CANTUMKAN SUMBERNYA JIKA MENGGUNAKAN GAMBAR ATAU ARTIKEL DARI BLOG INI - HORMATI HAK CIPTA ORANG LAIN.

03 Oktober 2006

Baim dan Lenggang Palembangnya

Baim begitulah laki-laki berumur sekitar 40 tahun-an ini di panggil di lingkungan sekitar tempat dia, lelaki yang sehari-hari ini berjualan “Lenggang” yang merupakan salah satu makanan khas masyarakat yang ada di kota ini.

Setiap hari baim keluar untuk menjual lenggang, dimana dia menyewa petak kecil di sudut warung Mang Suryana yang juga menjual makanan dan kopi di warung tersebut, setiap pagi beliau berjualan yang dapat menghabiskan +/- 5 kg Telur ayam setiap harinya.

Dengan adonan yang sudah di buat oleh sang istri dan tumpukan daun pisang yang sudah di potong kecil-kecil, baim pun bersiap untuk melangkah menuju tempat nya berjualan, dimana para pelanggan setia sudah menunggu.

Dari berjualan lenggang ini lah Baim dapat menghidupi istri dan 4 anaknya, anaknya yang terbesar sudah duduk di kelas 1 SMA dan yang lainnya masih SMP dan SD sedangkan yang kecil baru berumur 5 tahun.

Berhadapan dengan panasya bara api dari batok kelapa yang terbakar sudah membuat Baim terbiasa akan panas, dengan cekatan kedua tangannya mencampur adukan dengan telor di atas panggangan, kalau nasib lagi apes, pembeli sangat sedikit sekali sehingga tak jarang telur dan adonan tidak tersetuh sama sekali, dengan mematok harga 8 ribu Rupiah harga yang cukup pas dengan kantong masyarakat kota ini.

Tetapi ada hal yang mendukung Baim dalam berjualan ini adalah lingkungan tempat dia berjualan kebanyakan berasal dari orang-orang Palembang di mana jika sarapan dengan Lenggang sudah cukup tidak perlu makan nasi lagi atupun makan sore sama seperti itu, sehingga pagi hari pesananpun sudah menanti.

Pernah beberapa pengusaha mengajak kerja sama dengan Baim agar lenggang yang ia jual berpindah ke tokonya tetapi Baim tidak mau ia lebih betah di tempat ia berjualan sekarang, walau hasilnya pas-pasan tetapi tidak ada beban di hati, karena ujarnya ia di sini bisa bebas kapan ia bisa berjualan dan tidak.

Sudah cukup lama juga Baim berjualan makanan khas kota ini, salah satu bentuk pelestarian terhadap tradisi, tetapi dengan himpitan ekonomi dan kerasnya perjuangan hidup apakah Baim akan dapat terus bertahan tanpa di iringi perubahaan, mungkin sedikit perubahaan akan membuat nya terkenal…………………………………..i wish.


“Ngipas Lenggang……Panas”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...