasi sungai. Raja-raja dan pangeran kerap pula menggunakan pancalang untuk plesiran.

Gambaran bentuk pancalang diungkapkan secara detil dalam buku Ensiklopedi Indonesia NV, terbitan W Van Hoeve Bandung’s Gravenhage . Disebutkan, Pancalang perahu tidak berlunas, selain sebagai perahu penumpang, ia juga dijadikan sarana untuk berdagang di sungai. Atapnya berbentuk kajang, kemudinya berbentuk dayung dan digayung dengan galah atau bambu.

Lomba Bidar  di Sungai Musi  Palembang 1900 Sumber : Kitlv.nl
Menurut para ahli sejarah, perahu Pancalang inilah asal muasal lahirnya perahu bidar. Agar terjaga kelestarian perahu bidar, digelarlah lomba perahu bidar yang berlangsung sejak zaman Kesultanan Palembang Darussalam. Lomba ini sering disebut wong doeloe dengan sebutan "kenceran".
Lomba Bidar Dan Penonton Tahun1931 Sumber : Kitlv.nl


Pada zaman kolonial Belanda biasanya bidar di selenggakan pada saat kedatangan ratu dan keluarganya dari kerajaan belanda.

Kini, tampilan perahu bidar sedikit berbeda dengan masa Kesultanan Palembang. Ada dua jenis yang kini dikenal.

Pertama,perahu bidar berprestasi. memiliki panjang12,70 meter,tinggi 60 cm dan lebar 1,2 meter. Jumlah pendayung 24 orang, terdiri dari 22 pendayung,1 juragan serta 1 tukang timba air. Perahu ini dapat dilihat setiap 17 Juni, bertepatan dengan hari jadi kota Palembang.       

Jenis kedua perahu bidar tradisional. memiliki panjang 29 meter, tinggi 80 cm serta lebar 1,5 meter. Jumlah pendayung 57 orang, terdiri dari 55 pendayung, 1 juragan perahu serta 1 tukang timba air. perahu ini dapat disaksikan pada setiap Agustusan, bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI.
Lomba Bidar di sungai musi 1900 Sumber Foto : Kitlv.nl
Sumber tulisan : di rangkum dari berbagai tulisan.
Sumber Foto Lama : kitl.nl
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...