CANTUMKAN SUMBERNYA JIKA MENGGUNAKAN GAMBAR ATAU ARTIKEL DARI BLOG INI - HORMATI HAK CIPTA ORANG LAIN.

20 Desember 2006

Kojak And The Gank

Malam belum lagi larut. Pertokoan di pusat kota ini masih memamerkan dagangannya. Lima bocah ingusan tampak memadati sudut lorong. Bergulat, berebut, saling tarik. Seorang diantaranya yang berkepala botak terjungkal masuk kedalam tong sampah. Kakinya diatas yang menggantikan posisi kepala itu, ditarik empat bocah lainnya.

Saat tong sampah terguling, terbebaslah si Botak. Dengan telanjang kaki, tubuh mungil itu sigap melesat diantara orang yang melintas ditrotoar jalan. Sepertinya si Botak membawa sesuatu dalam dekapannya. Ke empat bocah lainnya tidak kalah gesit mengejar.

“Gila.” Dengan kepala sedikit bergeleng, kembali kuarahkan pandangan kepada perempuan cantik dihadapanku. “Anak-anak itu, An.” Aku jelaskan kepada Ana, yang terlihat sedikit bingung.

“Iya. Anak anak itu. Tapi kenapa gila, kan sekedar mencari dan berebut makanan.” Sergap Ana lantas menyedot minuman bersoda.

“Maksudku, kalau masa kecilku seperti itu, mungkin aku jadi orang gila sekarang. Memangnya kau bisa tidak gila, kalau seperti itu?”

“Mereka sepertinya menikmati, tuh.” Ana kembal mengarahkan pandangan ke seberang jalan. Terlihat kelima bocah itu sedang asik menyantap makanan. Ana kembali memandangku sambil tersenyum manis.

Duh, manisnya senyum itu. Dua potong ayam dan satu paket potongan kentang goreng berukuran panjang dihadapanku, sudah habis kumakan. Punya Ana belum, ia kembali menyantap makanannya. Ah, sambil makan Ana masih terlihat manis.

Bocah-bocah itu pun sedang lahap menyantap temuannya. Mereka makan makanan dari tong sampah. Kami makan makanan yang biasa orang sebut junk food alias makanan sampah, khas negeri paman sam. Gelitik dalam benakku ; dimana keponakan paman sam ya ?.

“Ayo.” Ana beranjak dari bangkunya dan mengikuti ku. Keluar dari rumah makan khas paman sam yang berdinding kaca itu. Sebuah kantong plastik ia bawa. Berisikan satu paket hemat ; ayam dan kentang serta segelas minuman, yang sudah kami pesan sebelumnya.

“Pasti adikmu senang ya, An.”
“Iya lah. Sudah lama ia merengek ingin dibelikan ini. Gara-gara melihat di TV.”
“Lebih senang lagi, kalau adikmu nanti jadi adek iparku ya,” kataku dibalas Ana dengan pukulan manja kebahuku. Duuh, lagi-lagi senyum manis itu.

Kugandeng tangan Ana, kami menyusuri malamnya kota. Pedagang kaki lima masih menuai harapan. Pasti rasa capek akan terasa kalau berjalan sejauh ini tanpa menggandeng Ana disisi.
Ah Ana. Kuliah sudah kau selesaikan. Kerja pun sudah kau dapatkan. Tetapi masih saja, dalam hati kasihmu menyisakan tempat untukku, serorang mahasiswa semester akhir, yang entah bisa tamat atau drop out. Ana, empat tahun sudah kita mengukir janji. Berharap berikrar sumpah disuatu hari.

“Minta pak.” Seorang bocah botak menghalangi langkah kami. “Belum makan pak.” Bocah itu mengulangi pintanya dengan lebih mengiba.
“Kau rupanya.” Kupegang kepalanya. Dia pun terkejut seketika. “Tadi kau sanggup berlari kencang. Kenapa sesudah makan malah loyo seperti ini?” kataku bukan maksud bertanya.
Si Botak tambah terkejut. Tidak berucap, pun berlari, hanya menengadahkan wajah memandangku kemudian Ana. Aku lebih terkejut lagi. Tanganku yang tadinya menggenggam halus kulit Ana, jadi lengket terkena keringat kepala botak bocah ini. Dasar botak. Kutarik bahunya. Kami menepi dari trotoar.

