CANTUMKAN SUMBERNYA JIKA MENGGUNAKAN GAMBAR ATAU ARTIKEL DARI BLOG INI - HORMATI HAK CIPTA ORANG LAIN.

10 Juni 2006

Guguk Pengulon & Penjual Roti Goreng


Permukiman tua melingkari masjid. Rumah-rumah panggung terbuat dari papan, tetapi kokoh dan tetap tegak, meski dimakan usia. Permukiman itu tumbuh sepanjang usia masjid yang dibangun Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo pada tahun 1738 hingga tahun 1748.

Kini, pemandangan lingkungan tua yang padat itu sudah berubah. Masjid Agung diperluas, dipercantik, dan diresmikan Presiden Megawati Soekarnoputri, Juni 2003 lalu. Jalan lingkar masjid diperluas, tentu saja puluhan rumah panggung tersingkir dari kawasan itu.

Di ujung jalan lingkar barat masjid terpasang papan nama Jalan Faqih Jalaluddin. Bersambung ke sisi utara masjid, terdapat ruas jalan pendek, kurang dari 100 meter, yang baru beberapa bulan lalu dinamai Jalan Tjek Agus Kiemas, nama mendiang ayah Taufik Kiemas, suami mantan presiden Megawati.

Meskipun papan nama jalan terpancang jelas, orang-orang, terutama orang tua di ibu kota Palembang, masih menyebut jalan lingkar masjid itu sebagai Jalan Guru-Guru. Hingga tahun 1980-an, kawasan ini masih dikenal sebagai "Guguk Pengulon" yang berarti permukiman para penghulu atau ahli agama tapi banyak orang yang tidak tahu perputran ekonomi dari jajanan pasar di daerah ini.

Roti Goreng & Roti Rendang
Siapa yang tidak kenal dengan Cik Mas pembuat roti di daerh “Guguk Penggulon” sebelum terkena penggusuran untuk perluasan halaman masjid agung dan jalan, cik mas (Cik Nyimas) yang keturunan asli Palembang ini yang memproduksi roti goreng dan roti rendang di mana secara rutin mulai jam 00:00 tiap malamnya para penjual roti yang menggunakan bakul mulai melakukan aktivitasnya.

Dari pagi cik mas membuat roti ada 2 jenis roti yang di buatnya yaitu roti goreng (roti yang didalamnya berisikan gula merah dan parutan kelapa dan digoreng di dalam minyak) dan roti rendang (parutan kelapa yang di kasih gula pasir dan di panggang/direndang di dalam oven) , pada masa itu beliau dapat membuat sampai dengan 100 kg -200 kg terigu untuk satu malamnya, pada pagi hari cik mas membuat roti tersebut kemudian di bantu dengan keluarganya dan beberapa pekerjanya yang terkadang juga merupakan penjual roti tersebut, roti yang di buatpun hanya 2 bentuk yaitu bundar untuk roti goreng dan yang panjang untuk roti rendang, pembuatan roti pada pagi hari tersebut di mulai +/- 09.00 sampai dengan tengah hari yang mana hasil adonan yang telah di campur , di potong dan di timbang sesuai dengan standar kemudian di letakan di triplek-triplek yang sudah di alasi dengan kain bekas karung tepung tapioka dengan ukuran 120 cm X 60 cm yang di taruh di rak-rak dan di biarkan sampai mengembang sendirinya, apabila selesai pekerjaannya cik mas bersiap untuk sholat dan istirahat, rumah yang berukuran 15X20 di rasa penuh dengan rak-rak yang berisi adonan kue. Cik mas pernah bertutur kalau dia istrahat setelah bada zuhur dan bangun hanya untuk makan dan ibadah.

Jajanan Pasar lainnya
Selain roti goreng di daerah ini juga banyak membuat “jajanan pasar khas Palembang lainnya” seperti beluder yang kita ambil dengan rumah depan, atau kumbu kacang ijo, kumbu kacang es yang diantar oleh anak wak dowa kerumah cik mas, ada lagi cek kia yang membuat bolu kojo dan putu mayang , risol dan donat yang di buat oleh wak ujuk, dan terakhir adalah kerumah cek mat untuk mengambil martabak. Rata-rata penjual tiap paginya bisa membawa 200-500 biji jajanan pasar (baik roti dan makanan lainnya).
Uniknya makanan ini mengikut ke roti goreng dan rendang maksudnya apabila cik mas tidak membuat roti maka mereka juga tidak membuat “jajanan pasar” juga. Jadi dengan adanya industri roti ini setidaknya 10-15 rumah ikut bepartisipasi.

Berjualan Pagi
Sekitar 50 orang sudah siap-siap untuk berjualan pada pagi itu di mana sebagian sudah berjualan mulai jam 00.00 wib (Pada saat itu pasar pagi di Jl Masjid Lama masih ada dan beroperasi tanpa henti ) dan sebagian lagi mulai berjualan mulai setelah subuh.
Langkah terus terayun di iringi dengan alunan asmaul husna dari masjid Agung Palembang setelah samapai di tempat cik mas para penjual roti ini mengambil perlengkapan jualannya yaitu sebuah “rago” (bakul dari rotan atau anyaman bambu) yang lumayan besar dan sebuah taplak meja (terbuat dari karung tapioka sebagai penutup), dari sini lah mereka mulai antri untuk mendapatkan jatah roti goreng dan roti rendang yang di dapatkan.

