CANTUMKAN SUMBERNYA JIKA MENGGUNAKAN GAMBAR ATAU ARTIKEL DARI BLOG INI - HORMATI HAK CIPTA ORANG LAIN.

01 Oktober 2006

Silat sejati dahlan

Sebenarnya Dahlan bisa saja mematahkan kaki ataupun tangan para pereman-pereman yang memalaknya tetapi ia tidak melakukannya walaupun para preman tersebut kocar-kacir di hantam jurus-jurus silat Dahlan dan tidak tahu juga alasannya mengapa, Dahlan memang sudah di kenal di kampungnya sebagai pelatih pencak silat di kampungnya di mana sudah sedari kecil Dahlan, tetapi baru sekali ini melihat Dahlan bertarung seperti sinetron laga yang ada di TV.

Dahlan memang di kenal sebagai orang yang ramah dan mudah dalam pergaulan banyak siapa yang tak kenal dengan dengan guru silat Dahlan di lingkungan tempat di tinggal, pada setiap malam Sabtu dan malam Selasa banyak murid-muridnya berkumpul di sepetak tanah di dekat rumahnya tempat mereka berlatih.

Silat dalam keseharian Dahlan bukan barang yang baru, dengan pekerjaan sehari-hari penjual bumbu dapur dan rempah-rempah di salah satu pasar tradisional di kota ini sudah cukup untuk menghidupi istri dan 3 orang anaknya, dulu silat di dapatkannya dengan belajar dari pamannya yang memang jawara silat pada masa itu, setelah selesai sholat Ashar paman dahlan mengajari pencak silat kepada Dahlan keci dan itu berlangsung +/- 15 tahun sampai akhirnya paman Dahlan pun wafat.

Dari sinilah keahliannya di sebarkan kepada para murid-muridnya saat ini yang sudah banyak menjadi atlet yang menjadi asset kota ini, tetapi si Dahlan ini masih seperti yang saya kenal dulu. Akhirnya saya memberanikan diri untuk bertanya kenapa ilmu pencak silatnya sangat jarang di gunakan.

Dahlan hanya tersenyum, sembari berucap “silat sejati itu terletak di sini sambil beliau menunjukan hatinya bukan di sini sambil dia menggenggam telapak tangannya” memang perkataan yang mudah untuk di ucapkan tetapi sangat susah dalam pelaksanaannya menurut saya, ia pun berujar lagi “ didalam kekuatan yang besar terkandung tanggung jawab yang besar begitu juga keahlian yang kita punya juga mempunyai tanggung jawab yang besar”, kalau seandainya saya menggunakan keahlian saya untuk menyakiti atau membunuh orang lain apakah itu tujuan dari silat, bukan silat bukan alat atau teknik untuk membunuh, silat merupakan alternative terakhir saat memang kita harus membela diri, sesaat saya terdiam, dimana kepulan asap rokok.

“Sebenarnya kalau mau menggunakan silat ini untuk gagah-gagahan itu bisa, atau menjadi jawara seakalian juga bisa tetapi sekarang ini sudah tidak zaman lagi, ada harmonisasi antara silat dan kehidupan”, Dahlan terhenti sejenak,
“Kalau masalah masih bisa di selesaikan dengan kata-kata , kenapa harus menggunakan kepalan tangan atau kalau masalah masih bisa di selesai kan dengan tingkah laku mengapa harus menggunakan tendangan, silat sesungguhnya adalah bagai mana kita bisa mengalahkan diri kita sendiri untuk menyerang, menyakiti ataupun membunuh sesama mahluk tuhan” ucapnya lagi.

Saya terdiam di dalam batin, wajar kalau setiap sebelum latihan dia berkata bahwa yang sulit dari latihan silat adalah memahami bahwa ilmu pencak silat bukan sebagai sarana kejahatan tetapi menjadi sarana untuk keselarasan kehidupan.

Banyak yang dapat di ambil sejak berteman dengan Dahlan ini, pada intinya tidak perlu menggunakan otot untuk menyelesaikan suatu masalah tetapi gunakan pendekatan hati, karena kalau otot berbicara bukan menyelesaikan masalah tetapi mengalihkan masalah.

Dibalik pakaian silatnya Dahlan tampak gagah tetapi terbersit kekawatiran akankah generasi yang akan datang akan terus melestarikan budaya bangsa seperti yang di lakukannya saat ini.


“Salam IPSI”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...