“Siapa nama kau?”
“Kojek pak.” Kembali kepala botaknya tertunduk.
“Pantas,” kataku sembari memperhatikan kepalanya yang memang mirip permen kojek. “Panggilan kau, jek,” walau pakai ac atau cuma e, kedengarannya hampir sama. “Keren juga.”

Ana hanya tersenyum kecil memandangi tingkah Kojek. Senyum Ana kali ini berbeda. Yang jelas, berbeda dengan senyum yang biasa Ana lepaskan untukku. Itu pasti.
Kojek tetap membisu. Kepala botaknya menoleh kiri kanan. Matanya yang tidak jelas hendak melihat apa, seakan memancarkan sinyak pangilan kepada kawan-kawannya.

Belum berapa lama ku ceramahi Kojek. Ternyata sinyal Kojek berhasil memanggil kawannya. Satu demi satu datang. Lengkap sudah 4 bocah berada dihadapanku. Mereka punya nama panggilan yang lucu ; Cil, Det, Ler, dan Cang.

Sangat mudah mengenalinya. Cil merupakan nama pangilan yang berasal dari kecil, karena tubuhnya yang paling kecil dari mereka berlima. Det, pasti berasal dari codet yang terlihat di pipi kirinya bagian bawah. Cang ?, oh entah kenapa jalan bocah yang satu ini sedikit pincang. Ler, uhh ingusnya selalu meler itu.
Umur mereka sepertinya tidak jauh berbeda, tidak ada yang melebihi 10 tahun. Selisihnya pun satu dua tahun.

Kami tidak lagi berdiri. Kojek tepat dihadapanku. Acil disebalah kiriku. Meler dan Acang disebelah kiri Kojek. Sedang Ana, disebelah kiri belakangku, duduk beralas tas ranselku yang sengaja ku kaparkan untuknya. Dan Codet, di belakang kananku dekat dengan Ana. Kami duduk membentuk lingkaran tidak beraturan di depan sebuah ruko yang sudah tutup sebelum malam menjelang.

“Bapak kamu dimana? Jek,” tanya Ana dari belakangku.
“Biasanya mangkal disimpang sana.” Kojek menunjuk perempatan jalan pasar yang tidak ada rambu lampu merahnya itu. “Tidurnya juga biasa di atas becak simpang itu. Tapi, sudah lama bapak tidak kelihatan.” Datar Kojek menjawab, sambil mencibirkan bibir.
“Kalau Bapak Acil mati ditabrak mobil,” kata Codet tiba-tiba seakan merasakan rasa ingin tahu kami masih jauh dari cukup. “Ibunya hilang,” Codet meneruskan.
“Ibunya atau Acil yang hilang,” setangah bertanya kepada Acil dan Codet.
“Kak Codet itu pak, yang mengajakku tinggal dijalan,” jawab Acil. “Dari pada dibedeng sama ibu, sudah disuruh meminta-minta dijalan, kadang dipukuli.” Acil memandang Codet yang ternyata kakak kandungnya sendiri.
Codet hanya diam. Menundukan kepala sambil mengendus edus sesuatu yang ia pegang di balik kaosnya yang kusam. Aku dan Ana memperhatikan. Kaleng kecil berisi lem rupanya.
“Ya sudah. Selain meminta-minta, apa yang kalian bisa?” tanyaku.
“Nyopet Pak.” Acuh Kojek menjawab.
“Tidak takut ketahuan dan dipukuli orang?” tanyaku kembali tidak membenarkan jawaban Codet. “Dan jangan pangil aku pak lagi. Namaku Sapta, ini pacarku Ana.”
“Tidak takut kau, jek?” ku ulangi pertanyaan tadi.
“Kepalaku kuat.” Seakan rasa takut sudah hilang dari benak Kojek.
“Benar…?” Aku tidak percaya.
“Kata bapakku ; yang penting berani.” Lanjut Kojek tidak memperlihatkan rasa takut sedikitpun. “Hanya itu yang ku ingat dari bapak.”
“Memang harus berani dalam menjalani hidup ini. Tapi aku yakin, maksud bapakmu itu ; keberanian yang kau miliki bukan untuk mencopet atau berkelahi.” Mulai lagi ceramahku.