Untuk orang baru biasanya cik mas mengadakang uji coba yaitu dengan memberikan 50 biji roti goreng dan 50 biji roti rendang, sedangkan untuk orang yang lebih lama bisa di berikan lebih seperti 100 -100 atau pung 200 - 150berapa mereka minta seperti ada dan roti-roti tersebut di letakan di dalam “rago” dan di alasi dengan koran, pada masa tahun 1996-1997 roti tersebut di ambil dari cik mas dengan harga Rp.250/buah dan kita menjual dengan harga Rp.300/Buah jadi komisi hanya Rp.50/buah, lumayan besar pada saat itu (ongko kendaraan dari Pasar ke plaju hanya Rp.200,-) dalam jangka waktu jam 05.00 sampai jam 08.00 meraka bisa mendapatkan 5 ribu s/d 10 rb, sehingga pada saat itu banyak penjual yang tidak hanya berasal dari daerah guguk pengulon dan sekitarnya saja tetapi banyak juga yang berasal dari plaju, kertapati, bukit besar bahkan pernah ada yang dari perumnas & kenten.

Setelah selesai dengan menyusun roti mulai “bergerak” untuk mengambil dagangan lainnya seperti, bluder, bolu kojo, kumbu, risol, ager, kue lumpang/kue talam, putu mayang dan yang terakhir mengambil martabak sebelum simpang tiga jembatan Jl. cek syeh.

“Bejajo” pun dimulai setelah semuanya selesai maka mulailah mereka berjualan dengan daerah pemasaran yaitu kawasan 19 ilir, pasar 16 ilir, kawasan bringgin janggut, pasar 26/pasar atom, rumah susun, kawasan mir senen, daerah segaran, sayangan, monpera komplek belakang poltabes lama.

Berbeda dengan teriakan saat orang berjualan pempek yang teriakannya panjang dan mengayun, teriakan penjual roti ini hanya pendek dan singkat Roti…roti…..roti… .roti….roti pak bu…roti…roti, suara khas ini lah yang membuatnya berbeda berkeliling sepanjang rute yang telah di atur, dalam hal ini ada peraturan bahwa tidak boleh menyerobot daerah orang lain, seperti ada yang namanya Baim anak 19 ilir yang berjualan di Lr Kepala kampung Jl Cek Syeh jadi untuk lorong yang satu itu tidak boleh di masuki oleh pedagang roti yang lainnya (sama-sama roti milik cik mas), sehingga untuk anak-anak yang baru kebanyakan membuka wilayah baru malahan sampai ke Rusun blok 32 Jl radial dan komp Hero. Tetapi walaupun seperti itu sangat jarang sekali sampai terjadi perkelahian dengan sesama penjual roti.

Bermacam-macam orang yang di temui para penjual roti ini dari yang waria (Banci kaleng), WTS (Lonte), Preman, Tukang Todong, dan lain-lain karena dulunya daerah “Guguk Pengulon” ini merupakan tempat pelarian yang strategis untuk menghindar karena bisa ke mana-mana, tetapi belum pernah terdengar kalau penjual roti ada yang kena todong atau kena palak, Walaupun pernah kejaidan ada mayat preman di depan “tembokan” lorong rumah cik mas.

Jam 08.00 biasanya para penjual sudah kembali ke tempat cik mas di “jl Guru-Guru “ lagi dan melakukan penyetoran kepada pemilik jajanan pasar tersebut, biasanya saat setoran “Duit” para penjual di berikan “jajanan pasar” yang tidak terjual 1-2 buah, jadi yang enaknya kalau kita membawa 5 jenis “jajanan pasar” paling tidak kita akan membawa 7-9 buah makanan yang bisa di bawa ke rumah, dan yang terakhir setoran kita dengan cik mas sebagai pembuat roti. Saat sampai kita melakukan perhitungan atas roti kita yang mana saja habis dan berapa yang tersisa.

Dan roti-roti itupun di kumpulan di “rago” besar terpisah antara roti goreng dan roti rendang (kalau roti rendang kalau pagi agak sedikit keras), penjual bebas mau makan berapapun atas roti-roti tersebut , ada kebiasaan unik dari cik mas ini dimana apabila roti-roti tersebut tidak habis maka sering di berikan ke masjid agung sebagai “sedekah” beliau dan itu berlangsung bukan hanya satu dua hari.

Pada saat bulan Romadhon cik mas dan keluarga libur melakukan aktifitas pembuatan roti beliau fokus ke ibadah, sehingga rumah cik mas pada bulan romadhon akan sangat sepi.
Helaan nafas ini seiring menyusuri lagi jalan ini tidak sama seperti dulu lagi tetapi langkah–langkah ini tetap ku ayun dengan irama yang sama ….. roti… .roti… .roti…


"yang sedang “Flash Back ke tahun 1997-1998”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...