Kojek sudah menunjukan keberaniannya, setidaknya ; berani hidup di jalan, tanpa malu meminta-minta, berkelahi dan mencopet. Sedang aku sendiri?. Menghadapi wajah sangar Pak Wardi, bapak Ana itu saja, lutut ku kerap bergetar.
“Jam berapa ini?” Aku bertanya dan langsung melihat jam di tangan. Sebentar lagi tengah malam. Pasti kumis sangar itu sudah keriting menunggu anaknya pulang.
Aku berdiri. “Ayo Ana !” Ana, Kojek dan yang lain ikut berdiri, kecuali Codet yang masih asik dengan kaleng lem-nya yang memabukkan itu.

“Aku ke sini lagi nanti.” Kuambil tas ku dan juga kantong berisi makanan yang sebelumnya dibawa Ana.
“Jangan berebut.” Kuambil minuman bersoda dan uang Rp10 ribu, kuberikan kepada Kojek and The Gank.
Aku menggandeng Ana bergegas menuju terpian jalan raya. Ku sempatkan menoleh kembali. Kojek and The Gank tidak berebut. Memang, mereka tidak lapar lagi. “Nanti aku kesini lagi !” teriakku.

Jalan sudah mulai lengang. Sebuah mobil angkutan umum, membawa suara menggembirakan ; “Pati, Pati,…..”. Ya, mobil itu akan melewati jalan rumah Ana.
Aku gandeng tangan Ana menaiki mobil. Ana mengikuti saja, tidak bersuara. Mungkin kepala Ana sudah terkontaminasi kumis sangar bapaknya juga. Kami hanya berdua, bersama supir dan keneknya.
“Langsung saja pir. Aku bayar empat kali lipat. Tidak usah menunggu penumpang lain.” Mendengar suaraku yang mengagetkan bak kelakson kereta api itu, Supir mobil langsung tancap gas tanpa komentar.

Dalam perjalann ku ketahui. Diamnya Ana bukan karena otaknya yang terkontaminasi bayangan kumis bapaknya. Melaikan, tanpa sepengetahuanku, Ana sempat mencicipi beberapa endusan kaleng si Codet yang berisi lem itu. Duh Ana, pastilah otakmu sedikit mengkerut.

Tiba dirumah Ana, lima menit lagi tanggal di jam tanganku bertambah satu. Ku dapati pintu yang belum lagi tertutup. Ana masuk terlebih dahulu.
“Selamat malam Pak.” Suaraku tak karuan. Indra mataku lebih dominan berfungsi. Pak Wardi memang belum mencukur kumis, tebal dan sedikit berantakan. Sambil memetikkan gitar perlahan, ia sandarkan tubuh gembulnya di bangku ruang tamu tepat menghadap pintu masuk yang tidak tertutup itu. Salam ku tak berjawab.

Ana yang sudah melepaskan sepatu dan meletakkan kantong plastik pesanan adiknya di meja ruang tamu, langsung menghampiriku yang masih terpaku.
“Aku langsung pulang Pak.” Sambil menyatukan kepalan tangan didepan selangkangan, kepala sedikit ku tundukkan.
“Ya.” Tanpa menoleh, gitarnya dipetik perlahan.
Lekas ku jauhi bibir pintu itu, melewati teras dan mencapai halaman depan. Ana membuntuti. Sial benar, Ana belum sanggup tersenyum, apalagi kecupan yang biasa ku dapati sabelum pulang, tak ada malam ini. Ana melambaikan tangan, kubalas dengan garukan di kepala ku yang tidak gatal ini. Bukan kiranya, tapi pasti otak Ana masih mengkerut karena lem tadi.

Kurang ajar kau Kojek, Codet, kurang ajar kalian semua. Merusak malam mingguku. Sudah menambah pusing otakku dengan permasalahan jalananmu, juga otak Ana kalian kerutkan. Akan kupenuhi janjiku ; untuk datang lagi. Kalau perlu, kepala botak itu akan merasakan kepalku. Perjalanan pulangku penuh dengan caci maki.

Kalian memang pemberani walaupun salah. Aku juga berani. Sayang, cuma kepalan tangan ini yang dapat kuberikan. Akan ku hajar kalian, Kojek and The Gank, agar tidak lagi meminta-minta tanpa malu, apalagi merampas milik orang lain. Dan Pak Wardi, setidaknya akan ku cukur rapih kumis itu saat ia mensakralkan sumpah sehidup semati ku dengan Ana nanti.
Aku akan datang lagi. …………..

http://www.kinerjabank.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...